Anda di halaman 1dari 19

ASUHAN

KEPERAWATAN PADA ANAK

DENGAN GANGGUAN HIPERTIROID

OLEH
o RISMADANTI
NIM: 712003S14038
o MAHFUDIN
NIM: 712003S14020

YAYASAN ABDI KALIMANTAN


AKADEMI KEPERAWATAN PANDAN
HARUM BANJARMASIN
2015/2016
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur terucap hanya pada Allah SWT yang Maha Esa atas Ridonya
akhirnya kami dapat menyelesaikan makala ini untuk mata kuliah
KEPERAWATAN ANAK, yang membahas mengenai, ASUHAN

KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN GANGGUAN HIPERTIROID yang


merupakan pengetahuan penting yang harus diketahui.
Salawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan Nabi Muhammad SAW,
kepada keluarga dan sahabatnya, serta seluruh umat yang senantiasa taat dalam
menjalankan syariatnya.
Kami ucapkan terima kasih yang tiada tara kepada seluruh pihak yang telah
membantu mensukseskan makalah ini hingga selesai, baik secara langsung
maupun tidak.
Bila dalam penyampaian makalah ini ditemukan hal-hal yang tidak berkenan
bagi pembaca, dengan segala kerendahan hati kami mohon maaf yang setulusnya.
Kritik dan saran dari pembaca sebagai koreksi sangat kami harapkan untuk
perbaikan makala ini kedepan. Semoga taufik, hidayat dan rahmat senantiasa
menyertai kita semua menuju terciptanya keridhoan Allah SWT.

Banjarmasin, 5 oktober 2015

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...ii
DAFTAR ISI.....iii

BAB I PENDAHULUAAN..

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Kondisi kesehatan masyarakat sekarang ini, memungkinkan terjadinya


perubahan pada pola penyakit. Untuk menjaga keseimbangan fisik, system
endokrin berfungsi sebagai regulator yang mengatur berbagai proses yang
terjadi dalam tubuh, terutama proses yang berkaitan dengan fungsi hormonal.
Perubahan-perubahan yang terjadi pada aktivitas kelenjar dan hormon
biasanya menimbulkan efek yang bermacam-macam, salah satu masalah
kesehatan yang berkaitan dengan kelenjar endokrin adalah hipertiroid
Jumlah penderita hipertiroid terus meningkat. Hipertiroidsme adalah
tirotoksikosis sebagai akibat produksi tiroid itu sendiri. Tirotoksikosis terbagi
atas kelainan yang berhubungan dengan hipertiroidisme dan yang tidak
berhubungan dengan hipertiroidsme.
Tiroid sendiri diatur oleh kelenjar lain yang berlokasi di otak, disebut
pitiutari. Pada giliranya, pitiutari diatur sebagian oleh hormone tiroid yang
beredar dalam darah (suatu efek umpan balik dari hormon tiroid pada kelenjar
pitiutari) dan sebagian oleh kelenjar lain yang disebut hipotalamus, juga suatu
bagian dari otak.
Hipotalamus melepaskan suatu hormon yang disebut thyrotropin
releasing hormon yang disebut thyrotropin releasing hormone (TSH). pada
gilirannya, TSH mengiri sebuah sigmal ke tiroid untuk melepas hormonhormon tiroid. Jika aktivitas yang berlebehan dari yang mana saja dari tiga
kelenjar-kelenjar ini terjadi, suatu jumlah hormon-hormon tiroid yang
berlebihan dapat dihasilkan, dengan demikian berakibat pada hipertiroid.
pengobatan hipertiroidisme adalah membatasi produksi hormon tiroid yang
berlebihan dengan cara menekan produksi (obat antitiroid) atau merusak
jaringan tiroid (yodium radioaktif, tiroidektomi subtotal).
kejadian pembesaran kelenjar tiroid terbanyak ditemukan pada usia 9
sampai 13 tahun pada anak laki-laki dan antara usia 12 sampai 18 tahun pada
anak perempuan. pada usia dewasa jarang sekali terjadi pembesaran kelenjar
tiroid kecuali pada wanita yang memang sering ditemukan pembesaran
kelenjar tiroidnya baru timbul setelah usia 19 attau 20 tahun.
Karena banyaknya penderita hipertiroid, sekiranya kita perlu
mengetahui dasar-dasar endokrinologi dan juga mengenai seluk-beluk
hipertiroid dan penyakit lainnya yang berhubungan dengan hal ini
B. TUJUAN

