Anda di halaman 1dari 18

HASIL DISKUSI SGD 6

PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NEGARA

OLEH :
NI KADEK PRITAYANI

(1402105005)

NI MADE DIAN DARMALINI

(1402105011)

A.A AYU INTAN MURTI N.

(1402105015)

NI PUTU DIAH SUKAYANTI

(1402105017)

NI PUTU IRA FENARANI

(1402105021)

NI WAYAN IKA PUSPITASARI

(1402105029)

NI PUTU ANGGI DEWI P.

(1402105031)

I MADE KANTA KARUNA

(1402105034)

LUH GEDE MAS KURNIA W.

(1402105044)

PEITER GIDEON

(1402105061)

NI PUTU PANDE RIRIN ADNYAWATI

(1402105062)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2015

PEMBAHASAN
1.

Pengertian dan Pemahaman Ideologi yang Dikemukakan oleh Beberapa


Tokoh Indonesia
a. Menurut Murdiono, ideologi adalah kompleks pengetahuan dan nilai
yang secara keseluruhan menjadi landasan bagi seseorang (masyarakat)
untuk memahami jagat raya dan bumi seisinya, serta menentukan sikap
b.

dasar untuk mengelolanya.


Kirdi Dipoyuda mengartikan ideologi sebagai suatu kesatuan gagasangagasan dasar yang sistematis dan menyeluruh tentang manusia dan
kehidupannya, baik individual maupun sosial (termasuk kehidupan

c.

negara).
Ali Syariati, mendefinisikan ideologi sebagai keyakinan-keyakinan dan
gagasan-gagasan yang ditaati oleh suatu kelompok, suatu kelas sosial,

d.

serta suatu bangsa atau suatu ras tertentu.


Menurut Gunawan Setiardja, ideologi adalah seperangkat ide asasi
tentang manusia dan seluruh realitas yang dijadikan pedoman serta cita-

e.

cita kehidupan.
Soerjanto Poespowardojo dalam bukunya yang berjudul Filsafat ilmu
Pengetahuan disebutkan bahwa ideologi adalah konsep pengetahuan dan
nilai yang secara keseluruhan menjadi landasan bagi seseorang atau
masyarakat untuk memahami jagat raya dan bumi seisinya serta

f.

menentukan sikap dasar untuk mengolahnya.


Dr. Alfian dalam bukunya yang berjudul Pemikiran dan Perubahan
Politik lndonesia berpendapat bahwa ideologi adalah pandangan atau
sistem bilateral yang menyeluruh dan mendalam mengenai cara yang
sebaiknya, yaitu secara moral dianggap benar dan adil serta mengatur

g.

tingkah laku bersama dalam berbagai segi kehidupan.


Padmo Wijayano dalam bukunya yang berjudul Bunga Rampai Sejarah
Sosial Ekonomi berpendapat bahwa ideologi adalah kesatuan yang

h.

bulat dan utuh dari ide-ide dasar.


M. Sastrapratedja dalam tulisannya yang berjudul ide-Ide Menerobos
memaknai ideologi adalah seperangkat gagasan atau pemikiran yang
berorientasi pada tindakan yang diorganisir menjadi sistem yang teratur.

i.

Menurut Soejono Soemargono, ideologi secara umum dapat dikatakan


sebagai kumpulan gagasan-gagasan, ide-ide, keyakinan-keyakinan,
kepercayaan-kepercayaan yang menyeluruh dan sistematis, yang
menyangkut bidang politik (termasuk bidang pertahanan dan keamanan),

j.

bidang sosial, bidang kebudayaan, dan bidang keagamaan.


Mubyarto mengartikan bahwa ideologi merupakan sejumlah ajaran
kepercayaan dan simbol simbol sekelompok masyarakat atau suatu
bangsa yang menjadi pegangan dan pedoman karya atau perjuangan

k.

untuk mencapai tujuan masyarakat atau bangsa.


Notonegoro
sebagaimana
dikutip

oleh

Kaelan

mengemukakan, bahwa ideologi negara dalam arti citacita negara atau cita-cita yang menjadi dasar bagi suatu
sistem kenegaraan untuk seluruh rakyat dan bangsa yang
bersangkutan

pada

hakikatnya

merupakan

asas

kerohanian yang antara lain memiliki ciri:


a. Mempunyai derajat yang tertinggi sebagai nilai hidup
kebangsaan dan kenegaraan.
b. Mewujudkan suatu asas kerohanian, pandangan dunia,
pedoman hidup, pegangan hidup
dikembangkan,

diamalkan,

yang

dilestarikan

dipelihara,
kepada

generasi berikutnya, diperjuangkan dan dipertahankan


l.

dengan kesediaan berkorban.


Prof. Padmo Wahyono, SH memberi makna ideologi
sebagai pandangan hidup bangsa, falsafah hidup bangsa,
berupa seperangkat
dan

akan

tata

direalisir

nilai
di

yang

dicita-citakan

dalam

kehidupan

berkelompok. Ideologi ini akan memberikan stabilitas arah


dalam hidup berkelompok dan sekaligus memberikan
dinamika gerak menuju ke yang dicita-citakan
2.

