Anda di halaman 1dari 12

Karakteristik Perawat yang Dibutuhkan Masyarakat sebagai Pemberi

Pelayanan Keperawatan pada Klien Stroke dalam Menyikapi


Tuntutan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA):
Literature Review
Herry Setiawan1
Email: setiawanherry4444477@gmail.com
1

Mahasiswa Program Studi Magister Keperawatan, Jurusan Keperawatan,


Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro Semarang
Abstrak

Latar Belakang: Stroke merupakan penyebab utama mortalitas dan morbiditas di negara
maju dan berkembang. Di negara ASEAN, stroke menjadi penyebab utama keempat kematian
sejak tahun 1992, nomor satu di Indonesia. Klien stroke membutuhkan fasilitas perawatan
jangka panjang di rumah sakit, pusat rehabilitasi dan di rumah. Mereka bisa mendapatkan
kembali kualitas hidup dengan perawatan jangka panjang yang tepat dan dukungan dari
keluarga atau pengasuh. Pengasuh membutuhkan dukungan dan motivasi dari perawat dalam
pelaksanaannya. Memasuki era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) menjadikan persaingan
perawat Indonesia dan perawat asing semakin nyata. Keadaan ini memberikan kesempatan
klien dan keluarga memilih dirawat oleh profesional keperawatan.
Tujuan: mengidentifikasi karakteristik perawat yang dibutuhkan masyarakat sebagai pemberi
pelayanan keperawatan pada klien stroke.
Metodologi: Literature review dilakukan dengan mengumpulkan hasil publikasi tahun 20012014 dengan penelusuran EBSCO, ProQuest, PubMed dan Google search. Penelusuran
dengan metoda boleon, full teks, pdf, dengan kata kunci stroke patients and nurse and
caregiver. Metodologi yang digunakan dalam publikasi dengan metoda kuantitatif, nonRCTdan RCT dilakukan oleh perawat kepada keluarga klien dengan Stroke. Selanjutnya data
di-review dengan penggunakan CASP tools dan diekstraksi kemudian dikelompokkan untuk
dibahas dan disimpulkan.
Hasil: Penelusuran mendapat 4 publikasi ilmiah dengan kualitas baik yang menunjukan
bahwa pengasuh klien stroke membutuhkan keberadaan perawat dalam mendengarkan,
mendukung, memotivasi, menginformasikan hal terkait pelaksanaan perawatan.
Diskusi: Perawat Indonesia yang mempunyai karakteristik berbeda dengan perawat asing
yang terasosiasi dalam Points-of-Difference (POD) dan Points-of-Parity (POP) membuat
masyarakat memilihnya. Kehadiran perawat dalam pelaksanaan perawatan meningkatkan
kesehatan psikologis pasangan, menurunkan depresi, meningkatkan kualitas hidup dan
menurunkan ketegangan pengasuh. Kehadiran perawat yang mempunyai kemampuan sesuai
harapan klien dan keluarga akan menjadi pilihan diantara perawat asing yang berdatangan.
Kesimpulan: Perawat yang memiliki karakteristik yang diinginkan klien akan membuat
masyarakat memilih perawat Indonesia diantara himpitan perawat asing yang berdatangan
dalam perawatan klien Stroke di era MEA.
Kata Kunci: Stroke, Karakteristik Perawat, Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)

A. Latar Belakang

Memasuki era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015, harapan akan


