Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN KEGIATAN LUAR GEDUNG

NAMA MAHASISWA

: RATIH MASITA DEVY

NIM

: 1220221132

TANGGAL KEGIATAN

: 14 JANUARI 2014

NAMA KEGIATAN

: POSYANDU LANSIA

LOKASI KEGIATAN

: DUSUN GROGOL

I. PENDAHULUAN
Posyandu adalah pusat kegiatan masyarakat dalam upaya pelayanan kesehatan dan
keluarga berencana. Kegiatan posyandu adalah perwujudan dari peran serta masyarakat
dalam menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan mereka. Posyandu lansia adalah
suatu forum komunikasi, alih teknologi dan pelayanan kesehatan oleh masyarakat dan
untuk masyarakat yang mempunyai nilai strategis untuk pengembangan sumber daya
manusia khususnya lanjut usia.
Lanjut usia (lansia) adalah orang yang telah berusia 60 tahun keatas. Keadaan ini
dibagi menjadi dua, yaitu Lanjut Usia Potensial dan Lanjut Usia Tidak Potensial. Lanjut
Usia Potensial adalah lanjut usia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan atau
kegiatan yang dapat menghasilkan barang dan/ jasa, sedangkan Lanjut Usia Tidak
Potensial adalah lanjut usia yang tidak berdaya mencari nafkah sehingga hidupnya
bergantung pada bantuan orang lain. Departemen Kesehatan RI menggolongkan lanjut
usia menjadi tiga kelompok, yaitu :

a. Kelompok Lansia Dini (55-64 tahun), merupakan kelompok yang baru


memasuki lansia
b. Kelompok Lansia (65 tahun ke atas)
c. Kelompok Lansia resiko tinggi yaitu lansia yang berusia lebih dari 70 tahun

Adapun tujuan dari dibentuknya posyandu lansia yaitu :


a. Memelihara kondisi kesehatan dengan aktifitas fisik sesuai kemampuan dan
aktifitas mental yang mendukung
b. Memelihara kemandirian secara maksimal
c. Melaksanakan diagnosa dini secara tepat dan memadai
d. Melaksanakan pengobatan secara tepat
e. Membina lansia dalam bidang kesehatan fisik spiritual
f. Sebagai sarana untuk menyalurkan minat lansia
g. Meningkatkan rasa kebersamaan diantara lansia
h. Meningkatkan kemampuan lansia untuk mengembangkan kegiatan kesehatan
dan kegiatan - kegiatan lain yang menunjang sesuai dengan kebutuhan
Menurut Depkes RI manfaat dari posyandu lansia adalah :
a. Kesehatan fisik usia lanjut dapat dipertahankan tetap bugar
b. Kesehatan rekreasi tetap terpelihara
c. Dapat menyalurkan minat dan bakat untuk mengisi waktu luang
Manfaat dari posyandu lansia adalah pengetahuan lansia menjadi meningkat, yang
menjadi dasar pembentukan sikap dan dapat mendorong minat atau motivasi mereka
untuk selalu mengikuti kegiatan posyandu lansia sehingga lebih percaya diri dihari
tuanya. Sasaran Posyandu lansia terdiri dari :
a. Sasaran langsung, yaitu kelompok pra usia lanjut (45-59 tahun), kelompok usia
lanjut (60 tahun ke atas), dan kelompok usia lanjut dengan resiko tinggi (70 tahun
ke atas).
b. Sasaran tidak langsung, yaitu keluarga dimana lansia berada, organisasi sosial
yang bergerak dalam pembinaan usia lanjut, masyarakat luas.
Bentuk pelayanan pada posyandu lansia meliputi pemeriksaan kesehatan fisik dan
mental emosional, yang dicatat dan dipantau dengan Kartu Menuju Sehat (KMS) untuk

