Anda di halaman 1dari 12

ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI NY.

I DENGAN RESIKO INFEKSI DENGAN


DIAGNOSA MEDIS BBLSR (BAYI BERAT LAHIR SANGAT RENDAH)
DI RUANG NICU RSUD PATUT PATUH PATJU
TANGGAL 3-5 MARET 2014

Disusun Oleh :
DESTI DWI SAGITYA
NIM : P07120112013

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN MATARAM
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN MATARAM
MATARAM
2013

BAYI BERAT LAHIR SANGAT RENDAH (BBLSR)


A. DEFINISI
Bayi Berat Lahir Sangat Rendah (BBLSR) adalah bayi baru lahir dengan berat badan
dibawah nornal (kurang dari 1500 gr).
B. ETIOLOGI
BBLR/BBLSR disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu :
1.

Penyakit Ibu
a. Penyakit : Toxemia gravidarum, perdarahan ante partum, trauma fisik atau
psikologis, nefritis akut, diabetes militus.
b. Usia lbu.
Kurang dari 16 tahun atau lebih dari 35 tahun, multigravida dengan jarak
kehamilan dekat.
c. Keadaan sosial ekonomi rendah.

2.

Faktor janin
Hidramnion, gemeli, kelainan kromosom.

3.

Faktor lingkungan
Radiasi, tinggal di dataran tinggi, zat racun.

C. KLASIFIKASI
1.
Bayi kurang bulan: yaitu bayi dengan masa kehamilan lebih dari 37 mg.
2.
Bayi cukup bulan: yaitu bayi dengan masa kehamilan mulai 37 mg - 42 mg.
3.
Bayi lebih bulan: yaitu bayi dengan masa kehamilan mulai 42 mg atau lebih.

Berdasarkan pengertian diatas bayi dengan BBLR/BBLSR dibagi menjadi dua


golongan, yaitu : prematur dan dismatur
a. Prematur
Adalah bayi lahir dengan umur kehamilan kurang dari 37 mg dan mempunyai
BB sesuai dengan BB masa kehamilan (NKB KMK).

b. Dismatur
Adalah bayi lahir dengan BB kurang dari BB seharusnya untuk masa kehamilan,
bisa terjadi pre term, term, atau post term.
Dismatur dapat juga disebut :
1) Neonatus kurang bulan, kecil untuk masa kehamilan (NKB KMK)
2) Neonatus cukup bulan, kecil masa kehamilan (NEB KMK)
3) Neonatus lebih bulan, kecil masa kehamilan (NLB KMK)
D. TANDA-TANDA BAYI PREMATUR
1.
BB kurang dari 2500 gr, PB kurang dari 45 cm, lingkar kepala kurang dari 33 cm,
2.
3.
4.
5.
6.

lingkar dada kurang 30 cm.


Umur kehamilan kurang dari 37 mg.
Kepala relatif lebih besar dari pada badannya.
Rambut tipis dan halus, ubun-ubun dan sutura lebar.
Kepala mengarah ke satu sisi.
Kulit tipis dan transparan, lanugo banyak, lemak subkutan kurang, sering tampak

7.
8.
9.
10.
11.
12.

peristaltik usus.
Tulang rawan dan daun telinga imatur.
Puting susu belum terbentuk dengan baik.
Pergerakan kurang dan lemah.
Reflek menghisap dan menelan belum sempurna.
Tangisnya lemah dan jarang, pernafasan masih belum teratur.
Otot-otot masih hipotonis sehingga sikap selalu dalam keadaan kedua paha abduksi,

13.

sendi lutut dan pergelangan kaki fleksi atau lurus.


Genetalia belum sempurna, labia minora belum tertutup oleh labia mayora (pada
wanita), dan testis belum turun (pada laki laki).

E. TANDA-TANDA PADA BAYI DISMATUR


1.
Preterm sama dengan bayi premature
2.
Term dan post term :
a. Kulit pucat atau bernoda, keriput tipis.
b. Vernik caseosa sedikit/kurang atau tidak ada.
c. Jaringan lemak di bawah kulit sedikit.
d. Pergerakan gesit, aktif dan kuat.
e. Tali pusat kuning kehijauan.
f. Mekonium kering.
g. Luas permukaan tubuh relatif lebih besar dibandingkan BB.
F. KOMPLIKASI PADA BBLR/BBLSR
1. Hipotermi

Tanda terjadinya hipotermi pada BBLR adalah :


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
2.

3.

