Anda di halaman 1dari 14

I.

REKAM MEDIK
A. ANAMNESIS UMUM
1. Identifikasi
Nama
:
Umur
:
Suku bangsa
:
Agama
:
Pendidikan
:
Pekerjaan
:
Alamat
:
MRS
Med. Rec.
Register

Ny. A
19 tahun
Melayu
Islam
SLTA
Ibu Rumah Tangga
Dusun II Desa Talang Pangeran Ulu Pemulutan

Barat Ogan Ilir


: 21 Januari 2016 pukul 15.21 WIB
: 933576
: 16002001

2. Riwayat perkawinan
1 kali, lama perkawinan: 1 tahun
3. Riwayat reproduksi
Menarche usia 12 tahun, lama 5 hari, siklus haid 28 hari, teratur.
HPHT : lupa
4. Riwayat Persalinan
1. Hamil ini
5. Riwayat Penyakit/Operasi
Riwayat asma (+)
6. Riwayat Gizi dan Sosial Ekonomi
Sedang
B. ANAMNESIS KHUSUS (Autoanamnesis)
Keluhan utama: Hamil kurang bulan dengan sesak
Riwayat Perjalanan Penyakit:
1 minggu sebelum masuk RS, os mengeluh sesak nafas yang memberat 3
hari SMRS. Batuk (+). Dahak (+), warna hijau. Demam (+). Riwayat perut
mules yang menjalar ke pinggang makin lama makin sering dan kuat (+) tapi
masih jarang, riwayat keluar darah lendir (-), riwayat keluar air-air (-), riwayat
darah tinggi hamil ini (-). Riwayat darah tinggi sebelum kehamilan (-).
Riwayat darah tinggi dalam keluarga (-). Riwayat sakit kepala (-). Riwayat

mual muntah (-). Riwayat nyeri ulu hati (-). Riwayat mata kabur (-). Os selalu
kontrol ke bidan dan tidak ada darah tinggi. Os lalu dirujuk ke RS Ogan Ilir.
Dari RS Ogan Ilir, os dirujuk ke RSMH.

PEMERIKSAAN FISIK
1. Status Present
Tinggi badan
Keadaan umum
Tekanan darah
Nadi

: 153 cm
: sakit sedang
: 170/100 mmHg
: 108 x/mnt

Jantung/paru
Hati/limpa
Payudara
Ekstremitas
Refleks fisiologis
Refleks patologis

Berat badan : 45 kg
Kesadaran : kompos mentis
Pernafasan : 32 x/m
Suhu
: 37,5 oC

: dalam batas normal


: dalam batas normal
: hiperpigmentasi +/+
: edema pretibial -/: +N/+N
: -/-

2. Status Obstetri
Periksa luar

: Tinggi fundus uteri 2 jari atas pusat


(24 cm), memanjang, puki, kepala, u 3/5, his (-)
djj: 156x/m

Inspekulo

: tidak dilakukan

Periksa dalam

: portio lunak, medial, eff 50%,


kuncup, kepala, HI-II, ketuban dan penunjuk belum
dapat dinilai

3. Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium (21 Januari 2016, pukul 16.56 WIB)
Darah rutin : Hb 12,2 g/dl, leukosit 17.600/mm3, trombosit 394.000/mm3.
SGOT 36 U/l, SGPT 24 U/l, LDH 715 U/l, asam urat 11,5 mg/dL
Urinalisa
Protein ++, Keton ++

D. DIAGNOSIS
G1P0A0 hamil 30 minggu belum inpartu dengan PEB + dispnea ec susp PPHD
dd pneuomonia JTH preskep + partial HELLP syndrome + oligohidramnion
E. PROGNOSIS
Ibu: dubia
Janin: dubia
i.

