Anda di halaman 1dari 25

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sektor pertanian memiliki peranan dan sumbangsih yang besar terhadap
pendapatan nasional. Lahan pertanian yang luas dan tanah yang subur menjadi
kelebihan yang dimiliki bangsa Indonesia sekaligus menjadi peluang untuk
meningkatkan pendapatan nasional dari sektor pertanian. Meskipun demikian, masih
terdapat berbagai masalah dalam sektor pertanian di Indonesia. Masalah yang
dihadapi Indonesia adalah masih lemahnya kontribusi sektor pertanian sebagai
sumber pendapatan utama masyarakat petani.
Indonesia memiliki lahan yang cukup luas dan subur. Lahan pertanian yang luas
merupakan salah satu keunggulan bangsa Indonesia yang dapat dimaksimalkan untuk
peningkatan produksi guna memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri. Lahan
pertanian Indonesia masih sangat potensial untuk dikembangkan dan dimanfaatkan
untuk pengembangan sektor pertanian. Luas lahan pertanian yang tersedia di
Indonesia tersaji dalam Tabel 1.

Tabel 1. Luas lahan pertanian Indonesia 2009- 2013 (dalam hektar)


N

Jenis Lahan

Tahun/ Year

Sawah
a.
Saw

2009
8.068.427
4.905.107

2010
8.002.552
4.893.128

2011
8.089.862
4.924.172

2012
8.132.345,91
4.417.581,92

2013*)
8.122.103
4.819.525

(%)
2012 - 2013
-0,25
9,10

ah irigasi
b.
Saw

3.163.220

3.109.424

3.170.690

3.714.763,99

3.292.578

-11,37

Pertumbuhan

o
1

ah Non
2
3

Irigasi
Tegal/ Kebun
Ladang/

11.782.332
5.428.689

11.877.777
5.334.545

11.626.219
5.697.171

11.947.956
5.262.030

11.876.881
5.272.895

-0,59
0,21

Huma
Lahan yang

14.880.526

14.754.249

14.378.586

14.245.408

14.213815

-0,22

Sementara
tidak
diusahakan

Sumber: Kementrian Pertanian, 2014


Keterangan: *) Angka Sementara (cari data terbaru)
Berdasarkan data diatas, dapat dilihat bahwa lahan pertanian
yang dimiliki Indonesia masih cukup luas. Lahan yang sementara
tidak diusahakan berjumlah 14.213.815 ha pada tahun 2013. Hal ini
menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki potensi untuk
mengembangkan sektor pertanian lebih baik lagi. Lahan yang
sementara tidak diusahakan dapat dimanfaatkan sebagai lahan
pertanian yang produktif guna meningkatkan PDB dari sektor
pertanian. Ketersediaan lahan yang masih luas juga sangat

mendukung dalam upaya pengembangan sektor pertanian di


Indonesia.
Pembangunan sektor pertanian masih mendapatkan prioritas
utama sampai sekarang. Pemerintah menyediakan porsi anggaran
yang besar untuk pembangunan di sektor pertanian. Keberhasilan
pembangunan sektor pertanian diharapkan bukan saja
meningkatkan devisa negara, tetapi juga meningkatkan pendapatan
petani. Dalam upaya peningkatan produksi jagung dalam negeri
pemerintah telah mengeluarkan berbagai kebijakan guna mencapai
tujuan peningkatan produksi pangan dalam negeri. Salah satu
kebijakan yang dikeluarkan pemerintah adalah mencanangkan program
Upsus Pajale, yaitu program peningkatan produksi dan produktivitas tiga tanaman
pangan utama yaitu padi, jagung dan kedelai.
Jagung (Zea Mays L.) merupakan komoditas pangan terpenting kedua setelah
beras. Jagung sangat dibutuhkan oleh industri ternak maupun oleh industri makanan
olahan yang berbahan jagung. Selain itu, komoditas pangan ini juga menjadi salah
satu komoditas pangan yang dijadikan sebagai alat bagi pemerintah untuk mendorong
difersifikasi pangan guna mengurangi ketergantungan terhadap beras. Penduduk
beberapa daerah di Indonesia (misalnya di Madura dan Nusa Tenggara) juga
menggunakan jagung sebagai pangan pokok. Selain sebagai sumber karbohidrat,
jagung juga ditanam sebagai pakan ternak (hijauan maupun tongkolnya), diambil

