Anda di halaman 1dari 10

PENGERTIAN HUKUM

Hukum adalah suatu sistem yang dibuat manusia untuk membatasi tingkah laku manusia agar
tingkah laku manusia dapat terkontrol , hukum adalah aspek terpenting dalam pelaksanaan
atas rangkaian kekuasaan kelembagaan, Hukum mempunyai tugas untuk menjamin adanya
kepastian hukum dalam masyarakat. Oleh karena itu setiap masyarat berhak untuk mendapat
pembelaan didepan hukum sehingga dapat di artikan bahwa hukum adalah peraturan atau
ketentuan-ketentuan tertulis maupun tidak tertulis yang mengatur kehidupan masyarakat dan
menyediakan sangsi bagi pelanggarnya.
TUJUAN HUKUM
Tujuan hukum mempunyai sifat universal seperti ketertiban, ketenteraman, kedamaian,
kesejahteraan dan kebahagiaan dalam tata kehidupan bermasyarakat. Dengan adanya hukum
maka tiap perkara dapat di selesaikan melaui proses pengadilan dengan prantara hakim
berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku,selain itu Hukum bertujuan untuk menjaga dan
mencegah agar setiap orang tidak dapat menjadi hakim atas dirinya sendiri.
JENIS-JENIS HUKUM DI INDONESIA
Hukum secara umum dapat dibagi menjadi dua, yaitu Hukum Publik dan Hukum Privat.
Hukum pidana merupakan hukum publik, artinya bahwa Hukum pidana mengatur hubungan
antara para individu dengan masyarakat serta hanya diterapkan bilamana masyarakat itu
benar-benar memerlukan.
1. Hukum perdata
A. Pengertian Perikatan
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tidak memberikan rumusan, definisi, maupun
anti istilah "perikatan". Diawali dengan ketentuan Pasal 1233, yang menyatakan bahwa
"Tiap-tiap perikatan dilahirkan baik karena persetujuan, baik karena undangundang",
ditegaskan bahwa setiap kewajiban perdata dapat terjadi karena dikehendaki oleh pihakpihak yang terkait dalam perikatan yang secara sengaja dibuat oleh mereka, ataupun
karena ditentukan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dengan demikian
berarti perikatan adalah hubungan hukum antara dua atau lebih orang (pihak) dalam
bidangAapangan harta kekayaan, yang melahirkan kewajiban pada salah satu pihak
dalam hubungan, hukum tersebut. Pada pasal 1313 KUHP merumuskan pengertian
perjanjian, adalah : suatu perbuatan satu orang atau lebih mengikatkan
dirinya terhadap satu orang atau lebih.

1. Sewa menyewa
Sewa-menyewa adalah suatu perjanjian dengan mana pihak yang
satu mengikatkan dirinya untuk memberikan kepada pihak yang
lainnya kenikmatan dari sesuatu barang, selama suatu waktu
tertentu dan dengan pembayaran suatu harga yang oleh pihak
yang
tersebut
terakhir
itu
disanggupi
pembayarannya.
Demikianlah defenisi yang diberikan oleh Pasal 1548 B.W.
mengenai perjanjian sewa-menyewa.

Hukum pidana
Hukum Pidana adalah keseluruhan dari peraturan-peraturan yang menentukan perbuatan apa
yang dilarang dan termasuk ke dalam tindak pidana, serta menentukan hukuman apa yang
dapat dijatuhkan terhadap yang melakukannya.[1]
Menurut Prof. Moeljatno, S.H. Hukum Pidana adalah bagian daripada keseluruhan hukum
yang berlaku di suatu negara, yang mengadakan dasar-dasar dan aturan-aturan untuk [2]:
1. Menentukan perbuatan-perbuatan mana yang tidak boleh dilakukan dan yang
dilarang, dengan disertai ancaman atau sanksi yang berupa pidana tertentu bagi
barang siapa yang melanggar larangan tersebut.[2]
2. Menentukan kapan dan dalam hal-hal apa kepada mereka yang telah melanggar
larangan-larangan itu dapat dikenakan atau dijatuhi pidana sebagaimana yang telah
diancamkan.[2]
3. Menentukan dengan cara bagaimana pengenaan pidana itu dapat dilaksanakan apabila
ada orang yang disangka telah melanggar larangan tersebut.[2]
Sedangkan menurut Sudarsono, pada prinsipnya Hukum Pidana adalah yang mengatur
tentang kejahatan dan pelanggaran terhadap kepentingan umum dan perbuatan tersebut
diancam dengan pidana yang merupakan suatu penderitaan.[3]
Dengan demikian hukum pidana bukanlah mengadakan norma hukum sendiri, melainkan
sudah terletak pada norma lain dan sanksi pidana. Diadakan untuk menguatkan ditaatinya
norma-norma lain tersebut, misalnya norma agama dan kesusilaan.[3]

