Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH

VIRUS
Mikrobiologi Industri

Anggota Kelompok :
Melly Anggraini (03111003005)
Adi Kuncoro (03111003045)
M.Riandi Adiwijaya (03111003053)
Gigih Tejo Purboyo (03111003067)
Riska Pertiwi (03111003069)
Limanto (03111003071)
Anissa Nurul Badriyah (03111003075)
Nova Amanda (03111003081)
Rengga Ulil Ambri (03111003099)

Jurusan Teknik Kimia


Fakultas Teknik
Universitas Sriwijaya
VIRUS

Virus

adalah

parasit

berukuran

mikroskopik

yang

menginfeksi sel organisme biologis. Virus bersifat parasit obligat,


hal tersebut disebabkan karena virus hanya dapat bereproduksi
di dalam material hidup dengan menginvasi dan memanfaatkan
sel makhluk hidup karena virus tidak memiliki perlengkapan
selular untuk bereproduksi sendiri. Biasanya virus mengandung
sejumlah kecil asam nukleat (DNA atau RNA, tetapi tidak
kombinasi

keduanya)

yang

diselubungi

semacam

bahan

pelindung yang terdiri atas protein, lipid, glikoprotein, atau


kombinasi ketiganya. Genom virus akan diekspresikan menjadi
baik protein yang digunakan untuk memuat bahan genetik
maupun protein yang dibutuhkan dalam daur hidupnya.
Partikelnya secara utuh disebut virion yang terdiri dari
capsid yang dapat terbungkus oleh sebuah Glycoprotein atau
membran lipid. Virus resisten terhadap antibiotik.

I. KARAKTERISTIK VIRUS
I.A Ciri Ciri Umum Virus
Pada umumnya virus memiliki
ciri-ciri sebagai berikut:
1. Virus

bersifat

aseluler

mempunyai sel).
2. Virus berukuran
jauh

lebih

kecil

(tidak

sangat
dari

kecil

bakteri,

yakni berkisar antara 20 m 300m

(1

mikron

milimikron).
mengamatinya
mikroskop

1000
Untuk

diperlukan
elektron

yang

pembesarannya dapat mencapai

50.000 kali. Virus terkecil berdiameter hanya 20 nm (lebih


kecil daripada ribosom), sedangkan virus terbesar sekalipun
sukar dilihat dengan mikroskop cahaya.
3. Virus hanya memiliki salah satu macam asam nukleat (RNA
atau DNA). Genom virus dapat terdiri dari DNA untai ganda,
DNA untai tunggal, RNA untai ganda, atau RNA untai tunggal.
Selain itu, asam nukleat genom virus dapat berbentuk linear
tunggal atau sirkuler. Jumlah gen virus bervariasi dari empat
untuk yang terkecil sampai dengan beberapa ratus untuk
yang terbesar. Bahan genetik kebanyakan virus hewan dan
manusia berupa DNA, dan pada virus tumbuhan kebanyakan
adalah RNA yang beruntai tunggal.
4. Virus umumnya berupa semacam

hablur

(kristal)

dan

bentuknya sangat bervariasi. Ada yang berbentuk oval ,


memanjang,

silindris,

kotak

dan

kebanyakan

berbentuk

seperti kecebong dengan kepala oval dan ekor silindris.


5. Tubuh virus terdiri atas, kepala , kulit (selubung atau kapsid),
isi tubuh, dan serabut ekor.
6. Virus memiliki lapisan protein

yang

disebut

kapsid.

Bergantung pada tipe virusnya, kapsid bisa berbentuk bulat


(sferik), heliks, polihedral, atau bentuk yang lebih kompleks
dan terdiri atas protein yang disandikan oleh genom virus.
Kapsid terbentuk dari banyak subunit protein yang disebut
kapsomer. Untuk virus berbentuk heliks, protein kapsid
(biasanya disebut protein nukleokapsid) terikat langsung
dengan

genom

virus.

Sedangkan

kapsid

virus

sferik

menyelubungi genom virus secara keseluruhan dan tidak


terlalu berikatan dengan asam nukleat seperti virus heliks.
7. Virus hanya dapat berkembang biak di sel hidup lainnya.
Seperti sel hidup pada bakteri, hewan, tumbuhan, dan sel
hidup pada manusia.
8. Virus tidak dapat membelah diri.

9. Virus tidak dapat diendapkan dengan sentrifugasi biasa, tetapi


dapat dikristalkan.
Selain karakteristik di atas, beberapa jenis virus memiliki
unsur tambahan yang membantunya menginfeksi inang. Virus
pada

hewan

memiliki

selubung

virus,

yaitu

membran

menyelubungi kapsid. Selubung ini mengandung fosfolipid dan


protein dari sel inang, tetapi juga mengandung protein dan
glikoprotein yang berasal dari virus.
Selain protein selubung dan protein kapsid, virus juga
membawa beberapa molekul enzim di dalam kapsidnya. Ada pula
beberapa jenis bakteriofag yang memiliki ekor protein yang
melekat pada kepala kapsid. Serabut-serabut ekor tersebut
digunakan oleh fag untuk menempel pada suatu bakteri.
Partikel lengkap virus disebut virion. Virion berfungsi sebagai
alat transportasi gen, sedangkan komponen selubung dan kapsid
bertanggung jawab dalam mekanisme penginfeksian sel inang.

