Anda di halaman 1dari 72

HUBUNGAN KARAKTERISTIK WANITA USIA PRODUKTIF

DENGAN PREMENSTRUAL SYNDROME (PMS) DI POLI OBSTETRI


DAN GYNEKOLOGY BPK - RSUD dr. ZAINOEL ABIDIN
BANDA ACEH TAHUN 2008

Oleh
Razi Maulana

BAGIAN/SMF ILMU KESEHATAN MASYARAKAT /


ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA BPK dr. ZAINOEL ABIDIN
BANDA ACEH
2008

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Wanita mulai dari usia remaja hingga dewasa normalnya akan mengalami

periode menstruasi atau haid dalam perjalanan hidupnya, yaitu pengeluaran darah
yang terjadi secara periodik melalui vagina yang berasal dari dinding rahim wanita.
Keluarnya darah tersebut disebabkan karena sel telur tidak dibuahi sehingga terjadi
peluruhan lapisan dalam rahim yang banyak mengandung pembuluh darah (Mochtar,
1989).
Beberapa saat sebelum menstruasi, sejumlah gadis dan wanita biasanya
mengalami rasa tidak enak. Mereka biasanya merasakan satu atau beberapa gejala
yang disebut dengan kumpulan gejala sebelum datang bulan atau istilah populernya
premenstrual syndrome (PMS). Hal-hal yang sering dirasakan adalah nyeri payudara,
rasa penuh atau kembung di perut bagian bawah, merasa sangat lelah, nyeri otot,
terutama di punggung bagian bawah atau perut, perubahan kebasahan vagina atau
tumbuh jerawat dan emosi yang sangat kuat atau sukar di kontrol. Banyak wanita
setiap bulan mengalami sekurang-kurangnya satu dari gejala-gejala diatas dan
sejumlah wanita lain mengalami semua gejala. Seorang wanita bisa merasakan gejala
yang berbeda-beda dari satu bulan ke bulan berikutnya (Burns, 2000). Banyak wanita
tidak terpengaruh sama sekali, sementara yang lainnya mengalami gejala yang hebat
dan sangat melemahkan (Brunner & Suddarth, 2001). Ciri khas dari kelainan ini

adalah keluhan muncul saat menjelang haid dan akan hilang dengan sendirinya begitu
haid datang (Karyadi, 1999).
Studi epidemiologi terakhir menunjukkan bahwa 5-10 % wanita kelompok
usia reproduksi dari populasi yang diteliti, mengalami gejala-gejala sementara
bersifat sedang sampai berat yang berkaitan dengan siklus menstruasi. Mereka pada
umumnya mencari bantuan medis. 20-40% merasa kurang sehat selama fase luteal
akhir serta awal fase menstruasi dan satu hari atau lebih pada pertengahan siklus
(Greenspan et al., 1998). Penelitian lainnya menyebutkan, sekitar

40% wanita

berusia 14-50 tahun mengalami premenstrual syndrome (PMS). Bahkan survey tahun
1982 di Amerika Serikat menunjukkan, PMS dialami 50% wanita dengan sosio
ekonomi menengah yang datang ke klinik ginekologi (Karyadi, 1999).
Dalam suatu penelitian pada tahun 1994 yang berjudul Biological, Social and
Behavioral Factors Associated with Premenstrual Syndrome yang melibatkan 874
wanita di Virginia menunjukkan 8,3% dari wanita tersebut mengalami PMS, dari
penelitian tersebut terungkap bahwa wanita yang mengalami PMS 2,9 kali lebih
sering memeriksakan diri dibandingkan dengan wanita tanpa PMS. Wanita yang lebih
muda, wanita dari ras kulit hitam dan wanita dengan siklus menstruasi yang lebih
panjang lebih sering mengalami PMS. Prevalensi PMS adalah 10,4% pada wanita
kulit hitam, 7,4% pada wanita kulit putih dan 4,3% pada wanita ras lainnya,
sedangkan jika dilihat dari segi usia prevalensi PMS pada wanita yang berusia 35-44
tahun adalah 4,5%, wanita yang berusia dibawah 35 tahun (9,4%) dan prevalensi
yang paling tinggi adalah pada wanita yang berusia 25-34 tahun (10,7%). Wanita

yang berpendapatan kurang dari $ 20.000 pertahun lebih banyak mengalami PMS
(8,4%) dari pada wanita yang berpenghasilan > $ 20.000 pertahun (6,5%)( (Deuster,
1999).
Berat ringannya gejala PMS tersebut dikelompokkan dalam tidak ada gejala
yang berarti, ringan, sedang dan berat sampai gejala yang ekstrim. Gejala yang paling
dirasakan oleh sebagian besar wanita tersebut yang berupa gejala ringan sampai berat
adalah irritable (rasa cepat marah) sebanyak 17,4%, nyeri punggung atau nyeri otot
14,2% dan perasaan bengkak 13,2% (Deuster, 1999).
Survey menunjukkan bahwa premenstrual syndrome (PMS) merupakan
masalah kesehatan umum

yang paling banyak dilaporkan oleh wanita usia

reproduksi, pada saat ini diperkirakan prevalensi dari gejala klinis yang berarti adalah
sekitar 12,6%-31% dari wanita yang mengalami menstruasi. Studi epidemoilogi
menunjukkan kurang lebih 20% dari wanita usia reproduksi mengalami gejala PMS
sedang sampai berat (Freeman, 2007). Dalam suatu penelitian terhadap 384 wanita
yang berusia 15 tahun melaporkan bahwa mereka mengalami PMS adalah sebanyak
14%. Sedangkan pada penelitian yang disponsori oleh WHO pada tahun 1981
menunjukkan bahwa gejala PMS dialami oleh 23% wanita Indonesia (Essel, 2007).
Menurut Karyadi (1999), sindrom ini biasanya lebih mudah terjadi pada
wanita yang lebih peka terhadap perubahan hormonal dalam siklus haid. Akan tetapi
ada beberapa faktor yang meningkatkan resiko terjadinya PMS yaitu wanita yang
pernah melahirkan (PMS semakin berat setelah melahirkan beberapa anak), usia
(PMS semakin mengganggu dengan semakin bertambahnya usia, terutama antara usia

30-45 tahun), stres (faktor stres memperberat gangguan PMS), diet (faktor kebiasaan
makan seperti tinggi gula, garam, kopi, teh, coklat, minuman bersoda, produk susu
dan makanan olahan memperberat gejala PMS),

kekurangan zat-zat gizi seperti

kurang vitamin B (terutama B6), vitamin E, vitamin C, magnesium, zat besi, seng,
mangan, asam lemak linoleat, kebiasaan merokok dan minum alkohol serta kurang
berolah raga dan aktivitas fisik juga dapat memperberat gejala PMS.
Sekitar 25 % wanita yang mengalami perubahan suasana hati dan perubahan
fisik mengeluhkan perasaan berkurangnya kondisi tubuh yang sehat, sehingga
mengganggu hubungan pribadi (Llewellyn, 2005). Kehidupan yang penuh stres dan
hubungan yang bermasalah secara umum dapat berhubungan dengan keparahan
gejala-gejala fisik. Beberapa wanita melaporkan gangguan hidup yang parah akibat
PMS yang secara negatif mempengaruhi hubungan interpersonal mereka. PMS juga
dapat menjadi faktor dalam mengurangi produktivitas, kecelakaan yang berkaitan
dengan pekerjaan dan ketidakhadiran di tempat kerja (Brunner & Suddarth, 2001).
Masalah utama yang ditimbulkan oleh PMS ini ialah gangguan pada diri
wanita sendiri dan keluarganya, kerugian dalam bidang industri dan komersial, serta
dalam skala yang lebih besar adalah kerugian pada ekonomi nasional. Masalah
tersebut dikaitkan dengan penurunan produktivitas kerja akibat peningkatan absensi
kehadiran, kegiatan di tempat kerja terganggu selama 7-10 hari, dan ini sama dengan
84-120 hari pertahun, dan merupakan suatu kehilangan personal dan sosial yang
bermakna (Baziad, 2005).

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan terhadap 68 wanita usia produktif di


Aceh Besar tahun 2008, didapatkan bahwa sebanyak 28 orang (41,18%) mengalami
gejala Premenstrual Syndrome (PMS) yang dirasakan berada dalam kategori sedang
(Linda, 2008)
1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan data di atas maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah

apakah terdapat hubungan yang bermakna antara karakteristik wanita usia produktif
dengan premenstrual syndrome (PMS) di Poli Obstetri dan Gynekology BPK - RSUD
dr. Zainoel Abidin Banda Aceh
1.3

Pertanyaan Penelitian
Bagaimana gambaran antara karakteristik wanita usia produktif dengan

premenstrual syndrome (PMS) di Poli Obstetri dan Gynekology BPK - RSUD dr.
Zainoel Abidin Banda Aceh.
1.4

Tujuan Penelitian

1.4.1

Tujuan Umum
Mengidentifikasi hubungan antara karakteristik wanita usia produktif dengan

premenstrual syndrome (PMS) di Poli Obstetri dan Gynekology BPK - RSUD dr.
Zainoel Abidin Banda Aceh.
1.4.2

Tujuan Khusus

a.

Mengidentifikasi hubungan antara umur wanita usia produktif dengan


premenstrual syndrome (PMS) di Poli Obstetri dan Gynekology BPK RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.

b.

Mengidentifikasi hubungan antara pendidikan wanita usia produktif


dengan premenstrual syndrome (PMS) di Poli Obstetri dan Gynekology
BPK - RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.

c.

Mengidentifikasi hubungan antara pendapatan wanita usia produktif


dengan premenstrual syndrome (PMS) di Poli Obstetri dan Gynekology
BPK - RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.

d.

Mengidentifikasi hubungan antara pekerjaan wanita usia produktif


dengan premenstrual syndrome (PMS) di Poli Obstetri dan Gynekology
BPK - RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.

e.

Mengidentifikasi hubungan antara status perkawinan wanita usia


produktif dengan premenstrual syndrome (PMS) di Poli Obstetri dan
Gynekology BPK - RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.

1.5
1.5.1

Manfaat Penelitian
Manfaat Praktis
Sebagai sumber informasi bagi masyarakat terutama wanita usia repoduktif

yang mengalami premenstrual syndrome (PMS).


1.5.2

Manfaat Teoritis

a.

Bagi peneliti sendiri, dapat menambah wawasan, pengetahuan


serta pemahaman tentang hubungan karakteristik wanita usia produktif
dengan premenstrual syndrome (PMS) di Poli Obstetri dan Gynekology
BPK - RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.

b.

Bagi institusi pendidikan, sebagai bahan masukan untuk


mengembangkan ilmu pengetahuan tentang premenstrual syndrome
(PMS) pada wanita dengan karakteristik yang berbeda.

c.

Bagi profesi kedokteran secara luas, sebagai bahan kajian/


informasi dalam mengkaji, menganalisa, mendiagnosa dan memberikan
perawatan pada wanita yang mengalami premenstrual syndrome (PMS).

d.

Bagi wanita usia produktif, sebagai bahan masukan agar wanita


dapat mengenal gejala-gejala premenstrual syndrome (PMS) serta dapat
menanggulanginya.

1.6

Ruang Lingkup Penelitian


Mengingat luasnya permasalahan, maka penulis membatasi ruang lingkup

penelitian yaitu membahas tentang hubungan karakteristik wanita usia produktif


dengan premenstrual syndrome (PMS) pada wanita usia reproduktiv yang
mengunjungi Poli Obstetri dan Gynekology BPK - RSUD dr. Zainoel Abidin Banda
Aceh, berdasarkan Umur, Pendidikan, Pendapatan, Pekerjaan, dan Status Perkawinan.

BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN

2.1.
2.1.1

Konsep Menstruasi
Pengertian
Menurut Bobak (2004), menstruasi adalah perdarahan periodik pada uterus

yang dimulai sekitar 14 hari setelah ovulasi. Hari pertama keluarnya darah menstruasi
ditetapkan sebagai hari pertama siklus endometrium. Lama rata-rata aliran menstruasi
adalah lima hari (dengan rentang tiga sampai enam hari) dan jumlah darah rata-rata
yang hilang ialah 50 ml (rentang 20 sampai 80 ml), namun hal ini sangat bervariasi.
Siklus menstruasi mempersiapkan uterus untuk kehamilan. Bila tidak terjadi
kehamilan, terjadi menstruasi. Usia wanita, status fisik dan emosi wanita serta
lingkungan mempengaruhi pengaturan siklus menstruasi.
Fungsi menstruasi normal merupakan hasil interaksi antara hipotalamus,
hipofisis, dan ovarium dengan perubahan-perubahan terkait pada jaringan sasaran
pada saluran reproduksi normal. Ovarium memainkan peranan penting dalam proses
ini, karena tampaknya bertanggung jawab dalam pengaturan perubahan-perubahan
siklik maupun lama siklus menstruasi (Greenspan et al., 1998).
2.1.2

Siklus Menstruasi
Menurut Bobak (2004), Siklus menstruasi merupakan rangkaian peristiwa

yang secara kompleks saling mempengaruhi dan terjadi secara simultan. Adapun
rangkaian dari terjadinya menstruasi adalah sebagai berikut :

a.