Tujuan penulisan makalah ini adalah:


1. Tujuan umum
o Memberikan penjelasan mengenai hipertiroid
2. Tujuan khusus
o Menjelaskan teori dan konsep terkait hipertiroid
o Memaparkan proses terjadinya hipertiroid
o Menerapkan teori dan konsep tersebut dan memberikan asuhan
keperawatan klien dengan hipertiroid
C. MANFAAT
Manfaat yang ingin diperoleh dalam penyusunan makalah ini adalah:
o Mendapatkan pengetahuan tentang definisi hipertiroid.
o Memendapatkan pemahaman tentang penyebab penyakit
hipertiroid.
o Mendapatakan pemahaman tentang gejala dan pengobatan
penyakit hipertiroid.
o Mendapatkan pemahaman tentang Asuhan keperawatan penyakit
hipertiroid

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. DEFINISI
Hipertiroid adalah suatu ketidakseimbangan metabolik yang
merupakan akibat dari produksi hormonyang berlebihan. (Dongoes E,
Marilynn, 2000 hal 708).
Hipertiroid adalah keadaan hipermetabolik yang disebabkan oleh
meningkatnya kadar T3 dan T4 bebas terutama disebabkan oleh hiperfungsi
kelenjar tiroid (Robin.2007 hal :811).
Hipertiroid adalah penyakit yang diakibatkan oleh meningkatnya
sirkulasi dan pelepasan hormon tiroid oleh kelenjar tiroid (Lewis.2000.
hal;1415)
Hipertiroidisme (hipersekresi hormon tiroid) adalah peningkatan
produksi dan sekresi hormon tiroid oleh kelenjar tiroid (Mary
baradero,dkk.2005.hal:37)
B. ETIOLOGI
Tiroid dapat terjadi akibat disfungsi kelenjar tiroid, hipofisis,
atau hipotalamus. Peningkatan TSH akibat malfungsi kelenjar tiroid akan
disertai penurunan TSH dan TRF karena umpan balik negative HT dan
TSH. Hipertoroid akibat malfungsi hipofisis memberikan gambaran kadar
TH dan TSH yang tinggi. TRF akan rendah karena umpan balik negate
HT dan TSH . Hipertiroid akibat malfungsi hipotalamus akan
memperlibatkan HT dan tinggi disertai TSH dan TRH yang berlebihan.
Beberapa penyakit yang menyebabkan hipertiroid :
1. Penyakit graves.
Penyakit ini disebabkan oleh kelenjar tiroid yang oberaktif dan
meupakan penyebab hipertiroid yang paling sering dijumpai. Penyakit
ini biasanya turunan. Wanita 5 kali lebih sering dibandingjkan pria.
Diduga penyebabnya adalah penyakit autonium, dimana antibody
yang ditemukan dalam peredaran darah yaitu typoid stimulating.
Immunoglobin (TSI antibodies), thyroid peroksidase antibodies (TPO)
dan TSH reseptor antybodies (TRAB). Pencetus kelainan ini adalah
stres, merokok, radiasi, kelainan mata dapat menonjol keluar,
penglihatan kabur, sensitive terhadap sinar, terasa ada pasir di mata.

