Anda di halaman 1dari 4

GASIFIKASI UNGGUN TERFLUIDAKAN

Gasifikasi unggun terfluidakan dioperasikan dengan cara memfluidisasi partikel bahan bakar dengan
gas pendorong yang berupa udara/oksigen, baik dicampur dengan kukus maupun tidak dicampur. Gas
pendorong tersebut memiliki dua fungsi, yaitu sebagai reaktan dan sebagai medium fluidisasi. Pada
gasifikasi unggun terfluidakan, gas pendorong yang umum digunakan adalah udara. Pada gasifier jenis
ini, udara dan bahan bakar tercampur pada unggun yang terdiri dari padatan inert berupa pasir.
Keberadaan padatan inert tersebut sangat penting karena berfungsi sebagai medium penyimpan panas.
Gasifikasi unggun terfluidakan dioperasikan pada temperatur relatif rendah, yaitu 800 1000 C.
Temperatur operasi tersebut berada di bawah temperatur leleh abu sehingga penghilangan abu yang
dihasilkan pada gasifikasi jenis ini lebih mudah. Hal inilah yang menyebabkan gasifikasi unggun
terfluidakan dapat digunakan pada pengolahan bahan bakar dengan kandungan abu tinggi sehingga
rentang penerapan gasifikasi unggun terfluidakan lebih luas daripada gasifikasi jenis lainnya. Gasifier
unggun terfluidakan memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan gasifier jenis lainnya, yaitu:
Rentang penanganan jenis bahan bakar lebar
Tingkat perpindahan panas dan massa bahan bakar tinggi
Nilai pemanasan tinggi
Kadar arang rendah
JENIS GASIFIKASI UNGGUN TERFLUIDAKAN
Berdasarkan proses kontak antara gas dengan partikel bahan bakar, gasifier unggun terfluidakan dibagi
menjadi dua jenis, yaitu Bubbling Fluidized Bed Gasifier (BFBG) dan Circulating Fluidized Bed
Gasifier (CFBG). Pada penggunaannya, CFBG lebih unggul daripada BFBG. Hal ini disebabkan oleh:
Adanya saluran sirkulasi yang memungkinkan pengolahan kembali bahan bakar yang belum
terkonversi. Dengan adanya saluran sirkulasi tersebut, waktu tinggal bahan bakar di dalam
gasifier lebih lama sehingga memungkinkan bahan bakar terkonversi sempurna.
Laju alir udara yang digunakan pada CFBG lebih besar. Kecepatan yang digunakan pada CFBG (4
7 m/s), sedangkan kecepatan yang digunakan pada BFB (1 1.5 m/s). Hal ini menyebabkan
kecepatan kontak antara gas dengan padatan yang terjadi pada CFBG tinggi sehingga
pencampuran massa dan perpindahan panas yang terjadi lebih baik daripada BFBG.
PENGGUNAAN GASIFIKASI UNGGUN TERFLUIDAKAN
Gasifikasi unggun terfluidakan dapat digunakan untuk mengolah bahan bakar dengan rentang yang
lebar khususnya bahan bakar kualitas rendah dengan kandungan abu tinggi sehingga cocok digunakan
untuk meningkatkan kualitas bahan bakar bernilai rendah. Pada umumnya, gas hasil gasifikasi unggun
terfluidakan dibakar untuk menggerakkan mesin atau untuk membangkitkan kukus. Gas tersebut juga

dapat dibakar bersamaan dengan bahan bakar lainnya. Selain itu, gas hasil gasifikasi unggun
terfluidakan dapat digunakan pada pembangkit listrik melalui sebuah sistem kombinasi siklus yang
disebutintegrated gasification combined-cycle (IGCC).
Jika ditinjau dari potensi penerapannya di Indonesia, teknologi gasifikasi unggun terfluidakan
(fluidisasi) memiliki potensi yang cukup besar karena sebagian besar cadangan batubara Indonesia
tergolong dalam batubara kualitas rendah. Oleh sebab itu, pengolahan batubara dengan cara gasifikasi
unggun terfluidakan merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk memaksimalkan hasil
pengolahan batubara Indonesia.

