Anda di halaman 1dari 31

SK.

6 MENERAPKAN TEKNIK PENGAMBILAN GAMBAR


PRODUKSI
6.1 Memilih dan menyiapkan bahan dan peralatan video
shooting
A. Mempersiapkan peralatan dan Pemeriksaan hardware
Identifikasi

kebutuhan

peralatan

untuk

melakukan

pengambilan gambar, buatlah ceklist kebutuhan alat Memilih


Perangkat Lunak (Software) Standar Multimedia.
Saat ini telah banyak software yang digunakan oleh
mengolah data multimedia yang telah jadi. Seperti yang kita
ketahui

multimedia

merupakan

satu

teknologi

yang

menggabungkan berbagai sumber media seperti teks, grafik,


suara, animasi, video dan sebagainya dimana semua media
tersebut ini diolah kembali untuk disatukan sehingga menjadi
harmoni dengan menggunakan perangkat sistem komputer.
Perangkat lunak multimedia adalah komponen-komponen
da-lam

data

processing

system,

berupa program-program

untuk mengontrol bekerjanya sistem komputer multimedia.


Perangkat lunak ini digolongkan menjadi tiga bagian yaitu
bahasa pemrograman multimedia, perangkat lunak sistem
multimedia dan perangkat lunak aplikasi multimedia.
Kamera video dilengkapi dengan beberapa perlengkapan
penting, yang masing-masing berperan sama pentingnya untuk
kesuksesan perekaman video
Bila

semua

petunjuk

diikuti,

kamera

menghasilkan video yang bernilai profesional.

ini

akan

dapat

Penting untuk diperhatikan adalah memberi perhatian yang


detail pada prosedur pemakaian dan raih pengetahuan tentang
peralatan kamera video. Hal ini terlihat seperti pekerjaan yang
menyita

waktu

membedakan

dan

antara

tidak

perlu,

seorang

namun

profesional

itulah
dan

yang

seorang

amatiran.
Untuk itu penting bagi seorang cameramen untuk selalu
menjaga peralatan bila kita memeliharanya dengan baik,
maka kamera akan bertahan lebih lama dan akan menjadi
perlengkapan terbaik kita. Peralatan ini dapat menghasilkan
bukti yang kita perlukan untuk membuat sebuah dokumentasi
yang bernilai lebih.

Baterai
Sebelum

menggunakan

kamera

video,

pastikan

selalu

memiliki cukup persediaan tenaga baterai. Baterai kamera


mendapat tenaga dari alat pengisi ulang yang dapat digunakan
kapan saja dengan cara penggunaan yang sederhana. Setiap
baterai memerlukan waktu 1,5 sampai 2 jam untuk mengisi
ulang sampai penuh, dan pada kondisi normal pemakaian,
baterai ini dapat bertahan antara 2-8 jam.

Gambar 5.38 baterai

Lampu Kamera
Dalam kondisi cahaya yang redup, lampu kamera dapat

memberi kita cahaya tambahan untuk menghasilkan gambar


yang baik. Penting untuk diingat bahwa kamera ini tidak
sesempurna mata kita, sesuatu yang dapat kita lihat dengan
jelas dalam cahaya redup tidak dapat dilakukan oleh kamera
tanpa cahaya tambahan. Lampu kamera dipasangkan di bagian
atas kamera dan mendapat tenaga dari baterai kamera,
sebuah tombol tersedia untuk mengaktifkan lampu ini.

Gambar 5.39 lampu Kamera

Adaptor DC Kamera
Ketika memungkinkan bisa menggunakan sumber listrik,

untuk menghemat lepaskan baterai dan pasangkan kabel


adaptor DC ke Kamera dan Sumber Listrik yang tersedia.

Tripod
Menggunakan tripod merupakan cara terbaik mendapatkan

gambar profesional yang stabil. Dalam hampir semua keadaan,

peralatan yang satu ini wajib digunakan. Pastikan kamera


terpasang mantap pada pelat dasar kepala tripod.

