Anda di halaman 1dari 33

Nama : A.

Dessy Mandasari
Nim

: 121141023

Prodi

: Geografi

Tugas : Geologi

1. Sumatera
Jawab :
-Evolusi Tektonik Pulau Sumatera
Selama Zaman Karbon sampai Perm, terdapat subduksi di sebelah barat Sumatera yang
menghasilkan batuan vulkanik dan piroklastik dengan komposisi berkisar antara dasit sampai andesit di
daerah Dataran Tinggi Padang, Batang Sangir dan Jambi (Klompe et all., 1961; dalam Hutchison, 1973).
Batuan intrusif yang bersifat granitik terbentuk di Semenanjung Malaysia, melewati Pulau Penang, dan
diperkirakan menerus ke Kepulauan Riau.

Gambar Skema Paleo-tektonik Pulau Sumatra dan sekitarnya dari Karbon Akhir sampai Perm Awal
Selama Zaman Perm, tidak ada perubahan penyebaran keterdapatan batuan plutonik dan volkanik
dari Karbon Akhir. Sistem busur-palung yang bekerja di Sumatra masih tidak mengalami perubahan
(Gambar 1 dan 2). Batuan volkanik dan piroklasik berkomposisi andesitik sampai riolitik menyebar di
bagian barat dari Sumatera Tengah. Dari Trias Akhir sampai Jura Awal, subduksi di Sumatra terus
berlangsung dan menghasilkan kompleks ofiolit Aceh di bagian utara dan kompleks ofiolit Gumai-Garba

di selatan. Kedua ofiolit tersebut menurut Bemmelen (1949; dalam Hutchison, 1973) berumur Trias. Pada
Jura Tengah sampai Kapur Tengah, terjadi pengangkatan di wilayah Semenanjung Malaysia,
menyebabkan perubahan lingkungan sedimentasi pada daerah tersebut dari lingkungan laut menjadi
lingkungan darat, ditandai dengan endapan tipe molasse dan sedimentasi fluviatil. Volkanisme di kawasan
Sumatra dan sekitarnya kurang aktif pada selang waktu ini. Selama Jura dan Kapur, kawasan Sumatra dan
sekitarnya terkratonisasi, dan sistem pensesaran strike slip

terbentuk (Tjia et. All, 1973; dalam

Hutchison, 1973).

Gambar Skema Paleo-tektonik Pulau Sumatra dan sekitarnya dari Perm ke Trias Awal
Pada Kapur Akhir, zona subduksi bergerak ke arah barat Sumatra, sepanjang pulau-pulau yang saat
ini berada di barat Sumatra seperti Siberut. Ofiolit dari subduksi ini sendiri oleh Bemmelen (1949; dalam
Hutchison, 1973) diperkirakan berumur Kapur Akhir sampai Tersier Awal. Di bagian utara Sumatra
terdapat Intrusi Granitik Tersier sedangkan di selatan terdapat Adesit Tua dan Intrusi Granit Miosen Awal.
Pola dari sistem palung busur di Sumatra pada saat itu digambarkan pertama kali oleh Katilli (1971;
dalam Hutchison, 1973) seperti pada gambar 4. Subduksi yang berada di barat Sumatra menerus ke
selatan Jawa Barat, lalu berbelok ke timur laut menuju arah Pegunungan Meratus di Kalimantan.

Gambar Skema Paleo-tektonik Pulau Sumatra dan sekitarnya dari Trias Akhir sampai Jura Awal

Gambar Skema Paleo-tektonik Pulau Sumatra dan sekitarnya dari Kapur Akhir sampai Tersier Awal
Dari Tersier sampai sekarang, subduksi terus mundur ke arah barat melewati kepulauan yang
terdapat di sebelah barat Sumatra dan menerus ke timur di selatan melewati Pulau Jawa (Gambar 5).
Busur gunung api di sepanjang zona subduksi tersebut terdapat di Pegunungan Barisan di Sumatera dan
menerus ke Pulau Jawa. Volkanisme basalt hadir di Sukadana, Sumatra Selatan dan diperkirakan
berhubungan dengan pensesaran ekstensi dalam yang dihasilkan sebagai interaksi dari lempeng-lempeng
Eurasia, Hindia-Australia, dan Pasifik.

Gambar Skema Tektonik Pulau Sumatra dan sekitarnya saat ini


Sumber :
Hutchison, C. S. 1973. Tectonic Evolution of Sundaland: A Phanerozoic Synthesis. Proceedings Regional
Conference on the Geology of South East Asia, Geological Society of Malaysia. Vol. 6. Hal. 61-86.

-Cekungan Sumatera Utara, Sumatera Tengah, dan Sumatera Selatan


a. Cekungan Sumatera Utara
Daerah ini merupakan bagian dari Back-arc Basin lempeng Sunda yang meliputi suatu jalur sempit
yang terbentang dari Medan sapai ke Banda Aceh. Di sebelah barat jalur ini jelas dibatasi oleh singkapansingkapan pra-Tersier. Dapat dikatakan bahwa yang dikenal sebagai lempung hitam (black clay) dan
batupasir bermika (micaceous sandstone), mungkin merupakan pengendapan non-marin. Transgresi baru
dimulai dengan batupasir Peunulin atau batupasir Belumai, yang tertindih oleh Formasi Telaga. Formasi
regresi diwakili oleh Formasi Keutapang dan Formasi Seureula yang merupakan lapisan resevoir utama.
Daerah cekungan ini juga terdiri dari cekungan yang dikendalikan oleh patahan batuan dasar. Semua
cekungan tersebut adalah pendalaman Paseh (Paseh deep). Di sini jugalah letak dearah terangkat blok
Arun, yang dibatasi oleh patahan yang menjurus ke utara-selatan.
Cekungan Paseh membuka ke arah utara ke lepas pantai, ke sebelah selatan tempat depresi
Tamiang dan depresi Medan. Di antara kedua depresi tersebut terdapat daerah tinggi, dan di sana Formasi
Peunulin/Telaga/Belumai langsung menutupi batuan dasar. Minyak ditemui pada formasi ini (Diski,

Batumandi), lebih ke selatan lagi terdapat depresi Siantara dan kemudian daerah cekungan dibatasi oleh
lengkung Asahan dari cekungan Sumatera Tengah. Struktur daerah cekungan Sumatera Utara diwakili
oleh berbagai lipatan yang relatif ketat yang membujut barat laut-tenggara yang diikuti oleh sesar naik. Di
sini diketahui bagian barat relatif naik terhadap bagian timur. Perlipatan terjadi di Plio-Plistosen. Semua
unsur struktur yang lebih tua direfleksikan pada paleotopografi batuan dasar, seperti misalnya di blik Arun
yang menjurus ke utara-selatan.
Cekungan sumatera Utara secara tektonik terdiri dari berbagai elemen yang berupa tinggian,
cekungan maupun peralihannya, dimana cekungan ini terjadi setelah berlangsungnya gerakan tektonik
pada zaman Mesozoikum atau sebelum mulai berlangsungnya pengendapan sedimen tersier dalam
cekungan sumatera utara. Tektonik yang terjadi pada akhir Tersier menghasilkan bentuk cekungan bulat
memanjang dan berarah barat laut tenggara. Proses sedimentasi yang terjadi selama Tersier secara
umum dimulai dengan trangressi, kemudian disusul dengan regresi dan diikuti gerakan tektonik pada
akhir Tersier. Pola struktur cekungan sumatera utara terlihat adanya perlipatan-perlipatan dan pergeseranpergeseran yang berarah lebih kurang lebih barat laut tenggara Sedimentasi dimulai dengan sub
cekungan yang terisolasi berarah utara pada bagian bertopografi rendah dan palung yang tersesarkan.
Pengendapan Tersier Bawah ditandai dengan adanya ketidak selarasan antara sedimen dengan batuan
dasar yang berumur Pra-tersier, merupakan hasil trangressi, membentuk endapan berbutir kasar halus,
batu lempung hitam, napal, batulempung gampingan dan serpih.
Transgressi mencapai puncaknya pada Miosen Bawah, kemudian berhenti dan lingkungan berubah
menjadi tenang ditandai dengan adanya endapan napal yang kaya akan fosil foraminifora planktonik dari
formasi Peutu. Di bagian timur cekungan ini diendapkan formasi Belumai yang berkembang menjadi 2
facies yaitu klastik dan karbonat. Kondisi tenang terus berlangsung sampai Miosen tengah dengan
pengendapan serpih dari formasi Baong. Setelah pengendapan laut mencapai maksimum, kemudian
terjadi proses regresi yang mengendapkan sedimen klastik (formasi Keutapang, Seurula dan Julu Rayeuk)
secara selaras diendapkan diatas Formasi Baong, kemudian secara tidak selaras diatasnya diendapkan
Tufa Toba Alluvial.
b. Cekungan Sumatera Tengah
Cekungan Sumatra tengah merupakan cekungan sedimentasi tersier penghasil hidrokarbon terbesar
di Indonesia. Ditinjau dari posisi tektoniknya, Cekungan Sumatra tengah merupakan cekungan belakang
busur. Faktor pengontrol utama struktur geologi regional di cekungan Sumatra tengah adalah adanya
Sesar Sumatra yang terbentuk pada zaman kapur.
Struktur geologi daerah cekungan Sumatra tengah memiliki pola yang hampir sama dengan
cekungan Sumatra Selatan, dimana pola struktur utama yang berkembang berupa struktur Barat lautTenggara dan Utara-Selatan. Walaupun demikian, struktur berarah Utara-Selatan jauh lebih dominan
dibandingkan struktur Barat lautTenggara.