Faktor-faktor dari Pola Pikir Machiavelli yang Tidak Sesuai dengan


Ideologi Pancasila
Sebelum mengarah pada faktor-faktor dari pola pikir Machiavelli yang
tidak sesuai dengan Ideologi Pancasila, penting terlebih dahulu untuk

mengetahui pengertian atau bentuk dari pola pikir Machiavelli. Menurut


Machiavelli tugas penguasa adalah mempertahankan dan memperluas
wilayah kekuasaannya dengan berbuat apa saja yang terpenting kekuasaan
tersebut dapat dipertahankan, serta mencapai suatu kesuksesan tanpa adanya
perhatian pada moral di dalam urusan politik (kedudukan tertinggi ada di
tangan penguasa bukan rakyat dan prinsip-prinsip hukum). Dalil-dalil lain
menurut Machiavelli sebagai faktor bertahannya suatu negara adalah politik
adu domba (divide et impera) yang dianggap sah dilakukan dengan tujuan
untuk menjaga kekuatan rezim, digunakannya ungkapan "yang kuat pasti
dapat bertahan dan menang", ungkapan memusnahkan sama artinya dengan
membumi hanguskan negara, artinya seluruh keluarga penguasa lama tidak
boleh ada yang tersisa karena hal itu dapat menimbulkan suatu ancaman bagi
penguasa baru suatu saat kelak, adanya kebebasan individu yang disediakan
sepanjang tidak mengganggu keselamatan dan stabilitas tatanan politik, dan
adanya ungkapan negara harus mendominasi agama (dalam artian adakah
fungsi agama dalam kehidupan politis).
Jika dibandingkan dengan Ideologi Pancasila, ada beberapa hal yang
memang bertentangan dengan nilai-nilai yang di dalam kelima sila Pancasila :
1. Ungkapan negaralah yang mendominasi agama dan melihat pentingkah
agama dalam kehidupan politis, hal ini sudah jelas bertentangan dengan
sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, karena makna dari sila ini
adalah negara didirikan berdasarkan pengejawantahan tujuan manusia
sebagai makhluk Tuhan yang Maha Esa, oleh karena itu segala hal yang
berkaitan dengan pelaksanaan dan penyelenggaraan negara bahkan moral
negara, moral penyelenggara negara, politik negara, pemerintahan
negara, hukum dan peraturan perundang-undangan negara, kebebasan
dan hak asasi warga negara harus dijiwai nilai-nilai Ketuhanan Yang
Maha Esa (Ketuhan yang sebagai sumber terbentuknya suatu negara,
2.

bukan negara yang sudah terbentuk mendominasi Ketuhanan).


Ungkapan penguasa memegang kekuasaan tertinggi, membumi
hanguskan negara (penguasa lama), dan yang kuat dialah sebagai
pemenang, bertentangan dengan sila kedua, sila keempat, dan sila kelima.
Makna dari sila kedua adalah kehidupan kenegaraan terutama dalam

peraturan perundang-undangan negara harus mewujudkan tercapainya


tujuan ketinggian harkat dan martabat manusia, terutama hak-hak kodrat
manusia sebagai hak dasar (hak asasi), kesadaran sikap moral dan
tingkah laku manusia yang didasari oleh potensi budi nurani manusia
yang berhubungan dengan norma-norma dan kebudayaan terhadap diri
sendiri, terhadap sesama manusia, maupun terhadap lingkungannya.
Membumi hanguskan penguasa lama beserta keluarganya merupakan
peniadaan dari hak asasi manusia untuk hidup. Makna dari sila keempat
adalah terbentuknya negara dari oleh dan untuk rakyat merupakan asal
mula dari adanya kekuasaan negara, serta memaknai tidak adanya oknum
penguasa dan oknum yang dikuasai seperti pola pikir Machiavelli. Serta
makna dari sila kelima adalah keadilan yang dijiwai tersebut pada
hakekatnya adalah keadilan manusia dengan dirinya sendiri, manusia
dengan manusia yang lain, manusia dengan masyarakat, bangsa dan
negaranya, serta hubungannya dengan Sang Pencipta. Jika dilihat dari
ungkapan "pemenang adalah yang berkuasa", seolah-olah terlihat bahwa
manusia akan meniadakan manusia yang lain untuk mendapat predikat
sebagai pemenang, lagi pula cara-cara apapun yang dilakukan walaupun
3.

itu amoral tetap dianggap sah.


Ungkapan "adu domba" bukanlah merupakan prinsip dari persatuan
Indonesia, namun Bhinneka Tunggal Ikalah yang merupakan landasan
persatuan dalam kehidupan bersama untuk mewujudkan tujuan bersama
sebagai bangsa meskipun adanya perbedaan suku, ras, kelompok,
golongan, maupun agama.

3.