Sumber-Sumber Hukum Pidana


Sumber Hukum Pidana dapat dibedakan atas sumber hukum tertulis dan sumber hukum yang
tidak tertulis.[4]Di Indonesia sendiri, kita belum memiliki Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana Nasional, sehingga masih diberlakukan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
warisan dari pemerintah kolonial Hindia Belanda.[3] Adapun sistematika Kitab UndangUndang Hukum Pidana antara lain[4] :
1. Buku I Tentang Ketentuan Umum (Pasal 1-103).[4]
2. Buku II Tentang Kejahatan (Pasal 104-488).[4]
3. Buku III Tentang Pelanggaran (Pasal 489-569).[4]
Dan juga ada beberapa Undang-undang yang mengatur tindak pidana khusus yang dibuat
setelah kemerdekaan antara lain[3]:

1. UU No. 8 Drt Tahun 1955 Tentang tindak Pidana Imigrasi.[3]


2. UU No. 9 Tahun 1967 Tentang Norkoba.[3]
3. UU No. 16 Tahun Tahun 2003 Tentang Anti Terorisme.[3] dll
Ketentuan-ketentuan Hukum Pidana, selain termuat dalam Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana maupun UU Khusus, juga terdapat dalam berbagai Peraturan Perundang-Undangan
lainnya, seperti UU. No. 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, UU
No. 9 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, UU No. 19 Tahun 2002 Tentang Hak
Cipta dan sebagainya.[3]

Asas-Asas Hukum Pidana


1. Asas Legalitas, tidak ada suatu perbuatan dapat dipidana kecuali atas kekuatan aturan
pidana dalam Peraturan Perundang-Undangan yang telah ada sebelum perbuatan itu
dilakukan (Pasal 1 Ayat (1) KUHP).[butuh rujukan] Jika sesudah perbuatan dilakukan ada
perubahan dalam Peraturan Perundang-Undangan, maka yang dipakai adalah aturan
yang paling ringan sanksinya bagi terdakwa (Pasal 1 Ayat (2) KUHP)
2. Asas Tiada Pidana Tanpa Kesalahan, Untuk menjatuhkan pidana kepada orang yang
telah melakukan tindak pidana, harus dilakukan bilamana ada unsur kesalahan pada
diri orang tersebut.[4]
3. Asas teritorial, artinya ketentuan hukum pidana Indonesia berlaku atas semua
peristiwa pidana yang terjadi di daerah yang menjadi wilayah teritorial Negara
Kesatuan Republik Indonesia, termasuk pula kapal berbendera Indonesia, pesawat
terbang Indonesia, dan gedung kedutaan dan konsul Indonesia di negara asing (pasal 2
KUHP).
4. Asas nasionalitas aktif, artinya ketentuan hukum pidana Indonesia berlaku bagi semua
WNI yang melakukan tindak pidana di mana pun ia berada (pasal 5 KUHP).
5. Asas nasionalitas pasif, artinya ketentuan hukum pidana Indonesia berlaku bagi
semua tindak pidana yang merugikan kepentingan negara (pasal 4 KUHP).

Macam-Macam Pembagian Delik


Dalam hukum pidana dikenal macam-macam pembagian delik ke dalam[5] :
1. Delik yang dilakukan dengan sengaja, misalnya, sengaja merampas jiwa orang lain
(Pasal 338 KUHP) dan delik yang disebabkan karena kurang hati-hati, misalnya,
karena kesalahannya telah menimbulkan matinya orang lain dalam lalu lintas di jalan.
(Pasal 359 KUHP).[5]
2. Menjalankan hal-hal yang dilarang oleh Undang-undang, misalnya, melakukan
pencurian atau penipuan (Pasal 362 dan378 KUHP) dan tidak menjalankan hal-hal
yang seharusnya dilakukan menurut Undang-undang, misalnya tidak melapor adanya
komplotan yang merencanakan makar.[5]

