Anda di halaman 1dari 33

Bab 9

BIOSFER

1. MASA DAN KOMPOSISI KIMIA BIOSFER


A.

Pengertian Biosfer

Biosfer merupakan kajian tentang kehidupan hewan dan tumbuhan di muka bumi. Dalam
pembagiannya, biosfer termasuk dalam geografi fisik. Selain kehidupan manusia, hewan, dan
tumbuha, di bagian permukaan kulit bumi juga terdapat daratan, lautan dan udara di atasnya.
Oleh karena itu, biosfer tidak dapat lepas dari litosfer, hidrosfer, dan atmosfer.
Secara etimologis, biosfer berasal dari kata bios yang artinya hidup dan sphere yang artinya
lapisan. Jadi, biosfer adalah lapisan hidup atau lapisan tempat hidup makhluk hidup/organisme.
Biosfer meliputi lapisan hidrosfer, litosfer dan atmosfer. Interaksi ketiga lapisan ini saling
mempengaruhi satu sama lain sehingga membentuk lapisan yang merupakan tempat kehidupan
di bumi ini. Pada dasarnya, setiap jenis makhluk hidup telah mempunyai tempat tersendiri di
biosfer. Hal ini imaksudkan agar mereka dapat bertahan hidup sesuai dengan cara hidup masingmasing.

B.

Organisasi Biosfer

Makhluk hidup atau organisme memiliki tingkat organisasi yang berkisardari tingkat
yang paling sederhana (protoplasma) ke tingkat organisasiyang paling kompleks (biosfer).
Berikut tingkat organisasi dari tingkat yang paling sederhana :

Individu
Merupakan organisme tunggal dan berada pada tingkatan organisme makhluk hidup terendah.
Contohnya : seekor tikus, seekor kucing, satu pohon jambu, satu pohon kelapa, dan seorng
manusia.

Popolusi
Populasi adalah kumpulan individu sejenis yang berada pada suatu daerah yang sama dan dalam
waktu tertentu. Misalya : sekumpulan kucing yang sedang bermain ,sekumpulan sapi yang
sedang merumput, sekumpulan bebek yang sedang berjalan, dan sekumpulan pohon jati dihutan.

Komunitas
Komunitas adalah kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu waktu dan daerah
yang tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Misalnya : komunitas
sawah, komunitas kolam, dan komunitas rumput.

Ekosistem
Komunitas adalah komponen dari berbagai komunitas yang saling berinteraksi dengan
lingkungan abiotiknya. Contohnya : ekosistem air tawar, ekosistem pantai, dan ekosistem sawah.

Macam-macam ekosistem :
Setiap ekosistem memiliki spesies dominan ekosistem bukan pantai, dengan ekosistem hutan
pegunungan. Ekosistem hutan pantai didominasi oleh tumbuhan bakau, sedangkan hutan
pegunungan didominasi oleh tumbuhan cemara dan pinus. Secara garis besar ekosistem
dibedakan menjadi 3 tipe yaitu:
1)

Ekosistem darat

adalah ekosistem yang lingkungan fisiknya berupa daratan.Ekosistem darat dilihat dari tumbuhan
dpoinan tersebut dinamakan vegetasi.Berdasarkan vegetasi pembuntuknya vegetasi ekosistem
darat terbagi atas:

a.Ekosistem dataran rendah atau vegetasi pamah


Ekosistem ini berada pada ketinggian 0 -100 meter diatas permukaan laut. Vegetesi yang terdapat
pada ekosistem ini terdiri atas vegetasi rawa dan vegetasi darat.

b. Ekosistem dataran tinggi (Vegetasi pegunungan)


Ekosistem ini bermacam-macam, tergantung pada ketinggiannya. Ekosistem ini dibedakan
menjadi vegetasi hutan pegunungan, vegetasi padang rumput pegunungan, vegetasi terbuka
lereng berbatu, vegetasi rawa gambut, vegetasi danau, vegetasi alpin.

c.

Ekosistem vegetasi monsum

Vegetasi ini banyak dijumpai didaerah beriklim kering yang memiliki curah hujan sedikit.
Daerahnya terletak pada ketinggian 0-800 meter dari permukaan laut. Ciri-ciri hutan monsum
adalah pohon-pohonnya rendah, banyak cabang, dan cabangnya tidak lurus.

2)

Ekosistem air

Adalah ekosistem yang lingkungan fisiknya didominasi oleh air. Berdasarkan kandungan
garamnya ekosistem air dibedakan menjadi ekosistem air tawar dan ekosistem air laut.

a.) Ekosistem air tawar


Ciri-ciri:
1. Salinitas atau kadar garam rendah
2. Variasi suhu antara siang dan malam tidak terlalu besar
3. Penetrasi (masuknya) cahaya matahari terbatas atau kurang
4. Dipengaruhi oleh iklim dan cuaca
5. Tumbuhan didominasi oleh jenis gangguan dan beberapa tumbuha biji
~ Ekosistem air tawar dibedakan menjadi:
-

Ekosistem air tenang, disebutjuga ekosistem lentik, contihnya danau, telaga, dan rawa.

- Ekosistem air mangalir, disebut juga ekosistem lotik, contohnya selokan dan

sungai.

b.) Ekosistem laut


Ciri-ciri :
1.

Salinitas tinggi, mencapai 55%

2.

Terdapat kehidupan disemua kedalaman, kecuali didasar laut sangat dalam.

3.

Ekosistem laut saling bersambungan dan bercampur karena adanya sirkulasi air laut.

4.

Rantai makanan relatif panjang dan kompleks.

~ Ekosistem laut dibadakan atas:

1.

Laut

Laut memiliki perbedaan suhu yang tinggi antara bagian atas dan bagian bawah. Berdasarkan
itensitas cahaya matahari yang dapat mencapainya, ekosistem laut dibedakkan menjadi laut
dangkal dan laut dalam.
2.

Pantai

Pantailetaknya berbatasan dengan darat, laut, dan daerah pasang surut. Organisme didaerah ini
telah beradaptasi dengan hempasan air pasang, seperti ganggang, porifera, animon laut, rumput
laut, remis dan kerang, mollusca, landak laut, bintang laut, serta ikan-ikan kecil
3.

Estuari

Estuari atau muara merupakan tempat bertemunya sungai dan laut. Salinitas air berupa secara
bertahap mulai dari daerah air tawar, ke laut. Nutrien dari sungai memperkaya estuari.
Organisme yang hidup di estuari antra lain: rumput rawa, ganggang, fitoplankton, cacing, kerang,
kepiting, dan ikan.
Habitat
adalah tempat berkumpulnya ekosistem.

C.

Faktor Penghalang Persebaran Organisme

Persebaran organisme di muka bumi ini banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor
penghalang geografi, reproduksi dan endemis.
1.

Penghalang Geografi

Adalah keadaan fisik lapangan dan faktor geografi lain yang menghalangi aliran gen antar
populasi. Penghalang geografi merupakan penghalang dalam bentuk kondisi muka bumi, seperti
gunung, padang asir, dan laut. Penghalang jenis ini sangat menentukan persebaran organisme di
muka bumi. Hasil proses alami ini berupa benua yang dibatasi oleh lautan, gunung, gurun, dan
faktor alam lainnya. Adanya batas-batas tersebut menghalangi interaksi antarorganisme.
2.

Penghalang Reproduksi

Merupakan penghalang dalam bentuk tidak terjadinya interhibridasi (perkawinan) diantara


organisme yang menghuni satu daerah biogeografi dengan daerah biogeografi lainnya. Dengan
demikian, penghalang geografi ini menyebabkan munculnya penghalang reproduksi. Penghalang

reproduksi ini yang menyebabkan terjadinya isolasi reproduksi yang mengakibatkan semakin
berbedanya organisme tersebut dengan organisme asalnya.
3.

Penghalang Endemis

Merupakan penghalang dalam bentuk kekhasan organisme akibat menghuni daerah khas pula.
Kekhasan ini terjadi akibat adanya penghalang reproduksi yang mencegah terjadiya
interhibridasi dengan organisme lain di luar wilayah biogeografi tersebut. Dengan demikian,
penghalang endemis ini menyebabkan proses endemisme organisme yang mengakibatkan
semakin khasnya organisme tersebut dan semakin berbeda jauh dengan organisme asalnya.

