Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bumi adalah planet ketiga dari matahari dan pada dasarnya bentuk Bumi
adalah bulat namun tidak bulat sempurna, tetapi tepat pada kedua kutubnya dan agak
menggembung di sekitar khatulistiwa. Bumi memiliki diameter sepanjang 12.756
kilometer. Gravitasi Bumi diukur sebagai 10 N kg-1 dijadikan unit ukuran gravitasi
planet lain dengan gravitasi Bumi dipatok sebagai 1. Dan kita tahu bahwa 70,8%
permukaan Bumi diliputi oleh air dan udara, Bumi terdiri dari 78% nitrogen, 21%
oksigen, 1% uap air, karbondioksida dan gas lain.
Bulan merupakan satelit dari planet Bumi. Bulan tidak memancarkan cahaya
sendiri melainkan mendapat cahaya dari sinar Matahari, yang kemudian dipantulkan
kembali sehingga seolah-olah Bulan bersinar seperti benda langit lainnya. Massa
Bulan adalah 7,4x1022 kg dengan jarak rata-rata Bulan ke Bumi sekitar 384.402 km.
Jarak terdekatnya sekitar 356.400 km dan jarak terjauhnya 406.700 km. Di Bulan
tidak terdapat atmosfer sehingga hanya berupa batuan dan debu. Suhu di Bulan sangat
dipengaruhi perubahan dari luar sehingga berubah dengan sangat cepat. Hal ini
menyebabkan suhu permukaan terkena sinar Matahari dan tidak akan jauh berbeda.
Bagian Bulan yang tersinari bisa memiliki suhu 110C sedangkan bagian belakang
mencapai -173C.
Berbeda dengan Bumi, Bulan tidak mempunyai atmosfer sehingga permukaan
Bulan berhubungan langsung dengan luar angkasa. Oleh karena itu di Bulan tidak
ditemukan kehidupan karena tidak tersedianya udara dan air. Dalam peredarannya,
Bulan melakukan tiga gerakan sekaligus yaitu rotasi, revolusi, dan bersama-sama
dengan Bumi mengitari Matahari. Periode rotasinya sama dengan periode
revolusinya. Rotasi Bulan memiliki dua macam periode. Periode pertama adalah
periode sideris atau bulan sideris, periode ini mengacu ke satu bintang jauh selain
Matahari. Satu bulan sideris kira-kira 27,3 hari. Periode kedua adalah periode sinodis
yang mengacu ke Matahari. Satu bulan sinodis kira-kira 29,5 hari.
Seperti yang kita ketahui, Bulan bergerak mengelilingi Bumi. Bumi pun bersama
Bulan mengelilingi Matahari. Pergerakan Bumi dan Bulan ini menyebabkan
terjadinya gejala alam yang disebut gerhana.Gerhana adalah peristiwa terhalangnya
sinar matahari oleh Bumi atau bulan sehingga Bumi atau bulan tidak mendapatkan
sinar matahari. Gerhana disebabkan adanya bayangan yang dibentuk Bumi atau bulan
yang terletak dalam satu garis Bayangan tersebut mempunyai dua bagian, yaitu:

1. Daerah bayangan inti dinamakan umbra. Umbra berbentuk kerucut yang


semakin mengecil begitu menjauh dari Bumi atau bulan. Umbra bulan
panjangnya 370.000 km, sedangkan umbra Bumi panjangnya 1.376.000
km.
2. Daerah bayangan kabur (sebagian) dinamakan penumbra.
Ada dua (2) macam gerhana, yaitu gerhana bulan dan gerhana matahari.

2.1 Rumusan Masalah


1. Apa hal yang disebabkan oleh gerak semu harian dan tahunan matahari?
2. Mengapa penampakan bulan selalu terlihat berubah?
3. Bagiamana proses terjadinya gerhana bulan dan matahari?
4. Apa penyebab terjadinya gaya pasang surut air laut?

