Anda di halaman 1dari 12

BAB 1 PENDAHULUAN

1 .1 Latar Belakang Masalah


Kehidupan masyarakat kita bahwasannya jenis kelamin seseorang
hanyalah ada dua yakni laki- laki dan perempuan. Selain jenis kelamin tersebut
dianggap suatu ketidaknormalan. Ketidak normalan tersebut masih dianggap tabu
dan harus dinormalkan agar tidak menjadikannya suatu aib dalam masyarakat.
Sebagi individu yang normal maka kita setidaknya harus berprilaku dan
berpenampilan sebagaimana dengan jenis kelamin kita. Laki- laki berpenampilan
dan berprilaku layaknya laki- laki pada layaknya, begitu pula dengan perempuan
berprilaku dan berpenampilan layaknya perempuan pada dasarnya. Namun pada
kenyatannya dalam kehidupan masyarakat banyak sekali individu yang tidak
berprilaku dan berpenampilan layaknya jenis kelamin mereka. Meskipun banyak
masyarakat yang menganggap keberadaan waria sebagi suatu masalah namun
dewasa ini komunitas mereka kian semakin bertambah banyak. Di Indonesia
jumlah waria adalah 7 juta jiwa atau tengah 10% dari jumlah penduduk Indonesia
(Muslim, 2011)
Lelaki mempunyai pelbagai ciri jenis kelamin yang membedakan mereka
daripada perempuan. Serupa dengan perempuan, organ seks mereka merupakan
sebagian dari sistem pembiakan yang terdiri dari zakar, testis, vas deferens serta
korda spermatik yang lain, dan kelenjar prostrat. Sistem reproduksi lelaki
berfungsi semata-mata untuk penghasilan dan pemancaran air mani yang
mengandung sperma. Informasi genetik terkandung dalam sel zoosperma. Sperma
kemudian memasuki rahim perempuan dan kemudian tuba falopi untuk
membuahi telur yang akan berkembang menjadi janin, dengan kata lain sistem
perkembangbiakan lelaki tidak memainkan peranan apapun sewaktu gestasi.
Ciri-ciri kelamin sekunder seperti bulu roma dan pertumbuhan otot
dipergunakan untuk menarik perhatian pasangan atau untuk menaklukkan pesaing.
Bagaimanapun, semua ciri sekunder itu sering berkaitan dengan pembiakan.
Berbeda dengan perempuan, kebanyakan dari organ seks lelaki terdiri dari bagianbagian luar, walaupun terdapat juga bagian dalam, umpamanya kelenjar prostrat.

Penyelidikan pembiakan lelaki dan organ-organ berkait disebut andrologi.


Kebanyakan meski tak semuanya lelaki mempunyai jumlah kromosom 46/XY.
Faktor-faktor biologi biasanya bukan merupakan penentu tunggal untuk
menganggap adakah seseorang itu lelaki atau tidak. Umpamanya, banyak lelaki
dilahirkan tanpa fisiologi lelaki yang tipikal (perkiraannya berbeda-beda di antara
satu per-2.000, dan satu per-100.000), dan sebagian individu dengan kromosom
XY mungkin mempunyai perbedaan hormon ataupun perbedaan genetik (seperti
sindrom ketidaksensitifan androgen), atau keadaan interseks yang lain; seseparuh
orang interseks dan orang-orang lain yang mempunyai jenis kelamin tertentu
sewaktu dilahirkan, kemudian menggantikan jenis mereka.
Secara fisik, laki-laki memiliki struktur fisiologi yang tangguh, seperti
masa otot yang jauh lebih banyak daripada perempuan, tubuh wanita memiliki
kekuatan hanya 1/3 dari tubuh laki-laki, pengaruh hormon pria seperti testosreron
memengaruhi dengan kental tubuh pria sehinngga pria dengan mudahnya
membangun otot, laki-laki mempunyai suara besar, berkumis, berjenggot, pinggul
lebih ramping, dada yang datar. (Herdiana, 2012) Dari segi rupa dan perawakan,
tidak banyak lelaki menggunakan kosmetik atau pakaian yang secara umum
terkait kepada perempuan. (Berbuat demikian dikenal sebagai bencong alias waria
dan, secara umum dipandang hina.)
Laki-laki yang menggunakan kosmetik atau pakaian yang secara umum
terkait kepada perempuan yang biasa dikenal sebagai waria merupakan laki- laki
yang tidak normal secara biologis atau hormonal. Karena mengalami suatu
ketidaknormalan pada hormon inilah yang membuat seorang laki-laki
berkeinginan untuk berpenampilan seperti wanita atau biasa dikenal wanita dalam
pria atau waria. Waria adalah seorang yang terlahir sebagai laki-laki, kemudian
berdasarkan faktor internal dan eksternal orang tersebut mempunyai keinginan
untuk mengubah identitas kelaminnya ( identitas gender) menjadi seseorang yang
menyerupai wanita baik fisik maupun tingkah lakunya. Faktor penyebab
munculnya perubahan prilaku laki-laki menjadi seorang waria dapat ditinjau dari
beberapa perspektif yaitu; Perspektif biologis yaitu berhubungan dengan masalah
hormonal, perspektif bihavioristik berkaitan dengan penguatan yang diberikan