Siklus endometrium
Menurut Hamilton (1995) dan Bobak (2004), Siklus menstruasi
endometrium terdiri dari empat fase, yaitu :
1) Fase menstruasi
2) Pada fase ini, endometrium terlepas dari dinding uterus dengan disertai
pendarahan dan lapisan yang masih utuh hanya stratum basale. Rata-rata
fase ini berlangsung selama lima hari (rentang tiga sampai enam hari).
Pada awal fase menstruasi kadar estrogen, progesteron, LH (Luteinizing
Hormon) menurun atau pada kadar terendahnya selama siklus dan kadar
FSH (Folikel Stimulating Hormon) baru mulai meningkat.
3) Fase proliferasi
4) Fase proliferasi merupakan periode pertumbuhan cepat yang berlangsung
sejak sekitar hari kelima ovulasi, misalnya hari ke-10 siklus 24 hari, hari
ke-15 siklus 28 hari, hari ke-18 siklus 32 hari. Permukaan endometrium
secara lengkap kembali normal dalam sekitar empat hari atau menjelang
perdarahan berhenti. Sejak saat ini, terjadi penebalan 8-10 kali lipat, yang
berakhir saat ovulasi. Fase proliferasi tergantung pada stimulasi estrogen
yang berasal dari folikel ovarium.
5) Fase sekresi/luteal
6) Fase sekresi berlangsung sejak hari ovulasi sampai sekitar tiga hari
sebelum periode menstruasi berikutnya. Pada akhir

fase sekresi,

endometrium sekretorius yang matang dengan sempurna mencapai


ketebalan seperti beludru yang tebal dan halus. Endometrium menjadi
kaya dengan darah dan sekresi kelenjar.

7) Fase iskemi/premenstrual
8) Implantasi atau nidasi ovum yang dibuahi terjadi sekitar 7 sampai 10 hari
setelah ovulasi. Apabila tidak terjadi pembuahan dan implantasi, korpus
luteum yang mensekresi estrogen dan progesteron menyusut. Seiring
penyusutan kadar estrogen dan progesteron yang cepat, arteri spiral
menjadi spasme, sehingga suplai darah ke endometrium fungsional
terhenti dan terjadi nekrosis. Lapisan fungsional terpisah dari lapisan
basal dan perdarahan menstruasi dimulai.
b.

Siklus hipotalamus-hipofisis
Menjelang akhir siklus menstruasi yang normal, kadar estrogen dan

progesteron darah menurun. Kadar hormon ovarium yang rendah dalam darah ini
menstimulasi hipotalamus untuk mensekresi gonadotropin realising hormone (GnRH). Sebaliknya, Gn-RH menstimulasi sekresi folikel stimulating hormone (FSH).
FSH menstimulasi perkembangan folikel de graaf ovarium dan produksi estrogennya.
Kadar estrogen mulai menurun dan Gn-RH hipotalamus memicu hipofisis anterior
untuk mengeluarkan lutenizing hormone (LH). LH mencapai puncak pada sekitar hari
ke-13 atau ke-14 dari siklus 28 hari. Apabila tidak terjadi fertilisasi dan implantasi
ovum pada masa ini, korpus luteum menyusut, oleh karena itu kadar estrogen dan
progesteron menurun, maka terjadi menstruasi (Bobak, 2004).
c.

Siklus ovarium
Folikel primer primitif berisi oosit yang tidak matur (sel primordial). Sebelum

ovulasi, satu sampai 30 folikel mulai matur didalam ovarium dibawah pengaruh FSH
dan estrogen. Lonjakan LH sebelum terjadi ovulasi mempengaruhi folikel yang

terpilih. Didalam folikel yang terpilih, oosit matur dan terjadi ovulasi, folikel yang
kosong memulai berformasi menjadi korpus luteum.

Korpus luteum mencapai

puncak aktivitas fungsional 8 hari setelah ovulasi, mensekresi baik hormon estrogen
maupun progesteron. Apabila tidak terjadi implantasi, korpus luteum berkurang dan
kadar hormon menurun. Sehingga lapisan fungsional endometrium tidak dapat
bertahan dan akhirnya luruh (Bobak, 2004). Rangkaian peristiwa terjadinya
menstruasi dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

Gambar 2.1
Skema siklus menstruasi ; hipofisis-hipotalamus, ovarium dan
endometrium
Hipotalamus
Siklus
Hipofisis
hipotalamus

Kelenjer hipofisis
Posterior

Anterior

Luteinizing Hormane

Folicle-Stimulating Hormone

Hormon
Hipofisis
Fase folikular

Fase luteal

LH

FSH

Siklus
Ovarium
Folikel
primer

Estrogen

Menstruasi

Telur

Folikel Grazi

Ovulasi

Korpus Luteum Korpus luteum yang


berdegenerasi
Progesteron sejumlah
kecil estrogen
Hormon
Ovarium

Fase Sekresi

Fase Prolifeterasi

Fase
Iskemik Menstruasi

Lapisan
fungsional

Siklus
endometrium

Lapisan basal
Hari

10

14

Sumber : dikutip dari Bobak (2004), halaman 47

28 1

2.1.3

Aspek Hormonal Dalam Siklus Menstruasi


Mamalia, khususnya manusia, siklus reproduksinya melibatkan berbagai

organ, yaitu uterus, ovarium, vagina, dan mammae yang berlangsung dalam waktu
tertentu atau adanya sinkronisasi, maka hal ini dimungkinkan adanya pengaturan,
koordinasi yang disebut hormon. Hormon adalah zat kimia yang dihasilkan oleh
kelenjar endokrin, yang langsung dialirkan dalam peredaran darah dan mempengaruhi
organ tertentu yang disebut organ target (Syahrum et al., 1994). Hormon-hormon
yang berhubungan dengan siklus menstruasi ialah :
a.

Hormon-hormon yang dihasilkan gonadotropin hipofisis meliputi :


1). Luteinizing Hormon (LH)
LH dihasilkan oleh sel-sel asidofilik (afinitas terhadap asam), bersama
dengan FSH berfungsi mematangkan folikel dan sel telur, merangsang
terjadinya ovulasi, pembentukan korpus luteum, serta sintesis steroid seks.
Folikel yang melepaskan ovum selama ovulasi disebut korpus rubrum
yang disusun oleh sel-sel lutein dan disebut korpus luteum (Syahrum et.
al., 1994 dan Greenspan et. al., 1998).
2). Folikel Stimulating Hormon (FSH)
FSH dihasilkan oleh sel-sel basofilik (afinitas terhadap basa). Hormon ini
mempengaruhi ovarium sehingga dapat berkembang dan berfungsi pada
saat pubertas. FSH mengembangkan folikel primer yang mengandung
oosit primer dan keadaan padat (solid) tersebut menjadi folikel yang

menghasilkan estrogen (Syahrum et. al., 1994 dan Greenspan et. al.,
1998).
3). Prolaktin Releasing Hormon (PRH)
Secara pilogenetis, prolaktin adalah suatu hormon yang sangat tua serta
memiliki susunan yang sama dengan hormon pertumbuhan (Growth
hormone,

Somatogotropic

hormone,

thyroid

stmulating

hormone,

Somatotropin). Secara sinergis dengan estradia, prolaktin mempengaruhi


payudara dan laktasi, serta berperan pada pembentukan dan fungsi korpus
luteum (Syahrum et. al., 1994).
b. Steroid ovarium
Ovarium menghasilkan progesteron, androgen, dan estrogen. Banyak dari
steroid yang dihasilkan ini juga disekresi oleh kelenjar adrenal atau dapat dibentuk di
jaringan

perifer

melalui

pengubahan

prekursor-prekursor

steroid

lain;

konsekuensinya, kadar plasma dari hormon-hormon ini tidak dapat langsung


mencerminkan aktivitas steroidogenik dari ovarium.
1). Estrogen
Fase pubertas terjadi perkembangan sifat seks primer. Kemudian juga terjadi
perkembangan sifat seks sekunder. Selanjutnya akan berlangsung siklus pada
uterus, vagina dan kelenjar mammae. Hal ini disebabkan oleh pengaruh
hormon estrogen. Terhadap uterus, hormon estrogen menyebabkan
endometrium mengalami proliferasi, yaitu lapisan endometrium berkembang
dan menjadi lebih tebal. Hal ini diikuti dengan lebih banyak kelenjar-

kelenjar, pembuluh darah arteri maupun vena. Hormon estrogen dihasilkan


oleh teka interna folikel. Estradiol (E2) merupakan produk yang paling
penting yang disekresi oleh ovarium karena memiliki potensi biologik dan
efek fisiologik yang beragam terhadap jaringan perifer sasaran.
Peninggian kadar estradiol plasma berkorelasi erat dengan peningkatan
ukuran folikel pra-ovulasi. Setelah lonjakan LH, kadar estradiol serum akan
mencapai kadar terendah selama beberapa hari dan terjadi peningkatan kedua
kadar estradiol plasma yang akan mencapai puncaknya pada pertengahan
fase luteal, yang akan mencerminkan sekresi estrogen oleh korpus luteum.
Studi kateterisasi telah menunjukkan bahwa peningkatan kadar estradiol
plasma pada fase pra-evolusi dan pertengahan fase luteal dari siklus
(Syahrum et. al., 1994 dan Greenspan et. al., 1998).
2). Progesteron
Kadar progesteron adalah rendah selama fase folikuler, kurang dari 1 ng/ml
(3,8 nmol/l) dan kadar progesteron akan mencapai puncak yaitu antara 10-20
mg/ ml (32-64 nmol) pada pertengahan fase luteal. Selama fase luteal,
hampir semua progesteron dalam sirkulasi merupakan hasil sekresi langsung
korpus luteum.
Pengukuran kadar progesteron plasma banyak dimanfaatkan untuk
memantau ovulasi. Kadar progesteron di atas 4-5 ng/ml (12,7-15.9 nmol/l)
mengisyaratkan bahwa ovulasi telah terjadi. Perkembangan uterus yang
sudah dipengaruhi hormon estrogen selanjutnya dipengaruhi progesteron

yang

dihasilkan

korpus

luteum

menjadi

stadium

sekresi,

yang

mempersiapkan endometrium mencapai optimal. Kelenjar mensekresi zat


yang berguna untuk makanan dan proteksi terhadap embrio yang akan
berimplantasi. Pembuluh darah akan menjadi lebih panjang dan lebar
(Greenspan et. al., 1998).
3). Androgen
Androgen merangsang pertumbuhan rambut di daerah aksila dan pubes serta
mampu meningkatkan libido. Androgen terbentuk selama sintesis steroid di
ovarium dan adrenal, sebagai pembakal estrogen. Androgen pada wanita
dapat berakibat maskulinisasi, maka pembentukan yang berlebih akan
menyebabkan gangguan yang berarti. Fase folikuler dan fase luteal kadar
rata-rata testosteron plasma berkisar antara 0,2 ng/mg-0,4ng/mg (0,69-1,39
nmol/l) dan sedikit meningkat pada fase pra-ovulasi (Jacoeb et. al., 1994).
2.2
2.2.1

Konsep Premenstrual Syndrome (PMS)


Definisi Premenstrual Syndrome (PMS)
Premenstrual syndrome (PMS) adalah kombinasi gejala yang terjadi sebelum

haid dan menghilang dengan keluarnya darah menstruasi serta dialami oleh banyak
wanita sebelum awitan setiap siklus menstruasi (Brunner & Suddarth, 2001).
Magos dalam Hacker (2001), mendefenisikan bahwa premenstrual syndrome
(PMS) adalah gejala fisik, psikologis dan perilaku yang menyusahkan yang tidak
disebabkan oleh penyakit organik yang secara teratur berulang selama fase siklus haid

menghilang selama waktu haid yang tersisa. Sekitar 5-10% wanita menderita PMS
yang berat sehingga mengganggu kegiatan sehari-harinya.
Menurut Shreeve (1983) premenstrual syndrome (PMS) adalah sejumlah
perubahan mental maupun fisik yang terjadi antara hari ke-2 sampai hari ke-14
sebelum menstruasi dan mereda segera setelah menstruasi berawal. Sedangkan
Dalton (1983), mendefinisikan premenstrual syndrome (PMS) adalah kambuhnya
gejala-gejala pada saat premenstrum dan menghilang setelah menstruasi usai.
Setiap wanita yang haid adalah calon bagi premenstrual syndrome (PMS),
dengan hampir 50% dari semua wanita dalam usia reproduksi mengalami gejalagejala yang ringan atau berat. Meskipun para remaja mungkin menderita sindroma
itu. Gejala-gejala premenstrual syndrome (PMS) lebih berat pada wanita yang berusia
lebih tua. Seringkali para wanita dalam usia 30-an memperlihatkan kesukarankesukaran prahaid untuk pertama kalinya (Health Media Nutrition Series, 1996).
Meskipun angka pasti kejadian premenstrual syndrome (PMS) belum
diketahui, kira-kira 75 % wanita mengeluh mengalaminya. Kriteria yang digunakan
untuk mendiagnosis PMS baru-baru ini telah dikembangkan dan ketika kriteria
tersebut digunakan 3%-8% dari wanita didiagnosa mengalami PMS. Wanita dengan
PMS berat melaporkan bahwa PMS mengganggu kegiatan sehari-hari mereka, baik
dari segi diri mereka sendiri, sosial dan pekerjaan mereka (Deuster et.,al., 1999)

