Anda di halaman 1dari 23

Ujian Kasus

Eritroderma

Tri Rahayu Marbaniati


11310381
Pembimbing : dr. Arif Effendi, Sp.KK

SMF ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


RS PERTAMINA BINTANG AMIN
UNIVERSITAS MALAHAYATI
BANDAR LAMPUNG
2016

KASUS UJIAN

Identitas

Nama

: Ny. W

Usia

: 70 tahun

Jenis Kelamin

Pekerjaan

Alamat

: Natar

Agama

: Islam

: Perempuan

: Ibu Rumah Tangga

Anamnesa
Autoanamnesis pada tanggal 16 Februari 2016 pukul: 13.00 wib

Keluhan Utama
Timbul bercak kemerahan dan kulit mengelupas di kedua tangan,
badan dan kedua kaki

Keluhan Tambahan
Terasa gatal dan panas

Riwayat Perjalanan Penyakit


Pasien Ny. W usia 70 tahun datang ke poli kulit dengan
keluhan timbul bercak kemerahan dan kulit mengelupas di kedua
tangan, badan dan kedua kaki sejak 1 bulan yang lalu. Pada
awalnya pasien merasakan timbul bercak kemerahan pada tangan
kiri saja, lama kelamaan bercak tersebut menyebar kebagian tangan

kanan, badan dan kedua kaki. Pasien juga mengeluh bercak-bercak


tersebut terasa gatal dan panas. Karena terasa gatal pasien
menggaruk sampai luka sehingga kulit mengelupas. Tidak ada
keluarga pasien yang menderita penyakit seperti ini. Riwayat
demam (+), menggigil (+), maagh (+). Sebelumnya pasien sudah
berobat ke puskesmas dan diberi obat minum serta salep tetapi
tidak ada perbaikan.

Riwayat Penyakit Dahulu


Maagh

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada

Riwayat Pengobatan
Sudah berobat ke puskesmas tetapi tidak ada perbaikan

Riwayat Alergi Obat


Tidak ada

Status Generalis
Keadaan Umum

: Baik

Kesadaran

: Compos mentis

Tanda vital
a. Tekanan darah : Tidak dilakukan
b. Nadi

: Tidak dilakukan

c. RR

: Tidak dilakukan

d. Suhu

: Tidak dilakukan

Kepala
Mata : tidak ada kelainan
THT

: tidak ada kelainan

Mulut : tidak ada kelainan


Leher : tidak ada kelainan
Thoraks

: tidak ada kelainan

Abdomen : tidak ada kelainan


Ekstremitas
KGB

: tidak ada kelainan

: tidak ada kelainan

Status Dermatologis

Regio Extremitas Superior

Efloresensi

Primer : Makula eritema

Sekunder : Deskuamasi

Sifat UKK

Susunan / bentuk : irregular

Penyebaran dan lokalisasi :

sirkumskrip, generalisata

Regio Extremitas Inferior

Efloresensi

Primer : Makula eritema, plak hiperpigmentasi

Sekunder : Skuama kasar, sebagian ekskoriasi, dan sedikit


likenifkasi

Sifat UKK

Ukuran : plakat

Susunan / bentuk : irregular

Penyebaran dan lokalisasi :

sirkumskrip, generalisata

Pemeriksaan Laboratorium

Tidak dilakukan

Resume
Pasien Ny. W usia 70 tahun datang ke poli kulit dengan keluhan
timbul bercak kemerahan dan kulit mengelupas di kedua tangan, badan
dan kedua kaki sejak 1 bulan yang lalu. Pada awalnya pasien merasakan
timbul bercak kemerahan pada tangan kiri saja, lama kelamaan bercak
tersebut menyebar kebagian tangan kanan, badan dan kedua kaki. Pasien
juga mengeluh bercak-bercak tersebut terasa gatal dan panas. Karena
terasa gatal pasien menggaruk sampai luka sehingga kulit mengelupas.
Tidak ada keluarga pasien yang menderita penyakit seperti ini. Riwayat
demam (+), menggigil (+), maagh (+). Status dermatologisnya pada regio
extremitas superior makula eritema dengan deskuamasi sedangkan pada
regio extremitas inferior makula eritema, plak hiperpigmentasi, skuama
kasar, sebagian ekskoriasi, dan sedikit likenifkasi.

Diagnosa Banding

Eritroderma

Dermatitis Atopi

Dermatitis Seboroik

Psoriasis

Diagnosa Kerja

Eritroderma

Tatalaksana

Non Medikamentosa
-Memperhatikan kebersihan badan
-Hindari menggaruk di tempat lesi
-Mandi dengan menggunakan sabun bayi
-Minum banyak air putih

Medikamentosa
Sistemik
Loratadin tab 10 mg 1x1 pc
Metil Prednisolon tab 4 mg 2x1 pc
Ranitidin tab 150 mg 1x1 ac
Topikal
Desoximethason 0,25 % 5 gr
Carmed 10 % 20 gr

Pemeriksaan Anjuran

Pemeriksaan Laboratorium

Biopsi kulit

Prognosis

Quo ad vitam

: ad bonam

Quo ad fungtionam

: ad bonam

Quo ad sanationam

: dubia ad bonam

TINJAUAN PUSTAKA

Definisi
Eritroderma berasal dari bahasa yunani, yaitu erythro- (red =
merah) + derma, dermatos (skin = kulit), merupakan kelainan kulit yang
ditandai dengan adanya eritema di seluruh tubuh atau hampir seluruh
tubuh, dan biasanya disertai skuama. Pada beberapa kasus skuama tidak
selalu ditemukan, misalnya pada eritroderma yang disebabkan oleh alergi
obat secara sistemik, pada mulanya tidak disertai skuama. Eritroderma
ialah kelainan kulit yang ditandai dengan adanya eritema universalis
(90%-100%). Eritroderma adalah gambaran kelainan inflamasi pada kulit
berupa eritema pada lebih dari 90% permukaan tubuh. Bila eritemanya
antara 50-90% dinamakan pre- eritroderma. Pada eritroderma yang kronik
eritema tidak begitu jelas, karena bercampur dengan hiperpigmentasi.
Sedangkan skuama adalah lapisan stratum korneum yang terlepas dari
kulit. Skuama mulai dari halus sampai kasar.

Epidemiologi
Insidens eritroderma sangat bervariasi, menurut penelitian dari 0,9-70 dari 100.000
populasi. Penyakit ini dapat mengenai pria ataupun wanita namun paling sering pada pria
dengan rasio 2 : 1 sampai 4 : 1, dengan onset usia rata-rata > 40 tahun, meskipun
eritroderma dapat terjadi pada semua usia. Insiden eritroderma makin bertambah.
Penyebab utamanya adalah psoriasis. Hal tersebut seiring dengan meningkatnya insidens
psoriasis.
Penyakit kulit yang sedang diderita memegang peranan penting lebih dari setengah
kasus dari eritroderma. Identifikasi psoriasis mendasari penyakit kulit lebih dari seperempat
kasus. Didapatkan laporan bahwa terdapat 87 dari 160 kasus adalah psoriasis berat.
Anak-anak bisa menderita eritroderma diakibatkan alergi terhadap obat. Alergi
terhadap obat bisa karena pengobatan yang dilakukan sendiri ataupun penggunaan obat
secara tradisional.

Etiologi
Eritroderma dapat disebabkan oleh akibat alergi obat secara sistemik, perluasan
penyakit kulit, penyakit sistemik termasuk keganasan. Penyakit kulit yang dapat
menimbulkan eritroderma diantaranya adalah psoriasis 23%, dermatitis spongiotik 20%,
alergi obat 15%, CTCL atau sindrom sezary 5%.
a.

Eritroderma yang disebabkan oleh alergi obat secara sistemik


Keadaan ini banyak ditemukan pada dewasa muda. Obat yang dapat menyebabkan

eritroderma adalah arsenik organik, emas, merkuri (jarang), penisilin, barbiturat. Pada
beberapa masyarakat, eritroderma mungkin lebih tinggi karena pengobatan sendiri dan
pengobatan secara tradisional. Waktu mulainya obat ke dalam tubuh hingga timbul
penyakit bervariasi dapat segera sampai 2 minggu. Gambaran klinisnya adalah eritema
universal. Bila ada obat yang masuk lebih dari satu yang masuk ke dalam tubuh diduga
sebagai penyebabnya ialah obat yang paling sering menyebabkan alergi.

b.

Eritroderma yang disebabkan oleh perluasan penyakit kulit


Eritroderma et causa psoriasis, merupakan eritroderma yang paling
banyak ditemukan dan dapat disebabkan oleh penyakit psoriasis maupun akibat
pengobatan psoriasis yang terlalu kuat.
Dermatitis seboroik pada bayi juga dapat menyebabkan eritroderma yang
juga dikenal penyakit Leiner. Etiologinya belum diketahui pasti. Usia penderita
berkisar 4-20 minggu. Ptyriasis rubra pilaris yang berlangsung selama beberapa
minggu dapat pula menjadi eritroderma. Selain itu yang dapat menyebabkan
eritroderma adalah pemfigus foliaseus, dermatitis atopik dan liken planus.

c.

Eritroderma akibat penyakit sistemik


Berbagai penyakit atau kelainan alat dalam termasuk infeksi fokal dapat
memberi kelainan kulit berupa eritroderma. Jadi setiap kasus eritroderma yang tidak
termasuk akibat alergi obat dan akibat perluasan penyakit kulit harus dicari
penyebabnya, yang berarti perlu pemeriksaan menyeluruh (termasuk pemeriksaan

laboratorium dan sinar X toraks), untuk melihat adanya infeksi penyakit pada alat
dalam dan infeksi fokal. Ada kalanya terdapat leukositosis namun tidak ditemukan
penyebabnya, jadi terdapat infeksi bakterial yang tersembunyi (occult infection) yang
perlu diobati.
Harus lebih diperhatikan komplikasi sistemik akibat eritroderma seperti;
Hipotermia, edema perifer, dan kehilangan cairan, dan albumin dengan takikardia dan
kelainan jantung

harus

mendapatkan

perawatan

yang

serius.

Pada

eritroderma

kronik dapat mengakibatkan kakeksia, alopesia, palmoplantar keratoderma, kelainan pada


kuku and ektropion.

Patofisiologi
Mekanisme terjadinya eritroderma belum diketahui dengan jelas. Patogenesis
eritroderma berkaitan dengan patogenesis penyakit yang mendasarinya, dermatosis yang
sudah ada sebelumnya berkembang menjadi eritroderma, atau perkembangan eritroderma
idiopatik de novo tidaklah sepenuhnya dimengerti. Penelitian terbaru imunopatogenesis
infeksi yang dimediasi toxin menunjukkan bahwa lokus patogenesitas stapilococcus
mengkodekan superantigen. Lokus-lokus tersebut mengandung gen yang mengkodekan
toxin dari toxic shock syndrome dan staphylococcal scalded-skin syndrome. Kolonisasi
staphylococcus aureus atau antigen lain merupakan teori yang mungkin saja seperti toxic
shock syndrome toxin-1, mungkin memainkan peranan pada patogenesis eritroderma.
Pasien-pasien pada dengan eritroderma biasanya mempunyai kolonisasi S.aureus sekitar
83%, dan pada kulit sekitar 17%, bagaimanapun juga hanya ada satu dari 6 pasien memiliki
toxin S.aureus yang positif.
Dapat diketahui bahwa akibat suatu agen dalam tubuh baik itu obat-obatan,
perluasan penyakit kulit dan penyakit sistemik maka tubuh beraksi berupa pelebaran
pembuluh darah kapiler (eritema) yang generalisata. Eritema berarti terjadi pelebaran
pembuluh darah yang menyebabkan aliran darah ke kulit meningkat sehingga kehilangan
panas bertambah. Akibatnya pasien merasa dingin dan menggigil. Pada eritroderma kronis
dapat terjadi gagal jantung. Juga dapat terjadi hipotermia akibat peningkatan perfusi
kulit. Penguapan cairan yang makin meningkat dapat menyebabkan dehidrasi. Bila

suhu badan meningkat, kehilangan panas juga meningkat. Pengaturan suhu terganggu.
Kehilangan panas menyebabkan hipermetabolisme kompensator dan peningkatan laju
metabolisme basal. Kehilangan cairan oleh transpirasi meningkat sebanding laju
metabolisme basal.
Kehilangan skuama dapat mencapai 9 gram/m2 permukaan kulit atau lebih
sehari sehingga menyebabkan kehilangan protein Hipoproteinemia dengan berkurangnya
albumin dengan peningkatan relatif globulin terutama gammaglobulin merupakan kelainan
yang khas. Edema sering terjadi, kemungkinan disebabkan oleh pergesaran cairan ke
ruang ekstravaskuler.
Eitroderma akut dan kronis dapat menganggu mitosis rambut dan kuku berupa
kerontokan rambut dan kuku berupa kerontokan rambut difus dan kehilangan kuku. Pada
eritroderma yang telah berlangsung berbulan bulan dapat terjadi perburukan keadaan
umum yang progresif.

Gambaran Klinis
Mula-mula timbul bercak eritema yang dapat meluas ke seluruh tubuh dalam waktu
12- 48 jam. Deskuamasi yang difus dimulai dari daerah lipatan, kemudian menyeluruh.
Dapat juga mengenai membran mukosa, terutama yag disebabkan oleh obat. Bila kulit
kepala sudah terkena, dapat terjadi alopesia, perubahan kuku, dan kuku dapat lepas. Dapat
terjadi limfadenopati dan hepatomegali. Skuama timbul setelah 2-6 hari, sering mulai di
daerah lipatan. Skuamanya besar pada keadaan akut, dan kecil pada keadaan kronis.
Warnanya bervariasi dari putih sampai kuning. Kulit merah terang, panas, kering
dan kalau diraba tebal. Pasien mengeluh kedinginan. Pengendalian regulasi suhu tubuh
menjadi hilang, sehingga sebagai kompensasi terhadap kehilangan panas tubuh, sekujur
tubuh pasien menggigil untuk dapat menimbulkan panas metabolik. Dahulu eritroderma
dibagi menjadi primer dan sekunder. Pendapat sekarang semua eritroderma ada
penyebabnya, jadi eritroderma selalu sekunder. Eritroderma akibat alergi obat secara

sistemik diperlukan anamnesis yang teliti untuk mencari obat penyebabnya. Umumnya
alergi timbul akut dalam waktu 10 hari. Pada mulanya kulit hanya eritem saja, setelah
penyembuhan barulah timbul skuama.
Eritroderma akibat perluasan penyakit kulit seringkali pada psoriasis dan dermatitis
seboroik bayi. Psoriasis dapat menjadi eritroderma karena dua hal yaitu : karena
penyakitnya sendiri atau karena pengobatan yang terlalu kuat. Psoriasis yang menjadi
eritroderma tanda khasnya akan menghilang. Pada eritroderma et causa psoriasis,
merupakan eritroderma yang disebabkan oleh penyakit psoriasis atau pengobatan yaitu
kortikosteroid sistemik, steroid topikal, komplikasi fototerapi, stress emosional yang berat,
penyakit terdahulu misalnya infeksi.

Eritroderma psoriasis
Dermatitis seboroik pada bayi (penyakit leiner). Usia penderita berkisar 4-20 minggu.
Kelainan berupa skuama berminyak dan kekuningan di kepala. Eritema dapat pada seluruh
tubuh disertai skuama yang kasar.

Dermatitis Seboroik

Ptyriasis rubra pilaris yang berlangsung selama beberapa minggu dapat pula
menjadi eritroderma. Mula-mula terdapat skuama moderat pada kulit kepala diikuti
perluasan ke dahi dan telinga; pada saat ini akan menyerupai gambaran dermatitis
seboroik. Kemudian timbul hyperkeratosis, palmo plantaris yang jelas. Berangsur-angsur
menjadi papul folikularis disekeliling tangan dan menyebar ke kulit berambut.

Ptryasis rubra pilaris


Pemfigus foliaseus bermula dengan vesikel/ bula berukuran kecil, berdinding
kendur yang kemudian pecah menjadi erosi dan eksudatif. Yang khas adalah eritema
menyeluruh yang disertai banyak skuama kasar, sedangkan bula kendur hanya
sedikit. Penderita mengeluh gatal dan badan menjadi bau busuk.

Pemfifus Foliasius
Dermatitis atopi dimulai dengan eritema, papul-papula, vesikel sampai erosi
dan likenifikasi. Penderita tampak gelisah, gatal dan sakit berat.

Dermatitis atopik
Permulaan

timbulnya

liken

planus

dapat

mendadak

atau perlahan-lahan;

dapat berlangsung berminggu-minggu atau berbulan-bulan dan mungkin kambuh lagi.


Kadang- kadang menjadi kronik. Papul dengan diameter 2-4 mm, keunguan, puncak
mengkilat, poligonal. Papula mungkin terjadi pada bekas garukan (fenomena Koebner).
Bila dilihat dengan kaca pembesar, papul mempunyai pola garis garis berwarna putih
("Wickham's striae") Lesi simetrik, biasanya pada permukaan fleksor pergelangan
tangan, menyebar ke punggungn dan tungkai. Mukosa mulut terkena pada 50%
penderita. Mungkin pula mengenai glans penis dan mukosa vagina. Kuku kadangkadang terkena, kuku inenipis dan berlubang-lubang. Anak-anak jarang terkena tetapi
bila

terdapat

bercak kemerahan mungkin tidak khas dan dapat keliru dengan

psoriasis. Sering sangat gatal. Cenderung menyembuh dengan sendirinya.

Liken Planus
Diagnosis Banding

Ada beberapa diagnosis banding pada eritorderma :


1. Dermatitis Atopik
Dermatitis atopik adalah peradangan kulit kronis yang terjadi
di lapisan epidermis dan dermis, sering berhubungan dengan
riwayat atopik pada keluarga asma bronchial, rhinitis alergi,
konjungtivitis. Atopik terjadi diantara 15-25% populasi, berkembang
dari satu menjadi banyak kelainan dan memproduksi sirkulasi
antibodi IgE yang tinggi, lebih banyak karena alergi inhalasi. Dermatitis
atopik adalah penyakit kulit yang mungkin terjadi pada usia berapapun, tetapi
biasanya timbul sebelum usia 5 tahun. Biasanya, ada tiga tahap: balita, anak-anak dan
dewasa.
Dermatitis atopik merupakan salah satu penyebab eritroderma pada orang
dewasa dimana didapatkan gambaran klinisnya terdapat lesi pra-existing, pruritus
yang parah, likenifikasi dan prurigo nodularis, sedangkan pada gambaran histologi
terdapat akantosis ringan, spongiosis variabel, dermal eosinofil dan
parakeratosis.

2. Psoriasis
Eritroderma

psoriasis

dapat

disebabkan

oleh

karena

pengobatan topikal yang terlalu kuat atau oleh penyakitnya sendiri


yang meluas. Ketika psoriasis menjadi eritroderma biasanya lesi
yang khas untuk psoriasis tidak tampak lagi karena terdapat
menghilang

dimana plak-plak psoriasis menyatu, eritema dan

skuama tebal universal. Psoriasis mungkin menjadi eritroderma


dalam proses yang berlangsung lambat dan tidak dapat dihambat
atau sangat cepat. Faktor genetik berperan. Bila orang tuanya tidak
menderita psoriasis resiko mendapat psoriasis 12%, sedangkan jika
salah seseorang orang tuanya menderita

psoriasis resikonya

mencapai 34 39%.
Psoriasis ditandai dengan adanya bercak-bercak, eritema
berbatas tegas dengan skuama yang kasar, berlapis-lapis dan
transparan disertai fenomena tetesan lilin, Auspitz, dan Kobner.

3. Dermatitis seboroik
Dermatitis seboroik adalah peradangan kulit yang kronis
ditandai dengan plak eritema yang sering terdapat pada daerah
tubuh yang banyak mengandung kelenjar sebasea seperti kulit
kepala, alis, lipatan nasolabial, belakang telinga, cuping hidung,
ketiak, dada, antara skapula. Dermatitis seboroik dapat terjadi pada
semua umur, dan meningkat pada usia 40 tahun. Biasanya lebih
berat apabila terjadi pada laki-laki daripada wanita dan lebih sering
pada orang-orang yang banyak memakan lemak dan minum
alkohol.
Biasanya kulit penderita tampak berminyak, dengan kuman
Pityrosporum ovale yang hidup komensal di kulit berkembang lebih
subur. Pada kepala tampak eritema dan skuama halus sampai kasar
(ketombe). Kulit tampak berminyak dan menghasilkan skuama
putih yang berminyak pula. Penderita akan mengeluh rasa gatal
yang hebat. DS dapat diakibatkan oleh ploriferasi epidermis yang
meningkat seperti pada psoriasis. Hal ini dapat menerangkan
mengapa terapi dengan sitostatik dapat memperbaikinya. Pada
orang yang telah mempunyai faktor predisposisi, timbulnya DS
dapat disebabkan oleh faktor kelelahan sterss emosional infeksi,
atau defisiensi imun.

Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium
Pada

pemeriksaan

laboratorium

darah

rutin,

didapatkan

penurunan hemoglobin, peningkatan eosinofil, dan peningkatan


leukosit

(pada

infeksi

sekunder).

Kadar

imunoglobulin

dapat

meningkat, khususnya IgE. Albumin serum menurun dan gamma


globulin meningkat relatif. Didapatkan pula ketidakseimbangan
elektrolit karena dehidrasi.
Pasien dengan eritrodetma yang luas dapat ditemukan tandatanda dari ketidakseimbangan nitrogen: edema, hipoalbuminemia,
dan hilangnya masa otot. Beberapa penelitian menunjukan terdapat
perubahan

keseimbangan

nitrogen

dan

potasium

pembentukan skuama mencapai 17 gr/m2 per 24 jam.

2. Histopatologi

ketika

laju

Pada kebanyakan pasien dengan eritroderma histopatologi


dapat membantu mengidentifikasi penyebab eritroderma pada
sampai

dengan 50%

gambaran yang

kasus, biopsi

kulit

dapat menunjukkan

bervariasi, tergantung berat dan durasi proses

inflamasi. Pada tahap akut, spongiosis dan parakeratosis menonjol,


terjadi edema. Pada stadium kronis, akantosis dan perpanjangan
rete

ridge

lebih

dominan.namun

demikian

pemeriksaan

histopatologi tidak terlalu spesifik.


Eritroderma akibat limfoma, yang infiltrasi bisa menjadi
semakin pleomorfik, dan mungkin akhirnya memperoleh fitur
diagnostik spesifik, seperti bandlike limfoid infiltrat di dermisepidermis, dengan sel cerebriform mononuklear

atipikal dan

Pautrier's microabscesses. Pasien dengan sindrom Sezary sering


menunjukkan beberapa fitur dari dermatitis kronis, dan eritroderma
jinak mungkin kadang-kadang menunjukkan beberapa gambaran
tidak jelas pada limfoma.
Pemeriksaan immunofenotipe infiltrat limfoid juga mungkin
sulit

menyelesaikan

umumnya

permasalahan

memperlihatkan

karena

gambaran

sel

pemeriksaan
T

matang

ini
pada

eritroderma jinak maupun ganas. Pada psoriasis papilomatosis dan


gambaran

clubbing lapisan papiler dapat terlihat, dan pada

pemfigus foliaseus, akantosis superficial juga ditemukan. Pada


eritroderma ikhtisioform dan ptiriasis rubra pilaris, biopsi diulang
dari

tempat-tempat

yang

dipilih

memperlihatkan gambaran khasnya.

dengan

cermat

dapat

Terapi
Terapi yang optimal untuk eritroderma tergantung pada penegakan
penyebab penyakit. Pada eritroderma karena alergi obat, penghentian
dari obat-obat yang menyebabkan alergi atau berpotensi menyebabkan
alergi memberikan hasil yang baik. Pada eritroderma karena penyakit
kulit, penyakit yang mendasari harus diatasi. Pemberian salep ter pada
psoriasis

sebaiknya

secara

hati-hati

karena

mampu

mencetuskan

eksaserbasi eritroderma.
Karena terdapat peningkatan kehilangan cairan transepidermal,
dehidrasi sering ditemukan sebagai komplikasi. Input dan output cairan
harus dipantau secara hati-hati.Pemberian kortikosteroid topikal efektif
dalam mengatasi inflamasi pada kulit. Pemberian antihistamin ditujukan
untuk mengatasi pruritus.
Pada eritroderma idiopatik, pemberian steroid diindikasikan apabila
pengunaan

terapi

konservatis

tidak

menunjukan

perbaikan.

Pada

eritroderma golongan I yang disebabkan oleh alergi obat secara sistemik,


dosis prednison 4 x 10 mg2. Pada golongan II akibat perluasan penyakit
diberikan kortikosteroid prednison 4x10 mg - 4x15 mg. Jika tidak tampak
perbaikan dalam beberapa hari dosis dapat dinaikkan. Penyembuhan
terjadi secara cepat, umumnya dalam beberapa hari-minggu. Pemberian

kortikosteroid harus dipantau secara ketat dalam hal efek samping,


terutama pada pasien usia lanjut. Perhatikan kemungkinan terjadinya
masalah medis sekunder (misal: dehidrasi, gagal jantung, dan infeksi).

Komplikasi
Banyak sistem organ selain epidermis dan dermis juga terlibat
pada eritroderma. Limpadenopati terjadi pada 60% dari sebagian besar
kasus. Hepatomegali ditemukan pada 20% kasus (Abrahams et al.).
spenomegali ditemukan pada

3% kasus

(kesemuanya

mengalami

limpoma) baik pada stadium awal dan pada hampir 20% stadium akhir.
Rusaknya barier kulit pada eritroderma menyebabkan peningkatan
extrarenal water lost (karena penguapan air berlebihan melalui barrier
kulit yang rusak). Peningkatan extrarenal water lost ini menyebabkan
kehilangan panas tubuh yang menyebabkan hipotermia dan kehilangan

cairan yang menyebabkan dehidrasi.1,11 Respon tubuh terhadap dehidrasi


dengan meningkatkan cardiac output, yang bila terus berlanjut akan
menyebabkan

gagal

jantung,

dengan

manifestasi

klinis

seperti

takikardia, sesak, dan edema. Oleh karena itu evaluasi terhadap balans
cairan sangatlah penting pada pasien eritroderma.
Pasien dengan eritroderma yang luas dapat ditemukan tanda-tanda
dari

ketidakseimbangan

nitrogen:

edema,

hipoalbuminemia,

dan

hilangnya masa otot. Pada eritroderma kronik dapat mengakibatkan


kakeksia, alopesia, palmoplantar keratoderma, kelainan pada kuku and
ektropion.

Prognosis
Prognosis eritroderma tergantung pada proses penyakit yang
mendasarinya. Prognosis pada kasus alergi obat adalah baik setelah obat
dihentikan.

Penyembuhan

golongan

ini

adalah

yang

tercepat

dibandingkan dengan golongan lain. Prognosis kasus akibat gangguan


sistemik seperti limfoma akan tergantung pada keberhasilan pengobatan
penyakitnya

itu

sendiri.

Kasus

idiopatik

adalah

kasus

yang

sulit

diramalkan, dapat bertahan dalam waktu yang lama, dan seringkali


disertai dengan keadaan umum yang lemah.
Pada eritroderma yang belum diketahui sebabnya, pengobatan
dengan kortikosteroid hanya mengurangi gejalanya, dan pasien akan
mengalami ketergantungan kortikosteroid.

DAFTAR PUSTAKA

Margaret J, Bernstein ML, Rothe MJ. Exfoliative dermatitis. In: Wolff K, Goldsmith LA,
Katz SI, editors. Fitzpatrick's Dermatology in General Medicine. 8 th ed. New Yo
rk: Mc. Graw Hill Medical; 2012. P. 225 - 32.
Djuanda, Adhi, dkk. 2012. Eritroderma : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Bagian Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin FK UI. Jakarta.197- 200
Guyton, Arthur C. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC.
Wasitaatmadja, Syarif. 2010. Anatomi Kulit dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin edisi ke enam.Jakarta : Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.
Eroschenko, Victor. P. 2003. Atlas Histologi di Fiore. Jakarta: EGC.
Martini, Ric. 2006. Fundamentals of Anatomy and Physiology. USA: Pearson Company.
Tortora, G. 2006. Principles of Anatomy and Physiology. USA: John Wiley & Sons Inc.
Daili, Emmy S. Sjamsoe, dkk. 2005. Penyakit Kulit yang Umum di Indonesia, Sebuah
Panduan Bergambar. Jakarta: PT Medical Multimedia Indonesia.
Sigurdsson V, Steegmans PHA, van Vloten WA. The incidence of erythroderma: a survey
among all dermatologists in the Netherlands. J Am Acad Dermatol 2001; 45: 6758.