D.

Persebaran Flora di Permukaan Bumi

Indonesia sebagai negara kepulauan kaya dengan keanekaragaman tumbuh-tumbuhan. Adanya


bermacam-macam tumbuhan di suatu tempat dipengaruhi oleh faktor tanah, relief permukaan
bumi, iklim, dan air.
1.
a.

Faktor-Faktor Penyebab Persebaran Flora di Bumi :


Tanah

Tanah disuatu tempat mempunyai pengaruh besar terhadap pertumbuhan berbagai jenis tumbuhtumbuhan. Sebagian besar jenis tanah di Indonesia adalah tanah humus dan vulkanik. Tanah
tersebut sangat subur untuk pertumbuhan tanaman.
b.

Relief Permukaan Bumi

Relief adalah kedaan tinggi rendahnya permukaan bumi. Tinggi rendah permukaan bumi sangat
berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman yang berkaitan dengan suhu (panas, sejuk, sedang,
dan dingin). Tanaman akan tumbuh baik pada suhu dan ketinggian yang sesuai. Pembagian
ketinggian tempat dan jenis tanaman yang sesuai meliputi sebagai berikut :
Daerah dataran rendah (ketinggian 0-650 meter) dikembangkan untuk tanaman budidaya
berupa padi, tembakau, karet, kelapa, dan tebu.
Daerah pegunungan rendah (ketinggian 650-1,500 meter) dikembangkan untuk perkebunan
teh, sayur-sayuran dan buah-buahan.
Daerahpegunungan tinggi (ketinggian 1.500-2.500 meter) dikembangkan untuk tanaman
pinus.
Daerah zona dingin (ketinggian lebih dari 2.500 meter) tidak ada tanaman budidaya, yang ada
hanya lumut.

c.

Iklim

Faktor iklim sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Faktor-faktor tersebut, antara lain
sebagai berikut :
1.)

Suhu atau temperatur, yaitu tingkat panas dan dinginnya daerah tertentu dan waktu tertentu.

2.) Intensitas sinar matahari, yaitu banyak sedikitnya sinar matahari yang sampai di permukaan
bumi.
3.)

Kelembapan udara, yaitu banyaknya uap air yang dikandung dalam udara.

4.) Angin, yaitu udara yang bergerak dari daerah yang bertekanan maksimum ke daerah yang
bertekanan minimum.
d.

Air

Pertumbuhan berbagai tanaman juga dipengaruhi oleh banyak sedikitnya kandungan air yang
tersedia. Tanaman dapat dibedakan menjadi tiga golongan berdasarkan kebutuhan air yang
dibutuhkan, yaitu sebagai berikut :
1.)

Tumbuh-tumbuhan yang hidup didaerah kering (xerofita), misalnya : kaktus

2.) Tumbuh-tumbuhan yang hidup didaerah basah (hidrofita), misalnya : eceng gondok dan
teratai.
3.) Tumbuh-tumbuhan yang hidup didaerah yang kandunagn airnya sedang, misalnya : tebu,
padi, jagung.
2.

Tipe-Tipe Komunitas Organisme Flora dan Fauna

Komunitas organisme flora di dunia dapat di bagi menjadi delapan macam, yaitu hutan
basah, hutan musim tropika, hutan gugur, hutan hujan iklim sedang, taiga, padang rumput,
tundra, dan gurun.
a.

Hutan Basah / Hutan Hujan Tropika

Hutan basah terdapat banyak sekali tumbuhan. Dan selalu mendapat air sepanjang tahun dan
keadaan alamnya memungkinkan terjadinya pertumbuhan yang lama sehingga komuitas hutan
sangat kompleks. Hutan ini terdapat di daerah tropis dan subtropis, seperti Indonesia, Australia
bagian utara, Afrika Tengah, dan Amerika Tengah. Tumbuhan yang khas daerah ini
yaitu liana dan epifit.
b.

Hutan Musim Tropika

Jenis hutan yang yang berada pada daerah tropika (tropis) yang mempunyai iklim basah, namun
musim kemaraunya panjang. Datangnya musim kemarau dicirikan dengan pohon-pohon yang
merontokkan daun-daunnya. Hal tersebut berfungsi untuk mengurangi tingkat penguapannya.
Hutan musim tropika banyak ditemukan di India, Pakistan, dan Bangladesh.
c.

Hutan Gugur

Banyak terdapat di kawasan yang mempunyai empat musim, antara lain Amerika Utara, Eropa,
Cina, Jepang, dan sebagian Australia. Ciri khas hutan gugur adalah menggugurkan daun pada
musim gugur dan menghijau sepanjang musim panas. Pohon yang terdapat di hutan gugur yaitu :
maple, oak, beck dan elm.
d.

Hutan Hujan Iklim Sedang (Temperate Rain Forest)

Berupa hutan dengan pepohonan yang memiliki ketinggian yang sangat tinggi. Jenis tumbuhan
pada hutan ini lebih sedikit dibandingkan jenis tumbuhan pada hutan hujan tropika.
e.

Taiga

Adalah hutan berdaun jarum yang terdapat di daerah tropis sampai kutub. Perbedaan suhu antara
musim panas dengan musim dingin sangat tinggi. Taiga banyak terdapat di Siberia, Kanada,
Skandinavia, Rusia dan Alaska. Tumbuhan yang hidup di taiga adalah tumbuhan berdaun jarum,
seperti : konifer, spruce, cemara dan pinus.
f.

Padang Rumput

Padang rumpu tumbuh didaerah tropis sampai subtropis. Flora yang hidup di padang rumput
adalah rumput-rumputan yang telah teradaptasi dengan kondisi lingkungan yang mempunyai
porositas dan drainase rendah.
Padang rumput dibedakan menjadi dua jenis yaitu :
1.

Stepa adalah padang rumput yang kering dan tidak ditumbuhi oleh

semak-semak.

2.
Sabana adalah padang rumput yang kering dan ditumbuhi semak-semak. Sabana terdapat
di suatu daerah peralihan antara padang rumput dan hutan. Sabana di Indonesia terdapat di Nusa
Tenggara Timur dan Papua bagian tenggara.
g.

Tundra

Merupakan padang lumut yang terdapat di daerah kutub sehingga iklimnya pun iklim kutub.
Musim dinginnya sangat panjang, yakni selama sembilan bulan dan musim panasnya selama tiga
bulan.
h.

Gurun

Terletak di daerah tropis dengan curah hujan yang sangat rendah, yaitu sekitar 25 cm per tahun
dan turunnya tidak merata. Perbedaan suhu siang dan malam sangat mencolok. Tanahnya sangat
gersang dan tandus sehingga tidak mampu menyimpan air. Flora yang hidup di gurun adalah
tumbuhan menahun dan tumbuhan semusim yang sifatnyaxerofita, yaitu tumbuhan yang telah
terkondisi dengan lingkungan kering dan tandus.

E.

Persebaran fauna di Indonesia

Indonesia terletak diantara dua kawasan persebaran fauna dunia, yaitu kawasan Oriental
di bagian utara dan kawasan Australia di bagian selatan. Dengan kondisi seperti ini, Indonesia
memiliki sebagian kekayaan hayati Asia dan Australia. Jenis fauna di Indonesia sangat banyak
dan kehidupannya sangat dipengaruhi keadaan tumbuh-tumbuhan dan iklim daerahnya.
Indonesia berada di daerah tropis yang merupakan salah satu sasaran migrasi satwadari belahan
bumi utara dan selatan. Akibatnya, Indonesia mendapatkan kekayaan hayati tambahan dari
pelaku migrasi satwa. Dengan kondisi yang demikian maka kita perlu dijaga kelestarian seluruh
jenis hayati yang ada. Hal ini membutuhkan perhatian dan biaya yang cukup besar. Karena hal
itu, pelestarian hayati tidak berlaku untuk seluruh jenis yang ada, namun diprioritaskan jenis
yang rawan punah dan jenis akibat aktivitas manusia menjadi rawan punah atau langka.

Kehidupan berbagai binatang di dalam hutan tidak lepas dari kondisi lingkungan hutan. Apabila
hutan rusak, kehidupan berbagai bintang akan terancam kelestariannya. Oleh karena itu, perlu
ditingkatkan kesadaran perlindungan pada fauna Indonesia yang terancam kepunahan.
1.

Pembagian Fauna menurut Wallace (1910)

Wallace membuat sebuah hipotesa bahwa kekhasan hewan di pulau Sulawesi yang
diperkirakan pernah bersatu dengan benua Asia dan Australia. Menurut Wallace, Sulawesi
merupakan daerah peralihan antara fauna Asia dan australia.
Wallace kemudian memberi garis batas yang dikenal dengan garis Wallace. Garis ii
ditarik dari sebelah Filipina-Selat Makassar-Bali dan Lombok(Selat Lombok).
Wallace membagi fauna Indonesia menjadi tiga sebagai berikut:
a.

Daerah Fauna Indonesia Bagian Barat

Hewan di kawasan Indonesia bagian Barat berasal dari kawasan Oriental. Hewan-hewan yang
ada dikawasan ini mirip dengan hewan dikawasan Asia. Jenis hewan yang ada, antara lain:

1.

Harimau di Jawa, Sumatera, Madura dan Bali

2.

Beruang di Sumatera dan Kalimantan

3.

Gajah di Sumatera

4.

Badak di Sumatera dan Jawa

5.

Tapir di Sumateradan Kalimantan

6.

Banteng di Jawa dan Kalimantan

7.

Siamang di Sumatera

8.

Kera Gibbon di Sumatera dan Kalimantan

b.

Daerah Fauna Indonesia Bagian Timur

Papua dan pulau-pulau kecil disekitarnya termasuk daerah Indonesia bagian Timur.
Hewan-hewan di kawasan Indonesia bagian Timur mirip dengan hewan di kawasan Australia.
Jenis hewan yang ada, antara lain
1.

Kangguru di Papua

2.

Kasuari di pulau Seram dan Papua

3.

Cenderwasih di Papua dan Kepulauan Aru

4.

Kakatua di Maluku

c.

Daerah Fauna Indonesia Bagian Tengah

Hewan-hewan di Kawasan Indonesia bagian Tengah merupakan campuran antara fauna


Indonesia bagian Barat dan Timur. Jenis hewan di kawasan ini antara lain
1.

Komodo di Nusa Tenggara Timur

2.

Anoa di Sulawesi

3. Babi Rusa (sejenis babi yang memiliki taring panjang dan melengkung) di Sulawesi dan
Maluku bagian Utara

4.

Burung Maleo di Sulawesi dan Kepulauan Sangihe

5.

Kuskus di sulawesi

2.

Pembagian fauna menurut Weber

Weber menggunakan hewa mamalia dan aves(burung) sebagai dasar patokan analisisnya.
Namun, tidak setiap binatang yang dijadikan dasar itu memiliki garis pembatas yang sama.
Misalnya kupu-kupu serta hewan melata Asia mepunyai penyebaran yang lebih luas daripada
jenis burung dan siput.
Garis Weber adalah garis hipotesa yang merupakan pembatas antara fauna-fauna di kawasan
Indonesia Barat dan Indonesia Timur.

Menurut Alfred Russel Wallace, di permukaan bumi in terdapat enam kawasan persebaran
fauna, yaitu kawasan Neartik, Neotropik, Australia, Oriental, Paleartik dan Ethiopia.
1.

Kawasan Neartik

Meliputi Amerika Utara mulai dari Meksiko, Amerika Serikat, Kanada, sampai kepulauan
Greenland. Jenis fauna yang terdapat dikawasan ini adalah tikus air, kambing gunung, anjing
prairi, bison, raun dan kalkun.
2.

Kawasan Neotropik

Meliputi wilayah Amerika Selatan. Spesies khas yang hidup di kawasan ini adalah kera
dengan ekor yang dapat memegang (prehensile), kukang, tapir, dan trenggiling.
3.

Kawasan Australia

Meliputi Australia dan sekitarnya, seperti Tasmania, Papua Nugini, Selandia Baru, dan pulaupulau di lautan pasifik. Jenis heawan yang hidup di kawasan ini adalah platypus (mamalia
berparuh bebek), kanguru, dan koala. Jenis burung dikawasan ini antara lain burung kasuari,
kakatua dan cendrawasih.
Kerusakan Flora dan Fauna oleh Manusia
Berikut ini beberapa hal yang menyebabkan kerusakan flora dan fauna akibat kegiatan manusia.
a. Pencemaran
Pencemaran lingkungan adalah faktor yang sangat berperan dalam penciptaan kerusakan flora
dan fauna. Zat-zat polutan telah banyak membunuh flora dan fauna di darat maupun di perairan.

Kini, zat-zat itu semakin menyesaki Bumi akibat kemajuan teknologi. Di satu sisi, teknologi
memang kita butuhkan tetapi di sisi lain telah menyebabkan pencemaran yang sangat
membahayakan kehidupan. Hasil dan sisa-sisa kemajuan teknologi itu kini telah meracuni tanah,
air, serta udara. Jadi, teknologi hendaknya diciptakan sedemikian rupa sehingga tetap ramah
terhadap lingkungan. Kita biasa membedakan pencemaran menjadi tiga macam, yaitu
pencemaran udara, air, dan tanah. Pembedaan seperti itu tidaklah tepat benar karena ketiganya
saling berkaitan. Asap pabrik dan kendaraan bermotor melepaskan karbon monoksida ke udara.
Terjadilah pencemaran udara. Udara yang tercemar itu naik bercampur dengan uap air,
terkondensasi, dan turun sebagai hujan. Air hujan yang telah tercemar karbon monoksida itu
bersifat asam sehingga sering disebut hujan asam. Hujan asam ini jika mengenai tanaman atau
hewan secara langsung dapat memperlambat pertumbuhannya dan bahkan membunuhnya. Air
hujan yang asam itu juga memasuki air permukaan seperti sungai atau danau dan meracuni
tumbuhan serta hewan-hewan air. Sebagian hujan asam itu meresap ke tanah dan meracuni
tumbuh-tumbuhan. Tumbuhan dan hewan itu jika masih hidup akan menyimpan racun dalam
tubuhnya. Pencemaran air pada akhirnya juga menyebabkan pencemaran udara dan tanah. Zatzat polutan dalam air yang tercemar akan terurai dan bercampur dengan udara ketika
berlangsung proses penguapan. Sebagian air yang tercemar juga memasuki tanah sehingga tanah
pun ikut tercemar. Tindakan sederhana apakah yang bisa kamu lakukan untuk mengurangi
pencemaran? Nah, lakukanlah mulai dari dirimu sendiri!
Pencemaran tanah pun akhirnya juga menyebabkan pencemaran air dan udara. Zat-zat polutan
yang ada di dalam tanah dapat menguap ke udara, menimbulkan bau yang tidak sedap dan
menyesakkan pernapasan. Sebagian zat polutan itu juga memasuki air tanah dan mengisi air
sumur, sungai, serta danau.
b. Eksploitasi Hutan
Pengambilan hasil hutan secara besar-besaran, cepat atau lambat akan memusnahkan flora dan
fauna tertentu di permukaan Bumi. Beberapa flora memiliki pertumbuhan yang sangat lambat
misalnya jati, sehingga untuk memperbaruinya diperlukan waktu yang sangat lama. Ada juga
flora yang hanya tumbuh pada waktu tertentu misalnya bunga Rafflesia arnoldi.
c. Perburuan Liar
Beberapa fauna mempunyai daya tarik tersendiri sehingga mempunyai nilai ekonomis. Inilah
yang menyebabkan beberapa fauna diburu oleh manusia. Badak diburu oleh manusia karena
diyakini culanya yang berkhasiat sebagai obat. Gajah diburu manusia karena gadingnya dapat
digunakan sebagai hiasan dan peralatan dengan harga mahal. Cenderawasih diburu karena
bulunya yang indah. Dan beberapa fauna lagi diburu karena alasan tertentu. Inilah yang
menyebabkan beberapa fauna berada diambang kepunahan. Bagaimanakah upaya yang harus
dilakukan untuk mencegah terjadinya perburuan liar?
d. Penggunaan Pestisida

Dalam pertanian penggunaan pestisida dimaksudkan untuk membunuh hewan perusak tanaman.
Secara tidak sengaja, pestisida itu juga membunuh hewan yang menguntungkan. Beberapa
burung telah mati akibat penggunaan pestisida. Burung-burung yang tahan terhadap pestisida
akan mengalami gangguan reproduksi. Berdasarkan penelitian, pestisida berpengaruh terhadap
pembentukan kalsium dalam tubuh burung. Akibatnya, burung menghasilkan telur yang kulitnya
sangat tipis sehingga bayi burung tidak dapat bertahan hidup. Langkanya elang jawa diduga kuat
juga karena penggunaan pestisida ini.
e. Penggunaan Pupuk Buatan
Di satu sisi, pupuk buatan berfungsi menyuburkan tanaman. Namun, di sisi lain pupuk telah
berperanbesar terhadap kelangkaan beberapa jenis fauna. Berdasarkan penelitian, para ahli
menyimpulkanbahwa penggunaan pupuk telah menyebabkan hilangnya beberapa jenis ikan di
sungai dan danau. Bagaimana ini bisa terjadi? Pupuk yang disebarkan di lahan pertanian tidak
semuanya diserap oleh tanaman. Beberapa di antaranya telah dihanyutkan air hingga sampai ke
sungai dan danau. Pupuk itu menyuburkan tanaman air seperti eceng gondok hingga
pertumbuhannya melampaui batas toleransi. Tanaman ini menyerap oksigen yang dibutuhkan
oleh beberapa jenis ikan. Selain itu, eceng gondok yang membusuk menyebabkan air bersifat
asam. Beberapa jenis ikan yang tidak sanggup bertahan akan mati dan akhirnya punah.
Itulah beberapa kerusakan flora dan fauna serta hal-hal yang menyebabkannya. Kerusakan itu
sesegera mungkin harus kita cegah karena dampaknya akan menimpa kita juga. Apa dampak
kerusakan flora dan fauna bagi manusia? Mari kita lihat.

Dampak Kerusakan Flora dan Fauna bagi Kehidupan


Kini beberapa flora dan fauna telah hilang dari habitatnya. Gajah jawa, harimau jawa dan bali,
kini tinggal dongeng belaka. Suatu saat binatang yang saat ini bisa kita lihat, boleh jadi juga
tinggal cerita buat anak cucu kita. Beberapa hutan telah habis dibabat berubah menjadi lahanlahan kritis yang kelak terhanyut dan mendangkalkan sungai-sungai. Karena sudah begitu
dangkal, sungai tidak lagi mampu menampung air dan meluaplah banjir menerjang segala yang
ada di sekitarnya termasuk manusia. Betapa tragisnya. Berikut ini dampak yang akan terjadi jika
flora dan fauna mengalami kerusakan.
a. Ekosistem Tidak Seimbang
Dalam ekosistem terdapat predator (pemangsa) dan yang dimangsa. Jika salah satu dihilangkan,
ekosistem menjadi tidak seimbang dan akibatnya sangat merugikan kehidupan. Para ahli pernah
mengadakan percobaan dengan membuang spesies predator, yaitu bintang laut jenis pisaster dari
sebuah kawasan di pantai Amerika Utara. Di pantai itu terdapat 15 spesies yang hidup. Dalam

tempo tiga bulan, udang mirip remis (bernacle) yang merupakan makanan bintang laut
berkembang dengan pesat hingga menutupi tiga perempat kawasan itu. Setelah satu tahun,
beberapa spesies mulai menghilang hingga tinggal delapan spesies. Dengan hilangnya bintang
laut, bernacle mengambil alih permukaan karang sehingga ganggang tidak bisa tumbuh.
b. Kelangkaan Sumber Daya
Flora dan fauna merupakan sumber daya yang dapat dimanfaatkan oleh manusia, contohnya
hutan. Hutan menghasilkan berbagai macam hasil hutan yang sangat penting bagi manusia.
Mulai dari kayu, daun, bahkan getahnya berguna bagi manusia. Hutan juga mampu menyimpan
air yang merupakan kebutuhan vital bagi kehidupan. Jika hutan itu rusak, hilanglah sumber daya
yang dihasilkannya. Lebih fatal lagi, persediaan air akan berkurang sehingga air menjadi barang
langka.
c. Menurunnya Kualitas Kesehatan
Beberapa flora dan fauna merupakan sumber makanan bagi manusia. Bahkan beberapa di
antaranya diusahakan manusia dengan sengaja dalam bentuk budi daya. Beberapa zat polutan
dan pestisida dapat tersimpan dalam tubuh flora dan fauna itu. Jika flora dan fauna itu
dikonsumsi manusia, zat-zat tersebut akan berpindah ke dalam tubuh manusia. Indikasi dari
rusaknya fauna telah terbukti denganmunculnya penyakit yang disebabkan oleh binatang piaraan.
Penyakit seperti anthrax (sapi gila), flu burung, dan pes adalah bukti rusaknya fauna. Beberapa
fauna juga tidak layak untuk dimakan misalnya kerang yang hidup di perairan yang tercemar.
Dari hasil penelitian, kerang menyerap zat logam berat dan menyimpan dalam tubuhnya
sehingga sangat berbahaya jika dikonsumsi.
d. Tragedi Lingkungan karena Kerusakan Hutan
Bencana alam yang terjadi akibat kerusakan flora dan fauna sangat sering terjadi. Banjir dan
tanah longsor merupakan fenomena yang amat sering kita dengar serta saksikan jika musim
hujan tiba. Ini tidak lepas dari akibat kerusakan hutan. Hutan yang telah rusak tidak mampu lagi
menahan air hujan sehingga air menghanyutkan tanah. Terjadilah banjir dan tanah longsor. Inilah
contoh tragedi lingkungan.
e. Hilangnya Kesuburan Tanah
Unsur utama kesuburan tanah adalah nitrogen (N). Unsur ini terkandung dalam DNA makhluk
hidup. Sebagian besar nitrogen yang penting itu, dihasilkan oleh flora dan fauna. Flora seperti
kacang polong, buncis, dan kedelai mendorong penguraian nitrogen di dalam tanah. Suatu zat
kimia dalam akar tumbuhan tersebut telah memacu pembiakan bakteri rhizobium yang dapat
memproduksi nitrogen. Bakteri ini akan membentuk bintil-bintil akar yang menyediakan nitrat
bagi tanaman. Beberapa jenis flora lain juga dapat menghasilkan nitrat dengan cara berbeda. Jika

flora mengalami kerusakan, pembentukan nitrat akan terganggu sehingga tanah kehilangan
produktivitasnya.
f. Putusnya Daur Kehidupan
Inilah dampak yang mengerikan jika flora dan fauna mengalami kerusakan. Semua bentuk
kehidupan di Bumi tersusun dari unsur karbon. Karbon ini terus bergerak pada berbagai bagian
biosfer dalam bentuk senyawa kimia. Karbon ada dalam tubuh organisme, dalam air, udara, dan
di dalam Bumi itu sendiri. Karbon yang ada di atmosfer jika bersenyawa dengan oksigen akan
membentuk karbon dioksida (CO2). Senyawa ini diserap tumbuhan dalam proses fotosintesis.
Dalam tumbuhan, karbon diubah menjadi karbohidrat. Senyawa ini dibutuhkan manusia dan
hewan sebagai sumber energi. Dalam tubuh manusia dan hewan, karbon berbentuk senyawa
kalsium karbonat yang terdapat dalam tulang. Jika manusia dan hewan mati, jasadnya akan
diuraikan oleh bakteri serta dilepaskan ke udara dalam bentuk CO2. Terulanglah daur karbon
melalui tumbuhan. Jika flora dan fauna yang merupakan komponen dalam daur ini mengalami
kerusakan, daur karbon akan terputus. Sudah pasti kehidupan akan terganggu. Itulah dampak
yang akan terjadi jika flora dan fauna mengalami kerusakan. Sekarang, kamu tahu betapa
pentingnya flora dan fauna itu. Karena itulah, menjaga kelestarian flora dan fauna bukan lagi
suatu kewajiban tetapi kebutuhan. Kerusakan flora dan fauna pada akhirnya akan merugikan kita
juga. Sudah saatnya sejak sekarang, kamu mulai memerhatikan lingkungan dengan kesadaran
yang tinggi untuk menjaganya

2. ENDAPAN BIOGENIK DAN KOMPOSISI KIMIANYA

Sedimen adalah kumpulan dari tiga komponen umum yang dihasilkan oleh proses fisika,
biologi, dan kimia. Batuan sedimen berasal dari pecahan material tua, partikel dihasilkan
melalui aktivitas kehidupan dari tanaman dan hewan, hasil erupsi gunungapi, dan kristal
hasil presipitasi & evaporasi. Sedimen pada setiap tempat mungkin disusun hanya dari
satu komponen atau mungkin campuran dari dua atau lebih komponen.

Berdasarkan asal proses pembentukannya, sedimen dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu
sedimen biogenik, sedimen kimia dan sedimen vulkanologi.

Klasifikasi batuan sedimen

Sedimen Biogenik
Sedimen biogenik yaitu sedimen yang bersumber dari sisa-sisa organisme yang hidup seperti
cangkang dan rangka biota laut serta bahan-bahan organik.

Batugamping :
Batu gamping terbentuk dari proses biologi (biomineralized), terbentuk sebagai bagian
organisme hidup. Material biogenik juga dapat terbentuk sebagai endapan kimia dan beberapa
endapan terbentuk dari kombinasi proses biologi dan kimia.
Batugamping terbentuk dari material yang membentuk endapan kalsium karbonat dalam suatu
lingkungan (Tucker & Wright 1990).
Mineral Batugamping :

Kalsit

(CaCO3 dengan bentuk kristal trigonal, mengandung bioklastik)

Aragonit

(CaCO3 dengan bentuk kristal ortorombik, jarang mengandung fosil)

Dolomit

(Kalsium Magnesium Karbonat (CaMg (CO 3) 2))

Siderit

(Besi Karbonat (FeCo 3) )

Komponen Biomineralized Batugamping


Komponen endapan kalsium karbonat berukuran dari partikel lumpur berdiameter
mikrometer hingga struktur besar yang terbentuk oleh organisme seperti koloni koral (hewan) di
dalam karang atau foliasi tumbuhan.

Gambar klasifikasi batuan sedimen karbonat (Dunham 1962) dengan modifikasi


oleh Embry & Klovan (1971)

Dominant
Less common

Gambar Cangkang organisme berkapur mungkin terdiri dari aragonit, kalsit dari tinggi rendah
magnesiumnya, atau kombinasi kedua mineral.

Sedimen Fosforit Biogenik

Menurut mineralogi, phosphorites terdiri dari francolite, yang merupakan kalsium fosfat
(karbonat fluorapatite hidroksil).

Dalam beberapa kasus, sedimen fosfat ditemukan dalam bentuk coprolites, yang
merupakan feses fosil ikan atau hewan.

Sedimen Silica Biogenik

Umumnya, di dasar laut dan danau mengandung silika organisme mikroskopis yang dapat
terakumulasi untuk membentuk siliceous ooze.
Radiolarit
adalah zooplankton (hewan mikroskopis dengan gaya hidup planktonik)
Diatomit
adalah fitoplankton (ganggang mengambang bebas)
Serpih & Pasir Biogenik

Oil Shales adalah batu lempung yang mengandung proporsi bahan organik yang tinggi
(sisa-sisa ganggang yang telah diuraikan selama diagenesis untuk membentuk kerogen,
hidrokarbon yang membentuk minyak bumi (minyak dan gas) ketika dipanaskan).

Tar Sands atau pasir minyak merupakan sedimen klastik yang jenuh dengan
hidrokarbon dan
dapat dijadikan reservoir minyak bawah permukaan

Batubara (Coal)
Batubara dapat segera dikenali karena berwarna hitam dan memiliki densitas rendah. Jenis-jenis
batubara:

Vitrain: terang, batubara hitam mengkilap, sebagian besar terdiri dari jaringan kayu.

Durain: hitam atau abu-abu, batubara kusam dan kasar yang biasanya mengandung
banyak tanaman spora dan detrital material.

Fusain: hitam, berserat halus, gembur dan halus, mengandung fosil arang.

Clarain: batubara berlapis yang terdiri dari pergantian dari tiga jenis lainnya.

PEMBENTUKAN BATU BARA, SECARA KIMIA


Batu bara adalah salah satu bahan bakar fosil. Pengertian umumnya adalah batuan
sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik, utamanya adalah sisa-sisa
tumbuhan dan terbentuk melalui proses pembatubaraan. Unsur-unsur utamanya terdiri dari
karbon, hidrogen dan oksigen. Batu bara juga adalah batuan organik yang memiliki sifat-sifat
fisika dan kimia yang kompleks yang dapat ditemui dalam berbagai bentuk.
Analisis unsur memberikan rumus formula empiris seperti C 137H97O9NS untuk bituminus dan
C240H90O4NS untuk antrasit.
Batu bara, sebagai bahan bakar fosil, banyak dimanfaatkan dalam berbagai industri mulai
dari pembangkit listrik, industri baja, hingga transportasi. Peran penting batu bara dalam
beberapa industri strategis tersebut mendorong dilakukannya berbagai penelitian yang
berhubungan dengan batu bara. Tulisan kali ini membahas secara singkat tentang proses
pembentukan batu bara.

Hubungan volume terhadap berat campuran karbon dan mineral (Schopf, 1956).
Batu bara dalam pengertian yang mendasar adalah batuan yang mudah terbakar dengan
kandungan karbon lebih dari 50% berdasarkan beratnya dan 70% berdasarkan volumenya

(Schopf, 1956). Batu bara terutama tersusun oleh sisa-sisa tumbuhan yang mengalami proses
penggambutan dan pembatubaraan. Secara lebih lengkapnya dapat diartikan bahwa batu bara
adalah batuan sedimen, kaya bahan organik, tersusun atas sisa-sisa tumbuhan yang telah
terawetkan, dan mudah terbakar sebagai ciri utamanya (Thomas, 2002)

Gasifikasi batu bara


Coal gasification adalah sebuah proses untuk merubah batu bara padat menjadi gas batu bara
yang mudah terbakar (combustible gases), setelah proses pemurnian gas-gas ini karbon
monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), hidrogen (H), metan (CH4), dan nitrogen (N2) dapat
digunakan sebagai bahan bakar. hanya menggunakan udara dan uap air sebagai reacting-gas
kemudian menghasilkan water gas atau coal gas, gasifikasi secara nyata mempunyai tingkat
emisi udara, kotoran padat dan limbah terendah.
Tetapi, batu bara bukanlah bahan bakar yang sempurna. Terikat didalamnya adalah sulfur
dan nitrogen, bila batu bara ini terbakar kotoran-kotoran ini akan dilepaskan ke udara, bila
mengapung di udara zat kimia ini dapat menggabung dengan uap air (seperti contoh kabut) dan
tetesan yang jatuh ke tanah seburuk bentuk asam sulfurik dan nitrit, disebut sebagai "hujan asam"
acid rain. Disini juga ada noda mineral kecil, termasuk kotoran yang umum tercampur dengan
batu bara, partikel kecil ini tidak terbakar dan membuat debu yang tertinggal di coal combustor,
beberapa partikel kecil ini juga tertangkap di putaran combustion gases bersama dengan uap air,
dari asap yang keluar dari cerobong beberapa partikel kecil ini adalah sangat kecil setara dengan
rambut manusia.
Penyusun Batubara
Konsep bahwa batubara berasal dari sisa tumbuhan diperkuat dengan ditemukannya
cetakan tumbuhan di dalam lapisan batubara. Dalam penyusunannya batubara diperkaya dengan
berbagai macam polimer organik yang berasal dari antara lain karbohidrat, lignin, dll. Namun
komposisi dari polimer-polimer ini bervariasi tergantung pada spesies dari tumbuhan
penyusunnya.
a. Lignin

Lignin merupakan suatu unsur yang memegang peranan penting dalam merubah susunan
sisa tumbuhan menjadi batubara. Sementara ini susunan molekul umum dari lignin belum
diketahui dengan pasti, namun susunannya dapat diketahui dari lignin yang terdapat pada
berbagai macam jenis tanaman. Sebagai contoh lignin yang terdapat pada rumput mempunyai
susunan p-koumaril alkohol yang kompleks. Pada umumnya lignin merupakan polimer dari satu
atau beberapa jenis alkohol.
Hingga saat ini, sangat sedikit bukti kuat yang mendukung teori bahwa lignin merupakan
unsur organik utama yang menyusun batubara.
b. Karbohidrat
Gula atau monosakarida merupakan alkohol polihirik yang mengandung antara lima
sampai delapan atom karbon. Pada umumnya gula muncul sebagai kombinasi antara gugus
karbonil dengan hidroksil yang membentuk siklus hemiketal. Bentuk lainnya mucul sebagai
disakarida, trisakarida, ataupun polisakarida. Jenis polisakarida inilah yang umumnya menyusun
batubara, karena dalam tumbuhan jenis inilah yang paling banyak mengandung polisakarida
(khususnya selulosa) yang kemudian terurai dan membentuk batubara.
c. Protein
Protein merupakan bahan organik yang mengandung nitrogen yang selalu hadir sebagai
protoplasma dalam sel mahluk hidup. Struktur dari protein pada umumnya adalah rantai asam
amino yang dihubungkan oleh rantai amida. Protein pada tumbuhan umunya muncul sebagai
steroid, lilin.
Pembentukan gambut
Gambut (peat) merupakan akumulasi tumbuhan yang telah membusuk. Pembentukan gambut
merupakan tahap awal terbentuknya batu bara. Gambut terbentuk di lahan basah yang disebut
mire. Pembentukan mire dan karakteristik gambut yang dihasilkan bergantung pada beberapa
faktor, yaitu evolusi tumbuhan, iklim, serta paleogeografi dan struktur geologi daerah. Endapan
gambut yang tebal dapat terbentuk apabila (1) muka air naik secara perlahan-lahan sehingga
muka air tanah konstan mengikuti permukaan endapan gambut, (2) mire terlindung dari
penggenangan (banjir) oleh air sungai maupun air laut, dan (3) tidak ada interupsi oleh endapan
sungai.

Berdasarkan lingkungan pengendapannya, mire dapat dibedakan menjadi 2, yaitu paralic mire
dan limnic mire. Mire disebut sebagai paralic apabila terhubung dengan laut atau daerah pesisir,
misalnya laguna, estuarin, delta, dan teluk. Apabila terhubung dengan air tawar, mire disebut
limnic, misalnya danau dan rawa. Secara umum, mire dapat dibedakan menjadi (1) topogenous
mire apabila pembentukan gambut terjadi pada suatu level air yang tinggi dan (2) ombrogenous
mire (raised bog) apabila ketinggian air berada di bawah permukaan gambut dan gambut
memperoleh air terutama dari air hujan. Gambar di bawah menunjukkan proses pembentukan
raised bog.

Contoh evolusi mire yang menunjukkan pembentukan raised bog (McCabe, 1987).
Pembentukan batu bara (coalification)
Batu bara, seperti telah dijelaskan sebelumnya, merupakan batuan sedimen yang berasal dari
tumbuhan yang telah mengalami perubahan kimia dan fisika akibat proses biodegradasi
(aktivitas bakteri) yang terjadi pada tahap penggambutan serta efek suhu dan tekanan selama
proses pembatubaraan.
Peningkatan tekanan dan suhu dapat terjadi karena peningkatan kedalaman pembebanan atau
kontak batu bara dengan sumber panas, terutama berupa intrusi batuan beku. Faktor lain yang
juga sangat berpengaruh pada proses pembatubaraan adalah waktu. Waktu ini berhubungan
dengan seberapa lama pembatubaraan terjadi. Semakin lama gambut terkena suhu dan tekanan
yang tinggi, batu bara yang dihasilkan akan memiliki kualitas yang lebih baik.
Proses pembatubaraan secara umum dapat digolongkan menjadi dua tahap, yaitu penggambutan
(peatification) dan pembatubaraan (coalification). Proses pembentukan batu bara diawali dengan
fase biokimia dan kemudian diikuti fase geokimia (peran organisme sudah tidak ada lagi). Fase
biokimia terjadi pada gambut segera setelah deposisi dan pengendapan sedimen lain terjadi di
atas gambut tersebut.
Perubahan komposisi kimia dan fisika dari tumbuhan akibat aktivitas bakteri aerobik paling
intensif terjadi pada peatigenic layer ( 0,5 m di bawah permukaan). Pada lapisan gambut yang
lebih dalam, bakteri anaerobik mulai intensif bekerja karena berkurangnya oksigen. Selanjutnya,
pada kedalaman lebih dari 10 meter, aktivitas bakteri mulai berkurang dan digantikan oleh proses
kimiawi. Fase biokimia ini dipengaruhi oleh tingkat pembebanan sedimen, pH, dan tinggi
permukaan air. Fase geokimia atau metamorfisme ditandai dengan peningkatan kandungan
karbon (C) dan penurunan kandungan hidrogen (H) dan oksigen (O). Rasio antara O/C dan H/C
dapat digunakan untuk menentukan peringkat batu bara.
Proses pembatubaraan akan menghasilkan perubahan parameter batu bara, baik yang berupa sifat
fisik maupun kimia. Tingkat pembatubaraan disebut sebagai peringkat batu bara (rank).
Peringkat batu bara dari yang terendah adalah gambut, lignit, sub-bituminus, bituminus, antrasit,

dan meta-antrasit. Proses dan reaksi kimia yang terjadi selama pembatubaraan dapat dilihat pada
skema berikut.

Skema proses pembatubaraan (Van Krevelen, 1992 dengan perubahan dalam Amijaya, 2007).
Indonesia adalah salah satu negara penghasil batu bara terbesar di dunia. Berdasarkan
data statistik energi dan ekonomi Indonesia (2010), total cadangan batu bara Indonesia adalah 21
miliar ton dengan produksi sekitar 250 juta ton/tahun. Besarnya cadangan dan produksi batu bara
di Indonesia memberikan peluang besar untuk terbukanya lapangan pekerjaan di bidang
pertambangan dan peningkatan perekonomian. Tentunya hal ini dapat diraih apabila prinsip
penambangan yang berkelanjutan dilaksanakan dengan semestinya.

PEMBENTUKAN PETROLEUM SECARA KIMIA


Pengertian Dasar Minyak dan Gas (Petroleum)
Asal - usul Minyak Bumi dan gas alam berasal dari binatang - binatang laut yang kecil atau pun
besar hidup dilaut dangkal yang selanjutnya mati dan kemudian terendapkan, sehingga dalam
kurun waktu yang lama akan tertutup oleh lapisan yang tebal. Karena pengaruh waktu, tekanan,
temperature yang Tinggi. endapan makhluk hidup tersebut berubah menjadi Petroleum ( minyak
bumi ) MIGAS
Komposisi Minyak Bumi
Minyak bumi hasil pengeboran masih berupa minyak mentah (crude oil) yang kental dan
hitam. Crude oil ini terdiri dari campuran hidrokarbon yaitu:
1. Alkana
Senyawa alkana yang paling banyak ditemukan adalah n-oktana dan isooktana (2,2,4trimetil pentana)
2. Hidrokarbon aromatis
Diantaranya adalah etil benzene
3. Sikloalkana
Antara lain siklopentana dan etil sikloheksana
4. Belerang (0,01-0,7%)
5. Nitrogen (0,01-0,9%)
6. Oksigen (0,06-0,4%)
7. Karbon dioksida [CO2]
8. Hidrogen sulfida [H2S]

Jika dilihat kasar, minyak bumi hanya berisi minyak mentah saja, tapi dalam penggunaan
sehari-hari ternyata juga digunakan dalam bentuk hidrokarbon padat, cair, dan gas lainnya. Pada
kondisi temperatur dan tekanan standar, hidrokarbon yang ringan seperti metana, etana, propana,
dan butana berbentuk gas yang mendidih pada -161.6 C, -88.6 C, -42 C, dan -0.5 C, berturutturut (-258.9, -127.5, -43.6, dan +31.1F), sedangkan karbon yang lebih tinggi, mulai dari
pentana ke atas berbentuk padatan atau cairan. Meskipun begitu, di sumber minyak di bawah
tanah, proporsi gas, cairan, dan padatan tergantung dari kondisi permukaan dan diagram fase dari
campuran minyak bumi tersebut.
Secara Kimiawi
Migas adalah : campuran senyawa hidrokarbon yang multikomponen. Migas dapat berupa
campuran senyawa hidrocarbon paraffinic, napthecnic, atau aromatic ( sangat jarang ). Contoh
campuran senyawa paraffinic yang memiliki komponen utama yaitu : Unsur Carbon ( C ) dan
Hidrogen ( H ), dengan rumus umum senyawa : CnH2n+2.
Beberapa dari jenis golongan paraffinic adalah Methana ( CH4 ), Ethana ( C2H6 ), Propana
( C3H8), Butana ( C4H10), Pentana ( C5H12 ), Hexana ( C6H14 ), Heptana ( C7H16). Tetapi
selai itu terdapat unsur Impuritis atau unsur yang terikut yaitu : Karbon dioksida (CO2), Nitrogen
( N2 ). Hidrogen sulfida ( H2S ). Dari unsur diatas dapat di kelompokan lagi menjadi :
1. Unsur Gas terdiri dari : C1 - C4
2. Unsur Liquid terdiri dari : C5 - C17
3. Unsur padatan : C18 keatas
Minyak Mentah
Yaitu : campuran yang sebagian besar terdiri dari hidrokarbon di golongkan parafin, naptena,
aromatic, serta impuritis. Minyak mentah setiap lapangan sumur memiliki derajat yang berbeda
beda dan kualitas yang berbeda pula tergantung kondisi tempat MIGAS terbentuk.
Presentase Berat Unsur Minyak Mentah
Unsur Presen berat (%)
1. Carbon 84-87
2. Hidrogen 11-14
3. Belerang 0,06 - 2,0
4. Nitrogen 0,1-0,2
5. Oksigen 0,1-2,0
Secara garis besar minyak bumi dapat di rumuskan menurut sifat kimianya yaitu :
1. Senyawa Hidrokarbon Alifatik Rantai Lurus

Senyawa hidrokarbon alifatik rantai lurus biasa disebut alkana atau normal paraffin. Senyawa ini
banyak terdapat dalam gas alam dan minyak bumi yang memiliki rantai karbon pendek.
Contoh : CH3 CH3 dan CH3 CH2 CH3 - etana propana
2. Senyawa Hidrokarbon Bentuk Siklik
Senyawa hidrokarbon siklik merupakan senyawa hidrokarbon golongan sikloalkana atau
sikloparafin. Senyawa hidrokarbon ini memiliki rumus molekul sama dengan alkena (CnH2n),
tetapi tidak memiliki ikatan rangkap dua (hanya memiliki ikatan tunggal seperti alkana) dan
membentuk struktur cincin.
Dalam minyak bumi, antarmolekul siklik tersebut kadang-kadang bergabung membentuk suatu
molekul yang terdiri atas beberapa senyawa siklik.
3. Senyawa Hidrokarbon Alifatik Rantai Bercabang
Senyawa golongan isoalkana atau isoparafin. Jumlah senyawa hidrokarbon ini tidak sebanyak
senyawa hidrokarbon alifatik rantai lurus dan senyawa hidrokarbon bentuk siklik.
4. Senyawa Hidrokarbon Aromatik
Senyawa hidrokarbon aromatik merupakan senyawa hidrokarbon yang berbentuk siklik
segienam, berikatan rangkap dua selang-seling, dan merupakan senyawa hidrokarbon tak jenuh.
Pada umumnya, senyawa hidrokarbon aromatik ini terdapat dalam minyak bumi yang memiliki
jumlah atom C besar.
Gas Alam
Terdiri dari golongan parafin yang mudah menguap C1 - C4. Dapat digolongkan beberpa bentuk
yaitu :
1. Sweat Gas : Gas alam yang tidak/ sedikit mengandung H2S
2. Sour Gas : Gas alam yang mengamdung H2S dalam jumlah besar (bersifat korosif).
3. Dry Gas : Gas alam Yang hanya mengandung Hidrokarbon ringan.
4. Wet Gas : Gas yang banyak mengandung Hidrokarbon berat.
Gas alam sebagian besar terdiri dari metana. Indonesia adalah salah satu penghasil utama gas
alam terutama dari ladang gas Bontang (Kalimantan) dan ladang gas Arun (Aceh). Gas alam
dihasilkan dari sumur-sumur bor. Untuk mempermudah transportasi gas alam dicairkan yang
disebut LNG (Liquefied Natural Gas). Gas alam terutama digunakan sebagai bahan bakar rumah
tangga, maupun pemanas ruangan waktu musim dingin. Disamping itu, gas alam juga berfungsi
sebagai sumber hydrogen dan sebagai bahan dasar untuk berbagai jenis industri.

Sumur minyak sebagian besar menghasilkan minyak mentah, dan terkadang ada juga
kandungan gas alam di dalamnya. Karena tekanan di permukaan Bumi lebih rendah daripada di
bawah tanah, beberapa gas akan keluar dalam bentuk campuran. Sumur gas sebagian besar
menghasilkan gas. Tapi, karena suhu dan tekanan di bawah tanah lebih besar daripada suhu di
permukaan, maka gas yang keluar kadang-kadang juga mengandung hidrokarbon yang lebih
besar, seperti pentana, heksana, dan heptana dalam wujud gas. Di permukaan, maka gas ini akan
mengkondensasi sehingga berbentuk kondensat gas alam. Bentuk fisik kondensat ini mirip
dengan bensin.
Persentase hidrokarbon ringan di dalam minyak mentah sangat bervariasi tergantung dari
ladang minyak, kandungan maksimalnya bisa sampai 97% dari berat kotor dan paling minimal
adalah 50%.
Jenis hidrokarbon yang terdapat pada minyak bumi sebagian besar terdiri dari alkana,
sikloalkana, dan berbagai macam jenis hidrokarbon aromatik, ditambah dengan sebagian kecil
elemen-elemen lainnya seperti nitrogen, oksigen dan sulfur, ditambah beberapa jenis logam
seperti besi, nikel, tembaga, dan vanadium. Jumlah komposisi molekul sangatlah beragam dari
minyak yang satu ke minyak yang lain tapi persentase proporsi dari elemen kimianya dapat
dilihat di bawah ini:
Komposisi elemen berdasarkan berat
Elemen
Rentang persentase
Karbon
83 sampai 87%
Hidrogen
10 sampai 14%
Nitrogen
0.1 sampai 2%
Oksigen
0.05 sampai 1.5%
Sulfur
0.05 sampai 6.0%
Logam
< 0.1%
Ada 4 macam molekul hidrokarbon yang ada dalam minyak mentah. Persentase relatif
setiap molekul berbeda-beda tiap lokasi minyaknya, sehingga menggambarkan ciri-ciri dari
setiap minyak.
Komposisi molekul berdasarkan berat
Hidrokarbon
Rata-rata
Parafin
30%
Naptena
49%