3. Kejahatan (Buku II KUHP), merupakan perbuatan yang sangat tercela, terlepas dari
ada atau tidaknya larangan dalam Undang-undang. Karena itu disebut juga sebagai
delik hukum.[5]
4. pelanggaran (Buku III KUHP), merupakan perbuatan yang dianggap salah satu justru
karena adanya larangan dalam Undang-undang. Karena itu juga disebut delik
Undang-undang.[5]

Macam-Macam Pidana
Mengenai hukuman apa yang dapat dijatuhkan terhadap seseorang yang telah bersalah
melanggar ketentuan-ketentuan dalam undang-undang hukum pidana, dalam Pasal 10 KUHP
ditentukan macam-macam hukuman yang dapat dijatuhkan, yaitu sebagai berikut:
Hukuman-Hukuman Pokok
1. Hukuman mati, tentang hukuman mati ini terdapat negara-negara yang telah
menghapuskan bentuknya hukuman ini, seperti Belanda, tetapi di Indonesia sendiri
hukuman mati ini kadang masih diberlakukan untuk beberapa hukuman walaupun
masih banyaknya pro-kontra terhadap hukuman ini.[5]
2. Hukuman penjara, hukuman penjara sendiri dibedakan ke dalam hukuman penjara
seumur hidup dan penjara sementara.[5] Hukuman penjara sementara minimal 1 tahun
dan maksimal 20 tahun. Terpidana wajib tinggal dalam penjara selama masa hukuman
dan wajib melakukan pekerjaan yang ada di dalam maupun di luar penjara dan
terpidana tidak mempunyai Hak Vistol.[4]
3. Hukuman kurungan, hukuman ini kondisinya tidak seberat hukuman penjara dan
dijatuhkan karena kejahatan-kejahatan ringan atau pelanggaran.[butuh rujukan] Biasanya
terhukum dapat memilih antara hukuman kurungan atau hukuman denda.[butuh rujukan]
Bedanya hukuman kurungan dengan hukuman penjara adalah pada hukuman
kurungan terpidana tidak dapat ditahan di luar tempat daerah tinggalnya kalau ia tidak
mau sedangkan pada hukuman penjara dapat dipenjarakan di mana saja, pekerjaan
paksa yang dibebankan kepada terpidana penjara lebih berat dibandingkan dengan
pekerjaan yang harus dilakukan oleh terpidana kurungan dan terpidana kurungan
mempunyai Hak Vistol (hak untuk memperbaiki nasib) sedangkan pada hukuman
penjara tidak demikian.[5]
4. Hukuman denda, Dalam hal ini terpidana boleh memilih sendiri antara denda dengan
kurungan. [5] Maksimum kurungan pengganti denda adalah 6 Bulan.[4]
5. Hukuman tutupan, hukuman ini dijatuhkan berdasarkan alasan-alasan politik terhadap
orang-orang yang telah melakukan kejahatan yang diancam dengan hukuman penjara
oleh KUHP.[5]
Hukuman Tambahan Hukuman tambahan tidak dapat dijatuhkan secara tersendiri melainkan
harus disertakan pada hukuman pokok, hukuman tambahan tersebut antara lain:
1. Pencabutan hak-hak tertentu.[5]

2. Penyitaan barang-barang tertentu.[5]


3. Pengumuman keputusan hakim.[5]

Hukum pajak
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa

Hukum pajak adalah hukum yang bersifat public dalam mengatur hubungan negara dan
orang/badan hukum yang wajib untuk membayar pajak.[1] Selain itu, hukum pajak diartikan
sebagai keseluruhan dari peraturan-peraturan yang mencakup tentang kewenangan
pemerintah untuk mengambil kekayaan seseorang dan menyerahkan kembali kepada
masyarakat melalui uang/kas negara.[1]
Hukum pajak dibedakan menjadi dua bagian, yaitu :
1. Hukum pajak formal adalah hukum pajak yang memuat adanya ketentuan-ketentuan dalam
mewujudkan hukum pajak material menjadi kenyataan.[1]
2. Hukum pajak material adalah hukum pajak yang memuat tentang ketentuan-ketentuan
terhadap siapa yang dikenakan pajak dan siapa yang dikecualikan dengan pajak serta berapa
harus dibayar.[1]
Selain itu, hukum pajak juga merupakan bagian dari hukum publik.[2] Hal ini disebabkan
karena hukum pajak mengatur hubungan antara pemerintah dengan wajib pajak atau warga
negara.[2] Meski demikian, walaupun hukum pajak merupakan bagian dari hukum publik,
namun hukum pajak juga banyak berkaitan dengan hukum privat, yakni hukum perdata.[2] Hal
ini dikarenakan hukum pajak banyak berkaitan dengan materi-materi perdata seperti
kekayaan seseorang atau badan hukum yang diatur dalam hukum perdata namun menjadi
salah satu obyek dalam hukum pajak.[2]