Gangguan kulit menyebabkan kulit menjadi merah kehilangan rasa


sakit, serta berkeringan banyak.
2. Toxic nodular goiter
Benjolan leher akibat pembesaran tiroid yang berbentuk biji padat,
bias satu atau banyak. Kata toxic berarti hipertiroid, sedangkan nodule
atau biji itu tidak terkontrol oleh TSH sehingga memproduksi hormon
tiroid yang berlebih.
3. Minum obat dan hormon tiroid berlebihan
Keadaann demikian tidak jarang terjadi, karena periksa laboratorium
dan control ke dokter yang tidak teratur. Sehingga pasien terus minup
obat tiroid, ada pula orang yang minum hormone tiroid dengan tujuan
untuk menurunkan berat badan.
4. Produksi TSH yang abnormal
Produksi TSH kelenjar hipofisis dapat memproduksi TSH berlebihan,
sehingga merangsang tiroid mengeluarkan T3 dan T4 yang banyak.
5. Tiroiditis (radang kelenjar Tiroid)
Tiroiditis sering terjadi pada ibu setelah melahirkan, disebut tiroiditis
pasca persalinan dimana pada fase awal timbul keluhan hipertiroid, 23 bulan kemudian keluar gejala hipertiroid.
6. Konsumsi yodium berlebihan
Bila konsumsi berlebihan dapat menimbulkan hipertiroid, kelainan ini
biasanya timbul apa bila sebelumnya si pasien memang sudah ada
kelainan kelenjar tiroid.
C. PATOFISIOLOGI
Penyebab hipertiroidisme biasanya adalah penyakit graves,
goiter toksika. Pada kebanyakan penderita hipertiroidisme, kelenjar tiroid
membesar dua sampai tiga kali dari ukuran normalnya, disertai dengan
banyak hiperplasia dan lipatan-lipatan sel-sel folikel ke dalam folikel,
sehingga jumlah sel-sel ini lebih meningkat beberapa kali dibandingkan
dengan pembesaran kelenjar. Juga, setiap sel meningkatkan kecepatan
sekresinya beberapa kali lipat dengan kecepatan 5-15 kali lebih besar dari
pada normal. Pada hipertiroidisme, kosentrasi TSH plasma menurun, karena
ada sesuatu yang menyerupai TSH, Biasanya bahan bahan ini adalah
antibodi immunoglobulin yang disebut TSI (Thyroid Stimulating

Immunoglobulin), yang berikatan dengan reseptor membran yang sama


dengan reseptor yang mengikat TSH. Bahan bahan tersebut merangsang
aktivasi cAMP dalam sel, dengan hasil akhirnya adalah hipertiroidisme.
Karena itu pada pasien hipertiroidisme kosentrasi TSH menurun, sedangkan
konsentrasi TSI meningkat. Bahan ini mempunyai efek perangsangan yang
panjang pada kelenjar tiroid, yakni selama 12 jam, berbeda dengan efek TSH
yang hanya berlangsung satu jam. Tingginya sekresi hormon tiroid yang
disebabkan oleh TSI selanjutnya juga menekan pembentukan TSH oleh
kelenjar hipofisis anterior. Pada hipertiroidisme, kelenjar tiroid dipaksa
mensekresikan hormon hingga diluar batas, sehingga untuk memenuhi
pesanan tersebut, sel-sel sekretori kelenjar tiroid membesar. Gejala klinis
pasien yang sering berkeringat dan suka hawa dingin termasuk akibat dari
sifat hormon tiroid yang kalorigenik, akibat peningkatan laju metabolisme
tubuh yang diatas normal. Bahkan akibat proses metabolisme yang
menyimpang ini, terkadang penderita hipertiroidisme mengalami kesulitan
tidur. Efek pada kepekaan sinaps saraf yang mengandung tonus otot sebagai
akibat dari hipertiroidisme ini menyebabkan terjadinya tremor otot yang halus
dengan frekuensi 10-15 kali perdetik, sehingga penderita mengalami gemetar
tangan yang abnormal. Nadi yang takikardi atau diatas normal juga
merupakan salah satu efek hormon tiroid pada sistem kardiovaskuler.
Eksofthalmos yang terjadi merupakan reaksi inflamasi autoimun yang
mengenai daerah jaringan periorbital dan otot-otot ekstraokuler, akibatnya
bola mata terdesak keluar.
(Price A, Sylvia, 1995, hal. 1078)
D. PATHWAY