minyaknya (dari bulir), dibuat tepung (dari bulir, dikenal dengan istilah tepung
jagung atau maizena), dan bahan baku industri (dari tepung bulir dan tepung
tongkolnya). Tongkol jagung kaya akan pentosa, yang dipakai sebagai bahan baku
pembuatan furfural. Jagung yang telah direkayasa genetika juga sekarang ditanam
sebagai penghasil bahan farmasi (Pusat data dan Sistem Informasi Ilmiah, 2014).
Permintaan jagung dalam negeri semakin meningkat dari tahun ke tahun.
Keadaan ini tidak hanya dipengaruhi oleh pertambahan penduduk namun juga
dipengaruhi oleh semakin berkembangnya industri pakan ternak dan industri
pengolahan makanan yang makin beragam. Berdasarkan data BPS, importasi jagung
tercatat sebesar 335 ribu ton pada awal Januari 2013. Jumlah ini setara dengan nilai
102 juta Dollar AS atau Rp 969 miliar (www.bappepti.go.id) cara pengutipan SALAH
Kabupaten Banyumas memiliki potensi untuk menjadi daerah pemasok jagung
di Jawa Tengah. Pada tahun 2013 Kabupaten Banyumas memiliki luas panen
sebanyak 2.802 ha dan mampu menghasilkan jagung sebanyak 17.704 ton. Tabel 2
menunjukkan data luas panen, produksi dan produktivitas jagung di wilayah Jawa
Tengah.
Tabel 2. Luas panen, produksi dan produktivitas jagung di Jawa Tengah
Produktivitas
Luas Panen (Ha)
Produksi (Ton)
(Kwt/ Ha)
No Kabupaten/ Kota
98,909
559,543
56.57
1 Kab. Grobogan
56,559
267,973
47.38
2 Kab. Wonogiri
45,571
228,428
50.13
3 Kab. Blora
.

.
..
2,802
17,704
63.18
26 Kab. Banyumas

27
28
29
30

Kab. Kudus
Kab. Pekalongan
Kab. Purworejo
Kota Semarang
..
Jumlah total
Sumber: BPS, 2013

2,415
3,061
1,670
584

532,061

14,448
12,735
10,707
2,478

2,930,911

59.82
41.60
64.12
42.43
.
55.09

Kabupaten menempati posisi ke 26 dalam luas panen jagung di lingkup Provinsi


Jawa Tengah. Selain itu Kabupaten Banyumas juga memiliki produktivitas jagung
yang cukup besar jika dibandingkan dengan kabupaten lainnya. Hal ini menunjukkan
bahwa pengembangan jagung di Kabupaten Banyumas masih terus bisa
dikembangkan. Pengembangan usahatani jagung yang memiliki daya saing dapat
dijadikan sebagai sumber pendapatan asli daerah Kabupaten Banyumas apabila
dilaksanakan dengan langkah dan kebijakan yang tepat.
Efisiensi merupakan salah satu faktor penentu daya saing suatu usaha. Suatu
usaha dapat dikatakan efisien apabila biaya produksi yang dikeluarkan kecil namun
dapat memberikan keuntungan yang maksimal. Daya saing suatu produk juga
dipengaruhi oleh harga produk itu sendiri di pasaran. Peningkatan efisiensi usahatani
baik dalam sektor produksi maupun sektor distribusi perlu dilakukan guna
membentuk daya saing yang baik.
Usaha peningkatan daya saing komoditas jagung dapat dilakukan dengan
meningkatkan efisiensi, baik dalam bidang produksi maupun distribusi produk.
Penggunaan teknologi budidaya dan input yang lebih efisien perlu untuk terus
dikembangkan. Faktor kelembagaan petani yang menunjang efisiensi produksi
5

