Anda di halaman 1dari 21

UNIVERSITAS KADIRI

FAKULTAS ILMU KESEHATAN


STATUS TER AKREDITASI BAN-PT
Program Studi : 1. Ilmu Keperawatan (S.1), 2. Kebidanan (D.III), 3. Bidan Pendidik (D.VI)
Sekretariatan : Jl. Selomangleng No. 1 Kediri Telp. (0354)775074/771846,fax (0354)771846

PROPOSAL
MAKP SENTRALISASI OBAT
PRAKTIK MANAJEMEN KEPERAWATAN DI
RUANG BOUGENVILLE RSUD MARDI WALUYO BLITAR

Oleh:
KELOMPOK G dan I
Fais Fadil Roista
Herma Riatiningsih
Nur Hidayah
Flourentien Tiara E
Nilwan Arfiansah
Pungky Apri Utama
Dwi Apriadi
Novan Suma P
Sulfiana Bayinatin
Tri Rahayu L

14640414
14640423
14640435
14640421
14640431
14640436
14640410
14640432
14640447
14640448

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS KADIRI
2015

LEMBAR PENGESAHAN
PROPOSAL
MAKP PENERIMAAN PASIEN BARU
PRAKTIK MANAJEMEN KEPERAWATAN DI
RUANG BOUGENVILLE RSUD MARDI WALUYO

Disusun Oleh:
Kelompok G dan I

Telah disahkan pada:


Tanggal ...................................................2015
Pembimbing Lahan

Pembimbing Institusi

(Titik Wahyuni, S.Kep, Ns)


NIP. 197105001997032009

(Ifana A. S.Kep, Ns, M.Kep)


NIDN. 0728038302

Mengetahui,
Kepala Ruang Bougenville

(Widiantoro, S.Kep, Ns)


NIP. 196812091989021001

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tuntutan masyarakat terhadap kualitas pelayanan keperawatan yang
prima dirasakan sebagai suatu fenomena yang harus segera direspon oleh
perawat. Respon yang ada harus bersifat kondusif dengan mempelajari
langkah-langkah konkrit dalam pelaksanaannya (Nursalam, 2014). Salah
satunya adalah dalam pengelolaan obat pasien. Teknik pengelolaan obat
secara sentralisasi merupakan pengelolaan obat dimana seluruh obat yang
akan diberikan pada pasien diserahkan sepenuhnya kepada perawat.
Pengeluaran dan pembagian obat juga sepenuhnya dilakukan oleh perawat.
Sentalisasi obat diharapkan dapat diberikannya terapi farmakologi
(pengobatan) secara tepat pasien, tepat waktu, tepat dosis, tepat cara
pemberian sehingga akan memperpendek waktu rawat inap. Sentralisasi obat
di Ruang Bougenville kamar 9 dilaksanakan pada obat injeksi yang disimpan
oleh petugas ditempat khusus di ruang perawat dan diberikan menurut jadwal
pemberian, sedangkan obat oral diberikan kepada pasien/keluarganya dan
perawat hanya memberitahukan cara pemberiaannya. Resep dari dokter
diberikan keluarga pasien untuk dibelikan di apotek, setelah mendapatkan
obatnya diserahkan ke perawat untuk dicatat pada buku penerimaan obat.
Karena hal tersebut diatas, kelompok G dan I berencana akan mensosialikan
dan melaksanakan sentralisasi obat yang mencakup obat injeksi maupun oral
karena pengelolaan sentralisasi yang optimal merupakan salah satu usaha
untuk meningkatkan mutu pelayanan keperawatan.
Penggunaan obat yang tidak tepat dapat menimbulkan berbagai kerugian
pada pasien. Resistensi tubuh terhadap obat dan resiko resistensi kuman
penyakit dapat terjadi jika konsumsi obat oleh penderita tidak terkontrol
dengan baik. Kerugian lain yang bisa terjadi adalah terjadinya kerusakan
organ tubuh atau timbulnya efek samping obat yang tidak diharapkan. Selain
itu penggunaan obat yang tidak tepat dapat menimbulkan kerugian pasien
secara ekonomi. Oleh karena itu diperlukan suatu cara yang sistematis
sehingga penggunaan obat benar-benar dapat dikontrol oleh perawat dan

pasien/keluarga serta resiko kerugian baik secara material maupun non


material dapat dihindari, pada akhirnya kepercayaan pasien terhadap perawat
juga

semakin

meningkat.