2.2.2

Etiologi Premenstrual Syndrome (PMS)


Penyebab pasti PMS tidak diketahui, tetapi beberapa teori menunjukkan

adanya kelebihan estrogen atau defisit progesteron dalam fase luteal dari siklus
menstruasi. Selama bertahun-tahun teori ini mendapat dukungan yang cukup banyak
dan terapi progesteron biasa dipakai untuk mengatasi PMS. Penelitian lebih lanjut
menunjukkan bahwa terapi progesteron kelihatan tidak efektif bagi kebanyakan
wanita, selain kadar progesteron pada penderita tidak menurun secara konsisten. Bila
kadar progesteron yang menurun dapat ditemukan hampir pada semua wanita yang
menderita PMS, maka dapat dipahami bahwa kekurangan hormon ini merupakan
sebab utama. Sebagian wanita yang menderita PMS terjadi penurunan kadar
progesteron dan dapat sembuh dengan penambahan progesteron, akan tetapi banyak
juga wanita yang menderita gangguan PMS hebat tapi kadar progesteronnya normal
(Shreeve, 1983 dan Brunner & Suddarth, 2001).
Teori lain menyatakan bahwa penyebab PMS adalah karena meningkatnya
kadar estrogen dalam darah, yang akan menyebabkan gejala depresi dan khususnya
gangguan mental. Kadar estrogen yang meningkat akan mengganggu proses kimia
tubuh termasuk vitamin B6 (Piridoksin) yang dikenal sebagai vitamin anti depresi
karena berfungsi mengontrol produksi serotonin. Serotonin penting sekali bagi otak
dan syaraf, dan kurangnya persediaan zat ini dalam jumlah yang cukup dapat
mengakibatkan depresi. (Shreeve, 1983, Hacker et, al., 2001 dan Brunner &
Suddarth, 2001 ).

Batas tertentu estrogen menyebabkan retensi garam dan air serta berat
badannya bertambah. Mereka yang mengalami akan menjadi mudah tersinggung,
tegang dan perasaan tidak enak. Gejala-gejala dapat dicegah bila pertambahan berat
badan dicegah. Peranan estrogen pada PMS tidak nyata, sebab ketegangan ini timbul
terlambat pada siklus tidak pada saat ovulasi waktu sekresi estrogen berada pada saat
puncaknya. Kenaikan sekresi vasopresin kemungkinan berperan pada retensi cairan
pada saat premenstruasi (Ganong, 1983).
Hormon lain yang dikatakan sebagai penyebab gejala PMS adalah prolaktin.
Prolaktin dihasilkan oleh kelenjar hipofisis dan dapat mempengaruhi jumlah estrogen
dan progesteron yang dihasilkan pada setiap siklus. Jumlah prolaktin yang terlalu
banyak dapat mengganggu keseimbangan mekanisme tubuh yang mengontrol
produksi kedua hormon tersebut. Wanita yang mengalami PMS tersebut kadar
prolaktin dapat tinggi atau normal. Wanita yang mempunyai kadar prolaktin cukup
tinggi dapat disembuhkan dengan menekan produksi prolaktin (Shreeve, 1983,
Hacker et, al., 2001 dan Brunner & Suddarth, 2001).
Teori lainnya mengatakan bahwa hormon yang tidak teridentifikasi
menyebabkan gejala pada waktu terjadi perubahan menstruasi seperti peningkatan
aktivitas beta endorphin, defisiensi serotonin, retensi cairan, metabolisme
prostaglandin abnormal dan gangguan aksis hipotalamik pituitary ovarium sebagai
penyebabnya (Brunner & Suddarth, 2001).
Hacker et al., (2001) juga mengemukakan penyebab PMS adalah kelebihan
atau defisiensi kortisol dan androgen, kelebihan hormon anti diuresis, abnormalitas

sekresi opiate endogen atau melatonin, defisiensi vitamin A, B1, B6 atau mineral,
seperti magnesium, hipoglikemia reaktif, alergi hormon, toksin haid,serta faktorfaktor evolusi dan genetik.
Menurut Simanjuntak dalam Prawiroharjo (2005), faktor kejiwaan, masalah
dalam keluarga, masalah sosial dan lain-lain juga memegang peranan penting. Yang
lebih mudah menderita PMS adalah wanita yang lebih peka terhadap perubahan
hormonal dalam siklus haid dan terhadap faktor-faktor psikologis.
Berbagai faktor gaya hidup tampaknya menjadikan gejala-gejala lebih buruk,
termasuk stres, kurangnya kegiatan fisik dan diet yang mengandung gula, karbohidrat
yang diolah, garam, lemak, alkohol dan kafein yang tinggi (Health Media Nutrition
Series, 1996).
2.2.3

Gejala Premenstrual Syndrome (PMS)


Lebih dari 150 gejala telah dihubungkan dengan premenstrual syndrome

(PMS), namun urutan serta kombinasi dari gejala-gejala dapat berbeda-beda diantara
para wanita. Jenis dan kuatnya gejala juga dapat berbeda-beda setiap bulan dan dapat
mencerminkan perubahan-perubahan gaya hidup atau stres (Health Media Nutrition
Series, 1996).
Gejala utama termasuk sakit kepala, keletihan, sakit pinggang, pembesaran
dan nyeri pada payudara, dan perasaan begah pada abdomen. Irritabilitas umum,
perubahan suasana hati, ketakutan akan kehilangan kontrol, makan sangat berlebihan
dan menangis tiba-tiba dapat juga terjadi. Gejala-gejala sangat beragam dari satu

wanita ke wanita lainnya dan dari satu siklus ke siklus berikutnya pada wanita yang
sama (Brunner & Suddarth, 2001).
Menurut Hacker et. al. (2001), gejala-gejala yang paling banyak ditemukan
pada PMS adalah perasaan bengkak, kenaikan berat badan, hilangnya efisiensi, sukar
konsentrasi, kelelahan, perubahan suasana hati, depresi, termasuk gangguan tidur
(insomnia).
Scott et. al. (2002) membagi gejala-gejala PMS berdasarkan fungsi yang
terganggu. Gangguan psikologik berupa irritabilitas, ketidakseimbangan emosional,
cemas, depresi dan perasaan bermusuhan. Gangguan kognitif dapat berupa
ketidakmampuan berkonsentrasi dan bingung. Gangguan somatik berupa mastalgia
(nyeri tekan pada payudara), kembug, sakit kepala, kelelahan dan insomnia serta
gangguan perilaku sosial berupa kecanduan karbohidrat dan membantah.
Rayburn (2001), mengklasifikasikan gejala-gejala PMS

berdasarkan

gangguan pada fungsi fisik dan emosional. Klasifikasinya dapat dilihat pada tabel
berikut ini :

Tabel 2.1
Gejala-gejala premanstrual syndrome
Gejala fisik
a.
Perut kembung
b.
Nyeri payudara
c.
Sakit kepala
d.
Kejang atau bengkak pada
kaki
e.
Nyeri panggul
f.
Hilang koordinasi
g.
Nafsu makan bertambah
h.
Hidung tersumbat
i.
Perubahan defekasi
j.
Tumbuh jerawat
k.
Sakit pinggul
l.
Suka makan manis atau
asin
m.
Palpitasi
n.
Peka suara atau cahaya
o.
Rasa gatal pada kulit
p.
Kepanasan

Gejala emosional
a.
Depresi
b.
Cemas
c.
Suka menangis
d.
Sifat
agresif
atau
pemberontakan
e.
Pelupa
f.
Tidak bisa tidur
g.
Merasa tegang
h.
Irritabilitas
i.
Rasa bermusuhan
j.
Suka marah
k.
Paranoid
l.
Perubahan dorongan seksual
m.
Konsentrasi berkurang
n.
Merasa tidak aman
o.
Pikiran bunuh diri
p.
Keinginan menyendiri
q.
Perasaan bersalah
r.
Kelemahan
Sumber : dikutip dari Rayburn et.al., (2001), halaman 287

2.2.4

Penanganan Sindroma Premenstrual(PMS)


Terdapat suatu persetujuan dalam penatalaksanaan premenstrual syndrome

(PMS). Riwayat yang terinci dan dikaji dengan cermat serta kelompok gejala harian
dan fluktuasi mood yang terdapat pada beberapa siklus dapat menjadi petunjuk dalam
penyusunan rencana penatalaksanaan. Konseling, dalam bentuk kelompok pendukung
atau konseling pasangan/individu dapat sangat bermanfaat. Penggunaan obat-obatan
seperti inhibitor prostaglandin dan diuretik untuk meredakan edema, bromokriptin
(parlodel) untuk mengatasi nyeri tekan pada payudara dan diet yang seimbang,

rendah kafein dan natrium atau disertai makanan diuretik alami dapat meredakan
gejala. Latihan fisik dan suplemen vitamin (B6 dan E) seringkali direkomendasikan.
Para wanita yang diganggu PMS dapat mengurangi gejala-gejala dengan
melakukan perubahan pada dietnya seperti mengurangi jumlah gula yang dimakan,
memperbanyak mengonsumsi serat, mengurangi asupan lemak, mengurangi jumlah
garam jika terdapat retensi cairan dan menghindari kafein (Health Media Nutrition
Series, 1996).
Menurut Rayburn (2001), terapi PMS dibagi menjadi tiga kategori, yaitu :
a.

Terapi simtomatik untuk menghilangkan gejala-gejala antara


lain dengan diuretika untuk mengobati kembung, anti depresan dan anti
ansietas untuk menghilangkan cemas dan depresi, bromokriptin untuk
menghilangkan bengkak dan nyeri pada payudara dan anti prostaglandin
untuk mengatasi nyeri payudara, nyeri sendi dan nyeri muskuloskeletal.

b.

Terapi spesifik dibuat untuk mengobati etiologi yang


diperkirakan sebagai penyebab dari PMS antara lain dengan progesteron
alamiah untuk mengatasi defisiensi progesteron dan pemberian vitamin
B6.

c.

Terapi ablasi yang bertujuan untuk mengatasi PMS dengan


cara menghentikan haid.

2.3

Karakteristik Wanita Usia Produktif

Menurut Depkes RI (1993) wanita usia produktif merupakan wanita yang


berusia 15-49 tahun dan wanita pada usia ini masih berpotensi untuk mempunyai
keturunan. Sedangkan menurut (BKKBN, 2001), wanita usia subur (wanita usia
produktif) adalah wanita yang berumur 18-49 tahun yang berstatus belum kawin,
kawin ataupun janda.
Menurut Karyadi (1999), PMS biasanya lebih mudah terjadi pada wanita yang
lebih peka terhadap perubahan hormonal dalam siklus haid. Akan tetapi ada beberapa
faktor yang meningkatkan resiko terjadinya PMS yang beberapa diantaranya adalah
berkaitan dengan karakter wanita itu sendiri. Menurut Oakley (1998), setiap individu
mempunyai karakteristik biografi yang berbeda, karakteristik tersebut dapat
mempengaruhi kondisi fisik, psikologis dan sosial seseorang.
Karakteristik wanita usia produktif yang berhubungan dengan premenstrual
syndrome (PMS) antara lain: umur, pendidikan, pendapatan, pekerjaan, jenis kelamin
dan status perkawinan.
2.3.1

Umur
Premenstrual syndrome (PMS) dapat dihubungkan dengan siklus ovulasi,

karena itu gejala-gejala PMS dapat terjadi kapan saja setelah menarche dan berlanjut
hingga ovulasi berhenti pada saat menopause. Sebagian besar pasien yang mencari
pengobatan untuk PMS berusia antara pertengahan 20-an sampai dengan akhir 30-an,
meskipun banyak wanita melaporkan mengalami gejala-gejala PMS
(Freeman, 2007).

lebih awal

Faktor resiko yang paling berhubungan dengan PMS adalah faktor


peningkatan umur, penelitian menemukan bahwa sebagian besar wanita yang mencari
pengobatan PMS adalah mereka yang berusia lebih dari 30 tahun (Cornforth, 2000).
Walaupun ada fakta yang mengungkapkan bahwa sebagian remaja mengalami gejalagelaja yang sama dan kekuatan PMS yang sama sebagaimana yang dialami oleh
wanita yang lebih tua (Freeman, 2007).
Sedangkan dalam suatu penelitian pada tahun 1994 yang melibatkan 874
wanita di Virginia menggambarkan bahwa wanita yang berusia antara 35-44 tahun
lebih jarang menderita PMS jika dibandingkan dengan wanita yang lebih muda
(Deuster, 1999).
Menurut teori perkembangan psikososial Erikson, dikuitip dari Whalley &
Wongs (1999), tahap perkembangan manusia menurut umur dibagi dalam delapan
tahapan. Tiga diantaranya yang berkaitan dengan penelitian ini yaitu :
a.

Adolescence/remaja (13-20 tahun)


Pada masa ini hubungan sosial utama bagi anak sudah beralih pada
kelompok sebaya dan kelompok luar yang se-ide dengannya.

b.

Early adult hood/dewasa awal (21-35 tahun)


Pada masa dewasa awal ini, hubungan sosial utama seseorang sudah
terfokus pada patner dalam hubungan teman dan seks.

c.

Young and middle adult hood/dewasa pertengahan (36-45


tahun)

Pada masa dewasa pertengahan, hubungan sosial seseorang terfokus pada


pembagian tugas antara bekerja dengan rumah tangga dan pada masa ini
emosi sudah mulai stabil.

2.3.2.

Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan

kemampuan di dalam dan di luar sekolah yang berlangsung seumur hidup


(Notoatmodjo, 1997).
Orang dengan pendidikan formal yang lebih tinggi cenderung akan
mempunyai pengetahuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang
mempunyai tingkat pendidikan formal yang lebih rendah, karena akan lebih mampu
dan mudah memahami arti dan pentingnya kesehatan dan gangguan-gangguan
kesehatan yang mungkin terjadi. Pengetahuan akan mempengaruhi pola fikir
seseorang, selain itu kemampuan kognitif membentuk cara fikir seseorang, meliputi
kemampuan untuk mengerti faktor-faktor yang berpengaruh dalam kondisi sakit dan
untuk menerapkan pengetahuan tentang sehat dan sakit dalam praktek kesehatan
personal (Muhiman, 1996).
Menurut suatu penelitian terdapat perbedaan yang mencolok dimana wanita
yang tidak menamatkan pendidikan menengah lebih sering melaporkan adanya gejala
premenstrual syndrome (PMS) dari pada mereka yang berpendidikan menengah dan

perguruan tinggi atau mereka yang telah menamatkan perguruan tinggi (Deuster,
1999).
Menurut Undang-undang Nomor 20 tahun 2003, yaitu tentang Sistem
Pendidikan Nasional, dijelaskan bahwa Pendidikan Nasional terbagi atas tiga tingkat
pendidikan

formal

yaitu

pendidikan

dasar

(SD/Madrasah Ibtidaiyah

serta

SMP/Madrasah Tsanawiyah), pendidikan menengah (SMU/Madrasah Aliyah dan


sederajat) serta pendidikan tinggi (Akademi dan Perguruan tinggi) (Sekneg RI, 2003).
2.3.3

Pendapatan
Kemiskinan dan kesehatan mempunyai hubungan yang berarti. Pendapatan

wanita yang sedikit membuat status kesehatan rendah dan mempunyai kesulitan yang
lebih besar untuk mengakses pelayanan kesehatan dibandingkan dengan wanita yang
berpendapatan tinggi (Youngkin & Davis, 1998).
Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa ada hubungan yang erat antara
pengaruh kejiwaan dengan status ekonomi seseorang. Penghasilan keluarga
merupakan suatu potensi yang sangat baik dalam memperoleh informasi kesehatan
(Oakley, 1998).
Seseorang yang berasal dari keluarga dengan penghasilan tinggi cenderung
lebih mudah dalam memperoleh pelayanan dan informasi tentang kesehatan
dibandingkan dengan orang yang berasal dari keluarga dengan penghasilan rendah
(Azwar, 1996).

Pemerintah Aceh melalui Peraturan gubernur (Pergub) No.67/2007,


menetapkan UMP sebesar Rp1 juta dari sebelumnya Rp850 per bulan, terhitung
berlaku sejak 1 Januari 2008 (Anonymous, 2008)

2.3.4

Pekerjaan
Wanita yang bekerja mengalami berbagai stres ditempat kerja, baik stres yang

bersifat fisik karena beberapa kondisi lingkungan kerja fisik yang berada diatas nilai
ambang batas yang diperkenankan, atau juga dapat ditambah oleh adanya stres yang
bersifat non fisik (psikososial), yang dapat berpengaruh terhadap kondisi
kesehatannya (Mulyono dkk, 2001).
Zaman sekarang ini, semakin banyak wanita yang memilih untuk beraktivitas
di luar rumah. Kondisi ini akan berhubungan erat dengan semakin banyaknya stres
yang menyerang wanita. Stres ini berasal dari internal maupun eksternal diri wanita
tersebut. Stres merupakan predisposisi pada timbulnya beberapa penyakit, sehingga
diperlukan kondisi fisik dan mental yang baik untuk menghadapi dan mengatasi
serangan stres tersebut.
Stres mungkin memainkan peran penting dalam tingkat kehebatan gejala
premenstrual syndrome (PMS). Sebuah penelitian pada tahun 2002 melaporkan
bahwa bekerja diluar rumah dapat dihubungkan dengan meningkatnya resiko
premenstrual syndrome (PMS) (Anonymous, 2007).

2.3.5

Status Perkawinan
Perkawinan adalah suatu hubungan hukum sebagai pertalian sah untuk jangka

waktu selama mungkin, antara seorang pria dan seorang wanita yang telah memenuhi
syarat-syarat perkawinan (Ensiklopedi Nasional Indonesia, 1990)
Status perkawinan dan status kesehatan juga mempunyai keterkaitan. Wanita
yang telah menikah pada umumnya mempunyai angka kesakitan dan kematian yang
lebih rendah dan biasanya mempunyai kesehatan fisik dan mental yang lebih baik
daripada wanita yang tidak menikah (Burman & Margolin dalam Haijiang Wang,
2005).
Sebuah penelitian pada tahun 1994 yang berjudul Biological, Social and
Behavioral Factors Associated with Premenstrual Syndrome yang melibatkan 874
wanita di Virginia menemukan fakta bahwa mereka yang telah menikah cenderung
mempunyai resiko yang lebih kecil untuk mengalami PMS (3,7%) dari pada mereka
yang tidak menikah (12,6%) (Deuster, 1999).

2.4

Kerangka Teori

Brunner & Suddarth


Keadaan hormonal
1. Penurunan kadar progesterone
2. Peningkatan kadar estrogen
3. Peningkatan prolaktin
4. Peningkatan aktivitas beta endorphin
5. Defisiensi serotonin
6. Retensi cairan
7. Metabolisme prostaglandin abnormal
8. Gangguan aksis hipotalamik pituitary
ovarium

Simanjuntak (2005)
1. Faktor kejiwaan
2. Masalah dalam keluarga

Sindroma Premenstrual

Karyadi (1999)
karakteristik biografi
Wanita
1.
2.

Umur
Pendidika
n

3.

Pendapata
n

4.
5.

Pekerjaan
Status

BAB III
KERANGKA KONSEP PENELITIAN
3.1

Kerangka Kerja
Untuk lebih jelasnya tentang hubungan karakteristik wanita usia produktif

dengan premenstrual syndrome (PMS) dapat dilihat dari variabel independen dan
dependen yang tergambar pada skema kerangka konsep penelitian berikut ini :
Skema 3.1 Kerangka Konsep Penelitian (variable independen dan dependen)
Variabel Independen

Variabel Dependen

Umur
Pendidikan
Sindroma Premenstrual
Pendapatan
Pekerjaan
Status Perkawinan

3.2

Hipotesa Penelitian

3.2.1

Hipotesa Mayor
Ho : Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara karakteristik wanita
usia produktif dengan premenstrual syndrome (PMS) di Poli Obstetri
dan Gynekology BPK - RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.
Ha : Terdapat hubungan yang bermakna antara karakteristik wanita usia
produktif dengan premenstrual syndrome (PMS) di Poli Obstetri dan
Gynekology BPK - RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.

3.2.2

Hipotesa Minor
a.

Ho : Tidak terdapat hubungan antara umur wanita usia produktif dengan


premenstrual syndrome (PMS) di Poli Obstetri dan Gynekology
BPK - RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.
Ha : Terdapat hubungan antara umur wanita usia produktif dengan
premenstrual syndrome (PMS) di Poli Obstetri dan Gynekology
BPK - RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.
b.

Ho : Tidak terdapat hubungan antara pendidikan wanita


usia produktif dengan premenstrual syndrome (PMS) di Poli
Obstetri dan Gynekology BPK - RSUD dr. Zainoel Abidin
Banda Aceh.

Ha : Terdapat hubungan antara pendidikan wanita usia produktif


dengan premenstrual syndrome (PMS) di Poli Obstetri dan
Gynekology BPK - RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.
c. Ho : Tidak terdapat hubungan antara pendapatan wanita usia produktif
dengan premenstrual

syndrome (PMS) di Poli Obstetri dan

Gynekology BPK - RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.


Ha

: Terdapat hubungan antara pendapatan wanita usia produktif


dengan premenstrual syndrome (PMS) di Poli Obstetri dan
Gynekology BPK - RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.

d.

Ho : Tidak terdapat hubungan antara pekerjaan wanita usia


produktif dengan premenstrual

syndrome (PMS) di Poli

Obstetri dan Gynekology BPK - RSUD dr. Zainoel Abidin


Banda Aceh r.
Ha

: Terdapat hubungan antara pekerjaan wanita usia produktif


dengan premenstrual syndrome (PMS) di Poli Obstetri dan
Gynekology BPK - RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.

e.

Ho : Tidak terdapat hubungan antara status perkawinan


wanita usia produktif dengan premenstrual syndrome (PMS) di
Poli Obstetri dan BPK - Gynekology RSUD dr. Zainoel Abidin
Banda Aceh.
Ha : Terdapat hubungan antara status perkawinan wanita usia
produktif dengan premenstrual

syndrome (PMS) di Poli

Obstetri dan BPK - Gynekology BPK - RSUD dr. Zainoel


Abidin Banda Aceh.
3.3

Definisi Operasional
Tabel 3.1
Defenisi operasional

Variabel
Dependen
Sindroma
Premenstrual

Definisi operasional

Alat Ukur

Sekumpulan tanda-tanda
dan gejala sebelum haid.

Kuesioner

Variabel
Definisi Operasional
Alat Ukur
Independen
1.Umur
Usia responden ( dalam Kuesioner
tahun) pada saat dilakukan
penelitian.

Skala
Ukur
Ordinal

Skala
Ukur
Rasio

Hasil Ukur
Ada
Tidak ada

Hasil Ukur
Remaja

(13-20 tahun)
Dewasa

awal

(21-35 tahun)

Dewasa
pertengahan

(36-45 tahun)
2. Pendidikan

Jenjang pendidikan formal Kuesioner


terakhir yang pernah diikuti
oleh responden.

Ordinal

3. Pendapatan Jumlah rata-rata pendapatan Kuesioner


keluarga
dalam
sebulan
berdasarkan Upah Minimum
Regional (UMR) Nanggroe
Aceh Darussalam (NAD)
tahun 2008.

Ordinal

Rendah
(SD/MI,
SMP/MTsn)
Menengah
(SMU/MA dan
sederajat)
Tinggi
(Akademi dan
Perguruan
tinggi)
Rendah :
<Rp. 1000.000,Sedang
Rp. 1000.000,Rp. 2000.000,Tinggi
>Rp.2000.000,-

4. Pekerjaan

Kegiatan
atau
aktifitas Kuesioner
responden sehari-hari yang
menghasilkan uang.

Ordinal

Tidak
Bekerja

Bekerja

5.Status
kawin

Keadaan/status
pernikahan Kuesioner
responden saat dilakukan
penelitian.

Ordinal

Belum
Menikah

Sudah
Menikah

BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

4.1

Jenis Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif

korelatif dengan pendekatan cross sectional yaitu untuk melihat hubungan antara
karakteristik wanita usia produktif dengan premenstrual syndrome (PMS) di Poli
Obstetri dan Gynekology BPK - RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Penelitian ini
bertujuan untuk mencari ada tidaknya hubungan yang signifikan anta kedua variabel
tersebut. Menurut Arikunto (1998), dengan teknik kolerasi peneliti dapat mengetahui
hubungan variasi dalam sebuah variabel dengan variabel yang lain.
4.2.

Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 9 Juli 2008 sampai dengan 23 Juli

2008. Pengambilan data dilaksanakan di Poli Obstetri dan Gynekology BPK - RSUD
dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.
4.3

Populasi Penelitian
Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Wanita yang

telah mengalami menstruasi (wanita usia produktif) yang mengunjungi Poli Obstetri
dan Gynekology BPK - RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh, periode 9 Juli 2008
sampai dengan 23 Juli 2008.
4.4

Sampel Penelitian

4.4.1

Kriteria Sampel
Adapun kriteria sampel yang akan diteliti adalah :
a. Wanita yang telah mengalami menstruasi dan belum menopouse
b. Berada di Poli Obstetri dan Gynekology BPK - RSUD dr. Zainoel Abidin
Banda Aceh pada saat penelitian dilakukan
c. Wanita yang bisa membaca dan menulis
d. Wanita yang bersedia menjadi responden

4.4.2

Cara Pengambilan Sampel


Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Non Probalility

Sampling, yaitu dengan metoda Accidental Sampling pada wanita yang telah
mengalami menstruasi dan belum menopouse yang mengunjungi Poli Obstetri dan
Gynekology BPK - RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh, periode 9 Juli 2008
sampai dengan 23 Juli 2008.
4.5

Alat Pengumpulan Data


Instrumen atau alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini

berupa kuesioner berbentuk angket yang terdiri dari dua bagian, yaitu : bagian A,
merupakan data demografi berupa identitas responden yang meliputi kode responden,
umur, pendidikan terakhir, pekerjaan, pendapatan dan status perkawinan.
Bagian B merupakan kuesioner yang digunakan untuk mengukur tingkat
premenstrual

syndrome (PMS) pada wanita usia produktif yang terdiri dari 39

pernyataan dengan menggunakan skala Likert. Dimana terdapat dua kriteria

pertanyaan, yaitu criteria mayor untuk gejala mayor/paling sering muncul nomor
pernyataan 1 - 9, dan criteria minor untuk gejala minor/agak jarang muncul dengan
nomor pernyataan 10 - 39. Dikatakan PMS jika memiliki minimal 8 kriteria mayor
dan 4 kriteria minor.
Pengumpulan data akan dilakukan oleh dokter muda yang sedang bertugas
sedang bertugas di Poli Obstetri dan Gynekology BPK - RSUD dr. Zainoel Abidin
Banda Aceh, periode 9 Juli 2008 sampai dengan 23 Juli 2008.
4.6
4.6.1

Manajemen Data
Coding
Coding yaitu memberikan kode berupa nomor pada setiap jawaban yang diisi

oleh responden. Hal ini dilakukan untuk menghindari kesalahan atau menghindari
kesalahan dalam pengolahan dan anlisa data.
4.6.2

Editing
Editing, yaitu melakukan pengecekan terhadap hasil pengisian kuesioner yang

meliputi kelengkapan identitas dan jawaban yang diberikan responden.


4.6.3

Skoring
Scoring adalah langkah pemberian nilai atau bobot terhadap jawaban

responden sehingga dapat menghasilkan jawaban dari variable.


4.6.4

Tabulating
Tabulating, yaitu mengelompokkan data sesuai dengan katagori yang telah

dibuat untuk tiap tiap sub variable yang diukur dan selanjutnya dimasukkan kedalam
tabel distribusi frekuensi.

4.6.5

Cleaning
Cleaning, yaitu mengevaluasi kembali data untuk menghindari kesalahan

dalam data.

4.7
1.

Analisa Data
Univariat
Untuk menghitung nilai rata-rata (mean) digunakan rumus sbb:
x

Ket :

x
n

= nilai rata-rata

x = jumlah keseluruhan nilai responden


n

= jumlah sampel

Untuk menghitung standar deviasi (sd) dengan cara manual digunakan


rumus:
Sd

x x

n 1

Ket: Sd = Standar deviasi


x = Jumlah nilai dari data responden
x

= Rata-rata (mean)

n = Jumlah responden

Untuk mengetahui distribusi frekuensi masing-masing variabel


independen digunakan rumus sebagai berikut :
P

fi
x100%
n

Ket : P = persentase
fi = frekwensi teramati
n
2.

= jumlah responden

Bivariat
Untuk mengetahui hubungan karakteristik wanita usia produktif dengan

premenstrual syndrome, akan dilakukan dengan analisa silang dengan menggunakan


tabel silang yang dikenal dengan baris kali kolom dengan derajat keabsahan (df) yang
sesuai dan tingkat kemaknaan () 0,05 (95%), masing-masing variabel diuji dengan
uji statistik chi square test (X2) dikutip dari Chandra (2002) dengan rumus sbb:
x2

Ket

O e 2
e

O = frekwensi observasi
e

Total Baris x Total Kolom


Grand Total

x2 = Chi-Square Test
Bila pengolahan data menggunakan table 3x2 dijumpai 20% sel nilai e
(expended frequency) < 5, maka dilakukan marger cell (grouping) maka table

menjadi tabel contingency 2x2 , apabila dijumpai 20% sel nilai e < 5 koreksi dengan
menggunakan uji statistic Yates Correction for Continuity dengan rumus :

Pengujian hipotesa dilakukan dengan kriteria jika X 2 hitung < X2 tabel maka
hipotesa null (Ho) diterima dan sebaliknya apabila X2 hitung X2 tabel maka
hipotesa alternatiif (Ha) diterima (Chandra, 2002).

4.8

Penyajian Data
Data yang dikumpulkan disajikan dalam bentuk narasi dan tabel distribusi

frekuensi serta menggunakan tabulasi silang.

BAB V
HASIL PENELITIAN
Pengumpulan data dilakukan dari tanggal 9 Juli 2008 sampai dengan 23 Juli
2008 pada wanita usia produktif yaitu wanita yang berusia 13-45 tahun yang Berada
di Poli Obstetri dan Gynekology BPK - RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.
Jumlah responden sebagai sampel penelitian adalah 46 orang. Teknik pengumpulan
data dengan menggunakan alat ukur berbentuk kuesioner. Adapun hasil penelitian
yang didapat adalah sebagai berikut:
5.1

Hasil Analisa Univariat

.A Karakteristik wanita usia produktif


Hasil penelitian terhadap karakteristik wanita usia produktif (variabel
independen) yaitu umur, pendidikan, pendapatan, pekerjaan dan status perkawinan.
Adapun hasil penelitian adalah sebagai berikut:
1)

Umur
Distribusi frekuensi umur responden dapat dilihat pada tabel 5.1 berikut ini:
Tabel 5.1
Distribusi Frekuensi Wanita Usia Produktif Berdasarkan
Umur Di Poli Kebidanan RSUZA Tahun 2008
No

Umur

1. Remaja (13-20 tahun)


2. Dewasa awal (21-35 tahun)
3. Dewasa pertengahan (36-45
tahun)
Total
Sumber: Data Primer (Diolah, 2008)

Frekuensi
(f)
9
22
15

Persentase
(%)
19,56
47,83
32,61

46

100

Berdasarkan tabel 5.1 diatas dapat diketahui bahwa distribusi terbesar umur
responden adalah kategori dewasa awal yaitu 22 orang (47,83 %).
2)

Pendidikan
Distribusi frekuensi pendidikan responden dapat dilihat pada tabel 5.2 berikut:
Tabel 5.2
Distribusi Frekuensi Wanita Usia Produktif Berdasarkan
Pendidikan Di Poli Kebidanan RSUZA Tahun 2008
No

Pendidikan

1. Rendah (SD/MI, SMP/MTsn)


2. Menengah
(SMU/MA dan
sederajat)
3. Tinggi (Akademi dan
Perguruan tinggi)
Total
Sumber: Data Primer (Diolah, 2008)

Frekuensi
(f)
5
17

Persentase
(%)
10,87
36,96

24

52,17

46

100

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa distribusi tingkat pendidikan


responden yang paling banyak adalah kategori tinggi sebanyak 24 orang (52,17%).
3) Pendapatan
Distribusi tingkat pendapatan responden dapat dilihat pada tabel 5.3 berikut :
Tabel 5.3
Distribusi Frekuensi Wanita Usia Produktif Berdasarkan
Pendapatan Di Poli Kebidanan RSUZA Tahun 2008
No

Pendapatan

1. Rendah ( <Rp. 1.000.000,-)


2. Sedang (Rp. 1.000.000,- s.d. Rp.
2000.000,-)
3. Tinggi (>Rp.2.000.000,-)
Total
Sumber: Data Primer (Diolah, 2008)

Frekuensi
(f)
29
8

Persentase
(%)
63,04
17,39

9
46

19,57
100

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa distribusi tingkat pendapatan keluarga
responden yang paling banyak adalah kategori rendah sebanyak 29 orang (63,04%).
4) Pekerjaan
Distribusi pekerjaan responden dapat dilihat pada tabel 5.4 berikut ini:
Tabel 5.4
Distribusi Frekuensi Wanita Usia Produktif Berdasarkan
Pekerjaan Di Poli Kebidanan RSUZA Tahun 2008
No

Pekerjaan

1.
2.

Bekerja
Tidak Bekerja
Total
Sumber: Data Primer (Diolah, 2008)

Frekuensi
(f)
21
25
46

Persentase
(%)
45,65
54,35
100

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa distribusi terbesar adalah


responden yang tidak bekerja yaitu sebanyak 25 orang (54,35%).
5)

Status Perkawinan
Distribusi status perkawinan responden dapat dilihat pada tabel 5.5 berikut :
Tabel 5.5
Distribusi Frekuensi Wanita Usia Produktif Berdasarkan
Status Perkawinan Di Poli Kebidanan RSUZA Tahun 2008
No

Status Kawin

1.
2.

Kawin
Belum Kawin
Total
Sumber: Data Primer (Diolah, 2008)

Frekuensi
(f)
25
21
46

Persentase
(%)
54,35
45,65
100

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa distribusi terbesar adalah


responden yang kawin yaitu 25 orang (54,35%).

.B Premenstrual Syndrome (PMS)


Hasil penelitian terhadap variabel dependen yaitu Premenstrual Syndrome
(PMS), didapatkan 17 orang dari 46 responden memiliki kriteria mayor premenstrual
syndrome 8 dan kriteria minor 4. Sedangkan 29 responden lainnya tidak memiliki
kriteria mayor 8 sehingga digolongkan ke dalam tidak menderita PMS. Adapun
distribusi frekuensinya dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 5.6
Distribusi Frekuensi Wanita Usia Produktif Berdasarkan
Tingkat Premenstrual Syndrome (PMS) Di Poli Kebidanan RSUZA
Tahun 2008
No Premenstrual Syndrome(PMS)
1.
2.

Ada
Tidak

Total
Sumber: Data Primer (Diolah, 2008)

Frekuensi (f)
17
29
46

Persentase
(%)
36,96
63,04
100

5.2. Hasil Analisa Bivariat


Setelah data diolah dan dikelompokkan berdasarkan kategori seperti diatas,
selanjutnya data dianalisa untuk melihat hubungan karakteristik wanita usia produktif
dengan Premenstrual Syndrome (PMS) di poli kebidanan RSUZA Banda Aceh.
Adapun analisa statistik yang digunakan adalah chi-square test (x) yaitu:
a. Hubungan antara umur wanita usia produktif dengan Premenstrual Syndrome
(PMS).

Untuk mengetahui hubungan antara umur wanita usia produktif dengan


Premenstrual Syndrome (PMS) di poli kebidanan RSUZA Banda Aceh, dapat
dilihat pada tabel 5.7 berikut ini:
Tabel 5.7
Distribusi Premenstrual Syndrome (PMS) Berdasarkan
Umur Di poli kebidanan RSUZA Banda Aceh

No

Umur

1
2
3

Remaja
Dewasa awal
Dewasa
pertengahan
Total

Premenstrual Syndrome
Ada
Tidak ada
n
%
n
%
5
55,56 4
44,44
6
27,27 16
72,73
6
40,00 9
60,00

n
9
22
15

17

46

29

Total
%
100
100
100

X2
Hitung

2,275

Sumber: Data Primer (Diolah, 2008)


Berdasarkan perhitungan chi-square test (x) (lampiran), diperoleh
nilai x hitung adalah 2,275. Selanjutnya dilakukan pengujian hipotesa
dimana x tabel dengan = 0,05 dan df = 2 adalah 5,991 (lampiran).
Perbandingan antara kedua nilai x tersebut, diperoleh hasil x hitung
(2,275) < x tabel (5,991). Sehingga dapat diketahui bahwa hipotesa kerja
(Ha) ditolak yang berarti tidak ada hubungan bermakna antara umur
wanita usia produktif dengan Premenstrual Syndrome (PMS) di poli
kebidanan RSUZA Banda Aceh.
b. Hubungan antara pendidikan wanita usia produktif dengan Premenstrual
Syndrome (PMS).