PENATALAKSANAAN
-

Observasi tanda vital ibu, his, djj


O2 10 l/m NRM
IVFD RL gtt xx/m
Inj. Ceftriaxone 1 g/ 12 jam IV (ST)
Konsul PDL dan mata
Rencana terminasi perabdominam
Kateter menetap
Cek labor darah rutin, cross match, kimia darah, urin rutin
Lapor konsulen DPJP konsul sub divisi

(Dr.H.Nuswil B,Sp.OG(K))
Saran Dr.H.Nuswil B,Sp.OG(K) terminasi setelah KU membaik

fetomaternal

MATA
A:
Saat ini tidak ditemukan tanda-tanda retinopati atau koroidopati hipertensi
P:
Regulasi TD sesuai TS Obgyn
PDL
A:
- Edema paru akut ec PPHD
- Hipertensi stage II
P:
- Furosemide 1x20 mg IV, pantau urine outpuit 1 jam I
- Digoxin 1x tab po
- Cek darah rutin, darah kimia

Barcode
Nama Pasien
Usia
No. RM

: Ny. Asiah binti Rusli


: 19 tahun
: 933576

Ruangan/Poli: Kebidanan
Ruang Operasi: OK Emergency
Cito/Elektif: Cito
Tanggal Operasi : 21-01-2016
DPJP :
Asisten I:
Perawat Instrumen:
Dr. H. Patiyus Agustiansyah, SpOG (K)
Dr. Ronny Adrian
Fajar, AM.Kep
Operator :
Asisten II:
Dr. Surya Andri Antara
Dr. Aripin Syarifudin
Nama Dokter Anestesi:
Jenis Anestesi:
Dr. Andi Miarta, SpAn
General Anestesi
Diagnosa Prabedah:
Indikasi Operasi:
G1P0A0 hamil 30 minggu belum inpartu dengan PEB + Dyspneu ec PPHD NYHA IV
dyspneu ec PPHD NYHA IV JTH preskep
Diagnosa Pascabedah
Jenis Operasi :
P1A0 post SSTP a.i. dyspneu ec PPHD NYHA IV
Seksio Sesaria Transperitoneal Profunda
Desinfeksi Kulit dengan :
Povidon iodine + alkohol 70 %
Waktu operasi:
Mulai operasi
Selesai operasi
Pukul 21.25 WIB
Pukul 22.10WIB
Cara Approach (bila perlu dengan gambar)
Mediana

Jaringan yang diambil:


Dikirim ke P A : ya/tidak
Jenis bahan yang dikirim ke laboratorium untuk
pemeriksaan:
Lama Operasi
45 menit
Posisi penderita (bila perlu dengan gambar)
Supine

Kelainan yang ditemukan dengan gambar (laporan lengkap lihat di sebelah)

Laporan operasi lengkap (riwayat perjalanan operasi yang terperinci dan lengkap)
Pukul 21.25 WIB Operasi dimulai.

Penderita dalam posisi terlentang dalam keadaan general anestesi. Dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik pada
daerah operasi dan sekitarnya. Lapangan operasi dipersempit dengan doek steril. Dilakukan insisi mediana 2 jari atas
simfisis sampai 2 jari bawah pusat. Kemudian insisi diperdalam secara tajam dan tumpul sampai menembus peritoneum.
Setelah peritoneum dibuka tampak uterus sesuai kehamilan aterm. Diputuskan untuk melakukan SSTP dengan cara:
Insisi SBR semiluner + 5 cm sampai menembus cavum uteri kemudian diperlebar ke lateral secara tumpul.
Ketuban cukup, jernih, bau (-).
Bayi dilahirkan dengan cara meluksir kepala
Pukul 21.30 WIB Lahir neonatus hidup perempuan , BB 1400 g, PB 41 cm, AS 3/5/8 PTAGA
Pukul 21.35 WIB Plasenta lahir lengkap, BP 230g, PTP 42 cm, ukuran 14x15 cm.
Dilakukan pembersihan kavum uteri dengan kassa bethadine. Kemudian dilanjutkan penjahitan dengan cara sebagai
berikut:
SBR dijahit secara jelujur dengan PGA no. 1
Perdarahan dirawat sebagaimana mestinya
Pencucian cavum abdomen dengan NaCl 0.9%
Setelah cavum abdomen diyakini bersih dan tidak ada perdarahan, dilakukan observasi kontraksi uterus setelah diyakini
kontraksi uterus baik dilanjutkan penutupan dinding abdomen lapis demi lapis dengan cara sebagai berikut :
Peritoneum dijahit secara jelujur dengan plain cat gut no.2.0
Otot dijahit secara jelujur dengan plain cat gut no.2.0
Fascia dijahit secara jelujur feston dengan PGA no.1
Subkutis dijahit secara satu-satu dengan plain cat gut no. 2.0
Kutis dijahit secara jelujur subkutikuler dengan PGA no3.0
Pukul 22.10 WIB Operasi selesai.
Cairan masuk
RL
Darah :
Total
Diagnosis pra bedah