Berdasarkan

hal

tersebut,

untuk

lebih

mengoptimalkan pelaksanaan sentralisasi keperawatan di Ruang Bougenville


kamar 9, kami akan melaksanakan sentralisasi obat oral di ruangan tersebut.
1.2 TUJUAN
1. Tujuan Umum
Mengaplikasikan peran perawat dalam pengelolaan sentralisasi obat dan
mendokumentasikan hasil pengelolaan sentralisasi obat.
2. Tujuan Khusus
a. Mampu meningkatkan pemahaman perawat Ruang Bougenville dan
mahasiswa dalam menerapkan pemberian obat secara tepat dan benar
sesuai dengan prinsip 6 T dan 1 W ( tepat pasien, tepat obat, tepat dosis,
tepat waktu, tepat cara pemberian, tepat dokumentasi dan waspada efek
samping obat) serta mendokumentasikan hasil pengelolaan.
b. Mampu meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan ketrampilan perawat
di Ruang Bougenville dan mahasiswa dalam mengelola sentralisasi obat.
c. Mampu meningkatkan kepatuhan pasien di Ruang Bougenville dalam
penggunaan obat sesuai dengan program terapi.
d. Mampu meningkatkan kepuasan dan pasien dan keluarga atas asuhan
keperawatan yang diberikan.
e. Meningkatkan kepercayaan pasien dan keluarga terhadap perawat dalam
pengelolaan sentralisasi obat.
1.3 Manfaat
1. Bagi Klien
a. Tercapainya kepuasan klien yang optimal terhadap pelayanan keperawatan
b. Klien dapat terhindar dari resiko resistensi tubuh terhadap obat
2. Bagi perawat
a. Tercapainya kepuasan kerja yang optimal
b. Dapat mengontrol secara langsung obat-obatan yang dikonsumsi klien
c. Meningkatkan kepercayaan klien dan keluarga kepada perawat.
3. Bagi institusi
a. Tercapainya pengalaman dalam pengelolaan sentralisasi obat

b. Terciptanya model asuhan keperawatan professional

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian
Sentralisasi obat adalah pengelolaan obat dimana seluruh obat yang akan
diberikan kepada pasien diserahkan pengelolaan sepenuhnya oleh perawat
(Nursalam, 2014)
2.2 Tujuan Pengelolaan Obat
Tujuan pengelolaan obat adalah menggunakan obat secara bijaksana dan
menghindari pemborosan, sehingga kebutuhan asuhan keperawatan pasien
dapat terpenuhi
Hal-hal berikut ini adalah beberapa alasan yang paling sering mengapa
obat perlu disentralisasi.
1. Memberikan bermacam-macam obat untuk satu pasien.
2. Menggunakan obat yang mahal dan bermerek, padahal obat standart yang
lebih murah dengan mutu yang terjamin memiliki efektifitas dan
keamanan yang sama.
3. Meresepkan obat sebelum diagnosis pasti dibuat hanya untuk mencoba.
4. Menggunakan dosis yang lebih besar dari pada yang diperlukan
5. Memberikan obat kepada pasien yang tidak mempercayainya, dan yang
akan membuang atau lupa untuk minum.
6. Memesan obat lebih daripada yang dibutuhkan, sehingga banyak yang
tersisa sesudah batas kadaluarsa.
7. Tidak menyediakan lemari es, sehingga vaksin dan obat menjadi tidak
aktif.
8. Meletakkan obat ditempat yang lembab, terkena cahaya atau panas.
9. Mengeluarkan obat (dari tempat penyimpanan) terlalu banyak pada suatu
waktu sehingga dipakai berlebihan atau dicuri.
2.3 Teknik Pengelolaan Obat (Sentralisasi)
Pengeluaran dan pembagian obat sepenuhnya dilakukan oleh perawat.
1. Penangguang jawab pengelolaan obat adalah kepala ruangan yang secara
oprasional dapat didelegasikan kepada staf yang ditunjuk.
2. Keluarga wajib mengetahui dan ikut serta mengontrol penggunaan obat
3. Penerimaan obat.
a. Obat yang telah diserapkan ditunjukan kepada perawat dan obat yang
telah diambil oleh keluargadiserahkan kepada perawat dengan menerima
lembar terima obat

b.