E. MANIFESTASI KLINIS
Umumnya suhu tubuh meningkat dan intoleransi terhadap panas.
Kulitnya basah dan hangat. Rambutnya sangat halus namun rapuh.
Nafsu makan meningkat, tetapi berat badan menurun.
Penurunan berat badan, otot lemah dan cepat lemas, peningkatan
glukosa darah pada pasien dengan diabetes melitus.
Penurunan trigliserida, sering buang air. (Mary
Baradero,dkk.2005hal: 38)

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pemeriksaan Penunjang yang dilakukan yaitu :
1. Tes ambilan RAI : meningkat pada penyakit graves dan toksik
goiter noduler, menurun pada tiroiditis.
2. T3 dan T4 serum : meningkat.
3. T3 dan T4 bebas serum : meningkat.
4. TSH : tertekan dan tidak berespon pada TRH ( tiroid releasing
hormon).
5. Tiroglobulin : meningkat.
6. Stimulasi tiroid 131 : dikatakan hipertiroid jika TRH daritidak ada
sampai meningkat setelah pemberian TRH.
7. Ambilan tiroid 131 : meningkat Ikatan protein sodium : meningkat.
8. Gula darah : meningkat ( kerusakan adrenal).
9. Kortisol plasma : turun ( menurunnya pengeluaran oleh adrenal).
10. Pemerksaan fungsi hepar : abnormal.
11. Elektrolit : hiponatremi akibat respon adrenal atau efek delusi
terapi cairan, hipokalemia akibat dari deuresis dan kehilangan
dari GI.
12. Katekolamin serum : menurun
13. kreatinin urin : meningkat
14. EKG : fibrilasi atrium, waktu sistolik memendek kardiomegali
(Doenges. E, Marilynn, 2000 hal. 711)
G. PENATALAKSANAAN MEDIS
Tujuan pengobatan hipertiroid adalah produksi hormon (obat anti
tiroid) atau merusak jaringan tiroid (yodium radioaktif, tiroidektomi sub
total)
1. Obat antitiroid
Digunakan dengan indikasi :
a. Terapi untuk memperpanjang remisi atau mendapatkan
remisi yang menetap pada pasien muda dengan struma
ringan sampai sedang dan tirrotoksikosis.
b. Obat untuk mengontrol tirotoksikosis pada fase sebelum
pengobatan, atau sesudah pengobatan pada pasien yang
mendapat yodium radioaktif.
c. Persiapan tiroidektomi
d. Pengobatan pasien hamil dan orang lanjut usia
e. Pasien dengan krisis tiroid
Obat antitiroid yang sering digunakan :
Obat

Dosis

Pemerik

Karbitamol
Metamazol
Propilitiour
asil

Awal

saan

(mg/hari)

