Anda di halaman 1dari 14

BAB I

LAPORAN KASUS
I.

II.

Identitas pasien
No rekam medik

Tanggal masuk RS

: 18 November 2015

Nama

: Tn. Simarudin

Umur

: 65 Tahun

Jenis kelamin

: Laki-Laki

Pekerjaan

: Petani

Alamat

: Sugiwaras Gumay Lolong

Agama

: Islam

Status perkawinan

: Menikah

Anamnesis
Keluhan Utama :
Pasien mengeluhkan adanya benjolan pada lipatan paha kanan yang hilang timbul sejak
masih duduk di Sekolah Menengah Pertama.
Keluhan tambahan : Nyeri di lipat paha
Riwayat Penyakit Sekarang (RPS) :
OS dating ke RS dengan keluhan terdapat benjolan pada lipat paha sebelah
kanan. Benjolan tersebut sudah ada sejak OS duduk di SMP, benjolan sebesar telur
puyuh. Benjolan tersebut tidak mempengaruhi aktifitas OS sehari-harinya.
Dan pada tanggal 17 November 2015 Os mengalami nyeri hebat pada benjolan
tersebut dan Os berobat ke poli bedah dan dari hasil pemeriksaan Os disarankan untuk
segera operasi.
Benjolan tersebut tidak terlihat sahat Os berbaring. Keluhan Os tidak disertai
mual dan muntah.

Riwayat Penyakit Dahulu (RPD) :


Pasien menyangkal adanya riwayat DM, hipertensi, asma, dan penyakit jantung.
1

Riwayat Penyakit Keluarga (RPK) :


Riw. Dm (-),riw. Hipertensi(-),riw.asma (-),riw. Pnyakit jantung (-). Tidak ada saudara
pasien yang mengalami gejala sama seperti pasien.
III.

Pemeriksaan fisik
Keadan umum : tampak sakit sedang
Kesadaran

: Compos mentis

Vital sign

: Tekanan Darah : 110/70 mmHg

Status general

Nadi

: 82x/menit

Pernafasan

: 22x/menit

Suhu

: 36,5 C

Kepala

Normochepali
Tidak tampak adanya deformitas

Mata

Tidak terdapat ptosis pada palpebra dan tidak terdapat oedem


Conjunctiva tidak anemis
Sklera tidak tampak ikterik
Pupil: isokor kiri kanan

Hidung

Bagian luar
Septum
Mukosa hidung
Cavum nasi

: normal, tidak terdapat deformitas


: terletak ditengah dan simetris
: tidak hiperemis
: tidak ada tanda perdarahan

Telinga

Daun telinga
Tofi
Lieng telinga
Membrana timpani
Nyeri tekan mastoid
Serumen
Sekret

: normal
: tidak ditemukan
: lapang
: intake
: tidak nyeri tekan
: tidak ada
: tidak ada

Mulut dan tenggorokan


2

Bibir
Gigi geligi
Palatum
Lidah
Tonsil
Faring

: tidak pucat dan tidak sianosis


: lengkap, ada karies
: tidak ditemukan torus
: normoglosia
: T1/T1 tenang
: tidak hiperemis

Leher
Kelenjar getah bening :Tidak teraba membesar
Kelenjar tiroid
: tidak teraba membesar
Trakea
: letak di tengah
Thorax
Paru-Paru
Inspeksi
Palpasi

: vocal fremitus sama pada kedua paru

Perkusi

: sonor pada seluruh lapangan paru

Auskultasi

: suara nafas vesikuler di kedua paru, ronkhi -/-, whezing -/-

Jantung
Inspeksi
Palpasi

: ictus cordis terlihat


: ictus cordis teraba 1 jari linea midclavicularis sinistra,
ICS 5
: Batas atas
Batas kanan
Batas kiri

Perkusi

Auskultasi

IV.