Perawat menuliskan nama pasien, regestrasi, jenis obat, jumlah


dan sediaan

(bila perlu) dalam kartu control, dan diketahui

(ditandatangani) oleh keluarga atau pasien dalam buku masuk obat.


Keluarga atau pasien selanjutnya mendapatkan penjelasan kapan atau
bilamana obat tersebut akan habis, serta penjelasan tentang 5T (indikasi,
dosis, waktu, pasien, cara pemberian dan dokumentasi).
c. Pasien atau keluarga selanjutnya mendapatkan salinan obat yang harus
diminum beserta kartu sediaan obat.
d.
Obat yang telah diserahkan selnjutnya disimpan oleh perawat
dalam kontak obat (Nursalam, 2014)
4. Pembagian obat
a. Obat yang telah diterima untuk selanjutnya disalin dalam buku daftar
pemberian obat.
Obat yang telah disimpan untuk selanjutnya diberikan oleh

b.

perawat dengan memperhatikan alur yang tercantum dalam buku daftar


pemberian obat: dengan terlebih dahulu dicocokkan dengan terapi
diinstruksi dokter dan kartu obat yang ada pada pasien.
c. Pada saat pemberian obat, perawat menjelaskan macam obat, kegunaan
obat, jumlah obat, dan efek samping, usahakan tempat atau wadah obat
kembali keperawat setelah obat dikonsumsi, pantau efeksamping pada
pasien.
d.

Sediaan obat yang ada selanjutnya diperiksa setiap pagi oleh


kepala ruangan atau petugas yang ditujuk dan didokumentasikan dalam
buku masuk obat. Obat-obatan yang hamper habis akan diinformasikan
kepada keluarga dan kemudian dimintakan resep (jika masih perlu
dilanjutkan) kepada dokter penanggung jawab pasien (Nursalam, 2014)

5. Penambahan obat baru


a. Bilamana terdapat penambahan atau perubahan jenis, dosis atau
perubahan alur pemberian obat, maka informasi ini akan dimasukan
dalam buku masuk obat sekaligus dilakukan perubahan dalam kartu
sedian obat.
b.
Pada pemberian obat yang bersifat tidak rutin (sewaktu saja) maka
dokumentasi hanya dilakukan pada buku masuk obat dan selanjutnya

diinformasikan kepada keluarga dengan kartu khusus obat (Nursalam,


2014).
6. Obat Khusus
a. Obat dikategorikan khusus apabila sediaan memiliki harga yang cukup
mahal, menggunakan alur pemberian yang cukup sulit, memiliki efek
sampingyang cukup besar atau hanya diberikan dalam waktu tertentu /
sewaktu saja.
b.
Pemberian obat khusus dilakukan menggunkan kartu khusus obat,
dilaksanakan oleh perawat primer.
c. Informasi yang diberikan kepada pasien atau keluarga: nama obat,
kegunaan obat, waktu pemberian, efek samping, penanggung jawab
pemberian, dan wadah obat sebaiknya diserahkan atau ditunjukan
kepada keluarga setelah pemberian. Usahakan terdapat saksi dari
keluarga saat pemberian obat (Nursalam, 2014).

Dokter

Perawat Primer

Pendekatan
perawat
PASIEN/ KELUARGA
persetujuan sentralisasi obat

FARMASI/ APOTIK

Diagram alur pelaksanaan sentralisasi obat ( Nursalam, 2014 )


PENGATURAN DAN PENGELOLAAN OLEH PETUGAS FARMASI
Lembar serah terima obat,
buku serah terima obat
PENERIMAAN, PENDISTRIBUSIAN, PENYIMPANAN OLEH PERAWAT