1.2 Tujuan
1. Mengetahui hal yang disebabkan oleh gerak semu harian dan tahunan matahari
2. Mengetahui tentang terjadinya penampakan bulan yang selalu terlihat berubah
3. Mengetahui proses terjadinya gerhana bulan dan matahari
4. Mengetahui penyebab terjadinya gaya pasang surut air laut

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Gerakan Bumi
Dalam pergerakan mengikuti orbitnya, Bumi melakukan dua rotasi sekaligus,
yaitu rotasi terhadap sumbunya yang disebut rotasi Bumi dan rotasinya terhadap
Matahari yang disebut revolusi Bumi. Untuk mengetahui gerakan Bumi, perhatikan

saat bangun dipagi hari, bukalah jendela kamar dan lihatlah kearah timur, maka akan
terlihat matahari terbit, kemudian pada saat siang hari posisi matahari berpindah
seolah-olah ada diatas kepala kita, dan kemudian menjelang malam, matahari akan
turun dan terbenam di sebelah barat. Hal tersebut membuktikan bahwa Bumi
melakukan perputaran pada porosnya mengitari matahari dan menyebabkan adanya
perbedaan waktu.
2.1.1 Rotasi Bumi
Rotasi Bumi adalah perputaran Bumi pada porosnya. Arah rotasi Bumi dari
barat ke timur. Adanya pengamatan terhadap benda-benda langit yang terbit di
sebelah timur dan terbenam di sebelah barat menunjukkan bahwa Bumi berotasi dari
barat ke timur, yaitu berlawanan dengan perputaran jarum jam. Perioda rotasi adalah
sekitar 1 hari atau 23 jam 56 menit 4,09 detik, kemudian dibulatkan menjadi 24 jam..
Rotasi Bumi menyebabkan berbagai peristiwa. Di antaranya adalah menyebabkan
terjadinya siang dan malam, gerak semu harian benda langit, terjadi pemetaan bentuk
Bumi di daerah kutub dan penggembungan di daerah ekuator, pembelokan arah
angin, menyebabkan terjadinya perbedaan waktu untuk tempat-tempat yang berbeda
derajat bujurnya.

Gambar. Kemiringan sumbu Bumi

Bidang edar Bumi mengelilingi Matahari disebut ekliptika. Arah revolusi Bumi
berlawanan dengan arah putaran jarum jam. Selama berevolusi, sumbu Bumi miring
66,5 terhadap bidang ekliptika dengan arah yang sama. Kemiringan sumbu Bumi ini
mengakibatkan Matahari tampak bergerak ke utara hingga 23,5 lintang utara) dan
23,5 lintang selatan.
a. Peredaran Semu Harian Benda-Benda Langit
Jika kita amati benda-benda langit, tampak benda-benda itu bergerak dari
timur, lalu naik lewat di atas kepala kita dan akhirnya terbenam di sebelah barat.
Saat kita naik kereta api, dari jendela kita melihat ke luar tampak pohon-pohon,
dan rumah-rumah seakan-akan bergerak menuju kita kemudian melewati dan
menjauhi kita. Gerakan pohon, dan rumah merupakan gerak semu. Sekarang
kita berada di Bumi yang berotasi dari barat ke timur. Hal itu adalah gerak yang

sebenarnya dan disebut peredaran harian. Akibat rotasi Bumi, benda-benda


langit tampak melakukan peredaran semu harian dari tumur ke barat.
b. Terjadinya Siang dan Malam
Bumi mendapat sinar matahari. Setengah dari permukaan Bumi secara
bergantian menghadap ke matahari. Bagian Bumi yang menghadap matahari
terjadi siang dan bagian yang lain malam.
c. Perbedaan Waktu
Sekali berotasi, semua tempat di Bumi telah berputar 360 dan ditempuh
dalam waktu 24 jam. Setiap perbedaan 15 garis bujur mempunyai perbedaan
waktu 1 jam. Berdasarkan hal tersebut, Bumi dibagi menjadi 24 daerah waktu
dan setiap daerah besarnya 15. Sebagian standar waktu, ditetapkan waktu pada
bujur 0 yang melewati kota Greenwich dekat London yang disebut waktu
pangkal atau GMT (Greenwich Mean Time).