Cekungan Sumatra Tengah mempunyai 2 (dua) set sesar yang berarah utara-selatan dan barat lauttenggara. Sesar-sesar yang berarah utara-selatan diperkirakan berumur Paleogen, sedangkan yang berarah
barat laut-tenggara diperkirakan berumur Neogen Akhir. Kedua set sesar tersebut berulang kali diaktifkan
kembali sepanjang Tersier oleh gaya-gaya yang bekerja.
Berdasarkan teori tektonik lempeng, tektonisme Sumatra zaman Neogen dikontrol oleh bertemunya
Lempeng Samudera Hindia dengan Lempeng Benua Asia. Batas lempeng ditandai oleh adanya zona
subduksi di Sumatra-Jawa. Struktur-struktur di Sumatra membentuk sudut yang besar terhadap vektor
konvergen, maka terbentuklah dextral wrench fault yang meluas ke arah barat laut sepanjang busur
vulkanik Sumatra yang berasosiasi dengan zona subduksi.
Perkembangan tektonik di Cekungan Sumatra Tengah dibagi menjadi 4 episode tektonik, yaitu: (1)
Pra Tertier, (2) berlangsung pada Eosen-Oligosen, (3) berlangsung pada Miosen Awal-Miosen Tengah, (4)
berlangsung pada Miosen Tengah-Resen.
1. Pre-Tertier
Batuan dasar Pra Tersier di Cekungan Sumatra Tengah terdiri dari lempeng-lempeng benua dan
samudera yang berbentuk mozaik. Orientasi struktur pada batuan dasar memberikan efek pada lapisan
sedimen Tersier yang menumpang di atasnya dan kemudian mengontrol arah tarikan dan pengaktifan
ulang yang terjadi kemudian. Pola struktur tersebut disebut debagai elemen struktur pra tertier. Ada 2
(dua) struktur utama pada batuan dasar. Pertama kelurusan utara-selatan yang merupakan sesar geser
(Transform/Wrench Tectonic) berumur Karbon dan mengalami reaktifisasi selama Permo-Trias, Jura,
Kapur dan Tersier. Tinggian-tinggian yang terbentuk pada fase ini adalah Tinggian Mutiara, Kampar,
Napuh, Kubu, Pinang dan Ujung Pandang. Tinggian-tinggian tersebut menjadi batas yang penting pada
pengendapan sedimen selanjutnya.
2. Eosen-Oligosen
Pada kala Eosen-Oligosen disebut juga Rift Phase. Pada zaman ini, terjadi deformasi akibat Rifting
dengan arah Strike timur laut, diikuti oleh reaktifisasi struktur-struktur tua. Akibat tumbukan Lempeng
Samudera Hindia terhadap Lempeng Benua Asia maka terbentuklah suatu sistem rekahan Transtensional
yang memanjang ke arah selatan dari Cina bagian selatan ke Thailand dan ke Malaysia hingga Sumatra
dan Kalimantan Selatan. Perekahan ini membentuk serangkaian Horst dan Graben di Cekungan Sumatra
Tengah. Horst-Graben ini kemudian menjadi danau tempat diendapkannya sedimen-sedimen Kelompok
Pematang. Pada akhir eosen-oligosen terjadi peralihan dari perekahan menjadi penurunan cekungan
ditandai oleh pembalikan struktur yang lemah, denudasi dan pembentukan daratan Peneplain. Hasil dari
erosi tersebut berupa paleosol yang diendapkan di atas Formasi Upper Red Bed.

3. Miosen Awal-Miosen Tengah


Pada kala Miosen Awal terjadi fase amblesan (sag phase), diikuti oleh pembentukan Dextral
Wrench Fault secara regional dan pembentukan Transtensional Fracture Zone. Pada struktur tua yang
berarah utara-selatan terjadi Release, sehingga terbentuk Listric Fault, Normal Fault, Graben, dan Half
Graben. Struktur yang terbentuk berarah relatif barat laut-tenggara. Pada masa ini, Cekungan Sumatra
Tengah mengalami transgresi dan mengendapkan batuan reservoar utama dari kelompok Sihapas, tektonik
Sumatra relatif tenang. Sedimen klastik diendapkan, terutama bersumber dari daratan Sunda dan dari arah
Timur laut meliputi Semenanjung Malaya. Proses akumulasi sedimen dari arah timur laut Pulau Sumatra
menuju cekungan, diakomodir oleh adanya struktur-struktur berarah Utara-Selatan.
4. Miosen Tengah-Resen.
Pada kala Miosen Tengah-Resen disebut juga Barisan Compressional Phase. Pada masa ini, terjadi
pembalikan struktur akibat gaya kompresi menghasilkan reverse dan Thrust Fault di sepanjang jalur
Wrench Fault yang terbentuk sebelumnya. Proses kompresi ini terjadi bersamaan dengan pembentukan
Dextral Wrench Fault di sepanjang Bukit Barisan. Struktur yang terbentuk umumnya berarah barat lauttenggara. Pada Cekungan Sumatra Tengah mengalami regresi dan sedimen-sedimen-sedimen Formasi
Petani diendapkan, diikuti pengendapan sedimen-sedimen Formasi Minas secara tidak selaras.
sumber:
http://geoenviron.blogspot.com/2011/11/cekungan-geologi-paparan-sunda.html/23/03/2012
http://rhomapurnanto.wordpress.com/2010/10/26/geologi-regional-cekungan-sumateratengah/23/12/2012
c. Cekungan Sumatera Selatan
Cekungan Sumatra Selatan merupakan cekungan busur belakang (Back Arc Basin) yang terbentuk
akibat interaksi antara lempeng Hindia-Australia dengan lempeng mikro sunda. Cekungan ini dibagi
menjadi 4 (empat) sub cekungan yaitu:
Sub Cekungan Jambi
Sub Cekungan Palembang Utara
Sub Cekungan Palembang Selatan
Sub Cekungan Palembang Tengah
(Pulonggono, 1984). Cekungan ini terdiri dari sedimen Tersier yang terletak tidak selaras
(unconformity) di atas permukaan metamorfik dan batuan beku Pra-Tersier.
Stratigrafi daerah cekungan Sumatra Selatan secara umum dapat dikenal satu megacycle (daur
besar) yang terdiri dari suatu transgresi dan diikuti regresi. Formasi yang terbentuk selama fase transgresi
dikelompokkan menjadi Kelompok Telisa (Formasi Talang Akar, Formasi Baturaja, dan Formasi Gumai).

Kelompok Palembang diendapkan selama fase regresi (Formasi Air Benakat, Formasi Muara Enim, dan
Formasi Kasai), sedangkan Formasi Lemat dan older Lemat diendapkan sebelum fase transgresi utama.
Stratigrafi Cekungan Sumatra Selatan menurut De Coster 1974 adalah sebagai berikut:
1. Kelompok Pra Tersier
Formasi ini merupakan batuan dasar (basement rock) dari Cekungan Sumatra Selatan. Tersusun
atas batuan beku Mesozoikum, batuan metamorf Paleozoikum Mesozoikum, dan batuan karbonat yang
termetamorfosa. Hasil dating di beberapa tempat menunjukkan bahwa beberapa batuan berumur Kapur
Akhir sampai Eosen Awal. Batuan metamorf Paleozoikum-Mesozoikum dan batuan sedimen mengalami
perlipatan dan pensesaran akibat intrusi batuan beku selama episode orogenesa Mesozoikum Tengah
(Mid-Mesozoikum).
2. Formasi Kikim Tuff dan older Lemat atau Lahat
Batuan tertua yang ditemukan pada Cekungan Sumatera Selatan adalah batuan yang berumur akhir
Mesozoik. Batuan yang ada pada Formasi ini terdiri dari batupasir tuffan, konglomerat, breksi, dan
lempung. Batuan-batuan tersebut kemungkinan merupakan bagian dari siklus sedimentasi yang berasal
dari Continental, akibat aktivitas vulkanik, dan proses erosi dan disertai aktivitas tektonik pada akhir
Kapur-awal Tersier di Cekungan Sumatera Selatan.
3. Formasi Lemat Muda atau Lahat Muda
Formasi Lemat tersusun atas klastika kasar berupa batupasir, batulempung, fragmen batuan, breksi,
Granit Wash, terdapat lapisan tipis batubara, dan tuf. Semuanya diendapkan pada lingkungan kontinen.
Sedangkan Anggota Benakat dari Formasi Lemat terbentuk pada bagian tengah cekungan dan tersusun
atas serpih berwarna coklat abu-abu yang berlapis dengan serpih tuffaan (tuffaceous shales), batulanau,
batupsir, terdapat lapisan tipis batubara dan batugamping (stringer), Glauconit; diendapkan pada
lingkungan fresh-brackish. Formasi Lemat secara normal dibatasi oleh bidang ketidakselarasan
(unconformity) pada bagian atas dan bawah formasi. Kontak antara Formasi Lemat dengan Formasi
Talang Akar yang diintepretasikan sebagai paraconformable. Formasi Lemat berumur Paleosen-Oligosen,
dan Anggota Benakat berumur Eosen Akhir-Oligosen, yang ditentukan dari spora dan pollen, juga
dengandating K-Ar. Ketebalan formasi ini bervariasi, lebih dari 2500 kaki (+- 760 M). Pada Cekungan
Sumatra Selatan dan lebih dari 3500 kaki (1070 M) pada zona depresi sesar di bagian tengah cekungan
(didapat dari data seismik).
4. Formasi Talang Akar
Formasi Talang Akar terdapat di Cekungan Sumatra Selatan, formasi ini terletak di atas Formasi
Lemat dan di bawah Formasi Telisa atau Anggota Basal Batugamping Telisa. Formasi Talang Akar terdiri

dari batupasir yang berasal dari delta plain, serpih, lanau, batupasir kuarsa, dengan sisipan batulempung
karbonan, batubara dan di beberapa tempat konglomerat. Kontak antara Formasi Talang Akar dengan
Formasi Lemat tidak selaras pada bagian tengah dan pada bagian pinggir dari cekungan kemungkinan
paraconformable, sedangkan kontak antara Formasi Talang Akar dengan Telisa dan Anggota Basal
Batugamping Telisa adalah conformable. Kontak antara Talang Akar dan Telisa sulit di pick dari sumur di
daerah palung disebabkan litologi dari dua formasi ini secara umum sama. Ketebalan dari Formasi Talang
Akar bervariasi 1500-2000 feet (sekitar 460-610m).
Umur dari Formasi Talang Akar ini adalah Oligosen Atas-Miosen Bawah dan kemungkinan
meliputi N 3 (P22), N7 dan bagian N5 berdasarkan zona Foraminifera plangtonik yang ada pada sumur
yang dibor pada formasi ini berhubungan dengan delta plain dan daerah shelf
5. Formasi Baturaja
Anggota ini dikenal dengan Formasi Baturaja. Diendapkan pada bagian intermediate-shelfal dari
Cekungan Sumatera Selatan, di atas dan di sekitar platform dan tinggian.Kontak pada bagian bawah
dengan Formasi Talang Akar atau dengan batuan Pra Tersier. Komposisi dari Formasi Baturaja ini terdiri
dari Batugamping Bank (Bank Limestone) atau platform dan reefal. Ketebalan bagian bawah dari formasi
ini bervariasi, namun rata-ratta 200-250 feet (sekitar 60-75 m). Singkapan dari Formasi Baturaja di
Pegunungan Garba tebalnya sekitar 1700 feet (sekitar 520 m). Formasi ini sangat fossiliferous dan dari
analisis umur anggota ini berumur Miosen. Fauna yang ada pada Formasi Baturaja umurnya N6-N7.
6. Formasi Telisa (Gumai)
Formasi Gumai tersebar secara luas dan terjadi pada zaman Tersier, formasi ini terendapkan selama
fase transgresif laut maksimum, (maximum marine transgressive) ke dalam 2 cekungan. Batuan yang ada
di formasi ini terdiri dari napal yang mempunyai karakteristik fossiliferous, banyak mengandung foram
plankton. Sisipan batugamping dijumpai pada bagian bawah.
Formasi Gumai beda fasies dengan Formasi Talang Akar dan sebagian berada di atas Formasi
Baturaja. Ketebalan dari formasi ini bervariasi tergantung pada posisi dari cekungan, namun variasi
ketebalan untuk Formasi Gumai ini berkisar dari 6000 9000 feet ( 1800-2700 m).
Penentuan umur Formasi Gumai dapat ditentukan dari dating dengan menggunakan foraminifera
planktonik. Pemeriksaan mikropaleontologi terhadap contoh batuan dari beberapa sumur menunjukkan
bahwa fosil foraminifera planktonik yang dijumpai dapat digolongkan ke dalam zona Globigerinoides
sicanus, Globogerinotella insueta, dan bagian bawah zona Orbulina Satiralis Globorotalia peripheroranda,
umurnya disimpulkan Miosen Awal-Miosen Tengah. Lingkungan pengendapan Laut Terbuka, Neritik.
7. Formasi Lower Palembang (Air Benakat)