Beberapa hal yang diatur dalam hukum pajak :

Siapa yang menjadi subjek pajak dan wajib pajak

Objek apa saja yang menjadi objek pajak

Kewajiban pajak terhadap pemerintah

Timbul dan hapusnya utang pajak

Cara penagihan pajak

Cara mengajukan keberatsan dan banding

Tugas hukum perpajakan


Menelaah keadaan-keadaan dalam masyarakat yang dapat dihubungkan dengan pengenaan
pajak, merumuskannya dalam peraturan-peraturan hukum dan menafsirkan peraturanperaturan hukum itu. yang penting disini adalah tidak boleh diabaikan latar belakang
ekonomis dari keadaan-keadaan dalam masyarakat.
Luasnya hukum perpajakan erat hubungannya dengan klehidupan masyarakat terutama
dibidang kehidupan ekonomi dalam masyarakat, maka peraturan-peraturan perpajakan sering
berubah-ubah atau mengharuskan perubahan-perubahan peraturan pajaknya. Artinya cara
pengatran pajak harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat sebagai reaksi dari
perubahan dalam kehidupan ekonomi masyarakat itu.

Hukum pajak dibedakan atas :


1. Hukum pajak material
Yaitu : memuat ketentuan-ketentuan tentang siapa yang dikenakan pajak dan siapa-siapa yang
dikecualikan dengan pajak dan berapa yang harus dibayar.
2. Hukum pajak formal
Yaitu : memuat ketentuan-ketentuan bagaimana mewujudkan hukum pajak material menjadi
kenyataan.

Kedudukan Hukum Pajak Di indonesia


Sistem hukum pajak yang berlaku di Indonesia saat ini adalah civil law system atau sistem
Eropa kontinental. Didalam sistem ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu hukum privat dan
hukum publik.
1. Hukum privat adalah hukum yang mengatur hubungan antara sesama individu dalam
kedudukan yang sederajat, misalnya hukum perjanjian, hukum kewarisan, hukum
keluarga, dan hukum perkawinan.
2. Hukum publik adalah hukum yang mengatur hubungan antara negara dengan warga
negara atau dengan kata lain, hukum yang mengatur kepentingan umum. Hukum
publik ini berurusan dengan hal-hal yang berhubungan dengan masalah-masalah
kenegaraan serta negara bagaimana melaksanakan tugasnya.

Ketentuan Umum Perpajakan di Indonesia

Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan adalah segala pengertian, ketentuan, peraturan
dan hal-hal yang menyangkut perpajakan menurut Undang-Undang No. 6 Tahun 1983
sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Republik Indonesia No. 16 Tahun
2000 (UU KUP).

Hukum agraria

Hukum agraria dalam arti luas ialah keseluruhan kaidah-kaidah hukum


baik tertulis maupun tidak tertulis yang mengatur mengenai bumi, air dan
dalam batas-batas tertentu juga ruang angkasa serta kekayaan alam yang
terkandung didalamnya.

Hak-hak atas tanah


Hak milik

Dasar hukum untuk pemilikan hak milik atas tanah yaitu pasal 20-27 UUPA

Mempunyai sufat turun temurun

Terkuat dan terpenuh

Mempunyai fungsi social

Dapat beralih atau dialihkan

Dibatasi oleh ketentan sharing (batas maksimal) dan dibatasi oleh jumlah penduduk
Batas waktu hak milik atas tanah adalah tidak ada batas waktu selama kepemilikan itu sah
berdasar hukum
Subyek hukum hak milik atas tanah yaitu WNI asli atau keturunan, badan hukum tertentu
Hak guna bangunan
Hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai oleh Negara dalam jangka waktu tertentu
sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 29 UUPA untuk perusahaan pertanian atau
peternakan.