pertumbuhan ekonomi yang semakin membaik, daya beli masyarakat yang
semakin tinggi, sebenarnya mempunyai dampak yang menyita perhatian.
Perubahan pola penyakit dari penyakit infeksi menjadi penyakit degeneratif
semakin meningkat. Cerebral Vascular Accident (CVA) atau lebih dikenal dengan
Stroke, salah satu contoh penyakit degeneratif yang merupakan penyebab utama
mortalitas dan morbiditas di negara maju dan berkembang (Murray & Lopez, 1997). Di
Amerika Serikat, stroke adalah penyebab utama ketiga kematian (Hinkle & Guanci,
2007). Di negara ASEAN, data kematian lebih bervariasi, stroke telah menjadi penyebab
utama ke-empat kematian sejak tahun 1992; nomor satu di Indonesia
(Venketasubramanian, 1998). Stroke dapat dicegah dan diobati sehingga penderita stroke
dapat memperoleh kembali kualitas hidup mereka dengan perawatan jangka panjang yang
tepat dan dukungan dari keluarga atau pengasuh (Depkes RI, 2011).
Penderita stroke membutuhkan fasilitas perawatan jangka panjang di rumah sakit,
pusat rehabilitasi dan di rumah (Mohn-Brown, 2007). Manajemen stroke diperlukan
untuk mencegah komplikasi dan kematian akibat stroke dalam perawatan jangka panjang.
Klien yang mengalami stroke dapat sepenuhnya pulih atau mungkin memiliki beberapa
efek residual dari penyakit mereka. Klien stroke memiliki risiko tinggi komplikasi;
komplikasi ini hambatan potensi untuk pemulihan yang optimal (Kuptniratsaikul, 2008).
Peran perawat sebagai tenaga kesehatan sangat diperlukan dalam memfasilitasi klien dan
keluarga dalam masa penyembuhan pascastroke. Keluarga dan pengasuh menjadi
pengambil keputusan perawatan klien stroke di fasilitas perawatan jangka panjang
(Mohn-Brown, 2007).
Pengasuh adalah orang yang harus peduli karena kekerabatan dekat mereka atau
ikatan emosional dengan penerima pelayanan (Schofield et al, 1998). Persyaratan terusmenerus dan perawatan jangka panjang klien stroke dengan sumber daya yang terbatas
adalah kenyataan pahit bagi banyak pengasuh (Dorsey & Vaca, 1998). Tim kesehatan
mengidentifikasi caregiver klien stroke sebagai anggota kunci dari tim. Meskipun
keterlibatan seara aktif dari caregiver dalam perencanaan dan pengambilan keputusan
dalam perawatan akut sering hilang (Maclsaac et al, 2011). Caregiver akan membahas
dasar-dasar mengelola kegiatan hidup sehari-hari dan strategi pemecahan masalah. Jadi,
caregiver perlu belajar tetang peran mereka dengan jelas (Thompson et al, 2004).
Peran caregiver adalah membantu klien stroke tetang cara makan, melakukan
aktivitas (kegiatan hidup sehari-hari) dan rehabilitasi (Dewit, 2009). Fase perawatan akut
dari manajemen stroke adalah singkat, dan caregiver membutuhkan bantuan dalam
membuat keputusan tentang tahap berikutnya tentang perawatan untuk klien stroke
(Phipps et al, 2003). Caregiver juga memiliki peran penting dalam fase ketiga dari stroke
yaitu perencanaan pulang dari rumah sakit, yang akan membantu klien dan perawat
menyesuaikan diri dengan cara hidup mereka yang baru (Dewit, 2009). Jadi, perawat
perlu mengidentifikasi caregiver sebagai penerima peduli dan mendampingi klien selama
di rumah sakit dan di rumah; sehingga mendukung mereka saat mereka menyesuaikan
diri dengan peran mereka nantinya (Thompson et al, 2004).
Menurut UU No.38 Tahun 2014 tentang Keperawatan, pelayanan Keperawatan
adalah suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari
pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat Keperawatan ditujukan kepada
individu, keluarga, kelompok, atau masyarakat, baik sehat maupun sakit. Akhir tahun
2015 akan diberlakukan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), perawat asing akan bebas

masuk ke Indonesia. Di Era globalisasi sekarang ini mengharuskan tenaga kesehatan


berbenah diri. Peluang dan tantangan yang menghadang harus diterobos baik itu dengan
peningkatan daya jual, mutu dan profesionalisme tenaga kesehatan Indonesia.
Era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang telah berada dipelupuk mata dan
sudah menjadi keharusan bagi masyarakat Indonesia guna menyiapkan diri untuk
menghadapinya. Hal ini sangat mungkin membawa Indonesia pada kondisi terpuruk jika
tidak ada kesiapan yang matang pada segala bidang (Beritajatim, 2015). Kesiapan dalam
hal ini juga dilakukan oleh perawat Indonesia. Kesiapan bukan hanya untuk menerima
kedatangan perawat asing yang mencari nafkah di Negara tercinta. Namun, kesiapan
dalam mengirim perawat berkualitas dan profesional ke luar negeri.
Amanat UU 38 tahun 2014 pasal 2 poin (d) menekankan bahwa dalam pelaksanaan
pemberian praktik keperawatan seorang perawat harus memperhatikan etka dan
profesionalitas. Disebutkan juga dalam Kerangka Kompetensi Perawat Indonesia yaitu
praktik keperawatan berbentuk praktik profesional, etik, legal dan peka budaya. Semua
ini akan mendukung pencapaian perawat Indonesia dalam menghadapi MEA dengan
menganut karakteristik khusus dan nilai marketing yang menjadikan perawat Indonesia
dipilih oleh masyarakat selaku klien. Nilai ini juga yang membuat perawat Indonesia
dipilih oleh klien sebagai pemberi pelayanan keperawatan pada klien Stroke dalam
menyikapi tuntutan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengidentifikasi karakteristik perawat sebagai pemberi pelayanan keperawatan
pada klien Stroke dalam menyikapi tuntutan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui peran perawat dalam pemberi pelayanan keperawatan pada klien stroke
b. Mengetahui pentingnya nilai marketing perawat sebagai pemberi pelayanan dalam
menyikapi tuntutan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)
c. Mengetahui pentingnya pembentukan karakteristik perawat sebagai pemberi
pelayanan keperawatan pada klien Stroke dalam menyikapi tuntutan Masyarakat
Ekonomi Asean (MEA).
C. Metode
1. Kriretia Inklusi dan Eksklusi
Kriteria inklusi yaitu artikel dengan metoda penelitian metoda kuantitatif, nonRCTdan RCT dilakukan oleh perawat kepada keluarga klien Stroke yang dilakukan
tahun 2011-2014 dengan menggunakan bahasa inggris dan full teks. Pemilihan sampel
pada artikel adalah pemberian pelayanan perawat kepada pasien dan keluarga pasien
dengan penyakit Stroke.
2. Strategi Pencarian Literatur
Literature review dilakukan dengan mengumpulkan hasil publikasi pada tahun 20012014 dengan penelusuran EBSCO, ProQuest, PubMed dan Google search.
Penelusuran dengan metoda boleon, full teks, pdf, medeline dengan kata kunci stroke
patients and nurse and caregiver.
Diagram Pencarian Literatur:

Identifikasi

EBSCO

Stroke patients, n= 117.234


Stroke patients and nurse, n= 541
Stroke patients and nurse and caregiver, n=25

Pro-Quest

Stroke patients, n= 87.443


Stroke patients and nurse, n= 321
Stroke patients and nurse and caregiver, n=11

PubMed

Stroke patients, n= 7.211


Stroke patients and nurse, n= 55
Stroke patients and nurse and caregiver, n=6

Google search

Skrening

Kelayakan
aya

Stroke patients, n= 152.000.000


Stroke patients and nurse, n= 43.400.000
Stroke patients and nurse and caregiver, n=10.800.000

PDF
Full Teks
Bahasa Inggris
Free Download
Tahun 2001-2014
Sampel adalah perawat dan
klien (pasien dan keluarga)
yang mengalami penyakit
Stroke
Perawatan dilakukan oleh
keluarga/pasangan dan perawat

EBSCO
Pub Med
n= 5
Pro-Quest
n= 3
Google Search

n= 14

n = 15

EBSCO

n= 4

Pub Med

n= 2

Pro-Quest n= 1
Google Search n = 3

Perawatan lanjutan pasca


stroke

Analisis

Pemberi pelayanan
keperawatan pada klien
Stroke

Literature Review, n=4

EBSCO n= 4
Pub Med
1

n=

Pro-Quest
1

n=

Google Search n= 2

3. Ekstraksi Data dan Motede Pengkajian Kualitas Studi


Data dari artikel direview dengan penggunakan CASP tools dan diekstraksi kemudian
dikelompokkan untuk dilakukan triangulasi untuk dilakukan pembahasan dan
disimpulkan sehingga dikeahui kualitas jurnal. Penentuan kualitas jurnal dengan
menggunakan prosentase hasil ekstraksi yaitu jurnal dikategorikan menjadi kualitas
baik, sedang dan kulaitas tidak baik. Jurnal dikategorikan baik jika propsentase 80%100%, cukup jika 65%-79% dan tidak baik jika prosentase <64%.
4. Analisa Data
Data dikumpulkan berdasarkan tujuan, sampel dan hasil yang sebanding kemudian
dilakukan analisis (table 1) sehingga dapat pula dilihat heterogenitas dari hasil
penelitian yang ditemukan dalam studi (publikasi ilmiah). Jika dalam temuan jurnal
tidak sesuai dengan kirteria baik kriteria inklusi maupun kriteria eksklusi ataupun hasil