Formasi Lower Palembang diendapkan selama awal fase siklus regresi. Komposisi dari formasi ini
terdiri dari batupasir glaukonitan, batulempung, batulanau, dan batupasir yang mengandung unsur
karbonatan. Pada bagian bawah dari Formasi Lower Palembang kontak dengan Formasi Telisa. Ketebalan
dari formasi ini bervariasi dari 3300 5000 kaki (sekitar 1000 1500 m ). Fauna-fauna yang dijumpai
pada Formasi Lower Palembang ini antara lain Orbulina Universa dOrbigny, Orbulina Suturalis
Bronimann, Globigerinoides Subquadratus Bronimann, Globigerina Venezuelana Hedberg,Globorotalia
Peripronda Blow & Banner, Globorotalia Venezuelana Hedberg, Globorotalia Peripronda

Blow &

Banner,Globorotalia mayeri Cushman & Ellisor, yang menunjukkan umur Miosen Tengah N12-N13.
Formasi ini diendapkan di lingkungan laut dangkal.
8. Formasi Middle Palembang (Muara Enim)
Batuan penyusun yang ada pada formasi ini berupa batupasir, batulempung, dan lapisan batubara.
Batas bawah dari Formasi Middle Palembnag di bagian selatan cekungan berupa lapisan batubara yang
biasanya digunakan sebgai marker. Jumlah serta ketebalan lapisan-lapisan batubara menurun dari selatan
ke utara pada cekungan ini. Ketebalan formasi berkisar antara 1500 2500 kaki (sekitar 450-750 m). De
Coster (1974) menafsirkan formasi ini berumur Miosen Akhir sampai Pliosen, berdasarkan kedudukan
stratigrafinya. Formasi ini diendapkan pada lingkungan laut dangkal sampaibrackist (pada bagian dasar),
delta plain dan lingkungan non marine.
9. Formasi Upper Palembang (Kasai)
Formasi ini merupakan formasi yang paling muda di Cekungan Sumatra Selatan. Formasi ini
diendapkan selama orogenesa pada Plio-Pleistosen dan dihasilkan dari proses erosi Pegunungan Barisan
dan Tigapuluh. Komposisi dari formasi ini terdiri dari batupasir tuffan, lempung, dan kerakal dan lapisan
tipis batubara. Umur dari formasi ini tidak dapat dipastikan, tetapi diduga Plio-Pleistosen. Lingkungan
pengendapannya darat.
(Stratigrafi Regional Cekungan Sumatra Selatan (De Coaster, 1974))

-Formasi batuan yang mengandung minyak, gas bumi dan batubara


N
O
1
2
3
4
5

BARANG
TAMBANG
Batu Bara
Gas Alam
Minyak Bumi
Batu Bara
Minyak dan Gas

Lokasi/persebaran
Lampung selatan
Way seputih, lampung tengah
Way seputih, lampung tengah
Lampung Utara
Kota Menggala, Lampung

FORMASI
Formasi Campang
Terbanggi
Terbanggi
Formasi Kasai
Formasi Kasai

8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23

Bumi
Batu Bara
Minyak dan Gas
Bumi
Batu Bara
Minyak Bumi
Batu Bara
Batu Bara
Gas Alam
Gas Alam
Batu Bara
Minyak Bumi
Minyak Bumi
Gas Alam
Minyak Bumi
Gas Alam
Minyak Bumi
Minyak Bumi
Gas Alam
Batu Bara

24
25

Minyak Bumi
Minyak Bumi

26
27

Gas Alam
Gas Alam

6
7

Bengkulu
Prabumulih

Undak Alluvium
Formasi Muara Enim

Sarolangun
Jambi
rantau pandan
Bungo
Muaro Jambi
tanjung jabung
Sawah Lunto
Dayun, Siak
Minas, Siak
Minas, Siak
Duri, Bengkalis
Dumai. Riau
Dumai, Riau
Arun
Arun
Kaway, Aceh Barat

Alluvium
Formasi Muara Enim

Aceh Barat
Peureulak-Aleuto Aceh Timur
Bukit Singgalang Aceh Timur
Aceh Utara
Lhoksukon, Aceh Utara

Alluvium
Endapan Danau
Formasi Brani
Formasi Minas
Formasi Minas
Aluvium Tua
Formasi Minas
Aluvium Tua
Aluvium Tua
Formasi Medan
Aluvium Muda
Takengon-Calang
(Cek)
Formasi Tangla
Formasi Julu Rayeu
Formasi Seureula
Aluvium Muda

2. Kalimantan
Jawab:
-Keterdapatan intan dipulau Kalimantan
plume tectonics dan pipa intan kimberlite: Kalimantan case

Intan telah banyak ditambang dibanyak tempat di Pulau Kalimantan oleh penduduk sejak lama dan
berkembang diberbagai tingkatan sampai sekarang. Intan dipotong dan dipoles/digosok di Martapura
Kalimantan Selatan.
Saat ini penduduk local Kalimantan Tengah menambang endapan intan alluvial mempergunakan
peralatan dan metode yang masih sederhana. Intan yang terdapat dalam endapan alluvial biasanya
terdapat bersama sejumlah mineral seperti korundum, rutile, brookite, quartz, emas, platinum dan pirit.

Pasir hitam yang terbentuk dari pencucian residu (disebut puya) terdiri dari : Titano magnetite,
kromit, garnet, spinel, hyacinth, topaz, dan ruby.
Penyelidikan terhadap endapan intan sudah dilakukan sejak dulu tetapi masih belum mendapatkan
hasil berupa penemuan endapan utamanya. Tetapi kesempatan bagi eksplorasi endapan utama dan
alluvial masih ada dan dilakukan.
Kegunaan Intan :
1. Perhiasan
Berikut ini pemanfaatan intan sebagai perhiasan :
- Sebagai mata batu cincin
- Liontin pada kalung
- Hiasan pada gelang
- Hiasan anting
- Hiasan pada aksesoris lainnya, seperti kacamata, ikat pinggang dan tas tangan
2. Koleksi
3. Investasi
4. Mendatangkan keberuntungan
5. Menunjukkan status sosial
6. Mengusir energy negative dan aura negative
7. Symbol pernikahan
-Formasi batuan tertua dikalimantan
Batuan dasar adalah batuan di dasar lapisan stratigrafi yang umumnya lebih tua dari batuan di atasnya.
Batuan ini biasanya mengalami metamorfosis jika terkena panas. Hasil metamorfosis batuan ini yang
khas adalah batu pualam yang berasal dari batu kapur; batu sekis hijau yang berasal dari batuan vulkanik,
batu gneis yang berasal dari batu pasir atau granit. Daerah batuan metamorfosis atau batuan dasar adalah
jenis kerak benua yang sering dipengaruhi oleh batuan intrusi muda. Kompleks batuan dasar Kalimantan
terdiri dari atas sekis dan gneis yang tercampur dengan granit dari Era Palaezoikum dan Periode Terseir
membentuk daerah kristal yang sangat luas.
Batuan yang berasosiasi dengan pinggir lempeng Kalimantan mencakup Opiolit (kerak samudera) dan
Melange. Potongan lantai samudera (kerak samudera) terdapat beberapa tempat didaratan Kalimantan.
Potongan-potongan ini dicirikan oleh susunan batuan beku yang padat gelap tipe Basa dan Ultra Basa
dengan komponen granit. Endapan batu kersik samudera dan karbonat mungkin juga terdapat deretan
batuan ini disebut Opiolit. Sebagian pengganti jalur penunjaman, Opiolit-Opiolit ini terbentuk oleh
tubrukan lempeng ketika kerak samudera terperangkap oleh gerakan tektonik lempeng dan tertekan ke
pinggir lempeng yang berdekatan dan di sini Opiolit-Opiolit ini tetap terlindungi. Proses pencuatan ini
sering disertai oleh rubuh dan retaknya batuan. Kompleks Opiolit di Pulau Laut dan Pegunungan Meratus
terbentuk dengan cara ini.
-Kelompok batuan Mellange di Pegunungan Meratus

Batuan Melange adalah batuan campuran potongan-potongan batu dari berbagai jenis dan ukuran yang
berbeda dalam matrik berliat yang terpotong, yang menunjukkan adanya tekanan yang sangat kuat.
Potongan-potongan ini ukurannya dapat sangat kecil (cm) dan dapat juga berukuran besar (ratusan meter
atau lebih). Malange sering dikaitkan dengan proses pembentukan jalur penunjaman. Melange merupakan
perpaduan antara bahan-bahan yang terkikis dari lempeng samudera yang bergerak turun dengan endapan
yang berasal dari massa daratan atau lengkung vulkanik di dekatnya. Seluruh massa ini tergesek dan
terpotong karena desakan ke bawah dari lempeng yang bergerak turun. Batuan yang terbentuk dengan
cara ini berasosiasi dengan desakan keatas lempeng Opiolit yang besar di Pegunungan Meratus.
Daerah Melange yang luas di bagian tengah Kalimantan, yaitu yang terbentang di perbatasan antara
Kalimantan dan Malaysia, masih belum diketahui dengan baik. Daerah Melange ini merupakan zona
batuan hancur, sering mengandung potongan-potongan Opiolit, tetapi luas dan umur geologinya (akhir
mesozoikum sampai periode tersier yang lebih tua) sulit untuk dijelaskan dalamperistilahan lempeng
tektonik sederhana (Williams dkk, 1989).
3, Sulawesi
Jawab :
-Evolusi tektonik pulau Sulawesi
Evolusi tektonik dan struktur geologi regional Sulawesi yang mempengaruhi dan berhubungan dengan
daerah penelitian, didasarkan pada laporan telitian dan hipotesa oleh Sukamto (1985), Wakita, dkk (1996)
dan Kaharuddin (1997). Pulau Sulawesi terbentuk akibat berbagai aktivitas tektonik konvergen dan
longsoran lempeng India-Australia, Pasifik barat dan keraton Asia yang secara tektonik dan stratigrafi
mempunyai fenomena geologi yang kompleks dan rumit,di bangun oleh empat litologi yang berbeda satu
sama lain,yaitu :
1. Mikrokontinen Banggai- Sula Buton yang tersusun oleh batuan tua berumur Trias Jura dari batuan
metamorf dan aloton granit.
2. Unit Sulawesi Timur yang meliputi batuan kompleks metamorf dan nappe opiolit-melange.
3. Unit Sulawesi Tengah yang terdiri atas batuan sekis dan metasedimen yang berumur Kapur
4. Unit Sulawesi Barat yang merupakan busur plutonovulkanik Tersier yang dialasi oleh Sekis Melange
Bantimala yang berumur Mesozoikum.
Evolusi tektonik dan struktur geologi regional Sulawesi, dapat dijelaskan melalui fase subduksi
(subduction) , benturan (collision), dan akresi (acretion) mikrokontinen pada Trias Kapur, serta