Gambar 5.40 Tripod

Kaset video
Gambar video akan terekam dalam kaset Mini DV. Karena

kaset

yang

berukuran

kecil

ini,

penting

untuk

memperlakukannya dengan hati-hati, baik sebelum ataupun


setelah perekaman. Jangan sampai kaset ini kotor atau terkena
panas atau dingin yang berlebihan.Jangan pernah mencoba
membuka

badan

kaset,

atau

menyentuh

pita

kaset

didalamnya. Ketika kaset akan disimpan, jauhi dari tempat


yang berdebu dan juga dari perlengkapan-perlengkapan listrik.
Kaset ini dapat merekam beberapa kali, namun pastikan
bahwa gambar-gambar yang penting tetap tidak terhapus, cari
kunci menjaga agar tidak terhapus pada kaset tersebut, dan
pindahkan pada posisi save. Jauhkan kaset dari medan
magnet (seperti loudspeaker).

Clip Board (Camera, Light, Action)


Camera, Light, Action merupakan sebuah board yang

dipakai sebagai identitas pada saat pengambilan gambar.


Fungsinya adalah untuk menginformasikan tentang awal scene
yang diambil, sehingga pada saat melakukan editing video
seorang editor video akan lebih mudah dalam mengenali setiap
scene.

Gambar 5.41 Clip Board


B. Pengecekan barang yang harus disediakan untuk
memulai pengambilan gambar.
Sebelum memulai pengerjaan buatlah daftar pengecekan
alat

agar

memudahkan

memeriksa

pengecekan apabila ada kehilangan

kelengkapan

serta

No
1
2

Nama Alat
Perangkat
Kamera
Perangkat
Loghting

Jumlah

Camera mini
DV

3 set

Red Head

Filter

Reflektor

Genset

Film/kaset
produksi

Komputer

Payung

Clapperboard

11
12

Ket

3 set

10

Kondisi

Peralatan obyek
pengambilan
gambar*
Break down
sheet
Story board
Tabel 5.1 Contoh ceklist pemerikasaan barang

Kamera merupakan salah satu aspek penting dalam


suatu

pembuatan

film,

fungsi

kamera

yaitu

mengambil/merekam adegan-adegan yang diarahkan oleh


sang sutradara kemudian divisualisasikan oleh pemain-pemain
yang melakukan adegan-adegan. Kamera dioperasikan oleh kru
film yang biasa disebut kameraman,
Kameraman mengoperasikan kamera sesuai dengan
arahan sutradara. Untuk menjadi seorang kameraman harus
mengetahui jenis-jenis kamera, mengenal cara-cara atau teknik

memegang kamera, teknik pengambilan gambar, unsur-unsur


dalam pengambilan gambar, dll.

6.4

Men-set-up dan mengoperasikan kamera video

dasar

Gambar 5.36 Contoh Kamera

Konektor yang bisa terhubung dengan kamera Panasonic


MD10000
- S- Video
- firewire
- USB
- Audio Video

A.

Tip Praktis Pengambilan Gambar dengan Kamera.


Cara memegang Kamera Video.
Peganglah kamera dengan tepat dan pegangan yang rileks

namun kuat. Gunakan satu tangan untuk memegang kamera


dan mengoperasikan kontrol zoom, sementara tangan yang
lain digunakan untuk menjaga agar posisi kamera tidak mudah
goyah namun dapat digerakkan ke berbagai posisi, tergantung
dari sudut pengambilan yang diinginkan - pada banyak kondisi
gunakan selalu tripod untuk menjaga gambar tetap stabil.

Zoom.
Hindarkan

penggunaan

tehnik

zoom

untuk

merekam

pemandangan yang luas tanpa menggunakan tripod. Ini adalah


cara dasar untuk menghindari terjadinya guncangan pada
gambar yang dapat berakibat tidak bergunanya gambar yang
terekam.

Suara
Perlu

diperhatikan

mengenai

suara.

Bila

kita

tidak

menggunakan earphone, kamera tetap merekam suara-suara


latar yang tidak diperlukan, maka jangan mengeluarkan suara
yang tak perlu atau berbicara ketika sedang merekam.

Peraturan 10 detik.
Peraturan penting dalam merekam adalah, rekamlah dalam

waktu yang lebih lama dan hindarkan pergerakan-pergerakan


kemera

yang

tidak

perlu.