: pergerakan nafas saat statis dan dinamis

: ICS 2 linea parasternalis sinistra


: ICS 3-4 linea sternalis dextra
:ICS
5,
1
cm
lateral
linea

midclavicularis sinistra
: S1 S2 reguler, murmur (-), gallop (-)

Abdomen
Tidak Ditemukan Kelainan
Ekstremitas atas
Regio kanan
: akral hangat, tidak terdapat oedem
Regio kiri
: akral hangat, tidak terdapat oedem
Ekstremitas Bawah
Regio kanan

: akral hangat, tidak terdapat oedem

Regio kiri

: akral hangat, tidak terdapat oedem

Status Lokalis
Regio

: Inguinal dextra
3

Inspeksi

:Tampak benjolan warna sama dengan kulit sekitar, dan tidak terdapat
tanda-tanda radang.

Palpasi

: teraba massa

kecil ,kenyal yang keluar saat pasien disuruh

mengedan dan terdapat nyeri tekan.


Auskultasi
V.

VI.
VII.

: tidak terdengar bunyi peristaltik usus.

Pemeriksaan Penunjang
Tanggal periksa: 16 November 2015
Hematologi
- RBC :3,56 g/ul
- HCT :28,4 %
- MCV :79,6 um3
- RDW : 16,1%
- HGB : 12,3 g/dl
- MCH : 36,6 pg
- MCHC
: 43,4 g/dl
- MPV : 7,0 um3
- PLT : 176.000/ul
Diagnosa kerja
Hernia Inguinalis Dextra Reponibel
Diagnosa Banding
Hernia femoralis,kista sebasea,tumor

VIII.

Resume
Pasien berusia 65 tahun,jenis kelamin laki-laki datang ke poliklinik bedah
dengan keluhan merasa ada benjolan yang hilang timbul di lipat paha kanannya.
Pasien mengaku sejak duduk dibangku SMP yang lalu merasakan ada benjolan di
lipat paha kanan yang timbul saat beraktivitas seperti berlari dan hilang saat
istirahat.Benjolan pada awalnya tidak menimbulkan rasa nyeri Cuma membuat pasien
merasa aneh akan hal tersebut. Pada tanggal 17 November 2015, pasien mengalami
nyeri yang hebat dan pasien berobat ke poliklinik bedah untuk diperiksa kerana
gejalanya hampir sering muncul. Setelah diperiksa, dokternya menyarankan pasien di
bedah agar benjolan tidak muncul lagi. Pasien tidak ada riwayat asma,allergi ,kencing
manis maupun hipertensi.Pada pemeriksaan fisik didapatkan tanda vital dan status
generalis dalam batas normal.Pada status lokalis di regio inguinalis dekstra tidak
kelihatan ada benjolan maupun tanda-tanda peradangan,namun setelah di palpasi
didapatkan ada nyeri tekan di daerah inguinal dekstra dan teraba benjolan/massa yang
4

kenyal timbul apabila pasien disuruh mengedan,namun benjolan tersebut hilang


setelah mengedan.Pada auskultasi tidak didapatkan bising usus.
IX.

Penatalaksanaan
Operatif : Herniotomi
Teknik Operasi :
Disinfeksi lapangan pembedahan.Tutup dengan kain steril.
Irisan 2 cm medial spina iliaca superior (SIAS) sampai tuberkulum
pubikum.
Dipasang kain berlubang. Aponeurosis muskulus

obliquus eksternus

(MOE) dibuka kecil dengan pisau dan dengan bantuan pinset anatomis
dan gunting dibuka lebih lanjut ke kranial sampai annulus internus dan ke
kaudal sampai membuka annulus eksternus.
Dengan menjepit MOE dengan kocher , aponeurosis dibebaskan dari
dasar ke lateral sampai tampak ligamentum inguinalis Pourpati dank e
medial sampai conjoint tendon (muskulus obliquus

internus dan

transverses).
Dengan bantuan 2 pinset chirurgis dan gunting kantong dibuka. Setelah
eksplorasi isi kantong hernia, isinya dikembalikan

kedalam rongga

abdomen . Dengan memasukkan jari kedua tangan kiri kedalam lubang


dan sedikit tarikan , kantong dibebaskan secara tumpul dan tajam .
Kantong hernia dibebaskan se proksimal mungkin sampai tampak jaringan
lemak pre-peritoneal .Kantong diplintir dan diikat dengan plain catgut
no.1

Bila

mulut

kantong

proksimal

lebar,dapat

ditutup

tabakzaknaad.Kemudian kantong hernia dipotong.