I.B Reproduksi Virus Dalam Tahapan Daur Litik


dan Lisogenik
Tahapan Daur Litik
Pada daur litik, virus melakukan penetrasi ke inang dan
memperbanyak diri dalam tubuh inang, kemudian ke luar dari
inang.Sel inang mengalami lisis (pecah).
Tahapan daur litik sebagai berikut :
1. Adsorpsi (penempelan) dari partikel virus (virion) pada
sel inang yang sesuai.
2. Penetrasi (injeksi) asam nukleat virus ke dalam sel
inang.
3. Tahap awal replikasi dari asam nukleat virus. Dalam
peristiwa ini mesin biosintesa sel inang diambil alih
untuk memulai sintesa asam nukleat virus.Enzim-enzim

spesifik virus mulai dihasilkan dalam tahap ini, yang


disebut tahap eclipse.
4. Replikasi dari asam nukleat virus.
5. Sintesa dari protein subunit mantel virus.
6. Perakitan dari asam nukleat dan protein subunit serta
komponen membran pada virus bermembran ke dalam
partikel virus.
7. Pelepasan partikel virus yang matang dari sel (lisis).
Tahapan Daur Lisogenik
Pada daur lisogenik, asam nukleat virus menyisip pada
asam nukleat inang, tidak terjadi perbanyakan virus dalam
inang, dan sel inang tidak mengalami lisis.
Tahapan daur lisogenik sebagai berikut :
1. Adsorpsi (penempelan) dari partikel virus (virion) pada
sel inang yang sesuai.
2. Penetrasi (injeksi) asam nukelat virus ke dalam sel
inang.
3. Asam nukleat virus menyisip/ melebur pada asam
nukleat inang membentuk profage.
4. Ketika bakteri melakukan pembelahan,

profage

tersebut akan ikut mengganda dan seterusnya.


5. Suatu ketika profage tersebut dapat keluar dari tubuh
bakteri dan masuk ke daur litik.

I.C Jenis-Jenis Struktur Virus


1. Virus Berselubung

2. Virus kompleks

3.

Virus telanjang

I.D Bentuk Tubuh Virus


Secara umum, ada empat
bentuk partikel virus utama:
Helical
Contoh struktur heliks
pada

virus

mosaik

tembakau: RNA virus


bergulung

berbentuk

garis sekerup / spiral


selenoid

yang

disebabkan pengulangan sub-unit protein. Kapsid terdiri


atas satu jenis capsomer berbadan tegap di sekitar suatu
poros pusat untuk membentuk suatu struktur seperti
bentuk sekerup yang mungkin punya suatu rongga pusat.
Icosahedral
Kebanyakan virus binatang adalah icosahedral atau nearspherical dengan icosahedral simetri.Suatu bidang dua
puluh reguler adalah jumlah maksimum suatu kelopak
tertutup

dari

sub-unit

tersebut.

Jumlah

minimum

capsomers yang diperlukan adalah duabelas, masingmasing terdiri atas lima sub-unit serupa. Banyak virus,
seperti

rotavirus,

mempunyai

lebih

dari

duabelas

capsomers dan nampak berbentuk bola tetapi mereka


mempertahankan

simetri

ini.

Capsomers

di

apices

dikelilingi oleh lima capsomers lain dan disebut pentons.


Capsomers pada atas muka yang bersegi tiga adalah
mengepung dengan enam capsomers yang lain dan yang
disebut hexons.Contohnya adalah adenovirus.
Enveloped
Beberapa jenis amplop virus, terdapat di dalam suatu
selaput sel, yaitu selaput eksternal yang melingkupi suatu
sel tuan rumah yang terkena infeksi/tersebar, atau
selaput internal seperti selaput nuklir atau reticulum
endoplasmic, begitu mendapatkan lipid, maka virus akan
membentuk bilayer yang dikenal dengan sebutan amplop.
Selaput ini adalah protein yang membawa kode genetic
dari genom tuan rumah ke genom virus.
Complex
Struktur khas dari suatu bacteriophage Virus ini memiliki
suatu

kapsid

yang

tidak

berbentuk

seperti

bentuk

sekerup,

walaupun

semata-mata

serupa

dengan

icosahedral, dan memiliki struktur ekstra seperti jas


berekor protein atau suatu dinding sebelah luar yang
kompleks. Beberapa bacteriophages mempunyai suatu
struktur kompleks terdiri dari suatu icosahedral di depan
dan diikuti suatu ekor seperti bentuk sekerup yang
memiliki suatu pelat dasar bersudut enam dengan serat
ekor protein yang menonjol.

II.

KLASIFIKASI VIRUS
Virus dapat diklasifikasi menurut kandungan jenis asam

nukleatnya.