tidak sesuai yang telah ditetapkan maka jurnal tersebut tidak dilakukan sistematik
review (dihapus). Literature review ini bertujuan untuk memperkuat hasil dari
studi/penelitian tersebut.
D. Hasil
Dari ekstraksi data dapat dilakukan beberapa sintesa guna memberikan gambaran
mengenai keadaan klien, keluarga, pengasuh pada penyakit Stroke. Penelitian Han Boter,
et al (2004), dari 173 pasien, 166 (96%) menyebutkan total 1.419 masalah. Masalah fisik
(92%; 153/166), masalah emosional (60%; 99/166). Proporsi pasien dengan masalah
menurun dari 94% (142/151) di kontak pertama, 74% (108/145) di kontak terakhir. Dari
148 penjaga, 118 (80%) dihubungi dan 84 disebutkan 266 masalah 'beban psikososial'
paling sering disebutkan (45%; 53/118). Proporsi wali dengan masalah adalah 56%
(54/96) pada kontak pertama dan 37% (26/70) pada kontak terakhir. Dari 864 intervensi
untuk pasien, perawatan stroke yang paling sering diterapkan 'mendengarkan mendukung'
(55%; 471/864) dan 'meyakinkan atau mendorong' (12%; 107/864), dan dari 258
intervensi untuk penjaga 45% (115/258 ) adalah 'mendengarkan mendukung' dan 17%
(43/258) 'menginformasikan'. Penelitian Visser-Meily, et al (2005), kepuasan rata-rata
adalah 7, dan 44% dari semua pasangan 8 (sangat puas) tapi 23% tidak puas.
Karakteristik pasangan dan pasien' dan skor kepuasan tidak terkait. Karakteristik
dukungan jumlah hari pertemuan (p 0,02), partisipasi dalam kelompok pengasuh (p
0,006) dan dukungan dari anggota tim (p 0,000) terkait dengan kepuasan. Tidak ada
perbedaan dalam skor kepuasan pasangan ditemukan antara pusat rehabilitasi yang
berpartisipasi. Hanya 39% dari pasangan berpartisipasi dalam kelompok pengasuh.
Alasan penting untuk tidak berpartisipasi dalam kelompok tersebut tidak menyadari
kesempatan untuk mengambil bagian dalam kelompok (49%). Pasangan berpartisipasi
dalam kelompok menunjukkan gejala depresi lebih dan memiliki lebih mitra sangat cacat.
Dukungan Pengasuh terutama diberikan oleh perawat dan pekerja sosial. Satu dari lima
pasangan menunjukkan tidak terindikasi setelah didukung oleh tim rehabilitasi.
Penelitian R. Oupra, el at (2010), sebanyak 140 penderita stroke dan
pengasuh; 70 pasien/pasangan pengasuh di masing-masing kelompok.
Pengasuh pasien dirawat di rumah sakit intervensi menyusul stroke akut
sebagai penerima intervensi, sementara pengasuh pasien dirawat di rumah
sakit pembanding menerima perawatan biasa di rumah sakit. Keluarga
pengasuh pada kelompok intervensi memiliki kualitas hidup lebih baik secara
signifikan daripada kelompok pembanding (GHQ - 28 di debit t=2,82,
d.f.=138, P=0,006; dan pada 3 bulan t=6.80, d.f.=135, P < 0,001) dan
mereka juga melaporkan berkurang ketegangan. Indeks pada t= 6.73 debit,
d.f.=138, P < 0,001; dan pada 3 bulan t =7.67, d.f.=135, P < 0,001).
Penelitian ini menunjukkan bahwa memberikan pendidikan dan dukungan
kepada keluarga pengasuh penderita stroke dapat mengurangi ketegangan
pengasuh dan meningkatkan kualitas hidup mereka. Penelitian FranzenDahlin, et al (2008), tidak ada perbedaan signifikan yang ditemukan antara
kelompok intervensi dan kontrol mengenai kesehatan psikologis secara
keseluruhan. Namun, subanalysis mengungkapkan bahwa mereka yang
berpartisipasi lebih sering dalam pertemuan kelompok (lima atau enam kali)
memiliki kesehatan psikologis signifikan lebih kuat (P50.05). Pengetahuan
tentang stroke meningkat dari waktu ke waktu pada kedua kelompok, tetapi
peserta dalam kelompok intervensi belajar lebih (P 0,041).

E. Diskusi
Pada pelaksanaannya perawat memegang peranan penting karena wajib memilih
pengasuh terbaik untuk perawatan lanjutan. Kebutuhan informasi terkait perawatan
lanjutan, motivasi, dorongan dan dukungan untuk merawat klien stroke menjadikan
penguat bagi mereka yang bertindak sebagai pengasuh atau caregiver. Caregiver adalah
orang yang memiliki kewajiban untuk peduli karena adanya hubungan kekerabatan dekat
atau ikatan emosional dengan penerima pelayanan (Schofield et al., 1998). Caregiver
utama biasanya adalah anggota keluarga, teman yang rela mengorbankan waktu, tenaga
dan dalam beberapa kasus, seluruh diri mereka cenderung untuk kebutuhan penerima
pelayanan (Robcares, 2013). Keluarga atau caregiver akan menjadi care-taker untuk
penderita stroke dalam perawatan jangka panjang (Burke et al., 2007).
Peran caregiver adalah menyediakan kebutuhan dasar pangan, sandang, kebersihan
dan tempat tinggal. Mereka juga harus tahu bagaimana untuk memenuhi kebutuhan
emosional seseorang tanpa menciptakan ketergantungan. Terlebih lagi, mereka tidak
boleh melupakan kebutuhan mereka sendiri dan memahami bahwa untuk merawat orang
yang dicintai, mereka juga harus merawat dirinya sendiri (Robcares, 2013). Di Indonesia,
istilah "caregiver" masih langka di masyarakat karena profesi ini masih relatif jarang.
Istilah lain caregiver adalah "pekerja perawatan", "pengasuh lanjut usia", atau di Jepang
disebut "kaigofukushishi". Selain itu, masyarakat Indonesia memiliki kecenderungan
untuk menjaga keluarga mereka. Dengan demikian caregiver di Indonesia adalah
pengasuh keluarga (primary caregiver).
Tim kesehatan mengidentifikasi caregiver pasien stroke sebagai salah satu kunci
dari tim kesehatan. Namun, terlibatnya caregiver secara aktif dalam perencanaan dan
pengambilan keputusan dalam perawatan akut sering tidak ada (Maclsaac et al., 2011).
Caregiver membahas dasar-dasar mengelola aktivitas sehari-hari dan strategi pemecahan
masalah. Jadi, caregiver juga perlu belajar tentang peran mereka secara koheren
(Thompson et al., 2004). Peran caregiver adalah membantu penderita stroke dalam hal
makan, melakukan ADL dan rehabilitasi (Dewit, 2009). Caregiver juga berkontribusi
terhadap kebutuhan informasi dan psikologi (Dorsey & Vaca, 1998).
Pada pelaksanaan pelayanan keperawatan klien dengan Stroke, mungkinkah
perawat Indonesia bisa bersaing dengan Negara Asia Tenggara lainnya? inilah yang akan
menjadi tugas besar untuk setiap individu perawat Indonesia dan organisasi profesi
tentunya akan mendukung perawat Indonesia dalam membenahi kompetensi, keahlian
dan profesionalisme dalam pelaksanaan keperawatan. Perawat profesional adalah perawat
yang dapat memberikan pelayanan keperawatan dengan menerapkan etika profesional
keperawatan serta memiliki kemampuan secara keilmuan. Jadi tidak hanya pintar secara
keilmuan tetapi juga memiliki prilaku yang dapat dipertanggung jawabkan dan naluri
pengembangan secara mandiri maupun bekerjasama.
Menyikapi persaingan era pasar bebas bukan hanya perawat asing yang akan
berdatangan. Namun, klien asing juga akan banyak dirawat di Indonesia. Kemampuan
berbahasa asing akan memudahkan komunikasi perawat klien. Kaitannya dengan klien
Stroke jelas karena kejadian Stroke baik di dalam maupun di luar negeri sama besarnya.
Di Amerika Serikat, stroke adalah penyebab utama ketiga kematian (Hinkle & Guanci,
2007). Di negara ASEAN, data kematian lebih bervariasi, stroke telah menjadi penyebab
utama ke-empat kematian sejak tahun 1992. Era MEA 2015, antisipasi arus tenaga kerja
asing tidak hanya dikelola oleh negara, setiap Individu dan profesi masyarakat Indonesia
pun harus mampu melakukan antisipasi arus tersebut. Hal utama yang dapat dilakukan
oleh individu adalah dengan memiliki kompetensi dan kemampuan yang dapat