(mg/hari

30-60
30-60

)
5-20
5-20

300-600

50-200

Obat-obatan ini umumnya diberikan sekitar 18 24 bulan. Pada pasien


hamil biasanya diberikan propil tiourasil dengan dosis serendah mungkin
yaitu 200 mg/hari atau lebih lagi. Pada masa laktasi juga diberikan
propiltiourasil karena hanya sedikit sekali yang keluar dari air susu ibu,
oasis yang dipakai 100-500 mg tiap 8 jam.
2. Pengobatan dengan yodium radioaktif
Indikasi pengobatan dengan yodium radiaktif diberikan pada :
a. Pasien umur 35 tahun atau lebih
b. Hipertiroid yang kambuh sesudah di operasi
c. Gagal mencapai remisi sesudah pemberian obat antitiroid
d. Tidak mampu atau tidak mau pengobatan dengan obat antitiroid
e. Adenoma toksik, goiter multinodular toksik
3. Operasi
Tiroidektomi subtotal efektif untuk mengatasi hipertiroid. Indikasi
operasi adalah:
a. Pasien umur muda dengan struma besar serta tidak berespons
terhadap obat antitiroid
b. Pada wanita hamil (trimester kedua) yang memerlukan obat
antitiroid dosis besar
c. Alergi terhadap obat antitiroid, pasien tidak dapat menerima
yodium radioaktif.
d. Adenoma toksik atau strauma multinodular toksik
e. Pada penyakit graves yang berhubungan dengan satu atau lebih
nodul
f. Sebelum operasi biasanya pasien diberi obat antitiroid sampai
eutitiroid sampai eutiroid kemudian diberi cairan kalium yodida
100-200 mg/hari atau cairan lugol 10-14 tetes/ hari selama 10
hari sebelum dioperasi untuk mengurangi vaskularisasi pada
kelenjar tiroid.
4. Pengobatan tambahan
a.
Sekat -adrenergik

b.

Obat ini diberikan untuk mengurangi gejala dan tanda hipertiroid.

Dosis diberikan 40-200 mg/hari yang dibagi atas 4 dosis. Pada orang
lanjut usia diberik 10 mg/6 jam.
c.
Yodium
d.
Yodium terutama digunakan untuk persiapan operasi. Sesudah
pengobatan dengan yodium radiaktif dan pada krisis tiroid. Biasanya
diberikan pada dosis 100-300 mg/hari.
e.
Ipodat
f.
Ipodat kerjanya lebih cepat dan sangat baik digunakan pada
keadaan akut seperti krisis tiroid kerja padat adalah menurunkan konversi
T4 menjadi T3 diperifer, mengurangi sintesis hormon tiroid, serta
mengurangi pengeluaran hormon dari tiroid.
g.
Litium
h.
Litium mempunyai daya kerja seperti yodium, namun tidak jelas
keuntungannya dibandingkan
I.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang dilakukan adalah :
o TSH serum (biasanya menurun)
o T3, T4 (biasanya meningkat)
o Test darah hormon tiroid
o X-ray scan, CAT scan, MRI scan (untuk mendeteksi adanya
tumor)
dengan yodium. Litium dapat digunakan pada pasien dengan krisis tiroid
alergi terhadap yodium

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN GANGGUAN
HIPERTIROID
A. PENGKAJIAN
Mary Baradero, dkk (2005) membagi dua jenis pengkajian yaitu:
a. Data Subjektif
1) Riwayat Pengalaman perubahan status sosial/ mental
2) Mengalami sakit dada atau palpitasi
3) Mengalami dispnea ketika melakukan aktivitas atau istirahat
4) Riwayat perubahan pada kuku, rambut, kulit, dan banyak keringat
5) Mengeluh gangguan penglihatan dan mata cepat lelah
6) Perubahan asupan makanan dan berat badan
7) Perubahan eliminasi feses, frekuensi dan banyaknya
8) Intoleransi terhadap cuaca panas
9) Mengeluh cepat lelah dan tidak mampu melakukan semua aktivitas
hidup
10) Perubahan menstruasi atau libido
11) Pengetahuan tentang sifat penyakit, pengobatan, serta efek dan
efek samping obat (Barddero, Marry, dkk. 2009)
b. Data Objektif
1) Status Mental : Perhatian pendek, emosi labil, tremor, hiperkinesia
2) Perubahan Kardiovaskular : Tekanan darah sistolik meningkat,
tekanan diastolik menurun, takikardi a walaupun waktu istirahat,
disritmia dan murmur
3) Perubahan pada Kulit : Hangat, kemerahan dan basah
4) Perubahan pada Rambut : Halus dan menipis
5) Perubahan pada Mata : Lidlag, glovelag, diplopia, dan penglihatan
kabur
6) Perubahan Nutrisi / Metabolik : Berat badan menurun, nafsu makan
dan asupan makan bertambah serta kolesterol dantrigliserida
serum menurun
7) Perubahan Muskuloskeletal : Otot lemah, tonus otot kurang dan
sulit berdiri dari posisi duduk
8) Hasil pemeriksaan diagnostik yang harus dikaji adalah peningkatan
T3 dan T4 serum dan penurunan TSH serum(Barddero, Marry,
dkk. 2009)
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan menurut NANDA yang mungkin muncul adalah:
1) Intoleransi aktifitas b.d kelelahan dan penurunan proses kognitif
2) Perubahan suhu tubuh : hipotermi b.d penurunan metabolisme
3) Konstipasi b.d penurunan fungsi gastrointestinal