Selalu

rekam

satu

kondisi

sekurangnya dalam 10 detik. Ini akan memudahkan editor film


untuk mengambil potongan-potongan gambar yang diperlukan.
Ingat untuk tetap menghitung sampai 10 detik, meskipun pada
kondisi yang sulit, 10 detik ini terasa lama.

Panning dan tilting


Panning (mengambil gambar bergerak secara horizontal)

dan tilting (mengambil gambar bergerak secara vertikal)


sebaiknya digunakan secukupnya saja bila ingin mendapatkan
gambar dasar dengan berpindah posisi gambar, atau bila kita
sudah berpengalaman sebagai operator film.
Bila

kita

memutuskan

untuk

melakukan

panning,

gerakkanlah kamera sehalus yang kita bisa. Ingat selalu


aturan10 detik untuk setiap gambar diam/statis pada awal dan
juga pada akhir pengambilan gambar panning. Selalu lebih baik
mengambil banyak gambar statis, dan ingat juga bahwa
nantinya gambar yang kita ambil akan diedit kembali oleh
editor. Penggunaan panning sebaiknya jangan terlalu lama
(antara 3-5 detik).

Fokus, Exposure dan White Balance (keseimbangan


warna)
Periksa selalu fokus dan exposure. Bila menggunakan zoom

jauh dan dekat fokuskan selalu pada jarak ideal ke objek yang
kita inginkan untuk direkam dan ketika kita melakukan zoom
jauh semuanya terlihat fokus - bila kita melakukan zoom pada
objek terdekat terlebih dahulu lalu kita zoom pada objek lain di
kejauhan (contohnya hewan di kejauhan) maka akan membuat
gambar sama sekali tidak fokus. Adanya perbedaan antara

objek yang samar dan objek utama yang jelas adalah sangat
penting. Bahkan objek yang hanya sedikit tidak fokus akan
membuat film menjadi tidak berguna. Periksa selalu exposure
dan cobalah merekam pada objek yang sama dengan cara
manual dan otomatis untuk memastikan kita mendapatkan
gambar terbaik yang kita inginkan. Bila kita sudah memiliki
banyak pengalaman, hal ini menjadi tidak perlu lagi untuk
dilakukan

Tanggal dan Waktu.


Jangan pernah memasang tanda tanggal dan waktu pada

layar film yang terekam, ini akan membuat film sama sekali
tidak dapat digunakan . Penulisan tanggal dan waktu pada
layar film tidak membuktikan bahwa film ini diambil pada saat
yang tertulis dilayar, karena bisa saja yang tertulis tanggal 5
November 1950-tidak menjamin pengambilan film tersebut
pada tahun 1950, bisa saja setiap orang merubah tanggal dan
waktu tersebut. Namun, sebaiknya kita selalu merekam suara
kita pada awal pengambilan gambar yang menjelaskan kapan
gambar tersebut direkam, lokasi dan negara dimana kita
merekam gambar- cara inilah yang dapat merekam secara
permanen informasi waktu dan tempat pengambilan film. Hal
ini sangatlah penting dan seringkali terlupa, dan bila kita lupa
apa dan dimana persisnya sebuah gambar diambil, celakalah
kita. Bila kita memiliki GPS untuk menunjukkan lokasi kita
berada, selalu rekam dengan film pembacaannya dan juga
rekam latar belakangnya. Tidak seperti tanda tanggal dan
waktu, hal ini dapat memberikan bukti.

Cutaways (gambar pengisi).


Bila

kita

merekam

sebuah

obyek,

kegiatan

ataupun

wawancara kita perlu selalu mengambil gambar yang lain.


Sebagai contoh, bila kita merekam sebuah wawancara kita
perlu untuk merekam juga kantor orang yang kita wawancarai
atau

sesuatu

yang

lain

untuk

memberikan

penjelasan

tambahan bagi film wawancara kita. Kita lihat contoh lain, bila
kita membuat film tentang orang utan, jangan lupa untuk
merekam hutan dimana mereka tinggal dan kebakaran hutan
yang merusakan habitatnya. Ini akan membuat sebuah film
lebih informatif.

