Anda di halaman 1dari 3

mengenal struktur matahari

Fotosfer
Fotosfer adalah bagian matahari yang paling mudah kelihatan dan bumi. Bagian ini memiliki
temperatur sekitar 6000 C, dan didominasi oleh unsur-unsur hydrogen dan helium (75% hidrogen,
23% helium, dan sisanya unsur-unsur lain). Pengamatan para ahli mendapatkan bahwa di fotosfer
terdapat paling sedikit 67 unsur kimia. Bahkan, ada satu unsur yang pertama kali ditemukan di
fotosfer, yaitu helium, (Hellos adalah Dewa Matahari dalam mitologi Yunani) dan ekslstensl unsur ini
dihipotesiskan oleh Norman Lockyer pada tahun 1868 ketika ia melihat garis-garis serapan dalam
spektrum matahari yang berbeda dengan spektrum unsur-unsur lain. Di atas fotosfer terdapat daerah
temperatur minimum yang merupakan daerah terdingin di matahari, terletak sekitar 500 km di atas
fotosfer, dan memiliki temperatur setinggi 4.000 K. Karena cukup dingin, di daerah ini terdapat juga
molekul-molekul, seperti karbon monoksida dan air, di samping beberapa jenis molekul lain (semua
ada sekitar 18 jenis).
Kromosfer
Di atas fotosfer, terdapat suatu lapisan tipis yang kelihatan jelas sekali saat terjadi gerhana matahari
total. Gejala ini pertama kali diamati pada abad ke-17 setelah para pengamat melihat adanya
seberkas cahaya merah pada tepian bulan sesaat setelah fotosfer tertutup oleh bulan. Nama
kromosfer berasal dan warna merah ini yang diakibatkan oleh atom-atom hidrogen. Kromosfer
memiliki ketebalan 2.000-3.000 km, tetapi batas dengan bagian di atas tidak jelas karena di lapisan
perbatasan kromosfer berubah menjadi lautan semburan materi yang diberi nama spicule. Kerapatan
gas di kromosfer berkurang dengan bertambahnya ketinggian dan fotosfer, tetapi suhunya meningkat
drastis dengan bertambahnya ketinggian. Di bagian bawah, bersuhu 4.500 C sedangkan di bagian
perbatasan dengan daerah diatasnya yang dinamakan daerah di atasnya yang dinamakan daerah
transisi suhunya mencapai 100.000 C. Di atas kromosfer, terdapat daerah transisi tempat temperatur,
naik dengan cepat dari sekitar 100.000 C menjadi sekitar 1 juta derajat celcius pada jarak yang
sangat pendek.
Korona
Di atas daerah transisi kromosfer, terdapat lapisan terluar angkasa matahari yang sangat renggang
dan disebut korona (berarti mahkota). Kerapatan partikel di daerah ini begitu rendah, jauh Iebih
rendah dan kerapatan ruang hampa terbaik yang ada di laboratorium bumi. Di bagian bawah korona
memiliki kerapatan 109 atom/cm3, bandingkan dengan kerapatan atmosfer bumi bagian bawah yang
sebesar 10 atom/cm3 dan bagian atas yang sebesar 1016 atom/cm3. Kecerlangan korona jauh lebih
lemah dibandingkan kecerlangan fotosfer (sepersejuta kalinya).

Korona
Itulah sebabnya korona matahari hanya bias diamati saat gerhana matahari total meskipun
sebenarnya kecerlangan korona sendiri sama dengan setengah kecerlangan bulan purnama. Pada
saat gerhana matahari, korona tampak seperti mahkota yang menyelubungi matahari. Meskipun
demIkian, adanya korona sudah lama diketahui. Korona matahari pertama kali disebutkan oleh
Plutarchus, dan dibahas secara lebih mendalam oleh Johannes Kepler dalam salah satu bukunya.