4) Ketidakefektifan pola nafas b.d depresi ventilasi


5) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d
lambatnya laju metabolisme tubuh
C. RENCANA KEPERAWATAN
Diagnosa 1 : Intoleransi aktifitas b.d kelelahan dan penurunan proses
kognitif
Tujuan
: meningkatkan partisipasi dalam aktifitas dan kemandirian
KH
: - mampu melakukan aktifitas sehari hari secara mandiri
- Memperlihatkan perhatian dan kesadaran pada lingkungan
- Berpartisipasi dalam aktivitas dan berbagai kejadian dalam lingkungan

Intervensi
Atur interval

Rasional
Mendorong aktivitas sambil

waktu antar aktivitas

memberikan kesmpatan untuk

untuk meningkatkan

mendapatkan istirahat yang adekuat

istirahat dan latihan


yang dapat ditolelir
Bantu aktivtas

perawatan mandiri

pasien untuk berpartisipasi dalam

ketika pasien berada

aktivitas mandiri

dalam keadaan lelah


Berikan

stimulasi melalui

terlalu menimbulkan stress pada pasien

Memberi kesempatan pada

Meningkatkan perhatian tanpa

percakapan dan
aktivitas yang tidak
menimbulkan stress
Pantau respon

pasien terhadap

melakukan aktivitas yang berlebihan

peningkatan aktivitas

atau kurang

Diagnosa 2

Menjaga pasien agar tidak

: perubahan suhu tubuh : hipotermi b.d penurunan

metabolisme
Tujuan
: pemeliharaan suhu tubuh normal
KH
:
mempertahankan suhu tubuh dasar
mengalami berkurangnya gangguan rasa nyaman dan intoleransi
terhadap hawa dingin

melaporkan rasa hangat yang adekuat dan berkurangnya gejala

menggigil
Intervensi
berikan tambahan lapisan

Rasional
meminimalkan kehilangan panas

pakaian atau tambahan selimut


hindari dan cegah penggunaan

mengurangi resiko vasodilatasi

sumber panas dari luar

perifer dan kolaps vaskuler

(misalnya, bantal pemanas,


selimut listrik dan penghangat)
pantau suhu tubuh pasien dan

mendeteksi penurunan suhu tubuh

melaporkan penurunannya dari

dan dimulainya korna miksedema

nilai dasar suhu normal pasien


lindungi terhadap pajanan dan

meningkatkan tingkat kenyamanan

hembusan angin

pasien dan menurunkan lebih lanjut


kehilangan panas

Diagnosa 3

: konstipasi berhubungan dengan penurunan fungsi

gastrointestinal
Tujuan
: pemulihan usus yang normal
KH
: - mencapai pemulihan kepada fungsi usus yang normal
melaporkan fungsi usus yang normal
mengenali dan mengkonsumsi makanan yang kaya serat
minum cairan sesuai dengan yang dianjurkan setiap hari
Intervensi
dorong peningkatan asupan