Gambar. Zona waktu

Indonesia mempunyai pembagian tiga daerah waktu yang telah ditetapkan


1 Januari 1964. Kemudian, pada tanggal 1 Januari 1988 disempurnakan lagi,
yaitu sebagai berikut:

105BT untuk daerah waktu Indonesia Barat (WIB), meliputi Sumatera, Jawa,
Madura, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah. WIB = GMT + 7 jam.

102BT untuk daerah waktu Indonesia Tengah (WITA), meliputi Kalimantan


Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi, Bali, dan Nusa Tenggara. WIB = GMT
+ 8jam Jam

135BT untuk daerah waktu Indonesia Timur (WIT), meliputi Maluku dan
Irian Jaya. WIB = GMT + 9 jam Jam.

d. Pembelokan arah angin


Pembelokan arah angin berdasarkan hukum Buys Ballot yang berbunyi:
1. Udara bergerak dari tempat yang bertekanan tinggi ke tempat yang bertekanan
rendah,
2. Di belahan Bumi selatan, angin membelok ke kiri, sedangkan di belahan Bumi
utara angin membelok ke kanan.

e. Pembelokan arah arus laut


Gerak pembelokan arah angin dan arus laut disebut efek Coriolis. Arus
laut memang disebabkan oleh angin. Di belahan Bumi utara, arus laut
membelok searah jarum jam, sedangkan di belahan Bumi selatan, arus laut
membelok berlawanan arah jarum jam. Akibat rotasi Bumi, bentuk Bumi tidak
bulat sempurna, tetapi agak lonjong (elips). Diameter Bumi di daerah kutub
sebesar 12.714 km, sedangkan di daerah khatulistiwa 12.757 km.
2.1.2 Revolusi Bumi
Selain perputaran Bumi pada porosnya, Bumi juga melakukan rotasi lain yaitu
perputaran Bumi mengitari matahari yang disebut dengan revolusi Bumi. Bumi
mengitari matahari pada garis edar yang teratur. Garis edar ini disebut orbit. Gerakan
Bumi mengelilingi matahari disebut revolusi Bumi. Satu tahun di Bumi adalah waktu
yang dibutuhkan oleh Bumi untuk mengelilingi matahari pada orbitnya, satu kali
putaran, yaitu selama 365 1/4 hari. Waktu untuk berevolusi ini disebut juga kala
revolusi.Revolusi Bumi menyebabkan hal-hal berikut:
a. Terjadi gerak semu tahunan matahari
Matahari tidak setiap saat berada di khatulistiwa. pada tanggal 21 Maret,
matahari berada di khatulistiwa untuk waktu tiga bulan (21 Maret21 Juni), matahari
mulai bergeser dari khatulistiwa menuju ke GBU (Garis Balik Utara = garis
23,5oLU). Tiga bulan berikutnya (21 Juni23 September) matahari bergeser lagi dari
GBU menuju ke khatulistiwa. Tiga bulan berikutnya lagi (23 September22
Desember), matahari bergeser lagi dari khatulistiwa menuju ke GBS (Garis Balik
Selatan = garis 23,5oLS). Akhirnya, tiga bulan berikutnya (22 Desember21 Maret),
matahari bergeser lagi dari GBS menuju kembali ke khatulistiwa.
b. Terjadi perbedaan lamanya siang dan malam
Adanya kemiringan sumbu Bumi 23,5o menyebabkan perbedaan lama siang
dan malam. Pada saat matahari berada di khatulistiwa (21 Maret dan 23 September)
semua tempat di Bumi, kecuali di kutub mempunyai waktu siang dan malam yang
sama, yaitu 12 jam. Pada saat matahari berada di GBU, maka belahan Bumi utara
mengalami siang lebih lama dibandingkan malam hari, sedangkan belahan Bumi
selatan mengalami siang hari lebih pendek dibandingkan malam hari. Pada saat
matahari berada di GBS, maka belahan Bumi selatan mengalami siang hari lebih lama
dibandingkan malam hari, sedangkan belahan Bumi utara mengalami siang lebih
pendek dibandingkan malam hari.
c. Pergantian musim