kiranya perlu mendapat perhatian yang lebih banyak lagi. Terkait dengan sumberdaya
lahan, perlu untuk dipikirkan tentang adanya kebijakan konsolidasi lahan pertanian,
dengan tujuan untuk meningkatkan luas penguasaan lahan pertanian per individu
petani, sehingga efisiensi usaha pertanian akan meningkat. Selain itu di dalam negeri
perlu diikuti penghapusan ekonomi biaya tinggi dengan menghilangkan inefisiensi
dalam bidang pemasaran, menghilangkan pungutan liar, dan perbaikan sarana
infrastruktur (Iqbal, 2011).
Kebijakan pemerintah memiliki peranan penting dalam menciptakan daya saing
yang tinggi terhadap komoditas jagung. Kebijakan pembangunan pertanian telah
banyak digulirkan oleh pemerintah. Program pembangunan tersebut meliputi program
pembangunan irigasi, pembangunan waduk, optimalisasi dan peningkatan produksi
serta kebijakan yang berkaitan dengan penyediaan pupuk dan benih. Pemerintah juga
harus bisa melindungi petani jagung dari ancaman masuknya jagung impor dari luar
negeri. Kebijakan perdagangan terbuka antarnegara Asia yang disepakati pemerintah
harus berpihak kepada petani dalam negeri.
Pemerintah perlu menerapkan kebijakan yang dapat melindungi petani jagung
agar petani dapat memperoleh pendapatan yang cukup dan jangan sampai petani
merugi. Kebijakan terkait harga jagung juga perlu diperhatikan, karena harga produk
pertanian seringkali mengalami fluktuasi yang tidak menentu. Seringkali harga
produk pertanian sangat rendah ketika panen raya tiba namun harga bisa menjadi naik
apabila ketersediaannya di pasar sedikit.

Fluktuasi harga tidak hanya terjadi pada harga hasil panen petani namun juga
terjadi pada bahan input pertanian seperti benih, pupuk ataupun pestisida. Dengan
kondisi seperti itu maka petani senantiasa dihadapkan dengan ketidakpastian apakah
usahatani yang dijalankannya menguntungkan atau tidak. Oleh karena itu perlu
pertimbangan yang mendalam dari sisi petani untuk melihat sejauh mana
usahataninya dapat memberikan keuntungan bagi dirinya.
Berdasarkan uraian dapat dirumuskan permasalahan-permasalahan antara lain:
1. Bagaimana daya saing komoditas jagung di Kecamatan Sumbang Kabupaten
Banyumas?
2. Bagaimana dampak kebijakan Pemerintah terhadap daya saing usahatani jagung
di Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas?
3. Bagaimana pengaruh perubahan harga komoditas dan biaya input terhadap daya
saing usahatani jagung di Kabupaten Banyumas?
B. Tujuan
Berdasarkan identifikasi masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Menganalisis daya saing komoditas jagung di Kabupaten Banyumas.
2. Menganalisis dampak kebijakan Pemerintah terhadap usahatani jagung di
Kabupaten Banyumas.

3. Menganalisis pengaruh perubahan harga komoditas dan biaya input terhadap daya
saing pada usahatani jagung di Kabupaten Banyumas.
C. Manfaat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat kepada:
1. Pemerintah Daerah Kabupaten Banyumas untuk merumuskan arah dan strategi
pembangunan daerah.
2. Petani untuk mengetahui kondisi, prospek dan masalah-masalah yang ada pada
usahatani jagung.
3. Bagi masyarakat akademik, sebagai masukan untuk penelitian selanjutnya yang
terkait dengan daya saing dalam konteks yang lebih beragam.

