Anda di halaman 1dari 22

CASE BASED

DISCUSSION
Mekanisme Kerja dan Efek Samping
Obat Anti Jamur Golongan Azol

Disusun oleh:
Paulina Kristi Hartanto (1115238)
Pembimbing:
dr. Dian Puspitasari, SpKK
SMF ILMU PENYAKIT KULIT & KELAMIN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN
MARANATHA
RUMAH SAKIT IMMANUEL
BANDUNG

Golongan Azol
Antijamur azol merupakan senyawa sintetik dengan
aktivitas spektrum yang luas, yang diklasifikasi
berdasarkan kandungan atom nitrogennya yaitu :
Dua atom Nitrogen yaitu imidazol (mikonazol,
ketokonazol, klotrimazol)
Tiga atom nitrogen yaitu triazol (itrakonazol,
flukonazol, vorikonazol)

Bekerja dengan cara menghambat sintesis


ergosterol jamur yang mengakibatkan timbulnya
defek pada membran sel jamur.
Obat anti jamur golongan azol seperti Klotrimazol,
Ketokonazol, Ekonazol, Oksikonazol, Sukonazol, dan
Mikonazol, mempunyai kemampuan mengganggu
kerja enzim sitokrom P-450 lanosterol 14demetylase yang berfungsi sebagai katalisator
untuk mengubah lanosterol menjadi ergosterol.
Pada konsentrasi tinggi, azol menyebabkan
kalium dan komponen lain bocor keluar dari sel
jamur.

TOPIKAL

Klotrimazol
Indikasi : Kandidiasis, pitiriasis versikolor, tinea
pedis, tinea kruris, tinea korporis
Kontra Indikasi : Hipersensitivitas terhadap
Klotrimazol
Sediaan : Krim 1%, bubuk 1%
Dosis : Oleskan/gunakan 2 kali/hari, selama 2-4
minggu
Efek Samping : Eritema, rasa tersengat, kulit
melepuh atau mengelupas, edema, pruritus,
urtikaria, rasa terbakar, iritasi

Mekanisme Kerja : Menghambat sintesis


ergosterol yang menyebabkan permeabilitas
membran sel jamur meningkat, terjadi gangguan
sintesis asam nukleat atau penimbunan peroksida
dalam sel jamur yang akan menimbulkan
kerusakan.

Ekonazol

Indikasi : Dermatofitosis, kandidiasis.


Sediaan : Krim 1%.
Dosis : Oleskan 2 kali sehari, selama 2-4 minggu.
Efek Samping : Eritema, edema, pruritus,
urtikaria, rasa terbakar, iritasi.

Mikonazol
Indikasi : Tinea korporis, tinea manum, tinea
pedis, tinea barbae, tinea cruris, tinea unguium,
onikomikosis, pitiriasis versikolor, dan kandidiasis
kulit dan kuku.
Kontra Indikasi : hipersensitif terhadap
golongan imidazol.
Sediaan : Krim 2%, bubuk 2%, gel 2%.
Dosis : Gunakan 2 kali sehari selama 2-6 minggu
(krim 2% & bubuk), 1 kali sehari (untuk kuku).
Efek Samping : Iritasi, rasa terbakar, pruritus,
maserasi kulit.

Mekanisme Kerja : Mikonazol menghambat


sintesis ergosterol yang menyebabkan
permeabilitas membran sel jamur meningkat,
terjadi gangguan sintesis asam nukleat atau
penimbunan peroksida dalam sel jamur yang
akan menimbulkan kerusakan.

Ketokonazol

(topikal &

sistemik)
Indikasi : Tinea kruris, tinea korporis, tinea
pedis, kandidiasis kulit, tinea versicolor,
dermatitis seboroik
Infeksi jamur sistemik histoplasmosis (paru,
tulang, sendi, dan jaringan lema),
blastoplasmosis, kriptokokus nonmeningeal,
parakokidioidomikosis, kokidioidomikosis,
kandidiasis mukokutaneus kronik (vaginal, oral,
GI).
Kontra Indikasi : Sebaiknya dihindarkan pada
wanita hamil, penderita yang telah diobati
dengan topikal steroid untuk jangka lama,
hipersensitivitas dan tidak untuk di mata.

Dosis : Oleskan 2 kali sehari, selama 2-6 minggu.