Mengomentari Fenomena Kehidupan Bangsa Indonesia Dewasa Ini yang


Memperlihatkan Benturan Kepentingan antara Pengusaha (Kaum
Kapitalis) dan Pihak Buruh (Kaum Proletar) dalam Perspektif Marx
Teori kelas Karl Marx diawali dengan seperangkat kepentingan yang
didefinisikan secara objektif yang muncul dari hubungan-hubungan
penindasan dan dominasi dalam produksi. Menurut Karl Marx, pelaku-pelaku
utama dalam perubahan sosial bukanlah individu-individu tertentu, melainkan
kelas-kelas sosial, serta kelas-kelas tersebut tidak dibedakan berdasarkan

pendapatan yang dihasilkan. Dalam uraiannya, Marx menyebut dua kelas


yang saling berpengaruh, yaitu kaum kapitalis atau pemilik modal dan kaum
buruh atau mereka yang hidup dengan menjual tenaga kerja sendiri. Kaum
kapitalis memiliki sarana-sarana kerja, sedangkan kaum buruh hanya
memiliki tenaga kerja mereka sendiri yang saling berhadapan dan
membutuhkan. Para kapitalis dapat menetapkan syarat-syarat bagi mereka
yang mau bekerja, sedangkan kaum buruh akan mencari pekerjaan dan
menerima upah, serta menuruti syarat-syarat yang diajukan oleh kaum
kapitalis. Menurut Marx, hubungan antara kaum kapitalis dan kaum buruh
adalah hubungan kekuasaan, yang pada hakekatnya kaum kapitalis memiliki
kemampuan untuk meniadakan kesempatan buruh untuk bekerja dan
memperoleh nafkah, dipakai untuk meniadakan keinginan kaum buruh untuk
menguasai pekerjaan mereka sendiri, untuk dipergunakan jasanya, dan
bekerja kepada kaum kapitalis.
Contoh benturan kepentingan yang pernah terjadi di Indonesia baik
penguasa yang semena-mena terhadap kaum buruh atau kaum buruh yang
ingin menguasai si penguasa. Contohnya kasus yang dilaporkan tanggal 6
November 2012, yang berisikan bahwa Direktur Utama Metro TV Adrianto
Machribie ke Polda Metro Jaya atas tuduhan penggelapan gaji. Dalam berita
ini, dikabarkan bahwa Luviana (karyawan) gajinya sudah tidak dibayar sejak
27 Juni 2012. Tindakan ini melanggar Pasal 93 junto Pasal 186 UndangUndang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, seharusnya dari
pihak pemilik saham melakukan kewajibannya untuk memberi upah kepada
karyawannya dan bukan hanya memanfaatkan jasa dari karyawan tanpa
memberikan hak yang seharusnya karyawan tersebut terima.
4.

Corak Karakteristik Ideologi Negara di Dunia dan Perbandingannya


dengan Ideologi Pancasila
a.

Seperangkat prinsip dasar sosial politik yang menjadi pegangan


kehidupan sosial politik yang diinkorporasikan dalam dokumen resmi
Negara.
Pernyataan ini sesuai dengan Ideologi Pancasila, terbukti dengan
tercantumnya dasar falsafah Pancasila Negara Kesatuan Republik

Indonesia di dalam Pembukaan UUD 1945 alinea keempat, "... dengan


berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil
dan Beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang Dipimpin oleh
Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/ Perwakilan, serta
dengan mewujudkan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia".
Apabila UUD 1945 merupakan sumber hukum tertinggi dari hukum yang
berlaku di Indonesia, maka Pembukaan UUD 1945 merupakan sumber
dari cita hukum dan cita moral (staatsfundamental-norm). UUD ialah
hukum dasar tertulis dan sebagai dokumen resmi Negara Republik
Indonesia.
b.

Suatu pandangan hidup yang merupakan cara menafsirkan realistis serta


mengutamakan nilai tertentu yang memengaruhi kehidupan sosial, politik
dan budaya.
Pernyataan ini sesuai dengan Ideologi Pancasila, karena Pancasila
merupakan pandangan hidup masyarakat yang tercermin dalam
kehidupan negara yaitu pemerintah yang terikat oleh kewajiban
konstitusional (kewajiban pemerintah dan penyelenggara negara) yang
bertujuan untuk memelihara budi pekerti kemanusiaan yang teguh dan
memegang teguh cita-cita moral rakyat yang luhur. Pancasila sebelum
dirumuskan sebagai dasar negara serta ideologi negara, nilai-nilainya
terdapat dalam adat istiadat, dalam budaya serta agama-agama sebagai
pandangan hidup masyarakat Indonesia, yang kemudian menjelma
menjadi pandangan hidup bangsa yang telah terintis sejak zaman
Sriwijaya, Majapahit kemudian Sumpah Pemuda tahun 1928, dan
dirumuskan oleh para pendiri negara dalam sidang BPUPKI, panitia
Sembilan, serta sidang PPKI, ditentukan dan disepakati sebagai dasar
negara Indonesia sebagai pandangan hidup negara dan ideologi negara.

c.