II. KERANGKA PEMIKIRAN

A. Kerangka Pemikiran
Jagung menjadi salah satu komoditas pertanian penting dan
sangat berkaitan dengan industri besar, selain dikonsumsi sebagai
sayuran, jagung juga bisa diolah menjadi aneka makanan, pipilan
keringnya dimanfaatkan untuk pakan ternak. Kondisi ini membuat
budidaya jagung memiliki prospek yang sangat menjanjikan, baik
dari segi permintaan maupun harga jualnya. Selain itu juga setelah
ditemukan benih jagung hibrida yang memiliki banyak keunggulan
dibandingkan dengan benih jagung biasa. Keunggulan tersebut
antara lain, masa panennya lebih cepat, lebih tahan hama dan
penyakir, serta produktivitasnya lebih banyak.
Permintaan jagung dalam negeri makin meningkat dari tahun
ke tahun. Keadaan ini disebabkan karena semakin berkembangnya
industri pengolahan makanan dan industri pembuatan pakan ternak
yang berbahan dasar jagung. Secara keseluruhan neraca kebutuhan
dan penawaran jagung menunjukkan surplus. Disisi lain lokasi
produksi jagung yang tersebar di berbagai daerah dan panen
9

jagung hanya terjadi pada tiga bulan yaitu bulan Januari, Februari
dan Maret menyebabkan impor jagung masih dilakukan meski
jumlahnya tidak terlalu besar. Dengan kondisi demikian membuat
pengusaha industri pakan ternak harus berusaha mencari pasokan
jagung guna memenuhi kebutuhan bahan baku pabrik.
Kebijakan pemerintah masih memegang peranan penting
terhadap perkembangan usahatani jagung. Pemerintah telah
membuat kebijakan Upaya Khusus (UPSUS) untuk tiga komoditas
pangan penting di Indonesia yaitu Padi, Jagung dan Kedelai. Hal ini
mengindikasikan bahwa peningkatan produksi dan produktivitas
jagung masing menjadi tujuan utamanya. Di sisi lain peningkatan
efisiensi usahatani juga perlu dilakukan oleh petani jagung.
Usahatani jagung harus dilaksanakan secara efisien guna
memberikan pendapatan yang menguntungkan bagi petani dan
dapat berkontribusi untuk pemenuhan jagung dalam negeri.
Usahatani jagung harus memberikan keuntungan dari segi
finansial dan ekonominya agar petani tetap mau melakukan
budidaya jagung secara berkelanjutan. Analisa finansial dan analisa
ekonomi dalam usahatani jagung dapat menjadi tolok ukur apakah
kegiatan usahatani jagung memberikan keuntungan terhadap

10

petani jagung atau tidak. Keuntungan finansial usahatani jagung


dapat digunakan sebagai bahan untuk melihat daya saing jagung.
Konsep daya saing dapat dilihat dari beberapa sudut pandang.
Daya saing dapat dilihat berdasarkan keunggulan kompetitif dan
keunggulan komparatif. Keunggulan kompetitif menunjukkan
keuntungan privat usaha yang dijalankan sedangkan keunggulan
komparatif menunjukkan keuntungan sosialnya. Pengukuran daya
saing dapat dilakukan menggunakan suatu metode analisis yaitu
analisis PAM (Policy analysis matrix).
Menurut Pearson et. al 2005, analisis PAM dapat digunakan untuk
mengukur efisiensi privat dan social (keunggulan kompetitif dan keunggulan
komparatif) dan besarnya dampak kebijakan pemerintah pada suatu system komoditas
yang terdiri dari aktivitas usahatani atau budidaya, transportasi dari petani ke
pengolahan, pengolahan dan transportasi dari pengolah ke pedagang besar secara
keseluruhan dengan sistematis.
Berdasarkan uraian diatas, kerangka pikir penelitian
digambarkan pada Gambar 1.

11

III. METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu

12

Penelitian ini akan dilaksanakan di Kecamatan Sumbang Kabupaten Banyumas.