mengetahui lebih awal penyakit yang diderita atau ancaman masalah kesehatan yang
dialami. Beberapa kegiatan pada posyandu lansia adalah :
a) Pemeriksaan aktivitas kegiatan sehari-hari meliputi kegiatan dasar dalam
kehidupan, seperti makan/minum, berjalan, mandi, berpakaian, naik turun
tempat tidur, buang air besar/kecil dan sebagainya.
b) Pemeriksaan status mental. Pemeriksaan ini berhubungan dengan mental
emosional dengan menggunakan pedoman metode 2 (dua ) menit.
c) Pemeriksaan status gizi melalui penimbangan berat badan dan pengukuran
tinggi badan dan dicatat pada grafik indeks masa tubuh (IMT).
d) Pengukuran tekanan darah menggunakan tensimeter dan stetoskop serta
penghitungan denyut nadi selama satu menit.
e) Pemeriksaan hemoglobin menggunakan talquist, sahli atau cuprisulfat
f) Pemeriksaan adanya gula dalam air seni sebagai deteksi awal adanya penyakit
gula (diabetes mellitus)
g) Pemeriksaan adanya zat putih telur (protein) dalam air seni sebagai deteksi
awal adanya penyakit ginjal.
h) Pelaksanaan rujukan ke puskesmas bilamana ada keluhan dan atau ditemukan
kelainan pada pemeriksaan butir-butir diatas.
i) Penyuluhan Kesehatan, biasa dilakukan didalam atau diluar kelompok dalam
rangka kunjungan rumah dan konseling kesehatan dan gizi sesuai dengan
masalah kesehatan yang dihadapi oleh individu dan kelompok usia lanjut.
j) Kunjungan rumah oleh kader disertai petugas bagi kelompok usia lanjut yang
tidak datang, dalam rangka kegiatan perawatan kesehatan masyarakat.
Selain itu banyak juga posyandu lansia yang mengadakan kegiatan tambahan seperti
senam lansia, pengajian, membuat kerajian ataupun kegiatan silaturahmi antar lansia.
Kegiatan seperti ini tergantung dari kreasi kader posyandu yang bertujuan untuk
membuat lansia beraktivitas kembali dan berdisiplin diri.
Lima upaya yang dilakukan dalam posyandu lansia antara lain :
a. Upaya meningkatkan / promosi kesehatan
Upaya meningkatkan kesehatan promotif pada dasarnya merupakan upaya
mencegah primer (primary prevention). Terdapat beberapa tindakan yang
disampaikan dalam bentuk pesan BAHAGIA yaitu :
1) Berat badan berlebihan agar dihindari dan dikurangi

2) Aturlah makanan hingga seimbang


3) Hindari faktor resiko penyakit degeneratif
4) Agar terus berguna dengan mempunyai hobi yang bermanfaat
5) Gerak badan teratur agar terus dilakukan
6) Iman dan takwa ditingkatkan, hindari dan tangkal situasi yang menegangkan
7) Awasi kesehatan dengan memeriksa badan secara periodik
b. Peningkatan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, meliputi kegiatan
peningkatan keagamaan (kegiatan doa bersama). Peningkatan ketakwaan berupa
pengajian rutin satu bulan sekali. Kegiatan ini memberikan kesempatan
mewujudkan keinginan lanjut usia yang selalu berusaha terus memperkokoh iman
dan takwa.
c. Peningkatan kesehatan dan kebugaran lanjut usia meliputi :
1) Pemberian pelayanan kesehatan melalui klinik lanjut usia
Kegiatan pelayanan kesehatan dengan cara membentuk suatu
pertemuan yang diadakan disuatu tempat tertentu atau cara tertentu misalnya
pengajian rutin, arisan pertemuan rutin, mencoba memberikan pelayanan
kesehatan yang bersifat sederhana dan dini. Sederhana karena kita
menciptakan

sistem

pelayanan

yang

diperkirakan

bisa

dilaksanakan

diposyandu lansia dengan kader yang juga direkrut dari kelompok pra usia
lanjut. Bersifat dini karena pelayanan kesehatan tersebut dilaksanakan rutin
tiap bulan dan diperuntukkan bagi seluruh lanjut usia baik yang merasa sehat
maupun yang merasa adanya gangguan kesehatan. Selain itu aspek preventif
mendapatkan porsi penekanan dalam pelayanan kesehatan ini.