Pada

(umpamanya

virus

RNA,

pikornavirus

dapat

yang

berunting

menyebabkan

tunggal

polio

dan

influenza) atau berunting ganda (misalnya revirus penyebab


diare). Demikian pula virus DNA (misalnya berunting tunggal
oada fase 174 dan parvorirus berunting ganda pada
adenovirus, herpesvirus dan pokvirus). Virus RNA terdiri atas tiga
jenis utama: virus RNA berunting positif (+), yang genomnya
bertindak sebagai mRNA dalam sel inang dan bertindak sebagai
cetakan untuk intermediat RNA unting minus (-), virus RNA
berunting negatif (-) yang tidak dapat secara langsung bertindak
sebagai mRNA, tetapi sebagai cetakan untuk sintesis mRNA
melalui virion transkriptase; dan retrovirus, yang berunting + dan
dapat bertindak sebagai mRNA, tetapi pada waktu infeksi segera
bertindak sebagai cetakan sintesis DNA berunting ganda (segera
berintegrasi

ke

dalam

kromosom

inang

melalui

suatu

transkriptase balik yang terkandung atau tersandi. Setiap virus


imunodefisiensi

manusia

(HIV)

merupakan

bagian

dari

subkelompok lentivirus dari kelompok retrovirus RNA. Virus ini


merupakan penyebab AIDS pada manusia, menginfeksi setiap sel

yang mengekspresikan tanda permukaan sel CD4, seperti


pembentuk T-sel yang matang.
Tingkat klasifikasi virus:
ordo famili subfamili genus species strain/tipe
Untuk saat ini, klasifikasi virus yang penting hanya dari
tingkat famili ke bawah. Semua famili virus memiliki akhiran
viridae , misalnya
Poxviridae
Herpesviridae
Parvoviridae
Retroviridae

o
o
o
o

Anggota-anggota famili Picornaviridae umumnya ditularkan


melalui jalur faecal/oral dan melalui udara.
Genus memiliki nama dengan akhiran virus . Misalnya,
famili Picornaviridae terdiri dari 5 genus:

Genus
Genus
Genus
Genus
Genus

Enterovirus misalnya poliovirus 1, 2, 3


Cardiovirus misalnya mengovirus
Rhinovirus misalnya Rhinovirus 1a
Apthovirus misalnya FMDV-C
Hepatovirus misalnya virus Hepatitits A

Definisi `spesies merupakan hal yang paling penting,


namun sulit dilakukan untuk virus. Penentuan spesies virus
mengandung unsur subyektif. Sebagai contoh, genus Lentivirus
terdiri dari banyak spesies yang berbeda, termasuk:

HIV-1, Human Immunodeficiency Virus 1


HIV-2, Human Immunodeficiency Virus 2
SIV, Simian Immunodeficiency Virus
FIV, Feline Immunodeficiency Virus
BIV, Bovine Immunodeficiency Virus
Visna (domba)
EIAV (kuda)
CAEV (kambing)

Dasar-dasar klasifikasi secara taksonomi :


A. Klasifikasi Virus Berdasarkan Fisikokimia
Sensitivit

Asam Simetri
Nukl

kapsid

eat

amplop

dan

as
terhadap

Diamete
Famili Virus

eter

Contoh Virus

partikel
(nm)

AdenoParvovirus

18 26 associated

Icosahedral,ti
DNA

dak

Resisten

Beramplop

Papovavir
us
Adenoviru
s

virus
Papilloma

45 55

virus

70 90 Adenovirus
Virus

Herpes

simplek,
DNA

Icosahedral,
beramplop

Sensitif

Herpesvirus

100

Varicella-

150

zoster,
cytomegalovir
us,
Smallpox
(variola),

DNA

Kompleks

Bervarias
i

Poxvirus

230
300

vaccinia
virus,
molluseum
contagiosum

Icosahedral,
RNA

tidak
beramplop

RNA

Icosahedral,

Picornavirus 20 30
Resisten
Reovirus
Sensitif Togavirus

60 80

virus
Enterovirus,
rhinovirus
Reovirus,

Orbivirus
40 70 Virus Rubella

beramplop
California
Bunyavirus

90

Arbovirus,

100

Bunyamwera
Arbovirus

Coronavir
us
RNA

Heliks,

tidak

beramplop

100

Orthomyx 80

Sensitif

virus

Retrovirus

200
100

200
Rhadbovir 70
us
RNA

Heliks,
beramplop

Sensitif

Arenavirus

120

Paramyxo 100
virus

Coronavirus

300

Influenza

dan B

Parainfluenza

Animal tumor
virus

170
50

Virus

Virus Rabies
Lyphocytic
choriomeningi
tis virus

B. Klasifikasi Virus berdasarkan jenis asam nukleat (DNA atau


RNA)
1. Virus RNA
a. Famili : Picornaviridae
Sifat penting :
RNA : rantai tunggal, polaritas positif, segmen tunggal,
replikasi RNA melalui pembentukan RNA komplementer
yang bertindak sebagai cetakan sintesis RNA genom.
Virion : tak berselubung, bentuk ikosahedral, tersusun
atas empat jenis protein utama. Diameter virion 28-30
nm.
Replikasi dan morfogenesis virus terjadi di sitoplasma.

Spektrum hospes sempit.


Contoh : virus polio
b.

Famili : Calicivirdae
Sifat penting :

RNA : rantai tunggal, polaritas positif, segmen tunggal.


