Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses
pematangan fungsi fungsi fisik, yang berlangsung secara normal pada diri anak
yang sehat, dalam peredaran waktu tertentu.(Kartono)
Sedangkan menurut crow and crow pertumbuhan pada umumnya dibatasi pada
perubahan-perubahan struktural dan fungsional dalam pembentukan seseorang secara
jasmaniah dari saat masih terbentuk konsepsional (janin) melalui periode prenatal
(dalam kandungan ), postnatal (lahir) sampai pada keewasaanya.
Menurut Kamus Lengkap Psikologi ( J.P. Chaplin, 2004: 134) perkembangan
adalah kedewasaan atau kemunculan pola-pola asasi dari tingkah laku yang tidak
dipelajari.
Bijou dan Baer ( dalam Sunarto dan B. Agung Hartono, 2002:39 )
mengemukakan perkembangan adalah perubahan progresif yang menemukan cara
organisme bertingkah laku dan berinterkasi dengan lingkungan.
Secara kodrati manusia selalu ingin mendidik keturunanya yang dilakukan
pada setiap tahapan umur. Baik tahapan janin, bayi, balita, kanak-kanak, remaja,
dewasa maupun usia lanjut. Anak-anak memasuki tahapan dimana mereka sudah
cukup mengerti dan memahami sesuatu serta mampu memahami mana yang baik dan
mana yang buruk.
Pada tahapan ini, seorang individu sedang menggali potensi dirinya yang
digunakan dalam rangka mencapai kematangan ketika individu tersebut beranjak
dewasa. Namun, emosi anak-anak kadang kala labil sehingga harus diarahkan dan
diolah sedemikian rupa agar tidak terjerumus pada sesuatu yang dapat merugikan
dirinya maupun orang lain di sekitarnya.
Pada masa inilah, setiap individu akan mengalami masa-masa sekolah dimana
mereka akan berinteraksi ke dalam lingkup yang lebih luas dengan berbagai
karakteristik yang berbeda-beda. Oleh karena itu, harus dipelajari dan dipahami setiap
karakter anak usia sekolah agar dapat memberikan tugas dengan tepat yang dapat
mengoptimalkan potensi mereka yang sesuai dengan umur mereka.
1

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud konsep pertumbuhan anak usia sekolah?
2. Bagaimana konsep perkembangan anak usia sekolah menurut ahli?
3.Bagaimana perkembangan seksualnya?
4. Bagaimanakah dengan komunikasi pada usia sekolah?
5. Bagaimana bermain pada usia sekolah?
6. Apa yang dimaksud perawatan anak dengan hospitalisasi?

C. TUJUAN
1.

Mengetahui konsep pertumbuhan anak usia sekolah

2.

Memahami konsep perkembangan anak usia sekolah menurut ahli

3.

Memahami perkembangan seksualnya

4.

Memahami komunikasi pada usia sekolah

5.

Memahami cara bermain pada anak usia sekolah

6.

Mengetahuo perawatan anak dengan hospitalisasi

BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Pertumbuhan Anak Usia Sekolah (6-12 tahun)


1. Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan
Pertumbuhan (growth) adalah peningkatan jumlah dan besar sel di seluruh bagian
tubuh selama sel-sel tersebut membelah diri menyintesis protein-protein secara
berangsur-angsur dan bertambah sempurnanya fungsi alat-alat tubuh.Perkembangan
(development) adalah perubahan secara berangsur - angsur dan bertambah
sempurnanya fungsi alat - alat tubuh.
2. Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan
a. Faktor hereditas
Adalah faktor keturunan secara genetik dari orang tua kepada anak.
b. Faktor lingkungan
Lingkungan pranatal
1) Gizi ibu ketika hamil
2) Posisi janin
3) Zat kimia
4) Faktor hormonal
c.

Lingkungan pascanatal
1) Sosial budaya
2) Nutrisi
3

3) Cuaca/iklim
4) Olahraga
5) Status kesehatan
6) Posisi anak dalam keluarga
3.

Pertumbuhan dan perkembangan fisik anak usia sekolah (6-12 tahun)


a. Parameter Umum
Rata-rata tinggi badan anak usia 6-12 tahun 113 cm dan rata-rata BB anak usia
6-12 tahun mencapai 21 kg.
b. Nutrisi
Kebutuhan kalori harian anak usia 7-12 tahun menurun sehubungan dengan
ukuran tubuh, dan rata-rata membutuhkan 2400 kalori perhari. Banyaknya anak
yang tidak menyukai sayuran, biasanya hanya satu jenis makanan, yang disukai
orang tua memiliki peranan penting dalam mempengaruhi pilihan anak terhadap
makanan.
c. Pola tidur
Kebutuhan tidur setiap anak bervariasi, biasanya 8 sampai 9,5 jam setiap malam.
d. Kesehatan gigi
Mulai sekitar usia 6 tahun gigi permanen tumbuh dan anak secara bertahap
kehilangan gigi desi dua.
e. Eliminasi
Pada usia 6 tahun, 85% anak memiliki kendala penuh terhadap kandung kemih
dan defekasi, enurisis nocturnal (mengompol) terjadi pada 15% anak berusia 6
tahun.