2) Penyuluhan gizi
3) Penyuluhan tentang tanaman obat keluarga
4) Olahraga

Olah raga adalah suatu bentuk latihan fisik yang memberikan pengaruh
baik terhadap tingkat kemampuan fisik seseorang, apabila dilakukan secara
baik dan benar. Manfaat latihan fisik bagi kesehatan adalah sebagai upaya
promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif. Ada berbagai jenis kegiatan yang
dapat dilakukan, salah satunya adalah olah raga. Jenis olah raga yang bisa
dilakukan dalam kegiatan posyandu lansia adalah pekerjaan rumah, berjalanjalan, jogging atau berlari-lari, berenang, bersepeda, bentuk-bentuk lain seperti
tenis meja dan tenis lapangan.
5) Rekreasi
d. Peningkatan ketrampilan
Kesenian, hiburan rakyat dan rekreasi merupakan kegiatan yang sangat
diminati oleh lanjut usia. Kegiatan yang selalu bisa mendatangkan rasa gembira
tersebut tidak jarang menjadi obat yang sangat mujarab terutama bagi lansia yang
kebetulan anak cucunya bertempat tinggal jauh darinya atau usia lanjut yang
selalu berusaha terus memperkokoh iman dan takwa.
Peningkatan ketrampilan untuk lansia meliputi :
1) Demontrasi ketrampilan lansia membuat kerajinan
2) Membuat kerajinan yang berpeluang untuk dipasarkan
3) Latihan kesenian bagi lansia
e. Upaya pencegahan/prevention
Masing-masing upaya pencegahan dapat ditunjukkan kepada :
1) Upaya pencegahan primer (primary prevention) ditujukan kepada lanjut usia
yang sehat, mempunyai resiko akan tetapi belum menderita penyakit
2) Upaya pencegahan sekunder (secondary prevention) ditujukan kepada
penderita tanpa gejala, yang mengidap faktor resiko. Upaya ini dilakukan
sejak awal penyakit hingga awal timbulnya gejala atau keluhan
3) Upaya pencegahan tertier (tertiery prevention) ditujukan kepada penderita
penyakit dan penderita cacat yang telah memperlihatkan gejala penyakit.

Penyelenggaraan posyandu lansia dilaksanakan oleh kader kesehatan yang terlatih,


tokoh dari PKK, tokoh masyarakat dibantu oleh tenaga kesehatan dari puskesmas
setempat baik seorang dokter bidan atau perawat. Mekanisme pelayanan Posyandu
Lansia tentu saja berbeda dengan posyandu balita pada umumnya. Mekanisme pelayanan
ini tergantung pada mekanisme dan kebijakan pelayanan kesehatan di suatu wilayah
penyelenggara. Ada yang menyelenggarakan posyandu lansia ini dengan sistem 5 meja
seperti posyandu balita, ada pula yang hanya 3 meja meliputi :
1. Meja I untuk pendaftaran lansia, pengukuran dan penimbangan berat badan
dan atau tinggi badan.
2. Meja II untuk melakukan pencatatan berat badan, tinggi badan dan index
massa tubuh (IMT), juga pelayanan kesehatan seperti pengobatan sederhana
dan rujukan kasus.
3. Meja III untuk melakukan kegiatan konseling atau penyuluhan, dapat juga
dilakukan pelayanan pojok gizi.
Adapun penyelengaraan posyandu lansia dilakukan dengan sistem 5 meja meliputi :
a. Meja I untuk pendaftaran
b. Meja II untuk penimbangan
c. Meja III untuk pengisian kartu menuju sehat (KMS) lanjut usia
d. Meja IV untuk penyuluhan, penyuluhan disini dapat dilaksanakan secara perorangan
maupun secara kelompok
e. Meja V untuk pelayanan kesehatan yang meliputi pengukuran tekanan darah dan
pemeriksaan fisik.

II. HASIL PENGAMATAN


Posyandu Lansia Dusun Grogol dilaksanakan tanggal 14 setiap bulan bersamaan
dengan kegiatan posyandu balita. Kegiatan ini dimulai pukul 09.00-11.00 WIB dan
dilaksanakan di gedung serbaguna dusun setempat. Petugas posyandu yang terlibat
diantaranya 1 orang petugas kesehatan (bidan) dan 8 orang kader dari warga setempat.

Sistem pelayanan yang diselenggarakan posyandu lansia Dusun Grogol menggunakan


sistem 5 meja, dengan kegiatan masing-masing meja sebagai berikut :
-

Meja 1
Melakukan kegiatan pendaftaran

Meja II
Melakukan kegiatan penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan

Meja III
Melakukan pemberian makanan tambahan (PMT)

Meja IV
Melakukan penyuluhan yang dilakukan oleh petugas kesehatan

Meja V
Melakukan pelayanan kesehatan berupa pemeriksaan tekanan darah dan
pencatatan di buku laporan petugas

III.