Adanya kemiringan sumbu Bumi 23,5o mengakibatkan kecondongan arah


sumbu Bumi berubah ubah, sehingga mengakibatkan juga terjadinya pergantian
musim. Adapun, pergantian musim diBumi adalah sebagai berikut:

21 Maret - 21 Juni
Kutub utara Bumi makin condong ke arah matahari, sedangkan kutub
selatan Bumi makin condong menjauhi matahari. Akibatnya, belahan Bumi
utara mengalami musim semi (spring), sedangkan belahan Bumi selatan
mengalami musim gugur (autumn).

21 Juni - 23 September
Kutub utara Bumi condong menjauhi matahari, sedangkan kutub
selatan Bumi condong ke matahari. Akibatnya, belahan Bumi utara
mengalami musim panas (summer), sedangkan belahan Bumi selatan
mengalami musim dingin (winter).

23 September - 22 Desember
Kutub utara Bumi makin condong menjauhi matahari, sedangkan
kutub selatan Bumi makin condong ke arah matahari. Akibatnya, belahan
Bumi utara mengalami musim gugur (autum), sedangkan belahan Bumi
selatan mengalami musim semi (spring).

22 Desember21 Maret
Kutub utara Bumi condong ke arah matahari, sedangkan kutub selatan
Bumi condong menjauhi matahari. Akibatnya, belahan Bumi utara mengalami
musim dingin (winter), sedangkan belahan Bumi selatan mengalami musim
panas (summer).

2.2 Gerakan Bulan


Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bulan melakukan tiga gerakan
sekaligus, yaitu gerak berputar pada sumbunya (rotasi), gerak mengelilingi Bumi dan
gerak bersama-sama Bumi mengelilingi matahari. Ada hal yang menarik pada gerak
bulan, yaitu kala rotasi sama dengan kala revolusi terhadap Bumi. Akibatnya,
permukaan bulan yang menghadap ke Bumi selalu sama.
2.2.1 Rotasi Bulan

Rotasi Bulan adalah gerakan Bulan berputar pada porosnya dari barat ke
timur. Rotasi Bulan memiliki dua macam periode yaitu :
a. Periode pertama adalah periode sideris/bulan sideris, periode ini mengacu
ke satu bintang jauh selain Matahari. Satu bulan sideris kira-kira 27,3 hari.
b. Periode kedua adalah periode sinodis yang mengacu ke Matahari. Satu
bulan sinodis kira-kira 29,5 hari.

2.2.2 Revolusi Bulan

Revolusi bulan adalah gerak perputaran Bulan dalam mengelilingi Bumi.


Bulan mengelilingi Bumi dalam orbit yang berbentuk elips. Untuk satu kali bergerak
berputar mengelilingi bumi, bulan memerlukan waktu selama 27 1/3 hari yang
disebut satu bulan sideris. Sebenarnya, pada saat tersebut bumi telah bergerak
mengitari matahari sejauh 27. bulan harus menempuh selisih jarak tersebut agar
kembali ke posisi semula relative terhadap matahari. Dengan demikian, selang waktu
satu kali revolusi bulan adalah 29 hari yang disebut satu bulan sinodis (komariah).
Dari kedudukan bulan yang berbeda-beda menghasilkan bentuk bulan yang berbeda
pula yang disebut dengan fase bulan.

2.3 Fase Fase Bulan


Akibat revolusi, bentuk bulan yang menghadap ke Bumi selalu berubah-ubah.
Perubahan bentuk bulan yang terlihat dari Bumi disebut fase bulan. Berikut
penjelasan lebih jelas tentang fase-fase bulan.

Kedudukan 1: Pada kedudukan ini matahari, bulan, dan Bumi terletak pada
satu garis lurus. Bagian bulan yang tidak terkena sinar matahari menghadap
ke Bumi. Akibatnya, bulan tidak terlihat dari Bumi. Pada kedudukan ini
disebut bulan baru (bulan muda).