oleh keluarga atau orang lain ketika anak berprilaku / berpenampilan seperti
perempuan sedangkan perspektif sosiokultural berkaitan dengan faktor budaya
yang diduga mempengaruhi perubahan prilaku dari laki-laki menjadi waria.
Karena faktor- faktor itulah seorang laki- laki bisa berubah serta berkeinginan
untuk menjadi seorang waria.
Secara umum laki-laki yang bersikap dan berpenampilan seperti wanita
dianggap hina oleh masyarakat. sehingga banyak masyarakat yang menentang
serta mengucilkan seorang laki-laki yang berpenampilan serta bersikap seperti
wanita atau menjadi seorang waria. Penentangan-penentangan dan pengucilan
yang masyarakat lakukan pada seorang waria biasanya berupa suatu tindakan
pendiskriminasian seperti penghinaan (menjadikan keluarga dan diri waria
tersebut sebagai buah bibir atau bahan pembicaraan), kendala-kendala dalam
kehidupan bersosial masyarakat serta pencabutan sebagian hak-hak asasi
manusianya sebagai warga negara Indonesia, misalnya kendala-kendala
diberbagai instansi sekolah. Namun, meskipun mereka tahu bahwa dengan
menjadi seorang waria mereka akan memperoleh pendiskriminasian sosial serta
kendala-kendala dalam kehidupan bersosial masyarakat, hal tersebut tidaklah
menyurutkan keinginan mereka untuk menjadi seorang waria.
Umumnya di dalam pergaulan sehari-hari kaum waria atau penyandang
gangguan identitas gender ini cenderung menutup diri dari masyarakat karena
kehadiran mereka ditengah-tengah masyarakat belum sepenuhnya bisa diterima.
Gangguan identitas gender harus dibedakan dengan pola rangsangan homoseksual
dari laki laki yang kadang berperilaku feminin (dikenal dengan sebutan gay) atau
perempuan dengan pola rangsangan homoseksual dan tingkah laku maskulin
(disebut juga lesbian). Individu semacam itu tidak merasa sebagai perempuan
yang terperangkap dalam tubuh laki laki atau memiliki keinginan untuk menjadi
perempuan atau sebaliknya.
Individu ini memiliki suatu hasrat untuk hidup dan diterima sebagai
anggota dari kelompok lawan jenisnya, biasanya disertai perasaan tidak enak atau
tidak sesuai dengan anatomi seksualnya dan menginginkan untuk memperoleh
terapi hormonal dan pembedahan untuk membuat tubuhnya semirip mungkin

dengan jenis kelamin yang diinginkannya. Seorang Gay dan waria memiliki
persamaan yaitu sama-sama tertarik pada laki-laki. Perbedaannya adalah bahwa
pada waria diikuti dengan pengidentifikasian diri sebagai wanita, sehingga cara
berpakaian, cara bicara dan dalam banyak hal berusaha untuk sama seperti wanita
sesungguhnya. Pada gay penampilan dirinya masih sebagai laki-laki, sehingga
cara berpakaiannya pun sama seperti laki-laki heteroseksual pada umumnya,
namun orientasi seksualnya sejenis. Sementara pada waria memiliki preferensi
seksual menyukai sejenisnya dengan

pengidentikasian diri sebagai seorang

wanita yang sudah sewajarnya menyukai laki-laki.