ANALISA MANAJEMEN HASIL PENGAMATAN KEGIATAN


A. INPUT

MAN

KELEBIHAN
Terdapat bidan desa

KEKURANGAN
Untuk jumlah kader

selaku pembina wilayah

masih terbilang kurang

dan sebagai evaluator

karena terbagi menjadi

yang datang setiap

posyandu lansia dan

kegiatan posyandu dan

balita yang

mengamati langsung saat

dilaksanakan secara

posyandu berjalan

bersamaan

hingga akhir posyandu


bersamaan dengan
posyandu balita

MONEY

Terdapat kader posyandu

sebanyak 8 orang
Dana didapat dari dana

Masalah dana dirasa

swadaya mandiri dari

cukup untuk kegiatan

warga dusun setempat

operasional posyandu

untuk kebutuhan
METHODE

pelaksaan kegiatan
Metode yang digunakan

Metode sistem 5 meja

pada posyandu adalah

tidak terlaksana

sistem 5 meja

dengan baik karena di

Metode yang digunakan

meja IV tidak

melalui 2 pencatatan

dilaksanakan

yaitu Kartu Menuju

sebagaimana mestinya

Sehat (KMS) dan Sistem


Informasi Posyandu
MATERIAL

(SIP)
Tersedianya gedung

Tidak didapat masalah

serbaguna sebagai

dalam pengadaan

tempat dilaksanakan

tempat

kegiatan posyandu setiap

berlangsungnya

bulannya

posyandu, tetapi masih


bergabung dengan

MACHINE

Tersedianya alat-alat

posyandu balita
Posyandu belum

untuk kegiatan posyandu

memiliki media

seperti timbangan berat

promosi seperti poster

badan, pengukur tinggi

maupun leaflet untuk

badan, pengukur tekanan

penyuluhan

darah, stetoskop, KMS


dan SIP untuk lansia

B. PROSES

P1 (PERENCANAAN)

KELEBIHAN
Adanya jadwal rutin

KEKURANGAN
Tidak terdapat

posyandu setiap

kekurangan didalam

tanggal 14 setiap

perencanaan dan

bulannya bersamaan

semua lansia sudah

dengan posyandu balita

memiliki KMS lansia

Persiapan pemberian
PMT, melakukan
pengukuran TB, BB,
TD dan semua
pencatatan sudah
terlaksana dengan baik
di KMS dan SIP oleh

P2 (PELAKSANAAN,

PENGGERAKAN)

kader posyandu
Kegiatan posyandu

Dalam pelaksanaan

lansia dilakukan di

posyandu lansia

balai desa dan

dilakukan bersamaan

dilaksanakan sesuai

dengan posyandu

jadwal kegiatan,

balita dengan jumlah

dilaksanakan oleh

kader yang kurang

kader posyandu dan


bidan desa sebagai
P3 (PENGAWASAN,

PENILAIAN,
PENGENDALIAN)

evaluator
Terdapat pencatatan

Tidak dilakukannya

laporan bulanan lansia

penyuluhan pada

yang menimbang ke

sistem meja IV

posyandu di KMS

Tidak ada pengukuran

lansia dan SIP

IMT (Indeks Massa

Adanya evaluasi dari

Tubuh) yang dicatat

bidan desa selaku

kedalam KMS lansia

penangggung jawab
kegiatan posyandu,
evaluasi berupa kritik
dan saran dari
pelaksanaan posyandu
bulan itu, dan biasanya

disertai pemberian
materi penyuluhan

C. HASIL

Posyandu lansia Dusun Grogol telah memiliki sistem 5 meja namun dalam
penerapannya fungsinya masih belum sempurna karena tidak terpakainya meja IV
yang digunakan untuk penyuluhan pada saat posyandu. Dikarenakan waktu yang
terbatas dan jumlah kader yang terbatas, sehingga kader setempat memberikan
penyuluhan pada saat terdapat acara atau kegiatan besar di dusun tersebut.

Waktu dan pelaksanaannya pun masih bersamaan dengan posyandu balita oleh
karena jumlah kader yang terbatas. Dikarenakan tidak banyak warga sekitar yang
mau secara sukarela menjadi kader di dusun tersebut.

Pada saat pencatatan di KMS lansia, tidak dilakukan pengukuran IMT oleh kader.
Padahal kader posyandu tersebut sudah diberikan materi mengenai cara
pengukuran IMT oleh bidan setempat.

IV.

SARAN

Posyandu lansia di Dusun Grogol masih perlu melakukan evaluasi sistem 5 meja,
kemudian perlu diadakannya penyuluhan pada saat posyandu dan pencatatan IMT
pada KMS lansia oleh kader.

Perlunya penambahan kader posyandu yang baru untuk meningkatkan kinerja


posyandu lansia dan balita.

BIDAN DESA GROGOL

MAHASISWA

(Dani Margawati, AMd Keb)

(Ratih Masita Devy)