Kedudukan 2: Pada kedudukan ini, separuh bagian bulan yang terkena sinar
matahari hanya seperempat, sehingga yang terlihat dari Bumi juga
seperempat. Akibatnya, kita bisa melihat bulan sabit.

Kedudukan 3: Pada kedudukan ini, bagian bulan yang terkena sinar matahari
kira-kira separuhnya, sehingga yang terlihat dari Bumi juga sepenuhnya.
Akibatnya kita bisa melihat setengah bulatan yang disebut bulan separuh
(kuartir pertama).

Kedudukan 4: Pada kedudukan ini, bagian bulan yang terkena sinar matahari
tiga perempatnya, yang terlihat dari Bumi hanya tiga perempat bagian bulan.
Akibatnya, kita bisa melihat bulan cembung.

Kedudukan 5: Pada kedudukan ini, bagian bulan yang terkena sinar matahari
semuanya, begitu juga yang terlihat dari Bumi. Akibatnya, kita bisa melihat
bulan purnama (kuartir kedua).

Gambar : Fase-Fase Bulan

2.4 Pasang surut air laut akibat revolusi bulan


Pasang surut air laut adalah keadaan ketika air laut naik dan surut adalah
keadaan di mana permukaan air laut turun. Pasang surut air laut merupakan hasil dari
gaya gravitasi dan efek sentrifugal. Efek sentrifugal adalah dorongan ke arah luar
pusat rotasi (Bumi). Gravitasi bervariasi secara langsung dengan massa tetapi
berbanding terbalik terhadap jarak. Meskipun ukuran bulan lebih kecil dari Matahari,
namun gaya gravitasi bulan dua kali lebih besar daripada gaya tarik Matahari dalam
membangkitkan pasang surut laut karena jarak bulan lebih dekat daripada jarak
Matahari ke Bumi. Gaya gravitasi menarik air laut ke arah bulan dan Matahari, dan
hal ini menghasilkan dua tonjolan pasang surut gravitasional di laut. Lintang dari
tonjolan pasang surut ditentukan oleh deklinasi, sudut antara sumbu rotasi Bumi dan
bidang orbital bulan dan Matahari. gaya gravitasi pada dua buah benda besarnya
berbanding terbalik dengan kuadrat jarak benda tersebut.
Akibat adanya gravitasi Bulan, lautan akan tertarik sehingga menimbulkan
air pasang. Ketika jarak Bumi dan Bulan menjauh, gaya gravitasi Bulan akan
menurun sehinnga mengakibatkan air laut akan surut. Pasang besar terjadi saat Bulan
dan Matahari menghasilkan gaya tarik (gaya gravitasi) yang segaris. Hal ini terjadi
saat Bulan purnama dan Bulan baru.
Panjang periode pasang surut bervariasi antara 12 jam 25 menit hingga 24 jam
50 menit. Terdapat tiga tipe dasar pasang laut yaitu harian (diurnal), tengah harian
(semidiurnal) dan campuran (mixed tides).
Pasang air laut dibedakan menjadi dua, yaitu pasang purnama dan pasang perbani.
a) Pasang Purnama
Pasang ini terjadi karena pengaruh gravitasi bulan dan terjadi pada malam hari
pada saat bulan baru (bulan purnama). Pasang ini akan menjadi maksimum apabila

terjadi gerhana matahari karena air laut dipengaruhi oleh gravitasi bulan dan matahari
dengan arah yang sama (searah).
b) Pasang Perbani
Pasang perbani terjadi karena pengaruh gravitasi bulan dan matahari paling
kecil. Pada pasang perbani, permukaan air laut turun serendah-rendahnya. Pasang ini
terjadi pada saat bulan kuartir pertama dan kuartir ke tiga. Pasang perbani
dipengaruhi oleh gravitasi bulan dan matahari saling tegak lurus.