Suatu model atau paradigma tentang perubahan sosial yang tidak


dinyatakan sebagai ideologi tetapi berfungsi sebagai ideologi.
Nilai-nilai Pancasila terwujud sebagai moral dan norma bangsa
Indonesia, sehingga membentuk Indonesia sebagai negara yang merdeka
dan berdaulat dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pancasila sebagai paradigma yang tidak dinyatakan sebagai ideologi


tetapi berfungsi sebagai ideologi contohnya seperti Pancasila sebagai
paradigma pembangunan, yang mempunyai arti bahwa Pancasila sebagai
sumber nilai, sebagai arah, dan tujuan dari proses pembangunan.
Pancasila sebagai paradigma pembangunan menempatkan manusia
sebagai bagian dari pelaksanaan pembangunan nasional di segala bidang
yang dengan akal budi dan segala upaya selalu mengacu pada nilai-nilai
dari sila-sila Pancasila. Pancasila menempatkan manusia Indonesia
sebagai subyek pelaksana sekaligus tujuan pembangunan dengan
mendasarkan pada hakikat manusia monopluralis demi kesejahteraan.
d. Berbagai aliran pemikiran yang menonjolkan nilai tertentu yang menjadi
pedoman gerakan suatu kelompok.
Pernyataan ini kurang sesuai dengan ideologi Pancasila. Selain di
dukung oleh pembuktian pada poin C, ada hal-hal lain yang mendukung
bahwa pernyataan ini kurang sesuai dengan ideologi Pancasila karena
nilai-nilai Pancasila pada dasarnya merupakan sumber dari hukum dasar
dalam negara Indonesia, yang secara objektif merupakan pandangan
hidup, kesadaran, cita-cita hukum, serta cita-cita moral yang luhur
meliputi suasana kejiwaan dan watak bangsa Indonesia. Tidak ada nilai
yang menonjolkan diri, karena semua nilai ini masuk dan menjadi bagian
dalam nilai-nilai Pancasila.
Berdasarkan pola pikir kedua dan ketiga dalam pembukaan UUD
1945, yaitu menyatakan bahwa negara hendak mewujudkan suatu
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia serta menyatakan bahwa
negara Indonesia adalah kedaulatan rakyat. Sehingga pernyataan menjadi
pedoman gerakan suatu kelompok kurang tepat, karena negara Indonesia
dibentuk oleh rakyat, untuk rakyat, dan dari rakyat, bukan kelompok
tertentu.
5.

Diskusi Tentang Gaya Hidup Konsumerisme yang Melanda Kehidupan


Masyarakat Dewasa Ini dan Cara-Cara Penanggulangannya
Konsumerisme adalah sebuah paham atau idelogi yang menjadikan
seseorang atau sekelompok orang melakukan proses konsumsi atau
pemakaian barang hasil produksi secara berlebihan yang tidak disadari dan

berkelanjutan, serta menimbulkan ketergantungan terhadap suatu produk.


Faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya budaya konsumtif antara lain
lingkungan sosial, ketidakmampuan menyesuaikan diri, brand awareness
yang mencakup loyalitas merek, serta strategi perluasan merek yang
dilakukan oleh perusahaan atau produsen.
Contoh yang sangat jelas adalah

penggunaan handphone pada

masyarakat Indonesia. Dewasa ini handphone atau hp menjadi kebutuhan


primer yang wajib dimiliki tiap-tiap orang. Mulai harga 100 ribuan hingga
puluhan juta tersedia untuk mencangkup seluruh lapisan masyarakat sesuai
kemampuan yang dimiliki. Yang sedang menjadi trend saat ini adalah
Blackberry, Android, dan kini sedang berada dalam era Iphone. Masyarakat
semakin berlomba-lomba untuk mendapatkan hp jenis-jenis itu dengan
berbagai cara, seperti berhutang atau penggunaan credit card . Pengguna hp
juga semakin hari tidak melihat umur dan kebutuhan. Siswa SD pun sudah
ada yang memiliki smartphone yang tentu saja belum terlalu dibutuhkan di
usia mereka yang masih perlu membaca buku dan membiasakan tangan untuk
menulis .
Adapun cara-cara penanggulangan dari budaya konsuntif tersebut adalah
sebagai berikut :
a. Membuat perencanaan keuangan bulanan secara baik dengan membuat
skala prioritas terhadap kebutuhan pokok. Dengan demikian, kita dapat
menyeimbangkan seberapa besar perencanan dan pendapatan yang
b.

diperoleh, serta mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan.


Menerapkan gaya hidup mandiri untuk mengenali kelebihan dan
kekurangan diri sendiri, serta memiliki strategi untuk bisa mencapai
tujuan. Kedisiplinan merupakan pembentuk gaya hidup yang mandiri,
serta

memampukan

untuk

menentukan

pilihannya

secara

bertanggungjawab serta menimbulkan inovasi yang kreatif untuk


c.

kemandirian tersebut.
Melatih kesabaran dengan tidak membeli semua hal yang kita inginkan,
(bukan yang kita butuhkan), juga dapat menjadi sikap yang baik di
tengah maraknya budaya konsumtif. Upaya ini dapat dilakukan dengan
berbagai cara, seperti mengurangi frekuensi berkunjung ke pusat
perbelanjaan, menyibukkan diri dengan kegiatan yang bermanfaat, dan

menjadi seorang yang produktif, yang mampu menciptakan hasil karya


yang dapat menunjang pendapatan dan menggunakan waktu yang efektif,
misalnya menjadi pengusaha kecil-kecilan.
6.