B. Konsep Perkembangan menurut Feud, Erikson, Sullivan, Kohlberg dan


Piaget
Perkembangan Psikososial
1. Tinjauan (Erikson)
a. Erikson menyatakan krisis psikososial yang dihadapi sebagai Industri Versus
Inferioritas. Industri yang dimaksud adalah kemampuan seorang anak dalam
menguasai tugas perkembangannya (kepandaian), sedangkan Inferioritas
merupakan perasaan dimana seorang anak merasa rendah diri dan kepercayaan
dirinya turun akibat suatu kegagalan dalam memenuhi standar yang ditetapkan
4

orang lain untuk anak.


1) Hubungan dengan orang terdekat anak meluas hingga mencakup teman
sekolah dan guru.
2) Anak usia sekolah secara normal telah menguasai tiga tugas perkembangan
pertama (kepercayaan, otonomi, dan inisiatif) dan saat ini berfokus pada
penguasaan kepandaian (Industri).
3) Perasaan industri berkembang dari suatu keinginan untuk pencapaian.
4)

Perasaan inferioritas dapat tumbuh dari harapan yang tidak realistis atau
perasaan gagal dalam memenuhi standar yang ditetapkan orang lain untuk
anak. Ketika anak merasa adekuat, rasa percaya dirinya akan menurun.

b. Anak usia sekolah terikat dengan tugas dan sktivitas yang dapat ia selesaikan
c.

Anak usia sekolah mempelajari peraturan, kompetensi, dan kerja sama untuk
mencapai tujuan.

d. Hubungan sosial menjadi sumber pendukung yang penting semakin meningkat.


2. Rasa takut dan stressor
a. Sebagian perasaan takut yang terjadi sejak masa kanak-kanak awal dapat
terselesaikan atau berkurang. Namun, anak dapat menyembunyikan rasa takutnya
untuk menghindari dikatakan sebagai pengecut atau bayi.
b. Rasa takut yang sering terjadi:
1) Gagal di sekolah
2) Gertakan
3) Guru yang mengintimidasi
4) Sesuatu yang buruk terjadi pada orang tua
c. Stressor yang sering terjadi
1)

Stressor untuk anak usia sekolah yang lebih kecil, yaitu dipermalukan,
membuat keputusan, membutuhkan izin/persetujuan, kesepian, kemandirian
dan lawan jenis.

2) Stressor untuk anak usia sekolah yang lebih besar yaitu kematangan seksual,
rasa malu, kesehatan, kompetensi, tekanan dari teman sebaya, dan keinginan
untuk menggunakan obat-obatan.
d. Orang tua dan pemberi asuhan lainnya dapat membantu mengurangi rasa takut
anak dengan berkomunikasi secara empati dan perhatian tanpa menjadi
5

overprotective.
e. Anak perlu mengetahui bahwa orang-orang akan mendengarkan mereka dan
memahami perkataannya.
3. Sosialisasi
Masa usia sekolah merupakan periode perubahan dinamis dan kematangan seiring
dengan peningkatan keterlibatan anak dan aktivitas yang lebih kompleks, membuat
keputusan, dan kegiatan yang memiliki tujuan.
Ketika anak usia sekolah belajar lebih banyak mengenai tubuhnya, perkembangan
sosial berpusat pada tubuh dan kemampuannya.
Hubungan dengan teman sebaya memegang peranan penting yang baru.
Aktivitas kelompok, termasuk tim olahraga, biasanya menghabiskan banyak waktu
dan energi.
4. Bermain dan mainan
Bermain menjadi lebih kompetetif dan kompleks selama periode usia sekolah.
Karakteristik kegiatan meliputi tim olahraga, klub rahasia, aktivitas geng, pramuka
atau organisasi lain. Puzzle yang rumit, koleksi, permainan papan, membaca dan
mengagumi pahlawan tertentu.
Peraturan dan ritual merupakan aspek penting dalam bermain dan permainan.
Mainan,