Dalam masyarakat Indonesia yang majemuk, pandangan terhadap
perbedaan orientasi seksual dan identitas gender di luar hubungan antara laki-laki
dengan perempuan masih sangat tabu dan masih menjadi perdebatan. Hal itu
disebabkan karena secara umum hubungan yang dianggap normal hanyalah
hubungan antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan-perbedaan inilah yang
menjadi pemikiran, bagaimana kaum LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual,
Transgender/ Transseksual) bisa diterima dan dapat hidup berdampingan dengan
kaum heteroseksual pada khususnya dikalangan masyarakat dan ditengah-tengah
lingkungannya, serta manusia pada umumnya. Perilaku yang timbul di tengah
masyarakat yang sejak dulu hingga sekarang terhadap kaum LGBT akhirnya
menciptakan konstruksi sosial yang menjustifikasi bahwa kaum LGBT terutama
waria, adalah penyakit masyarakat, kutukan tuhan, sehingga wajar didiskriminasi
dan perlu disembuhkan. Inilah yang disebut stigmatisasi. Namun jika kita berpijak
pada hak asasi manusia seharusnya pandangan-pandangan atau penafsiranpenafsiran miring terhadap kaum LGBT haruslah dibuang. Karena mereka sebagai
manusia juga mempunyai hak-hak yang sama dengan manusia lainnya dan mereka
juga berhak untuk bisa hidup sejahtera. Dari pandangan yang menabukan kaum
LGBT terutama kaum waria, hal ini berimbas juga ke dalam strata kehidupan
bermasyarakat. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan mereka juga ada
yang menerima dan ada juga yang menolak.
Dari fakta-fakta yang ada di dalam kehidupan masyarakat dapat kita
mengerti bahwasannya Waria merupakan masalah sosial yang berada ditengah-

tengah kehidupan masyarakat. Karena semakin banyaknya jumlah waria yang ada
dalam

kehidupan

masyarakat

pastinya

membuat

masyarakat

khawatir.

Kekhawatiran masyarakat terjadi karena semakin banyaknya jumlah waria maka


semakin banyak pula masalah yang berkaitan dengan waria tersebut. Karena
dalam kehidupannya waria selalu dikaitak dengan suatu ketidak mampuan
bersosialisasi (disorganisasi sosial), diskriminasi sosial dalm bentuk-bentuk
pengucilan oleh masyarakat serta penyakit menular HIV/ AIDS karena hubungan
sex yang tidak diperkenankan. Masalah sosial yang terkait dengan waria ini akan
banyak menimbulkan kerugian.
Dalam hal ini interaksi sosial sangat dibutuhkan oleh waria, apalagi dalam
hubungannya dengan lingkungan dimana ia tinggal. Interaksi sosial antara waria
dengan lingkungan sekitar nantinya akan mempengaruhi akses bagi para kaum
waria untuk memperoleh kesejahteraan sosial, karena tidak ada manusia yang bisa
hidup tanpa orang lain, bantuan, kerjasama, dan persaingan yang dapat menambah
semangat hidup dalam berkompetisi yang baik dan sehat.
Kesejahteraan sosial diantaranya juga termasuk kesejahteraan waria.
Waria yang tidak bisa menyelesaikan masalahnya dengan baik, tidak dapat
memenuhi kebutuhan hidupnya, dan peluang-peluang sosial tidak lagi terbuka
lebar untuknya. Selain mereka mengalami masalah pada dirinya (secara biologis)
mereka juga tidak mampu menyesuaikan diri dengan keadaan mereka serta
mendapatkan pendiskriminasian sosial dari masyarakat sehingga para waria sulit
untuk mencapai suatu kesejahteraan sosial karena kebanyakan dari waria sulit
memenuhi kebutuhan hidup mereka. Kebutuhan untuk mengaktualisasi diri dan
bertumbuh.
Sulitnya menjalankan interaksi sosial bagi kaum waria akan mempersulit
para waria itu sendiri dalam hal sosial inklusi dan membuka lebar masuknya
budaya diskriminasi sosial bagi kaum waria yang akan mempersulit para waria
dalam memenuhi kebutuhan hidup dan memperoleh kesejahteraan sosial. Sosial
inklusi merupakan kondisi dimana semua masyarakat akan membuka diri bagi
para waria dan memberikan kesempatan dan hak yang sama bagi semua kaum