Virion : tak berselubung, bentuk ikosahedral, tersusun
atas tiga jenis protein utama. Diameter virion 35-45 nm.
Replikasi dan morfogenesis di sitoplasma.
Spektrum hospes sempit.
Contoh : virus Sapporo
c. Famili : Togaviridae
Sifat penting :
RNA : rantai tunggal, polaritas positif, segmen tunggal,
replikasi RNA melalui pembentukan RNA komplementer,
yang bertindak sebagai cetakan RNA genom.
Virion : berselubung, nukleokapsid ikosahedral,
tersusun atas 3-4 jenis protein utama. Protein selubung
mempunyai aktivitas hemaglutinasi.Diameter virion 6070 nm.
Replikasi di sitoplasma dan morfogenesis melalui proses
budding di membran sel.
Spektrum hospes luas.
Contoh : virus Chikungunya, virus rubella
d. Famili : Flaviviridae
Sifat penting :
RNA : rantai tunggal, polaritas positif, segmen tunggal,
replikasi

RNA

melalui

RNA

komplementer

yang

kemudian bertindak sebagai cetakan bagi sintesis RNA


genom.

Virion : berselubung, simetri nukleokapsid belum jelas,


tersusun atas empat jenis protein utama. Protein
selubung mempunyai aktivitas hemaglutinasi.Diameter
virion 40-50 nm.
Replikasi di sitoplasma dan morfogenesisnya melalui
proses budding di membran sel.
Spektrum hospes luas.
Contoh : virus demam kuning
e. Famili : Bunyaviridae
Sifat penting :
RNA : rantai tunggal, polaritas negatif, terdiri dari tiga
segmen. Pada proses replikasinya, RNA virion disalin
menjadi mRNA dengan bantuan transkriptasa virion.
Dengan bantuan produk translasi mRNA selanjutnya
disintesis

RNA

komplementer.

Tiap

segmen

RNA

komplementer kemudian menjadi cetakan bagi RNA


genom.
Virion :

berselubung,

nukleokapsid

bentuk

helik,

tersusun atas empat protein utama. Protein selubung


mempunyai aktivitas hemaglutinasi.Diameter virion 90120 nm.
Replikasi di sitoplasma dan morfogenesisnya melalui
proses budding di membran Golgi.
Contoh : virus ensefalitis California
f.

Famili : Arenaviridae

Sifat penting :
RNA : rantai tunggal, polaritas negatif, terdiri dari dua
segmen.

Prinsip

Bunyaviridae.

replikasi

RNAnya

sama

dengan

Virion : berselubung, nukleokapsid helik, tersusun atas


tiga protein utama. Bentuk virion pleomorfik.Diameter
virion 50-300 nm (rata-rata 110-130 nm).
Replikasi di sitoplasma morfogenesisnya melalui proses
budding di membran plasma.
Spektrum hospes luas.
Contoh : virus lymphotic
g. Famili : Coronaviridae
Sifat penting :
RNA : rantai tunggal, terdiri dari satu segmen. Replikasi
RNA genom melalui pembentukan rantai RNA negatif
yang kemudian bertindak sebagai cetakan bagi RNA
genom. Sintesis RNA negatif disertai sintesis enam jenis
mRNA.
Virion : berselubung, nukleokapsid helik, tersusun atas
tiga protein utama. Bentuk pleomorfik.Diameter virion
80-160 nm.
Replikasi di sitoplasma dan morfogenesisnya melalui
proses budding di membran intrasitoplasma.
Contoh : coronavirus manusia 229-E dan OC43
h. Famili : Rhabdoviridae
Sifat penting :
RNA : rantai tunggal, polaritas negatif, satu segmen.
Prinsip replikasi RNAnya sama dengan Bunyaviridae.
Virion : berselubung, nukleokapsid helik, tersusun atas
4-5 protein. Virion berbentuk seperti peluru dengan
selubung beraktivitas hemaglutinasi. Diameter dan
panjang virion 70-85 nm dan 130-180 nm.

Replikasi

di

sitoplasma

dan

morfogenesisnya

di

membran plasma atau intrasitoplasma, tergantung


spesies virus.
Contoh : virus stomatitis vesicularis
i.

Famili : Filoviridae

Sifat penting :
RNA : rantai tunggal, polaritas negatif, segmen tunggal.
Virion : berselubung, nukleokapsid helik, tersusun atas
tujuh protein utama. Berbentuk pleomorfik.Diameter
virion 80 nm dan panjang mencapai 14.000 nm.
Replikasi di sitoplasma.
Contoh : virus Ebola
j. Famili : Paramyxoviridae
Sifat penting :
RNA : rantai tunggal, polaritas negatif. Replikasi RNA
dimulai

dengan

sintesis

mRNA

dengan

bantuan

transkriptasa virion. Dengan bantuan produk protein


mRNA dibuat RNA cetakan RNA genom.
Virion : berselubung, nukleokapsid helik, tersusun atas 610 protein

utama. Berbentuk

pleomorfik.

Selubung

mempunyai aktivitas hemaglutinasi dan menginduksifusi


sel. Replikasi di sitoplasma dan morfogenesisnya melalui
proses budding di membran plasma. Diameter virion
150-300 nm.
Spektrum hospes sempit.
Contoh : parainfluenza 1-4, viris parotitis
k. Famili : Orthomyxoviridae
Sifat penting :

RNA : rantai tunggal, segmen berganda (7 untuk


influenza C dan 8 untuk influenza A dan B), polaritas
negatif. Replikasi RNA dimulai dengan sintesis mRNA
dengan bantuan transkriptasa virion. Dengan bantuan
protein produk mRNA, RNa komplementer dibuat dan
dijadikan

cetakan

pembuatan

RNA

genom.