permainan,

dan

aktivitas

yang

meningkatkan

pertumbuhan

dan

perkembangan meliputi:
Permainan kartu dan papan bertingkat yang rumit
Buku dan kerajinan tangan
Musik dan seni
Kegiatan olahraga (mis:berenang)
Kegiatan tim
Video game (tingkatkan pemantauan orang tua terhadap isi permainan untuk
menghindari pajanan terhadap perilaku kekerasan dan seksual yang tidak
dikehendaki).
5. Disiplin
Anak usia sekolah mulai menginternalisasikan pengendalian diri dan membutuhkan
sedikit pengarahan dari luar. Mereka melakukannya, walaupun membutuhkan orang
tua atau orang dewasa lain yang dipercaya untuk menjawab pertanyaan dan
memberikan bimbingan untuk membuat keputusan.
Tanggungjawab pekerjaan rumah tangga membantu anak usia sekolah merasa bahwa
6

mereka merupakan bagian penting keluarga dan meningkatkan rasa pencapaian


terhadap prestasi mereka.
Izin mingguan, diatur sesuai dengan kebutuhan dan tugas anak, membantu dalam
mengajarkan keterampilan, nilai, dan rasa tanggungjawab.
Ketika mendisiplinkan anak usia sekolah, maka orang tua dan pemberi asuhan lain
harus menyusun batasan yang konkret dan beralasan (memberikan penjelasan yang
meyakinkan) serta mempertahankan peraturan sampai batas minimal.

Perkembangan Psikoseksual
Tinjauan (Freud)
Periode latensi, yang terdiri dari usia 5-12 tahun, menunjukkan tahap yang relative
tidak memperhatikan masalah seksual sebelum masa pubertas dan remaja.
Selama periode ini, perkembangan harga diri berkaitan erat dengan perkembangan
keterampilan untuk menghasilkan konsep nilai dan menghargai seseorang.
Perkembangan seksual
a. Masa peremajaan dimulai pada akhir usia sekolah, perbedaan pertumbuhan dan
kematangan diantara kedua gender semakin nyata pada masa ini.
b.

Pada tahap awal usia sekolah, anak memperoleh lebih banyak pengetahuan dan
sikap mengenai seks. Selama usia sekolah, anak menyaring pengetahuan dan sikap
tersebut.

c. Pertanyaan mengenai seks memerlukan jawaban jujur yang berdasarkan tingkat


pemahaman anak.
Perkembangan Kognitif
Tinjauan (Piaget)
a.

Anak berusia antara 7-11 tahun berada dalam tahap konkret operasional, yang
ditandai dengan penalaran induktif, tindakan logis, dan pikiran konkret yang
reversible.

b. Karakteristik spesifik tahapan ini antara lain:


Transisi dari egosentris ke pemikiran objektif (yaitu:melihat dari sudut pandang lain,
mencari validasi, bertanya).
Berfokus pada kenyataan fisik saat ini disertai ketidakmampuan melihat untuk
melebihi kondisi saat ini.
7

Kesulitan menghadapi masalah yang jauh, masa depan atau hipotesis.


Perkembangan berbagai klerifikasi mental dan aktivitas yang diminta.
Perkembangan prinsip konservasi (yaitu:volume, berat, massa, dan angka).
c. Aktivitas yang khas pada anak tahap ini antara lain:
Mengumpulkan dan menyortir benda (mis:kartu baseball, boneka, dan kelereng)
Meminta/memesan barang-barang menurut ukuran, bentuk, berat, dan criteria lain.
Mempertimbangkan pilihan dan variabel ketika memecahkan masalah.
Bahasa
Anak mengembangkan pola artikulasi orang dewasa formal pada usia 7-9 tahun.
Anak belajar bahwa kata-kata dapat dirangkai dalam bentuk terstruktur.
Kemampuan membaca merupakan salah satu keterampilan paling penting yang
dikembangkan oleh anak.
Perkembangan Moral
Pada usia ini, konsep moral anak tidak lagi sesempit dan sekhusus sebelumnya.
Antara usia 7-12 tahun, konsep anak mengenai keadilan sudah berubah. Pengertian yang kaku
dan keras tentang benar-salah (yang dipelajari dari orangtua) menjadi berubah dan anak mulai
memperhitungkan keadaan khusus di sekitar pelanggaran moral. Menurut Piaget, relativisme
moral menggantikan moral yang kaku. Sebagai contoh: Bagi anak 5 tahun, berbohong selalu
buruk. Sedangkan bagi anak yang lebih besar, dia sadar bahwa dalam beberapa situasi,
berbohong dibenarkan; dan oleh karena itu, ia terpengaruh situasi, bahwa berbohong tidak
selalu buruk.