Pengamatan spektroskopi pada korona menunjukkan bahwa korona terbagi menjadi tiga bagian, yaitu
bagian korona F (Fraunhofer), bagian korona K (Kontinuum), dan bagian korona K dan F yang
ditumpangi spektrum unsur-unsur yang terionisasi. Bagian korona F adalah bagian korona yang
paling besar ukurannya karena bisa meluas sampai ke ruang antarplanet. Dari spektrumnya, didapat
bahwa gas-gas fotosfer seperti hidrogen dan helium sangat mendominasi daerah ini. Spektrum
bagian K berasal dari cahaya fotosfer yang dipantulkan oleh elektron bebas yang ada di korona. Pada
bagian korona yang ketiga, terdapat unsur-unsur yang sangat terionisasi seperti kalsium, besi dan
nikel. Unsur-unsur ini pertama kali dikenali oleh seorang fisikawan Swedia bernama B. Edlen pada
tahun 1942.
Para ahli, pada akhir abad ke-19, merasa yakin telah menemukan unsur baru yang hanya ada di
korona matahari dan diberi nama coronium. Namun, akhirnya para ahli sadar bahwa unsur coronium
ini sebenarnya adalah unsur besi yang terionisasi 13 kali. Pengamatan adanya unsur-unsur yang
sangat terionisasi di korona menyarankan bahwa korona memiliki suhu yang amat tinggi. Hal ini
mengherankan para peneliti karena kalau suhu fotosfer hanya 6.000 C, korona bisa mencapai suhu
satu sampai dua juta derajat celcius. Pada mulanya, para ahli ragu-ragu menerima hal ini. Mereka
berpikir bagaimana mungkin kalor bisa mengalir dari tempat yang dingin ke tempat yang lebih panas?
Hal ini bertentangan dengan salah satu prinsip dalam fisika. Hukum termodinamika
kedua menyatakan bahwa panas selalu mengalir dan tempat yang bersuhu tinggi ke tempat yang
suhunya lebih rendah. Hal mi membingungkan mereka sehingga baru pada tahun 1940-an para ahli
menerimanya sebagai suatu kenyataan. Para ahli flsika matahari mulai mencoba mencari penjelasan
mengapa gejala aneh yang seolah melanggar satu hukum dasar fisika bisa terjadi. Setelah beberapa
lama berlangusng perdebatan, akhirnya yang diterima adalah skenario dari Eugene Parker yang
mengatakan bahwa panasnya gas korona berasal dari terlepasnya energi magnetik yang datang dan
lapisan di bawahnya. Parker mengatakan bahwa pemanasan itu berasal dari proses ledakan flare
berukuran kecil, yang berlangsung sangat sering dari melepaskan energi magnetik, Proses ledakan
flare mikro yang sangat banyak dan sering terjadi inilah yang kemudian memanaskan korona sampai
mencapai temperatur sangat tinggi. Korona matahari tidak stabil, dan selalu berubah. Jika kepada
para pemburu gerhana matahari ditunjukkan foto gerhana matahari total yang disertai dengan gambar
korona yang jelas, mereka mampu mengenali gerhana mana yang mereka lihat dengan mengamati
bentuk koronanya. Pada umumnya, korona tidak terlalu tampak di daerah kutub matahari, dan
kelihatan meluas di daerah ekuator. Tidak setiap titik di permukaan matahari bisa menghasilkan

pancaran partikel yang membentuk korona. Daerah-daerah di fotosfer yang tidak menghasilkan
pancaran korona dinamakan daerah
coronal hole (lubang korona) dan biasanya terletak di daerah kutub-kutub matahari. Sekarang, para
ahli tidak perlu menunggu gerhana matahari total untuk mengamati korona matahari karena mereka
menemukan alat yang mampu membuat gerhana matahari buatan. Alat ini dinamakan koronagraf;
dipasang pada teleskop matahari sehingga menghalangi cahaya fotosfer yang jatuh ke lensa. Selain