Alasan Maraknya Aksi Terorisme dan Radikalisme di Indonesia


Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2003
Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme menyebutkan bahwa
terorisme merupakan tindak pidana yang didefinisikan sebagai kekerasan atau
ancaman kekerasan yang menimbulkan teror atau rasa takut terhadap orang
secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara
merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain
atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek vital yang
strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas umum atau fasilitas
internasional. Sedangkan Radikalisme adalah suatu paham yang menghendaki
adanya perubahan atau pergantian terhadap suatu sistem di masyarakat
sampai ke akarnya, atau menginginkan adanya perubahan total terhadap suatu
kondisi atau semua aspek kehidupan masyarakat jika perlu dilakukan dengan
menggunakan cara-cara kekerasan.
Beberapa faktor-faktor yang mendasari kasus-kasus radikalisme yang
berujung pada aksi terorisme, adalah sebagai berikut :
a. Persepsi terhadap ketidakadilan distributif, prosedural, dan interaksional
Djamaludin Ancok (2008) berpendapat bahwa persepsi terhadap
ketidakadilan merupakan faktor penting yang berkorelasi dengan
radikalisme yang berujung pada aksi terorisme. Yang pada akhirnya,
kekerasanlah yang menjadi cara yang dipilih sebagai bentuk perlawanan
dan didukung oleh pemaknaan terhadap ayat-ayat kitab suci dan adanya
komunitas yang menyuburkan persepsi radikalisme tersebut.
Contoh aksi terorisme pengeboman di Bali tahun 2002, dalam buku
yang ditulis oleh Imam Samudra (2004) yang berjudul "Aku Melawan
Terorisme" mengungkapkan faktor terjadinya pengeboman karena
Amerika yang selalu menyudutkan gerakan Islam, sehingga dipilihlah
membom Bali karena disitulah berkumpul banyak orang asing (tourist).
Kemudian aksi radikalisme warga Kampung Pulo terhadap keputusan
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam melakukan penggusuran dan
repitalisasi Kampung Pulo.

b.

Komunitas yang mendukung dan adanya polarisasi ingroup-outgroup


Komunitas memberikan pengaruh kuat dalam pembentukan perilaku
individu, seperti sikap, nilai, dan pola perilaku individunya. Kemudian di
dukung kembali dengan pola pikir yang mengklain bahwa aksinya
berdasarkan pihanya adalah benar dan mendefinisikan pihak lain (sasaran

c.

aksinya) adalah lawan atau monster yang harus ditumpas.


Kekecewaan terhadap praktik sistem demokrasi
Berdasarkan Milla (2008), dalam wawancaranya dengan tiga
terpidana mati Bom Bali I yang dipenjara di Nusakambangan, bahwa
para pelaku tindak terorisme Bom Bali I cenderung terjebak dalam bias
heuristik. Heuristik merupakan kemampuan manusia mengambil
keputusan secara cepat berdasarkan data yang tidak lengkap dan
didukung oleh rasa kekecewaan yang besar terhadap sistem demokrasi
akibat presepsi ketidakadilan.

7.

Pancasila Sebagai Ideologi, Termasuk Bersifat Tertutup atau Terbuka?


CIRI-CIRI IDEOLOGI
TERTUTUP
TERBUKA
Dibuat oleh kelompok yang ingin Merupakan kekayaan rohani, moral,
menguasai negara
Ideologi

dan

dipaksakan,

kebudayaanyang

kesepakatan masyarakat
menuntut Ideologi
tidak
dipaksakan,

masyarakat memiliki kesetiaan total melainkan


masyarakat
HAM

tidak

merupakan

dihormati

menginspirasi
untuk

bertanggung

jawab
dan HAM dihormati dan menghargai

pluralisme ditiadakan
pluralisme
Bersifat beku dan kaku, tidak dapat Bersifat luwes dan fleksibel, dapat
dikembangkan secara kreatif dan dikembangkan secara kreatif dan
dinamis

dinamis

Berdasarkan perbandingan ciri-ciri ideologi di atas, ideologi Pancasila


masuk dalam kategori ideologi terbuka. Dikatakan ideologi terbuka karena :
a. Pancasila tidak dibuat oleh kelompok yang ingin menguasai negara
melainkan Pancasila ditemukan dalam diri masyarakatnya sendiri dan

merupakan kesepakatan bersama Pancasila mencerminkan nilai dan


b.

pandangan mendasar serta hakikat rakyat Indonesia dalam kehidupannya.