Fluidisasi merupakan salah satu cara untuk mengontakkan butiran padat dengan fluida. Apabila
kecepatan fluida relative rendah, unggun tetap diam karena fluida hanya mengalir melalui ruang antar
partikel tanpa menyebabkan terjadinya perubahan susunan partikel tersebut ( pada unggun diam,
gambar II.1.a ). Apabila kecepatan fluida dinaikkan sedikit demi sedikit, pada saat tertentu penurunan
tekanan akan sama dengan gaya berat yang bekerja terhadap butiran-butiran padat sehingga unggun
mulai bergerak. Ini terjadi pada titik A ( gambar II.2 ). Unggun mengembang, pororsitas bertambah,
tetapi butiran-butiran masih saling kontak satu sama lain. Selanjutnya penurunan tekanan tidak securam
pada OA. Sampai titik B butiran-butiran masih saling kontak tetapi telah berada dalam keadaan saling
lepas.

Gambar II.1 Unggun diam (a), unggun mendidih atau terfluidisasi paton (b) dan unggun terfluidakan
kontinyu / berkesinambungan (c)

Gambar II.2 Penurunan tekanan dalam unggun padatan


1.

Unggun diam

2.

Daerah peraliran / intermediate

3.

Fluidisasi batch

4.

Fluidisasi kontinyu

Peningkatan kecepatan selanjutnya akan menyebabkan butiran-butiran terpisah lepas satu sama
lain sehingga bias bergerak dengan lebih mudah ( unggun tersuspensi dalam aliran fluida yang
melewatiya ) dan mulailah unggun terfluidakan ( titik F ). Butiran-butiran bergerak terus kearah
sembarang tetapi masih dalam batas tinggi tertentu ( gambar II.1.b ). Isi tabung menyerupai cairan
mendidih dan diberi istilah unggun mendidih. Setelah mencapai ketinggian tertentu, butiran-butiran
akan jatuh kembali. Hanya partikel paling halus terbawa aliran fluida ( entrainment tidak berarti ) ini
disebut fluidisasi batch. Mulai dari titik F, penurunan tekanan terhadap kecepatan lebih kecil
dibandingkan dengan penurunan tekanan pada unggun diam.
Pada kondisi butiran yang mobil ini. Sifat unggun akan menyerupai sifat suatu cairan dengan
viskositas tinggi, misalnya ada kecendrungan untuk mengalir, mempunyai sifat

dan sebagainya

(gambar II.3 ).

Gambar II.3 Sifat menyerupai cairan dari unggun terfluidisasi


Atas dasar sifat-sifat diatas, maka unggun ini kemudian disebut unggun terfluidakan atau fluidized bed.
-

Dalam system padat-cair, kenaikan kecepatan air sampai diatas fluidisasi minimum akan
menyebabkan pengembangan unggun yang halus dan progresif (terus menerus). Dalam hal ini
ketidak stabilan aliran keseluruhan relative kecil dan tidak terjadi pembentukkan gelembung
yang cukup besar. Unggun yang berkelakuan seperti ini sering disebut unggun fluidisasi cair
(liquid fluidized bed) atau unggun fluidisasi homogeny.

System padat-gas berkelakuan sangat berbeda. Pada kenaikan laju alir gas dibawah fluidisasi
minimum sudah terjadi pembentukan gelembung dan saluran (chanelling) gas, dan gerakkan
padatan menjadi lebih tidak beraturan. System seperti ini disebut unggun fluidisasi agregatif
atau unggun fluidisasi gas.
Kedua macam fluidisasi tersebut dapat digolongkan kedalam fluidisasi fase padat (ketinggian

unggun masih berada pada batas tertentu).


Pada laju alir fluida yang sanga tinggi (melebihi P), kecepatan akhir (u t) menjadi sangat besar,
sehingga batas atas unggun akan hilang (total entrainment/butiran padatan terbawa aliran fluida),
porositas mendekati 1. Keadaan ini disebut fluidisasi berkesinambungan (gambar 1.1.c) yang
merupakan aliran 2 fase.
II.4 Tinggi Unggun
Apabila kecepatan fluida makin besar, unggun akan makin mengembang, porositas bertambah dan
volume unggun bertambah. Bila penampang tabung tetap, maka porositas merupakan fungsi dari tinggi
unggun L.. Kecepatan superfisial minium (uMf) terjadi pada dasar kolom, dimana tekanan adalah
tertinggi. Dengan menganggap bahwa unggun terdiri atas partikel-partikel kecil.