1. Tahapan moral Kohlberg:


Tingkat pertama, moralitas anak baik anak mengikuti peraturan untuk mengambil hati
orang lain dan untuk mempertahankan hubungan-hubungan yang baik.
Tingkat kedua, moralitas konvensional yaitu moralitas dari aturan-aturan dan
penyesuaian konvensional. Jika kelompok sosial menerima peraturan yang sesuai bagi
semua anggota kelompok, maka anak harus menyesuaikan diri dengan peraturan untuk
menghindari penolakan kelompok dan celaan.
Ketika anak mencapai akhir masa kanak-kanak, kode moral berangsur-angsur
mendekati kode moral dewasa, dimana perilakunya semakin sesuai dengan standar-standar
yang ditetapkan oleh orang dewasa.Perkembangan moral anak-anak, ditentukan oleh: peranan
disiplin, perkembangan suara hati, pengalaman rasa bersalah, dan pengalaman rasa malu.

C. Perkembangan Seksual
Anak biasanya mengetahui bahwa memperhatikan tubuh orang lain. Di umur ini
anak masih bermain peran yang melibatkan perbedaan jenis kelamin karena rasa
keingintahuannya. Anak mulai mendengar dan memperhatikan kata-kata yang berbau
seks, kadang mereka menggunakan istilah-istilah tertentu yang mereka dapatkan dari
teman-temannya. Mereka masih merasa tertarik pada proses kehamilan dan persalinan.
Anak mulai memilih teman sejenis sebagai teman dekatnya. Anak sudah malu jika tidak
berpakaian dengan baik di depan orang lain dan juga di depan orang tuanya. Permainan
seksual yang sering diperankan adalah permainan bermain saling berpura-pura
mengenai perkawinan atau bermain peran dokter-pasien/perawat.
Tahap ini anak mulai menggunakan energinya untuk mulai aktivitas intelektual
dan fisik, dalam periode ini kegiatan seksual tidak muncul, penggunaan koping dan
mekanisme pertahanan diri muncul pada waktu ini.
Walaupun orangtua tidak sepenuhnya memberikan pendidikan seks yang jelas dan
benar kepada anak-anaknya, secara disengaja atau tidak, seorang anak telah mengawali
tahap kehidupan seksualnya sendiri, yang didapat melalui berbagai pertanyaan,
permainan, dan dari lingkungan sekitarnya. Pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh
seorang anak biasanya tentang perbedaan anggota tubuh laki-laki dan perempuan.
Seorang anak perempuan akan bertanya kepada orngtuanya, mengpa bentuk tubuhnya
berbeda dengan kakak lelakinya. Dalam hal ini, orang tua harus mempunyai kepekaan
yang tajam terhadap pikiran-pikiran yang ada dalam benak anak tersebut. Pada tahap ini,
seorang

anak

biasanya

lebih

merisaukan

keadaan

tubuhnya

darpada

rasa

keingintahuannya. Bisa saja pikiran anak tadi menjadikan dirinya tidak merasa dicintai
oleh orangtuanya karena tidak memiliki bentuk tubuh seperti kaka lelakinya. Biasanya,
pertanyaan seperti itu muncul lebih awal karena si anak sendiri sering melihat
ketelanjangan anggota keluarga atau teman-temannya. Sebaiknya seorang anak
dihindarkan dari ketelanjangan orangtuanya. Hubungan yang terjadi antara orangtua dan
anak adilandasi rasa kekaguman tersebut, tidak diragukan lagi nilai kekaguman dan
hormat kepada orangtuanya akan semakin ilang.
Pertanyaan yang sering muncul dalam benak si anak adalah tentang darimana
seorang bayi berasal. Sebagian anak berpendapat, bayi yang baru lahir merupakan
pemberian Tuhan yang akan diberikan kepada seseorang jika orang itu berbuat kebaikan.