Diagnosis pasca bedah :


Tindakan
:

:
:
:
:

250

Cc

250

Cc

Cairan Keluar
Urine
Darah
Total

:
:
:

100
100
200

Cc
Cc
cc

G1P0A0 hamil 30 minggu belum inpartu dengan PEB + dyspneu ec PPHD NYHA IV JTH
preskep
P1A0 post SSTP a.i. dyspneu ec PPHD NYHA IV
Seksio sesaria transperitonialis profunda

Instruksi pascabedah:
1 Pantau nadi/tensi/pernafasan/suhu: tiap jam
2. Cek Hb post operasi
3. Diet total parenteral
4. Infus: RL + oksitosin 20 IU gtt xx/m (s.d 24 jam post
Operasi)
5. Kateter menetap, catat I/O (s.d 24 jam post operasi)

6. Mobilisasi bertahap
7. Obat-obatan :
Inj. Ceftriaxon 1 gr / 12 jam IV
Inj. Asam traneksamat 500 mg / 8 jam IV
Inj. Tramadol 100 mg / 8 jam IV
Metildopa 250mg/ 8 jam p.o
8. Rawat ICU

Operator

Pembuat laporan

Dr. Surya Andri Antara

Dr. Iman Ruansa

ii.

FOLLOW UP

Tgl/Pukul

Pemeriksaan fisik

Penatalaksanaan

21-01-2016
22.00 WIB

S: Kel: Hamil operasi melahirkan


O: St. Present:
KU: sakit sedang Sens: cm
TD: 120/80 mmHg N: 104 x/m,
RR: 20 x/m
T: 380C
St. Obstetri:
PL : FUT 2 jari bawah pusat,
kontraksi uterus baik,
vulva tenang, perdarahan
aktif (-), lokia + rubra, luka
operasi tenang
A/ P1A0 post SSTP ai PPHD NYHA
IV + oligohidramnion

- Observasi tanda vital ibu,


kontraksi, perdarahan
- Diet biasa setelah sadar penuh
- IVFD RL + oksitosin 20 IU gtt
xx/m sampai dengan 24 jam I
post operasi
- Cek Hb post SC, bila Hb<8,
transfuse
- ASI on demand
- Kateter menetap, catat inputoutput
- Mpbilisasi bertahap
- Inj. Ceftriaxone 1g/ 12 jam IV
- Inj. Tramadol 1 amp/ 8 jam IV
- Inj. Asam tranexamat 1 amp/ 8
jam IV

22-01-2016

Anastesi
A:
Post section sesarea dengan GA
intubasi
P:
Perawatan post op ke ICU
Laboratorium (22 Januari 2016 00.20) :
Darah rutin
Hb 12,5 g/dL, Leukosit 17.600/ mm3, Hct 41% (n:43-49), Plt 418.000
Faal hemostasis
PT 13 detik (n:12-18), INR 1, APTT 28,1 detik (n:27-42), fibrinogen 658
mg/dL (n:200-400), D-dimer 5,04 (n:<0,5)
Ca 9,6 mg/dL(n:9,2-11), P 6,2 mg/dL(n:2,5-5), K 6,1 mEq/l (n:3,5-5,5),
Chlorida 109 mmol/l (n:96-106), Mg 2,03 mEq/l (n:1,3-1,8)
AGD

pH 7,50(n:7,35-7,45), pCO2 72 mmHg (n:35-45), pO2 166,1 mmHg(n:83108)