Herniotomi selesai.

Rencana Pemeriksaan
- EKG
- Foto Thorax
- Darah Rutin
- GDS
- Ureum dan Kreatinin

Edukatif post operatif : bed rest total, puasa sampai bising usus terdengar

Medikamentosa
a. FOLLOW UP Tanggal 20 November 2015
Keluhan Utama
Tekanan Darah
Nadi

Nyeri +, mual +
120/80 mmHg
80x/i
5

Respirasi
Suhu
Medikamentosa

22x/i
37 c
RL D5 20 gtt/I
Inj, Ceftazidin 2x1
Inj. Ketorolac 3x1
Inj. Ranitidin 2x1
Inj. As. Traneksamat 3x1

b. FOLLOW UP tanggal 21 November 2015


Keluhan Utama
Tekanan Darah
Nadi
Respirasi
Suhu
Medikamentosa

(-)
110/80 mmHg
79x/i
22x/i
37 c
RL D5 20 gtt/I
Inj, Ceftazidin 2x1
Inj. Ketorolac 3x1
Inj. Ranitidin 2x1

c. FOLLOW UP tanggal 22 November 2015


Keluhan Utama
Tekanan Darah
Nadi
Respirasi
Suhu
Medikamentosa

(-)
110/80 mmHg
78x/i
22x/i
37 c
RL D5 20 gtt/I
Inj, Ceftazidin 2x1
Inj. Ketorolac 3x1
Inj. Ranitidin 2x1

Tanggal 23 November 2015 Os Pulang dan diberi terapi:

X.

Prognosis
Ad vitam
Ad sanationam
Ad fungsionam

Ciprofloxacine tab 2x1

As, Mefenamat tab 3x1

Ranitidine tab 2x1


: ad bonam
: ad bonam
: ad bonam

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
1.

Definisi Hernia
Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian

yang lemah dari dinding yang bersangkutan. Pada hernia abdomen, isi perut menonjol
melalui defek atau bagian lemah dari lapisan muskulo-aponeurotik dinding perut. Hernia
terdiri atas cincin, kantong, dan isi hernia.1
2.

Epidemiologi
Tujuh puluh lima persen dari semua kasus hernia di dinding abdomen muncul

disekitar lipatan paha. Hernia sisi kanan lebih sering terjadi daripada di sisi kiri. Hernia
indirect lebih banyak daripada hernia direct yaitu 2:1, perbandingan pria:wanita pada hernia
indirect adalah 7:1. Hernia femoralis kejadiaanya kurang dari 10% dari semua hernia tetapi
40% dari itu muncul kasus emergensi dengan inkaserasi atau strangulasi. Hernia femoralis
lebih sering terjadi pada lansia dan laki-laki yang pernah menjalani operasi hernia inguinal.2,3
3.

Etiologi
Penyebab terjadinya hernia adalah1,2:
a) Lemahnya dinding rongga perut. Dapat sejak lahit atau didapat kemudian dalam hidup
b) Akibat dari pembedahan sebelumnya
c) Kongenital
Hernia kongenital sempurna
Bayi sudah menderita hernia karena adanya defek pada tempat-tempat tertentu.
Hernia kongenital tidak sempurna
Bayi dilahirkan normal (kelainan belum tampak) tapi mempunyai defek pada
tempat-tempat tertentu (predisposisi) dan beberapa bulan (0-1 tahun) setelah
lahir akan terjadi melalui defek tersebut karena dipengaruhi oleh kenaikan
tekanan intraabdominal (mengejan, batuk, menangis)
d) Aquisial adalah hernia yang bukan disebabkan karena adanya defek bawaan tetapi
disebabkan oleh faktor lain yang dialami manusia, antara lain:
Tekanan intraabdominal yang tinggi, yaitu pada pasien yang sering mengejan

pada saat buang air besar atau buang air kecil.