D. Komunikasi
1. Cara komunikasi dengan anak
a. Melalui orang lain/pihak ketiga
Cara berkomunikasi inidapat menumbuhkan kepercayaan diri anak,
dengan menghindari secara langsung berkomunikasi dengan melibatkan orang
tua secara langsung yang sedang berada di samping anak.
Komunikasi ini dapat digunakan cara dengan memberikan komentar
tentang mainan, baju yang sedang dipakainya serta hal lainnya, dengan catatan
tidak langsung pada pokok pembicaraan.
b. Bercerita
Hendaknya sesuai dgn pesan yang akan disampaikan
c. Memfasilitasi
Memfasilitasi anak adalah bagian cara berkomunikasi, melalui ini
ekspresi anak atau respon anak terhadap pesan dapat diterima. Dalam
memfasilitasi kita harus mampu mengekspresikan perasaan dan tidak boleh
dominan, tetapi anak harus diberikan respons terhadap pesan yang
disampaikan melalui mendengarkan dengan penuh perhatian dan jangan
merefleksikan ungkapan negatif yang menunjukkan kesan yang jelek pada
anak.
d. Biblioterapi
Melalui pemberian buku atau majalah dapat digunakan untuk
mengekspresikan perasaan, dengan menceritakan isi buku atau majalah yang
sesuai dengan pesan yang akan disampaikan kepada anak.
e. Meminta untuk menyebutkan keinginan
Dengan meminta anak untuk menyebutkan keinginan dapat diketahui
berbagai keluhan yang dirasakan anak dan keinginan tersebut dapat
menunjukkan perasaan dan pikiran anak pada saat itu.
f. Pilihan pro dan kontra.
Penggunaan teknik komunikasi ini dapat menentukan atau mengetahui
perasaan dan pikiran anak, dengan mengajukan pada situasi yang
menunjukkan pilihan yang positif dan negatif sesuai dengan pendapat anak.
g. Penggunaan skala.
Penggunaan skala atau peringkat dapat mengungkapkan perasaan
sakit pada anak seperti penggunaan perasaan nyeri, cemas, sedih dan lain-lain,
dengan menganjurkan anak untuk mengekspresikan perasaan sakitnya.
h. Menulis
Melalui cara ini anak akan dapat mengekspresikan dirinya baik pada
keadaan sedih, marah atau lainnya dan biasanya banyak dilakukan pada anak
10

yang jengkel, marah dan diam. Cara ini dapat dilakukan apabila anak sudah
memiliki kemampuan untuk menulis.
i. Menggambar
Seperti halnya menulis menggambar pun dapat digunakan untuk
mengungkapkan ekspresinya, perasaan jengkel, marah yang biasanya dapat
diungkapkan melalui gambar dan anak akan mengungkapkan perasaannya
apabila perawat menanyakan maksud dari gambar yang ditulisnya.
j. Bermain
Bermain merupakan alat efektif pada anak dalam membantu
berkomunikasi, melalui ini hubungan interpersonal antara anak, perawat dan
orang di sekitarnya dapat terjalin, dan pesan-pesan dapat disampaikan.
2. Faktor yang mempengaruhi komunikasi pada anak
a. Pendidikan
b. Pengetahuan
c. Sikap
d. Usia Tumbuh kembang
e. Status kesehatan anak
f. Sistem sosial
g. Saluran
h. Lingkungan.

E. Bermain
Karakteristik permainan untuk anak usia sekolah dibedakan menurut jenis
kelaminnya. Anak laki-laki tepat jika diberikan mainan jenis mekanik yang akan
menstimulasi kemampuan kreativitasnya dalam berkreasi sebagai seorang laki-laki
misalnya mobil-mobilan. Ank perempuan lebih tepat diberikan permainan yang dapt
menstimulasi untuk mengembangkan perasaan, pikiran, dan sikapnya dalam menjalankan
peran sebagai seorang perempuan, misalnya alat untuk memasak dan boneka.
1. Fungsi bermain pada anak.
Fungsi utama bermain adalah merangsang perkembangan sensorik-motorik,
perkembangan

intelektual,

perkembangan

social,

perkembangan

kreatifitas,

perkembangan kesadaran diri, perkembangan moral, dan bermain sebagai terapi.


a. Perkembangan sensorik motorik.
Aktivitas sensorik dan motorik merupakan komponen terbesar yang
11

digunakan anak dan bermain aktif sangat penting untuk perkembangan fungsi
otot.