itu, alat ini dirancang agar cahaya yang datang di bagian tengah koronagraf lebih banyak terhalang
dibandingkan dengan yang datang di pinggir. Di atas korona, terdapat daerah heliosfer yang berawal
dan daerah sejarak 20 jari-jari matahari dan permukaannya dan meluas sampai bagian tepi tata
surya. Akhir daerah heliosfer ini berada pada jarak sekitar 50 SA dan matahari, dan daerah
perbatasan ini diberi nama daerah heliopause. Penggunaan alat ini semakin banyak memberi
kesempatan kepada para ahli untuk mengamati korona matahari. Potret-potret korona menunjukkan
bahwa daerah yang diliput oleh korona mencapai jutaan kilometer dan permukaan matahari. Hasil
pengamatan terbaik pada korona matahari diperoleh oleh satelit Solar Maximum Mission yang
diluncurkan pada bulan Februari 1980. Satelit ini bias mengamati matahari dalam banyak panjang
gelombang, mulai dan sinar gamma sampai cahaya tampak. Satelit ini berhasil merekam kegiatankegiatan di korona matahari, seperti busur-busur lengkungan korona dan aliran materi yang menjulur
keluar sampal beberapa juta kilometer jauhnya dan permukaan matahari. Data dari satelit ini
membuat para ahli mendapat gambaran yang semakin lengkap tentang korona matahari kita.
Pengamatan korona membuat para ahIi mendapatkan gambaran bagaimana struktur medan magnet
matahari di daerah itu. Hal ini persis dengan cara kita mengamati medan magnet di sekeliling sebuah
magnet batang dengan menaburkan serbuk besi di sekeliling magnet batang itu. Pola penyebaran
serbuk besi menggambarkan bagaimana bentuk dan struktur medan magnet batang itu. Bentukbentuk lengkungan pada busur-busur korona menunjukkan partikel-partikel yang terkungkung garisgaris gaya medan magnet matahari yang kutub-kutubnya ada di permukaan matahari. Partikel
bermuatan yang berada di dalam suatu medan magnet tidak bisa bergerak tegak lurus medan itu,
tetapi hanya bisa dalam arab yang sejajar medan. Akibatnya, tampak busur-busur korona karena
terkungkungnya partikel-partikel bermuatan di medan magnet korona. Bagian korona yang menjulur
keluar merupakan daerah yang garis.garis gayanya terputus sehingga partikel-partikel yang ada di
dalam medan magnet itu bisa bergerak. Korona yang bisa menjulur sampai jutaan kilometer dan
permukaan matahari membawa partikel dan radiasi yang dipancarkan ke segala arab dengan
kecepatan yang amat tinggi. Partikel-partikel ini, yang terlepas dan medan gravitasi matahari,
kemudian dinamakan solar wind (angin surya). Selain melalui mekanisme di atas, angin surya bisa
dilepaskan oleh lubang-lubang korona, bahkan diduga sebagian besar pancaran angin surya yang
berkecepatan tinggi berasal dan lubang korona ini. Angin surya bergerak dalam ruang antarplanet
dengan kecepatan tinggi, dan saat sampai di dekat bumi mencapai kecepatan 500 km/detik. Akibat
hembusan angin surya ini medan magnet bumi (magnetosfer bumi) menjadi tidak simetris bentuknya.
Pada baglan siang, (yang menghadap matahari) magnetosfer bumi menjadi lebih mampat sehingga
medan ini hanya ada sampai pada jarak 10 jari-jari bumi, sedang pada bagian malam (daerah yang
membelakangi matahari) medan bisa meluas sampai pada jarak 1.000 jari-jari bumi. Angin surya tidak
hanya terasa di dekat bumi saja, tetapi terasa juga sampai di Yupiter yang jaraknya dan matahari 5
kali jarak bumi-matahari. Kemungkinan kekuatan angin surya juga masih terasa di planet-planet yang
lebih luar lagi. mengenal struktur matahari