Anda di halaman 1dari 3

Ditjen pajak curigai transaksi karet dengan realisasi ppn hanya rp 4 miliar

dari estimasi ppn yang diperkirakan mencapai rp 1 triliun.


Dalam hukum ppn ( pajak pertambahan nilai ) yang menerapkan muti stage
tax, dimana ppn dikenakan dalam setiap rantai mata mulai dari jalur
produksi, distribusi hingga ke konsumen akhir. Nbranag yang beredar di
dalam negeri ( pabean ) baik yang berasal dari produksi pabrikan dalam
negeri maupun impor, akan langsung dikenakan ppn sejak barang tersebut
mulai produksi ataupun mulai masuk kedaerah pabean saat importasi hingga
jalur distribusi dan berakhir di konsumen akhir.
Keunggulan ppn :
1. Mencegah terjadinya pengenaan pajak berganda.
2. Netral dalam perdagangan local dan internasional.
3. Ditinjau dari besar pendapatan Negara, ppn mendapat predikat
sebagai money maker. Karena konsumen selaku emikul beban pajak
tidak merasa dibebani oleh pajak tersebut sehingga memudahkan
fiskus untuk memungutnya.
Kelemahan ppn :
1. Biaya administrasi realtif tinggi baik bila dibandingkan dengan pajak
tidak langsung lainnya, baik di pihak administrasi ajak maupun di pihak
pengusaha kena pajak.
2. Menimbulkan dampak regresif, yaitu semakin tinggi tingkat
kemampuan konsumen, semakin ringan beban pajak yang dipikul
pajak yang dipikul.
3. Ppn sangat rawan dari upaya penyelundupan pajak.
4. Ppn menuntut tingkat pengawasan yang lebih cermat oleh administrasi
pajak terhadap tingkat kepatuhan wajib pajak dalam melaksanakan
kewajiban perpajakannya.
Kembali lagi ke kasus pajak dalam transaksi karet, dan menilik dari uraian
singkat diatas dapat dikatakan bhwa pengusaha merupakan wajib pajak
dan juga mempunyai objek ppn.
Wajib pajak sendiri adalah penduduk yang telah mendaftarkan dan
mendapatkan npwp sebagai tanda keaktifan dia dan bersedia untuk
membayar pajak sesuai dengan kententuan yang berlaku. Npwp sendiri
merupakan nomor pajak yang memiliki fungsi :
1. sebagai sarana administrasi perpajakan.

2. menjaga ketertiban dalam pembayaran pajak dan pengawasann.


3. dipergunakan untuk semua hal yang berhubungan dengan dokumen
perpajakan.
4. untuk mendapatkan pelayanan dari instasi tertentu yang mewajibkan
untuk mencantumkan npwp dalam setiap dokumen yang diwajibkan.`
Dapat disimpulkan dalam pasal 4 ayat (1) uu ppn dikenakan atas :
1. Penyerahan barang kena pajaka di dalam daerah pabean yang
dilakukan oleh pengusaha
2. Impor barang kena pajak
3. Penyerahan jasa kena pajak di dalam daerah pabean yang
dilakukan oleh pengusaha
4. Pemanfaaaatan jasa kena paak tidak berwujud dari luar daerah
pabean di dalam daerah pabean
5. Pemanfaatan jasa kena pjak dari luar daeha pabean di dalam
daerah pabean
6. Ekspor barang kena pajak berwujud oleh pengusaha kena pajak
7. Ekspor barang kena pajak tidak berwujud oleh pengsuha kena pajak
8. Ekspor jasa kena pajak oleh pengusaha pajak.

dari uraian sederhana diatas, dapat dikatakan bahwa langkah awal


yang dapat dilakukan oleh parah fungus dan administrasi pajak adalah
meninjau ulang dan langsung memberikan terapi kepada wajib pajak,
dimana : jika terihat adanya transaksi barang kena pajak para fungus
dapat memberikan surat edaran dan tinjauan ulang semacam
inspeksi , yang tertuang dalam angka 27 pasal 1 uu ppn menyatakan :
pemungut pajak pertambbahan nilai adalah bendahara pemerintah,
badan, atau instansi pemerintah yang ditunjuk oleh menteri keuagan
untuk memungut, menyetor, dan melaporkan pajak yang terutang oleh
pengusaha kena pajak atas penyerahan barang kena pajak dan atau
penyerahan jasa kena pajak kepada bendahara pemerintah, badan,
atau instansi pemerintah tersebut.

Dengan menggunakan asas tersebut tentunya para fungus seharusnya dapat


menjalankan tugasnya dalam menjalankan inspeksi atas barang kena pajak
ppn, dan aturan yang ada didalamnya.

Berdasarkan urutannya
1 inspeksi barang kena pajak : melakukan review ulang atas total pajak dan
sebagainya
2. inspeksi wp : dimana jika terdapat beberapa wajib pajak yang belum
mendaftarkan diri untuk npwp