Untuk mengetahui hubungan antara pendidikan wanita usia


produktif dengan Premenstrual Syndrome (PMS) di poli kebidanan
RSUZA Banda Aceh, dapat dilihat pada tabel 5.8 berikut ini:
Tabel 5.8
Distribusi Premenstrual Syndrome (PMS) dengan Pendidikan
Di poli kebidanan RSUZA Banda Aceh
No

Umur

1
2
3

Rendah
Menengah
Tinggi
Total

Premenstrual Syndrome
Ada
Tidak ada
n
%
n
%
3
60,00
2
40,00
5
29,41
12
70,59
9
37,50
15
62,50
17
29

Total
n
5
17
24
46

X2
Hitung

%
100
100
1,552
100

Sumber: Data Primer (Diolah, 2008)


Berdasarkan perhitungan chi-square test (x) (lampiran),
diperoleh nilai x hitung adalah 1,552. Selanjutnya dilakukan pengujian
hipotesa dimana x tabel dengan = 0,05 dan df = 2 adalah 5,991
(lampiran). Perbandingan antara kedua nilai x tersebut, diperoleh hasil x
hitung (1,552) < x tabel (5,991). Sehingga dapat diketahui bahwa hipotesa
kerja (Ha) ditolak yang berarti tidak ada hubungan bermakna antara
pendidikan wanita usia produktif dengan Premenstrual Syndrome (PMS)
di poli kebidanan RSUZA Banda Aceh.
c. Hubungan antara pendapatan wanita usia produktif dengan Premenstrual
Syndrome (PMS).

Untuk mengetahui hubungan antara pendapatan wanita usia


produktif dengan Premenstrual Syndrome (PMS) di poli kebidanan
RSUZA Banda Aceh, dapat dilihat pada tabel 5.9 berikut ini:
Tabel 5.9
Distribusi Premenstrual Syndrome (PMS) dengan Pendapatan
Di poli kebidanan RSUZA Banda Aceh
No
1
2
3

Umur
Rendah
Sedang
Tinggi
Total

Premenstrual Syndrome
Ada
Tidak ada
n
%
n
%
10
34,48
19
65,52
4
50,00
4
50,00
3
33,33
6
66,67
17
29

Total
n
29
8
9
46

%
100
100
100

X2
Hitung

0,720

Sumber: Data Primer (Diolah, 2008)


Berdasarkan perhitungan chi-square test (x) (lampiran), diperoleh
nilai x hitung adalah 0,720. Selanjutnya dilakukan pengujian hipotesa
dimana x tabel dengan = 0,05 dan df = 2 adalah 5,991 (lampiran 15).
Perbandingan antara kedua nilai x tersebut, diperoleh hasil x hitung
(0,720) < x tabel (5,991). Sehingga dapat diketahui bahwa hipotesa kerja
(Ha) ditolak yang berarti tidak ada hubungan bermakna antara pendapatan
wanita usia produktif dengan Premenstrual Syndrome (PMS) di poli
kebidanan RSUZA Banda Aceh.
d. Hubungan antara pekerjaan wanita usia produktif dengan Premenstrual
Syndrome (PMS).

Untuk mengetahui hubungan antara pekerjaan wanita usia


produktif dengan Premenstrual Syndrome (PMS) di poli kebidanan
RSUZA Banda Aceh, dapat dilihat pada tabel 5.10 berikut ini:
Tabel 5.10
Distribusi Premenstrual Syndrome (PMS) dengan Pekerjaan
Di poli kebidanan RSUZA Banda Aceh
No
1
2

Umur
Bekerja
Tidak bekerja
Total

Premenstrual Syndrome
Ada
Tidak ada
n
%
n
%
7
33,33
14
66,67
10
40,00
15
60,00
17
29

Total
n
21
25
46

%
100
100

X2
Hitung
0,217

Sumber: Data Primer (Diolah, 2008)


Berdasarkan perhitungan chi-square test (x) (lampiran), diperoleh
nilai x hitung adalah 0,217. Selanjutnya dilakukan pengujian hipotesa
dimana x tabel dengan = 0,05 dan df = 2 adalah 5,991 (lampiran 15).
Perbandingan antara kedua nilai x tersebut, diperoleh hasil x hitung
(0,217) < x tabel (5,991). Sehingga dapat diketahui bahwa hipotesa kerja
(Ha) ditolak yang berarti tidak ada hubungan bermakna antara pekerjaan
wanita usia produktif dengan Premenstrual Syndrome (PMS) di poli
kebidanan RSUZA Banda Aceh.
e. Hubungan antara status perkawinan wanita usia produktif dengan
Premenstrual Syndrome (PMS).
Untuk mengetahui hubungan antara status perkawinan wanita usia
produktif dengan Premenstrual Syndrome (PMS) di poli kebidanan
RSUZA Banda Aceh, dapat dilihat pada tabel 5.11 berikut ini:

Tabel 5.11
Distribusi Premenstrual Syndrome (PMS) dengan Status Perkawinan
Di poli kebidanan RSUZA Banda Aceh
No
1
2

Umur
Kawin
Belum kawin
Total

Premenstrual Syndrome
Ada
Tidak ada
n
%
n
%
6
24,00
19
76,00
9
42,86
10
57,14
17
29

X2
Hitung

Total
n
%
25
100
21
100 0,217
46

Sumber: Data Primer (Diolah, 2008


Berdasarkan perhitungan chi-square test (x) (lampiran 14),
diperoleh nilai x hitung adalah 2,116 selanjutnya dilakukan pengujian
hipotesa dimana x tabel dengan = 0,05 dan df = 2 adalah 5,991
(lampiran 15). Perbandingan antara kedua nilai x tersebut, diperoleh hasil
x hitung (2,116) < x tabel (5,991). Sehingga dapat diketahui bahwa
hipotesa kerja (Ha) ditolak yang berarti tidak ada hubungan bermakna
antara status perkawinan wanita usia produktif dengan Premenstrual
Syndrome (PMS) di poli kebidanan RSUZA Banda Aceh.

BAB VI
PEMBAHASAN
6.1

Hasil Analisa Univariat


a.

Gambaran umur wanita usia produktif di poli kebidanan RSUZA


Banda Aceh.
Berdasarkan hasil penelitian yang terlihat pada tabel 5.1 maka
distribusi umur responden yang termasuk kategori remaja (13 - 20 tahun)
adalah 9 orang (19,56%), dewasa muda (21-35 tahun) sebanyak 22 orang
(47,83 %) dan dewasa pertengahan (> 35 tahun) sebanyak 15 orang
(32,61).
Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar wanita usia produktif
di poli kebidanan RSUZA Banda Aceh adalah berusia dewasa muda.
Secara teoritis dikatakan bahwa pada usia dewasa awal ini merupakan
masa pengaturan, masa usia produktif, masa bermasalah, masa ketegangan
emosional, masa keterasingan sosial, masa ketergantungan, masa
perubahan nilai dan masa penyesuaian diri dengan cara hidup kreatif
(Widayatun, 1999).

b.

Gambaran tingkat pendidikan wanita usia produktif di poli kebidanan


RSUZA Banda Aceh.
Berdasarkan hasil penelitian yang terlihat pada tabel 5.2,
pendidikan wanita usia produktif di poli kebidanan RSUZA Banda Aceh,

responden yang berpendidikan rendah adalah 5 orang (10,87%),


berpendidikan sedang 17 orang (36,96%) dan berpendidikan tinggi yaitu
24 orang (52,17). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar wanita usia
produktif di poli kebidanan RSUZA Banda Aceh sudah berpendidikan
tinggi.
Pendidikan merupakan upaya manusia secara sadar yang tujuannya
bersifat ganda yaitu mengembangkan kepribadian dan kemampuan
manusia dimana semakin tinggi pendidikan seseorang diharapkan semakin
baik perkembangan dan kemampuannya (Kamars, 1998).
Pendidikan seseorang akan menentukan caranya untuk mengerti
masalah kesehatan. Nilai-nilai kepercayaan individu terhadap kesehatan
dibentuk oleh variabel intelektual yang terdiri dari pengetahuan, latar
belakang pendidikan dan pengalaman masa lalu (Potter & Perry, 1997).
Orang dengan pendidikan formal yang rendah cenderung akan
mempunyai pengetahuan yang lebih rendah dibandingkan dengan orang
yang mempunyai tingkat pendidikan formal yang lebih tinggi, karena
akan sulit memahami arti dan pentingnya kesehatan dan gangguangangguan

kesehatan

yang

mungkin

terjadi.

Pengetahuan

akan

mempengaruhi pola fikir seseorang, selain itu kemampuan kognitif


membentuk cara fikir seseorang, meliputi kemampuan untuk mengerti
faktor-faktor yang berpengaruh dalam kondisi sakit dan untuk menerapkan

pengetahuan tentang sehat dan sakit dalam praktek kesehatan personal


(Muhiman, 1996).
c.

Gambaran pendapatan wanita usia produktif di poli kebidanan RSUZA


Banda Aceh.
Berdasarkan hasil penelitian yang terlihat pada tabel 5.3,
pendapatan keluarga wanita usia produktif di poli kebidanan RSUZA
Banda Aceh adalah 39 responden (63,04%) mempunyai pendapatan yang
rendah, 8 responden (17,39 %) mempunyai pendapatan yang sedang dan
sebanyak 9 orang (19,57%) berpendapatan tinggi. Ini memberi gambaran
bahwa tingkat sosial ekonomi masyarakat yang datang ke poli kebidanan
RSUZA Banda Aceh termasuk dalam katagori rendah secara umum.
Tingkat perekonomian adalah perolehan yang diterima oleh orang
tua selama satu bulan yang berasal dari berbagai sumber dibagi dengan
jumlah anggota yang ditanggung. Tingkat soial ekonomi atau tingkat
penghasilan keluarga akan mempengaruhi gaya hidup seseorang dan cara
memperoleh pelayanan kesehatan bila ada anggota keluarga yang sakit,
semakin baik kondisi sosial ekonomi, maka akan meningkat status
kesehatan masyarakat (Green, 1990).
Teori yang lain menyebutkan, apabila seseorang dengan kondisi
sosial ekonomi yang semakin baik, maka ia akan cenderung membutuhkan
pelayanan kesehatan yang tinggi. Dimana wanita dengan sosial ekonomi
yang semakin baik, akan mampu menerima dan menjaring informasi yang

lebih bila dibandingkan dengan seseorang yang kondisi ekonominya buruk


(Depkes, 1996).
d.

Gambaran pekerjaan wanita usia produktif di poli kebidanan RSUZA


Banda Aceh.
Berdasarkan hasil penelitian yang terlihat pada tabel 5.4, wanita
usia produktif di poli kebidanan RSUZA Banda Aceh, wanita yang bekerja
sebanyak 21 orang (45,65%) dan wanita yang tidak bekerja 25 responden
(54,35 %) dan hal ini memberi gambaran bahwa sebagian besar wanita
usia produktif yang datang ke poli kebidanan RSUZA Banda Aceh tidak
bekerja.
Pekerjaan

adalah

kegiatan

yang

direncanakan,

pekerjaan

memerlukan pemikiran yang khusus, yang dilaksanakan tidak hanya


karena pelaksanaan kegiatan itu sendiri menyenangkan, melainkan karena
keinginan yang sungguh-sungguh untuk mencapai suatu hasil. Kegiatan
itu dapat berupa pemakaian tenaga jasmani maupun rohani (Pandji, 1992).
Dalam sebuah penelitian di Inggris, para pakar meneliti 1.200
wanita antara usia 15 dan 54 tahun dan menulis hasilnya di Jurnal
Epidemiologi dan Kesehatan Masyarakat, menunjukkan bahwa ibu rumah
tangga yang memiliki pekerjaan dan dalam pernikahan yang stabil
tergolong wanita tersehat, sementara ibu rumah tangga yang tinggal di
rumah berpeluang lebih besar menderita kegemukan sehingga status
kesehatannya juga rendah (Anonymous, 2007).

e.

Gambaran status perkawinan wanita usia produktif di poli kebidanan


RSUZA Banda Aceh.
Berdasarkan hasil penelitian yang terlihat pada tabel 5.5, wanita
usia produktif di poli kebidanan RSUZA Banda Aceh yang telah menikah
adalah sebanyak 25 responden (54,35%) dan responden yan belum
menikah adalah 21 orang (45,65 %). Hal ini menunjukkan bahwa jumlah
wanita yang belum menikah lebih besar dari mereka yang menikah.
Perkawinan adalah suatu hubungan hukum sebagai pertalian sah
untuk jangka waktu selama mungkin, antara seorang pria dan seorang
wanita yang telah memenuhi syarat-syarat perkawinan (Ensiklopedi
Nasional Indonesia, 1990).
Status perkawinan dan status kesehatan juga mempunyai
keterkaitan. Wanita yang telah menikah pada umumnya mempunyai angka
kesakitan dan kematian yang lebih rendah dan biasanya mempunyai
kesehatan fisik dan mental yang lebih baik daripada wanita yang tidak
menikah (Burman & Margolin dalam Haijiang Wang, 2005).

f.

Gambaran tingkat premenstrual syndrome (PMS)


Berdasarkan hasil penelitian yang terdapat pada tabel 5.6
premenstrual syndrome (PMS) sebanyak 17 responden (36,96%) dan non
premenstrual syndrome (PMS) dialami oleh 29 responden (63,04%).
Sehingga didapat gambaran bahwa premenstrual syndrome (PMS) lebih
sedikit dari non premenstrual syndrome.

Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi tingkat gejala PMS


yang dialami oleh responden, hal ini dapat dihubungkan dengan pekerjaan
responden. Selain itu, apabila dilihat dari faktor pendidikan responden
juga dapat dihubungkan dengan gejala. Hal ini dapat berpengaruh karena
tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi pola fikir dan
pengetahuan seseorang tentang kesehatan, wanita yang berpendidikan
rendah kurang memahami gejala-gejala yang mungkin terjadi sebelum
haid sehingga mereka cenderung mengeluh dengan gejala PMS yang
dirasakan.
6.2. Hasil Analisa Bivariat
a.

Hubungan antara umur wanita usia produktif


dengan premenstrual syndrome (PMS) di poli kebidanan RSUZA Banda
Aceh.
Berdasarkan hasil analisa diperoleh nilai x hitung adalah 2,275
selanjutnya dilakukan pengujian hipotesa dimana x tabel dengan =
0,05 dan df = 2 adalah 5,991. Perbandingan antara kedua nilai x
tersebut diperoleh dari hasil x hitung 2,275 < x tabel 5,991. Sehingga
dapat diketahui bahwa hipotesa kerja (Ha) ditolak yang berarti tidak ada
hubungan bermakna antara umur wanita usia produktif dengan
premenstrual syndrome (PMS) di poli kebidanan RSUZA Banda Aceh.
Hal ini menunjukkan bahwa umur bukan merupakan faktor yang
sangat

mempengaruhi

terhadap

premenstrual

syndrome

(PMS),

meskipun dalam teorinya Cornforth (2000), mengatakan bahwa faktor


resiko yang paling berhubungan dengan PMS adalah faktor peningkatan
umur dan sebagian besar wanita yang mencari pengobatan PMS adalah
mereka yang berusia lebih dari 30 tahun.
Oakley (1998), juga mengatakan bahwa tingkat usia seseorang
berpengaruh terhadap respon kesehatan, motivasi dan psikologi serta
depresi, rata-rata orang yang lebih tua akan mengalami lebih banyak
depresi dan tekanan psikologi dibandingkan dengan yang muda. Namun,
pada usia tua gangguan ini lebih cepat pulih dibandingkan dengan usia
muda karena memiliki harapan dan kematangan mental yang lebih baik.
Dari teori diatas peneliti dapat berasumsi bahwa seiring dengan
peningkatan usia, resiko gangguan kesehatan juga semakin tinggi, akan
tetapi pada kejadian PMS tidak terlalu berpengaruh karena pada usia
dewasa telah terjadi kematangan perkembangan emosional, dimana
perkembangan emosional ini akan sangat berpengaruh terhadap respon
serta tindakan seseorang terhadap status kesehatan. Hal tersebut
didukung oleh teori yang dikatakan oleh Freeman (2007), dimana
banyak wanita melaporkan mengalami gejala-gejala PMS lebih awal
dan ada fakta yang mengungkapkan bahwa sebagian remaja mengalami
gejala-gelaja yang sama dan kekuatan PMS yang sama sebagaimana
yang dialami oleh wanita yang lebih tua.

Jadi, terdapat perbedaan antara teori dan hasil penelitian, yaitu


faktor umur tidak berhubungan dengan PMS, hal ini juga mungkin
disebabkan karena wanita pada usia remaja yang baru mengalami
menstruasi masih terfokus pada gejala-gejala yang mereka alami
sebelum menstruasi, sementara pada usia dewasa tidak terlalu
dihiraukan karena fikiran mereka telah terpecah kepada hal-hal lainnya
dan pada usia remaja biasanya wanita belum dapat menggunakan
mekanisme koping yang baik untuk mengatasi stres yang memperberat
gejala-gejala PMS tersebut.
b.

Hubungan antara pendidikan wanita usia


produktif dengan premenstrual syndrome (PMS) di poli kebidanan
RSUZA Banda Aceh.
Berdasarkan hasil analisa diperoleh nilai x hitung adalah
1,552 selanjutnya dilakukan pengujian hipotesa dimana x tabel dengan
= 0,05 dan df = 2 adalah 5,991. Perbandingan antara kedua nilai x
tersebut diperoleh dari hasil x hitung 1,552 < x tabel 5,991. Sehingga
dapat diketahui bahwa hipotesa kerja (Ha) ditolak yang berarti tidak ada
hubungan bermakna antara pendidikan wanita usia produktif dengan
premenstrual syndrome (PMS) di poli kebidanan RSUZA Banda Aceh.
Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan bukan merupakan faktor
yang berpengaruh terhadap PMS, meskipun dalam teorinya Suryono
(1998), mengatakan bahwa latar belakang pendidikan dan pengalaman

mempengaruhi seseorang dalam berfikir dan bertindak. Semakin tinggi


tingkat pendidikan dan pengalaman maka semakin tinggi pula motivasi
untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan karena telah memiliki
pengetahuan dan wawasan yang lebih.
Hal ini menunjukkan bahwa pada PMS faktor pendidikan tidak
mempunyai pengaruh yang berarti, disebabkan karena penelitian yang
dilakukan mengambil kategori pendidikan dalam bentuk formalitas,
dimana tidak semua pendidikan dilembaga formal mengajarkan tentang
kesehatan, sehingga peneliti berasumsi bahwa orang yang berpendidikan
tinggi belum tentu mempunyai pengetahuan yang tinggi tentang
kesehatan dan bagaimana gaya hidup yang sehat serta cara menjaga
kesehatan yang optimal, khususnya tentang cara-cara pencegahan PMS.
c.

Hubungan antara pendapatan wanita usia


produktif dengan premenstrual syndrome (PMS) di poli kebidanan
RSUZA Banda Aceh.
Berdasarkan hasil analisa diperoleh nilai x hitung adalah 0,720
selanjutnya dilakukan pengujian hipotesa dimana x tabel dengan =
0,05 dan df = 2 adalah 5,991. Perbandingan antara kedua nilai x
tersebut diperoleh dari hasil x hitung 0,720 < x tabel 5,991. Sehingga
dapat diketahui bahwa hipotesa kerja (Ha) ditolak yang berarti tidak ada
hubungan bermakna antara pendapatan wanita usia produktif dengan
premenstrual syndrome (PMS) di poli kebidanan RSUZA Banda Aceh.

Seseorang yang berasal dari keluarga dengan penghasilan tinggi


cenderung lebih mudah dalam memperoleh pelayanan dan informasi
tentang kesehatan dibandingkan dengan orang yang berasal

dari

keluarga dengan penghasilan rendah (Azwar, 1996).


Teori lain juga menyebutkan bahwa kemiskinan dan kesehatan
mempunyai hubungan yang berarti. Pendapatan wanita yang sedikit
membuat status kesehatan rendah dan mempunyai kesulitan yang lebih
besar untuk mengakses pelayanan kesehatan dibandingkan dengan
wanita yang berpendapatan tinggi (Youngkin & Davis, 1998).
Meskipun pendapatan keluarga yang tinggi memungkinkan
untuk dapat terpenuhinya kebutuhan gizi dan yang dapat menunjang
tercapainya kesehatan yang optimal. Namun, seiring dengan bertambah
tingginya

harga

kebutuhan

hidup

sehari-hari

tidak

menutup

kemungkinan keluarga yang mempunyai pendapatan yang tinggi juga


akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan gizi mereka dan hal ini akan
semakin sulit apabila jumlah anggota keluarga banyak, sehingga wanita
dari

keluarga

yang

berpenghasilan

tinggi

juga

mempunyai

kecenderungan untuk mengalami PMS. Selain itu, apabila dihubungkan


degan segi pendidikan dapat dilihat bahwa 2/3 dari responden yang
berpendapatan tinggi tetapi mempunyai tingkat pendidikan yang rendah.
Dimana hal ini juga dapat mengakibatkan kurangnya pengetahuan dan
kesadaran responden terhadap kesehatan pribadi, khususnya PMS.

Jadi secara umum dapat disimpulkan bahwa faktor pendapatan


keluarga tidak berpengaruh terhadap premenstrual syndrome (PMS) di
poli kebidanan RSUZA Banda Aceh.
d.

Hubungan antara pekerjaan wanita usia


produktif dengan premenstrual syndrome (PMS) di poli kebidanan
RSUZA Banda Aceh.
Berdasarkan hasil analisa diperoleh nilai x hitung adalah 0,217
selanjutnya dilakukan pengujian hipotesa dimana x tabel dengan =
0,05 dan df = 2 adalah 5,991. Perbandingan antara kedua nilai x
tersebut diperoleh dari hasil x hitung 0,217 < x tabel 5,991. Sehingga
dapat diketahui bahwa hipotesa kerja (Ha) ditolak yang berarti tidak ada
hubungan bermakna antara pekerjaan wanita usia produktif dengan
premenstrual syndrome (PMS) di poli kebidanan RSUZA Banda Aceh.
Pekerjaan adalah kegiatan yang direncanakan. Jadi pekerjaan itu
memerlukan pemikiran yang khusus, yang dilaksanakan tidak hanya
karena pelaksanaan kegiatan itu sendiri. Bagi perempuan, bekerja
merupakan salah satu cara untuk menunjukkan eksistensi di ditengah
masyarakat (Pandji, 1992).
Pembagian kerja bahwa kerja domestik (rumah tangga) adalah
tanggung jawab perempuan, sementara keja diruang publik (kerja diluar
rumah tangga) adalah tugas laki-laki masih menjadi norma yang umum.
Meskipun sebagian besar perempuan juga ikut melakukan kerja diluar

urusan rumah tangga untuk menambah penghasilan keluarga, akan tetapi


perempuan tetap menanggung semua kerja domestik (Fadilah, 2004).
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan terhadap 2000 wanita
Inggris oleh Dr Anne McMunn dari University College London,
menemukan hasil bahwa mereka yang memiliki sejumlah peran, seperti
sebagai wanita karir dan ibu rumah tangga, atau menjadi single parent
sambil bekerja cenderung memiliki kondisi kesehatan yang jauh lebih
baik dibanding mereka yang melulu hanya sebagai ibu rumah tangga
(Anonymous, 2008).
Perempuan yang menjadi ibu rumah tangga seumur hidupnya
dan tidak pernah memiliki karir, cenderung mengatakan kesehatan
mereka buruk. Ibu rumah tangga diketahui cenderung lebih mudah
mengalami kenaikan berat badan dan kecepatan obesitas yang paling
tinggi yaitu 38%, sedangkan wanita yang bekerja sekaligus berperan
sebagai istri maupun ibu rumah tangga ternyata memiliki tingkat
obesitas yang paling rendah. Dalam penelitian Deuster (1999), berat
badan juga berpengaruh terhadap PMS dimana wanita yang mempunyai
Indeks Massa Tubuh (IMT) diatas 27 megalami gejala PMS yang lebih
berat (12%) daripada wanita yang memiliki IMT dibawah 27 yaitu 5,9%.
Teori lain juga menyebutkan bahwa menjadi wanita karier sekaligus ibu
rumah tangga ternyata memiliki tingkat stres yang rendah dibandingkan
wanita yang tidak bekerja (Anonimous, 2008).

Sehingga dapat disimpulkan bahwa wanita yang tidak bekerja


atau tidak bekerja tidak berpengaruh terhadap terjadinya PMS. Adanya
PMS ga selain disebabkan oleh faktor IMT, kemungkinan juga
disebabkan oleh keadaan psikologis dimana wanita yang bekerja
cenderung memiliki kepuasan tersendiri dan perasaan yang lebih tenang
karena mereka bisa menunjjukkan eksistensi ditengah masyarakat,
sedangkan wanita yang hanya berperan sebagai ibu rumah tangga sering
mengalami stres yang diakibatkan oleh kejenuhan mereka terhadap
aktivitas yang monoton.
e.

