Anda di halaman 1dari 18

HASIL DISKUSI SGD 6

PANCASILA SEBAGAI SISTEM ETIKA

OLEH :
NI KADEK PRITAYANI

(1402105005)

NI MADE DIAN DARMALINI

(1402105011)

A.A AYU INTAN MURTI N.

(1402105015)

NI PUTU DIAH SUKAYANTI

(1402105017)

NI PUTU IRA FENARANI

(1402105021)

NI WAYAN IKA PUSPITASARI

(1402105029)

NI PUTU ANGGI DEWI P.

(1402105031)

I MADE KANTA KARUNA

(1402105034)

LUH GEDE MAS KURNIA W.

(1402105044)

PEITER GIDEON

(1402105061)

NI PUTU PANDE RIRIN ADNYAWATI

(1402105062)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
TAHUN 2015/ 2016

PEMBAHASAN
1.

Konsep dan Pengertian Etika, Etiket, dan Kode Etik dalam Kehidupan
Sehari-hari beserta perbedaannya
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, etika merupakan ilmu tentang
apa yang baik dan apa yang buruk terkait dengan hak dan kewajiban moral
atau kumpulan asas/nilai yang berkenaan dengan akhlak, serta nilai mengenai
benar dan salah. Secara garis besar, etika merupakan cabang ilmu filsafat
yang membahas tentang moral serta memberi ulasan dalam bentuk normanorma kesusilaan atau akhlak untuk membimbing ke arah kesejahteraan serta
kebahagiaan masyarakat
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, etiket merupakan tata cara
dalam masyarakat beradab dalam memelihara hubungan baik antara sesama
manusia. Etiket membahas cara suatu perbuatan harus dilakukan manusia
dan menunjuk pada cara yang tepat, serta diharapkan dalam suatu kalangan
tertentu. Etiket hanya berlaku dalam pergaulan dan bersifat relatif, serta etiket
hanya memandang manusia dari lahiriah saja.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kode etik merupakan sistem
dengan tanda-tanda rahasia yang digunakan untuk menjamin kerahasiaan
berita dan pemerintahan, serta merupakan norma dan asas sebagai landasan
ukuran tingkah laku. Kode etik adalah suatu aturan main atau tata tertib dalam
suatu kinerja, gugus tugas atau bisnis tertentu yang disusun dalam rangka
menjaga suatu kualitas, reputasi, martabat, dan profesionalisme orang-orang
yang terlibat dalam suatu departemen atau lembaga tertentu.
Perbedaan antara etika, etiket dan kode etik yaitu, etika pada umumnya
merupakan pemikiran filosofis mengenai sesuatu yang dianggap baik atau
buruk untuk moral manusia contohnya dilarang mencuri barang orang lain. Di
sini tidak dipersoalkan apakah pencuri tersebut mencuri dengan tangan kanan
atau tangan kiri. Sedangkan etiket lebih mengacu pada tata cara perbuatan
yang tepat dan berkaitan dengan kesopanan contohnya makan dengan tangan
kanan dianggap lebih sopan . Sedangkan kode etik lebih kepada landasan
tingkah laku atau aturan yang disusun dalam rangka menjaga suatu kualitas
dalam gugus tugas dan pekerjaan contohnya kode etik keperawatan, dimana
perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahui sehubungan

dengan tugas yang dipercayakan kepadanya kecuali jika diperlukan sesuai


dengan ketentuan hukum yang berlaku.
2.

Konsep dan Pengertian Aliran Etika Keutamaan, Teleologis, dan


Deontologis, serta Keunggulan dan Kelemahan Masing-masing
a. Etika Keutamaan
Etika ini mengutamakan perkembangan karakter moral pada diri
setiap orang

tidak hanya melakukan tindakan yang baik melainkan

menjadi orang yang baik.. Karakter moral ini dibangun dengan cara
meneladani perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan oleh para tokoh
besar. Keuntungan dari etika keutamaan adalah manusia mempunyai jiwa
yang bersahaja, belas kasih, murah hati dan memiliki kepedulian yang
tinggi.
Namun yang menjadi kelemahan etika ini adalah ketika terjadi
kemajemukan dalam masyarakat, sehingga konsep keutamaan menjadi
beragam karena panutan tokoh-tokoh yang beragam pula, dan dapat
b.

berakibat pada timbulnya benturan sosial.


Etika Teleologis
Etika ini memandang bahwa baik dan buruk suatu tindakan dilihat
berdasarkan tujuan atau akibat dari perbuatan tersebut. Etika teleologi
digolongkan menjadi dua bagian yaitu egoisme etis dan utilitarianisme.
Egoisme etis memandang bahwa tindakan yang baik adalah tindakan
yang berakibat baik pula untuk pelakunya, sedangkan utilitarianisme
menilai bahwa baik dan buruknya suatu perbuatan tergantung bagaimana
akibatnya terhadap banyak orang. Tindakan digolongkan baik apabila
menghasilkan manfaat yang besar dan memberikan manfaat sebanyak
mungkin pada orang lain. Terdapat enam kelemahan dari penerapan etika
teologis yaitu :
Membenarkan adanya ketidakadilan kemanfaatan terutama terhadap

minoritas.
Kurang diperhitungkannya manfaat yang non-materiil seperti kasih

sayang, nama baik, dan hak.


Timbulnya problem besar ketika lingkungan dirusak atas nama untuk

menyejahterakan masyarakat.
Kemanfaatan yang dipandang sering dilihat dalam jangka pendek,
serta tidak melihat akibat jangka panjang.

Adanya tindakan yang melanggar nilai dan norma atas nama

kemanfaatan yang besar.


Mengalami kesulitan menentukan

yang

lebih

diutamakan

kemanfaatan yang besar namun dirasakan sedikit oleh masyarakat


atau kemanfaatan yang lebih banyak dirasakan masyarakat namun
c.

memiliki kemanfaatan yang kecil.


Etika Deontologi
Etika deontologi memandang bahwa tindakan yang dinilai baik atau
buruk berdasarkan tindakan tersebut sesuai atau tidak dengan kewajiban.
Etika deontologi tidak mempersoalkan akibat dari tindakan tersebut, baik
ataupun buruk. Etika deontologi menekankan bahwa kebijakan atau
tindakan harus didasari oleh motivasi dan kemauan baik dari dalam diri,
tanpa mengharapkan pamrih apapun dari tindakan yang dilakukan.
Ukuran kebaikan dalam etika deontologi adalah kewajiban, kemauan dan
kerja keras. Setiap tindakan akan berjalan dengan baik apabila
dilaksanakan karena didasari oleh kewajiban moral, kemauan dan kerja
keras, serta tindakan yang sungguh-sungguh dan dilakukan tanpa ada
paksaan dari luar. Namun yang menjadi kelemahan adalah karena etika
deontologis tidak memadai untuk menjawab bagaimana seharusnya
bertindak dalam situasi konkret yang dilematis itu, serta etika deontologis
sesungguhnya tidak dapat mengelakkan pentingnya akibat dari suatu
tindakan untuk menentukan tindakan tersebut baik atau buruk.

3.

Konsep dan Pengertian Pancasila sebagai Sistem Etika Sebagaimana


yang Terkandung dalam Sila ke-1, 2, 3, 4, dan 5, serta Aplikasinya dalam
Kehidupan Bermasyarakat dan Bernegara.
Pancasila sebagai sistem etika merupakan pedoman hidup bangsa
indonesia dan juga struktur pemikiran yang disusun berdasarkan nilai dari
sila-sila Pancasila untuk mengatur perilaku kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara di Indonesia.
.
a. Etika yang dijiwai oleh nilai Ketuhanan dari sila Ketuhanan Yang Maha
Esa

mengandung

dimensi

moral

berupa

spiritualitas

yang

mengedepankan masyarakat Indonesia untuk memiliki kepercayaan dan

ketaqwaan serta ikhtiar kepada Tuhan Yang Maha Esa dan taat terhadap
b.

agama yang dianutnya.


Etika yang dijiwai oleh nilai Kemanusiaan dari sila Kemanusiaan yang
Adil dan Beradab mengedepankan masyarakat dan bangsa Indonesia

c.

untuk menjunjung tinggi nilai-nilai keemanusiaan


Etika yang dijiwai oleh nilai Persatuan dari Persatuan Indonesia
mengedepankan masyarakat dan bangsa Indonesia untuk menempatkan

d.

persatuan, kesatuan, solidaritas serta cinta tanah air.


Etika yang dijiwai oleh nilai Kerakyatan dari sila Kerakyatan yang
Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/
Perwakilan mengedepankan masyarakat dan bangsa Indonesia untuk
memiliki etika yang menghargai orang lain, sehingga tidak memaksakan

e.

pendapat dan kehendak diri sendiri kepada orang lain.


Etika yang dijiwai oleh nilai keadilan dari sila Keadilan Sosial Bagi
Seluruh Rakyat Indonesia mengedepankan masyarakat dan bangsa
Indonesia untuk memiliki etika sebagai penuntun untuk mengembangkan
sikap adil terhadap sesama manusia, mengembangkan perbuatanperbuatan luhur yang mencerminkan sikap peduli dan gotong-royong.

4.

Berbagai Faktor Penyebab Terjadinya Perusakan Lingkungan dan


Dampak Perusakan Lingkungan terhadap Hajat Hidup Orang Banyak
1. Pertambahan Penduduk.
Penduduk yang bertambah terus setiap tahun menghendaki penyediaan
sejumlah kebutuhan atas pangan, sandang dan papan . Sementara itu
ruang muka bumi tempat manusia mencari nafkah tidak bertambah luas.
Perluasan lapangan usaha itulah yang menyebabkan eksploitasi
lingkungan secara berlebihan dan atau secara liar. Contohnya,
masyarakat banyak yang membangun rumah di bantaran sungai dan
kawasan
2.

hijau

karena

keterbatasan

lahan,

hal

tersebut

dapat

mengakibatkan kerusakan ekosistem di sungai dan berakibat banjir.


Dampak Industrialisasi. Dalam proses industrialisasi ini antara lain
termasuk industri perkayuan, , dan industri kertas. Ketiga industri di atas
memerlukan kayu dalam jumlah yang besar sebagai bahan bakunya.
Inilah awal mula eksploitasi kayu di hutan-hutan, yang melibatkan
banyak kalangan terlibat di dalamnya. Namun, sangat disayangkan

karena sulitnya pengawasan, banyak aturan di bidang pe-ngusahaan


hutan ini yang dilanggar yang kemudian berkembang menjadi semacam
mafia perkayuan. Sementara itu penduduk setempat yang peduli hutan
tidak berdaya menghadapinnya, kemudian menjadi turut serta terlibat
3.

dalam proses illegal logging tersebut.


Lemahnya Pengawasan dan Penegakan Hukum.
Lemah dan tidak jalannya sangsi atas pelanggaran dalam setiap
peraturan yang ada memberikan peluang untuk terjadinya pelanggaran.
Contohnya seperti lemahnya pengawasan dan penegakan hukum bagi
pelaku pembakaran hutan. Pembakaran hutan menyebabkan kabut asap

4.

yang mengganggu kenyamanan dan kesehatan masyarakat di sekitarnya.


Kesadaran Masyarakat yang Rendah.
Kesadaran sebagian besar warga masyarakat yang rendah terhadap
pentingnya pelestarian lingkungan atau hutan merupakan satu hal yang
menyebabkan ketidakpedulian masyarakat atas degradasi lingkungan.
Rendahnya kesadaran masyarakat ini disebabkan karena tidak memiliki
pengetahuan tentang lingkungan hidup yang memadai.Contohnya masih
banyak orang menggunakan bahan kimia berbahaya untuk menangkap
ikan di laut dan sungai. Oleh karena itu, pengetahuan tentang lingkungan
hidup penting untuk dikembangkan menjadi salah satu mata pelajaran di

5.

sekolah umum mulai dari tingkat sekolah dasar.


Pencemaran Lingkungan.
Pencemaran lingkungan baik pencemaran air, tanah, maupun udara saat
ini terutama di Pulau Jawa semakin memprihatinkan. Disiplin masyarakat
kota dalam mengelola sampah secara benar semakin menurun. Para
pelaku industri berdasarkan hasil penelitian tidak ada yang mengelola
sampah industrinya dengan baik. Sebanyak 50% dari 85 perusahaan
hanya mengelola sampah berdasarkan ketentuan minimum. Sebanyak 22
perusahaan (25%) mengelola sampah tidak sesuai ketentuan bahkan ada
4 perusahaan belum mengendalikan pencemaran dari pabriknya sama
sekali. Pencemaran udara semakin meningkat tajam di kota-kota besar,
metropolitan, dan kawasan industri. Gas buangan (CO2) dari kendaraan
semakin meningkat sejalan dengan pertambahan jumlah kendaraan itu

sendiri, yang berdampak pada terjadinya lonjakan tingkat pencemaran


udara yang luar biasa.
Dampak perusakan lingkungan tersebut harus disadari akan merusak
infrastruktur perekonomian dan mengganggu kehidupan sosial. Di wilayah
perkotaan ditandai semakin tingginya pencemaran udara serta meluasnya
wilayah perkotaan yang tercemari dengan pencemaran udara tersebut.
Kondisi tersebut tidak terlepas dari meningkatnya kerusakan sumber daya
alam maupun banyaknya industri yang meningkatkan pencemaran, sejalan
dengan pertumbuhan ekonomi maupun perkembangan penduduk. Di daerah
degradasi lingkungan dapat terlihat dengan makin menipisnya kawasan hutan
yang diakibatkan oleh kebakaran maupun pembalakan liar oleh oknum yang
tidak bertanggung jawab.
5.

Sumber Historis Pancasila sebagai Sumber Etika pada Zaman Orde


Lama, Orde Baru, dan Era Reformasi, serta Bentuk Pelanggaran Etis
yang Dilakukan Pada Masing-Masing Zaman Tersebut
a. Sumber historis Pancasila sebagai sumber etika pada zaman Orde Lama
Pancasila sebagai sistem etika berbentuk sebagai Philosofische Grondslag
atau Weltanschauung. Artinya, nilai-nilai Pancasila belum ditegaskan ke
dalam sistem etika, tetapi nilai-nilai moral telah terdapat pandangan hidup
masyarakat. Masyarakat dalam masa orde lama telah mengenal nilai-nilai
kemandirian bangsa yang oleh Presiden Soekarno disebut dengan istilah
berdikari (berdiri di atas kaki sendiri).
b. Sumber historis Pancasila sebagai sumber etika pada zaman Orde Baru
Pancasila sebagai sistem etika disosialisasikan melalui penataran P-4 dan
diinstitusionalkan dalam wadah BP-7. Ada banyak butir Pancasila yang
dijabarkan dari kelima sila Pancasila sebagai hasil temuan dari para
peneliti BP-7 yang berisikan nilai pada setiap sila pancasila dan cara
mengamalkannya. Pada zaman orde baru muncul pula konsep manusia
Indonesia seutuhnya sebagai cerminan manusia yang berperilaku dan
berakhlak mulia sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Artinya, manusia
secara kodrati bersifat monodualistik yaitu makhluk individu sekaligus
makhluk sosial.

c. Sumber historis pancasila sebagai sumber etika pada zaman orde


reformasi yaitu, Pancasila sebagai sistem etika tenggelam dalam hirukpikuk perebutan kekuasaan yang menjurus kepada pelanggaraan etika
politik. Salah satu bentuk pelanggaran etika politik adalah abuse of
power, baik oleh penyelenggara negara di legislatif, eksekutif, maupun
yudikatif. Penyalahgunaan kekuasaan atau kewenangan inilah yang
menciptakan korupsi di berbagai kalangan penyelenggara negara.
Berbagai penyimpangan pada masa orde lama (1959-1965) :
Pada masa Orde Lama lembaga-lembaga negara MPR, DPR, DPA dan
BPK masih dalam bentuk sementara, belum berdasarkan undang-undang
sebagaimana ditentukan oleh UUD 1945. Beberapa penyimpangan yang
terjadi pada masa Orde Lama, antara lain:
a. Presiden selaku pemegang kekuasaan eksekutif dan legislatif (bersama
DPR) telah mengeluarkan ketentuan perundangan yang tidak ada dalam
UUD 1945 dalam bentuk penetapan presiden tanpa persetujuan DPR
b. Melalui Ketetapan No. I/MPRS/1960, MPR menetapkan pidato presiden
17 Agustus 1959 berjudul Penemuan Kembali Revolusi Kita
(Manifesto Politik Republik Indonesia) sebagai GBHN bersifat tetap. Hal
ini tidak sesuai dengan UUD 1945.
c. MPRS mengangkat Ir. Soekarno sebagai Presiden seumur hidup. Hal ini
bertentangan dengan UUD 1945, karena DPR menolak APBN yang
diajukan oleh presiden. Kemudian presiden membentuk DPR-Gotong
Royong (DPR-GR), yang anggotanya diangkat dan diberhentikan oleh
Presiden.
d. Presiden membubarkan DPR hasil pemilu 1955, karena DPR menolak
APBN yang diajukan oleh presiden. Kemudian presiden membentuk
DPR-Gotong Royong (DPR-GR), yang anggotanya diangkat dan
diberhentikan oleh presiden.
e. Pimpinan lembaga-lembaga negara dijadikan menteri-menteri negara,
termasuk pimpinan MPR kedudukannya sederajat dengan menteri.
Sedangkan presiden menjadi anggota DPA
f. Demokrasi yang berkembang adalah demokrasi terpimpin

g. Berubahnya arah politik luar negeri dari bebas dan aktif menjadi politik
yang memihak salah satu blok.
Beberapa penyimpangan tersebut mengakibatkan tidak berjalannya
sistem sebagaimana UUD 1945, memburuknya keadaan politik, keamanan
dan ekonomi, sehingga mencapai puncaknya pada pemberontakan G-30S/PKI.
Berbagai penyimpangan pada masa Orde Baru (1965-1998) :
Orde

Baru

sebagai

pemerintahan

yang

berniat

mengoreksi

penyelewenangan di masa Orde Lama dengan menumbuhkan kekuatan


bangsa, stabilitas nasional, dan proses pembangunan yang bertekad
melaksanakan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Pemerintahan Orde
Baru telah melakukan berbagai penyimpangan, antara lain:

Dalam praktek pemilihan umum, terjadi pelanggaran misalnya:


a.

Terpengaruhnya pilihan rakyat oleh campur tangan birokrasi.

b.

Panitia Pemilu tidak independen

c.

Kompetisi antarkontestan tidak leluasa.

d.

Kampanye terhambat oleh aparat keamanan/perizinan.

e.

TPS dibuat di kantor-kantor.

f. Pemungutan suara dilaksanakan pada hari kerja.


g.

Pemilih pendukung Golkar diberi formulir A-B, 5 sampai 10


lembar seorang

Di bidang politik, antara lain:


a.

Ditetapkannya calon resmi partai politik dan Golkar dari


keluarga presiden atau yang terlibat dengan bisnis keluarga
presiden, dan calon anggota DPR/MPR yang monoloyalitas
terhadap presiden (lahirnya budaya paternalisti /kebapakan dan
feodal gaya baru.

b.

Tidak berfungsinya kontrol dari lembaga kenegaraan politik dan


sosial, karena didominasi kekuasaan presiden/eksekutif yang
tertutup sehingga memicu budaya korupsi, kolusi, dan
nepotisme.

c.

Golkar secara terbuka melakukan kegiatan politik sampai ke


desa-desa, sedangkan parpol hanya sampai kabupaten.

d.

Ormas hanya diperbolehkan berafiliasi kepada Golkar.

e.

Berlakunya demokrasi terpimpin konstitusional.

Di bidang hukum, antara lain:


a.

Belum memadainya perundang-undangan tentang batasan


kekuasaan presiden dan adanya banyak penafsiran terhadap
pasal-pasal UUD 1945.

b.

Tidak tegaknya supremasi hukum karena penegak hukum tidak


konsisten, adanya mafia peradilan, dan banyaknya praktek
korupsi, kolusi, dan nepotisme. Hal ini tidak menjamin rasa adil,
pengayoman, dan kepastian hukum bagi masyarakat.

c.

Ada penyimpangan sekurang-kurangnya 79 Kepres (1993-1998)


yang

dijadikan alat kekuasaan sehingga penyelewengan

terlindungi secara legal dan berlangsung lama (hasil kajian


hukum masyarakat transparansi Indonesia).

Di bidang ekonomi, antara lain:


a.

Perekonomian nasional sebagaimana diamanatkan pasal 33


UUD 1945 tidak terpenuhi, karena munculnya pola monopoli
terpuruk dan tidak bersaing. Akses ekonomi kerakyatan sangat
minim.

b.

Keberhasilan pembangunan yang tidak merata menimbulkan


kesenjangan antara yang kaya dan miskin serta merebaknya
KKN.

c.

Bercampurnya
bercampurnya

institusi

negara

dan

swasta,

misalnya

jabatan publik, perusahaan serta yayasan

sehingga pemegang kekuasaan dan keuntungan menjadi


pemenang serta mengambil keuntungan secara tidak adil.
Sebagai contoh kasus-kasus Kepres Mobil Nasional, Institusi
Bulog, subordinasi Bank Indonesia, dan proteksi Chandra Asri.
d.

Adanya korporatisme yang bersifat sentralis, ditandai oleh


urbanisasi besar-besaran dari desa ke kota atau dari daerah ke

pusat. Korporatisme ialah sistem kenegaraan dimana pemerintah


dan swasta saling berhubungan secara tertutup satu sama lain,
yang ciri-cirinya antara lain keuntungan ekonomi hanya
dinikmati oleh segelintir pelaku ekonomi yang dekat dengan
kekuasaan, dan adanya kolusi antara kelompok kepentingan
ekonomi serta kelompok kepentingan politik.
e.

Perkembangan utang luar negeri dari tahun ke tahun cenderung


meningkat. Menurut Dikdik J. Rachbini (2001:17-22) pada
tahun 1980- 1999 mencapai 129 miliar dolar AS, yang berarti
aliran modal ke luar negeri pada masa ini mencapai angka lebih
dari seribu triliun. Sementara kebijakan utang luar negeri
tercemar oleh kelompok pemburu keuntungan yang berkolusi
dengan pemegang kekuasaan. Kebijakan pemerintah dianggap
benar, sedangkan kritik dan partisipasi masyarakat lemah.
Kombinasi utang luar negeri pemerintah dengan swasta (yang
memiliki utang luar negeri berlebihan) menambah berat beban
perekonomian negara kita.

f.

Tahun 1997 Indonesia dilanda krisis ekonomi yang ditandai


naiknya harga kebutuhan pokok dan menurunnya daya beli
masyarakat.

Krisis

ini

melahirkan

krisis

politik,

yaitu

ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintahan Soeharto.


Krisis ekonomi yang berkepanjangan, besarnya utang yang
harus dipikul oleh negara, meningkatnya pengangguran,
kemiskinan dan kesenjangan sosial, serta menumbuhkan krisis
di berbagai bidang kehidupan. Hal ini mendorong timbulnya
gerakan masyarakat terhadap pemerintah, yang dipelopori oleh
para mahasiswa dan dosen. Demonstrasi besar-besaran pada
tanggal 20 Mei 1998 merupakan puncak keruntuhan Orde Baru,
yang diakhiri dengan penyerahan kekuasaan dari Presiden
Soeharto kepada B.J. Habibie pada tanggal 21 Mei 1998.
Berbagai penyimpangan pada era global (reformasi) :

Berbagai penyimpangan telah terjadi selama era Reformasi, antara lain:


a. Belum terlaksananya kebijakan pemerintahan Habibie karena pembuatan
perudang-undangan

menunjukkan

secara

tergesa-gesa,

sekalipun

perekonomian menunjukkan perbaikan dibandingkan saat jatuhnya


Presiden Soeharto.
b. Kasus pembubaran Departemen Sosial dan Departemen Penerangan pada
masa pemerintahan Abdurachman Wahid, menciptakan persoalan baru
bagi rakyat banyak karena tidak dipikirkan penggantinya.
c. Ada perseteruan antara DPR dan Presiden Abdurachman Wahid yang
berlanjut dengan Memorandum I dan II berkaitan dengan kasus Brunei
Gate dan Bulog Gate, kemudian MPR memberhentikan presiden
karena dianggap melanggar haluan negara
d. Baik pada masa pemerintahan Abdurachman Wahid maupun Megawati,
belum terselesaikan masalah konflik Aceh, Maluku, Papua, Kalimantan
Tengah dan ancaman disintegrasi lainnya
e. Belum maksimalnya penyelesaian masalah pemberantasan KKN, kasuskasus pelanggaran HAM, terorisme, reformasi birokrasi, pengangguran,
pemulihan investasi, kredibilitas aparatur negara, utang domestik,
kesehatan dan pendidikan serta kerukunan beragama.
6.

Mencari dan Menggali Sumber Sosiologis tentang Berbagai Kearifan


Lokal di Indonesia yang Terkait dengan Sistem Etika Berdasarkan Silasila Pancasila
Sumber sosiologis Pancasila sebagai sistem etika dapat ditemukan dalam
kehidupan masyarakat berbagai etnik di Indonesia. Kearifan lokal diartikan
sebagai nilai-nilai budaya yang baik, yang ada di dalam suatu masyarakat
seperti :
1.

Prinsip Tri Hita Karana yang menjadi budaya masyarakat Bali


mengandung arti keselarasan hubungan dengan tiga penyebab kebahagiaan
yaitu Parhyangan , merupakan keharmonisan hubungan dengan Tuhan
yang mencerminkan nilai Ketuhanan pada sila ke 1 Pancasila yaitu
Ketuhanan Yang Maha Esa. Pawongan, keharmonisan dengan sesama

manusia, dan Palemahan yaitu hubungan harmonis dengan lingkungan


alam sekitar.
2.

Masyarakat adat Moloku Kie Raha di Ternate menganut


sistem etika yang didasarkan pada Duka se Cinta. Duka se Cinta
mengandung arti turut merasakan penderitaan yang dialami seseorang.
Kearifan lokal ini didasari oleh sila ke 2 Pancasila yaitu Kemanusiaan
Yang Adil dan Beradab.

3.

Kearifan lokal di Maluku Utara yang tinggal di Soa atau


kampung dengan tatanan sosial yang demokratis dengan memegang
prinsip Adat se Atorang yang dapat dikatakan sebagai prinsip kebersamaan
dalam bingkai Morimoi Ngone Futuru yang cinta persaudaraan. Kearifan
lokal ini didasari oleh sila ke 3 Pancasila yaitu Persatuan Indonesia.

4.

Orang Minangkabau dalam hal bermusyawarah memakai


prinsip bulat air oleh pembuluh, bulat kata oleh mufakat yang didasari
oleh nilai Kerakyatan pada sila Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat
Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan/ Perwakilan

5.

Budaya Huyula yang

dikenal oleh masyarakat Gorontalo

sebagai sarana untuk bekerja sama dalam menyelesaikan suatu pekerjaan


demi kepentingan umum. Huyula merupakan suatu sistem gotong royong
atau tolong menolong antara anggota masyarakat untuk memenuhi
kebutuhan dan kepentingan bersama yang didasarkan pada \solidaritas
sosial. Hal ini tercermin dalam kegiatan yang dilaksanakan secara bersama
oleh seluruh anggota masyarakat seperti halnya dalam kegiatan
kekeluargaan ataupun kegiatan pertanian. Kebudayaan ini didasari oleh
nilai keadilan sosial dari sila ke 5 Pancasila yaitu Keadilan Sosial Bagi
Seluruh Rakyat Indonesia
7.

Sumber Politis tentang Pancasila Sebagai Sistem Etika dalam Bentuk


Perilaku Politik yang Sesuai dan yang Tidak Sesuai dengan Nilai-Nilai
Pancasila, serta Contoh-contoh Perilaku yang Dapat Muncul Akibat
Ketidaksesuaian dalam Beretika Politik
Sumber Politis tentang Pancasila sebagai sistem etika terdapat dalam normanorma dasar sebagai penyusunan berbagai peraturan perundang-undangan di
Indonesia.

a.

Ketuhanan Yang Maha Esa


Sila pertama merupakan sumber nilai-nilai moral bagi kehidupan
kebangsaan dan kenegaraan. Berdasarkan sila pertama Negara Indonesia
bukanlah negara teokrasi yang mendasarkan kekuasaan negara pada
legitimasi religius. Kekuasaan kepala negara tidak bersifat mutlak
berdasarkan legitimasi religius melainkan berdasarkan legitimasi hukum
dan demokrasi. Walaupun Negara Indonesia tidak mendasarkan pada
legitimasi religius, namun secara moralitas kehidupan negara harus
sesuai dengan nilai-nilai yang berasal dari Tuhan terutama hukum serta
moral dalam kehidupan negara. Oleh karena itu asas sila pertama lebih

b.

berkaitan dengan legitimasi moral.


Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Sila kedua juga merupakan sumber nilai-nilai moralitas dalam
kehidupan negara. Bangsa Indonesia sebagai bagian dari umat manusia di
dunia hidup secara bersama dalam suatu wilayah tertentu, dengan suatu
cita-cita, serta prinsip hidup demi kesejahteraan bersama. Manusia
merupakan dasar kehidupan dan penyelenggaran negara. Oleh karena itu
asas-asas kemanusiaan adalah bersifat mutlak dalam kehidupan negara
dan hukum. Dalam kehidupan negara kemanusiaan harus mendapatkan
jaminan hukum, maka hal inilah yang diistilahkan dengan jaminan atas
hak-hak dasar (asasi) manusia. Selain itu asas kemanusiaan juga harus

c.

merupakan prinsip dasar moralitas dalam penyelenggaraan negara.


Persatuan Indonesia
Persatuan berati utuh dan tidak terpecah-pecah. Persatuan
mengandung pengertian bersatunya bermacam-macam corak yang
beraneka ragam menjadi satu kebulatan. Sila ketiga ini mencakup
persatuan dalam arti ideologis, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan
pertahanan keamanan. Indonesia sebagai negara plural yang memiliki
beraneka ragam corak tidak terbantahkan merupakan negara yang rawan
konflik. Oleh karenanya diperlukan semangat persatuan sehingga tidak
muncul jurang pemisah antara satu golongan dengan golongan yang lain.
Dibutuhkan sikap saling menghargai dan menjunjung semangat persatuan
demi keutuhan negara dan kebaikan besama. Oleh karena itu sila ketiga
ini juga berkaitan dengan legitimasi moral.

d.

Kerakyatan

yang

Dipimpin

oleh

Hikmat

Kebijaksanaan

dalam

Permusyawaratan/ Perwakilan
Negara adalah berasal dari rakyat dan segala kebijaksanaan, serta
kekuasaan yang dilakukan senantiasa untuk rakyat. Oleh karena itu
rakyat merupakan asal bagi kekuasaan negara. Dalam pelaksanaan dan
penyelenggaraan

negara

segala

kebijaksanaan,

kekuasaan,

serta

kewenangan harus dikembalikan kepada rakyat sebagai pendukung


pokok negara. Maka dalam pelaksanaan politik praktis, hal-hal yang
menyangkut kekuasaan legislatif, eksekutif serta yudikatif, konsep
pengambilan keputusan, pengawasan serta partisipasi harus berdasarkan
legitimasi dari rakyat, atau dengan kata lain harus memiliki legitimasi
e.

demokratis.
Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Dalam penyelenggaraan negara harus berdasarkan legitimasi hukum
yaitu prinsip legalitas. Negara Indonesia adalah negara hukum, oleh
karena itu keadilan dalam hidup bersama (keadilan sosial) merupakan
tujuan dalam kehidupan negara. Dalam penyelenggaraan negara, segala
kebijakan, kekuasaan, kewenangan, serta pembagian senatiasa harus
berdasarkan hukum yang berlaku. Pelanggaran atas prinsip-prinsip
keadilan

dalam

kehidupan

kenegaraan

akan

menimbulkan

ketidakseimbangan dalam kehidupan negara.


Adapun contoh perilaku yang dapat muncul akibat ketidaksesuaian dalam
beretika politik adalah sebagai berikut yaitu munculnya tindak pidana korupsi
kolusi

dan

nepotisme,

penyuapan,

pembunuhan,

terorisme,

dan

penyalahgunaan narkotika. Contoh-contoh perilaku yang tidak sesuai dalam


beretika politik disebabkan karena kurang terealisasinya etika politik pada
setiap individu. Salah satu contoh ketidaksesuaian dalam beretika politik
salah satunya adalah kasus tindak pidana korupsi Angelina Sondakh pada
kasus dugaan korupsi pembangunan wisma atlet dan gedung serbaguna
Sumatera Selatan 2010-2011. (Tribun Nasional, 2015)

DAFTAR PUSTAKA
Erwan Baharudin. 2012. Kearifan Lokal, Pengetahuan Lokal dan Degradasi
Lingkungan.

Di

akses

pada

link

http://www.esaunggul.ac.id/epaper/kearifan-lokal-pengetahuan-lokaldan-degradasi-lingkungan/ pada tanggal 19 September 2015


Kaelan. 2010. Pendidikan Kewarganegaraan. Yogyakarta : Paradigma.
Mizan, Hafiedz. 2013. Penyimpangan Pada Orde Lama dan Orde Baru. Di akses
pada link : http://hukum.unsrat.ac.id/penyimpanga-pada-orde-lama-ordebaru.html. tanggal 16 September 2015.
Moekijat. 1997. Asas-asas Etika. Mandar Maju : Bandung.
Sianipar,

Intiani.

2014.

Teori-teori

Etika.

Di

akses

pada

link

http://www.academia.edu/8127620/Teleologi pada tanggal 16 September


2015.
Sudjto,dkk. 2013. Prosiding Kongres Pancasila V Strategi Pembudayaan Nilainilai

Pancasila

dalam

Menguatkan

Semangat

ke-Indonesia-an.

Yogyakarta: Penerbit OMBAK UGM.


Syarbaini, Syahrial. 2015. Pancasila sebagai Etiket. Di akses pada link :
http://wpurwanis.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/39300/PP+
%3D+MODUL+8++(PANCASILA+ETIKA).doc.

pada

tanggal

16

September 2015.
Tribunnews, 2015. Kasus Korupsi Wisma Atlet KPK Periksa Angelina Sondakh.
Di akses pada link : http://www.tribunnews.com/nasional/2014/12/11/kasuskorupsi-wisma-atlet-kpk-periksa-angelina-sondakh

pada

tanggal

22

September 2015.
Fajarini, Ulfah.2014. Peranan Kearifan Lokal dalam Pendidikan Karakter.
Didaktika

Sosial

Vol.1

No.12

diakses

pada

link

http://www.journal.uinjkt.ac.id pada tanggal 22 September 2015


Fernando

Rowland

Bismark.

2013.

http://rowland_pasaribu.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/36631/bab04-pancasila-sebagai-etika-politik.pdf. pada tanggal 23 September 2015