waria untuk bisa hidup seperti layaknya manusia pada umumnya atau normal
(tidak disability).
Tantangan yang harus dihadapi dan dilalui oleh seorang waria tidak hanya
setelah mereka berproses dari seorang laki-laki hingga menjadi seorang waria,
namun tantangan yang ada dihadapan mereka sudah ada sejak mereka hendak
berproses, pada saat berproses hingga mereka benar-benar menjadi seorang waria,
dalam prosesnya kendala-kendala yang harus dihadapi seorang laki-laki yang
ingin menjadi seorang waria tidak hanya berasal dari satu pihak saja tetapi dari
beberapa pihak. Dalam hal ini yang dimaksud dengan kendala-kendala
berdasarkan sudut pandang waria adalah suatu halangan, rintangan, gendala. Atau
bisa dimaknai juga dengan suatu faktor atau keadaan yang membatasi,
menghalangi atau mencegah pencapaian sasaran : kekuatan yang memaksa
pembatalan pelaksanaan. (Bahasa., 1990)
Berdasarkan observasi yang dilakukan pada (Januari, 2011) dan
pengalaman yang langsung berhubungan dengan waria pada saat penulis sedang
menempuh pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) menunjukkan fenomena
bahwa pihak-pihak yang biasanya menjadi sumber kendala dalam proses
pengambilan keputusan seorang laki-laki untuk menjadi waria adalah pihak;
( i) Keluarga
Kendala dalam proses pengambilan keputusan seorang laki- laki
untuk menjadi waria yang pertama adalah dari pihak keluarga dimana
kebanyakan pihak keluarga tidak begitu saja mengijinkan anak atau
anggota keluarga mereka untuk menjadi seorang waria dengan alasan hal
tersebut merupakan perbuatan dosa karena dilarang oleh agama, akan
menebar aib bagi keluarga dan membuat pihak keluarga besar malu
dihadapan masyarakat serta akan menjadikan subyek dan keluarganya
sebagai bahan gunjingan masyarakat karena telah menjadi dan memiliki
anggota keluarga yang bermasalah serta memiliki kelainan atau berbeda
dengan laki- laki normal pada umumnya. Perihal tersebut membuat subyek
dan pihak keluarga merasa tidak nyaman dan tidak leluasa dalam
menjalankan aktifitasnya dalam bermasyarakat karena mereka merasa