PASIEN / KELUARGA

OBAT HABIS

Bagan 4. Alur Sentralisasi Obat


7. Menyimpan persediaan obat
a. Memeriksa ulang atas kebenaran obat dan jenis obat, jumlah obat dan
menulis etiket dan alamat pesien. Penyimpanan stok (persediaan) yang
teratur dengan baik merupakan bagaian penting dari manajemen obat.
Obat yang diterima dicatat dalam buku besar persediaan atau dalam kartu
persedian.
b. Sistem kartu persediaan, Sebuah kartu persediaan (kartu stok) kadangkadang digunakan untuk menggantikan buku besar persediaan, kartu ini
berfungsi seperti buku besar persediaan, yakni neraca diseimbangkan
dengan menambahkan barang yang diterima dan mengurangi dengan
jumlah barang yang dikeluarkan dalam buku besar persediaan, masingmasing barang ditempatkan pada halaman yang terpisah. Tetapi dalam
system kartu persediaan, masing-masing barang dituliskan dalam kartu
yang terpisah.
c. Lemari obat, Periksa keamanan mekanisme kunci dan penerangan lemari
obat serta lemari pendingin. Periksa persediaan obat, pemisahan antara
obat untuk penggunaan oral (untuk diminum) dan obat luar.
2.4 PERAN
1. Kepala Ruangan
a. Memberikan perlindungan pada pasien terhadap tindakan malpraktek.
b. Memotivasi klien untuk mematuhi program terapi.
c. Menilai kepatuhan klien terhadap program terapi.
2. KATIM
a. Menjelaskan tujuan dilaksanakannya sentralisasi obat.
b. Menjelaskan manfaat dilaksanakannya sentralisasi obat.

c. Melakukan tindakan kolaborasi dalam pelaksanaan program terapi.


3. Perawat pelaksana
Melakukan pencatatan dan kontrol terhadap pemakaian obat selama klien
dirawat.
2.5 Pelaksanaan
Kegiatan sentralisasi obat dilaksanakan pada minggu pertama sampai
dengan minggu kedua selama mahasiswa praktek di ruang anak. Ruangan
yang digunakan dalam mengelola sentralisasi obat adalah ruang nurse station
dan ruang perawatan. Metode yang digunakan adalah ODD (One Day Dose),
dengan melibatkan depo farmasi ruangan.
2.6 Instrumen
1.
2.
3.
4.

Surat persetujuan pengelolaan sentralisasi obat


Lemari/kotak sentralisasi obat, tempat obat dan baki
Tanda bukti serah terima obat dari farmasi
Format pemberian obat oral dan injeksi

2.7 Mekanisme Kegiatan


Tahap
Kegiatan
Waktu
Persiapan
1. KATIM mengucapkan salam dan 10 menit
melaporkan kegiatan sentralisasi
kepada Karu.
2. Karu
menanyakan
persiapan
sentralisasi obat oral dan injeksi.
3. KATIM menyebutkan hal-hal
yang sudah disiapkan.
4. Karu memeriksa kelengkapan
administrasi sentralisasi obat
(meliputi
:informed
consent,
formulir pemberian obat oral dan
injeksi, lembar serah terima obat)
Pelaksanaan 5. KATIM menerima obat dari depo
farmasi, dengan model one day
dose.
6. KATIM melakukan pencatatan
pada format penerimaan obat oral
dan injeksi, yang meliputi:
a. Identitas pasien
b.
Nama obat, dosis dan cara
pemberiannya

Tempat
Nurse
Station

Pelaksana
KATIM

Karu

KATIM
Karu

Nurse
station

KATIM

Nurse
station

KATIM

c. Jumlah obat yang diterima dari


farmasi
d. Jam dan nama penerima obat
7. KATIM dan PP menjelaskan
informed consent sentralisasi obat.
8. KATIM dan PP Menyiapkan kartu
serah terima obat oral.
9. KATIM memberikan penjelasan
pada
pasien
dan
keluarga
mengenai nama obat yang akan
diberikan, manfaat, dosis, cara
pemberian, efek samping dan
kontra-indikasinya.
10. KATIM dan PP memberikan obat
oral kepada pesien sesuai dengan
jadwal yang sudah ditentukan.
11. PP memberikan obat kepada
pasien
dengan
melibatkan
keluarga.
12. Kemudian PP menandatangani
format pemberian obat oral
maupun
injeksi
serta
mengobservasi efek samping dari
obat yang telah diberikan.
13. Karu
mengecek
kembali
kelengkapan pendokumentasian
sentralisasi obat

Bed
pasien
Bed
pasien

KATIM,
PP
KATIM,
PP
KATIM
dan PP

Bed
pasien

PP
Bed
pasien

PP

Bed
pasien

PP

Nurse
station

Karu,
KATIM,
PP

2.8 Petunjuk Teknis Pengisian Format Surat Persetujuan Sentralisasi Obat


1. Nama, umur, jenis kelamin, alamat dapat diisi dengan nama pasien sendiri,
anak, istri, suami,orang tua, dan lain-lain.
2. Nama klien, umur, jenis kelamin, alamat, no reg diisi sesuai data klien
yang bersangkutan.
3. Ruangan diisi sesuai tempat pasien dirawat.
4. Pengisian tanggal sesuai dengan tanggal pelaksanaan informed consent
(yaitu diawal klien MRS).
5. Format ditandatangani oleh perawat yang menerangkan dan klien yang
menyetujui dilakukan tindakan sentralisasi obat, disertai para saksi-saksi.
2.9 Petunjuk Teknis Pengisian Format Pemberian Obat
1.