Misalnya,

alat

permainan

yang

digunakan

untuk

bayi

yang

mengembangkan kemampuan sensorik motorik dan alat permainan untuk anak


usia toddler dan prasekolah yang banyak membantu perkembangan aktivitas
motorik baik kasar maupun halus.
b. Perkembangan intelektual
Pada saat bermain, anak melakumbedakan eksploitasi dan manipulasi
terhadap segala sesuatu yang ada di lingkungan sekitarnya, terutama mengenal
warna, bentuk, ukuran, tekstur, dan membedakan objek.
c. Perkembangan social
Perkembangan social ditandai dengan kemampuan berinteraksi dengan
lingkungannya. Melalui kegiatan bermain, anak akan belajar memberi dan
menerima. Bermain dengan orang lain akan membantu anak untuk
mengembangkan hubungan social dan belajar memesahkan masalah dari
hubungan tersebut. Hal ini terjadi terutama pada anak usia sekolah dan remaja.
Meskipun demikian, anak usia toddler dan prasekolah adalah tahapan awal
bagi anak untuk meluaskan aktivitas sosialnya di luar lingkungan keluarga.
d. Perkembangan kreatifitas
Berkreasi adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu dan
mewujudkannya ke dalam bentuk objek dan/atau kegiatan yang dilakukannya.
Melalui kegiatan bermain anak akan belajar dan mencoba merealisasikan ideidenya. Misalnya, dengan membongkar dan memasang satu alat permainan
akan merangsang kreativitasnya untuk semakin berkembang.
e. Perkembangan kesadaran diri
Melalui bermain, anak akan mengembangkan kemampuannya dalam
mengatur tingkah laku. Anak juga akan belajar mengenal kemampuannya dan
membandingkannya dengan orang lain dan menguji kemampuannya dengan
mencoba peran-peran baru dan mengetahui dampak tingkah lakunya terhadap
orang lain.
f. Perkembangan moral
Anak mempelajari nilai dasar dan salah dari lingkungannya, terutama
dari orang tua dan guru. Denagan melakukan aktivitas bermain, anak akan
mendapat kesempatan untuk menerapkan nilai-nilai tersebut sehingga dapat
diterima di lingkungannya dan dapat menyesuaikan diri dengan aturan-aturan
12

kelompok yang ada dalam lingkungannya. Melalui kegiatan bermain anak juga
akan belajar nilai moral dan etika, belajar membedakan mana yang benar dan
mana yang salah, serta belajar bertanggung jawab atas segala tindakan yang
telah dilakukannya.
g. Bermain sebagai terapi
Pada saat dirawat di rumah sakit, anak akan mengalami berbagai
perasaan yang sangat tidak menyenangkan, seperti marah, takut, cemas, sedih,
dan nyeri. Perasaan tersebut merupakan dampak dari hospitalisasi yang
dialami anak karena menghadapi beberapa stresorr yang ada di lingkungan
rumah sakit. Untuk itu, dengan melakukan permainan anak akan terlepas dari
ketegangan dan stress yang dialaminya karena dengan melakukan permaianan
anak akan dapat mengalihkan rasa sakitnya pada permainannya (distraksi) dan
relaksasi melalui kesenanganya melakukan permainan. Dengan demkian
permainan adalah media komunikasi antara anak dengan orang lain, termasuk
dengan perawat atau petugas kesehatan di rumah sakit. Perawat dapat
mengkaji perasaan dan pikiran anak melalui ekspresi nonverbal yang
ditunjukkan selama melakukan permainan atau melalui interaksi yang
ditunjukan anak dengan orang tua dan teman kelompok bermainnya.
2. Tujuan bermain.
Melalui fungsi yang terurai diatasnya, pada prinsipnya bermain mempunyai tujuan
sebagai berikut :
a. Untuk melanjutkan pertumbuhan dan perkembangan yang normal pada saat
sakit anak mengalami gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangannya.
Walaupun demikian, selama anak dirawat di rumah sakit, kegiatan stimulasi
pertumbuhan dan perkembangan masih harus tetap dilanjutkan untuk menjaga
kesinambungannya.
b. Mengekspresikan perasaan, keiginan, dan fantasi serta ide-idenya. Seperti
yang telah di uraikan diatas pada saat sakit dan dirawat di rumah sakit, anak
mengalami berbagai perasaan yang sangat tidak menyenangkan. Pada anak
yang belum dapat mengekspresikannya.
c. Mengembangkan

kreatifitas

dan

kemampuan

memecahkan

masalah.

Permainan akan menstimulasi daya piker, imajinasi, fantasinya untuk


menciptakan sesuatu seperti yang ada dalam pikirannya. Pada saat melakukan
13

permainan, anak juga akan dihadapkan pada masalah dalam konteks


permainannya, semakin lama ia bermain dan semakin tertantang untuk dapat
menyelesaikannya dengan baik.
d. Dapat beradaptasi secara efektif terhadap stress karena sakit dan dirawat di
rumah sakit. Stress yang dialami anak dirawat di rumah sakit tidak dapat
dihindarkan sebagaimana juga yang dialami orang tua. Untuk itu yang penting
adalah bagaimana menyiapkan anak dan orang tua untuk dapat beradaptasi
dengan stressor yang dialaminya di rumah sakit secara efeAKTORktif.
Permainan adalah media yang efektif untuk beradaptasi karena telah terbukti
dapat menurunkan rasa cemas, takut, nyeri dan marah.
3. Faktor yang mempengaruhi aktivitas bermain
Ada 5 faktor yang mempengaruhi aktivitas bermain pada anak yaitu tahap
pertumbuhan dan perkembangan anak, status kesehatan anak, jenis kelamin anak,
lingkungan yang mendukung, serta alat dan jenis permainan yang cocok atau sesuai
bagi anak.