SGOT 44 U/l, SGPT 31 U/l, Albumin 4,1 g/dL (n:3,5-5), LDH 629 U/l,

22-01-2016
06.00 WIB
Prima (ICU)

23-01-2016

23-01-2016
06.00 WIB
Prima (ICU)

24-01-2016

Laboratorium (22 Januari 2016 13.42) :


AGD
pH 7,377, pCO2 42,6 mmHg, pO2 188,5 mmHg
S: Kel: habis operasi melahirkan
- Observasi tanda vital ibu,
O: St. Present:
perdarahan
KU: sakit berat Sens: DPO
- IVFD RL gtt xx/m
TD: 100/68 mmHg N: 109 x/m,
- Kateter menetap, catat inputRR: 19 x/m (intubasi) T: 36
output
St.obstetris
- Inj. Ceftriaxone 1g/12 jam IV
PL: fut 2 jbpst, kontraksi baik, - Inj. Asam tranexamat 1 amp/8jam
perdarahan aktif -, lokia + rubra,
IV
vulva tenang
- Metildopa tab 250 mg/ 8 jam po
A/ P1A0 post SSTP ai PEB + PPHD - Inj. Dexamethasone 10 mg/ 12
jam IV
NYHA IV + partial HELLP
Terapi lain sesuai TS ICU
syndrome
Laboratorium (23 Januari 2016 11.19) :
Darah rutin
Hb 10,9 g/dL, Leukosit 15.000/ mm3, Hct 34% (n:43-49), Plt 338.000
Albumin 3,4 g/dL (n:3,5-5), kreatinin 0,49 mg/dL (n:0,5-0,9), Ca 9
mg/dL(n:9,2-11), K 3,2 mEq/l (n:3,5-5,5), Chlorida 110 mmol/l (n:96-106)
AGD
pH 7,410(n:7,35-7,45), pCO2 44,9 mmHg (n:35-45), pO2 101,4
mmHg(n:83-108)
S: Kel: habis operasi melahirkan
- Observasi tanda vital ibu,
O: St. Present:
perdarahan
KU: sakit berat Sens: DPO
- IVFD ringerfudin gtt xx/m
TD: 118/74 mmHg N: 141 x/m,
- Kateter menetap, catat inputRR: 24 x/m
T: 36,1
output
St.obstetris
- Inj. Ceftriaxone 1g/12 jam IV
PL: fut 2 jbpst, kontraksi baik, - Inj. Dexamethasone 10 mg/ 12
perdarahan aktif -, lokia + rubra,
jam IV
vulva tenang
- Terapi lain sesuai TS ICU
A/ P1A0 post SSTP ai PEB + PPHD
NYHA IV + partial HELLP
syndrome hari I
Laboratorium (24 Januari 2016 11.00) :
Darah rutin
Hb 9,9 g/dL, Leukosit 13.500/ mm3, Hct 30% (n:43-49), Plt 345.000
SGOT 21 U/l, SGPT 24 U/l, Albumin 3,1 g/dL (n:3,5-5), LDH 444 U/l,
Ureum 30 mg/dL (n:16,6-48,5), kreatinin 0,38 mg/dL (n:0,5-0,9), Asam

24-01-2016
06.00 WIB
Prima (ICU)

25-01-2016

25-01-2016
06.00 WIB
Prima (ICU)

26-01-2016
06.00 WIB
Prima (ICU)

27-01-2016

urat 3 mg/dL (n:<5,7), Ca 8,9 mg/dL(n:9,2-11), K 3,3 mEq/l (n:3,5-5,5),


Chlorida 109 mmol/l (n:96-106), Mg 1,94 mEq/l (n:1,3-1,8)
AGD
pH 7,430(n:7,35-7,45), pCO2 43,7 mmHg (n:35-45), pO2 162,2
mmHg(n:83-108)
S: Kel: habis operasi melahirkan
- Observasi tanda vital ibu,
O: St. Present:
perdarahan
KU: sakit berat Sens: DPO
- IVFD ringerfudin gtt xx/m
TD: 120/77 mmHg N: 72 x/m,
- Kateter menetap, catat inputRR: 28 x/m
T: Afebris
output
St.obstetris
- Inj. Ceftriaxone 1g/12 jam IV
PL: fut 2 jbpst, kontraksi baik, - Inj. Dexamethasone 10 mg/ 12
perdarahan aktif -, lokia + rubra,
jam IV
vulva tenang
- Terapi lain sesuai TS ICU
A/ P1A0 post SSTP ai PEB + PPHD
NYHA IV + partial HELLP
syndrome hari II
Laboratorium (25 Januari 2016 10.59) :
Darah rutin
Hb 10,6 g/dL, Leukosit 13.400/ mm3, Hct 34% (n:43-49), Plt 406.000
Ca 9,1 mg/dL(n:9,2-11), K 3,4 mEq/l (n:3,5-5,5), Chlorida 110 mmol/l
(n:96-106),
S: Kel: habis operasi melahirkan
- Observasi tanda vital ibu,
O: St. Present:
perdarahan
KU: sakit berat Sens: E4M6VT
- IVFD ringerfudin gtt xx/m
TD: 120/77 mmHg N: 82 x/m,
- Cek labor darah rutin, kimia
RR: 28 x/m
T: Afebris
darah
St.obstetris
- Kateter menetap, catat inputPL: fut 2 jbpst, kontraksi baik,
output
perdarahan aktif -, lokia + rubra, - Inj. Ceftriaxone 1g/12 jam IV
vulva tenang
- Inj. Dexamethasone 5mg/ 12 jam
A/ P1A0 post SSTP ai PEB + PPHD
IV
Terapi lain sesuai TS ICU
NYHA IV hari IV
S: Kel: habis operasi melahirkan - Observasi tanda vital ibu,
dengan sesak nafas
perdarahan
- IVFD ringerfudin gtt x/m
O: St. Present:
- Cek labor darah rutin, kimia
KU: sakit berat Sens: cm
TD: 90/44 mmHg N: 82 x/m,
darah
RR: 20 x/m
T: Afebris
- Kateter menetap, catat inputA/ P1A0 post SSTP ai PEB + asma
output
Inj. Dexamethasone 5mg/ 12 jam
bronkhiale eksaserbasi akut +
IV
partial HELLP syndrome hari V
- Terapi lain sesuai TS ICU
S: Kel: habis operasi melahirkan - Observasi tanda vital ibu,

10

06.00 WIB
Prima (ICU)

II.

dengan sesak nafas


O: St. Present:
KU: sakit berat Sens: cm
TD: 97/60 mmHg N: 88 x/m,
RR: 18 x/m
T: 36,70C
A/ P1A0 post SSTP ai PEB + asma
bronkhiale eksaserbasi akut hari VI

perdarahan
- IVFD ringerfudin gtt x/m
- Cek labor darah rutin, kimia
darah
- Kateter menetap, catat inputoutput
- Inj. Dexamethasone 5mg/ 12 jam
IV
- Inj. Cefepime 1g/ 8 jam IV
- Inj omeprazole 40 mg/ 24 jam IV
- Salbutamol 3x4 mg

PERMASALAHAN
A. Bagaimanakah menegakkan diagnosa PPHD?
B. Apakah penatalaksanaan pada pasien ini sudah tepat?

III.ANALISIS KASUS
A. Bagaimanakah menegakkan diagnosa PPHD?
PPHD (Peripartum Heart Disease) dikenal juga dengan nama peripartum
kardiomyopati. Peripartum kardiomyopati didefinisikan sebagai kegagalan
jantung dengan ejection fraction dari ventrikel kiri < 45% yang terjadi pada
1 bulan terakhir kehamilan sampai 5 bulan setelah persalinan, dalam situasi
dimana tidak didapatkan penyebab lain dari kegagalan jantung.

11

Penyakit ini merupakan penyakit yang jarang terjadi, terjadi dalam 1 :


3.000-15.000 kehamilan. Patogenesisnya belum dipahami secara jelas, akan
tetapi

beberapa bentuk miokarditis, bisa saja oleh viral, telah

dipostulasikan.1 Beberapa ahli juga menyebutkan bahwa ada faktor autoimun


juga yang berperan dalam penyakit ini.1,2,3
Luaran fetal baik, seperti yang bisa diduga pada kondisi dimana tidak timbul
gejala sampai akhir dari trimester ketiga. Akan tetapi, terdapat peningkatan
insiden prematuritas dan BBLR yang mengisyaratkan bahwa proses
patologis yang mendasarinya telah berlangsung sebelum munculnya gejala
pada ibu.5 Angka kematian maternal mencapai 20%. Faktor resiko penyakit
ini meliputi usia >30 tahun, multiparitas, kehamilan ganda, dan pada 50%
wanita dimana terjadi persistensi dari dilatasi dan disfungsi ventrikel kiri. 6
Penyakit ini juga banyak dijumpai pada ras Afrika, dan belakangan penyakit
ini juga dihubungkan dengan terapi tokolitik menggunakan mimetik dan
penyalahgunaan kokain7,8
Terapi yang dilakukan serupa dengan bentuk-bentuk kardiomyopati lain
dengan fungsi sistolik ventrikel yang terganggu.
Tantangan utama bagi kardiologis adalah penilaian dari resiko
pengulangan kembali penyakit ini pada pasien pada kehamilan berikutnya.
Jika fungsi ventrikel kiri secara persisten abnormal selama satu tahun setelah
persalinan, resiko kematian maternal pada kehamilan berikutnya sekitar
20%. Jika fungsi ventrikel kiri benar-benar kembali normal, resiko kematian
maternal pada kehamilan berikutnya mungkin kecil; bagaimanapun, ada
resiko yang cukup berarti dari pengulangan kembali terjadinya gagal jantung
simptomatik dan gangguan permanen fungsi ventrikel kiri pada setiap
kehamilan berikutnya
Diagnosis peripartum kardiomyopati merupakan diagnosis eksklusi,
yang dibuat setelah pemeriksaan secara mendalam untuk mencari penyebab

12

yang mendasarinya.9 Klinisi berasumsi bahwa masalah-masalah lain yang


terjadi saat kehamilan aterm atau setelah persalinan, seperti overload
volume, hipertensi dengan disfungsi sistolik, dan sepsis, tidak didapatkan.
Kajian dari berbagai literatur menunjukkan bahwa penegakkan diagnosis
pada penyakit ini bervariasi, seringkali dibuat hanya semata-mata
berdasarkan bukti klinis, sedangkan prognosis dan perjalanan penyakit
didasarkan murni pada penilaian kualitatif. Usaha untuk menggunakan
biopsi endomyokardial untuk diagnosis dan prognosis yang lebih spesifik
menunjukkan hasil yang mengecewakan, menunjukkan bukti nonspesifik
dari hipertrofi myofiber, degenerasi dan fibrosis7. Teknologi noninvasif yang
lebih baru dan lebih mudah tersedia memungkinkan definisi yang bisa
dimodifikasi, yang tidak hanya berdasarkan pada temuan klinis, tetapi juga
berdasarkan suatu set kriteria ekokardiografik yang ketat dan memungkinkan
suatu diagnosis yang lebih definitif dari peripartum kardiomyopati.7
Berdasarkan penjelasan di atas, pasien ini sudah dapat ditegakkan diagnosa
PPHD, dinilai dari klinis, dimana didapatkan tanda kegagalan jantung yaitu
adanya edema paru akut. Dimana penyebab-penyebab lain dari kegagalan
jantung seperti yang telah dijelaskan sebelumnya yaitu volume overload,
hipertensi dengan disfungsi sistolik, dan sepsis yang tidak ditemukan pada
pasien ini, sedangkan PPHD merupakan diagnosis eksklusi. Oleh karena itu,
diagnosis PPHD pada pasien ini bisa ditegakkan.
B. Apakah penatalaksanaan pada pasien ini sudah tepat?
Waktu terminasi, manajemen, dan cara terminasi pada wanita dengan
penyakit jantung tergantung pada status fungsionalnya pada akhir
kehamilan dan pada kondisi spesifik penyakit jantung yang dideritanya.
Waktu terminasi didasarkan pada status fungsional sebagai respons
terhadap perubahan kardiovaskuler pada akhir kehamilan, kecenderungan

13

status fungsional, status dari fetus pada pemeriksaan kesejahteraan janin,


dan kemungkinan terapi lebih lanjut yang dapat mengatasi tanda
dekompensasi untuk memungkinkan kehamilan bisa dipertahankan.
Untuk wanita dengan penyakit jantung, pengakhiran persalinan
sebaiknya direncanakan saat semua anggota tim bisa hadir. Ini terutama
berlaku untuk wanita dengan fungsional NYHA III atau IV. Metode
terminasi yang optimal seharusnya dipertimbangkan orang per orang.
Partus pervaginam bisa dipertimbangkan pada kebanyakan pasien, dan
berhubungan dengan resiko perdarahan, infeksi, dan edema paru yang lebih
rendah, dan juga pemulihan postpartum yang lebih mudah dibandingkan
dengan SC. Wanita dengan kecurigaan diseksi aorta, adanya dilatasi aorta,
atau penyakit jantung katup yang berat yang membutuhkan perbaikan
segera mungkin lebih baik diterminasi perabdominam.
Pada pasien ini, keputusan terminasi perabdominam sudah tepat, dimana
pasien dengan fungsional NYHA III, yang akan mendapatkan keuntungan
yang lebih besar dari terminasi perabdominam. Hal ini bisa dilihat dari
keadaan pasien yang makin membaik, dan saat ini pasien sudah dirawat di
ruang perawatan biasa.
IV. SIMPULAN
PPHD (Peripartum Heart Disease) dikenal juga dengan nama peripartum
kardiomyopati. Peripartum kardiomyopati didefinisikan sebagai kegagalan
jantung dengan ejection fraction dari ventrikel kiri < 45% yang terjadi pada 1
bulan terakhir kehamilan sampai 5 bulan setelah persalinan, dalam situasi dimana
tidak didapatkan penyebab lain dari kegagalan jantung. Diagnosis peripartum
kardiomyopati merupakan diagnosis eksklusi, yang dibuat setelah pemeriksaan
secara mendalam untuk mencari penyebab yang mendasarinya. Pada pasien ini,
keputusan terminasi perabdominam sudah tepat, dimana pasien dengan fungsional
NYHA III, yang akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari terminasi

14

perabdominam. Hal ini bisa dilihat dari keadaan pasien yang makin membaik, dan
saat ini pasien sudah dirawat di ruang perawatan biasa.
V.

RUJUKAN
1. Person GD, Veille JC, Rahimtoola S, et al. Peripartum cardiomyopathy.National Heart, Lung
and Blood Institute and Office of rare diseases. (National Institute of Health) workshop
recommendations and review. JAMA 2000;283:11838..
2. Brown CS, Bertolet B. Peripartum cardiomyopathy: a comprehensive review. Am J Obstet
Gynecol 1998;178:40914.
3. OConnell JB, Costanzo-Nordin MR, Subramanian, et al. Peripartum cardiomyopathy:
clinical, hemodynamic, histologic and prognostic characteristics. J Am Coll Cardiol
1986;8:526.
4. Midei MG, DeMent SH, Feldman AM, Hutchins GM, Baughman KL. Peripartum
myocarditis and cardiomyopathy. Circulation 1990;81:922 8.
5. Obstet Gynecol 1999;94:311 6. 1999 by The American College of Obstetricians and
Gynecologists.).
6. Veille JC. Peripartum cardiomyopathies: a review. Am J Obstet Gynecol 1984;148:80518.
7. Lampert MB, Hibbard J, Weinert L, Briller J, Lindheimer M, Lang RM. Peripartum heart
failure associated with prolonged tocolytic therapy. Am J Obstet Gynecol 1993;168:493
5.7. Giannakopoulos B et al. Current concepts on the pathogenesis of the antiphospholipid
syndrome. 2007;109:422-30.