Pengisian nama pasien, no register, umur, ruangan.

2.

Kolom nama obat diisi sesuai dengan obat yang diberikan sesuai dosis, dan

3.
4.
5.
6.

cara pemberian.
Kolom tanggal diisi tanggal pemberian obat secara horizontal.
Kolom terima diisi jumlah obat yang diterima dari depo farmasi
Kolom penerima diisi nama perawat yang menerima, kemudian paraf
Kolom pemberian obat diisi sesuai jam berapa obat diberikan beserta nama

7.

perawat atau paraf.


Kolom sisa diisi oleh perawat shift malam yaitu jumlah obat yang masih
ada setelah pemberian beserta nama perawat.

2.10 Petunjuk Teknis Pengisian Tanda Bukti Serah Terima Obat (Untuk
Farmasi)
1.

Kolom tanggal penerimaan obat diisi sesuai dengan tanggal serah terima

2.
3.

obat.
Pengisian nama pasien, umur, No. Register ruangan.
Kolom nama obat, dosis dan jumlah (sediaan) diisi sesuai dengan nama

4.
5.

obat, frekuensi pemberian dan jumlah yang diterima.


Kolom TT dan nama terang yang menyerahkan diisi oleh petugas farmasi.
Kolom TT dan nama terang yang menerima diisi oleh perawat yang
menerima.

2.11 Petunjuk Teknis (Juknis) Sentralisasi Obat


1. Perawat menjelaskan tujuan dan manfaat dari sentralisasi obat (diawal
MRS)
2. Pasien/keluarga mengisi format persetujuan sentralisasi obat (diawal
MRS)
3. Perawat menerima obat dari farmasi dengan model ODD (One Day Dose)
4. Perawat menyimpan obat yang telah diterima dan disimpan di kotak obat
5. Perawat meletakkan obat di tempat obat saat memberikan obat pada pasien
sesuai dengan jadwal pemberian obat yang telah ditentukan.

SURAT PERSETUJUAN
DILAKUKAN SENTRALISASI OBAT
Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama

Umur

Alamat

Menyatakan setuju/tidak setuju *) untuk dilakukan sentralisasi obat terhadap diri


saya sendiri / istri / suami / anak / ayah / ibu saya *) , dengan :
Nama

Umur

Jenis kelamin :
Alamat

Ruang

No. RM

Dengan ketentuan sebagai berikut :


1. Pasien/keluarga mengisi surat persetujuan untuk kerja sama pengelolaan
sentralisasi obat
2. Setiap ada resep dari dokter diserahkan dulu pada perawat yang bertugas
saat itu
3. Obat dari apotik diserahkan pada perawat
4. Nama obat, dosis, jumlah yang diterima akan dicatat dalam lembar serah
terima obat dan ditanda tangani oleh keluarga/pasien dan perawat yang
menerima
5. Setiap hari perawat memberikan obat yang diserahkan pasien/keluarga
sesuai dosis atau aturan minum pasien

6. Bila obat habis, akan dimintakan resep pada dokter.


7. Bila ada pergantian obat, akan diinformasikan oleh perawat sesuai hasil
koordinasi dengan dokter dan depo farmasi
8. Bila pasien pulang dan obat masih ada atau belum habis sisa obat akan
diberikan kepada pasien/keluarga
Ketentuan sentralisasi obat tersebut diatas telah dijelaskan oleh perawat dan saya
telah mengerti denga sepenuhnya.
Demikian pernyataan ini di buat dengan sebenar-benarnya untuk dipergunakan
sebagaimana mestinya.
Blitar,... Juni 2015
Yang membuat pernyataan,
KATIM

(................................)

Pasien/Keluarga

(...............................)

Saksi-saksi :
1.

.............................

(
*) coret salah satu

2. .............................