Penentuan lokasi penelitian dilakukan dengan sengaja (purposive). Hal ini didasarkan
pada pertimbangan bahwa Kecamatan Sumbang dan Kecamatan Kembaran
merupakan daerah penghasil jagung terbesar di Banyumas. Pengambilan data
penelitian akan dimulai sejak bulan Januari sampai Februari 2016.
B. Sasaran Penelitian
Sasaran penelitian ini adalah petani jagung yang ada di Kecamatan Sumbang
Kabupaten Banyumas yang mengusahakan jagung selama musim tanam tahun 2015.
(Cari tahu musim tanam jagung tahun 2015 di sumbang)
C. Rancangan Pengambilan Sampel
Rancangan pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode
pengambilan sampel saraca bertahap (multistage sampling), yaitu metode
pengambilan sampel yang dilaksanakan dalam dua tahap atau lebih sesuai dengan
kebutuhan. Metode multistage sampling dapat menggabungkan probability sampling
dan nonprobability sampling pada tiap tahap pengambilan sampelnya. Penentuan
kecamatan yang akan diteliti dilakukan secara sengaja (purposive), selanjutnya untuk
menentukan desa sampel dilakukan dengan metode cluster random sampling.
Penentuan sampel petani pada desa terpilih akan dilakukan secara simple random
sampling. (Cantumkan sumbernya)

13

D. Metode Pengambilan Data dan Jenis Data


1. Jenis Data
a. Data primer, merupakan data diambil secara langsung dari lokasi penelitian.
Untuk mendapatkan data primer, penulis melaksanakan wawancara dengan
menggunakan daftar pertanyaan yang telah disediakan kepada petani Jagung di
lokasi penelitian.
b. Data sekunder, merupakan data yang diperoleh dari sumber tidak langsung
terlibat, seperti: lembaga-lembaga, instansi atau dinas terkait dengan penelitian
dan pustaka yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas dalam
penelitian.
2. Metode Pengambilan Data
a. Wawancara
Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data yang dilakukan
dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada
responden untuk dijawab.
b. Observasi langsung
Teknik ini dilakukan dengan mengadakan peninjauan langsung ke objek
penelitian di lokasi penelitian dengan maksud untuk mengetahui kegiatan
usahatani kentang yang ada disana.

14

E. Variabel dan Pengukuran


Variabel dan pengukuran yang akan digunakan dalam penelitian ini antara lain:
1. Biaya
a. Biaya tetap
Biaya tetap dalam usahatani jagung meliputi:
1) Biaya sewa lahan
Biaya sewa lahan adalah biaya yang harus dikeluarkan petani apabila
lahan yang digunakan untuk usahatani jagung disewa dari pihak lain
selama satu periode musim tanam (Rp/musim).
2) Biaya peralatan
Biaya peralatan dihitung dengan memperhitungkan nilai
penyusutannya. Untuk menghitung nilai penyusutan menggunakan rumus
sebagai berikut:
Penyusutan =

nilai barunilai sisa


umur ekonomis

Nilai baru adalah harga barang saat pertama kali dibeli, sedangkan
nilai sisa adalah harga taksiran barang saat umur ekonomis habis. Umur
ekonomis adalah perkiraan berapa lama alat tersebut dapat digunakan
secara efektif.
b. Biaya variabel
Biaya variabel dalam usahatani jagung meliputi:

15

1) Biaya bibit
Biaya bibit adalah biaya pembelian atau pengadaan bibit yang
dikeluarkan oleh petani pada saat awal memulai usahatani jagung dalam
satu musim tanam (Rp/pohon/musim).
2) Biaya pupuk
Biaya pupuk adalah biaya yang dikeluarkan petani untuk membeli
pupuk selama satu musim tanam (Rp/kg/musim).
3) Biaya pestisida
Biaya pestisida adalah biaya yang dikeluarkan petani untuk membeli
pestisida dalam satu musim tanam (Rp/liter/musim).
4) Biaya tenaga kerja
Biaya tenaga kerja adlag biaya yang dikeluarkan petani untuk
pembiayaan tenaga kerja selama satu musim tanam baik tenaga kerja
dalam keluarga ataupun tenaga kerja di luar keluarga (Rp/HOK/musim).
5) Biaya tataniaga
Biaya tataniaga adalah biaya yang dikeluarkan petani untuk
menambah nilai suatu barang yaitu kegunaan tempat, bentuk, waktu,
termasuk di dalamnya biaya penanganan dan pengangkutan hasil panen
selama satu periode musim tanam (Rp/musim).
2. Jumlah Produksi

16

Jumlah produksi adalah banyaknya jagung yang dihasilkan selama satu musim
tanam (kg).
3. Harga produk
Harga produk adalah harga jual komoditas jagung pada tahun 2015 (Rp/kg), pada
harga aktual ataupun pada harga bayangan.
4. Nilai tukar rupiah
Nilai tukar rupiah yang digunakan adalah nilai tukar rupiah terhadap Dollar
Amerika. Nilai tukar digunakan dalam perhitungan harga bayangan.
5. Penerimaan usaha
Penerimaan usaha adalah hasil penjualan jagung dalam kondisi harga privat dan
harga bayangan (hasil kali antara jumlah penjualan dengan harga jual)
(Rp/musim)
6. Pendapatan usaha
Pendapatan usaha adalah penerimaan yang terjadi dalam kondisi harga provat dan
harga bayangan yang sudah dikurangi total biaya (Rp/musim).
F. Analisis Data
Penelitian ini menggunakan alat analisis yaitu PAM dan analisis sensitivitas
untuk menjawab tujuan penelitian. Melalui pendekatan ini akan dilihat bagaimana
keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif yang dimiliki usahatani jagung di

17

Kabupaten Banyumas sekaligus dampak kebijakan yang diterapkan pemerintah


terkait dengan kegiatan usahatani jagung pada wilayah tersebut.
Daya saing usahatani jagung dapat dianalisis dengan menggunakan empat
indikator, yaitu keunggulan komparatif, keunggulan kompetitif, keuntungan prifat,
dan keuntungan sosial. Analisis keunggulan komparatif dan kompetitif digunakan
unruk menngetahui kemampuan jagung dalam bersaing dan memanfaatkan peluang
pasar internasional, sedangkan analisis keuntungan privat dan sosial digunakan untuk
mempelajari kelayakan prospek usahatani jagung di lokasi penelitian.
Dampak kebijakan pemerintah dianalisis dengan menggunakan tiga indikator
niai yang terdiri atas kebijakan input, kebijakan output, dan kebijakan input output.
Analisis ini digunakan untuk mengetahui besarnya dampak kebijakan yang berkaitan
dengan input dan output dari usahatani jagung.
Alat analisis yang akan digunakan dalam penelitian ini antara lain:
1. Policy Analysis Matrix (PAM)
Model matrix analisis pam digunakan untuk melihat bagaimana dampak
kebijakan perintah terhadap usahatani jagung. Dalam analisis ini akan dilihat
bagaimana harga privat dan harga sosial yang ada dalam usahatani jagung, baik
berupa biaya input ataupun output yang ada dalam usahatani tersebut.
Analisis PAM digunakan untuk mengukur efisiensi privat dan sosial
(keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif) dan besarnya dampak
kebijakan pemerintah pada suatu sistem komoditas yang terdiri dari aktivitas