Jangka waktu 25 tahun dan perusahaan yang memerlukan waktu yang cukup lama bisa
diberikan selama 35 tahun

Hak yang harus didaftarkan

Dapat beralih karena pewarisan

Obyek HGU yaitu tanah negara menurut pasal 28 UUPA jo pasal 4 ayat 2, PP 40/96

Apa bila tanah yang dijadikan obyek HGU tersebut merupakan kawasan hutan yang dapat
dikonversi maka terhadap tanah tersebut perlu dimintakan dulu perlepasan kawasan hutan
dari menteri kehutanan (pasal 4 ayat 2 UUPA, PP 40/96).
Apabila tanah yang dijadikan obyek HGU adalah tanah yanh sah mempunyai hak maka hak
tersebut harus dilepaskan dulu (pasal 4 ayat 3, PP 40/96)
Dalam hal tanah yang dimohon terhadap tanaman dan atau bangunan milik orang lain yang
keberadaannya atas hak ayang ada maka pemilik tanaman atau bangunan tersebut harus
mendapat ganti rugi dari pemegang hak baru (pasal 4 ayat 4, PP 40/96)
Perseroan terbatas
Akta pendirian sebuah Perseroan Terbatas (Perseroan) memuat anggaran dasar Perseroan
dan keterangan lain yang berkaitan dengan pendirian Perseroan. Pasal 15 Undang-Undang
Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT) mengatur bahwa anggaran
dasar Perseroan harus sekurang-kurangnya memuat:
1. nama dan tempat kedudukan Perseroan;
2. maksud dan tujuan serta kegiatan usaha Perseroan;
3. jangka waktu berdirinya Perseroan;
4. besarnya jumlah modal dasar, modal ditempatkan, dan modal disetor;
5. jumlah saham, klasifikasi saham apabila ada berikut jumlah saham untuk tiap
klasifikasi, hak-hak yang melekat pada setiap saham, dan nilai nominal setiap saham;
6. nama jabatan dan jumlah anggota Direksi dan Dewan Komisaris;
7. penetapan tempat dan tata cara penyelenggaraan RUPS;
8. tata cara pengangkatan, penggatian, pemberhentian anggota Direksi dan Dewan
Komisaris;
9. tata cara penggunaan laba dan pembagian deviden.

Dalam melangsungkan suatu bisnis, para pengusaha membutuhkan suatu wadah untuk dapat
bertindak melakukan perbuatan hukum dan bertansaksi. Pemilihan jenis badan usaha ataupun
badan hukum yang akan dijadikan sebagai sarana usaha tergantung pada keperluan para
pendirinya. Sarana usaha yang paling populer digunakan adalah Perseroan terbatas (PT),
karena memiliki sifat, ciri khas dan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bentuk badan
usaha lainnya, yaitu:
Merupakan bentuk persekutuan yang berbadan hukum
Merupakan kumpulan modal/saham
Memiliki kekayaan yang terpisah dari kekayaan para perseronya