bahwa saat itu tidak ada masyarakat yang benar-benar mengerti dan
memahami tentang posisi mereka. Karena hal itulah sehingga pihak
keluarga akan berusaha keras untuk melarang dan menghalangi anak atau
anggota keluarga mereka untuk menjadi seorang waria.
Artinya fakta dilapangan mengatakan sebagian besar para keluarga
tidak merestui dan tidak mengijinkan anak mereka menjadi seorang waria
karena pihak keluarga merasa dengan mengijinkan anak mereka menjadi
seorang waria maka hal tersebut sama dengan halnya mengijinkan anak
mereka berbuat dosa. Selain itu menurut anggota keluarga mereka dengan
mengijinkannya anak mereka menjadi seorang waria maka hal tersebut
akan membuat nama baik keluarga mereka tercemar sehingga akan
dijadikan bahan pembicaraan oleh semua orang dan hal tersebut akan
membuat pihak keluarga merasa malu. Untuk mencegah hal tersebut
terjadi maka pihak keluarga akan berusaha keras untuk melarang anak
mereka menjadi seorang waria.
(ii) Tetangga
Kendala yang kedua dalam proses pengambilan keputusan seorang
laki-laki untuk menjadi waria adalah dari pihak tetangga dimana
masyarakat kita adalah masyarakat yang sebagian besar bersifat
kekeluargaan. Dimana sifat dari masyarakat yang kekeluargaan adalah
keperduliannya terhadap lingkungan sekitar sangatlah tinggi sehingga jika
ada seorang tetangga mereka diketahui bermasalah dan bersifat
menyimpang apalagi hal tersebut masih dianggap tabu dan dilarang oleh
agama biasanya mereka akan langsung memberi respon cepat dan akan
segera mereka jadikan bahan pembicaraan (gosip). Biasanya masyarakat
dan tetangga mereka akan saling membicarakan antara yang satu dengan
tetangga yang lain mengenai

individu yang memiliki sikap dan sifat

seperti seorang waria tersebut. Hal tersebut akan dilakukan hampir setiap
hari disaat para tetangganya tersebut berkumpul- kumpul bersama untuk
bergosip dan berbincang- bincang. Selain itu masyarakat akan merasa
penasaran mengenai apa penyebab dan bagaimana awal mula individu

tersebut bisa bersikap menjadi seorang waria. Rasa penasaran tersebut


biasanya akan menarik perhatian tetangganya untuk mencari dan
mengumpulkan informasi mengenai hal tersebut dari semua masyarakat
yang mereka anggap tahu dan memiliki banyak informasi mengenai hal
tersebut.
Dari hasil pengamatan sementara biasanya para tetangga akan
membicarakan dan mengosipkan individu tersebut terutama disaat subyek
sedang melitas dan lewat di hadapan mereka. Ini akan berlangsung hingga
masyarakat merasa informasi yang mereka miliki cukup lengkap dan ada
topik pembicaraan lain yang sedang hangat dibicarakan, namun hal
tersebut akan kembali terjadi jika subjek kembali memberikan sensasi
yang dianggap menarik atau mengejutkan oleh masyarakat. Hal tersebut
membuat pihak keluaraga subjek merasa tidak nyaman hidup secara sosial
masyarakat serta merasa malu dan tidak nyaman (risih), demikian halnya
dengan subjek secara pribadi.
(iii) Teman
Seorang anak laki- laki yang memiliki kelainan dalam bersikap dan
berpenampilan maka hal tersebut akan dijadikan bahan ejekan yang tidak
akan pernah ada henti sampai anak tersebut menyelesaikan sekolahnya dan
lulus. Ejekan tersebut akan membuat anak tersebut tidak memiliki banyak
teman dan termarjinalkan sehingga akan menciptakan suasana belajar yang
kurang nyaman dan tidak kondusif. Misalnya ketika disekolah subjek akan
diolok- olok dan dipermainkan oleh teman laki- lakinya, hal ini dilakukan
karena teman- teman subjek merasa subjek lemah, lembek, dan tidak akan
bisa melawan karena subjek bersikap serta bersifat seperti perempuan atau
biasa dikenal dengan sebutan bencong.
Hasil pengamatan pengalaman pribadi biasanya ketika dikelas
diadakan tugas kelompok maka tidak akan ada teman-teman subjek yang
mau bekerja satu kelompok dengan subjek, jikapun ada biasanya subjek
hanya dimanfaatkan untuk mengerjakan semua tugas tersebut hingga
selesai dan benar. Hal ini membuat subjek merasa tidak nyaman ketika