18

usahatani atau budidaya, transportasi dari petani ke pengolahan, pengolahan dan


transportasi dari pengolah ke pedagang besar secara keseluruhan dengan
sistematis. PAM juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi petani mana
(dilihat dari jenis komoditas yang diusahakan, teknologi yang digunakan, maupun
wilayah agroklimat dimana usahatani berlangsung) yang berdaya saing di bawah
kebijakan input-output pertanian yang berlaku serta bagaimana keuntungan
mereka berubah jika kebikjakan tersebut berubah (Pearson et al, 2005).
Indikator-indikator PAM merupakan hasil dari pengolahan data pada tabel
policy analysis matrix. Mekanisme pengolahan data pada tabel PAM tersebut
mengacu pada Monke and Pearson 1989. Berikut ini disajikan matriks analisis
PAM.
Tabel 1. Matrix analisis PAM
Penerimaa
Uraian
Biaya

Keuntungan

(Provit)
Input

Faktor

tradable
B

domestik
C

D = A- B C

H=E-F-G

(Revenue)
Nilai
finansial
(private
price)
Nilai
ekonomi
(social

19

price)
Divergensi/

(OT) I = A E

(IT) J = B F (FT) K = C -

(NT) L = D H

dampak

NPCO = A/E

NPCI = B/F

= I J K; PC =

kebijakan dan

D/H

distorsi pasar
Sumber: Monke and Pearson (1989)
Keterangan; D = keuntungan privat; H= keuntungan sosial; I (OT) = output transfer;
NPCO = Nominal Protection Coefficient on Output; (IT) J = transfer
input; NPCI = Nominal Protection Coefficient on Input; (FT) K = faktor
transfer; (NT) L = Net Transfer; PC = Profitability Coefficient
Beberapa indikator hasil analisis dari matriks PAM diantaranya adalah:
1. Analisis keuntungan
a. Private profitability (PP) ; D = A (B+C)
Apabila D > 0, berarti sistem komoditi memperoleh profit atas biaya
normal yang mempunyai implikasi bahwa komoditi itu mampu ekspansi,
kecuali apabila sumberdaya terbatas atau adanya komoditi alternative
yang lebih menguntungkan.
b. Social profitability (PP) ; H = E (F+G)
Keuntungan sosial merupakan indikator keunggulan komparatif
(comparative advantage) dari sistem komoditi pada kondisi tidak ada
divergensi baik akibat kebijakan pemerintah maupun distorsi pasar.

2. Keunggulan Kompetitif (PCR) dan Komparatif (DRCR)


a. Private cost ratio (PCR) = C/ (A-B)

20

Jika PCR < 1, berarti sistem komoditi yang diteliti memiliki keunggulan
kompetitif dan sebaliknya jika PCR > 1, berarti sistem komoditi tidak
memiliki keunggulan kompetitif.
b. Domestic Resource Cost Ratio (DRCR) = G/ (E-F)
Jika DRCR < 1, berarti sistem komoditi yang diteliti memiliki
keunggulan komparatif dan sebaliknya jika DRCR > 1, berarti sistem
komoditi tidak memiliki keunggulan komparatif.
3. Dampak Kebijakan Pemerintah
a. Kebijakan Output
1) Output Transfer : OT = A-E : Jika nilai OT > 0 menunjukkan
adanya transfer dari masyarakat (konsumen) terhadap produsen,
demikian juga sebaliknya.
2) Nominal Protection Coefficient on Output (NPCO) = A/E :
Kebijakan bersifat protektif terhadap output jika nilai NPCO > 1,
dan sebaliknya kebijakan bersifat disinsentif jika NPCO <1.

b. Kebijakan Input
1) Transfer Input : IT = B F
Jika nilai IT > 0, menunjukkan adanya transfer dari petani produsen
kepada produsen input tradable, demikian juga sebaliknya.
2) Nominal protection Coefficient on Input (NPCI) = B/F

21

Kebijakan bersifat protektif terhadap input jika nilai NPCI < 1,


berarti ada kebijakan subsidi terhadap input tradable, demikian juga
sebaliknya.
3) Transfer Faktor ; FT = C- G
Nilai FT > 0, mengandung arti bahwa ada transfer dari petani produsen
kepada produsen input nontradable, demikian juga sebaliknya.

c. Kebijakan Input- Output


1) Effective Protection Coefficient (EPC) = (A-B)/ (E-F)
Kebijakan masih bersifat protektif jika nilai EPC > 1. Semakin
besar nilai EPC berarti semakin tinggi tingkat proteksi pemerintah
terhadap komoditi pertanian domestik.