Hubungan antara status perkawinan wanita


usia produktif dengan premenstrual syndrome (PMS) di poli kebidanan
RSUZA Banda Aceh.
Berdasarkan hasil analisa diperoleh nilai x hitung adalah 2,116
selanjutnya dilakukan pengujian hipotesa dimana x tabel dengan =
0,05 dan df = 2 adalah 5,991. Perbandingan antara kedua nilai x
tersebut diperoleh dari hasil x hitung 2,116 < x tabel 5,991. Sehingga
dapat diketahui bahwa hipotesa kerja (Ha) ditolak yang berarti tidak ada
hubungan bermakna antara status perkawinan wanita usia produktif
dengan premenstrual syndrome (PMS) di poli kebidanan RSUZA Banda
Aceh.
Sebuah penelitian menemukan fakta bahwa mereka yang telah
menikah cenderung mempunyai resiko yang lebih kecil untuk

mengalami PMS (Deuster, 1999). Sedangkan penelitian Julianne HoltLunstad dari Young University Amerika Serikat (AS) mengungkap,
bahwa pernikahan yang harmonis berperan besar dalam menjaga
kesehatan seseorang (Nurfahmi, 2008).
Jadi dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh status
perkawinan terhadap premenstrual syndrome (PMS). Meskipun dalam
teori disebutkan bahwa status perkawinan dan status kesehatan juga
mempunyai keterkaitan, namun hal itu nampaknya tidak terlalu
berpengaruh terhadap premenstrual syndrome (PMS), disebabkan karena
terdapat banyak faktor lain yang mempengaruhi keharmonisan
pernikahan. Dimana wanita yang menikah juga rentan mengalami stres
berkaitan rumah tangga seperti merasa tertekan hidup bersama mertua,
hidup diikuti saudara, finansial yang kurang, tidak memiliki keturunan
dan tindak kekerasan dari suami.

BAB VII
PENUTUP

7.1

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang diuraikan pada BAB V
dan VII maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden dalam kategori berumur
dewasa awal yaitu sebanyak 22 orang (47,83 %), pendidikan responden
sebagian besar adalah perguruan tinggi/sederajat (tinggi) sebanyak 24 orang
(52,17%), pendapatan responden dalam kategori rendah sebanyak 29 orang
(63,04 %), tidak bekerja yaitu sebanyak 25 orang (54,35%) dan responden
dalam kategori kawin yaitu 25 orang (54,35%).
2. Premenstrual Syndrome (PMS) terdapat pada sebanyak 17 orang (36,96%)
dan nonpremenstrual syndrome terdapat pada 29 orang (63,04%).
3. Dari hasil uji statistik yang dilakukan untuk mengetahui hubungan antara
umur wanita usia produktif dengan Premenstrual Syndrome (PMS) diperoleh
hasil x hitung (2,275) < x tabel (5,991). Sehingga dapat diketahui bahwa
hipotesa kerja (Ha) ditolak yang berarti tidak ada hubungan bermakna antara
umur wanita usia produktif dengan Premenstrual Syndrome (PMS) di poli
kebidanan RSUZA Banda Aceh.

4. Dari hasil uji statistik yang dilakukan untuk mengetahui hubungan antara
pendidikan wanita usia produktif dengan Premenstrual Syndrome (PMS)
diperoleh hasil x hitung (1,552) < x tabel (5,991). Sehingga dapat diketahui
bahwa hipotesa kerja (Ha) ditolak yang berarti tidak ada hubungan bermakna
antara pendidikan wanita usia produktif dengan Premenstrual Syndrome
(PMS) di poli kebidanan RSUZA Banda Aceh.
5. Dari hasil uji statistik yang dilakukan untuk mengetahui hubungan antara
pendapatan wanita usia produktif dengan Premenstrual Syndrome (PMS)
diperoleh hasil x hitung (0,720) < x tabel (5,991). Sehingga dapat diketahui
bahwa hipotesa kerja (Ha) ditolak yang berarti tidak ada hubungan bermakna
antara pendapatan wanita usia produktif dengan Premenstrual Syndrome
(PMS) di poli kebidanan RSUZA Banda Aceh.
6. Dari hasil uji statistik yang dilakukan untuk mengetahui hubungan antara
pekerjaan wanita usia produktif dengan Premenstrual Syndrome (PMS)
diperoleh hasil x hitung (0,217) < x tabel (5,991). Sehingga dapat diketahui
bahwa hipotesa kerja (Ha) ditolak yang berarti tidak ada hubungan bermakna
antara pekerjaan wanita usia produktif dengan Premenstrual Syndrome (PMS)
di poli kebidanan RSUZA Banda Aceh.
7. Dari hasil uji statistik yang dilakukan untuk mengetahui hubungan antara
status perkawinan wanita usia produktif dengan Premenstrual Syndrome
(PMS) diperoleh hasil x hitung (2,116) < x tabel (5,991). Sehingga dapat
diketahui bahwa hipotesa kerja (Ha) ditolak yang berarti tidak ada hubungan

bermakna

antara

status

perkawinan

wanita

usia

produktif

dengan

Premenstrual Syndrome (PMS) di poli kebidanan RSUZA Banda Aceh.


7.2

Saran
1. Bagi Institusi pendidikan terutama Program Studi pendidikan dokter agar
dapat lebih meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa
khususnya tentang pencegahan dan penaggulangan Premenstrual Syndrome
(PMS) melalui perkuliahan dan praktik keperawatan maternitas.
2. Bagi profesi dokter agar dapat memberikan informasi yang benar dan lengkap
tentang Premenstrual Syndrome (PMS).
3. Bagi wanita khususnya yang mempunyai

resiko untuk mengalami

Premenstrual Syndrome (PMS) agar dapat mencari informasi yang selengkaplengkapnya tentang cara pencegahan dan penanggulangan Premenstrual
Syndrome (PMS) dari tenaga kesehatan atau institusi pelayanan kesehatan.
4. Bagi calon peneliti lain yang ingin melakukan penelitian tentang
Premenstrual Syndrome (PMS) agar dapat meninjau pengetahuan wanita usia
produktif tentang Premenstrual Syndrome (PMS) dan diharapkan adanya
tindak lanjut dari hasil penelitian tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. (2007). Risk Factor Of PMS, http://www.healthscout.com.diperoleh
tanggal 1 Desember 2007.
Anonymous.
(2008).
Wanita
Karir
Jauh
Lebih
Sehat?
http://www.jawaban.com/detail.asp? Diperoleh tanggal 18 April 2008.
Anonymous. (2008). Ibu Pekerja, Kunci Sukses Hilangkan Stres, http://www.seputarindonesia.com/edisicetak/berita-utama-sore/ibu-pekerja-kunci-sukses
hilangkan.html, diperoleh tanggal 18 April 2008.
Arikunto S. (1998). Manajemen Penelitian, Jakarta : PT Rineka Cipta.
Azwar A. (1996). Pengantar Administrasi Kesehatan, Edisi Ketiga, Jakarta: Binarupa
Aksara.
Baziad, A. (2005). Sindroma Prahaid,http://www.Kompas.com/kesehatan/news/,
diperoleh tanggal 3 Agustus 2007.
BKKBN. (1996). Pedoman Penggunaan Alat Ukur Lingkar Lengan Atas (LILA)
Pada Wanita Usia Subur (WUS), Kantor Menteri Negara Kependudukan ,
Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, Departemen Kesehatan dan
Tim Penggerak PKK Pusat.
Bobak, M & Irene et., al. (2004). Keperawatan Maternitas, Edisi 4, Jakarta: EGC.
BPS. (2006). Statistik Kesehatan, Jakarta: BPS.
Brunner & Suddarth. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta: EGC.
Burns, A. (2000). Pemberdayaan Wanita Dalam Bidang Kesehatan, Jakarta:Yayasan
Essentia Medika.
Burn. (1999). Metodelogi Penelitian, Jakarta : Rineka Cipta.
Chandra, B. (2002). Pengantar Statistik Kesehatan, Jakarta: EGC.
Cornforth, T. (2007) What Risk Factors are Associated with PMS?,
http://www.Womens health.about.com. diperoleh tanggal 1 Desember 2007.

Dalton, K. (1984). The Premenstrual Syndrome and Progesterone Therapy,2nd


edition, William Heinermann Medical Books Ltd.
Depkes RI. (1996). Keluarga Berencana, Jakarta.
Deuster et., al. (1999). Biological, Social and Behavioral Factors Associated with
Premenstrual Syndrome, http://www.archfammed.com. diperoleh tanggal 20
Juni 2007.
Ensiklopedi Nasional Indonesia. (1990), Jakarta: PT Cipta Adi Pustaka.
Essel, E, K. (2007). Pms Is it Real?, http://www2.gsu.edu/. Diperoleh tanggal 1
Desember 2007.
Fadilah, S. (2004). Peran Ibu Untuk Pembangunan, http://www.
Kesrepro.Info.co.id. Diperoleh tanggal 2 Desember 2007.

Situs.

Freemen, E, W. (2007). Epidemiology and Etiology Of Premenstrual Syndromes,


http://www.medscape.com. Diperoleh tanggal 1 desember 2007.
Ganong, W.F. (1983). Fisiologi, Edisi 10, Jakarta: EGC.
Greenspan S. F & Baxter D. J. (1998). Endroklinologi Dasar dan Klinik, Edisi IV,
Jakarta: EGC.
Green, L. (1990). Health Education Planning Approach, 1st Edition, California:
Meryland Publishing Company.
Hamilton. (1995). Dasar-dasar Keperawatan Maternitas, edisi 6, Jakarta: EGC.
Hacker & Moore. (2001). Essensial Obstetri dan Ginekologi, edidi 2, Jakarta:
Hipokrates.
Haijiang, W. (2005). Marital Status, http://paa 2005.princeton.edu/download.
Diperoleh tanggal 14 september 2007.
Health Media Nutrition Series. (1996). Wanita & Nutrisi, Jakarta: PT Bumi Aksara
Jacoeb T.Z., Baziad, A. (1994). Anovulasi : Patofisiologi dan Penanganannya, Edisi
2, Jakarta: Balai penerbit FKUI.
Kamars, H.M.D (1998). Sistem Pendidikan, Jakarta: Departemen Pendidikan Dan
Kebudayaan.

Karyadi,
E.
(1999).
Menangkal
Rasa
Sakit
Menjelang
Haid,
http://www.indomedia.com/intisari/1999/mei/haid. diperoleh tanggal 1 Juli
2007.
Llewellyn, J. D. (2005). Setiap Wanita, Jakarta: Delapratasa Publishing.
Mochtar, R. (1989). Sinopsis Obstetri, Obstetri Fisiologi, Obstetri Patologi, edisi 2,
Jakarta.
Muhiman, M, dkk. (1996). Penanggulangan Nyeri Pada Persalinan, Jakarta:
Universitas Indonesia.
Mulyono dkk. (2001). Stres Psikososial Pada Wanita Pekerja Status Kawin Di PT
Tulus Trituggal Gresik, http://www.jurnal.unair.ac.id/login.jurnal/. diperoleh
tanggal 14 September 2007.
Notoatmodjo. (1997). Ilmu kesehatan Masyarakat: Prinsip-prinsip Dasar, edisi
pertama, Jakarta: PT Rineka Cipta.
___________ (2002), Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta: PT Rineka Cipta.
Nurfahmi.
(2008).
Pernikahan
Harmonis
Tingkatkan Kesehatan,
http://nurfahmi.wordpress.com/2008/03/23/pernikahan-harmonis-tingkatkankesehatan/, diperoleh tanggal 18 April 2008.
Oakley L.D. (1998). Social Cultural Context of Phsyciatric Nursing, sixth edition,
Philadelphia: Mosby Year Book Inc.
Pandji. (1992). Psikologi Kerja, Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Prawirohardjo. (2005). Ilmu Kebidanan, Jakarta: EGC.
Potter, P.A & Perry, A.G. (1997), Fundamental Of Nursing, Concept, Process and
Practice, 1st Edition, New York : Lippincott.
Rayburn, W.F & Carey, C. (2001). Obstetri dan Ginekologi, Jakarta: Widya Medika.
Sekneg R.I .(2003). Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistim
pendidikan Nasional, Jakarta.
Scott et. al. (2002). Buku Saku Obstetri dan Ginekologi, Jakarta: Widya Medika.
Shreeve, C. 1983. Sindrom Pramenstruasi, Jakarta : Arcan.

Suryono (1998). Motivasi dan Pengaruhnya, Jakarta: Arcan.


Syahrum M.H, Kamaludin, T. (1994). Reproduksi dan Embriologi : Dari Satu Sel
Menjadi Organisme, Jakarta: FKUI.
Whalley & Wongs. (1999). Nursing Care Of Infant and Children, 6th edition, Mosby
Company, Philadelphia.
Widayatun, T. R. (1999). Ilmu Perilaku, Jakarta : Sagung Seto.
Youngkin, E.Q & Davis, M.Z. (1998). Womens Health; A Primary Care Clinical
Guide, Second Edition, Stanford : Appleton & Lange.