Pasang Purnama

Pasang Perbani

3.2 Gerhana Bulan


Gerhana bulan hanya dapat terjadi pada bulan purnama. Gerhana bulan terjadi
ketika posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada pada satu garis lurus. Posisi Bumi
ada di antara Matahari dan Bulan. Akibatnya, Bulan tidak memperoleh sinar
matahari, karena terhalang oleh Bumi. Pada waktu seluruh bagian bulan masuk dalam
daerah umbra (bayangan inti) Bumi, maka terjadi gerhanabulan total. Proses bulan
berada dalam penumbra (daerah bayangan kabur) bisa mencapai 6 jam, sedangkan
proses bulan berada dalam umbra (bayangan inti) hanya sekitar 1 jam 40 menit.

Gambar : Gerhana Bulan

Gerhana bulan di klasifikasikan menjadi 3 macam yaitu gerhana bulan total,


sebagian dan penumbra.

3.2.1 Gerhana Bulan Total

Gerhana bulan total terjadi saat permukaan bulan seluruhnya masuk ke dalam
bayangan Bumi atau dengan kata lain seluruh bagian bulan berada dalam umbra
Bumi dan menyebkanwarna bulan menjadi suram kemerahan.
3.2.2 Gerhana Bulan Sebagian

Gerhana bulan sebagian terjadi jika sebagian permukaan bulan masuk dalam
bayangan Bumi atau separuh bagian bulan berada dalam umbra Bumi sedangkan
separuh lainnya berada pada penumbra Bumi dan hal ini menyebabkan Bulan terlihat
bersinar sebagian.

3.2.3 Gerhana Bulan Penumbra

Gerhana ini terjadi ketika seluruh bagian bulan berada pada penumbra Bumi
dan menyebabkan warna bulan hampir sama dengan warna bulan yang cerah.

3.3 Gerhana Matahari


Gerhana matahari terjadi pada siang hari dan pada saat bulan berada pada fase
bulan baru. Gerhana matahari terjadi ketika Matahari, Bulan, dan Bumi berada dalam
satu garis lurus. Kedudukan bulan berada di tengah-tengah, di antara Matahari dan
Bumi. Posisi Bulan yang berada di tengah menyebabkan terhalangnya sinar matahari
pada sebagian permukaan Bumi untuk beberapa saat. Daerah yang tidak terkena sinar
matahari ini menjadi gelap, dan dikatakan mengalami gerhana matahari.
Saat terjadi gerhana matahari, bayangan yang dibentuk bulan ada dua, yaitu
umbra dan penumbra. Gerhana matahari total terjadi saat matahari tertutup oleh
bulan, sehingga kita tidak dapat melihat matahari.

Gambar : Gerhana Matahari

Terdapat

tiga macam gerhana matahari, yaitu gerhana matahari total, gerhana

matahari sebagian, dan gerhana matahari cincin.

3.3.1 Gerhana Matahari Total

Gerhana ini terjadi pada permukaan Bumi yang berada dalam bayangan inti
(umbra) Bulan. Pada bagian itu, sinar Matahari tertutup sepenuhnya. Bagian Bumi
yang terkena gerhana ini menjadi gelap gulita. Gerhana matahari total
dapatberlangsung selama 6 menit, namun rata-rata hanya sekitar 2,5 menit.

3.3.2 Gerhana Matahari Sebagian

Gerhana ini terjadi pada daerah-daerah yang terletak di antara umbra


(bayangan inti) dan penumbra (bayangan kabur), sehingga matahari kelihatan
sebagian. Peristiwa ini dapat dialami oleh pengamat di Bumi yang berada di daerah
penumbra.

3.3.3 Gerhana Matahari Cincin

Gerhana ini terjadi jika bayangan Bulan tidak cukup menutup sinar Matahari.
Matahari masih terlihat bersinar di sekeliling bayangan Bulan. Gerhana ini terjadi
pada daerah yang terkena lanjutan bayangan inti, sehingga matahari terlihat seperti
cincin. Bentuk cincin ini terlihat karena Bulan hanya menutup bagian tengah
Matahari, sehingga sekeliling Matahari tampak kilauan cahaya yang melingkar.

Gerhana Total

Gerhana Sebagian

Gerhana Cinci