tempatan tektonik tubuh batuan pada masa. Neogen akibat benturan mikrokontinen lain. Evolusi tektonik
pulau Sulawesi berawal dari pembentukan proto kontinen Sulawesi Barat di zaman Trias didaerah tepian
kontinen Kalimantan Timur yang menyusul gerak blok lain sebagai alloton hanyutan fragmen dari tepian
kontinen Australia dan lempeng Pasifik Barat.
Tektonisme Mesozoikum dimulai pada zaman Trias dimana akibat desakan lempeng Pasifik Barat
ke tepian Asia menyebabkan subduksi didaerah tepian kontinen Kalimantan Timur.Peristiwa ini disertai
dengan deformasi batuan ,kenaikan tekanan-tekanan dan temperatur membentuk kompleks akresi yang
selanjutnya mengalami metamorfisme tingkat tinggi membentuk sekis biru dan sekis hijau yang
protolitnya dari batuan pelitik serta beberapa blok kerak oceanik membentuk lensa- lensa eklogit yang
merupakan batuan alas Sulawesi Barat.
Fragmen kontinen yang berbagai ukuran mengapung ke arah Utara dan membentuk zona akresi
sepanjang tepian kontinen Asia, saat terjadinya pemisahan benua Gondwana. Akibat desakan lempeng
Pasifik ke bagian Barat tepian kontinen Asia terjadi subduksi daerah tepian kontinen Kalimantan Timur.
Peristiwa ini disertai dengan deformasi batuan, kenaikan tekanan dan suhu yang tinggi membentuk batuan
metamorfosis tingkat tinggi. Pada zaman Trias hingga Kapur Awal subduksi ini. Subduksi ini memmbawa
mikrokontinen tersebut, hingga mencapai palung (trench), mengalami benturan yang membentuk
tumpukan dalam suatu baji akresi.
Setelah terjadinya benturan dan akresi tersebut, subduksi terhenti pada Palung Bantimala. Sesar
anjak underthrust pada fragmen kontinen yang relatif lebih ringan menyebabkan terjadinya
pengangkatan (uplift) secara cepat dan mengangkat batuan metamorfosis bertekanan tinggi ke
permukaan. Umur 113-132 juta tahun, mengindikasikan waktu pendinginan selama proses tersebut.
Setelah batuan metamorf Kompleks Bantimala tersebut muncul dipermukaan, erosi yang terjadi
membentuk breksi sekis dan batupasir pada suatu cekungan sedimen yang tidak stabil dimana didalamnya
juga terendapkan radiolaria selama Albian Cenomanian Awal (kapur Tengah).
Kemudian pada zaman Jura juga terjadi perkembangan tektonik subduksi ditepian Kalimantan
Timur menyebabkan sebagian batuan metamorfik Trias hancur tercampur adukkan dengan sedimen tepian
dari lelehan lava basal diatas zona Benioff membentuk batuan campur aduk tekanan tinggi yang disebut
melange.Selanjutnya pada zaman Kapur kompleks akresi berubah menjadi lingkungan laut transgressi
yang berkembang hingga daerah trench yang terisi oleh sedimen tepian tipe flysch dan sedimen pelagik
chert kearah laut dalam. Disisi Tepian Kontinen terjadi peleburan lempeng dan pencampuran magma
membentuk busur magmatisme Kapur yang menghasilkan batuan penyusun formasi Alino dan
Manunggal yang di sertai dengan pembentukan akresi dalam kondisi laut regresi.

Tumpukan potongan-potongan struktur akibat proses tektonik (tectonic stacking of slices), nampak
jelas di daerah Bantimala dan mempunyai kemiripan terhadap prisma akresi dan kompleks akresi pada
hampir semua tempat di dunia. Tumpukan struktur ini umumnya mempunyai kemiringan ke timurlaut,
berlawanan dengan yang diperkirakan ke arah barat, sebagaimana subduksi lempeng samudra ke
Kontinen Sunda selama zaman Kapur.
Tektonisme Paleogen dimulai pada Paleosendimana kelanjutan dari aktivitas tektonisme pada Kala
Paleosen ini menyebabkan kompleks akresi Kapur mengalami subsidensi dalam bentuk pull apart yang
disertai dengan pembentukan sedimen deltaik,batupasir Mallawa dan Toraja berselingan dengan vulkanik
bawah laut (volcanic Paleosen). Kemudian dilanjutkan pada Kala Eosen Oligosen dimana subsidensi
tepian kontinen Kalimantan Timur masih berlanjut hingga lingkungan deltaik berubah menjadi laut
dangkal yang ditumbuhi oleh paparan karbonat Tonasa dan sebagian oleh sedimen klastik membentuk
Batugamping Tonasa dan Toraja serta batuan sedimen Salokalupang dan lava dari gunungapi dasar.
Peristiwa tektonisme Neogen dimulai pada Kala Miosen dimana terjadi peristiwa retak tarik di daerah
tepian kontinen oleh aktivitas subduksi dan injeksi astenosfer di bawah lempeng kontinen menyebabkan
terajadinya busur dan cekungan back arc (Selat Makassar) yang berlangsung sejak Miosen Awal
Tengah.
Menjelang Miosen Tengah hingga Miosen Atas terjadi magmatisme di daerah busur Sulawesi Barat
menghasilkan intrusi dan vulkanik asam - basa membentuk batuan vulkanik Soppeng dan Camba dan di
akhiri dengan perkembangannya cekungan Walanae yang terisi sedimen klastik dan vulkanik membentuk
formasi Walanae dan beberapa klastika terbentuk dibagian tengah Sulawesi Barat. Selanjutnya pada Kala
Pliosen hingga Plistosen terbentuk adanya suatu akumulasi blok dimana pada daerah Sulawesi terkumpul
beberapa blok batuan secara obduksi, benturan maupun subduksi yang disertai dengan magmatisme
secara lokal yang menghasilkan adanya penempatan ophiolite, melange dan olitostrom. Sesar naik - sesar
naik setempat memotong Formasi Camba berumur Miosen. Beberapa sesar secara jelas terjadi setelah
Miosen. Tumpukan struktur pada kompleks Lamasi Sulawesi Selatan, disebabkan obduksi dari ofiolit ke
arah barat pada Oligosen dan benturan mikrokontinen pada Miosen Pliosen. Skenario yang sama dapat
digunakan pula pada kompleks Bantimala.
Hide,dkk (1967,1977) dalam Sukamto (1985) mengemukakan bahwa gerakan lempeng pasifik ke
arah terjadi pada Miosen Awal, sehingga berbagai mikrokontinen di Indonesia bagian Timur makin
terdorong ke barat mendekati system busur palung sulawesi. Pada Miosen Tengah gerakan ke barat
tersebut menyebabkan mikrokontinen Banggai-Sula dan Tukang Besi membentur busur Sulawesi Timur,
dan Busur Sulawesi Timur melewati sistem busur-palung Sulawesi Barat.Desakan ini menyebakan

terjadinya pengangkatan regional di wilayah sulawesi, dan diikuti oleh Sulawesi Timur, dan Busur
Sulawesi Timur melewati sistem busur palung Sulawesi Barat. Desakan ini menyebabkan terjadinya
pengangkatan regional di wilayah Sulawesi dan diikuti oleh pensesaran bongkah yang membentuk
morfologi sembul dan terban. Pengangkatan dan erosi yang berlanjut menyebabkan tersingkapnya
kembali batuan Pra-Tersier di daerah Bantimala, dan terbentuk kipas aluvium tua selama Plistosen. Gejala
penurunan kembali terlihat pada Plistosen Tengah, ketika terjadai selat yang menghunbungkan Teluk
Bone dan Selat Makassar melalui Danau Tempe, dan tenggelamnya kembali Kepulauan Terumbu
Spermonde di Selat Makassar.
-Stratigrafi Sulawesi Selatan (bagian selatan dan bagian utara)

4. Jawa

Jawab :
-Evolusi tektonik pulau jawa
Pra-Tersier
Terdapat jalur subduksi purba mulai dari Jawa Barat Selatan (Ciletuh), Pegunungan Serayu (Jawa
Tengah), dan Laut Jawa bagian timur ke Kalimantan Tenggara. Lalu hadir jalur magmatik Kapur yang
menempati lepas pantai utara Jawa (berwarna ungu pada gambar 8a). Jalur subduksi purba disebabkan
penunjaman lempeng India-Australia dibawah lempeng Eurasia yang berarah NE SW dan pola tektonik
ini dinamakan Pola Meratus.
Tersier
Terdapat jalur subduksi purba membentuk punggungan bawah permukaan laut yang terletak di selatan
Pulau Jawa. Jalur ini merupakan kelanjutan deretan pulau pulau di sebelah barat Sumatera yang terdiri
dari singkapan melange (Pulau Nias) berumur Miosen. Punggungan berimpit dengan anomali gaya berat
negatif. Jalur ini merupakan satuan tektonik yang penting karena dikaitkan dengan terangkatnya masa
ringan dibandingkan sekitarnya sebagai akibat penyusupan Lempeng Indo-Australia di bawah Lempeng
Mikro Sunda. Jalur magmatik Tersier menempati sepanjang pantai selatan Pulau Jawa.
Secara garis besar, jalur magma Tersier dibagi menjadi dua periode :
Eosen Akhir Miosen Awal
Pola subduksi mengalami perubahan jalur semakin ke arah W E. Pergerakan arah tegasan NW SE
ke arah relatif N S, sehingga terdapat pola struktur yang lebih muda, yaitu Pola Sunda.
Miosen Akhir Pliosen Resen
Pola subduksi yang sudah berarah W E menghasilkan jalur magmatisme berarah W E juga yang
menghasilkan pola pola struktur berarah W E dan berlangsung hingga saat ini. Pola struktur ini
dinamakan Pola Jawa.
-Daerah penghasil emas dipulau Jawa
Potensi sumberdaya emas adalah berupa endapan emas dan perak primer yang terdapat berasosiasi
dalam bentuk urat-urat kuarsa yang terdapat pada batuan-batuan vulkanik yang berumur Miosen Pleistosen. Potensi emas yang sedang di lakukan penambangan adalah di daerah Gunung Pongkor oleh
PT. ANTAM, sedangkan potensi yang berada di daerah lain seperti Cianjur, Garut, Purwakarta,
Sukabumi, Tasikmalaya, umumnya masih dalam tahap kegiatan eksplorasi untuk menentukan jumlah
cadangan terukurnya, serta sebagian kecil lainnya dilakukan penambangan hanya dilakukan dalam skala
kecil oleh KUD atau para PETI. Menurut data Badan Geologi, 201, Gunung Pongkor (Bogor) memiliki
Sumberdaya (Tereka) emas 981.000 ton (bijih) sedangkan cadangan Terkira sebesar 2.182.000 ton bijih
dan cadangan Terbukti 700.000 ton bijih dengan kadar emas berkisar antara 8 10,72 gram/ton. Bijih
Perak sumberdayanya sebesar 258.000 (Tereka), 973.000 (Tertunjuk) dan 357.300 (Terukur) masingmasing dalam ton, sementara cadangan Terkira sebesar 1.446.000 ton bijih dan cadangan Terbukti sebesar
1.774.000 ton bijih dengan kadar berkisar antara 67,6 - 170,79 gram/ton. Sementara di Kabupaten Cianjur
sumberdaya emas terdapat di daerah Cikondang, Cibeber Tenggara (Kecamatan Campaka dan Kecamatan