Suhu tubuh bayi kurang dari 36,5 c


Kurang aktif dan tangis lemah
Malas minum
Bayi teraba dingin
Kulit mengeras kemerahan
Frekuensi jantung < 100 x/menit
Nafas pelan dan dalam

Hipoglikemi
Hipoglikemia ditandai dengan :
a. Kadar glukosa darah < 45 mg/dl
b. Kejang, tremor, jitterys, letargi/kurang aktif
c. Timbul saat lahir sampai dengan hari ke 3
d. Riwayat ibu dengan diabetes
e. Keringat dingin
f. Hipotermia, sianosis, apneu intermitten
Ikterus/hiperbilirubin
Hiperbilirubin pada BBLR terjadi karena belum maturnya fungsi hepar pada bayi
premature, bila tidak segera diatasi dapat menyebabkan kern ikterus yang akan
menimbulkan gejala sisa yang permanen. Hiperbilirubin di tandai dengan :
a. Selera, puncak hidung, sekitar mulut, dada, perut dan ekstermitas berwama
b.
c.
d.
e.
f.

4.

kuning
Konjungtiva berwama kuning pucat
Kejang
Kemampuan menghisap menurun
Letargi
Kadar bilirubin pada bayi premature lebih dari l0 mg/dl

Masalah pemberian minum


Hal ini ditandai dengan :
a. Kenaikan berat badan bayi < 20 g/hr selama 3 hari
b. Ibu tidak dapat/tidak berhasil menyusui.

5.

Infeksi/sepsis
Infeksi pada BBLR dapat terjadi bila ada riwayat ibu demam sebelum dan selama
persalinan, ketuban pecah dini, persalinan dengan tindakan, terjadinya asfiksia saat
lahir dll. Tanda terjadinya infeksi pada BBLR antara lain :

a. Pada pemeriksaan labomterium terdapat lekositosis atau lekositopenia dan


b.
c.
d.
e.
f.
g.
6.

trombositopenia
Bayi malas minum
Suhu tubuh bayi hipertermi ataupun hipotermi J
Terdapat gangguan nafas
Letargi
Kulit ikterus, sklerema
Kejang

Gangguan permafasan
a. Deflsiensi surfaktan paru yang mengarah ke sindrom gawat nafas/RDS
b. Resiko aspirasi akibat belum terkoordiansinya reflek batuk,reflek menghisap
dan reflek menelan
c. Thoraks yang lunak dan otot respirasi yang lemah
d. Pemafasan tidak teratur
e. Penyakit membrane pada neonates/HDN.
Penyebabnya adalah defisiensi faktor koagulasi yang bergantung pada vitamin
K.

G. PENATALAKSANAAN
1.
Termoregulasi
a. Suhu lingkungan harus hangat 24-26 C
b. Pastikan alas tidur dan selimut bayi hangat
c. Pastikan inkubator hangat
d. Saat melakukan tindakan pastikan bayi hangat
e. Pintu inkubator jangan sering di buka
f. Bila sudah stabil lakukan perawatan metode kangguru
2.
Jaga patensi jalan nafas ,
3.
Monitor tanda-tanda vital
4.
Bila kemampuan menghisap dan menelan belum terkoordinasi berikan asupan
5.

melalui sonde atau nutrisi parenteral


Pencegahan infeksi, perhatikan teknik aseptic dalam melakukan setian

6.
7.

tindakan, meminimalkan tindakan invasive


Pemberian vit K untuk mencegah pendarahaan
Atasi penyulit sesuai dengan kausanya atau komplikasinya.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI DENGAN BBLR


A. PENGKAJIAN
1.
Biodata bayi : nama, tanggal lahir, jenis persalinan, jenis kelamin, no register
2.
Biodata ibu, ayah : nama, umur, pendidikan, pekerjaan, alamat
3.
Riwayat penyakit : mulai timbul gejala sampai dibawa ke rumah sakit
4.
Riwayat penyakit dahulu : penyakit yang pemah diderita sebelumnya
5.
Riwayat prenatal : pemeriksaan kehamilan, kebiasaan ibu, nutrisi saat hamil, Obatobatan yang dikonsumsi saat hamil, penyakit yang diderita (hipertensi, diabetes
mellitus, TOREH, TBE), kelahiran premature sebelumnya, kehamilan kembar,
6.

plasenta previa
Riwayat natal : umur kehamilan, berat badan lahir, panjang badan, lingkar kepala,
lingkar dada, warna ketuban, kelainan ditemukan, tindakan persalinan, apsgar score,
riwayat KPD, penolong persalinan.