Konstitusi tubuh. Pada orang kurus terjadinya hernia karena jairngan ikatnya
yang sedikit, sedangkan pada orang gemuk disebabkan karena jaringan lemak

yang banyak sehingga menambah beban jaringan ikat penyokong.


Distensi diding abdomen karena peningkatan tekanan intaabdominal
Penyakit yang melemahkan dinding perut
Merokok
Diabetes mellitus
7

4.

Bagian Hernia
Bagian-bagian dari hernia menurut:
1) Kantong hernia. Pada hernia abdominalis berupa peritoneum parietalis. Tidak semua
hernia memiliki kantong, misalnya hernia incisional, hernia adiposa, hernia internalis.
2) Isi hernia: berupa organ atau jaringan yang keluar melalui kantong hernia, misalnya
usus, ovarium, dan jaringan penyangga usus (omentum).
3) Pintu hernia: merupakan bagian locus minoris resistance yang dilalui kantong hernia.
4) Leher hernia: bagian tersempit kantong hernia.

5.

Klasifikasi Hernia
Menurut sifat dan keadaannya hernia dibedakan menjadi3:

Hernia reponibel: bila isi hernia dapat keluar masuk. Usus keluar jika berdiri atau
mengedan dan

masuk lagi bila berbaring atau didorong masuk perut, tidak ada

keluhan nyeri atau gejala obstruksi usus.


Hernia ireponibel: Bila isi kantong tidak dapat direposisi kembali ke dalam rongga
perut. Ini biasanya disebabkan oleh perlekatan isi kantong pada peritoneum kantong

hernia.
Hernia inkarserata atau strangulata: bila isinya terjepit oleh cincin hernia sehingga isi
kantong terperangkap dan tidak dapat kembali ke dalam rongga perut. Akibatnya,
terjadi gangguan vaskularisasi. Reseksi usus perlu segera dilakukan untuk
menghilangkan bagian yang mungkin nekrosis.
Menurut Erickson (2009) dalam Muttaqin 2011, ada beberapa klasifikasi hernia yang
dibagi berdasarkan regionya, yaitu: hernia inguinalis, hernia femoralis, hernia
umbilikalis, dan hernia skrotalis.

Hernia Inguinalis, yaitu: kondisi prostrusi (penonjolan) organ intestinal masuk ke


rongga melalui defek atau bagian dinding yang tipis atau lemah dari cincin inguinalis.
Materi yang masuk lebih sering adalah usus halus, tetapi bisa juga merupakan suatu
jaringan lemak atau omentum. Predisposisi terjadinya hernia inguinalis adalah
8

terdapat defek atau kelainan berupa sebagian dinding rongga lemah. Penyebab pasti
hernia inguinalis terletak pada lemahnya dinding, akibat perubahan struktur fisik dari
dinding rongga (usia lanjut), peningkatan tekanan intraabdomen (kegemukan, batuk

yang kuat dan kronis, mengedan akibat sembelit, dll).


Hernia Femoralis, yaitu: suatu penonjolan organ intestinal yang masuk melalui kanalis
femoralis yang berbentuk corong dan keluar pada fosa ovalis di lipat paha. Penyebab

hernia femoralis sama seperti hernia inguinalis.


Hernia Umbilikus, yaitu: suatu penonjolan (prostrusi) ketika isi suatu organ
abdominal masuk melalui kanal anterior yang dibatasi oleh linea alba, posterior oleh
fasia umbilicus, dan rektus lateral. Hernia ini terjadi ketika jaringan fasia dari dinding

abdomen di area umbilicus mengalami kelemahan.


Hernia Skrotalis, yaitu: hernia inguinalis lateralis yang isinya masuk ke dalam
skrotum secara lengkap. Hernia ini harus cermat dibedakan dengan hidrokel atau
elevantiasis skrotum.

