Anda di halaman 1dari 2

Metode

Gambaran CT scan heliks nasofaringeal dengan peningkatan kontras pada 8 anakanak (6 laki-laki;2 perempuan; dengan rata-rata usia 14 tahun) yang telah terbukti
secara histopatologis terdiagnosis NPC di rumah sakit kami antara 2006-2013 di
evaluasi kembali oleh seorang ahli radiologi pediatri (A. S. E) menggunakan
pengumpulan gambar dan sistem komunikasi (PACS). Data medis dan demografis
juga di review dan dicatat.

Seluruh pemeriksaan CT-scan di ambil menggunakan mesin single-detector heliks


dengan protokol kolimasi 5mm. Pitch 1:1, 120kVp dan 100ma untuk anak usia 7
tahun setelah pemberian injeksi 1,5-2ml cairan non ion radioopak. Dosis
disesuaikan berdasarkan usia dan berat badan pasien. Rata-rata waktu yang
dibutuhkan setiap pemeriksaan adalah 28 detik.

Data CT-Scan yang di rekam pada setiap pasien meliputi: asimetris dari nasofsring
dan orofaring, obliterasi pembukaan faring pada tuba eustachius, obliterasi fosa
rossenmuller, asimetris dari desakan piriform, ekstensi kedalam cavitas nasal,
gambaran dasar tengkorak, opaksifikasi mastoid, sinus sfeniod atau invasi orbital,
ekstensi pada fosa pterigopalatin, parafaringeal, ruang mastikator atau fisura
petroklival, gambaran unilateral atau bilateral dari limfadenopati cervikal atau
gambaran limfadenopati retrofaringeal.

Gejala klinis, stadium penyakit, jenis terapi yang diterima pasien dan status EBV
pasien juga dicatat.

Hasil

75% pasien adalah laki-laki. Dengan rentang usia 10-17 tahun dengan rata-rata usia
14 tahun. Gejala yang paling sering muncul adalah masa padat pada leher (89%)
diikuti obstruksi nasal (66%), nyeri kepala (44%) dan nyeri telinga (22%).

Hasil pemeriksaan fisik menunjukan pembesaran nodus limfatikus pada 7 dari 8


pasien. 55% terfiksasi. Demam, otitis unilateral, gambaran cap dan trismus
merupakan gejala yang paling sering mucul selanjutnya ; masing-masing muncul
pada 2 dari 8 pasien. Terdapat Rata-rata keterlambatan 3,5 bulan antara onset
gejala penyakit dan waktu masuk rumah sakit. Semua pasien yang berada pada
stadium 3 atau 4 juga disebabkan karena keterlambatan diagnosis. Evaluasi

histopatologis menunjukan 'karsinoma undiferensial' (tipe 3) pada 6 pasien (75%);


sedangkan 1 pasien (12,5%) menunjukan diferensiasi karsinoma sel skuamosa (tipe
1) dan 1 pasien (12,5%) menunjukan karsinoma non keratinisasi (tipe 2) yang telah
diklasifikasi oleh WHO. Satu pasien memiliki status EBV positif.
Asimetris nasofaringeal, obliterasi tuba eustachius dan fosa rosenmuller unilateral
atau bilateral (fig1) di halaman 12. Gambaran dasar tengkorak (fig 2) pada halaman
13 dan rongga parafaringeal unilateral dan bilateral ditemukan pada semua pasien.
Meskipun rongga parafaringeal ditemukan pada semua pasien, desakan hanya
ditunjukan pada 5 dari 8 pasien. Pada 3 pasien (37,5%) terdapat asimetris dari
orofaringeal (fig 4)di halaman 14. Pada 5 pasien (62,5%) massa membesar ke koana
posterior dan pada 1 pasien (12,5%) massa membesar kearah kavitas nasal (fig 3)
di halaman 15. Opasifikasi mastoid ditemukan positif unilateral pada 5 pasien
(62,5%) dan bilateral pada 2 pasien (25%). Karsinoma nasofaringeal berkembang
ke perbatasan fossa pterigiopalatin pada 5 pasien(62,5%) (fig 5) di halaman 16.
Fisura petroclival pada 6 pasien (75%) (fig5) di halaman 16. Rongga mastikator
pada 2 pasien (25%) (fig6) halaman 17. LAP servikal bilateral ditemukan pada 4
(50%), dan unilateral pada 3 (37,5%) pasien (fig7) halaman 18. LAP retrofaringeal
lateral (diameter transversal > 1 cm) terlihat pada 6 pasien ( 75%) (fig 8) halaman
19.