F. Perawatan Anak dengan Hospitalisasi


Tinjauan
a. Stressor meliputi, takut terhadap mutilasi dan kematian, perhatian terhadap
kesopanan.
b. Anak usia sekolah mengalami kesulitan dengan ketergantungan yang dipaksakan.
Reaksi terhadap penyakit
a. Anak usia sekolah menganggap kekuatan dari luar sebagai penyebab penyakit.
b. Mereka menyadari perbedaan tingkat keparahan penyakit. Misalnya, mereka
mengetahui bahwa kanker lebih serius daripada sakit flu.
Reaksi terhadap hospitaliasasi
a. Mekanisme pertahanan utama anak usia sekolah adalah reaksi formasi, suatu
mekanisme pertahanan yang tidak disadari. Anak menganggap suatu tindakan
adalah berlawanan dengan dorongan hati yang mereka sembunyikan.
b.

Anak usia sekolah dapat bereaksi terhadap perpisahan dengan menunjukkan


kesendirian, kebosanan, isolasi, dan depresi.

c. Perasaan hilang kendali dikaitkan dengan bergantung kepada orang lain dan
gangguan peran dalam keluarga.
14

d. Takut cedera dan nyeri tubuh merupakan akibat dari rasa takut terhadap penyakit,
kecacatan, dan kematian.
Penatalaksanaan keperawatan
a. Berikan intervesi umum
1) Motivasi pengungkapan secara verbal
2) Motivasi perawatan diri
3) Motivasi interaksi dengan teman sebaya
4) Beritahu bahwa anak usia sekolah boleh untuk menangis
5) Berikan informasi factual, gunakan model untuk mendemonstrasikan konsep
atau prosedur
6) Sediakan benda atau aktivitas pengalih
b. Berikan kenyamanan fisik dan intervensi yang aman
1) Berikan anak usia sekolah kesempatan untuk mengendalikan seluruh fungsi
tubuhnya
2) Bantu perkembangan keterampilan motorik halus anak. Anjurkanlah hal-hal
berikut ini:
a) Mainan bongkar pasang, seperti satu set Lego
b) Menggambar
c) Permainan computer
d) Menggambar bagian-bagian tubuh
e) Membaca catatan saat ada pendidikan kesehatan untuk pasien
3) Perbolehkan anak untuk berpartisispasi dalam pengobatan.
c. Berikan intervensi kognitif
1) Bantu mengembangkan cara berpikir rasional (berikan penjelasan ilmiah,
rasional, dan peraturan) dan bantu membuat keputusan
2) Bantu anak menguasai konsep konservasi, konstan dan reversibilitas,
klasifikasi dan kategorisasi
a) Biarkan anak untuk mencatat asupan dan pengeluaran urine serta
tanda-tanda vital
b) Anjurkan anak untuk mengatakan kepada perawat kapan prosedur
harus dilakukan
c) Bantu anak membuat buku catatan kecil
d) Gunakan konsep, seperti kartu atau papan permainan, dalam
penyuluhan atau permainan
15

e) Motivasi anak untuk mengerjakan tugas sekolah


c. Berikan waktu untuk, dan dorong anak mengungkapkan secara verbal (bicarakan
waktunya)
e. Berikan intervensi psikososial dan emosional
Berikan kesempatan untuk menyalurkan tekanan
a) Anjurkan interaksi dengan teman sebaya, penyuluhan kelompok, dan batasi
lingkungan
b) Hindari ruangan yang digabung dengan usia lain
5. Tingkatkan pencapaian kemampuan
a. Berikan pujian terhadap cara bermain yang kooperatif
b. Beri anak tugas yang dapat diselesaikan
c. Libatkan anak dalam perawatan
Faktor-Faktor yang mempengaruhi Hospitalisasi pada anak
1. Fantasi-fantasi dan unrealistic anxieties tentang kegelapan, monster, pembunuhan dan
diawali oleh situasi yang asing
2. Gangguan kontak social jika pengunjung tidak diizinkan
3. Nyeri dan komplikasi akibat pembedahan atau penyakit
4. Prosedur yang menyakitkan
5. Takut akan cacat atau mati.
6. Berpisah dengan orang tua dan sibling
Reaksi terhadap Hospitalisasi
Reaksi hospitalisasi bersifat individual dan sangat tergantung pada usia
perkembangan anak, pengalaman sebelumnya terhadaps akit,sistem pendukung yang
tersedia dan kemampuan koping yang dimilikinya,pada umumnya,reaksi anak terhadap
sakit adalahkecemasan karena perpisahan,kehilangan,perlukaan tubuh,dan rasa nyeri.
Hospitalisasi bagi keluarga dan anak dapat dianggap sebagai pengalaman yang
mengancam dan stressor. Kedua hal ini dapat menimbulkan krisis bagi anak dan keluarga.
Bagi anak, hal ini mungkin terjadi karena beberapa hal seperti :
Anak tidak memahami mengapa dirawat / terluka
Stress dengan adanya perubahan akan status kesehatan, lingkungan dan kebiasaan
sehari-hari.
Keterbatasan mekanisme koping