6.

Patofisiologi hernia inguinalis lateralis


Kanalis inguinalis dalam kanal yang normal pada fetus. Pada bulan ke-8 dari
kehamilan, terjadi desensus vestikulorum melalui kanal tersebut. Penurunan testis akan
menarik peritoneum ke daerah scrotum sehingga terjadi tonjolan peritoneum yang
disebut dengan prosesus vaginalis pritonea. Bila bayi lahir umumnya prosesus telah
mengalami obliterasi, sehingga isi rongga perut tidak dapat melalui kanalis tersebut.
Tetapi dalam beberapa hal sering belum menutup, karena yang kiri turun terlebih dahulu
dari yang kanan, maka kanalis inguinalis yang kanan lebih sering terbuka. Dalam
keadaan normal, kanal yang terbuka ini akan menutup pada usia 2 bulan.1,2
Bila prosesus terbuka sebagian, amka timbul hidrokel. Bila kanal terbuka terus,
karena rosesus tidak berobliterasi maka akan timbul hernia inguinalis lateral kongenital.
9

Biasanya hernia pada orang dewasa ini terjadi karena dengan bartambahnya umur, organ
dan jaringan tubuh mengalami proses degenerasi. Pada orang tua kanalis tersebut telah
menutup. Namuan karena daerah ini merupakan locus minoris resistance, maka pada
keadaan yang menyebabkan tekanan intraabdominal meningkat seperti batuk-batuk
kronik, bersin yang kuat dan mengangkat barang-barang berat, mengejan. Kanal yang
sudah tertutup dapat terbuka kembali dan timbul hernia inguinalis lateralis karena
terdorongnya sesuatu jaringan tubuh dan keluar melalui defek tersebut. Akhirnya
menekan dinding rongga yang telah melemas akibat trauma, hipertrofi prostat, asites,
kehamilan, obesitas, dan kelainan kongenital dan dapat terjadi pada semua.2
Pria lebih banyak dari wanita, karena adanya perbedaan proses perkembangan
alat reproduksi pria dan wanita semasa janin. Potensial komplikasi terjadi perlekatan
antara isi hernia dengan dinding kantong hernia sehingga isi hernia tidak dapat
dimasukkan kembali. Terjadi penekanan terhadap cincin hernia, akibat semakin
banyaknya usus yang masuk cincin hernia menjadi sempit dan menimbulkan gangguan
penyaluran isi usus. Timbulnya edema bila terjadi nekrosis. Bila terjadi penyumbatan dan
perdarahan akan timbul perut kembung, muntah, konstipasi. Bila inkaserata dibiarkan,
maka lama kelamaan akan timbul edema sehingga terjadi penekanan pembuluh darah
dan terjadi nekrosis.2
7.

Diagnosis
a. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan Finger test menggunakan jari ke 2


atau jari ke 5, dimasukkan lewat skrotum melalui
anulus eksternus ke kanal inguinal, penderita disuruh
batuk. Bila impuls diujung jari berarti hernia
ingunalis lateralis, bila impuls disamping jari hernia
inguinalis medialis.4
Pemeriksaan Ziemen test posisi
berbaring,

bila

ada

masukkan

dulu,

hernia

benjolan
kanan

diperiksa dengan tangan kanan,


penderita

disuruh

batuk

bila

rangsangan pada jari ke-2 hernia

10

ingunalis lateralis, jari ke-3 hernia inguinalis medialis, jari ke-4 hernia
femoralis.4

Pemeriksaan Thumb test anulus ditekan dengan


ibu jari dan penderita disuruh mengejan, bila keluar
benjolan berarti hernia inguinalis medialis, bila tidak

keluar benjolan berarti hernia inguinalis lateralis.4


b. Pemeriksaan penunjang

Leukosit > 10.000 18.000/mm3

Serum elektrolit meningkat

Pemeriksaan radiologis

Pemeriksaan ultrasonografi juga berguna untuk membedakan hernia incaserata


dari suatu nodus limfatikus patologis atau penyebab lain dari suatu massa yang

teraba di inguinal.
CT scan dapat digunakan untuk mngevaluasi pelvis untuk mencari adanya
hernia obturator.