Level suara (Audio Level)


Jangan abaikan audio level pada kamera karena selain

kualitas gambar, kualitas suara juga tidak kalah pentingnya.


Ingat Televisi adalah gabungan antara gambar dan suara. Ada
gambar tanpa suara yang bagus akan sangat mengganggu
pemirsa bahkan informasi yang akan disampaikan tidak sampai
kepada penonton.
Atur audio level jangan sampai under ataupun over (peak).

B.

Kesalahan Umum Videografer Pemula (Bukan


Videografer Amatir).

Hampir setiap orang terbiasa menyaksikan rekaman video


dan tayangan televisi dengan penyajian gambar yang baku dan
sempurna. Mereka bisa menilai bagus atau tidaknya, serta
enak atau tidaknya sebuah tampilan gambar di layar televisi.
Namun pada saat memegang kamera dan merekam video,
tidak setiap orang mampu menciptakan gambar yang bagus
dan enak ditonton. Bahkan mungkin tidak pernah menyadari
bahwa rekaman video yang dihasilkannya tidak bagus dan
tidak enak ditonton.
Berikut

adalah

beberapa

contoh

kesalahan

umum

para

videografer pemula. Ya, videografer pemula, bukan videografer


amatir. Karena yang amatir Anda mungkin ada diantaranya
belum

tentu

tidak

bisa

menghasilkan

gambar-gambar

profesional.

Merekam Gempa Bumi dan Pentas Dangdut


Gempa bumi tidak setiap saat terjadi. Namun, setiap

peristiwa

atau

adegan

yang

direkam

seolah-olah

selalu

berlangsung pada saat terjadi gempa bumi. Atau seolah terjadi


di seputar pentas dangdut.
Semua serba goyang, termasuk videografernya. Gambargambar yang selalu bergoyang, tidak stabil, terkadang tidak
fokus dan cenderung acak-acakan. Ini adalah bentuk kesalahan
mendasar dan kebiasaan merekam tanpa rencana, sehingga
merekam apa saja yang ada di depan kamera, namun tidak
jelas apa yang menjadi subyeknya. Bahkan mungkin si
videografer sendiri tidak tahu apa yang direkamnya.

Merekam Sambil Jogging

Kebiasaan
dilakukan

merekam

dengan

cara

video

sambil

berjalan,

yang

benar

dan

jika

sesuai

tidak

dengan

kebutuhan, umumnya akan menghasilkan rekaman video yang


tidak nyaman untuk dinikmati.
Subyek seolah memantul naik turun, disertai goyangan tak
beraturan. Merekam gambar dengan pergerakan seperti ini
sebetulnya sangat menarik dan memberikan efek dramatis.
Syaratnya,

stabilitas

pergerakan

horizontal

harus

lebih

diutamakan sambil sebisa mungkin meminimalisir pergerakan


vertikal.

Tidak Bisa Membedakan Antara Merekam Video dan


Menembak
Meski

sama-sama

dilakukan

dengan

cara

membidik,

merekam video berbeda dengan menembak. Menempatkan


subyek tepat di tengah-tengah bingkai gambar (frame) akan
sangat bagus dan tepat sasaran pada saat Anda menembak
dengan senapan. Tetapi dalam hal videografi, ini adalah cara
pengambilan gambar yang tidak diajurkan, karena hasilnya
akan

cenderung

membosankan.

Ini

adalah

salah

satu

kesalahan mendasar dalam hal pembingkaian (framing) dan


komposisi.

Mengikat Diri di Tiang Bendera


Kebiasaan merekam video dengan berdiri terpaku di satu

titik, tanpa berpindah posisi, seolah merekam di tengah


upacara, dalam kondisi terikat di tiang bendera. Ini akan
menciptakan gambar-gambar yang statis dan monoton, karena
tidak menawarkan variasi sudut pandang atau komposisi lain
yang mungkin jauh lebih menarik. Juga kebiasaan hanya
merekam sebatas level pandangan mata (standing eye level),
meski sebetulnya akan lebih menarik jika suatu subyek diambil
dari sudut alternatif (high angle atau low angle). Bukan sebuah
kesalahan fatal, namun sekali lagi cenderung membosankan.
Ini adalah contoh kebiasaan salah yang berkaitan dengan sudut
pengambilan gambar (angle).