Cibeber) serta di daerah Celak dan Cigadobras (Kecamataan Tanggeung) dengansumberdaya Terukur
sebesar 2.202 ton bijih dengan kadar 15 gram/ton.
Kabupaten Purwakarta terdapat dua lokasi prospek logam emas yaitu di daerah Jatiluhur dan Gn.
Subang. Sumberdaya Tertunjuk dan Terukur di daerah Jatiluhur masing-masing 12.000.000 dan 1.551.920
ton bijih dengan kadar emas 1 2 gram/ton sedangkan di daerah Gn. Subang sumberdaya Tereka sebesar
59.523 ton bijih dengar kandungan emas 8,4 gram/ton.
Di Kabupaten Sukabumi, keterdapatan sumberdaya emas primer cukup tersebar seperti di daerah
Cijiwa (Palabuhan Ratu/Ciemas), sumberdaya Hipotetik sebesar 21.206 ton bijih dengan kadar Au = 5
gr/ton, Ag = 20 gr/ton; Cimandiri (Warung Kiara) sumberdaya Hipotetik sebesar 61.220 ton bijih dengan
kadar Au=8,4 gr/ton; Ciracap (Ciemas) sumberdaya terukur sebesar 784.300 ton bijih dengan kadar
Au=4,02 gr/ton, Ag=20,40 gr/ton; Desa Mekar Jaya, Ciemas, sumberdaya Tereka sebesar 1.594.285 ton
bijih, Tertunjuk 281.800 ton bijih dan sumberdaya Terukur 148.153 ton bijih dengan kadar Au=16 gr/ton;
Kebonkacang, Cigaru, sumberdaya Hipotetil sebesar 159.000 dan sumberdaya Terukur 28.441 ton bijih
dengan kadar Au=0,1-2,45 gr/ton, Ag=1,0-373 gr/ton; Kampung Cibutun, Palabuhan Ratu, sumberdaya
Tereka sebesar 84.000 ton bijih dengan kadar Au=6 gr/ton, Ag=59,4 gr/ton, Cu=1,65 gr/ton. Pb=4,06
gr/ton, Zn=3,25 gr/ton; Palabuhan Ratu, Kecamatan Palabuhan Ratu dan Cikidang, sumberdaya Terukur
25000 ton bijih dengan kadar Au=0,12-35,4 gr/ton, Ag=0,25-22,1gr/ton. Sementara itu di Kabupaten
Tasikmalaya emas terdapat di daerah Cineam sumberdaya Tertunjuk sebesar 7.789,5 ton bijih dan
sumberdaya Terukur 56281,72 ton, daerah ini telah diusahakan/ditambang oleh masyarakat setempat
melalui pengusahaan dalam bentuk KUD. Sedangkan di Kabupaten Garut, berdasarkan hasil kegiatan
eksplorasi PT. Aneka Tambang, emas terdapat di daerah Prospek Papandayan yang terdiri atas ArinemBantarhuni, Cibeureum, Cihideung, Cijahe dan Cijaringo dengan perhitungan sumberdaya 4.457.000 ton
dengan kadar rata-rata 2 gr/t dan 17,4 g/t. Di beberapa kabupaten lain seperti
Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat juga telah diidentifikasi adanya potensi
sumberdaya emas dan perak, akan tetapi belum ada data perhitungan yang menunjukkan jumlahnya.
Berdasarkan hasil inventarisasi yang dilakukan oleh Badan Geologi, potensi sumberdaya mineral logam
dasar seperti tembaga, seng , timbal dan pasir besi, titan serta mangan keterdapatannya masih sangat dan
umumnya belum dilakukan penambangan secara besar. Umumnya hanya ditambang dalam skala kecil.
Potensi tembaga, seng dan timbal di
Kabupaten Bogor adalah di daerah Gunung Gede serta Gunung Limbung (Jasinga-Cigudeg). G. Gede
(Jasinga, Cigudeg); sumberdaya tereka (bijih) 1.460.935 ton. Hasil analisis kimia menunjukkan kadar Cu
= 0,1%, Au = <1gr/ton, Pb = 0,9%, Zn = 4,12%. G. Limbung (Jasinga) tingkat penyelidikan eksplorasi
umum; sumberdaya Tereka (bijih) 3.500.000 ton. Hasil analisis kimia menunjukkan kadar Cu = 0,37%,
Au = 1gr/ton, Pb = 2,4%, Zn = 4,6%.
5. Maluku
Jawab :

-Keterdapatan nikel di Maluku dan Maluku utara


Kegiatan pertambangan nikel dengan produksi sekitar 190 Ribu Ton per tahun, menjadikan Indonesia
produsen nikel ke-4 dari 5 negara dunia yang bersama-sama menyumbang lebih dari 60 persen nikel
dunia. Indonesia juga memiliki 8 persen cadangan nikel dunia oleh karena itu industri pengolahan nikel
sangat layak untuk dipercepat dan diperluas pembangunannya.
Di Kepulauan Maluku, nikel terdapat di Weda, Kab. Halmahera Tengah, Maluku Utara. Tantangan
terbesar dalam percepatan dan perluasan kegiatan pertambangan nikel adalah menciptakan industri hilir
dari pertambangan nikel khususnya dalam pemurnian (refining) hasil produksi nikel. Indonesia belum
memilki fasilitas pemurnian nikel padahal kegiatan pemurnian memberikan nilai tambah yang sangat
tinggi.
Pada saat ini, lebih dari 50 persen nikel yang diekspor dalam bentuk bijih nikel. Dari 190 Ribu Ton
Bijih nikel yang diproduksi Indonesia per tahunnya, hanya sekitar 80 Ribu Ton nikel yang diekspor dalam
bentuk matte. Selain itu, pengolahan nikel hanya sebatas kegiatan pertambangan dan peleburan, belum
dalam bentuk produk dengan pertambahan nilai yang lebih tinggi, sehingga perlu dikembangkan industri
pengolahan nikel yang bernilai lebih tinggi.
Kendala lain dalam pertambangan nikel adalah terhambatnya peningkatan tahap kegiatan eksplorasi
menjadi tahap operasi dan produksi atau pembukaan area baru karena lambatnya penerbitan Izin Usaha
Pertambangan, yang biasanya terkait dengan lambatnya pengurusan Izin Pinjam Pakai Lahan Hutan atau
lambatnya penerbitan rekomendasi dari Pemerintah Daerah.
Beberapa tantangan investasi di pertambangan nikel, adalah masalah regulasi yang belum konsisten
antara Pemerintah Pusat dan Daerah, dan antara kementerian satu dan lainnya. Selain itu, investor juga
masih menghadapi masalah perizinan pertambangan nikel. Di lain pihak, pertambangan nikel juga
menimbulkan beberapa masalah lingkungan, seperti polusi udara, penurunan kualitas tanah, sengketa
tanah, dan gangguan ekosistem, disamping tantangan sosial berupa banyaknya imigran dari luar kawasan.
Oleh karena itu, strategi utama pengembangan industri nikel adalah meningkatkan kegiatan investasi
pertambangan nikel yang memenuhi aspek lingkungan dan aspek sosial.
-Evolusi tektonik daerah Maluku dan sekitarnya
Kawasan Maluku Utara adalah kawasan yang didominasi oleh perairan, dengan perbandingan luas
daratan dan laut adalah 1 : 3. Kawasan ini terdiri atas 353 pulau dengan luas kira-kira 32.000 km, yang
tersebar di atas perairan seluas 107.381 km. Gugusan kepulauan di kawasan Maluku Utara terbentuk oleh
relief-relief yang besar, Palung-palung samudra, dan Punggung Pegunungan yang sangat mencolok saling
bersambung silih berganti. Secara umum struktur fisiografi kawasan Maluku Utara terbentuk dari zona
pertemuan dua sistem bentang alam. Kedua sistem bentang alam tersebut antara lain adalah Sistem
Bentang Alam Sangihe dan Sistem Bentang Alam Ternate, dengan batasnya adalah Cekungan Celebes di
barat dan Cekungan Halmahera di timur.
Zona benturan Laut Maluku merupakan bagian yang paling rumit di kawasan ini. Lempeng Laut
Maluku, yaitu sebuah lempeng benua kecil mengalami tumbukan ke Palung Sangihe di bawah Busur

Sangihe di barat dan ke arah timur di bawah Halmahera, sedangkan di sebelah selatannya terikat oleh
Patahan Sorong.
Busur dalam Halmahera yang bersifat vulkanis berkembang di sepanjang pantai barat Halmahera dan
menghasilkan pulau-pulau lautan yang bersifat vulkanis, antara lain adalah : Ternate, Tidore, Makian dan
Moti. Mare terbentuk dari material vulkanis yang terangkat, sedangkan Kayoa berasal dari terumbu
karang yang terangkat. Mayu dan Tifore yang terletak di sepanjang gigir tengah Laut Maluku yang
meninggi merupakan keping Melange aktif .
Pulau Halmahera dan pulau-pulau disekitarnya yang ada di Indonesia bagian Timur termasuk ke
dalam sistem pertemuan 3 (tiga) lempeng yaitu lempeng Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng
Samudera Philipina (Hamilton, 1979). Bagian Utara Halmahera merupakan lempeng Samudera Philipina
yang menunjam di bawah Philipina sepanjang palung Philipina yang merupakan suatu konfigurasi busur
kepulauan sebagai hasil tabrakan lempeng di bagian barat Pasifik. Pulau ini dicirikan dengan Double
ArcSystem dibuktikan dengan adanya endapan vulkanik di lengan barat dan nonvulkanik di lengan timur.
Di selatan Halmahera pergerakan miring sesar Sorong ke arah barat bersamaan dengan IndoAustralia struktur lipatan berupa sinklin dan antiklin terlihat jelas pada formasi Weda yang berumur
Miosen Tengah-Pliosen Awal. Sumbu lipatan berarah Utara-Selatan, Timur Laut - Barat Daya, dan Barat
Laut-Tenggara. Struktur sesar terdiri dari sesar normal dan sesar naik umumnya berarah Utara-Selatan
dan Barat Laut-Tenggara. Kegiatan tektonik dimulai pada Kapur Awal dan Awal Tersier, ketidakselarasan
antara batuan berumur Paleosen-Eosen dengan batuan berumur Eosen-oligosen Awal, mencerminkan
kegiatan tektonik sedang berlangsung kemudian diikuti kegiatan gunung api. Sesar naik akibat tektonik
terjadi pada jaman Eosen- Oligosen. Tektonik terakhir terjadi pada jaman Holosen berupa pengangkatan
terumbu dan adanya sesar normal yang memotong batu gamping.
6. Bali dan Nusa Tenggara
Jawab :
-Stratigrafi Pulau bali
Stratigrafi regional berdasarkan Peta Geologi Bali geologi Bali tergolong masih muda. Batuan tertua
kemungkinan berumur Miosen Tengah.
Tabel Stratigrafi Pulau Bali
Kala Geologi