B. PEMERIKSAAN FISIK
1.
Keadaan umum : letargi, tangis lemah, gerak lemah.
2.
Tanda-tanda vital : suhu, pernafasan, denyut jantung.
3.
Kepala : lingkar kepala, ubun-ubun cekung/cembung, sutura melebar/bertumpukan,
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

adakah cepal hematom, caput sucedenium, meningocele.


Mata : secret mata, sclera icterus, konjungtivitis.
Hidung : secret, atresia acoana.
Mulut : makroglosi, palatosehisis, monoliasis.
Bibir : wama bibir, bibir sumbing.
Telinga : tulang rawan pada daun telinga masih lembek.
Leher 2 pembesaran kelenjar.
Dada : bentuk dada, pergerakan nafas (simetris/asimetris), retraksi dada, frekuensi

11.

nafas, pola nafas, suara nafas, denyut jantung.


Perut : cekung (hernia diafragmatika), rata, distended, bising usus, keadaan tali pusat

14.
15.

(kering/basah, perdarahan, bau), adanya kelainan (omphalocele, gastroschisis).


Inguinal : anus, hernia.
Genitalia :
a. Laki-laki : testis belum turun ke serotum, rugae
b. Perempuan : labia mayor belum menutupi labia minor.
Punggung : rambut lanugo masih banyak, adanya kelainan (spina bifida, myelocele)
Ekstrimitas : pergerakan lemah, akral hangat/dingin, panjang kuku belum melewati

16.
17.

ujung jari, odema.


Kulit : warna kulit (merah muda, sianosis, icterus), hangat atau dingin.
Reflex : reflex menelan, menghisap, morro, shaking, rooting

12.
13.

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.
Pola nafas tidak efektif` berhubungan dengan prematuritas organ pemafasan.
2.
Potensial terjadinya hipotermi berhubungan dengan fungsi pengatur suhu tubuh
3.

belum sempuma, lemak subkutan dibawah kulit masih tipis.


Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan reflek menghisap dan

4.

menelan kurang sempurna.


Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan lemahnya sistem kekebalan tubuh bayi

5.

dan kemungkinan infeksi silang dari ibu maupun petugas kesehatan.


Resiko terjadinya hipoglikemi berhubungan dengan metabolisme yang meningkat.

D. RENCANA TINDAKAN
1.

Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan prematuritas organ pernafasan.


Tujuan

: Pola nafas efektif.

Kriteria hasil

a.
b.
c.
d.
e.

Pernafasan normal ( 40-60 x/mnt)


Tidak ada retraksi dada.
Tidak ada sianosis.
Tidak ada periodie apnea > 20 detik.
FJ dalam batas normal ( 100-160 x/mnt).

Rencana tindakan :
a. Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan
b. Bebaskan jalan nafas dengan pengaturan posisi kepala sedikit ekstensi dan
penghisapan lender,
c. Observasi vital sign dan tanda-tanda gawat nafas.
d. Kolaborasi dengan medis dalam pemberian oksigenasi dan management
terapi.
e. Kolaborasi dengan medis untuk pemeriksaan thorax foto dan lab AGD.
Rasionalisasi :
a.
b.
c.
d.

Menghindari infeksi nosokomial


Kebersihan jalan nafas dapat menjaga keefektifan pola nafas.
Untuk mendeteksi adanya kelainan pada pemafasan bayi.
Dosis oksigen yang tepat dapat mencegah kerusakan retina pada neonates.

e. Diagnosa dan terapi yang tepat membantu mempercepat proses


penyembuhan.
2.

Potensial terjadinya hipotermi berhubungan dengan fungsi pengatur suhu


tubuh belum sempurna, lemak subkutan dibawah kulit masih tipis.
Tujuan

: Tidak terjadi hipotermi.

Kriteria hasil

a. Keadaan umum bayi baik.


b. Akral hangat.
c. Vital sign dalam batas normal (suhu : 36,5o - 37,5o C, FJ 100-160 x/mnt
Rencana tindakan :
a. Rawat bayi dalam lingkungan yang hangat (incubator, infant warner, box
lampu).
b. Jaga lingkungan bayi tetap hangat (Berikan bayi pakaian yang kering dan
hangat, selimut dan tudung kepala bila perlu).
c. Jaga bayi kehilangan panas secara konduksi, konveksi, evaporasi dan radiasi
(Ganti secepatnya bila pakaian basah, mandikan bayi dengan minyak).
d. Observasi vital sign tiap jam.
e. Observasi keadaan umumnya, perubahan warna kulit, pernafasan, kejang.
Rasionalisasi :
a. Lingkungan yang hangat dapat mempertahankan suhu tubuh bayi tetap
normal.
b. Mencegah penurunan suhu tubuh.
c. Kehilangan panas yang melebihi produksi panas akan menyebabkan
hipotermi.
d. Deteksi dini terjadinya hipotermi
e. Deteksi dini terhadap terjadinya hipotermi.
3.

Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan reflek


menghisap dan menelan kurang sempurna.
Tujuan

: Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi. ,

Kriteria hasil

a. Bayi dapat minum sesuai dengan kebutuhannya.


b. Rooting ada, reflek hisap dan daya telan baik.
c. BB tidak turun lebih dari 10 %g

d. HB dan albumin dalam batas normal.


e. Toleransi minum baik.
f. Capilary Refil Time kurang dari 3 detik.
Rencana tindakan :
a.
b.
c.
d.

Latih ibu untuk meneteki bayi sesering mungkin.


Berikan minum bayi sesuai dengan kebutuhan.
Pantau intake dan output.
Motivasi pada ibu agar dengan sabar dan telaten untuk meneteki bayinya.

Rasionalisasi :
a.
b.
c.
d.

Memenuhi kebutuhan nutrisi bayi serta memperlancar produksi ASI


Memenuhi kebutuhan minum sesuai dengan kebutuhan.
Deteksi dini terhadap dehidrasi.
Reflek menghisap dan menelan pada bayi dengan BBLR atau prematur
kurang sempuma sehingga harus dilatih.

4. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan lemahnya sistem kekebalan tubuh


bayi dan kemungkinan infeksi silang dari ibu maupun petugas kesehatan.
Tujuan

: infeksi tidak terjadi

Kriteria hasil

a. Suhu tubuh normal 36,5o 37,5C


b. Tidak ada tanda-tanda infeksi (letargis, malas minum, hipo/hipertermi,
tangis lemah atau merintih, retensi/muntah, diare, ikterus, gangguan nafas,
akral dingin, sklerem
c. Leukosit 5000-10000 /UI
Rencana tindakan :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi.


Kaji tanda-tanda infeksi.
Cegah kontak dengan orang yang terinfeksi.
Pertahankan prinsip aseptie sebelum kontak dengan pasien.
Pakai baju khusus/skort waktu masuk ruang isolasi/kamar bayi.
Lakukan perawatan tali pusat minimal 2x sehari.
Jaga kebersihan (badan /pakaian) dan lingkungan bayi.
Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian antibiotic.

Rasionalisasi :
a.
b.
c.
d.
e.

Mencegah penyebaran infeksi nosokomial


Deteksi dini adanya kelainan
Mencegah terjadinya penularan infeksi
Pada bayi baru lahir daya tahan tubuhnya rendah
Mencegah masuknya bakteri dari baju petugas ke bayi

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram
tanpa memandang masa gestasi.Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 (satu) jam
setelah lahir. Prevalensi bayi berat lahir sangat rendah (BBSLR) diperkirakan 15% dari seluruh
kelahiran di dunia dengan batasan 3,3%-38% dan lebih sering terjadi di negara-negara
berkembang atau sosio-ekonomi rendah.
Penyebab terbanyak terjadinya BBLSR adalah kelahiran prematur. Faktor ibu yang lain adalah
umur, paritas, dan lain-lain.
Faktor plasenta seperti penyakit vaskuler, kehamilan kembar/ganda, serta faktor janin juga
merupakanpenyebab terjadinya BBLSR
B. SARAN
Kami menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan baik
dalam sistematika penulisan maupun dari isi makalah, oleh karena itu untuk memperbaiki
makalah ini dan makalah-makalah selanjutnya kami berharap saran dan kritik yang membangun
demi perbaikan dimasa yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
http://blogkeperawatan.blogspot.com/p/bayi-baru-lahir-rendah-bblr.html
http://amelhaichi.blogspot.com/2011/11/askeb-bblr.html
http://duniapintardancemerlang.blogspot.com/2012/01/makalah-ikterik-pada-neonatus-bayidan.html
http://defiaanggreana.blogspot.com/2012/12/kata-pengantar-segala-puji-bagi-allah.html
bayi. Avaliable from : Suradi R. Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Melihat situasi dan kondisi
Birthweight. United Nations Childrens Fund/World Health Organization. Low
UNICEF, New York, 2004. Avaliable from :

http://www.childinfo.org/areas/birthweight.htm. Last Update : Nov 2007 [diakses tanggal 2


Desember 2007].