16

Reaksi anak terhadap sakit dan hospitalisasi dipengaruhi :


1. Tingkat perkembangan usia
2. Pengalaman sebelumnya
3. Support sistem dalam keluarga
4. Keterampilan koping
5. Berat ringannya penyakit
Stress yang umumnya terjadi berhubungan dengan hospitalisasi:
1. Takut
a. Unfamiliarity
b. Lingkungan rumah sakit yang menakutkan
c. Rutinitas rumah sakit
d. Prosedur yang menyakitkan
e. Takut akan kematian
2. Isolasi
Isolasi merupakan hal yang menyusahkan bagi semua anak terutama
berpengaruh pada anak dibawah usia 12 tahun.
Pengunjung, perawat dan dokter yang memakai pakaian khusus ( masker,
pakaian isolasi, sarung tangan, penutupkepala ) dan keluarga yang tidak dapat bebas
berkunjung akan membuat anak menjadi stress dan takut berada di rumah sakit.
3. Privasi yang terhambat
Hal ini biasanya terjadi pada anak remaja. Sikap yang biasanya mucul adalah
rasa malu. Contohnya dalam berpakaian. Anak merasa tidak bebas berpakaian.
Reaksi anak terhadap hospitalisasi :
Perawatan di rumah sakit memaksakan meninggalkan lingkungan yang dicintai , keluarga,
kelompok sosial sehingga menimbulkan kecemasan. Kehilangan kontrol berdampak pada
perubahan peran dalam keluarga, kehilangan kelompok sosial,perasaan takut mati,kelemahan
fisik. Reaksi nyeri bisa digambarkan dengan verbal dan non verbal

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
17

Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan
fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat pada waktu
yang normal. Sedangkan sifat dan ciri-ciri pertumbuhan dan perkembangan adalah dalam
pertumbuhan akan terjadi perubahan ukuran dalam hal bertambahnya ukuran fisik, seperti
berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, lingkar lengan, lingkar dada, dan lain- lain.
Faktor pendukung pertumbuhan dan perkembangan manusia adalah pertumbuhan
fisik, kecerdasan, sosial, bahasa, bakat khusus, sikap nilai dan moral, dan interaksi
keturunan dan lingkungan dalam perkembangan. Perkembangan anak usia sekolah
meliputi: 1) perkembangan fisik yang dipengaruhi oleh keluarga, jenis kelamin, status
ekonomi dan sosial, gizi dan kesehatan, dan gangguan emosional. 2) perkembangan
intelektual. 3) perkembangan afektif. 4) pekembangan minat anak usia sekolah minat ada
dua yaitu minat kognitif dan minat afektif. 5) perkembangan bahasa meliputi
keterampilan

mendengar,

keterampilan

berbicara,

keterampilan

membaca,

dan

keterampilan menulis. 6) perkembangan sosial.


B. Saran
Diharapkan dengan adanya makalah ini, saya dan semua pembaca dapat memahami
tentang karakteristik yang terdapat pada anak usia usia sekolah, serta faktor-faktor yang
mempengaruhi pertumbuhannya.dan saya berharap pembaca dapat menyerap atupun
mengambil nilai positif yang ada dalam makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA
Rumini, Sri dan Siti Sundari. 2004. Perkembangan Anak & Remaja. Jakarta: PT Rineka Cipta
Sri Rumini dan Siti Sundari, Perkembangan Anak & Remaja, (Jakarta:PT Rineka Cipta,
2004), hlm.41-42
Agus Dharma & Mickhael Andryanto, Pengantar Psikolog, Jakarta, Erlangga,2010, hal. 101.
http://www.makalahskripsi.com/2013/09/makalah-karakteristik-anak-sd-kelas.html
http://rustamsakry.blogspot.co.id/2013/03/perkembangan-anak-pada-masa-sekolah_18.html
http://sahabatedhay.blogspot.co.id/2014/05/makalah-perkembangan-peserta-didik.html
18

19