Sifat

segmentasi genom virus memudahkan terjadinya virus


mutan.
Virion : berselubung, nukleokapsid helik, tersusun atas 79

protein

utama.

Bentuk

pleomorfik.

Selubung

beraktivitas hemaglutinasi. Diameter virion 90-120 nm.


Pada

filamentosa

panjangnya

mencapai

beberapa

mikrometer.
Replikasi RNA di inti dan sitoplasma dan morfogenesis
melalui proses budding di membran plasma.
Contoh : virus Influenza A,B, dan C
l. Famili : Reoviridae
Sifat penting :
RNA : rantai ganda, segmen ganda (10 untuk reovirus
dan obvirus, 11 untuk rotavirus, 12 untuk Colorado tick
fever virus. Setiap mRNA berasal dari satu segmen
genom.Sebagian mRNA dipakai untuk sintesis protein
dan

sebagian

lagi

dipakai

sebagai

cetakan

untuk

pembuatan rantai RNA pasangannya.


Virion : tak berselubung, kapsidnya dua lapis dan
bersimetri ikosahedral. Diameter virion 60-80 nm.
Replikasi dan morfogenesis di sitoplasma.
Contoh : Reovirus 1-3
m.

Famili : Retroviridae

Sifat penting :

RNA : rantai tunggal, terdiri dari dua molekul polaritas


negatif

yang

identik.

Replikasi

dimulai

dengan

pemisahan kedua molekul RNA dan pembuatan rantai


DNA dengan cetakan RNA tersebutdengan bantuan
reverse transcriptase virion. Setelah molekul RNA-DNA
terpisah, dibuat rantai DNA komplementer terhadap
pasangan DNA yang sudah ada. DNA serat ganda
kemudian

mengalami

sirkularisasi

dan

berintegrasi

dengan kromosom hospes. Selanjutnya RNA genom


dibuat dengan cetakan DNa yang sudah terintegrasi
pada kromosom hospes.
Virion : berselubung, simetri kapsid ikosahedral. Virion
tersusun atas 7 jenis protein utama. Diametr virion 80130 nm. Morfogenesis virus melalui proses budding di
membran plasma.
Contoh : HIV 1 dan 2
2. Virus DNA
a. Famili : Adenoviridae
Sifat penting :
DNA : rantai ganda, segmen tunggal. Replikasi DNA dan
translasinya menjadi protein komplek.
Virion : tak berselubung, simetri kapsid ikosahedral.
Diameter virion 70-90 nm. Virion tersusun atas paling
tidak 10 protein.
Replikasi dan morfogenesis di inti sel.
Spektrum hospes sempit.
Contoh : Adenivirus 1-49
b. Famili : Herpesviridae
Sifat penting :

DNA : rantai ganda, segmen tunggal. Replikasi DNA


komplek.
Virion :

berselubung,

simetri

kapsid

ikosahedral.

Diameter virion 15-200 nm.


Replikasi di intisel. Morfogenesis melalui proses budding
di membran inti. Di dalam sitoplasma virion dibawa
dalam vesikel-vesikelke membran plasma.Di membran
plasma, membran vesikel fusi dengan membran plasma.
Contoh : virus herpes simplex 1-2, virus B
c. Famili : Hepadnaviridae
Sifat penting :
DNA : rantai ganda (bagian terbesar) dan rantai tunggal
(bagian kecil, di ujung molekul DNA), segmen tunggal.
Pada replikasi genom, bagian rantai tunggalnya harus
dibuat rantai ganda. Transkripsi DNA menghasilkan
mRNA untuk sintesis protein dan RNA lain sebagai
cetakan bagi pembuatan DNA oleh reverse transcriptase.
Virion : berselubung (HBsAg), diameter 42 nm. Tersusun
atas

selubung

(HBsAg)

dan

nukleokapsid.Dalam

nukleokapsid terdapat core (HBcAg) dan protein penting


lain (HBeAg).
Replikasi di hepatosit terjadi di inti sel sedangkan HBsAg
dibuat di sitoplasma.
Contoh : virus hepatitis B
d. Famili : Papovaviridae
Sifat penting :
DNA : rantai ganda, segmen tunggal sirkuler. Replikasi
DNA komplek dan selama replikasi bentuknya tetap
sirkuler. Siklus replikasi DNA dapat melibatkan DNA

genom yang episomal maupun yang berintegrasi dengan


kromosom sel.
Virion : tak berselubung, diameter 45 nm (polyomavirus)
dan 55 nm (papillomavirus), tersusun atas 5-7 jenis
protein utama.
Replikasi dan morfogenesis di inti sel.
Spektrum hospes sempit.
Contoh : papilloma virus manusia
e. Famili : Parvoviridae
Sifat penting :
DNA : rantai tunggal, segmen tunggal. Genus Parvovirus
lebih banyak mengandung rantai DNA polaritas negatif
sedang dua genus lagi DNA polaritas negatif dan
positifnya seimbang. Replikasi DNA komplek.
Virion : tak berselubung, nukleokapsid

bersimetri

ikosahedral dan berdiameter 18-26 nm, tersusun atas


tiga protein utama.
Replikasi dan morfogenesis di inti sel dan memerlukan
bantuan sel hospes.
Spektrum hospes sempit.
Contoh : parvovirus B-19
f.