berada dilingkungan sekolah, ini dikarenakan subjek merasa tidak dihargai


dan selalu dipermainkan sehingga terkadang membuat subjek emosi dan
marah dikelas. Kondisi tersebut merupakan kendala yang harus dihadapi
oleh seorang laki- laki yang ingin menjadi seorang waria. Dikatakan
kendala karena hal tersebut menimbulkan rasa tidak nyaman, ketegangan,
kegelisahan, kerugian secara mental dan sosial, dll, yang kesemuanya
tersebut merupakan dinamika sosial dalam proses pengambilan keputusan
laki- laki menjadi seorang waria.
Pada proses seseorang untuk mengambil suatu keputusan menjadi seorang
waria banyak mengalami kendala- kendala sosial hal ini tidaklah menyurutkan
keinginan mereka untuk menjadi seorang waria dan bertahan pada kondisi mereka
sebagi seorang laki- laki sebagaimana mereka mestinya seperti kondrat mereka
secara lahiriah. Yang menarik hingga saat ini adalah keberadaan waria terus ada
dan jumlahnya pun semakin banyak, yakni 700 jiwa atau 10% dari jumlah
penduduk di Indonesia. Perbedaan suatu proses pengambilan keputusan seorang
laki-laki menjadi waria yang satu dengan waria yang lainnya ini yang membuat
penelitian ini menarik dan unik. Permasalahan sosial seperti inilah yang
mendorong penulis untuk mengadakan penelitian yang bertema: PROSES
PENGAMBILAN KEPUTUSAN dan

mengambil judul penelitian tentang

Proses Pengambilan Keputusan Laki-laki Menjadi Waria (studi kasus, waria di


Jalan Jawa, Tegal Boto, Kecamatan Sumber Sari, Jember)
1.2 Rumusan Masalah
Kehidupan sehari-hari jika seorang laki- laki berpenampilan serta
berperikalu layaknya seorang laki- laki pada umumnya maka hal itu sudahlah
wajar, jika laki- laki berpenampilan serta berperilaku seperti wanita atau menjadi
seorang waria hal ini tidaklah wajar dan masih dianggap tabu dalam kehidupan
masyarakat. Meskipun demikian dewasa ini jumlah waria dalam kehidupan
masyarakat semakin banyak. Di Jember waria membangun komunitas di sekitar
kampus dan stasiun kereta api Jember, serta biasa mengadakan pertemuan anggota
waria di depan kantor DPRD Jember. Dan sampai saat ini jumlah waria yang

10

berada di kabupaten Jember yakni adalah 250 orang waria yang tersebar di
berbagai kecamatan di jember (Interaktif, 2010).
Pada dasarnya waria juga manusia yang memiliki keinginan untuk
mendapatkan kehidupan yang layak dan diterima oleh semua masyarakat yang ada
disekelilingnya. Waria juga berhak atas semua Hak Asasi Manusia yang diperoleh
semua orang, karena waria juga berhak untuk sejahtera. Namun pada
kenyataannya waria banyak mendapat kendala-kendala-kendala-kendala dari
semua kalangan ( baik itu dari dunia pendidikan, lapangan pekerjaan atau pangsa
kerja, maupun dari lingkungan masyarakat disekitar waria tersebut tinggal).
Pada satu surat kabar (Ichal, 2008) dituliskan, " suara perwakilan dari
kaum waria bahwasannya mereka ingin diperlakukan sama seperti masyarakat
biasanya, mereka ingin diakui, tidak diasingkan atau termarjinalkan baik secara
sexualitas maupun sosial," sementara itu dalam (Banyumas, 2005) dikabarkan "
seorang waria dibunuh oleh adik costnya lantaran perbedaan persepsi".
Diberitakan dalam (Interaktif, 2010) bahwa " ratusan waria dalam
persatuan WAGAYO ( Waria dan Gay Organisation) berdemo di Alun-alun kota
Jember menuntut persamaan Hak Asasi Manusia, mereka menuntut bahwasannya
kaum mereka untuk menuntut ilmu dibangku pendidikan dan diberikan hakhaknya sebagai warga Negara Indonesia sama dengan individu-individu lainnya
yang dianggap normal oleh masyarakat pada umumnya tanpa diskriminasi sosial."
Gambar 1.1 : Foto dokumentasi waria saat berdemo menuntut persamaan
HAM