menandingi tenaga kerja asing, hal yang dapat menandingi kemampuan tenaga asing
adalah dengan memiliki etos kerja profesional yang tentunya tidak akan mudah ditiru
oleh tenaga asing. Persaingan dalam hal harga dan kualitas akan mudah ditiru oleh
kompetitor tetapi persaingan dalam hal etika, perilaku tentunya bukanlah hal mudah
untuk ditiru khususnya perilaku yang berasal dari hati nurani perawat Indonesia.
Perawat Indonesia haruslah mencari arti pentingnya positioning yang otentik dalam
pelayanan keperawatan. Hal ini akan menjadi Point of Difference (POD) yang sangat
efektif. Positioning seperti ini tentunya perlu didukung oleh banyak hal yang bersumber
dari karakter dan perilaku perawat itu sendiri. Semakin cerdasnya masyarakat dan adanya
ledakan informasi, maka strategi positioning yang mengaitkan dengan authenticity
sungguh efektif untuk menciptakan citra perawat Indonesia yang akan dipilih oleh
masyarakat selaku klien yang memerlukan pelayanan keperawatan. Perawat secara
personal dan tim perawatan memiliki beberapa POD yang sangat kuat dan menancap
dalam benak sebagian besar masyarakat Indonesia. Perawat adalah tenaga kesehatan yang
mendengarkan dan melayani klien saat sakit. Bagaimana terkait perihal caring dalam tata
klinis. Jawaban yang lugas dan sederhana harus diberikan, yaitu mendengarkan keluhan
klien terkait penyakitnya. Perawat memposisikan seperti ini pada saat klien melihat
banyak perawat tidak mendengarkan dan melayani klien saat sakit. Jadi, POD yang
efektif adalah atribut atau karakter yang memiliki oposisi atau sisi kontras yang kuat.
Selain itu, sudah pasti bahwa POD yang kuat juga harus didukung oleh banyak elemen
merek. Dalam hal ini, sosok perawat yang sederhana, ramah, dekat dengan klien melalui
waktu panjang yang disediakan. Hal ini memberi kekuatan yang besar sehingga POD ini
menjadi kuat, unik, dan dapat dipercaya oleh masyarakat selaku klien.
Points of Parity (POP) diibaratkan sebuah merek tidak boleh hanya unik dan
berbeda, tapi juga harus memiliki citra yang menetralisir keunggulan dari pesaing dalam
hal ini perawat dari Negara asing. Inilah yang disebut dengan POP. Misal. Perawat
Indonesia ternyata, tidak tangguh dalam hal daya tahan tubuh dalam bekerja, kalah jauh
dari pesaing yaitu perawat asing. Ini yang megakibatkan beberapa kelompok masyarakat
selaku klien mulai meragukan kemampuan perawat dalam memberikan pelayanan. Jadi,
sebagian yang mulai beralih adalah mereka yang melihat bahwa perawat Indonesia tidak
memiliki sesuatu yang dipunyai oleh perawat asing. Misalnya, sebagai pengambil
keputusan klinis yang tegas. POP harus mulai dibentuk sehingga menetralisir keunggulan
perawat asing. Perawat Indonesia juga bisa tegas, pelaksana keperawatan yang mampu
berpikir kritis. Inilah yang disebut Points of Parity (POP), yaitu citra yang mampu
menetralisir keunggulan pesaing, walau tidak perlu lebih unggul.
Kotler dan Keller (2006), menyebutkan bahwa POP merupakan asosiasi-asosiasi
yang tak perlu unik pada merek tetapi mungkin terbagi dengan merek-merek lain. Hal ini
juga ada pada diri perawat, aspek kompetensi dasar, pintar, lulusan terbaik tidak hanya
milik perawat Indonesia tapi juga perawat asing. Soal keramahan, tulus, kenyamanan, dan
kecepatan dalam pelayanan juga telah menjadi standar umum seorang perawat. Bukan hal
yang khusus. Namun, justru bila aspek tersebut tidak terpenuhi, klien tidak akan
memandang perawat Indonesia tersebut sebagai tenaga keperawatan yang layak untuk
dipilih. Perawat bukanlah tenaga profesional yang sesungguhnya jika tidak empati, sopan,
rendah hati, care dan sebagainya. Kotler dan Keller (2006), menyebutkan bahwa ada dua
bentuk dasar dari POP yaitu kategori dan kompetitif. Bentuk pertama yaitu kategori
merupakan hal yang esensial bagi sebuah produk agar dipandang legitimate dan kredibel
sebagai produk di satu kategori tertentu. Hal yang telah menjadi standar umum itulah
yang diterima. Apalah artinya seorang perawat jika tidak empati, sopan, rendah hati,

care? Klien selaku konsumen akan merasa bahwa perawat tersebut tidak kredibel dan
tidak pantas disebut perawat profesional.
Bentuk kedua (kompetitif) merupakan asosiasi yang didesain untuk mengurangi
Points-of-Difference (POD) dari pesaing. POD adalah atribut di mana konsumen secara
kuat mengasosiasikan atau mengaitkan dengan sebuah merek, mengevaluasi secara
positif dan mempercayai bahwa mereka tidak dapat menemukan pada tingkat yang sama
dengan sebuah merek lain yang kompetitif. Jadi POD merupakan pembeda di satu merek
yang tidak dapat ditemukan pada merek lain. Ketika POD menjadi kekuatan sebuah
merek untuk bersaing, merek lain mencoba meredam dengan menyetarakannya sebagai
POP. Saat perawat Indonesia mengkampanyekan bahwa tenaga keperawatan dididik
melalui serangkaian langkah yang terjamin kualitas peserta didiknya. Pesaing dari Negara
asing juga melakukan hal serupa. Manakala di setiap intitusi pendidikan asing disediakan
fasilitas yang serupa, melakukan hal yang sama dengan di Indonesia. Sesuatu yang
berbeda pun menjadi hal yang biasa dan menjadi standar yang diterima sebagai
keharusan.
Keadaan ini menuntut perawat agar dapat mengaktualisasikan POP dan POD secara
nyata dengan berbagai aktivitas pelayanan keperawatan yang mendukung. Dapat
dikomunikasikan menuntut perawat untuk merancang aktivitas promosi dengan berbagai
asosiasi yang sesuai dengan pengetahuan klien yang telah ada. Sebagai contoh menambah
pelayanan di luar rumah sakit seperti home care ketika klien memutuskan untuk dirawat
di rumah. Kehadiran perawat dalam pelaksanaan perawatan meningkatkan kesehatan
psikologis pasangan, menurunkan depresi, meningkatkan kualitas hidup dan menurunkan
ketegangan pengasuh. Kehadiran perawat yang mempunyai kemampuan sesuai harapan
klien dan keluarga akan menjadi pilihan diantara perawat asing yang berdatangan.
F. Kesimpulan
Pengasuh klien stroke membutuhkan keberadaan perawat dalam mendengarkan,
mendukung, memotivasi, menginformasikan hal terkait pelaksanaan perawatan. Perawat
Indonesia yang mempunyai karakteristik berbeda dengan perawat asing yang terasosiasi
dalam Points-of-Difference (POD) dan Points-of-Parity (POP) membuat masyarakat
memilihnya. Kehadiran perawat dalam pelaksanaan perawatan meningkatkan kesehatan
psikologis pasangan, menurunkan depresi, meningkatkan kualitas hidup dan menurunkan
ketegangan pengasuh. Kehadiran perawat yang mempunyai kemampuan sesuai harapan
klien dan keluarga akan menjadi pilihan diantara perawat asing yang berdatangan.
Perawat yang memiliki karakteristik yang diinginkan klien akan membuat masyarakat
memilih perawat Indonesia diantara himpitan perawat asing yang berdatangan dalam
perawatan klien Stroke di era MEA.
Point of Difference (POD) dan Point of Parity (POP) adalah suatu keniscayaan
dalam dunia pemasaran profesi keperawatan. Menjadi serupa dengan pesaing adalah
suatu standar yang harus dipenuhi agar jasa pelayanan memperoleh legitimasi dan
dipandang kredibel oleh klien selaku konsumen. Tetapi menjadi yang berbeda dalam
benak klien relatif terhadap perawat pesaing adalah keharusan yang tidak dapat ditawartawar lagi. Majulah Perawat Indonesia, saatnya perawat Indonesia muncul dipermukaan
dengan langkah penuh percaya diri karena sudah dilengkapi dengan bekal keilmuan dan
hati yang siap melayani dengan penuh kasih.