Formasi

Kwarter

Endapan aluvium terutama di sepanjang pantai, tepi Danau Buyan, Bratan, dan Batur
Batuan gunung api dari krucut subresen Gunung Pohen, Gunung Sangiang, Gunung
Lesung
Lava dari Gunung Pawon

Batuan dari gunung api Gunung Batukaru


Batuan gunung api Gunung Agung
Batuan gunung api Gunung Batur
Tufa dari endapan lahar Buyan-Bratan dan Batur
Kwarter Bawah Formasi Palasari: konglomerat, batu pasir, batu gamping terumbu
Batuan gunung api Gunung Sraya
Batuan gunung api Buyan-Bratan Purba dan Batur Purba
Batuan gunung api Jembrana: lava, breksi, dan tufa dari Gunung Klatakan, Gunung
Merbuk, Gunung Patas, dan batuan yang tergabung
Pliosen

Formasi Asah: lava, breksi, tufa batuapung, dengan isian rekahan bersifat gampingan
Formasi Prapat Agung: batu gamping, batu pasir gampingan, napal
Batuan gunung api Pulaki: lava dan breksi

Miosen-Pliosen Formasi Selatan: terutama batu gamping


Miosen Tengah- Formasi Sorga: tufa, napal, batu pasir
Atas
Miosen Bawah- Formasi Ulukan: breksi gunung api, lava, tufa dengan sisipan batuan gampingan
Atas

Menurut Purbohadiwidjoyo, (1974). dan Sandberg, (1909) dalam K.M Ejasta,(1995), secara geologi
pulau bali masih muda, batuan tertua berumur miosen. Secara garis besar batuan di Bali dapat dibedakan
menjadi beberapa satuan yaitu:
1. Formasi Ulakan
Formasi ini merupakan formasi tertua berumur Miosen Atas, terdiri dari stumpuk batuan yang
berkisar dari lava bantal dan breksi basal dengan sisipan gampingan. Nama formasi Ulakan diambil dari
nama kampung Ulakan yang terdapat di tengah sebaran formasi itu.
Bagian atas formas ulakan adalah formasi Surga terdiri dari tufa, nafal dan batu pasir. Singkapan
yang cukup luas terdapat dibagaian tengah daerah aliran sungai Surga.Disini batuan umumnya miring
kearah selatan atau sedikit menenggara (170-190 o) dengan kemiringan lereng hingga cukup curam (2050o).singkapan lain berupa jendela terdapat di baratdaya Pupuan, dengan litologi yang mirip.

2. Formasi Selatan
Formasi ini menempati semenanjung Selatan.Batuannya sebagian besar berupa batugamping keras.
menurut Kadar, (1972) dalam K.M Ejasta, (1995) tebalnya berkisar 600 meter, dan kemiringa menuju
keselatan antara 7-10o . kandungan fosil yang terdiri dari Lepidocyclina emphalus, Cycloclypeus Sp,
Operculina Sp, menunjukan berumur Miosen. Selain di semananjung selatan, formasi ini juga menempati
Pulau Nusa Penida.
3. Formasi Batuan Gunungapi Pulaki
Klompok batuan ini berumur pliosin, merupakan klompok batuan beku yang umumnya bersifat basal,
terdiri dari lava dan breksi.Sebenarnya terbatas di dekat Pulaki. Meskipu dipastikan berasal dari gunung
api, tetapi pusat erupsinya tidak lagi dapat dikenali. Di daerah ini terdapat sejumlah kelurusan yang
berarah barat-timur, setidaknya sebagian dapat dihubungkan dengan persesaran.Mata air panas yang
terdapat di kaki pegunungan, pada perbatasan denga jalur datar di utara, dapat dianggap sebagai salah satu
indikasi sisa vulkanisme, dengan panas mencapai 470 C dan bau belerang agak keras.
4. Formasi Prapatagung
Klompok batuan ini berumur Pliosin, menempati daerah Prapatagung di ujung barat Pulau Bali. Selai
batugamping dalam formasi ini terdapat pula batu pasir gampingan dan napal.
5. Formasi Asah
Klompok batuan ini brumur Pliosen menyebar dari baratdaya Seririt ke timur hingga di baratdaya
Tejakula.Pada lapisan bawah umumnya terdiri dari breksi yang beromponen kepingan batuan bersifat
basal, lava, obsidian.Batuan ini umumnya keras karena perekatnya biasanya gampingan.Dibagian atas
tedapat lava yang kerapkali menunjjukan rongga, kadang-kadang memperlihatkan lempengan dan
umunya berbutir halus.Kerpakali Nampak struktur bantal yang menunjukan suasana pengendapan laut.
6. Formasi batuan gunungapi kuarter bawah
Kwarter di Bali di Dominasi oleh batuan bersal dari kegiatan gunung api. berdasarkan morfologinya
dapat diperkirakan bahwa bagian barat pulau Bali ditempati oleh bentukan tertua terdiri dari lava, breksi
dan tufa. Batuan yang ada basal, tetapi sebagian terbesar bersifat andesit, semua batuan volkanik tersebut
dirangkum ke dalam Batuan Gunungapi Jemberana. Berdasarkan kedudukannya terdapat sedimen yang
mengalasinya, umur formasi ini adalah kuarter bawah, seluruhnya merupakan kegiatan gunung api
daratan.
Pada daerah Candikusuma sampai Melaya terdapat banyak bukit rendah yang merupakan trumbu
terbentuk pada alas konglomerat dan diatasnya menimbun longgokan kedalam formasi Palasari, suatu
bentukan muda karena pengungkitan endapan disepanjang tepi laut.
7. Formasi batuan gunungapi kwarter
Kegiaan vulkanis pada kwarter menghasilkan terbentuknya sejumlah kerucut yang umumnya kini
telah tidak aktif lagi. Gunungapi tersebut menghasikan batuan tufa dan endapan lahar Buyan-Beratan dan
Batur, batuan gunungapi Gunung Batur, batuan gunungapi Gunung Agung, batuan gunungapi Batukaru,
lava dari gunung Pawon dan batuan gunungapi dari kerucut-kerucut subresen Gunung Pohen, Gunung

Sangiang dan gunung Lesung. Gunungapi-gunungapi tersebut dari keseluruhannya hanya dua yang kini
masih aktif yaitu Gunung Agung dan Gunung Batur di dalam Kaldera Batur.
-Keterdapatan endapan porfiri di daerah nusa tenggara
Endapan porfiri adalah endapan penghasil tembaga (Cu) terbesar, lebih dari 50%.Endapan porfiri
umumnya terbentuk pada jalur orogenik, contohnya pada lingkar Pasifik.
Kelompok tiga besar cebakan biji tembaga dunia dari jenis porfiri dengan kandungan emas tinggi
terdapat di Bingham di Amerika Serikat, OK-Tedi di Papua New Guinea, dan Grasberg di Indonesia.
Emas Grasberg sebagai unsur logam ikutan dari jenis mineralisasi yang sama merupakan cadangan
terbesar di dunia. Cebakan tembaga tipe porfiri di Indonesia terdapat di Sumatera, Jawa, Kalimantan,
Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.Tetapi hanya cebakan porfiri Grasberg dan Batu Hijau yang
dapat diusahakan secara ekonomis.
Beberapa cebakan berkadar rendah di antaranya belum layak untuk diusahakan apabila dikaitkan
dengan kondisi harga tembaga pada saat ini. Sementara setelah ditetapkannya batas kawasan Taman
Nasional Bogani Nani Wartabone; maka cebakan tembaga porfiri di Cabang Kiri, Cabang Kanan dan
Sungai Mak di Bone Bolango, Gorontalo tidak dapat diusahakan karena menjadi bagian dari kawasan
taman nasional tersebut.

Gambar 1.1 Tabel hasil asesmen sumber daya tembaga dan emas Indonesia, sumber USGS
7. Papua
Jawab :
-Sejarah tentang Erstberg dan Grasberg
Pada tanggal 16 Februari tahun 1632, KAPTEN JAN CARSTENSZ seorang kapten kapal maskapai
dagang kerajaan BELANDA ,VOC.melihat gunung berpuncak tertutup salju di daerah khatulistiwa. lalu
ia membuat sebuah catatan tentang Fenomena yang luar biasa itu.dan menjadikan catatan orang asing
pertama tentang Puncak Carstenz.Puncak Carstenz adalah nama untuk Puncak-puncak bersalju nama itu
diberikan atas penghargaan terhadap KAPTEN JAN CARSTENSZ. sejak saat itu banyaklah orang asing
yang berdatangan untuk melakukan ekspedisi ke wilayah papua. EKSPEDISI PERTAMA dilakukan pada
tahun 1936, yang dilakukan oleh tiga orang peneliti asal belanda yaitu Dr.A.H. Colijin, J.J. DOZY, dan H.