Sumber : Diolah berdasarkan pada (Interaktif, 2010)

11

Seharusnya jika seseorang sudah mengetahui bahwa masalah dan


tantangan sosial yang akan mereka hadapi disaat maupun setelah mereka
berproses menjadi seorang waria begitu banyak, sehingga mempersulit mereka
dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka akan merubah keputusan mereka untuk
berproses dan menjadi seorang waria. Namun, pada kenyataannya walaupun
demikian mereka masih tetap berkeinginan untuk menjadi seorang waria. Hal
inilah yang membuat penelitian tentang bagaimana proses pengambilan keputusan
laki- laki menjadi waria menarik untuk dilakukan.
Walaupun masyarakat di sekitar mereka ada yang menerima dan ada yang
menolak akan kehadiran mereka namun kaum LGBT tetap hidup di tengah-tengah
masyarakat. Mereka tumbuh hidup, berusaha dan bersosialisasi layaknya seperti
manusia yang lain. Mereka dilahirkan dan dibesarkan di dalam keluarga. Karena
itu mereka juga layak untuk hidup, memperoleh pendidikan, dijauhkan dari rasa
takut, memperoleh perlakuan hukum yang adil dan setara, memperoleh pekerjaan
sebagaimana konsep universal Hak Asasi Manusia. Fakta sosial mengatakan
bahwasannya lahirnya seorang waria disebuah lingkungan sosial akan
menimbulkan dan memicu suatu tindakan diskriminasi sosial yang akan
menghambat timbulnya kehidupan sosial masyarakat yang tidak harmonis,
sehingga kesejahteraan sosial waria akan sulit untuk dicapai.
Meskipun demikian, adanya seorang waria dalam kehidupan masyarakat tidak
serta merta muncul begitu saja. Ada faktor yang mendorong dan memicu lahirnya
seorang waria. faktor-faktor pemicu seorang laki-laki menjadi waria sangatlah
komplek dan beragam, baik itu berasal dari faktor biologis, bihavioristik maupun
sosiokultural. Faktor- faktor inilah yang nantinya akan menjadi bahan
pertimbangan dalam proses untuk menjadi seorang waria. Dan perbedaanperbedaan faktor ini juga yang nantinya akan membuat suatu proses seorang lakilaki menjadi seorang waria yang satu dengan yang lain akan berbeda dan unik.
Mengacu pada latar belakang tersebut maka rumusan permasalahan dalam
penelitian ini adalah :

12

1. Bagaimana proses pengambilan keputusan seorang laki-laki menjadi


Waria?
2. Kendala-kendala apa saja yang dihadapi dalam proses pengambilan
keputusan laki-laki menjadi waria?
1.3 Tujuan Penelitian
Setiap aktivitas dalam sebuah penelitian pasti mempunyai tujuan-tujuan
tertentu. Hal ini bertujuan untuk memberi arah pada saat seorang penulis
melakukan aktivitas penelitiannya agar dalam proses tersebut penulis tidak keluar
dari tujuan-tujuan yang telah ditentukan. Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam
penelitian ini adalah:
1) Untuk mengetahui proses pengambilan keputusan laki-laki menjadi
waria
2) Untuk

mengetahui

tentang

kendala-kendala

dalam

proses

pengambilan keputusan laki- laki menjadi waria


1.4 Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan dari suatu penelitian diharapkan mempunyai manfaat
dari hasil penelitian. Dalam hal ini manfaat yang dapat diperoleh dari penelitian
ini adalah sebagai berikut :
a.

Dapat memberikan pengetahuan kepada masyarakat luas tentang


kehidupan dan dampak menjadi seorang waria,

b. Dapat menginformasikan tentang faktor-faktor pemicu seorang laki-laki


menjadi seorang waria,
c. Dapat memberikan penjelasan tentang bagaimana antisipasi dalam cara
mendidik anak laki-laki agar tidak menjadi waria, dll.