Pancasila tidak pernah memaksa kehendak masyarakat, melainkan
mengaspirasi masyarakat untuk berusaha hidup bertanggung jawab sesuai
falsafah. Pancasila menghendaki agar bangsa Indonesia bertahan dalam
jiwa dan budaya bangsa Indonesia dalam wadah Negara Kesatuan

c.

Republik Indonesia.
Pancasila menghargai pluralitas, sehingga dapat diterima masyarakat

d.

yang berasal dari berbagai latar belakang budaya dan agama.


Pancasila bersifat fleksibel yang memiliki keluwesan

untuk

memungkinkan pengembangan-pengembangan baru yang relevan agar


sesuai perkembangan zaman namun tanpa menghilangkan hakikat yang
terkandung dalam nilai-nilai dasarnya.
8.

Hakikat Nilai Pancasila tentang Sila Kelima Keadilan Sosial bagi


Seluruh Rakyat Indonesia sehingga Terlihat Aplikasinya dalam
Kehidupan Bermasyarakat dan Bernegara
Hakikat nilai Pancasila merupakan nilai yang kebenarannya dapat
dibuktikan secara objektif serta mengandung kebenaran yang universal. Nilainilai Pancasila terwujud sebagai moral dan norma bangsa Indonesia. Hakikat
nilai pada sila kelima Pancasila yaitu, nilai-nilai keadilan sosial dalam
kehidupan sosial atau kemasyarakatan yang meliputi seluruh rakyat Indonesia
terutama dalam bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial, kebudayaan, dan
pertahanan keamanan nasional. Nilai keadilan pada sila kelima mewujudkan
cita-cita masyarakat adil dan makmur secara material, serta spiritual bagi
seluruh rakyat Indonesia, menciptakan

keseimbangan antara hak dan

kewajiban, menghormati hak orang lain, dan cinta akan kemajuan


pembangunan.
Aplikasinya dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara adalah
sebagai berikut :
1. Mengembangkan perbuatan yang luhur dan menciptakan suasana
2.
3.

kekeluargaan dan kegotong-royongan


Mengembangkan sikap adil terhadap orang lain
Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat
pemerasan terhadap orang lain dan merugikan kepentingan umum

4.

Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan

5.

dan gaya hidup mewah


Menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan
kesejahteraan bersama

9.

Faktor-Faktor yang Mengancam Keutuhan Nasional Bangsa Indonesia,


Sekaligus Perlihatkan Peran Ideologi Pancasila sebagai Pemersatu
Bangsa Indonesia
Ancaman di era globalisasi yang ditandai dengan perkembangan
kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, komunikasi, dan informasi sangat
mempengaruhi pola dan bentuk ancaman. Ancaman tersebut dapat bersumber,
baik dari permasalahan ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya maupun
permasalahan keamanan antara lain terorisme, imigran gelap, bahaya
narkotika, pencurian kekayaan alam, bajak laut, dan pengrusakan lingkungan.
Ancaman-ancaman itu dapat dikelompokkan menjadi dua bagaian, yaitu
ancaman yang datang dari luar negeri dan ancaman dari dalam negeri.
1.

Ancaman Dari Dalam Negeri


a.

Kerusuhan
Ancaman kerusuhan akan timbul jika terjadi kesenjangan ekonomi.
Ancaman ini muncul ketika pembangunan nasional tidak berhasil
memberikan
pemerintah

kesejahteraan
tidak

berhasil

kepada

masyarakat.

memperkecil

Selain

ketidakadilan

itu,
sosial

ekonomi.
b.

Pemaksaan Kehendak
Ancaman ini terjadi karena ada golongan tertentu yang memaksakan
kepentingannya secara tidak konstitusional, terutama ketika sistem
sosial politik tidak berhasil menampung aspirasi yang berkembang
dalam masyarakat.

c.

Pemberontakan Angkatan Bersenjata


Ancaman ini dapat muncul dari kalangan separatis karena
pembangunan nasional tidak dapat mencakup semua daerah secara
seimbang. Contohnya adalah bentrokan antara anggota Penerbang
Angkatan Darat (Penerbad) dengan anggota Brimob di Markas
Satuan Brimob Polda Jateng Detasemen A Pelopor Subden 2 di

Kawasan Jalan Kumudasmoro Gisikdrono, Semarang Barat, Kota


Semarang, Jawa Tengah Minggu pada tanggal 12 Juli 2015.
d.

Pemberontakan dari Golongan yang Ingin Mengubah Ideologi


Negara
Ancaman ini berupa pemberontakan bersenjata yang dilakukan oleh
orang-orang yang ingin mengubah ideologi negara dan membentuk
negara baru. Golongan ini memaksakan untuk mengubah dasar
Negara Indonesia, misalnya mengubah Ideologi Pancasila menjadi
Ideologi Komunisme, maupun paham yang lainnya.

2.

Ancaman Dari Luar Negeri


Beberapa hal yang patut diwaspadai berkaitan dengan ancaman dari
luar negeri terhadap negara Indonesia sebagai berikut :
a.