Famili : Poxviridae

Sifat penting :
DNA : rantai ganda, segmen tunggal. Replikasi DNA
komplek.
Virion : berselubung, berbentuk seperti batu bata dan
merupakan virus dengan dimensi terbesar.Tersusun atas
lebih dari seratus jenis protein. Selubung mempunyai
aktivitas hemaglutinasi.

Replikasi dan morfogenesis di sitoplasma yaitu dalam


viroplasma (semacam pabrik virus). Hasil morfogenesis
dapat berupa virion berselubung maupun tidak.
Contoh : virus cacar sapi

Komponen Kimia Virus Menurut Kandungan


Protein
Setiap

makhluk

komponen-komponen

hidup

pada

kimiawi

dasarnya
yang

tersusun

akan

oleh

membantu

kelangsungan hidupnya. Virus memliki komponen kimia berups


protein, karbohidrat, dan lipid. Komponen kimis yang akan kita
bahas hanya komponen protein saja. Protein dalam virus
terdapat dalam bentuk asam nukleat, kapsid, enzim, dan protein
lainnya.
Asam Nukleat
Virus hanya mengandung DNA atau RNA saja. Hal ini
menjadi ciri khas virus dibandingkan dengan makhluk hidup
lainnya.

Virus

hanya

memiliki

satu

asam

nukleat,

jadi

berdasarkan hal ini, virus dapat diklasifikasikan berdasarkan jenis


asam nukleat yang mungkin dimiliki, yaitu:

DNA berutasan tunggal


RNA berutasan tunggal
DNA berutasan ganda
RNA berutasan ganda
Pada virus tumbuhan baru dapat ditemukan RNA berutasan

tunggal dan ganda serta DNA berutasan tunggal saja. Sedangkan


pada hewan, keempat jenis asam nukleat telah ditemukan.
Berdasarkan jenis asam nukleat yang terkandung dalam virus,
kita dapat menggolongkan virus menjadi 3 yaitu virus RNA, virus
DNA, dan virus yang tidak diklasifikasi.
Beberapa famili virus yang tergolong virus RNA:

o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o

Piconarviridae
Caliciviridae
Togaviridae (penyakit cikungunya, rubella)
Flaviviridae (virus demam kuning)
Bunyaviridae (virus demam berdarah korea)
Arenaviridae (virus lassa)
Coronaviridae (coronavirus)
Rhabdoviridae (virus rabies, virus mokola)
Filoviridae (virus ebola, virus marburg)
Paramixoviridae (virus paroritis, virus morbili)
Orthomixoviridae (virus influenza)
Reoviridae (virus kemorovo, rotavirus manusia)
Retroviridae

Beberapa famili virus yang tergolong virus DNA:


o
o
o
o
o
o

Adenoviridae (adenovirus 1-49)


Herpesviridae (virus herpes simpleks, virus epstein-barr)
Hepadnaviridae (virus hepatitis B)
Papovaviridae ( papilloma virus manusia, virus JK, virus BK)
Parvoviridae (parvovirus B19)
Poxviridae (virus variola, virus vaccinia, virus cacar
monyet)

Virus yang tidak diklasifikasikan:


o
o
o
o
o

Virus penyebab encefalopati spongiformis


Virus hepatitis delta
Verus hepatitis C
Virus Norwalk penyebab diare
Atrovirus

III. PERAN VIRUS DALAM


BIOPROSES/MIKROBIOLOGI INDUSTRI
Apabila mendengar kata virus, maka yang terlintas dalam
pikiran adalah bibit penyakit. Virus memang berkonotasi pada
penyakit. Namun, virus merupakan salah satu mikroba penting
dalam dunia medis. Virus merupakan bahan baku vaksin. Vaksin

digunakan tidak hanya untuk menyembuhkan suatu penyakit,


juga

untuk

mencegah

timbulnya

penyakit

dengan

cara

memproteksi tubuh. Vaksin biasanya diberikan kepada manusia


untuk meningkatkan imunitas. Vaksin diberikan terutama kepada
balita. Balita membutuhkan imunitas terhadap berbagai penyakit
seperti hepatitis dan campak.

III.A Metode Pembuatan Vaksin


Vaksin yang dibuat dalam beberapa metode. Secara
umum,

semua

melemahkan

vaksin
virus

memiliki

atau

tujuan

bakteri

yang

dengan

sama,

yaitu

cara

yang

memungkinkan resipien untuk mengembangkan respon imun


tanpa mengalami gejala infeksi. Vaksin yang dibuat dengan
menggunakan komponen yang sama yang ditemukan dalam
virus atau bakteri alami.
Beberapa strategi dasar yang digunakan untuk membuat
vaksin. Kekuatan dan keterbatasan masing-masing pendekatan
yang dijelaskan di bawah ini :
1. Weakened virus (Virus yang dilemahkan)
Pada metode ini, virus dilemahkan sehingga mereka
sulit memperbanyak diri (bereproduksi) di dalam tubuh.
Campak, gondok, campak Jerman (rubella), rotavirus, dan
influenza intranasal, vaksin cacar merupakan contoh vaksin
yang menerapkan metode ini pada proses pembuatannya.
Virus