G. Daftar Pustaka
A Franzen-Dahlin et al. 2008. A randomized controlled trial evaluating the effect of a
support and education programme for spouses of people affected by stroke.
Clinical Rehabilitation 2008; 22: 722730.
Berita

Jatim. Perawat
Dituntut
lebih
Profesional, Menyambut MEA.
http://wartakesehatan.com/54664/perawat-dituntut-lebih-profesionalmenyambut-mea. Diakses, 02 Oktober 2015

Carlsson C and Linander K. 2012. Positioning of a brand point of parity- a study of a


possible approach for taking position of a point of parity in a mature
business to business market. Master of Science Thesis INDEK 2012:08
Depkes

RI. Delapan dari 1000 orang di Indonesia terkena stroke.


http://www.depkes.go.id/index.php/berita/pressrelease/
1703-8-dari1000-orang-di- indonesia-terkena-stroke.html. Retrieved November 1, 2015

Dewit SC. Medical-surgical nursing concepts & practice. St Louis, Missouri: Saunders
Elsevier; 2009.
Dorsey MK & Vaca KJ. The stroke patient and assessment of caregiver needs. Journal of
Vascular Nursing 1998; 16: 62 67.
Ghodeswar. 2008. Building brand identity in competitive markets: a conceptual model.
Journal of Product & Brand Management 17/1 (2008) 412
Han Boter, et al. 2004. Outreach nurse support after stroke: a descriptive study on
patients and carers needs, and applied nursing interventions. Clinical
Rehabilitation 2004; 18: 156163.
Hinkle JL & Guanci MM. 2007. Acute ischemic stroke review. Journal Neuroscience
Nurse; 39: 285 293.
Hunt LA et al. 2011. Assessment of student nurses in practice: A comparison of
theoretical and practical: assessment results in England. Nurse Education
Today
Janiszewska K. 2012. The strategic importance of brand positioning in the place brand
concept: elements, structure and application capabilities. Journal of
International Studies, Vol. 5, No 1, pp. 9-19
J.M. Anne Visser-Meily et al. 2005. Spouses satisfaction with caregiver support in stroke
rehabilitation. Scand J Caring Sci; 2005; 19; 310316.

Kuptniratsaikul V, et al.. Complications during the rehabilitation period in Thai patients


with stroke. American Journal of Physical Medicine & Rehabilitation 2008;
88 (2): 92 99.
Mohn-Brown et al. 2007. Medical-surgical nursing. 2nd ed. New Jersey: Pearson.
Murray CJL & Lopez AD. 1997. Mortality by cause for eight regions of the world:
Global burden of disease study. The Lancet; 349: 1269 1276.
Phipps WJ, et al. 2003. Medical-surgical nursing health and illness perspectives. USA: Seventh
edition. Mosby; 2003.