8.

Diagnosis banding
a. Keganasan : limfoma, retroperitoneal sarcoma, metastasis, tumor testis
b. Penyakit testis primer: varicocele, epididimitis, torsio testis, hidrokel, testis ectopic,
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

9.

undescenden testis
Aneurisma artery femoralis
Nodus limfatikus
Kista limfatikus
Kista sebasea
Psoas abses
Hematoma
Ascites

Penatalaksanaan
Operasi elektif dilakukan untuk mengurangi gejala dan mencegah komplikasi
seperti inkeserasi dan strangulasi. Pngobatan non operatif direkomendasikan hanya pada
hernia yang asimptomatik. Prinsip utama operasi hernia adalah herniotomy: membuka
dan memotong kantong hernia. Herniorraphy: memperbaiki dinding posterior abdomen
kanalis ingunalis.1,2
Herniotomy
Insisi 1-2 cm diatas ligamentum inguinal dan aponeurosis obliqus eksterna dibuka
sepanjang canalis inguinalis eksterna. Kantong hernia dipisahkan dari m.creamester
secara hati-hati sampai ke kanalis inguinalis internus, kantong hernia dibuka, lihat isinya
11

dan kembalikan ke kavum abdomen kemudian hernia dipotong. Pada anak-anak cukup
hanya melakukan herniotomy dan tidak memerlukan herniorrhapy.1,2
Herniorrhapy
Dinding posterior di perkuat dengan menggunakan jahitan atau non-absorbable mesh
dengan tekhnik yang berbeda-beda. Meskipun tekhnik operasi dapat bermacam-macam
tekhnik bassini dan shouldice paling banyak digunakan. Teknik operasi liechtenstein
dengan menggunakan mesh diatas defek mempunyai angka rekurensi yang rendah.1,2
10. Prognosis
Tergantung dari umur penderita, ukuran hernia serta kondisi dari isi kantong
hernia. Prognosis baik jika infeksi luka, obstruksi usus segera ditangani. Penyulit pasca
bedah seperti nyeri pasca herniorraphy, atrofi testis dan rekurensi hernia umumnya dapat
diatasi.

12

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau
bagian yang lemah dari dinding yang bersangkutan. Pada hernia abdomen, isi perut
menonjol melalui defek atau bagian lemah dari lapisan muskulo-aponeurotik dinding
perut. Hernia terdiri atas cincin, kantong, dan isi hernia.
Hernia reponibel: bila isi hernia dapat keluar masuk. Usus keluar jika berdiri
atau mengedan dan masuk lagi bila berbaring atau didorong masuk perut, tidak ada
keluhan nyeri atau gejala obstruksi usus.
Hernia Inguinalis, yaitu: kondisi prostrusi (penonjolan) organ intestinal masuk
ke rongga melalui defek atau bagian dinding yang tipis atau lemah dari cincin
inguinalis. Materi yang masuk lebih sering adalah usus halus, tetapi bisa juga
merupakan suatu jaringan lemak atau omentum. Predisposisi terjadinya hernia
inguinalis adalah terdapat defek atau kelainan berupa sebagian dinding rongga lemah.
Penyebab pasti hernia inguinalis terletak pada lemahnya dinding, akibat perubahan
struktur fisik dari dinding rongga (usia lanjut), peningkatan tekanan intraabdomen
(kegemukan, batuk yang kuat dan kronis, mengedan akibat sembelit, dll).
Operasi elektif dilakukan untuk mengurangi gejala dan mencegah komplikasi
seperti inkeserasi dan strangulasi. Pngobatan non operatif direkomendasikan hanya
pada hernia yang asimptomatik. Prinsip utama operasi hernia adalah herniotomy:
membuka dan memotong kantong hernia. Herniorraphy: memperbaiki dinding
posterior abdomen kanalis ingunalis.
13

14