biasanya

menyebabkan

penyakit

dengan

berkembang biak berkali-kali dalam tubuh. Sedangkan


virus alami memperbanyak diri ribuan kali, virus vaksin
biasanya memperbanyak diri kurang dari 20 kali. Minimnya
tingkat reproduksi virus vaksin mengakibatkan virus tidak

dapat menginfeksi, tetapi virus vaksin mereplikasi cukup


baik untuk menginduksi "sel B memori" yang melindungi
terhadap infeksi di masa depan.
Kelebihan weakened vaksin adalah bahwa dengan
satu atau dua dosis kecil dapat memberikan kekebalan
seumur hidup. Kekurangan dari metode ini adalah bahwa
vaksin biasanya tidak dapat diberikan kepada orang-orang
dengan sistem kekebalan yang lemah (seperti orang-orang
dengan kanker atau AIDS).
2. Inactivate virus (Virus yang dinonaktifkan)
Strategi ini menyebabkan virus benar-benar tidak
aktif / diberantas dengan bantuan bahan kimia. Dengan
menonaktifkan

virus,

maka

virus

tidak

mungkin

mereproduksi dirinya sendiri dan bahkan menyebabkan


penyakit. Polio, hepatitis A, influenza, dan vaksin rabies
dibuat dengan metode inactivate virus. Karena virus ini
masih berada dalam tubuh, sel-sel dari sistem imunitas
yang dapat melindungi terhadap penyakit dihasilkan.
Ada dua manfaat untuk pendekatan ini:
a. Vaksin tersebut tidak mungkin menyebabkan bahkan
bentuk ringan dari penyakit yang mencegah
b. Vaksin dapat diberikan kepada orang-orang dengan
sistem kekebalan yang lemah. Namun, keterbatasan
pendekatan ini adalah bahwa hal itu biasanya
memerlukan

beberapa

dosis

untuk

mencapai

kekebalan.
3. Use part of the virus / Menggunakan bagian tubuh
virus

Metode ini menerapkan cara hanya satu bagian dari


virus akan dihapus dan sisanya digunakan sebagai vaksin.
Hepatitis B dan vaksin HPV yang dibuat dengan cara ini.
Vaksin ini terdiri dari protein yang berada pada permukaan
virus. Strategi ini dapat digunakan ketika respon kekebalan
terhadap salah satu bagian dari virus (atau bakteri) yang
bertanggung jawab untuk perlindungan terhadap penyakit.
Vaksin ini dapat diberikan kepada orang-orang
dengan kekebalan melemah dan muncul untuk mendorong
berumur panjang kekebalan setelah tiga dosis.
4. Use part of the bacteria / Gunakan bagian dari
bakteri
Beberapa bakteri menyebabkan penyakit dengan
membuat protein berbahaya yang disebut racun. Beberapa
vaksin

yang

dibuat

dengan

mengambil

racun

dan

menonaktifkan mereka dengan bahan kimia (racun, setelah


tidak aktif, disebut toksoid a). Dengan menonaktifkan
racun, tidak lagi menyebabkan kerusakan. Vaksin difteri,
tetanus, dan pertusis yang dibuat dengan metode ini.
Strategi lain untuk membuat vaksin bakteri adalah
dengan menggunakan bagian dari lapisan gula (atau
polisakarida) dari bakteri. Perlindungan terhadap infeksi
oleh bakteri tertentu didasarkan pada kekebalan terhadap
lapisan gula (dan bukan bakteri keseluruhan). Namun,
karena anak-anak tidak membuat respon imun yang sangat
baik untuk lapisan gula saja, lapisan ini terkait dengan
protein berbahaya (ini disebut "konjugasi polisakarida"
vaksin).

The

Haemophilus

influenzae

(Hib

atau),

pneumokokus, dan vaksin meningokokus baru berlisensi


yang dibuat dengan cara ini.

Sama seperti untuk vaksin virus yang dilemahkan,


vaksin bakteri dapat diberikan kepada orang-orang dengan
sistem

kekebalan

membutuhkan

tubuh

beberapa

yang

lemah,

dosis

tetapi

untuk

sering

menginduksi

kekebalan yang memadai.

III.B Proses Pembuatan Vaksin


Sebelum vaksin dapat dibuat, peneliti harus menghabiskan
waktu mengisolasi dan mempelajari virus atau bakteri yang
bersangkutan dan belajar bagaimana menyebabkan penyakit.
Para peneliti kemudian mulai mempelajari bagaimana melindungi
seseorang dari penyakit. Kadang-kadang peneliti mengajukan
pertanyaan seperti: Berapa jumlah virus terbaik untuk memberi?
Apakah satu dosis
membantu

lebih

vaksin kerja?

banyak

lagi?

Apakah dosis

Berapa

lama

tambahan

perlindungan

terakhir?
Ada tiga tahap penelitian yang perlu dilakukan pada orang
sebelum

vaksin

dapat

dipertimbangkan

untuk

masyarakat

umum:
Tahap I
Studi Tahap I dirancang untuk menjawab dua pertanyaan:
Apakah vaksin aman ? dan Apakah itu merangsang respon
kekebalan tubuh? Jika jawaban untuk salah satu dari pertanyaan
ini adalah "Tidak", vaksin tidak dapat dikembangkan lebih lanjut.
Orang-orang terdaftar dalam studi ini biasanya orang dewasa
yang sehat dengan risiko rendah untuk infeksi. Penelitian ini
biasanya mencakup kurang dari 100 peserta.
Tahap II
Jika vaksin melewati Tahap I studi, lebih besar Tahap II studi
dirancang. Mereka didasarkan pada informasi yang diperoleh dari

Tahap I studi. Tahap II penelitian biasanya dilakukan dalam tipe


orang yang pada akhirnya akan menggunakan vaksin. Biasanya,
studi ini mendaftarkan beberapa ratus peserta. Jika vaksin ini
bertekad untuk menjadi tidak aman atau tidak konsisten
menginduksi respon imun, itu tidak akan dikembangkan lebih
lanjut.
Tahap III
Tahap III penelitian menentukan apakah vaksin bekerja dan
termasuk ribuan hingga puluhan ribu orang belajar selama
bertahun-tahun. Dalam banyak kasus, lebih dari satu Tahap III uji
coba akan dilakukan. Seringkali, uji coba dilakukan di area
geografis yang luas untuk memastikan bahwa vaksin tersebut
bekerja pada orang dengan latar belakang yang berbeda dan
gaya hidup. Tahap III penelitian biasanya mencakup lebih dari
5.000 orang.
Jika vaksin tampaknya aman dan bekerja, semua data akan
diserahkan kepada para ilmuwan dan personil peraturan di US
Food and Drug Administration (FDA). Mereka akan memeriksa
data untuk memastikan penelitian yang dilakukan dengan benar
dan hasilnya konsisten.
Sementara banyak penelitian awal yang dilakukan di
laboratorium penelitian akademik menggunakan hibah yang
diperoleh dari yayasan atau pemerintah (misalnya, National
Institutes of Health), Tahap I, II dan III studi yang dilakukan oleh
perusahaan farmasi. Studi-studi ini biasanya biaya ratusan juta
dolar.
Sekali vaksin telah ditinjau oleh FDA dan dianggap aman,
masih belum siap untuk diberikan kepada orang-orang. Semua
informasi yang dihasilkan tentang bagaimana vaksin bekerja

pada orang ini kemudian diberikan kepada anggota kelompok


merekomendasikan ilmuwan dan dokter yang menyarankan
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC). Kelompok
ini, yang disebut Komite Penasehat Praktek Imunisasi atau ACIP,
kemudian

merekomendasikan

bagaimana

vaksin

harus

digunakan dan oleh siapa. CDC, serta American Academy of


Pediatrics (AAP) dan American Academy of Family Physicians
(AAFP), kemudian membuat rekomendasi akhir yang dokter dan
profesional kesehatan dapat mengikuti dalam memutuskan siapa
yang harus menerima vaksin baru.
Tahap IV (Setelah lisensi)
Setelah vaksin mulai dibagikan, studi tambahan terjadi.
Studi-studi ini disebut studi Tahap IV. Karena beberapa efek
samping

yang

jarang

mungkin

belum

terdeteksi

dalam

percobaan fase III, keamanan vaksin terus dipantau oleh CDC.


Studi ini mengambil setidaknya empat bentuk :

Pertama, CDC akan memiliki departemen kesehatan


tertentu (biasanya di daerah di mana ada kejadian tinggi
penyakit

dan

karenanya,

distribusi

vaksin

tinggi)

memonitor setiap orang yang menerima vaksin dan

melaporkan kepada secara teratur.


Kedua, CDC monitor penyakit yang dilaporkan setiap
departemen kesehatan di negara ini, sehingga mereka
akan melihat apakah ada kejadian abnormal penyakit
setelah

vaksin

diperkenalkan

dan

mempertimbangkan

apakah dua peristiwa mungkin terkait.


Ketiga, ada Vaksin Adverse Events Reporting System
(VAERS atau). Jika seorang dokter, perawat atau konsumen
percaya bahwa orang yang menerima vaksin memiliki efek
samping yang signifikan negatif, ia dapat mengajukan

laporan dalam sistem ini, yang terus-menerus dipantau

untuk tren dalam data.


Keempat, Vaksin Keselamatan Datalink (VSD) termasuk
sekitar 6 juta orang dalam enam HMO besar di Pantai Barat
untuk

melihat

siapa

yang

melakukannya

dan

tidak

menerima vaksin dan menjawab pertanyaan keamanan.


VSD adalah salah satu pasca-lisensi langkah yang paling
efektif yang kita miliki.
Sistem ini terbukti utilitas mereka pada tahun 1999 ketika
sebuah vaksin rotavirus baru berlisensi ditemukan menjadi
penyebab langka intussusception, suatu lipat dari usus ke dalam
dirinya yang mungkin memerlukan operasi darurat dan dapat
mengakibatkan kematian jika tidak diobati. Setelah hubungan itu
dikonfirmasi, vaksin rotavirus dihentikan.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.

2009.

Cirir-Ciri

Virus.

http://Educorolla2.Blogspot.Com/2009/03/Ciri-Ciri-Virus.Html
(diakses tanggal 2 November 2012)