Tidak Bisa Membedakan Antara Merekam Video dan


Menyetrika

Zoom adalah fasilitas dasar yang sangat membantu dan


memudahkan dalam pengoperasian kamera video. Dengan
zooming, kita bisa mendekati subyek (tele) atau menjauhi
obyek

(wide)

tanpa

harus

berpindah

tempat.

Namun

penggunaan fungsi zoom yang berlebihan dan dengan cara


yang tidak semestinya, akan menghasilkan rekaman video
yang tidak nyaman ditonton. Subyek tiba-tiba mendekat, lalu
menjauh, lalu mendekat lagi. Maju, mundur, maju lagi, mundur
lagi, persis seperti setrika. Ini adalah contoh kesalahan
penggunaan fasilitas kamera.

Merekam Video di Zebra Cross


Bayangkan seseorang yang akan menyeberang jalan di

zebra cross. Tengok kanan, tengok kiri. Merasa belum yakin,


tengok kanan lagi, tengok kiri lagi. Bahkan setelah berjalan di
zebra cross pun orang masih melakukannya untuk memastikan
apakah jalan benar-benar aman. Tengok kanan kiri adalah
kebiasaan bagus jika seseorang akan menyeberang jalan raya.
Tapi

merekam

video

dengan

cara

serupa,

tidak

akan

menghasilkan rekaman yang menarik untuk ditonton. Terlalu


banyak panning dalam satu shot ( satu ambilan gambar dalam
satu rekaman), baik ke kiri ke kanan atau ke atas ke bawah
(tilt) adalah contoh kebiasaan buruk dalam merekam gambar.
Terlebih jika digabungkan dengan zoom in dan / atau zoom out.
Sebuah contoh kesalahan dalam pergerakan kamera (camera
movement).

Tidak

Bisa

Membedakan

dengan Memotret

Antara

Merekam

Video

Berbeda dengan kamera foto yang merekam sebuah


momen, kamera video merekam sebuah proses dinamis atau
aksi (action), sehingga menghasilkan gambar bergerak (dan
bersuara). Kebiasaan mengabadikan sebuah momen pada saat
memotret,

acapkali

terbawa

pada

saat

mempergunakan

kamera video. Hasilnya adalah hasil rekaman video dengan


durasi yang terlalu pendek dalam setiap shot (satu ambilan
gambar dalam satu rekaman). Shot yang terlalu pendek tidak
nyaman untuk dinikmati, karena tidak memberikan waktu yang
cukup bagi penonton untuk memahami detil subyek yang
ditampilkan. Shot yang terlalu pendek juga akan menimbulkan
kesulitan dalam proses pasca produksi (editing).

Merekam Tokoh Misterius


Menempatkan subyek penting (umumnya manusia) pada

bagian

depan

dengan

pencahayaannya.

latar

Kebiasaan

belakang
atau

yang

lebih

ketidaksadaran

kuat

dengan

situasi backlight seperti ini (dan tidak segera melakukan


antisipasi), akan menciptakan siluet dan sosok-sosok misterius.
Rekaman video yang terlalu sering atau terlalu lama dalam
kondisi backlight, sudah Sebuah contoh kesalahan umum
dalam hal pencahayaan (lighting). pasti tidak akan nyaman
ditonton dan.

6.4

Mengisi dan merawat battery selama pengambilan

gambar
2.2.1

Merawat Daya Battery dan Stok Video untuk Sebuah Shooting

Gambar 2.3 Contoh baterai kamera


Specifikasi battery:
a) Li - ion battery pack
b) Compatible with Nikon - ENEl3 camcorders
Dimensions: 5.4 x 3.8 x 2cm
Inner packing:
Polybag Outer packing:
Carton dimensions: 56.5 x 32.5 x 46cm

Baterai merupakan komponen yang sangat penting sekali bagi kamera. Sebab
dengan komponen ini, kamera dapat bekerja. Untuk itu diperlukan manajeman
yang baik dalam mengelola agar baterai yang dipakai selalu dalam kondisi
stand by siapa pakai. Sebagai contoh penggunaan adalah jika kita akan
melakukan syuting diluar ruangan (out door), maka baterai-baterai yang akan
dipakai harus dipersiapkan sedari awal. Bagian kamerawan yang biasanya
mengenal betul setiap komponen kameranya harus dapat mengetahui
persedian baterai yag akan dipakai dihubungkan dengan durasi pengambilan
gambar. Sebagai contoh jika team akan melakukan gambar selama seharian
penuh, maka bagian kameramen harus sudah dapat memperhitungkan
seberapa banyak baterai yang harus dibawa.