R. Oupra; et al. 2010. Effectiveness of Supportive Educative Learning programme on the


level of strain experienced by caregivers of stroke patients in Thailand.
Health and Social Care in the Community 18(1), 1020.
Schofield H, et al. 1998. Family caregivers disablity, illness and ageing. Australia: Allen
& Unwin.
Thompson TC, Pierce LL, Steiner V, Govoni AL, Hicks B, Griedemann M. 2004. What
happened to normal? Learning the role of caregiver. On-Line Journal of
Nursing Informatics; 8(2): 13.
Undang-undang No.38 tahun 2014 tentang Keperawatan
Venketasubramanian N. 1998. The epidemiology of stroke in ASEAN countries a
review. Neuro Journal Southeast Asia; 3: 9 14.
Walker L. 2013. Marketing Yourself and Your Profession: A guide for primary care
nurses. Australian Medicare Local Alliance. ISBN: 978-0-9873577-1-7.

Lampiran Ekstraksi Jurnal


N
o

Penulis
(tahun)

1.

2.

3.

4.

Judul

Jurnal

Tujuan

Metodologi

Han Boter,
Gabril JE
Rinkel; Rob
J de Haan
(2004)

Outreach nurse
support after stroke: a
descriptive study on
patients and carers
needs, and applied
nursing interventions

Clinical
Rehabilitation
2004; 18:
156163

Menggambarkan jumlah dan


jenis masalah yang berhasil
dihubungkan antara pasien
stroke di rumah, wali di
tempat tinggal dan
penerapan intervensi
keperawatan

Multicentre
Quantitative
Study

J.M. Anne
VisserMeily;
Marcel
W.M. Post;
Vera P.M.
Schepers; et
al (2005)
R. Oupra ;
R.Griffiths;
J.Pryor; and
S. Mott
(2010)

Spouses satisfaction
with caregiver
support in stroke
rehabilitation

Scand J
Caring Sci;
2005; 19;
310316

Quantitative
Study

Effectiveness of
Supportive Educative
Learning programme
on the level of strain
experienced by
caregivers of stroke
patients in Thailand

Health and
Social Care in
the
Community
(2010) 18(1),
1020

A FranzenDahlin; J
Larson; V
Murray et al
(2008)

A randomized
controlled trial
evaluating the effect
of a support and
education programme
for spouses of people
affected by stroke

Clinical
Rehabilitation
2008; 22:
722730

Menguji kepuasan pasangan


pasien stroke dengan
dukungan yang diberikan
selama rehabilitasi klinis dan
mengeksplorasi hubungan
antara kepuasan dan
karakteristik dukungan yang
diterima
Mengembangkan dan
mengimplementasikan
dukungan perawat dalam
Pembelajaran Edukatif
(SELF) dari keluarga
pengasuh penderita stroke
dan mengevaluasi efek dari
program pada ketegangan
dan kualitas hidup keluarga
pengasuh
Menentukan apakah
program dukungan
dan pendidikan yang
dipimpin perawat
untuk pasangan dari
pasien stroke
meningkatkan
kesehatan psikologis
dari pasangan .

Hasil
Pada Klien
Masalah fisik (92%; 153/166),
Masalah emosional (60%; 99/166).
Pada Pengasuh
Masalah 'beban psikososial' (45%; 53/118).
Perawatan stroke yang paling sering diterapkan 'mendengarkan mendukung'
(55%; 471/864)
'meyakinkan atau mendorong' (12%; 107/864),
Intervensi untuk Pengasuh
'mendengarkan mendukung' 45% (115/258)
'menginformasikan' 17% (43/258)
Rata kepuasan rata-rata adalah 7,
44 % dari semua pasangan mencetak 8 ( sangat puas )
23 % tidak puas.
Dukungan Pengasuh terutama diberikan oleh perawat dan
pekerja sosial. Satu dari lima pasangan menunjukkan tidak
terindikasi setelah didukung oleh tim rehabilitasi.

a nonrandomised
comparative
study with
concurrent
controls, using a
two-group pretest and posttest design

Keluarga pengasuh pada kelompok intervensi memiliki


kualitas hidup lebih baik secara signifikan daripada kelompok
pembanding (GHQ - 28 di debit t=2,82, d.f.=138, P=0,006; dan
pada 3 bulan t=6.80, d.f.=135, P < 0,001) dan mereka juga
melaporkan berkurang ketegangan. Indeks pada t= 6.73 debit,
d.f.=138 , P < 0,001; dan pada 3 bulan t =7.67, d.f.=135, P <
0,001).

A longitudinal,
open,
randomized
controlled trial

Tidak ada perbedaan signifikan yang ditemukan antara


kelompok intervensi dan kontrol mengenai kesehatan psikologis
secara keseluruhan.
Subanalysis mengungkapkan bahwa mereka yang
berpartisipasi lebih sering dalam pertemuan kelompok (lima
atau enam kali) memiliki kesehatan psikologis signifikan lebih
kuat (P50.05).
Pengetahuan tentang stroke meningkat dari waktu ke waktu
pada kedua kelompok, tetapi peserta dalam kelompok

intervensi belajar lebih (P 0,041)