LEMBAR SERAH TERIMA OBAT DI RUANG BOUGENVILLE


Nama Pasien :
Umur
:
No. Tanggal
Nama Obat

Jumlah

No. Kamar
:
No. Reg.
:
TTD /
TTD/
Keterangan
nama terang nama
terang
perawat
keluarga pasien

FORMULIR PENERIMAAN RESEP OBAT


Nama Pasien :
Ruang
:
Umur
:
No. Reg
:
No

Tanggal

Resep

Obat

Tanda

tangan Tanda

perawat

pasien/kelu
arga

FORMULIR PEMBERIAN OBAT

tangan

Nama Pasien :
Umur
:
Tgl
Nama
Obat :

Dosis :

Ruang
No. Reg

:
:

Terima
(jumlah)
Penerim
a
Jam Paraf Jam Para
f

Jam Paraf Jam Para


f

Jam Paraf Jam Paraf

Jam Paraf Jam Para


f

Jam Paraf Jam Para


f

Jam Paraf Jam Paraf

Jam Paraf Jam Para


f

Jam Paraf Jam Para


f

Jam Paraf Jam Paraf

Cara
Pemberian
(rute) :

Sisa
Tgl
Nama
Obat :
Dosis :

Terima
(jumlah)
Penerim
a
Rina

Cara
Pemberian
(rute) :

Sisa
Tgl
Nama
Obat :

Dosis :

Cara

Terima
(jumlah)
Penerim
a

Pemberian
(rute) :
Nama
Obat :

Sisa
Tgl
Terima
(jumlah)
Penerim
a
Jam Paraf Jam Para
f

Jam Paraf Jam Para


f

Jam Paraf Jam Paraf

Jam Paraf Jam Para


f

Jam Paraf Jam Para


f

Jam Paraf Jam Paraf

Dosis :

Cara
Pemberian
(rute) :
Sisa
Tgl
Nama
Obat :

Terima
(jumlah)
Penerim
a

Dosis :

Cara
Pemberian
(rute) :
Sisa

BAB 3
KEGIATAN
1. Penanggung Jawab: Tri Rahayu
2. Tujuan :
Mampu melaksanakan peran KATIM dalam pengelolaan sentralisasi obat dan
mendokumentasikan hasil pengelolaan sentralisasi obat dengan benar.
3. Rencana Strategi :
a. Melakukan persiapan sentralisasi obat meliputi informed consent, format
serah terima obat dan format pemberian obat oral/ injeksi.
b. Melaksanakan sentralisasi obat berkolaborasi dengan dokter dan bagian
farmasi.
c. Mendokumentasikan hasil pelaksanaan pengelolaan sentralisasi obat.
4. Pelaksanaan Kegiatan:
Topik

: Sentralisasi Obat

Hari/Tanggal

: Kamis 25 juni 2015

Waktu

: Pukul 10.00 Wib

Tempat

: Nurse Station

5. Pengorganisasian:
Kepala Ruangan

: Fais Fadil Roista

Katim

: Tri Rahayu

Perawat Pelaksana : Dwi Apriadi, Nur Hidayah, Pungky Apri Utama


Pembimbing

: Ifana Anugraheni, S.Kep, Ns,. M.Kep

Supervisor

: Titik Wahyuni, S.Kep, Ns

a. Struktur (input)
1. Pelaksanaan sentralisasi obat dilaksanakan di ruang

2. Persiapan dilakukan sebelumnya.


3. Perawat yang betugas.
b. Proses
1. Pelaksanaan sentralisasi obat dilakukan sesuai dengan ruangan yang telah
ditentutan dan pasien yang menyetujui informed consent untuk dilkukan
sentralisasi obat.
2. Pelaksanaan sentralisasi obat sesuai dengan alur yang telah ditentukan.
c. Hasil
1.
2.
3.
4.

Pasien puas dengan hasil pelaksanaan sentralisasi obat.


Obat dapat diberikan secara tepat dan benar.
Perawat mudah mengontrol pemberian obat.
Pendokumentasian pemberian obat dapat dilakukan dengan benar.

DAFTAR PUSTAKA
Nursalam. 2014. Manajemen Keperawatan : Aplikasi dalam praktek Keperawatan
Profesional, Jakarta: Salemba Medika.
Gillies. 1989. Manajemen keperawatan suatu pendekatan sisitem. Alih bahasa :
Dika Sukmana. Jakarta