Rentang
15 sampai 60%
30 sampai 60%

Aromatik
Aspaltena

15%
6%

3 sampai 30%
sisa-sisa

Penampakan fisik dari minyak bumi sangatlah beragam tergantung dari komposisinya.
Minyak bumi biasanya berwarna hitam atau coklat gelap (meskipun warnanya juga bisa
kekuningan, kemerahan, atau bahkan kehijauan). Pada sumur minyak biasanya ditemukan juga
gas alam yang mempunyai massa jenis lebih ringan daripada minyak bumi, sehingga biasanya
keluar terlebih dahulu dibandingkan minyak. Dalam campuran itu, terdapat juga air asin, yang
massa jenisnya lebih rendah sehingga berada di lapisan di bawah minyak.
Minyak bumi sebagian besar digunakan untuk memproduksi bensin dan minyak bakar,
keduanya merupakan sumber "energi primer" utama. 84% dari volume hidrokarbon yang
terkandung dalam minyak bumi diubah menjadi bahan bakar, yang di dalamnya termasuk dengan
bensin, diesel, bahan bakar jet, dan elpiji.[11] Minyak bumi yang tingkatannya lebih ringan akan
menghasilkan minyak dengan kualitas terbaik, tapi karena cadangan minyak ringan dan
menengah semakin hari semakin sedikit, maka tempat-tempat pengolahan minyak sekarang ini
semakin meningkatkan pemrosesan minyak berat dan bitumen, diikuti dengan metode yang
makin kompleks dan mahal untuk memproduksi minyak. Karena minyak bumi tyang
tingkatannya berat mengandung karbon terlalu banyak dan hidrogen terlalu sedikit, maka proses
yang biasanya dipakai adalah mengurangi karbon atau menambahkan hidrogen ke dalam
molekulnya. Untuk mengubah molekul yang panjang dan kompleks menjadi molekul yang lebih
kecil dan sederhana, digunakan proses fluid catalytic cracking.
Beberapa ilmuwan menyatakan bahwa minyak adalah zat abiotik, yang berarti zat ini
tidak berasal dari fosil tetapi berasal dari zat anorganik yang dihasilkan secara alami dalam perut
Bumi. Namun, pandangan ini diragukan dalam lingkungan ilmiah.
Kimia

Oktana, hidrokarbon yang ditemukan pada bensin. Garis-garis melambangkan ikatan tunggal,
bola hitam melambangkan karbon, sedangkan bola putih melambangkan hidrogen.
Minyak bumi merupakan campuran dari berbagai macam hidrokarbon, jenis molekul
yang paling sering ditemukan adalah alkana (baik yang rantai lurus maupun bercabang),
sikloalkana, hidrokarbon aromatik, atau senyawa kompleks seperti aspaltena. Setiap minyak
bumi mempunyai keunikan molekulnya masing-masing, yang diketahui dari bentuk fisik dan
ciri-ciri kimia, warna, dan viskositas.
Alkana, juga disebut dengan parafin, adalah hidrokarbon tersaturasi dengan rantai lurus atau
bercabang yang molekulnya hanya mengandung unsur karbon dan hidrogen dengan rumus
umum CnH2n+2. Pada umumnya minyak bumi mengandung 5 sampai 40 atom karbon per
molekulnya, meskipun molekul dengan jumlah karbon lebih sedikit/lebih banyak juga mungkin
ada di dalam campuran tersebut.
Alkana dari pentana (C5H12) sampai oktana (C8H18) akan disuling menjadi bensin, sedangkan
alkana jenis nonana (C9H20) sampai heksadekana (C16H34) akan disuling menjadi diesel, kerosene
dan bahan bakar jet). Alkana dengan atom karbon 16 atau lebih akan disuling menjadi
oli/pelumas. Alkana dengan jumlah atom karbon lebih besar lagi, misalnya parafin wax
mempunyai 25 atom karbon, dan aspal mempunyai atom karbon lebih dari 35. Alkana dengan
jumlah atom karbon 1 sampai 4 akan berbentuk gas dalam suhu ruangan, dan dijual sebagai elpiji
(LPG). Di musim dingin, butana (C 4H10), digunakan sebagai bahan campuran pada bensin,
karena tekanan uap butana yang tinggi akan membantu mesin menyala pada musim dingin.
Penggunaan alkana yang lain adalah sebagai pemantik rokok. Di beberapa negara, propana
(C3H8) dapat dicairkan dibawah tekanan sedang, dan digunakan masyarakat sebagai bahan bakar
transportasi maupun memasak.
Sikloalkana, juga dikenal dengan nama naptena, adalah hidrokarbon tersaturasi yang mempunyai
satu atau lebih ikatan rangkap pada karbonnya, dengan rumus umum C nH2n. Sikloalkana
memiliki ciri-ciri yang mirip dengan alkana tapi memiliki titik didih yang lebih tinggi.
Hidrokarbon aromatik adalah hidrokarbon tidak tersaturasi yang memiliki satu atau lebih cincin
planar karbon-6 yang disebut cincin benzena, dimana atom hidrogen akan berikatan dengan atom

karbon dengan rumus umum CnHn. Hidrokarbon seperti ini jika dibakar maka akan menimbulkan
asap hitam pekat. Beberapa bersifat karsinogenik.
Semua jenis molekul yang berbeda-beda di atas dipisahkan dengan distilasi fraksional di tempat
pengilangan minyak untuk menghasilkan bensin, bahan bakar jet, kerosin, dan hidrokarbon
lainnya. Contohnya adalah 2,2,4-Trimetilpentana (isooktana), dipakai sebagai campuran utama
dalam bensin, mempunyai rumus kimia C8H18 dan bereaksi dengan oksigen secara eksotermik:[14]
2 C8H18(l) + 25 O2(g) 16 CO2(g) + 18 H2O(g) + 10.86 MJ/mol (oktana)
Jumlah dari masing-masing molekul pada minyak bumi dapat diteliti di laboratorium. Molekulmolekul ini biasanya akan diekstrak di sebuah pelarut, kemudian akan dipisahkan di
kromatografi gas, dan kemudian bisa dideteksi dengan detektor yang cocok.[15]
Pembakaran yang tidak sempurna dari minyak bumi atau produk hasil olahannya akan
menyebabkan produk sampingan yang beracun. Misalnya, terlalu sedikit oksigen yang
bercampur maka akan menghasilkan karbon monoksida. Karena suhu dan tekanan yang tinggi di
dalam mesin kendaraan, maka gas buang yang dihasilkan oleh mesin biasanya juga mengandung
molekul nitrogen oksida yang dapat menimbulkan asbut.

Klasifikasi

Sebuah sampel minyak mentah dengan klasifikasi berat medium.


Industri minyak bumi pada umumnya mengklasifikasi minyak mentah berdasarkan lokasi
geografis dimana minyak tersebut diproduksi (misalnya West Texas Intermediate, Brent Blend,
atau Dubai crude), Gravitasi API (sebuah ukuran pada industri minyak mentah untuk
mengklasifikasi minyak berdasarkan massa jenisnya, dan kandungan sulfurnya. Minyak bumi
digolongkan ringan apabila massa jenisnya kecil dan berat apabila massa jenisnya besar. Minyak
bumi juga digolongkan manis apabila kandungan sulfurnya sedikit dan digolongkan asam
apabila kandunga sulfurnya tinggi.
Lokasi geografis merupakan seseatu hal yang penting karena akan mempengaruhi ongkos
transportasi menuju tempat pengilangan. Minyak mentah ringan lebih disukai daripada yang
berat karena menghasilkan bensin lebih banyak, sedangkan minyak mentah manis juga lebih
disukai daripada yang asam karena ongkos pengilangan minyak asam lebih besar (karena kadar
sulfur yang tinggi) dan minyak manis lebih ramah lingkungan. Setiap minyak mentah
mempunyai karakteristik molekulnya sendiri yang dapat dianalisis menggunakan analisis uji
minyak mentah di laboratorium.

DAFTAR PUSTAKA
D. H. Amijaya, Pengantar Geologi Batu bara, Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, hal. 22 (2007).
Vernadsky, Vladimir I., Geochemistry and the Biosphere, America : Synergetic Press (April 1, 2007)

Anonim. https://id.wikipedia.org/wiki/Minyak_bumi, diakses pada tanggal 19 Desember 2015


Ottonello, Gioulio, Principles of Geochemistry, PressNew York : Columbia University
(1997)

Anonim. Biogenic, Chemical and Volcanic sediments.


www.unhas.ac.id/claroline/backends/download, diakses pada tanggal 19 Desember 2015