2) Net Transfer : NT = D- H
Nilai NT > 0, menunjukkan tambahan surplus produsen yang
disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang diterapkan pada input
dan output, demikian juga sebaliknya.
3) Profitability Coefficient : PC = D/H
Jika PC > 0, berarti secara keseluruhan kebijakan pemerintah
memberikan insentif kepada produsen, demikian juga sebaliknya.

4) Subsidy Ratio to Producer (SRP) = L/E = (D-H)/E


SRP yaitu indikator yang menunjukkan proporsi penerimaan pada
harga sosial yang diperlukan apabila subsidi atau pajak digunakan
sebagai pengganti kebijakan.

22

2. Analisis Sensitifitas
Analisis sensitifitas atau analisis kepekaan merupakan suatu metode analisis
untuk menarik perhatian kepada masalah utama dari analisa proyek: yaitu
proyeksi selalu menghadapi ketidaktentuan yang dapat saja terjadi pada keadaan
yang telah kita ramalkan atau perkirakan. Semua proyek harus diamati melalui
analisa sensitifitas (Gittinger, 1986).
Setiap proyek pertanian perlu dilakukan analisis sensitivitas terlebih dahulu
guna mengetahui berapa besar usahatani dapat memberikan keuntungan dan
berapa besar resiko yang harus ditanggung petani dalam usahataninya. Pengujian
analisis sensitivitas memperhitungkan biaya yang digunakan dalam usahatani
yang bersangkutan. Dalam menganalisis konsep analisis kepekaan tersebut maka
perlu dibuat perhitungan kembali dengan beberapa scenario sesuai dengan asumsi
yang telah dikemukakan terdahulu (Pasaribu, 2012).
Estimasi biaya seringkali tidak pasti, salah satu alasan mengapa proyek
harus diuji kembali bila terjadi kenaikan biaya. Dalam kebanyakan analisa
proyek, terdapat ketidakpastian mengenai harga yang sebenarnya dan jumlah yang
harus dibayar untuk peralatan dan perlengkapan (Gittinger, 1986).
Dalam menganalisis konsep analisis kepekaan tersebut maka perlu dibuat
perhitungan kembali dengan beberapa scenario sesuai dengan asumsi yang telah
dikemukakan terdahulu.
G. Jadwal Pelaksanaan
23

DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik. 2013. Jawa Tengah dalam Angka. Badan Pusat Statistik
Gittinger, J. Price. 1986. Analisa Ekonmi Proyek-proyek Pertanian Edisi Kedua. UI
Press. Jakarta.
Iqbal, Ahmad. 2011. Meningkatkan Daya Saing Produk Pertanian Menghadapi
ACFTA. https://inspirasitabloid.wordpress.com/2011/07/04/meningkatkan-dayasaing-produk-pertanian-menghadapi-acfta-3/ . Diakses tanggal 9 Oktober 2015.
Monke and Pearson. 2005.
Pasaribu, Ali Musa. 2012. Perencanaan dan Evaluasi Proyek Agribisnis Konsep Dan
Aplikasi. Lily Publisher. Yogyakarta.
Pearson, Scott,. Carl Gotsch,. dan Sjaiful Bahri. 2005. Aplikasi Policy Analysis
Matrix pada Pertanian Indonesia. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian. 2014. Buletin Konsumsi Pangan. Jakarta.
Kementrian Pertanian.
. 2014. Statistik Lahan Pertanian 2009-2013. Jakarta. Kementrian pertanian.
24

www.bappepti.go.id/id/edu/articles/detail/2989.html. Diakses tanggal 9 Oktober


2015.

25