Pemegang saham memiliki tanggung jawab yang terbatas


Adanya pemisahan fungsi antara pemegang saham dan pengurus
atau direksi
Memiliki komisaris yang berfungsi sebagai pengawas
Kekuasaan tertinggi berada pada RUPS
Dasar Hukum pembentukan PT, masing-masing sebagai berikut:
PT Tertutup (PT Biasa) : berdasarkan UU No. 40/2007 tentang Perseroan Terbatas ( iicompanylawelucidation-law40.pdf )
PT. Terbuka (PT go public):
berdasarkan UU No. 40/2007 dan UU No. 8/1995 tentang Pasar
Modal
PT. PMDN : berdasarkan UU No. 6/1968 juncto UU No. 12/1970
PT. PMA : berdasarkan UU No. 1/1967 juncto UU No. 11/1970 tentang PMA
PT. PERSERO
berdasarkan UU No. 9/1968 tentang Bentuk-Bentuk Usaha Negara
juncto PP No. 12/1998 tentang Perusahaan Perseroan
Adapun syarat-syarat pendirian PT secara formal berdasarkan UU No. 40/2007 (i-companylaw-law-40.pdf) adalah sebagai berikut:
1.Pendiri minimal 2 orang atau lebih (ps. 7(1))
2.Akta Notaris yang berbahasa Indonesia
3.Setiap pendiri harus mengambil bagian atas saham, kecuali dalam
rangka peleburan (ps. 7 ayat 2 & ayat 3)
4.Akta pendirian harus disahkan oleh Menteri kehakiman dan
diumumkan dalam BNRI (ps. 7 ayat 4)
5.Modal dasar minimal Rp. 50jt dan modal disetor minimal 25% dari
modal dasar (ps. 32, ps 33)
6.Minimal 1 orang direktur dan 1 orang komisaris (ps. 92 ayat 3 &
ps. 108 ayat 3)
7.Pemegang saham harus WNI atau Badan Hukum yang didirikan
menurut hukum Indonesia, kecuali PT. PMA
Sedangkan persyaratan material berupa kelengkapan dokumen yang harus disampaikan
kepada Notaris pada saat penanda-tanganan akta pendirian adalah:
1. KTP dari para Pendiri (minimal 2 orang dan bukan suami isteri).
Kalau pendirinya cuma suami isteri (dan tidak pisah harta) maka,
harus ada 1 orang lain lagi yang bertindak sebagai pendiri/
pemegang saham
2. Modal dasar dan modal disetor.
Untuk menentukan besarnya modal dasar, modal ditempatkan
dan modal disetor ada strateginya. Karena semua itu tergantung
pada jenis/kelas SIUP yang di inginkan. Penentuan kelas SIUP
bukan berdasarkan besarnya modal dasar, melainkan
berdasarkan besarnya modal disetor ke kas Perseroan.

Kriterianya adalah:
1. SIUP Kecil modal disetor s/d Rp. 200jt
2. SIUP Menengah modal disetor Rp. 201jt s/d Rp. 500jt
3. SIUP Besar modal disetor > Rp. 501jt
Besarnya modal disetor sebaiknya maksimum sampai dengan 50% dari modal dasar, untuk
memberikan kesempatan bagi Perusahaan apabila sewaktu-waktu akan mengeluarkan saham
dalam simpanan, tidak perlu meningkatkan modal dasar lagi. Namun demikian, boleh juga
modal dasar = Modal disetor. Tergantung dari kebutuhan.
3. Jumlah saham yang diambil oleh masing-masing pendiri
(presentase nya)
Misalnya: A = 25% B = 50% C = 25%
4. Susunan Direksi dan komisaris serta jumlah Dewan Direksi dan Dewan Komisaris
Sedangkan untuk ijin2 perusahaan berupa surat keterangan domisili Perusahaan, NPWP
perusahaan, SIUP, TDP/WDP dan PKP, maka dokumen-dokumen pelengkap yang diperlukan
adalah:
1. Kartu Keluarga Direktur Utama
2. NPWP Direksi (kalau tidak ada, minimal Direktur Utama)
3. Copy Perjanjian Sewa Gedung berikut surat keterangan domisili
dari pengelola gedung (apabila kantornya berstatus sewa)
apabila berstatus milik sendiri, yang dibutuhkan:
-copy sertifikat tanah dan
-copy PBB terakhir berikut bukti lunasnya
4. Pas photo Direktur Utama/penanggung jawab ukuran 3X4
sebanyak 2 lembar
5. Foto kantor tampak depan, tampak dalam (ruangan berisi meja,
kursi, komputer berikut 1-2 orang pegawainya). Biasanya ini
dilakukan untuk mempermudah pada waktu survey lokasi untuk
PKP atau SIUP
6. Stempel perusahaan (sudah ada yang sementara untuk pengurusan ijin2).
Penting untuk diketahui, bahwa pada saat tanda-tangan akta pendirian, dapat langsung diurus
ijin domisili, dan NPWP. Setelah itu bisa membuka rekening atas nama Perseroan. Setelah
rekening atas nama perseroan dibuka,maka dalam jangka waktu max 1 bulan sudah harus
menyetor dana sebesar Modal disetor ke rekening perseroan, utk dapat diproses
pengesahannya. Karena apabila lewat dari 60 (enam puluh) hari sejak penanda-tanganan akta,
maka perseroan menjadi bubar berdasarkan pasal 10 ayat 9 UU PT No. 40/2007.