Anda di halaman 1dari 7

RESTI SYAFITRI

1310311143
TES GLUKOSA URIN
Pemeriksaan adanya glukosa dalam urin termasuk dalam pemeriksaan penyaring.
Tujuan pemeriksaan
- untuk mendeteksi ada atau tidaknya glukosa di dalam urin.
Prinsip pemeriksaan
Prinsip dari test benedict ini adalah glukosa dalam urin akan mereduksi kuprisulfat
menjadi kuprosulfat yang terlihat dengan perubahan warna larutan benedict tersebut.
Teori
Menyatakan adanya glukosa dapat juga dilakukan dengan cara yang berbeda-beda.
Cara yang tidak spesifik menggunakan sifat glukosa sebagai sifat pereduksi; pada tes-tes
semacam itu terdapat suatu zat dalam reagen yang dapat berubah sifat dan warnanya
apabila direduksi oleh glukosa.
Salah satu reagen yang dapat digunakan untuk melakukan tes ada tidaknya glukosa
adalah dengan benedict yang menggunakan sifat glukosa sebagai sifat pereduksi.
Benedict adalah reagen yang berwarna biru jernih (karena mengandung kupri, Cu++)
tetapi ketika dicamburkan lalu dipanaskan hingga mendidih dengan suatu substrat yang
mengandung glukosa di rantai kimianya, ion kupri akan direduksi menjadi Cu+ atau
kupro lalu dioksidasi menjai Cu2O. Hasil oksidasi ini akan menghasilkan substrat yang
berwarna orange-kecoklatan yang tidak bisa dilarutkan di air.
Cara kerja Benedict
Ketika reagen benedict dicampurkan dan dipanaskan dengan glukosa, di mana
glukosa memiliki elektron untuk diberikan, tembaga(salah satu kandungan di reagen
benedict) akan menerima elektron tersebut dan mengalami reduksi sehingga terjadilah
perubahan warna. Selama proses ini CU2+ tereduksi menjadi CU+. Ketika Cu mengalami

reduksi, glukosa memberikan salah satu elektronnya dan dioksidasi. Karena glukosa
mampu mereduksi Cu pada benedict, maka glukosa disebut sebagai gula pereduksi.
Glukosa bukanlah satu-satunya gula pereduksi. Segala macam karbohirat yang secara
struktural mampu memberikan elektron kepada larutan benedict (atau reagen yang mirip)
masuk ke dalam kategori ini, misalnya fruktosa, laktosa dan maltosa. Secara umum,
benedict ini akan memberikan hasil positif dari gugus aldehid dan juga keton alfa
hidroksil. Jadi misalnya saja pada fruktosa sekalipun bukanlah gula pereduksi namun
karena fruktosa termasuk ke dalam keton alfa hidroksil maka akan terbentuk endapan
merah bata pada larutan fruktosa yang ditambahkan reagen benedict.
Bahan Pemeriksaan : Urine segar
Alat dan Reagen :
Alat

: Tabung reaksi, pipet, penangas air / lampu spiritus, penjepit tabung

Reagen

: Reagen Benedict

Prosedur pemeriksaan
1. Masukkanlah 5 ml reagen benedict dalam tabung reaksi
2. Meneteskan sebanyak 5-8 tetes (jangan lebih !) urin ke dalam tabung itu
3. Masukkanlah tabung itu ke dalam air mendidih selama 5 menit
4. Angkatlah tabung, kocoklah isinya dan bacalah hasil reduksi
Interpretasi hasil
Hasil pemeriksaan reduksi hendaknya disebut dengan cara semi kuantitatif. Macammacam hasil yang dapat muncul:
1. Negatif (-) : Tetap biru jernih atau sedikit kehijau-hijauan dan agak keruh
2. Positif ( + atau 1+) : Hijau kekuning-kuningan dan keruh (sesuai dengan 0,5-1%
glukosa)
3. Positif (++ atau 2+) : Kuning keruh (1-1,5% glukosa)
4. Positif (+++ atau 3+) : Jingga atau warna lumpur keruh ( 2 -3,5% glukosa)
5. Positif (++++ atau 4+) : Merah keruh (lebih dari 3,5% glukosa)

TES PROTEIN URIN


Pemeriksaan terhadap protein termasuk pemeriksaan rutin.
Tujuan pemeriksaan
- Untuk mengetahui adanya protein didalam urin.
Prinsip pemeriksaan
Protein dalam urin akan membentuk kekeruhan atau gumpalan oleh asam karena
mendekati titik isoelektrik protein dibantu dengan pemanasan, sehingga terbentuk
kekeruhan, butiran, kepingan, atau gumpalan sesuai dengan banyaknya kandungan

protein dalam urin.


Teori
Protein dengan pemanasan akan terbentuk presipitat yang terlihat berupa kekeruhan.
Pemberian asam asetat dilakukan untuk mencapai atau mendekati titik isoelektrik protein.
Pemanasan selanjutnya mengadakan denaturasi dan terjadi presipitasi.
Kekeruhan yang ringan sangat sukar dilihat, maka harus digunakan tabung yang bersih
dan bagus. Jika tabung telah tergores tidak dapat digunakan lagi. Sumber reaksi negatif
palsu pada tes pemanasan dengan asam asetat adalah pemberian asam asetat berlebihan.
Sumber reaksi positif palsu yaitu kekeruhan yang tidak disebabkan oleh globulin atau
albumin, kemungkinannya:
Nukleoprotein, kekeruhan terjadi pada saat pemberian asam asetat sebelum
pemanasan
Mucin, kekeruhan juga terjadi pada saat pemebrian asam asetat sebelum pemanasan
Proteose, presipitat terjadi setelah campuran reaksi mendingin, kalau dipanasi
menghilang lagi
Asam-asam renin, kekeruhan oleh zat ini larut dalam alkohol
Protein Bence Jones, protein ini larut dalam pada suhu didih urine, terlihat kekeruhan
pada suhu kira-kira 60 derajat celcius.
Alat dan bahan
Tabung reaksi
Lampu spiritus
Rak tabung reaksi
Penjepit tabung reaksi
Asam acetat 6%
Cara Kerja
1.

Masukkan urin jernih (sentrifus terlebih dahulu) ke dalam tabung reaksi sampai 2/3
penuh.

2.

Dengan memegang bagian tabung reaksi pada ujung bawah dengan penjepit tabung
reaksi, lapisan atas urine dipanasi di atas nyala api sampai mendidih 30 detik.

3.

Perhatikan ada atau tidaknya kekeruhan di lapisan atas. Jika terjadi kekeruhan,
kemungkinan disebabkan oleh protein, calsiumfosfat, calciumcarbonat.

4.

Teteskan 3-5 tetes asam acetat 6% ke dalam urine yang masih panas itu. Jika
kekeruhan disebabkan oleh calciumfosfat maka kekeruhan akan lenyap. Jika
kekeruhan disebabkan oleh calciumcarbonat maka kekeruhan akan tetap hilang tapi
dengan pembentukan gas. Jika kekeruhan tetap ada atau menjadi lebih keruh lagi,
maka tes terhadap protein adalah positif.

5.

Panasilah sekali lagi lapisan di atas itu sampai mendidih dan kemudian berilah
penilaian semikuantitatif.

Interpretasi hasil
-

: tidak ada kekeruhan

: kekeruhan ringan (seperti awan) tanpa butir (kadar protein 0,010,05%)

++

: kekeruhan mudah diilihat dan tampak butir-butir dalam kekeruhan


(0,05-0,2%)

+++

: urin jelas keruh dan kekeruhan itu berkeping-keping (0,2-0,5%)

++++

: urin sangat keruh dan berkeping-keping besar atau bergumpal-gumpal


(>0,5%)