Untuk dewasa 200 mg/hari, dosis tunggal, untuk
kasus yang serius dapat ditingkatkan hingga 400
mg/hari. Dosis anak 3-6 mg/kgBB, dosis tunggal.
Efek Samping : Iritasi, rasa panas terbakar,
gatal
Infeksi jamur sistemik mual dan pruritus, sakit
kepala, vertigo, nyeri epigastrik, fotofobia,
parestesia, erupsi kulit dan trombositopenia.
Dapat menimbulkan kerusakan hati.
Ginekomastia, infertilitas, penurunan libido atau
oligospermia dapat terjadi pada pria (dosis lebih
dari 600 mg sehari). Ketokonazol juga

Mekanisme Kerja : Ketokonazol bekerja


menghambat biosintesis ergosterol yang
merupakan sterol utama untuk mempertahankan
integritas membran sel jamur. Bekerja dengan
cara menginhibisi enzim sitokrom P-450, C-14-demethylase yang bertanggung jawab merubah
lanosterol menjadi ergosterol. Hal ini akan
mengakibatkan dinding sel jamur menjadi
permeabel dan terjadi penghancuran jamur.

Sulkonazol
Indikasi : dermatofitosis dan kandidosis
kutaneus.
Sediaan : Krim 1%.
Dosis : 1-2 kali sehari, selama 3-4 minggu.

Oksikonazol
Indikasi : dermatofitosis dan kandidosis
kutaneus.
Sediaan : Krim atau lotion 1%.
Dosis : 1-2 kali sehari, selama 2-4 minggu.

Terkonazol
Indikasi : Dermatofitosis, kandidosis kutaneus
dan genital.
Sediaan : Vaginal krim 0,4% dan 0,8%, vaginal
suppositoria 80 mg.
Dosis : 1 kali sehari selama 3 hari (supp), selama
7 hari (krim).

Tiokonazol
Indikasi : Dermatofitosis, kandidosis kutaneus
dan genital.
Kontra Indikasi : Hipersensitivitas terhadap
imidazol.
Sediaan : Krim 1%.
Dosis : Krim 1-2 kali sehari, bubuk 2 kali sehari.
Tinea versikolor selama 7 hari, tinea pedis selama
6 minggu, infeksi dermatofita & kandidiasis 2-4
minggu.
Efek Samping : Iritasi lokal.

Sertakonazol
Indikasi : Dermatofitosis, tinea pedis, tinea
kruris, tinea korporis, tinea manus, kandidiasis,
pitiriasis versicolor.
Kontra Indikasi : Tidak digunakan untuk mata,
pada ibu hamil dan menyusui.
Sediaan : Krim 2%.
Dosis : Oleskan 1-2 kali sehari selama 4 minggu.
Efek Samping : Reaksi eritematosa lokal dan
sementara.

SISTEMIK

Itrakonazol
Indikasi : Blastomikosis, histoplasmosis,
kokidioidomikosis, parakokidioidomikosis,
kandidiasis mulut dan tenggorokan, tinea
versikolor, sporotrikosis limfokutan, dan beberapa
aspergilosis.
Sediaan : Kapsul 100 mg
Dosis : 100 mg/hari selama 15 hari. Infeksi berat
400 mg/hari.
Efek Samping : Mual, muntah, kemerahan,
pruritus, lesu, pusing, edema, parestesia,
kehilangan libido.
Mekanisme Kerja : Menghambat 14-demethylase yang merupakan enzim sitokrom P-

Flukonazol
Indikasi : Mencegah relaps meningitis oleh kriptokokus pada
penderita AIDS setelah pengobatan dengan amfoterisin B,
kandidiasis mulut dan tenggorokan pada penderita AIDS.
Sediaan : Kapsul 50 mg dan 150 mg.
Dosis : 100-400 mg per hari.
Efek Samping : gangguan salutan cerna. Reaksi alergi pada
kulit, eosinofilia, sindrom Stevens-Johnson, gangguan faal
hati sementara dan trombositopenia pada penderita AIDS.
Mekanisme Kerja : Inhibitor yang poten terhadap
biosintesis ergosterol, bekerja dengan menghambat sistem
enzim sitokrom P-450 14--demethylase dan bersifat
fungistatik.

Vorikonazol
Dosis : IV, diawali dengan 2 loading dose
sebanyak 6 mg/kgBB dengan jarak 12 jam
selanjutnya 4 mg/kgBB dengan jarak 12 jam.
Pasien dengan berbat badan > 40 kg dapat
diberikan dosis oral 200 mg dengan interval 12
jam, sedangkan berat badan < 40 kg diberikan
100 mg dengan interval 12 jam, 1 jam sebelum
atau sesudah makan.
Efek Samping : Demam, ruam pada kulit, mual,
muntah, diare, sakit kepala, sakit abdominal.
Mekanisme Kerja : Inhibitor poten terhadap
biosintesis ergosterol, bekerja pada enzim
sitokrom P-450, lanosterol 14--demethylase. Hal
ini menyebabkan berkurangnya ergosterol dan

TERIMA
KASIH

Anda mungkin juga menyukai