2.2.1.1 List Checking Baterai


Baterai Number
Baterai 1
Baterai 2
Baterai 3
Baterai 4
Baterai dst

Kondisi
Charging/use/empty
Charging/use/empty
Charging/use/empty
Charging/use/empty
Charging/use/empty

Tabel 2.2 List Checking Baterai


2.2.1.2 Mengisi dan memelihara battery selama pembuatan film
Bagian perlengkapan akan melakukan inventarisasi baterai untuk kemudian
baterai tersebut akan dipisahkan berdasarkan waktu hidup atau daya yang
tersimpan pada baterai. Setiap baterai yang ksosong hendaknya segera diisi
sehingga ketika syuting berjaan tidak akan ada masalah.

Kegiatan ini

dilaksanakan dalam upya mengantisipasi kejadian yang tidak diduga yaitu


habis betere.
2.2.1.3 Peringatan Keselamatan Baterai
1. Buang baterai dan charger dengan bekas benar
2. Gunakan baterai dan charger yang disetujui Sesuai ketentuan merek
produk kamera. Baterai dan charger yang tidak sesuai dapat menyebabkan
kerusakan parah pada kamera. Jangan pernah membakar baterai. Patuhi
semua peraturan setempat pada saat membuang baterai bekas. Jangan
menempatkan baterai atau kamera di atas atau di dalam perangkat
pemanas, seperti oven, kompor, atau radiator. Baterai dapat meledak jika
terlalu panas.
3. Berhati-hatilah pada saat menghubungkan kabel atau adaptor dan
memasang baterai. Pergunakan kartu memori. Jangan meng-hubungkan
konektor dengan paksa, menghubungkan kabel dengan tidak benar, atau

memasang baterai dan kartu memori sembarangan dapat merusak port,


konektor, dan aksesori. Jangan memasukkan benda asing ke bagian,
ruang, atau titik akses manapun pada kamera Anda.
4. Kerusakan akibat penggunaan yang tidak benar tidak dicakup dalam
garansi.
5. Lindungi baterai, charger, dan kartu memori dari kerusakan
6. Jangan membiarkan baterai atau kartu memori pada suhu sangat dingin
atau sangat panas (di bawah 0 C/32 F atau di atas 40 C/104 F). Suhu
ekstrim dapat mengurangi kapasitas pengisian baterai dan mengakibatkan
gangguan fungsi kartu memori.
7. Hindari kontak baterai dengan benda-benda logam, karena kutub-kutub +
dan baterai dapat terhubung dan menyebabkan kerusakan sementara
atau permanen pada baterai.
8. Hindari kontak kartu memori dengan cairan, kotoran, atau benda-benda
asing. Jika kotor, bersihkan kartu memori dengan kain lembut sebelum
memasukkannya ke dalam kamera.
9. Pastikan masa pakai maksimum dari baterai dan charger
10. Mengisi baterai dapat mempersingkat masa pakai baterai. Setelah
pengisian selesai, lepaskan kabel dari kamera. Baterai yang lama tidak
digunakan akan kehilangan isi, dan harus diisi ulang sebelum digunakan.
Cabut charger dari sumber listrik jika tidak digunakan. Gunakan baterai
sesuai peruntukannya.

6.4
A.

Mengoperasikan kamera
Sudut pengambilan gambar (Kamera Angle)

Teknik-teknik yang terdapat pada pengambilan gambar


sangat bervariasi, sehingga saat kita me-nonton suatu film
tampak macam-macam sudut pandang pengambilan gambar
yang merupakan hal penting dalam film. Penonton akan
merasa jenuh apabila gambar yang disajikan terlihat monoton.
Adapun teknik-teknik yang ada dalam pengambilan gambar
yaitu :

Bird Eye View

Pengambilan gambar dilakukan dari atas dari ketinggian


tertentu

sehingga

memperlihatkan

lingkungan

yang

sedemikian luas dengan benda-benda lain yang tampak


dibawah sedemikian kecil. Pengambilan gambar biasanya
menggunakan helikopter maupun dari gedung-gedung tinggi.

High Angle

Sudut pengambilan gambar tepat diatas objek, pengambilan


gambar seperti ini memiliki arti yang dramatik yaitu kecil atau
kerdil.

Low Angle

Pengambilan gambar diambil dari bawah si objek, sudut


pengambilan gambar ini merupakan kebalikan dari high angle.
Kesan

yang

ditimbulkan

keagungan atau kejayaan.

Eye Level

dari

sudut

pandang

ini

yaitu

Pengambilan gambar ini mengambil sudut sejajar dengan mata


objek, tidak ada kesan dramatik tertentu yang didapat dari eye
level ini, yang ada hanya memperlihatkan pandangan mata
seseorang yang berdiri.

Frog Level

Sudut

pengambilan

gambar

ini

diambil

sejajar

dengan

permukaan tempat objek berdiri, seolah-olah memperlihatkan


objek menjadi sangat besar.
B.

Ukuran gambar (frame size)


Extreem Close-up (ECU)

Pengambilan gambar sangat dekat sekali, hanya menampilkan


bagian tertentu pada tubuh objek. Fungsinya untuk kedetailan
suatu objek.

Big Close-up (BCU)

Pengambilan gambar hanya sebatas kepala hingga dagu objek.


Fungsi untuk menonjolkan ekpresi yang dikeluarkan oleh objek.

Close-up (CU)

Ukuran gambar sebatas hanya dari ujung kepala hingga leher.


Fungsi untuk memberi gambaran jelas terhadap objek.

Medium Close-up (MCU)

Gambar yang diambil sebatas dari ujung kepala hingga dada.


Fungsinya

untuk

penonton jelas.

Mid Shoot (MS)

mepertegas

profil

seseorang

sehingga

Pengambilan

gambar

sebatas

kepala

hingga

pinggang.

Fungsinya memperlihatkan sosok objek secara jelas.

Knee Shoot (KS)

Pengambilan gambar sebatas kepala hingga lutut. Fungsinya


hampir sama dengan Mid Shot.

Full Shoot (FS)


Pengambilan gambar penuh objek dari kepala hingga kaki.

Fungsinya memperlihatkan objek beserta lingkungannya.

Long Shoot (LS)

Pengambilan gambar lebih luas dari pada Full Shoot. Fungsinya


menunjukkan objek dengan latar belakangnya.

Extreem Long Shoot (ELS)

Pengambilan

gambar

melebihi

Long

Shoot,

menampilkan

lingkungan si objek secara utuh. Fungsinya menunjukkan


bahwa objek tersebut bagian dari lingkungannya.

1 Shoot

Pengambilan gambar satu objek. Fungsinya memperlihatkan


seseorang/benda dalam frame.

2 Shoot

pengambilan gambar dua objek. Fungsinya memperlihatkan


adegan dua orang yang sedang berkomunikasi.

3 shoot

pengambilan gambar tiga objek. Fungsinya memperlihatkan


adegan tiga orang sedang mengobrol.

Group Shoot

Pengambilan

gambar

sekumpulan

objek.

Fungsinya

memperlihatkan adegan sekelompok orang dalam melakukan


suatu aktifitas.

C.

Gerakan kamera (moving camera)


Zooming (In/Out)

Gerakan yang dilakukan oleh lensa kamera mendekat maupun


menjauhkan objek, gerakan ini merupakan fasilitas yang
disediakan

oleh

kamera

video

dan

kameraman

hanya

mengoperasikannya saja
Panning (Left/Right)
Yang

dimaksud

dengan

gerakkan

panning

yaitu

kamera

bergerak dari tengah ke kanan atau dari tengah ke kiri, namun


bukan kameranya yang bergerak tapi tripodnya yang bergerak
sesuai arah yang diinginkan.
Tilting (Up/Down)
Gerakan tilting yaitu gerakan ke atas dan ke bawah, masih
menggunakan tripod sebagai alat bantu agar hasil gambar
yang didapat memuaskan dan stabil.
Dolly (In/Out)
Gerakan yang dilakukan yaitu gerakan maju mundur, hampir
sama dengan gerakan Zooming namun pada dolly yang
bergerak adalah tripod yang telah diberi roda dengan cara
mendorong tripod maju ataupun menariknya mundur.

Follow
Pengambilan gambar dilakukan dengan cara mengikuti objek
dalam bergerak searah.
Framing (In/Out)
Framing adalah gerakan yang dilakukan oleh objek untuk
memasuki (in) atau keluar (out) framming shot.
g. Fading (In/Out)
Merupakan pergantian gambar secara perlahan-lahan. Apabila
gambar baru masuk menggantikan gambar yang ada disebut
fade in, sedangkan jika gambar yang ada perlahan-lahan
menghilang dan digantikan gambar baru disebut fade out.
Crane Shoot.
Merupakan gerakan kamera yang dipasang pada alat bantu
mesin beroda dan bergerak sendiri bersama kameraman, baik
mendekati maupun menjauhi objek.

D.

Gerakan objek (moving object)


Kamera sejajar objek.

Kamera sejajar mengikuti pergerakan objek, baik ke kiri


maupun ke kanan.

Walking (In/Out)

Objek bergerak mendekati (in) maupun menjauhi (out) kamera.


Setelah mengetahui teknik-teknik dalam pengambilan gambar,
ada beberapa elemen penting yang harus ada di dalam
gambar. Adapun elemen-elemen tersebut yaitu :
a. Motivasi
b. Informasi
c. Komposisi
d. Suara
e. Sudut Kamera
f. Kontinuitas
Selain teknik-teknik maupun tata cara pengambilan gambar
yang harus dimiliki oleh seorang kameraman yaitu sense of art
atau rasa seni, karena gambar yang diambil oleh kameraman
merupakan karya seni. Setiap orang memungkinkan untuk
menguasai teknik-teknik pengambilan gambar namun apabila
tidak memiliki rasa seni atau keindahan maka hasil yang
didapatpun kurang maksimal. Jadi rasa seni yang tinggi dapat
dijadikan modal utama untuk menjadi kameraman. Gali terus

potensi diri, selamat berkarya, bangun perfilman Indonesia


menjadi lebih maju dan sukses.

6.6

Mengoperasikan clapperboard selama produksi.

A. Camera, Light, Action


Bentuk dari Camera, Light, Action beragam, namun sepintas
bentuknya sama. Ada yang hanya berupa papan snap seperti
gambar diatas, ada juga yang bentuknya display digital.
Informasi yang terdapat dalam Camera, Light, Action adalah:
Kenggunaannya, biasanya seorang sutradara sesaat sebelum
pengambilan gambar biasanya telah melakukan pengecekan
terhadap seluruh peralatan yang dibutuhkan pada saat syuting.
Dalam hitungan mundur searah dengan kamera yang akan
menembak

objek

dan

lokasi,

Camera,

Light,

Action

ditempatkan.
Dalam hitungan mundur

sutradara kemudian berteriak. dan

menghitung seperti contoh, tiga,dua satu action maka


seorang crew yang memegang Camera, Light, Action

akan

menyentakannya untuk kemudian proses pengambilan gambar


akan diambil.

Gambar 5.42 Catatan untuk


pengambilan gambar.

B. Mencatat pengambilan gambar


Story

board

biasa

juga

berfungsi

sebagai

pencatatan

pengambilan gambar . bentuk story board bermacam macam


seperti contoh berikut ini

Judul film

: Judul film secara


keselur
uhan.

Production : Production house


atau perusahaan
yang membiayai film
Director

: Sutradara yang
bekerja dalam film
tersebut.

Camera

: Kamera yang dipakai


dalam
melakukan
pengambilan gambar

Date

: Tanggal pengambilan
gambar

Scene

: Urutan Scene yang


sedang diambil

Take

: Pengambil gambar

Tabel 5.2 Daftar pengambilan gambar