Wissel. kelompok ini adalah kelompok luar pertama yang mencapai gunung gletser dan menemukan
Ertsberg. ekspedisi ini juga dikenal dengan EKSPEDISI COLIJIN. Di tahun 1936 Geolog Dr.C.
Shouten menyimpulkan bahwa kawasan Carstenz mengandung tembaga dan emas.hal ini membuat nama
ertsberg (gunug bijih) dipakai untuk menyebut gunung tersebut. Pada Agustus 1959, Forbes Wilson yang
menjabat sebagai Direktur Freeport Sulphur melakukan pertemuan dengan Direktur pelaksana East
Borneo Company, Jan van Gruisen. Dalam pertemuan itu Gruisen bercerita jika dirinya menemukan
sebuah laporan penelitian atas Gunung Ersberg (Gunung Tembaga) di Irian Barat yang ditulis Jean Jaques
Dozy di tahun 1936.Uniknya, laporan itu sebenarnya sudah dianggap tidak berguna dan tersimpan selama
bertahun-tahun begitu saja di perpustakaan Belanda.Van Gruisen tertarik dengan laporan penelitian yang
sudah berdebu itu dan membacanya. Tahun 1960 pun menjadi ekspedisi kedua ke gunung ertsberg
papua .ekspedisi ini dilakukan oleh Forbes Wilson dan Del Flint.tujuan dalam ekspedisi ini adalah untuk
membuktikan kebenaran dari perkataan Jan van Gruisen dan Geolog Dr.C. Shouten bahwa dikawasan
ertsberg mengandung tembaga. Didalam ekspedisi ini wilson menemukan sesuatu yang nyaris
membuatnya

gila,

bahwa

disana

selain

dipenuhi

bijih

tembaga,

gunung

tersebut

juga

dipenuhi Emas dan Perak !!! menurut dia seharusnya gunung tersebut diberi nama GOLD MOUNTAIN,
bukan Gunung Tembaga.
-Evolusi tektonik pulau Papua
Tektonik Pulau Papua pada saat ini berada pada bagian tepi utara Lempeng Indo-Australia, yang
berkembang akibat adanya pertemuan antara Lempeng Australia yang bergerak ke utara dengan Lempeng
Pasifik yang bergerak ke barat. Dua lempeng utama ini mempunyai sejarah evolusi yang diidentifikasi
yang berkaitan erat dengan perkembangan sari proses magmatik dan pembentukan busur gunung api yang
berasoisasi dengan mineralisasi emas phorpir dan emas epithermal. Menurut Smith (1990), perkembangan
Tektonik Pulau Papua dapat dipaparkan sebagai berikut:

Gambar 1. Tektonik Papua dan PNG

Periode Oligosen sampai Pertengahan Miosen (35 5 JTL)


Pada bagian belakang busur Lempeng kontinental Australia terjadi pemekaran yang mengontrol proses
sedimentasi dari Kelompok Batugamping Papua Nugini selama Oligosen Awal Miosen dan pergerakan
lempeng ke arah utara berlangsung cepat dan menerus.

Gambar 1. Keadaan Pulau Papua Pada 30 ma Midle Oligocene


Pada bagian tepi utara Lempeng Samudera Solomon terjadi aktivitas penunjaman, membentuk
perkembangan Busur Melanesia pada bagian dasar kerak samudera selama periode 44 24 Juta Tahun
yang lalu (JTL).Kejadian ini seiring kedudukannya dengan komplek intrusi yang terjadi pada Oligosen
Awal Miosen seperti yang terjadi di Kepatusan Bacan, Komplek Porphir West Delta Kali Sute di Kepala
Burung Papua.
Selanjutnya pada Pertengahan Miosen terjadi pembentukan ophiolit pada bagian tepi selatan Lempeng
Samudera Solomon dan pada bagian utara dan Timur Laut Lempeng Indo-Australia.Kejadian ini
membentuk Sabuk Ofiolit Papua dan pada bagian kepala Burung Papua diekspresikan oleh adanya
Formasi Tamrau.
Pada Akhir Miosen terjadi aktivitas penunjaman pada Lempeng Samudera Solomon ke arah utara,
membentuk Busur Melanesia dan ke arah selatan masuk ke lempeng Indo-Australia membentuk busur
Kontinen Calc Alkali Moon Utawa dan busur Maramuni di Papua Nugini.
Periode Miosen Akhir Plistosen (15 2 JTL)
Mulai dari Miosen Tengah bagian tepi utara Lempeng Indo-Australia di Papua Nugini sangat
dipengerahui

oleh

karakteristik

penunjaman

dari

Lempeng

Solomon.Pelelehan

sebagian

ini

mengakibatkan pembentukan Busur Maramuni dan Moon-Utawa yang diperkirakan berusia 18 7 Juta
Tahun yang lalu. Busur Vulkanik Moon ini merupakan tempat terjadinya prospek emas sulfida ephitermal
dan logam dasar seperti di daerah Apha dan Unigolf, sedangkan Maramuni di utara, Lempeng Samudera
Solomon menunjam terus di bawah Busur Melanesia mengakibatkan adanya penciutan ukuran selama
Miosen Akhir.

Gambar 2. Keadaan Pulau Papua pada 15 ma Midle Miocene


Pada 10 juta tahun yang lalu, pergerakan lempeng Indo-Australia terus berlanjut dan pengrusakan pada
Lempeng Samudra Solomon terus berlangsung mengakibatkan tumbukan di perbatasan bagian utara
dengan Busur Melanesia. Busur tersebut terdiri dari gundukan tebal busur kepulauan Gunung Api dan
sedimen depan busur membentuk bagian Landasan Sayap Miosen seperti yang diekspresikan oleh
Gunung Api Mandi di Blok Tosem dan Gunung Api Batanta dan Blok Arfak.
Kemiringan tumbukan ini mengakibatkan kenampakan berbentuk sutur antara Busur Melanesia dan
bagian tepi utara Lempeng Australia yang diduduki oleh Busur Gunung Api Mandi dan Arfak terus
berlangsung hingga 10 juta tahun yang lalu dan merupakan akhir dan penunjaman dan perkembangan dari
busur Moon Utawa. Kenampakan seperti jahitan ditafsirkan dari bentukan tertutup dari barat ke timur
mulai dari Sorong, Koor, Ransiki, Yapen, dan Ramu Zona Patahan Markam.Pasca tumbukan gerakan
mengiri searah kemiringan ditafsirkan terjadi sepanjang Sorong, Yapen, Bintuni dan Zona Patahan
Aiduna, membentuk kerangka tektonik di daerah Kepala Burung.Hal ini diakibatkan oleh pergerakan
mencukur dari kepala tepi utara dari Lempeng Australia.

Gambar 3. Keadaan Pulau Papua Pada 5 ma Early Pliocene


Kejadian yang berasosiasi dengan tumbukan busur Melanesia ini menggambarkan bahwa pada Akhir
Miosen usia bagian barat lebih muda dibanding dengan bagian timur. Intensitas perubahan ke arah
kemiringan tumbukan semakin bertambah ke arah timur.
Akibat tumbukan tersebut memberikan perubahan yang sangat signifikan di bagian cekungan paparan
di bagian selatan dan mengarahkan mekanisme perkembangan Jalur Sesar Naik Papua.Zona Selatan
tumbukan yang berasosiasi dengan sesar serarah kemiringan konvergensi antara pergerakan ke utara
lempeng Indo-Australia dan pergerakan ke barat lempeng Pasifik mengakibatkan terjadinya resultante
NE-SW tekanan deformasi.Hal itu mengakibatkan pergerakan evolusi tektonik Papua cenderung ke arah
Utara Barat sampai sekarang.
Kejadian tektonik singkat yang penting adalah peristiwa pengangkatan yang diakibatkan oleh
tumbukan dari busur kepulauan Melanesia.Hal ini digambarkan oleh irisan stratigrafi di bagian mulai dari
batuan dasar yang ditutupi suatu sekuen dari bagian sisi utara Lempeng Indo-Australia yang membentuk
Jalur Sesar Naik Papua.Bagian tepi utara dari jalur sesar naik ini dibatasi oleh batuan metamorf dan teras
ophilite yang menandai kejadian pada Miosen Awal.
Perbatasan bagian selatan dari sesar naik ini ditandai oleh adanya batuan dasar Precambrian yang
terpotong di sepanjang Jalur Sesar Naik. Jejak mineral apatit memberikan gambaran bahwa terjadi
peristiwa pengangkatan dan peruntuhan secara cepat pada 4 3,5 juta tahun yang lalu (Weiland, 1993).
Selama Pliosen (7 1 juta tahun yang lalu) Jalur lipatan papua dipengaruhi oleh tipe magma I, yaitu
suatu tipe magma yang kaya akan komposisi potasium kalk alkali yang menjadi sumber mineralisasi CuAu yang bernilai ekonomi di Ersberg dan Ok Tedi.
Selama pliosen (3,5 2,5 JTL) intrusi pada zona tektonik dispersi di kepala burung terjadi pada bagian
pemekaran sepanjang batas graben. Batas graben ini terbentuk sebagai respon dari peningkatan beban

tektonik di bagian tepi utara lempeng Indo-Australia yang diakibatkan oleh adanya pelenturan dan
pengangkatan dari bagian depan cekungan sedimen yang menutupi landasan dari Blok Kemum. Menurut
Smith (1990), sebagai akibat benturan lempeng Indo-Australia dan Pasifik adalah terjadinya penerobosan
batuan beku dengan komposisi sedang kedalam batuan sedimen diatasnya yang sebelumnya telah
mengalami patahan dan perlipatan.

Gambar 4. Keadaan Pulau Papua Pada Zaman Recen (Sekarang)


Hasil penerobosan itu selanjutnya mengubah batuan sedimen dan mineralisasi dengan tembaga yang
berasosiasi dengan emas dan perak.
Tempat tempat konsentrasi cebakan logam yang berkadar tinggi diperkirakan terdapat pada lajur
Pegunungan Tengah Papua mulai dari komplek Tembagapura (Erstberg, Grasberg , DOM, Mata Kucing,
dll), Setakwa, Mamoa, Wabu, Komopa Dawagu, Mogo Mogo Obano, Katehawa, Haiura, Kemabu,
Magoda, Degedai, Gokodimi, Selatan Dabera, Tiom, Soba-Tagma, Kupai, Etna Paririm Ilaga. Sementara
di daerah Kepala Burung terdapat di Aisijur dan Kali Sute. Sementara itu dengan adanya busur kepulauan
gunungapi (Awewa Volkanik Group) yang terdiri dari : Waigeo Island (F.Rumai) Batanta Island
(F.Batanta), Utara Kepala Burung (Mandi & Arfak Volc), Yapen Island (Yapen Volc), Wayland Overhrust
(Topo Volc), Memungkinkan terdapatnya logam, emas dalam bentuk nugget.
-Pola pola umum struktur geologi di daerah papua
Papua merupakan salah satu pulau terbesar yang termasuk kedalam kepulauan Indonesia Bagian
Timur.Papua memiliki keadaan atau struktur geologi yang sangat kompleks termasuk Irian Jaya
didalamnya. Konfigurasi Tektonik Pulau Papua pada saat ini berada pada bagian tepi utara Lempeng
Australia, yang berkembang akibat adanya pertemuan antara Lempeng Australia yang bergerak ke utara
dengan Lempeng Pasifik yang bergerak ke barat.

