Anda di halaman 1dari 3

Nama

: Mohammad Lutfi Mustofa

NPM

: 170410140036

Mata Kuliah : Teori Komunikasi

A. Teori Komunikasi Massa


Teori komunikasi massa yang akan dibahas disini bernuansa teori efek media
(theories of media effect). Menurut Straubhaar dan LaRose (2000), disamping mengkaji
tentang apa saja efek media terhadap manusia, para peneliti juga membuktikan bagaimana
peranan media terhadap manusia secara psikis.
1. Teori Peluru atau Jarum Hipodermik
Teori peluru ini merupakan konsep awal efek komunikasi massa pada tahun 1970-an
menamakan pula hypodermic needle theory (teori jarum hipedermik). Teori ini
mengasumsikan bahwa media meiliki kekuatan yang sangat perkasa, dan komunikan
dianggap pasif atau tidak tahu apa-apa. Seorang komunikator dapat menembakkan peluru
komunikasi yang begitu ajaib kepada khalayak yang tidak berdaya (pasif).
Teori peluru yang dikemukakan oleh Wilbur Schramm pada tahun 1950-an ini
kemudian dicabut kembali pada tahun 1970-an, dengan meminta kepada para
pendukungnya untuk menganggap teori ini tidak ada, sebab khayalak yang menjadi
sasaran media massa itu ternyata tidak pasif. Pernyataan Schramm ini didukung oleh Paul
Lazarsfeld dan Raymond Bauer. Lazarsfeld mengatakan bahwa jika khalayak diterpa
peluru komunikasi, mereka tidak jatuh terjerembab, karena terkadang peluru-peluru itu
tidaklah tembus. Adakalanya pula efek yang timbul berlainan dengan tujuan si penembak.
Seringkali pula khalayak yang dijadikan sasaran senang untuk ditembak. Sedangkan
bauer menyatakan bahwa khalayak sasaran tidak pasif. Mereka secara aktif mencari yang
diinginkannya dari media massa. Jika menemukannya, mereka melakukan interpretasi
sesuai dengan presdisposisi dan kebutuhan mereka.
Sejak tahun 1960-an banyak penelitian yang dilakukan para pakar komunikasi yang
ternyata tidak mendukung teori peluru tadi. Kemudian muncul teori limited effect model
atau model efek terbatas, sebagai hasil penelitian Hovland yang dilakukan dengan
menayangkan film bagi tentara, Hovland mengatakan bahwa pesan komunikasi efektif
dalam menyebarkan informasi, bukan dalam mengubah perilaku. Penelitian lazarsfeld dan
kawan-kawan terhadap kegiatan pemilihan umum menampakkan bahwa hanya sedikit
orang yang dijadikan sasaran kampanye pemilihan umum yang terpengaruh oleh
komunikasi massa.

2.

Teori Two Step Flow


Teori ini berawal dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Paul Lazarsfeld et.al.,
mengenai efek media massa dalam suatu kampanye pemilihan presiden Amerika Serikat
pada tahun 1940. studi tersebut dilakukan dengan asumsi bahwa proses stimulus respon
bekerja dalam menghasilkan efek media massa. Namun hasil penelitian menunjukan
sebaliknya.
Efek media massa ternyata rendah, dan asumsi S-R tidak cukup
menggambarkan realitas khalayak media massa dalam penyebaran arus informasi dan
pembentukan pendapat umum.
Dalam analisisnya terhadap penelitian tersebut, Lazarsfeld kemudian mengajukan
gagasan mengenai komunikasi dua tahap (two step flow) dan konsep pemuka pendapat
(opinion leader). Temuan mereka mengenai kegagalan media massa dibandingkan
dengan pengaruh kontak antarpribadi telah membawa gagasan bahwa seringkali informasi
mengalir dari radio dan suratkabar kepada para pemuka pendapat, dan dari mereka
kepada orang-orang lain yang kurang aktif dalam masyarakat.
Teori dan penelitian-penelitian two step flow memiliki asumsi-asumsi sebagai berikut:
1.
Individu tidak terisolasi dari kehidupan social, tetapi merupakan anggota dari
kelompok kelompok social dalam berinteraksi dengan orang lain.
2.
Respon dan reaksi terhadap pesan dari media tidak akan terjadi secara langsung dan
segera, tetapi melalui perantaraan dan dipengaruhi oleh hubungan-hubungan social
tersebut.
3.

Ada dua proses yang berlangsung;

a.

Mengenai penerimaan dan perhatian,

b.
Berkaitan dengan respon dalam bentuk persetujuan atau penolakan terhadap upaya
mempengaruhi atau penyampaian informasi.
4.
Individu tidak bersikap sama terhadap pesan/kampanye media, melainkan memiliki
berbagai pesan yang berbeda dalam proses komunikasi, dan khususnya, dapat dibagi atas
mereka yang secara aktif menerima dan meneruskan/menyebarkan gagasan dari media,
dan semata-mata mereka hanya mengandalkan hubungan personal dengan orang lain
sebagai panutannya. Individu-individu yang berperan lebih aktif (pemuka pendapat)
ditandai dengan -penggunaan media massa lebih besar, tingkat pergaulan yang lebih
tinggi, aggapan bahwa dirinya berpengaruh terhadap orang-orang lain, dan memiliki
pesan sebagai sumber informasi dan panutan.

B. Pendapat tentang Teori Paul Lazarsfeld


Cara kerja media massa dalam mempengaruhi opini masyarakat terjadi dalam dua tahap
menurut Lazarsfeld. Disebut dua tahap karena model komunikasi ini dimulai dengan tahap

pertama sebagai proses komunikasi massa, yaitu sumbernya adalah komunikator kepada
pemuka pendapat. Kedua sebagai proses komunikasi antarpersonal, yaitu dimulai dari
pemuka pendapat kepada pengikut-pengikutnya. Proses tersebut bisa digambarkan seperti ini:

Media Massa
(Mass Audience)

Pesan-pesan

Opinion Leaders

Followers

Pada masa selanjutnya, teori ini memperlihatkan bahwa pengaruh media itu kecil, ada
variabel lain yang lebih bisa mendominasi dalam mempengaruhi masing-masing penonton.
Contohnya pada saat sekarang ini dapat dilihat dari dua orang yang sedang menonton sebuah
iklan motor di TV. Orang pertama berkeyakinan bahwa motor yang ditayangkan dalam iklan
tersebut adalah paling bagus daripada motor lainnya, karena ia pun telah mencoba dan
membuktikannya. Dan akhirnya ia menceritakan hal itu kepada penonton lain yang kebetulan
sedang mencari motor yang dianggap baik pula. Setelah itu, penonton kedua pun mendapat
keyakinan yang sama, sehingga ia membeli motor yang serupa. Dari contoh tersebut dapat
disimpulkan bahwa variabel lain yang dianggap lebih bisa mendominasi daripada media
adalah seseorang terdekat yang memberi pengaruh kuat pada orang lainnya.
Secara umum menurut teori ini media massa tidak bekerja dalam suatu situasi kevakuman
sosial, tetapi memiliki suatu akses ke dalam jaringan hubungan sosial yang sangat kompleks
dan bersaing dengan sumber-sumber gagasan, pengetahuan, dan kekuasaan.