Rasional
Meminimalkan kehilangan panas

cairan dalam batas-batas restriksi


cairan
berikan makanan yang kaya akan

Meningkatkan massa feses dan

serat
ajarkan kepada pasien tentang

frekuensi BAB
Memberikan rasional peningkatan

jenis-jenis makanan yang banyak

asupan cairan kepada pasien

mengandung air
pantau fungsi usus

Memungkinkan deteksi konstipasi


dan pemulihan kepada pola

Dorong pasien untuk

defekassi yang normal


Meningkatkan evakuasi usus

meningkatkan mobilitas dalam


batass-batas toleransi latihan

Diagnosa 4
Tujuan

: Ketidakefektifan pola nafas b.d depresi ventilasi


: perbaikan status respiratorius dan pemeliharaan pola

nafas yang
normal
KH

: - memperlihatkan perbaikan status pennafasan dan

pemeliharaan pola
Pernafasan yang normal
- Menarik nafas dalam dan batuk ketika di anjurkan
- Menunjukan suara nafas yang normal tanpa bising tambahan pada
auskultasi
Intervensi
Dorong pasien untuk

Rasional
Mencegah etelektasis dan meningkatkan

napas dalam dan

pernafasan yang adekuat

batuk
Berikan obat

Pasien hipotiroidisme sangat rentan

(hipnotik dan sedatif)

terhadap gangguan pernapasan akibat


penggunaan obat golongan hipnotik-

Pelihara saluran nafas

sedatif
Penggunaan saluran napas artifisial dan

pasien dengan

dukungan ventilasi mungkin diperlukan

melakukan

jika terjadi depresi pernapasan

pengisapan dan
dukungan ventilassi
jika diperlukan
Diagnosa 5

: Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan

tubuh b.d
lambatnya laju metabolisme tubuh
Tuujuan
: kebutuhan nutrisi klien adekuat
KH
: - Mempertahankan massa tubuh dan berat badan dalam
batas normal
- Tidak ada tanda-tanda malnutrisi

Intervensi
bantu atau sediakan

Rasioanl
Diet yang seimbang dapat membantu

asupan makanan dan

proses penyembuhan

cairan diet seimbang.


berikan makanan dan

untuk mendukung proses metabolic

asupan gizi

pasien yang malnutrisi atau beresiko

bantu klien untuk makan


Analisa data pasien untuk

tinggi terhadap malnutrisi


Agar kebutuhan nutrisi terpenuhi
Untuk memantau status gizi pasien

mencegah dan
meminimalkan kurang
gizi

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Hipertiroid adalah suatu ketidakseimbangan metabolik yang
merupakan akibat dari produksi hormon tiroid yang berlebihan. (Dongoes
E, Marilyn, 2000 hal 708)
Terdapat dua tipe hipertiroidisme yaitu penyakit graves dan goiter
nodular toksik. Penyakit Graves adalah suatu gangguan autonium di mana
terdapat suatu defek traumatik dalam limfosit Ts dan sel Th merangsang
sel B untuk sintesis antibody terhadap antigen tiroid (Dorland,2005)
Sedangkan goiter nodular toksik yaitu peningkatan ukuran kelenjar
tiroid akibat peningkatan kebutuhan akan hormon tiroid. Peningkatan
kebutuhan akan hormon tiroid terjadi selama periode pertumbuhan atau
kebutuhan metabolik yang tinggi misalnya pubertas atau kehamilan
(Elizabeth J. Corwin, 2009)

DAFTAR PUSTAKA
http://nfatimah44.blogspot.co.id/2014/05/askep-hipotiroid.html
http://nu2in.blogspot.co.id/2012/05/askep-hipertiroid.html
http://lpkeperawatan.blogspot.co.id/2014/01/laporan-pendahuluanhipertiroid.html#.VhCNfdKUem5
nselalutersenyum.blogspot.co.id/2013/04/askep-hipertiroidisme.html
http://chandralovesabar.blogspot.co.id/2013/01/askep-pada-pasienhipotiroid.html
Doenges, Marilyn E, dkk. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman
untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, 3 th ed.
Jakarta : EGC.
Long C. Barbara. 1996. Perawatan Medikal Bedah. Jilid 3. Bandung.
Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran.
Price, Sylvia A, Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Ed. 4.
Jakarta : EGC. 1995.
Smeltzer C. Suzanne, Suddart, & Brunner. 2002. Buku Ajar Keperawatan
Medikal Bedah. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC