Anda di halaman 1dari 10

1

MEMBANGUN KEPRIBADIAN UNGGUL INSAN AKADEMIKA


Oleh:
Mahifal, SH., MH dan Yudi Wahyudin, M.Si.
Abstrak
Manusia secara sederhana dibagi menjadi empat kelompok tabiat dasar, yaitu kholeris, sanguinis,
plegmatis dan melankholis. Keempat tabiat/karakter tersebut membawa konsekuensi logis terhadap
sikap, perilaku dan tindakan manusia. Oleh karena itu, mengenali keempat tabiat dasar manusia ini
sangat diperlukan sebagai upaya mempersiapkan insan akademika yang berkepribadian unggul, karena
keempat tabiat dasar manusia ini sangat perlu berjalan dalam sebuah harmoni sesuai dengan perannya
masing-masing.
Insan akademika yang berkepribadian unggul dapat dibangun melalui proses motivasi, pembelajaran
dan latihan untuk membentuk harmonisasi kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual agar dapat
menopang dirinya dalam memandang diri dan lingkungannya serta Dzat Yang Menciptakannya.
Kata Kunci: tabiat/karakter manusia, kepribadian unggul, koleris, sanguinis, plegmatis, melankholis

ABSTRACT
Mankind is usually divided four basic groups, namely choleric, sanguine, plegmatis and melancholy.
Those fourth characters are logical consequences of the attitudes, behaviors and human actions.
Therefore, identifying the four basic nature of human is necessary in order to prepare the excellent
personality of academic pratices, because the four basic nature of human is walking on harmony in
accordance with their respective roles.
The academics practices whom had superior human personality can be developed through a process of
motivation, learning and practice to establish harmonization of intellectual, emotional and spiritual in
order to sustain itself in looking at themselves and their environment as well as the One whom created
it.
Keywords: basic nature/human character, personality plus, choleric, sanguine, plegmatis, melancholy

1. PENDAHULUAN
Ilmu pengetahuan dan teknologi telah berkembang dan membawa angin perubahan bagi
kehidupan dan penghidupan manusia di dunia. Manusia masa kini sudah terbentuk menjadi
manusia global yang tidak lagi berbatas administrasi wilayah. Perhubungan dan komunikasi
antar Negara bahkan antar benua sudah dapat dilakukan secara efektif dan efisien melalui sistem
informasi dan berteknologi nano. Fenomena ini tentu tidak berlaku dengan sendirinya, karena di
dalamnya terdapat peran ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah dan akan terus
dikembangkan oleh para ilmuwan dan peneliti dunia.
Artikel pada WAWASAN TRIDHARMA: Majalah Ilmiah Kopertis Wilayah IV Nomor 9 Tahun XXV April 2013, STT No.2009/SK/DITJEN
PPG/STT/1994, ISSN 0215-8256

Keingintahuan yang besar dan ditopang oleh adanya puzzle kehidupan yang terjadi,
mendorong ilmuwan dunia untuk mencari tahu dan menemukan solusi atas puzzle tersebut.
Besarnya rasa ingin tahu inilah yang kemudian mendorong manusia untuk melakukan debate
dan penelitian untuk mendapatkan jawaban atas rasa keingintahuan tersebut, sehingga muncul
pemikiran-pemikiran kritis dan taktis yang terus berkembang dalam rangka menemukan
kebenaran yang dapat diterima dan disepakati bersama untuk memuaskan rasa keingintahuan
tersebut.
Sifat keingintahuan manusia jenius yang dinamis akan mendorongnya untuk melakukan
berbagai upaya dan berusaha untuk menemukan jawaban atas puzzle yang menghinggapinya
dan hal ini memerlukan kontrol diri yang besar agar upaya tersebut tetap menjaganya berada
pada ranah makhluk Tuhan, sehingga tidak berujung pada sikap keangkuhan. Kontrol diri inilah
yang kemudian mendorong makalah ini perlu disampaikan sebagai upaya untuk membangun
kepribadian unggul insan akademika sebagai bagian dari peneliti dunia agar mampu melakukan
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilakukan secara keberlanjutan untuk
sebesar-besarnya kemaslahatan umat manusia dengan tetap berada pada koridornya sebagai
hamba Tuhan Yang Maha Perkasa dan Maha Berpengatahuan.

2. KRITERIA BERKEPRIBADIAN UNGGUL


Kepribadian seseorang akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana ia berbuat dan
berperilaku yang didasarkan atas dasar perilaku sadar dan bawah sadar. Perilaku sadar hanya
memberikan pengaruh 15 persen, sedangkan perilaku bawah sadar mendominasi 85 persen
pengaruh terhadap perbuatan dan perilaku orang tersebut. Oleh karena itu, perilaku bawah sadar
ini seoptimal mungkin diberikan perlakuan dan sentuhan moral dan sikap positif melalui proses
motivasi dan latihan, karena pada dasarnya manusia mempunyai sedikit sifat keilahian yang
tersembunyi yang perlu dilatih dan dimotivasi agar menjadi dasar dan pondasi utama dirinya
dalam berbuat dan berperilaku.

Setiap manusia pada dasarnya mempunyai kecerdasan

intelektual yang tinggi yang perlu diimbangi dengan adanya kecerdasan emosional dan
kecerdasan spiritual agar dapat menjadi rem dan kontrol sejati bagi sifat dan tabiat dasar
manusia yang bersifat kholeris, plegmatis, sanguinis dan melankolis.

Harmoni kecerdasan

intelektual, emosional dan spiritual yang dimiliki manusia setidaknya dapat menopang dirinya
untuk menjadi manusia berkepribadian unggul.
Artikel pada WAWASAN TRIDHARMA: Majalah Ilmiah Kopertis Wilayah IV Nomor 9 Tahun XXV April 2013, STT No.2009/SK/DITJEN
PPG/STT/1994, ISSN 0215-8256

Manusia berkepribadian unggul selalu memberikan teladan bagi dirinya dan orang lain
untuk mencari dan memberikan yang terbaik bagi kemaslahatan umat, termasuk sebagai salah
satu pelaku sejarah dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Manusia

berkepribadian unggul selalu memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan, dimana dia
akan menganggap dirinya merupakan bagian dari sebuah ekosistem dunia yang sangat berkaitan
dengan komponen ekosistem lainnya, sehingga tindakan dan aktivitasnya harus disaring agar
dapat meminimalisasi dampak terhadap keberlanjutan ekosistem dunia. Manusia berkepribadian
unggul mampu menempatkan spiritual dan moralitas sebagai kontrol diri agar ia tidak menjadi
angkuh dan bertindak hanya untuk kepentingan dirinya, ia akan lebih memikirkan kepentingan
bersama dan tetap menganggap bahwa ia mempunyai keterbatasan sebagai makhluk ciptaan dari
Dzat Yang Maha Berpengetahuan, Maha Agung dan Maha Perkasa.
Kepribadian unggul harus disiapkan dengan matang melalui proses motivasi dan latihan.
Demikian halnya dengan insan akademika yang juga memerlukan pembelajaran, motivasi dan
latihan rutin untuk menjadi manusia yang berkepribadian unggul. Beberapa proses motivasi dan
latihan yang diperlukan diantaranya: (i) mengenal dirinya dan orang lain, (ii) menggunakan
strategi dalam berkomunikasi, (iii) menerima dan memahami perubahan, dan (iv) mau berbagi
peran.
2.1. Mengenal Dirinya dan Orang Lain
Manusia berkepribadian unggul setidaknya harus mengetahui sifat dasar dirinya dan
orang lain agar mampu menempatkannya menjadi pribadi yang unggul. Pengetahuan terbuka
antara dirinya dan orang lain, dimana dirinya mengetahui sifat dasar diri dan orang lain serta
memberi kesempatan kepada orang lain untuk mengetahui sifat dasar diri mereka dan dirinya,
maka sesungguhnya insan akademika tersebut berada dalam zona terbuka yang transparan dan
profesional.
Sifat dasar manusia terbagi menjadi empat, yaitu (i) kholeris yang diwakili oleh warna
merah, (ii) plegmatis yang diwakili oleh warna hijau, (iii) sanguinis yang diwakili oleh warna
kuning dan (iv) melankholis yang diwakili oleh warna biru. Dunia mencatat beberapa tokoh
yang dapat dikategorikan sebagai yang dominan mempunyai tabiat dasar tersebut. Margaret
Tretcher, George Bush, Adolf Hitler dan Saddam Husein sebagai representasi pribadi yang
berada pada zona merah (kholeris). Nelson Mandela, Mother Theresia, dan Mahatma Gandhi
merupakan representasi pribadi pada zona hijau (plegmatis).

Madonna, Yasser Arafat dan

Artikel pada WAWASAN TRIDHARMA: Majalah Ilmiah Kopertis Wilayah IV Nomor 9 Tahun XXV April 2013, STT No.2009/SK/DITJEN
PPG/STT/1994, ISSN 0215-8256

Helmut Smith merupakan representasi pribadi yang berada pada zona kuning (sanguinis),
sedangkan Napoleon Bonaparte, Albert Einstein dan Mahathir Muhamad sebagai representasi
pribadi pada zona biru (melankholis). Tabel 1 berikut ini menyajikan beberapa karakteristik
sifat dasar manusia dalam keadaan baik dan dalam keadaan buruk yang harus dikenali sebagai
bagian dari proses pembentukan insan akademika berkepribadian unggul.
Tabel 1. Karakteristik sifat dasar manusia
Sifat Dasar Manusia
Kholeris (merah)

Plegmatis (hijau)
Sanguinis (kuning)

Melankholis (biru)

Keadaan Baik

Keadaan Buruk

Kompetitif, menuntut, menentukan,


kemauan kuat, fokus tujuan dan
mengendalikan
Mendukung, berbagi, bersabar, rileks,
toleran dan ramah
Berorientasi sosial, dinamis
menghibur, demonstrative, antusias,
persuasif dan ekspresif
Persisi terinci, terencana, bertanya,
formal, analitis dan hati-hati

Menyerang, mengendalikan,
mempertahankan, tidak toleran dan
mengambil alih
Menyerah, pasrah, lamban,
percaya saja dan keras kepala
Mudah dipengaruhi, gelisah, tidak
bijak, gaduh dan tergesa-gesa
Kaku, ragu, tidak tegas, curiga,
dingin dan menarik diri

Sumber: Setiana (2011), Setiana (2012), dan Wahyudin (2012).

Insan akademika yang berkepribadian unggul diwajibkan mengetahui kelebihan dan


kelemahan dirinya agar mampu menempatkan diri dalam lingkungan sekitarnya secara
seimbang, kondusif dan baik. Tabel 2 berikut ini menyajikan kelebihan dan kelemahan dari
masing-masing karaktek pribadi berbasis tabiat dasarnya.
Tabel 2. Kelebihan dan kelemahan diri berbasis tabiat dasarnya
Sifat Dasar
Manusia
Kholeris
(merah)
Plegmatis
(hijau)
Sanguinis
(kuning)
Melankholis
(biru)

Kekuatan
Menyakinkan, menentukan, fokus dan
mempengaruhi yang lain
Membangun hubungan sangat penting,
pendengar sejati, hangat dan akuan serta
mencintai kedamaian
Cepat membuat hubungan/interaksi,
bersahabat dan sosial, mudah beradaptasi,
imajinatif, penyaji yang baik dan inspiratif
Berbasis pengetahuan dan detail,
kompetensi tinggi, bertanya sebagai format
komunikasi dan rapi dalam
menindaklanjuti

Kelemahan
Tidak mau mendengar, sering dianggap
arogan, terlalu menuntut dan tidak
memerlukan masukan
Persisten/sulit berubah, lambat beradaptasi,
malu bertanya, menghindari penolakan,
dan menelan masalah sendiri
Tidak fokus, terlalu santai (casual), lemah
berencana, lemah dalam follow up, dan
mudah berubah (plin-plan)
Sulit mengawali interaksi, bertanya
dianggap sangat penting, menganggap
enteng orang lain dan lambat dalam
mengambil keputusan

Sumber: Setiana (2011), Setiana (2012), dan Wahyudin (2012).


Artikel pada WAWASAN TRIDHARMA: Majalah Ilmiah Kopertis Wilayah IV Nomor 9 Tahun XXV April 2013, STT No.2009/SK/DITJEN
PPG/STT/1994, ISSN 0215-8256

2.2. Menerapkan Strategi Efektif dalam Berkomunikasi


Komunikasi adalah bagian terpenting dalam proses membangun insan akademika yang
berkepribadian unggul. Komunikasi adalah cermin sikap dan perilaku yang dibahasakan melalui
hubungan antar, intra dan inter-personal. Sifat dasar, kekuatan dan kelemahan diri dan orang
lain setidaknya harus menjadi dasar strategi komunikasi efektif bagi insan akademika yang
berkepribadian unggul, sehingga mampu menghasilkan outcome komunikasi yang efektif dan
efisien. Tabel 3 berikut menyajikan strategi komunikasi yang seyogianya dibangun dengan
memperhatikan tabiat dasar manusia yang dalam hal ini diwakili oleh kelompok manusia yang
mempunyai kecenderungan bersifat kholeris (merah), sangunis (kuning), plegmatis (hijau) dan
melankholis (biru).
Tabel 3. Strategi komunikasi efektif berbasis tabiat dasar manusia
Strategi Komunikasi
Perlu Melakukan
Tidak Perlu/Hindari
Langsung (to the point), bicara fokus
Fleksibel dan lunak, menggunakan perasaan
kepada hasil dan tujuan serta bicara
dan mengambil alih darinya
singkat, padat dan tepat
Mengkhianati kebaikan, menekan untuk aksi
Plegmatis (hijau) Bersabar dalam urusan, menunjang,
spontan, memotong pembicaraanya dan
perlahan dan sesuaikan ritmenya,
merubah secara spontan
tanyakan kesukaannya, dan berikan
waktu untuk menjawab
Sanguinis
Bicara secara interaktif, realistis dan
Informasi yang detail, penugasan yang rutin
(kuning)
sajikan dengan sederhana dan sajikan dan membosankan serta memberi pekerjaan
informasi secara menarik
sendirian
Melankholis
Persiapan matang dan terencana, buat Terlalu akrab dan merangkul, mengubah
(biru)
catatan, sajikan dengan detail dan
rencana, berubah-ubah memutuskan/janji
sajikan dengan data dan fakta
tanpa pemberitahuan, asal berbicara dan
informasi terlalu umum
Sifat Dasar
Manusia
Kholeris (merah)

Sumber: Setiana (2011), Setiana (2012), dan Wahyudin (2012).

Gambar 1 berikut ini menyajikan model-model komunikasi dalam proses pengambilan


keputusan, fungsi rasional dan irrasional dalam berpikir.

Artikel pada WAWASAN TRIDHARMA: Majalah Ilmiah Kopertis Wilayah IV Nomor 9 Tahun XXV April 2013, STT No.2009/SK/DITJEN
PPG/STT/1994, ISSN 0215-8256

Gambar 1. Model-model komunikasi berbasis tabiat dasar manusia (Setiana, 2011, 2012 dan
Wahyudin, 2012).

Mengenali Perubahan
Perubahan adalah suatu keadaan atau kondisi yang tidak sama yang terjadi secara
dinamis. Dinamika perubahan ini perlu dikenali dan diantisipasi agar selalu berada di jalur
positif untuk kemaslahatan bersama dan tidak mengarah kepada hal-hal buruk sehingga
merugikan diri dan lingkunganya.

Perubahan sangat tergantung pada usia, pengalaman,

pembelajaran, posisi dalam pekerjaan, status sosial dan kondisi lingkungan.


Pertambahan usia dan status sosial biasanya membawa dampak pada cara pandang dan
sifat ingin dihormati. Selalu berpandangan positif dan menghormati orang lain kendati lebih
Artikel pada WAWASAN TRIDHARMA: Majalah Ilmiah Kopertis Wilayah IV Nomor 9 Tahun XXV April 2013, STT No.2009/SK/DITJEN
PPG/STT/1994, ISSN 0215-8256

muda dan atau status sosialnya lebih rendah adalah salah satu pendekatan terbaik dalam
mengantisipasi sifat dan cara pandang negatif.
Pengalaman dan pembelajaran adalah guru yang terbaik. Pengalaman positif dijadikan
secara titik tolak dan pijakan bagi pengembangan diri dan lingkungan, sedangkan pengalaman
negatif seyogianya dijadikan sebagai pelajaran terbaik agar tidak terulang di masa mendatang.
Pribadi unggul selalu menempatkan hal-hal dan sikap positif sebagai teladan dan menjadikan
sikap dan hal-hal negatif sebagai rambu-rambu yang harus dihindari untuk dilanggar.
Posisi dalam pekerjaan dan kondisi lingkungan menempatkan seseorang berada pada
keharusan untuk beradaptasi dengan baik.

Adaptasi dapat dilakukan dengan menganggap

keduanya seperti aliran air dan kita berada di dalamnya secara bersamaan hingga mencapai hilir
dan bermuara di lautan.

Berbagi Peran
Insan akademika berkepribadian unggul akan menemukan dengan sendirinya bahwa dia
berada pada posisi dan berperan sebagai apa. Berbagi peran perlu dilakukan agar hidup dapat
lebih berwarna dan kondusif. Setiap komponen sistem dalam sebuah ekosistem sama-sama
memegang peranan penting bagi keberlanjutan ekosistem tersebut.
Dalam sebuah organisasi penelitian misalnya, terdiri atas sekelompok individu yang
masing-masing berperan sesuai dengan aturan dan ruang lingkup penelitian berbasis kompetensi
masing-masing bidang ilmunya. Profesor Sjafri Mangkuprawira 1.menyatakan bahwa individu
penemu dan keorganisasian merupakan fungsi dari penemuan yang merupakan tujuan dari
sebuah penelitian.2
Setiap individu peneliti mempunyai kemampuan, pengalaman, wawasan, integritas dan
intelejensia untuk dapat menjadi bagian dalam proses penemuan yang telah, sedang dan akan
dilakukan.

Sebuah organisasi penelitian harus mempunyai sistem manajerial, budgeting,

indikator kinerja, durasi, job-desk untuk bekerja dalam sebuah organisasi dan prinsip kesetaraan
untuk memberikan otonomi ilmu dan proses pengorganisasian riset.

Gambar 2 berikut

Prof. Sjafri Mangkuprawira adalah Guru Besar Emiritus pada Fakultas Ekonomi dan Manajemen di Bidang
Pengembangan SDM.
2
Prof. Sjafri Mangkuprawira. Kuliah Falsafah Sains, Bogor, 14 Desember 2012.
3
Prof. Sjafri Mangkuprawira. Kuliah Falsafah Sains, Bogor, 14 Desember 2012.
Artikel pada WAWASAN TRIDHARMA: Majalah Ilmiah Kopertis Wilayah IV Nomor 9 Tahun XXV April 2013, STT No.2009/SK/DITJEN
PPG/STT/1994, ISSN 0215-8256

menyajikan skema berbagi peran yang dapat dilakukan seorang peneliti berkepribadian unggul
berbasis pada tabiat dasar manusia.
Demikian halnya dengan insan akademika, terlebih semua komponennya mengemban
tugas suci Tridharma Perguruan Tinggi (pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada
masyarakat), maka insan akademika dihadapkan pada tugas pokok dan fungsinya sebagai
penyedia layanan pendidikan, pelaku kegiatan penelitian dan memberikan curahan pengabdian
untuk masyarakat. Oleh karena itu, sangat penting untuk dapat menentukan secara profesional
berdasarkan kompetensi dan karakter dirinya tentang peran apa yang dapat dilakukan oleh insan
akademika itu sendiri. Gambar 2 berikut ini menyajikan beberapa skema peran berbasis tabiat
dasar manusia yang dinilai lebih cocok pada diri kita.

Gambar 2. Skema berbagi peran berbasis tabiat dasar manusia (Setiana, 2011, 2012 dan
Wahyudin, 2012).
Dengan menjadikan karakter diri kita yang diuji melalui beberapa pertanyaan
kecenderungan tabiat dominan dan dianalisis untuk menghasilkan gambaran diri berada pada
koridor dominan warna apa, maka setidaknya kita dapat menempatkan diri kita pada struktur
Artikel pada WAWASAN TRIDHARMA: Majalah Ilmiah Kopertis Wilayah IV Nomor 9 Tahun XXV April 2013, STT No.2009/SK/DITJEN
PPG/STT/1994, ISSN 0215-8256

organisasi dan peran seperti apa yang kemungkinan paling cocok dengan warna tabiat kita. Bagi
insan akademika yang dominan berwarna merah, maka peran yang dinilai lebih cocok adalah
menjadi seorang direktur/pimpinan, bilamana berkecenderungan berwarna merah kebiruan atau
biru kemerahan, maka dapat berperan sebagai reformer, sedangkan bilamana kecenderungan
berwarna merah kekuningan atau kuning kemerahan, maka lebih cocok menjadi seorang
motivator.
Bagi insan akademika yang dominan berwarna biru, maka peran yang dianggap lebih
cocok adalah sebagai seorang observer/pengamat/peneliti, bilamana warnanya cenderung biru
kehijauan, maka akan cocok menjadi co-ordinator. Bagi yang warna tabiatnya dominan kuning,
maka peran yang dimungkinkan lebih cocok adalah sebagai seorang inpirator/trend
setter/inovator, bilamana ia cenderung berwarna kuning kehijauan atau hijau kekuningan, maka
cocok berperan sebagai deputi/pembantu. Dan bagi yang dominan berwarna hijau, maka peran
yang dianggap lebih cocok adalah sebagai suporter.
Model pembagian peran seperti ini akan sangat bermanfaat dan dapat menjalakan roda
organisasi secara lebih efektif dan efisien, sehingga tugas, pokok dan fungsi sesuai dengan
standard operating procedure (SOP) yang telah disepakati akan berjalan lancar. Kelancaran dan
keberhasilan berjalannya sebuah organisasi akan tercermin dari karakteristik orang yang
menjalankan SOP dan program yang benar-benar dibangun dengan tujuan untuk mewujudkan
visi, misi, tujuan dan sasaran organisasi itu sendiri.

PENUTUP
Insan akademika yang berkepribadian unggul diperlukan agar ia mampu berbagi peran
dengan insan akademika lainnya sebagai bagian tidak terpisahkan dari sebuah organisasi
pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Seorang insan akademika

berkepribadian unggul mampu menempatkan dirinya sebagai social capital bagi masyarakat dan
sebagai hamba di mata Tuhan Yang Maha Mencipta serta mengamalkan ilmunya untuk
mengelola dan memanfaatkan sumberdaya alam dan lingkungannya secara berkelanjutan untuk
kesejahteraan umat manusia. Insan akademika berkepribadian unggul dapat dibangun melalui
proses motivasi, pembelajaran dan latihan untuk membentuk harmonisasi kecerdasan intelektual,
emosional dan spiritual agar dapat menopang dirinya dalam memandang diri dan lingkungannya
serta Dzat Yang Menciptakannya.
Artikel pada WAWASAN TRIDHARMA: Majalah Ilmiah Kopertis Wilayah IV Nomor 9 Tahun XXV April 2013, STT No.2009/SK/DITJEN
PPG/STT/1994, ISSN 0215-8256

10

REFERENSI TERBATAS
Setiana, Agus. 2012. Personality Plus. Makalah disampaikan pada Pelatihan Penguatan Teknis
dan Manajemen Wilayah Pesisir, Pulau-Pulau Kecil, Perbatasan dan Wilayah Tertentu,
diselenggarakan oleh Direktorat Wilayah Pesisir, Pulau-Pulau Kecil, Perbatasan dan
Wilayah Tertentu Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia bekerjasama dengan
Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor, pada tanggal 09
April 2012.
Setiana, Agus. 2012. Achievement Motivation Training. Makalah disampaikan pada Pelatihan
Valuasi Ekonomi Sumberdaya Pesisir dan Laut, diselenggarakan oleh Pusat Kajian
Sumberdaya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor, pada tanggal 09 Mei 2012.
Setiana, Agus. 2011. Personality Plus. Makalah disampaikan pada Pelatihan Penguatan Teknis
dan Manajemen Wilayah Pesisir, Pulau-Pulau Kecil, Perbatasan dan Wilayah Tertentu,
diselenggarakan oleh Direktorat Wilayah Pesisir, Pulau-Pulau Kecil, Perbatasan dan
Wilayah Tertentu Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia bekerjasama dengan
Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor, pada tanggal 21
Juni 2011.
Setiana, Agus. 2011. Achievement Motivation Training. Makalah disampaikan pada Pelatihan
Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu Kelas Khusus Regional Bali, diselenggarakan oleh
Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor, pada tanggal 25
Juli 2011.
Wahyudin, Yudi. 2012. Membangun Jaringan dan Meningkatkan Produktivitas Diri Melalui
Kepribadian Unggul. Makalah disampaikan pada Pelatihan Integrated River-basin
Coastal and Ocean Management (IRCOM), diselenggarakan oleh Dinas Kelautan dan
Pertanian Provinsi DKI Jakarta, pada tanggal 13 Juli 2012.
BIODATA
Mahifal, SH., MH adalah dosen ilmu hukum pada Universitas Pakuan, Bogor. Penulis
dilahirkan di Bogor pada tanggal 30 Mei 1975. Gelar Sarjana Hukum (SH) diperoleh pada tahun
1998 dari Universitas Pakuan Bogor, sedangkan gelar Master Hukum (MH) diperoleh dari
perguruan tinggi yang sama pada tahun 2008 (Email: ifal_unpak@yahoo.co.id ;
mahifal.sh.mh@gmail.com
;
Webblog:
http://mahifal2013.wordpress.com
http://bisikankalbu.wordpress.com ; http://ssrn.com/author=1539849).
Yudi Wahyudin, M.Si. adalah Peneliti Senior pada Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan
Lautan Institut Pertanian Bogor. Penulis dilahirkan di Bogor, 13 Maret 1974. Gelar kesarjanaan
dan master diperoleh dari IPB, yaitu pada tahun 1997 (S1) dan 2005 (S2). Saat ini penulis
menjabat sebagai Ketua Alumni Ekonomi Sumberdaya Kelautan Tropika IPB dan tercatat
sebagai peserta program doktor pada Program Studi Ekonomi Sumberdaya Kelautan Tropika
IPB mulai Agustus 2012. (Email: yudi.wahyudin@pksplipb.or.id ; wahyudin74@gmail.com;
Webblog: http://yudiwahyudin2013blog.wordpress.com ; http://ssrn.com/author=1533290).

Artikel pada WAWASAN TRIDHARMA: Majalah Ilmiah Kopertis Wilayah IV Nomor 9 Tahun XXV April 2013, STT No.2009/SK/DITJEN
PPG/STT/1994, ISSN 0215-8256