Keinginan negaranegara besar untuk menguasai Indonesia karena


posisi Indonesia yang strategis, contohnya adalah Papua-Merdeka,
aksi Papua yang ingin melepaskan diri dari Indonesia dan mendapat
dukungan dari Australia dan Amerika, serta dibuktikan dengan
"Kampanye Papua Merdeka" dalam Festival Womadelaide 2012 di
Adelaide, Australia pada bulan November 2013.

b.

Keinginan dunia industri untuk menguasai Indonesia karena


kekayaan alam yang dimiliki Indonesia, misalkan kepemilikan PT
FREEPORT MCMORAN yang menjadi milik Amerika sebesar
90,64%.

c.

Bahaya perang yang berupa perang nuklir akan mengancam seluruh


kehidupan bangsa Indonesia.

d.

Arus globalisasi yang menimbulkan banyak kerawanan di bidang


POLEKSOSBUD HANKAM.

Ideologi Pancasila sebagai alat pemersatu bangsa Indonesia adalah


sumber dari segala sumber hukum di Indonesia. Nilai-nilai yang terkandung
di dalamnya telah dijabarkan dalam Pembukaan UUD 1945 sebagai sumber
dari keseluruhan politik hukum nasional Indonesia. Pancasila mengandung
nilai dasar yang bersifat tetap, tetapi juga mampu berkembang secara
dinamis. Pancasila sebagai alat pemersatu, karena berisi cita-cita dan

gambaran tentang nilai-nilai ideal yang akan diwujudkan oleh bangsa ini.
Bangsa Indonesia yang bersifat majemuk, terdiri atas berbagai agama, suku
bangsa, adat istiadat, bahasa daerah, menempati wilayah, dan kepulauan yang
sedemikian luas, maka tidak mungkin berhasil disatukan tanpa alat pengikat.
Tali pengikat itu adalah cita-cita, pandangan hidup yang dianggap ideal yang
dipahami, dipercaya, dan bahkan diyakini sebagai sesuatu yang mulia dan
luhur.
10. Makna Ideologi Pancasila sebagai Filter dalam Menghadapi Arus
Globalisasi
Sebagai dasar negara, Pancasila harus benar-benar dijadikan sebagai
acuan dasar hukum dan dasar moral dalam penyelenggaraan bernegara.
Sebagai ideologi atau pandangan hidup bangsa Indonesia, Pancasila perlu
benar-benar di hayati sebagai suatu sistem nilai yang dipilih dan didianut oleh
bangsa Indonesia karena kebaikan, kebenaran, keindahan dan manfaatnya
bagi bangsa Indonesia, sehingga dapat dijadikan sebagai pedoman dalam
kehidupan sehari-hari yang pengamalannya bersifat subjektif, artinya
tergantung kepada individu yang bersangkutan. Karena berbagai tantangan
yang dihadapi dalam menjalankan ideologi Pancasila, sejatinya tidak akan
mampu untuk menggantikankan Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia.
Oleh sebab itu, Pancasila harus terus dipertahankan oleh segenap bangsa
Indonesia sebagai dasar negara dan ideologi bangsa Indonesia, karena
Pancasila merupakan nyawa yang telah tertanam sejak bangsa dan negara
Indonesia lahir.
Tantangan pada era globalisasi yang bisa mengancam eksistensi budaya
dan kepribadian bangsa Indonesia seperti sekarang ini, harus diantisipasi
melalui nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila sebagai sebuah dasar
negara dan ideologi nasional bangsa Indonesia. Meskipun perkembangan
zaman berkembang dengan sangat cepat, tetapi perlu diingat bahwa bangsa
dan negara Indonesia tidak harus kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang
memiliki nilai-nilai peradaban, kebudayaan, dan keluhuran budi yang
sebenarnya sudah jelas tergambar dari nilai-nilai luhur Pancasila. Oleh karena
itu, tantangannya yang sebenarnya dihadapi oleh bangsa Indonesia dalam era

globalisasi ini adalah menyiapkan secara matang generasi muda penerus


bangsa agar arah dari pembangunan Indonesia dapat berjalan dengan baik.
Salah satu caranya adalah melalui pendidikan yang lebih menekankan pada
nilai-nilai yang tertuang dalam Pancasila.
Globalisasi telah memberikan tantangan baru yang harus dihadapi dan
disikapi oleh semua elemen masyarakat. Era keterbukaan sudah mulai
mengakar kuat di era globalisasi seperti sekarang ini, sehingga identitas
nasional adalah salah satu bagian mutlak yang harus dipegang agar Pancasila
yang telah disepakati sebagai ideoogi bangsa dan negara Indonesia tidak
hilang dan terbawa arus globalisasi. Untuk dapat mangatasi dampak-dampak
yang muncul sebagai akibat dari globalisasi tersebut, maka Pancasila sebagai
pandangan hidup dan dasar negara harus tetap menjadi pijakan dalam
bersikap. Karena Pancasila yang dijadikan sebagai dasar negara dan ideologi
nasional bangsa Indonesia, memiliki posisi yang abadi di dalam jiwa bangsa
Indonesia.
Pancasila akan mampu menyaring segala pengaruh yang datang dari luar
sebagai akibat dari globalisasi, memilih hal-hal yang sesuai dengan nilai-nilai
Pancasila. Sehingga apa pun tantangan yang akan dihadapi, bangsa Indonesia
tidak akan kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang memiliki nilai-nilai
peradaban, kebudayaan, dan keluhuran budi. Oleh karena itu, dengan
memaknai dan mengamalkan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi
nasional bangsa Indonesia, diharapkan hal tersebut akan dapat membuat
generasi muda dan generasi-generasi selanjutnya menjadi lebih memiliki dan
mencintai budaya serta nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Karena para
generasi muda lah yang kelak akan menjadi pemegang kendali arah tujuan
bangsa Indonesia ke depannya, sehingga bangsa Indonesia dapat terus
berkembang dan dipandang sebagai sebuah negara yang berlandaskan pada
nilai-nilai Pancasila. Karena pada dasarnya Pancasila merupakan sumber
nilai, azas, kerangka berpikir, orientasi dasar, arah, dan tujuan dari suatu
perubahan masyarakat Indonesia menuju kemajuan dan kehidupan yang lebih
baik.

DAFTAR PUSTAKA
Ancok, D. 2008. Ketidakadilan sebagai sumber radikalisme dalam agama: Suatu
analisis berbasis teori keadilan dalam pendekatan psikologi. Terdapat
dalam Jurnal Psikologi Indonesia, Edisi 1, halaman 1-8.
Siahaan,

Parlindungan.

Modul

Kegiatan

Siswa

Cerda

Pendidikan

Kewarganegaraan Kelas XII SMA/MA. Sidoarjo : Masmedia


Kaelan, H. 2010. Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan Tinggi.
Yogyakarta : Paradigma.
Kaelan, H. 2010. Pendidikan Pancasila. Yogyakarta : Paradigma
Milla, M.N. 2008. Bias heuristik dalam proses penilaian dan pengambilan
strategi terorisme. Terdapat dalam Jurnal Psikologi Indonesia, Edisi 1,
Halaman 9-21.
Supriatnoko. 2008. Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta : Penaku.
Suyatmi, dkk. 2010. Pendidikan Kewarganegaraan. Solo : Sindunata.
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Surabaya : Karya
Utama.
Armenia, Resty. 2015. CNN Indonesia : Isu Penggulingan Jokowi, Kepala BIN
Ajak

Mahasiswa

Rasional.

Di

akses

pada

link

http://www.cnnindonesia.com/nasional/20150519141503-20-54203/isupenggulingan-jokowi-kepala-bin-ajak-mahasiswa-rasional/ pada tanggal 16


Septermber 2015.
Delfiandrie. 2014. Pancasila Sebagai Filter Nilai-Nilai Asing di Era Globalisasi.
Di akses pada link : https://www.academia.edu/9585053/pancasila-sebagaifilter-nilainilai-asing-di-era-globalisasi pada tanggal 15 September 2015.
Hutabarat, Ciputri. 2015. Metro TV News.com : Penggusuran Kampung Pulo
Rusuh, Ahok : Gak Ada Duit, Titik ! Di akses pada link :
http://news.metrotvnews.com/read/2015/08/20/160099/penggusurankampung-pulo-rusuh-ahok-gak-ada-ganti-duit-titik

pada

tanggal

16

September 2015..
Seno, Michael. 2012. Mengkaji Sejumlah Kemungkinan Penyebab Tindak
Terorisme

Kajian

Sosio-Klinis.

Di

akses

pada

link

http://download.portalgaruda.org/article.php?article=113820&val=5214
pada tanggal 16 September 2015.
Setiawan, Parta. 2015. Pengertian Ideologi Menurut Para Ahli. Di akses pada link
:

http://www.gurupendidikan.com/pengertian-ideologi-menurut-para-ahli/

pada tanggal 10 September 2015.


Tempo.co Metro. 2012. Tak Bayar Gaji, Dirut Metro TV Dilaporkan ke Polda.
Diakses

pada

link

http://metro.tempo.co/read/news/2012/11/06/064440131/tak-bayar-gajidirut-metro-tv-dilaporkan-ke-polda pada tanggal 16 Septermber 2015.


Toscano,

Alberto.

2007.

Neo-Marxism.

Di

akses

pada

link

http://www.blackwellreference.com/public/tocnode?
id=g9781405124331_yr2012_chunk_g978140512433120_ss1-12

pada

tanggal 16 September 2015.


Wattimena, Reza. 2012. Filsafat Pendidikan Pancasila. Di akses pada
http://rumahfilsafat.com/2012/07/23/filsafat-pendidikan-pancasila/

tanggal

10 September 2015.
Yuniarto,

Djoko.

Pemikiran

Niccolo

Machiavelli.

http://djokoyuniarto.multiply.com/journal/item/14/Pemikiran_Niccolo_Mac
hiavelli?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem, diakses tanggal 16
September 2015.