Fisiografi Papua secara umum dapat dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu bagian Kepala Burung,
Leher dan Badan.Bagian utara Kepala Burung merupakan pegunungan dengan relief kasar, terjal sampai
sangat terjal.Batuan yang tersusun berupa batuan produk vulkanisme, batuan ubahan, dan batuan intrusif
asam sampai intermedier.Morfologi ini berangsur berubah ke arah baratdaya berupa dataran rendah
aluvial, rawa dan plateau batugamping.
Bagian Badan didominasi oleh pegunungan tengah, dataran pegunungan tinggi dengan lereng di utara
dan di selatan berupa dataran dan rawa pada permukaan dekat laut. Dataran di utara terdiri dari cekungan
luar antar bukit dikenal sebagai dataran danau yang dibatasi di bagian utaranya oleh medan kasar dengan
relief rendah sampai sedang.
Pulau New Guinea (Papua) telah diakui sebagai hasil subduksi antara Lempeng Australia dengan
Lempeng Pasifik. Menurut Pigram dan Davies (1987), proses konvergen dan deformasi kedua lempeng
ini dimulai sejak Eosen dan terus beralangsung hingga sekarang.
Berdasarkan proses tersebut kondisi geologi dan fisiografi Pulau New Guinea dapat dibagi ke dalam 3
provinsi tektonik yaitu :
1.

Dataran Bagian Selatan (Sauthern Plains)

2.

New Guinea Mobile Belt (NGMB)

3.

Bagian Tepi Lempeng Pasifik (Sabuk Ophiolite Papua )

Kenampakan fisiografi dari Papua ini merupakan ekspresi dari keadaan geologi dan tektonik yang
pernah terjadi di tempat tersebut. Lempeng Australia yang berada di bawah laut Arafura dan meluas ke
arah utara merupakan dasar bagian selatan dari Pegunungan Tengah Papua, batuan dasarnya tersusun oleh
batuan sedimen paparan berumur Paleozoik sampai Kuarter Tengah (Visser dan Hermes, 1962; Dow dan
Sukamto, 1984)
Provinsi Tektonik Dataran selatan terdiri dari dataran dan rawa-rawa didasari oleh batuan sedimen
klastis yang mempunyai ketebalan lebih dari 2 km berumur Eosen sampai MiosenTengah ditutupi oleh
batugamping berumur Pliosen-Plistosen (Dow dan Sukamto, 1984).Lebar dataran ini membentang
sepanjang 300 km.
Masuk lebih ke dalam lagi dijumpai adanya formasi-formasi batuan yang terlipat kuat dan mengalami
persesaran intensif yang dikenal dengan sebutan New Gunea Mobile Belt (Dow, 1977). Kerak Kontinen
Lempeng Australia yang ditutupi oleh sedimen paparan yang berada pada bagian ini telah mengalami
pengangkatan dan terdeformasi selebar 100 km.
Mendala Struktur Daerah Irian Jaya

a. Irian jaya bagian timur


1) Jalur Sesar Naik New Guinea (JSNNG)(JSNNG)
Jalur Sesar Naik New Guinea merupakan jalur lasak irian (jalasir) yang sangat luas, terutama di daerah
tengah-selatan badan burung.Jalur ini melintasi seluruh zona yang ada di daerah sebelah timur New
Guinea yang menerus kearah barat dan dikenal sebagai jalur sesar naik pegunungan tengah (JSNPT).Zona
JSNNG-JSNPT merupakan zona interaksi antara lempeng Australia dan pasifik. Lebih dari setengah
bagian selatan New guinea ini dialasi oleh batuan yang tak terdeformasikan dari kerak benua. Zone
JSNPT, di utara dibatasi oleh sesar yapen, sesar sungkup mamberamo. Batas tepi barat oleh sesar benawi
torricelli dan di selatan oleh sesar naik foreland. Sesar terakhir yang membatasi JSSNG ini diduga aktif
sebelum orogen melanesia.
2) Jalur sesar naik pegunungan tengah (JSNPT)
JSNPT merupakan jalur sesar sungkup yang berarah timur-barat dengan panjang 100 km, menempati
daerah pegunungan tengah Irian Jaya.Batuannnya dicirikan oleh kerak benua yang terdeformasikan
sangat kuat. Sesar sungkup telah menyeret batuan alas yang berumur perm, batuan penutup berumur
mesozoikum dan batuan sedimen laut dangkal yang berumur tersier awal ke arah selatan. Di beberapa
tempat kelompok batuan ini terlipat kuat. Satuan litologi yang paling dominan di JSNPT ialah batu
gamping new guinea dengan ketebalan mencapai 2000 m.
Sesar sungkup JSNPT dihasilkan oleh gaya pemampatan yang sangat intensif dan kuat dengan
komponen utama berasal dari arah utara. Gaya ini juga menghasilkan beberapa jenis antiklin dengan
kemiringan curam bahkan sampai mengalami pembalikan (overtuning). Proses ini juga menghasilkan
sesar balik yang bersudut lebar (reserve fault). Penebalan batuan kerak yang diduga terbentuk pada awal
pliosen ini memodifikasi bentuk daerah JSNPT.Periode ini juga menandai kerak yang bergerak ke arah
utara.membentuk sesar sungkup. Mamberamo (the mamberamo thrust belt) dan mengawali alih tempat
gautier (the gautier offset).
3) Jalur sesar naik Mamberamo
Jalur sesar ini memanjang 100 km ke arah selatan dan terdiri dari sesar anak dan sesar geser (shear)
sehingga menyesarkan batuan plioesten formasi mamberamo dan batuan kerak pasifik yang ada di
bawahnya. (gb. 3).William, drr (1984) mengenali daerah luas dengan pola struktur tak teratur.Di
sepanjang jalur sesar sungkup dijumpai intrusi poton-poton batuan serpih (shale diapirs) dengan radius
seluas 50 km, hal ini menandakan zona lemah (sesar).Poton-poton lumpur ini biasanya mempunyai garis
tengah beberapa kilometer, umumnya terdiri dari lempung terkersikkan dan komponen batuan tak
terpilahkan dengan besar ukuran fragmen beberapa milimeter hingga ratusan meter.Sekarang poton
lumpur ini masih aktif dan membentuk teras-teras sungai.
b. Irian jaya barat

1. Zona sesar sorong


Batas lempeng pasifik yang terdapat di Irian Jaya barat berupa sesar mengiri yang dikenal dengan
sistem sesar Sorong-Yapen (gambar). Zona sesar ini lebarnya 15 km dengan pergeseran diperkirakan
mencapai 500 km (dow, drr.,1985). Sesar ini dicirikan oleh potongan-potongan sesar yang tidak teratur,
dan dijumpai adanya bongkahan beberapa jenis litologi yang setempat dikenali sebagai batuan
bancuh.Zone sesar ini di sebelah selatan dibatasi oleh kerak kontinen tinggian kemum dan sedimen
cekungan selawati yang juga menindih kerak di bagian barat.Di utara sesar geser ini ditutupi oleh laut,
tetapi di pantai utara menunjukkan harga anomali positif tinggi.
Hal ini menandakan bahwa dasar laut ini dibentuk oleh batuan kerak samudera.lima kilometer kearah
barat daya batuan kerak pasifik tersingkap di pulau Batanta, terdiri dari lava bawah laut dan batuan
gunung api busur kepulauan.
Perederan beberapa ratus kilometer dari zona sesar Sorong-Yapen pertama kali dikenal oleh Visser
Hermes (1962).Adalah sesar mengiri dan berlangsung sejak Miosen Tengah. Kejadian ini didukung oleh
bergesernya anggota batu serpih formasi Tamrau berumur Jura-Kapur yang telah terseret sejauh 260 km
dari tempat semula yang ada disebelah timurnya (lihat pergeseran sesar Wandamen dibagian Timur) dan
hadirnya blok batuan vulkanik alih tempat (allochtonous) yang berumur Miosen Tengah sejauh 140 km di
daerah batas barat laut Pulau Salawati (Visser & Hermes, 1962)
2. Zona Sesar Wandamen
Sesar Wandamen (Dow,1984) merupakan kelanjutan dari belokan Sesar Ransiki ke Utara dan
membentuk batas tepi timur laut daerah kepala burung memanjang ke Barat daya pantai sasera, dan dari
zona kompleks sesar yang sajajar dengan leher burung. Geologi daerah Zona Sesar Wandamen terdiri dari
batuan alas berumur Paleozoikum Awal, batuan penutup paparan dan batuan sediment yang berasal dari
lereng benua.Kelompok ini dipisahkan oleh zona dislokasi dengan lebar sampai ratusan kilometer, terdiri
dari sesar-sesar sangat curam dan zona perlipatan isoklinal.
Perubahan zona arah sesar Wandamen dari Tenggara ke Timur di tandai bergabungnya sesar-sesar
tersebut dengan sesar Sungkup Weyland.Timbulnya alih tempat (allochtonous) yang tidak luas tersusun
oleh batuan sedimen mezozoic.Diatas satuan ini diendapkan kelompok batu gamping New Guenia.Jalur
sesar Wandamen dan Sesar Sungkup lainya di zona ini merupakan bagian dari barat laut JSNPT.
3. Jalur Lipatan Lengguru (Lengguru Fold Belt)
Jalur Lipatan lengguru (JLL) adalah merupakan daerah bertopografi relative rendah jarang yang
mencapai ketinggian 1000 m di atas muka laut.Daerah ini dicirikan oleh pegunungan dengan jurus yang
memenjang hingga mencapai 50 km, batuanya tersusun oleh batu gamping New Guenia yang resistan.
Jalur lipatan ini menempati daerah segitiga leher burung dengan panjang 3000 km dan lebar 100 km
dibagian paling selatan dan lebar 30 km dibagian utara. Termasuk di daerah ini adalah batuan paparan

sediment klastik Mesozoikum yang secara selaras ditindih oleh batu gamping New Guenia (Kapur awal
miosen).Batuan penutup ini telah mengalami penutupan dan tersesar kuat.Pengerutan atau lebih dikenal
dengan thin skin deformation berarah barat laut dan hampir searah dengan posisi leher burung. Intensitas
perlipatan tersebut cenderung melemah kea rah utara zona perlipatan dan meningkat kearah timur laut
yang berbatasan dengan zona
4. Sesar Wandemen (Dow, drr.,1984)
JLL adalah thin slab kerak benua yang telah tersungkup-sungkup kan kearah barat daya diatas kerak
benua Kepala Burung (Subduksi menyusut = oblique subduction). Jalur ini telah mengalami rotasi searah
jarum jam (antara 75-80). Porsi bagian tengah dari JLL ini terlipat kuat sehingga menimbulkan
pengerutan. Dow drr (1985) menyarankan pengkerutan kerak (crustal shortening) ini sebesar 40-60 km.
diperkirakan proses pemendekan tersebut masih berlangsung hingga sekarang. Jalur JLL di sebelah timur
dibatasi oleh Sesar Wandamen di selatan oleh sesar Tarera Aiduna dan dibagian barat oleh sesaar aguni.
Hal ini dapat menutup kemungkinan bahwa jalur JLL merupakan perangkap hidrokarbon jenis struktur
yang melibatkan batuan alas akibat gaya berat memampat.