Anda di halaman 1dari 24

Epidemiologi Kesehatan Reproduksi

Epidemiologi dalam Menganalisis Masalah Kesehatan Reproduksi


Dosen Mata Kuliah:
dr. Fauziah Elytha, MSc

Oleh :
Kelompok 5
Irham Makhfudz

1311212047

Rini Nurvia Agustin

1311211098

Dona Safrianti

1311211111

Kamilah Nazir

1311212058

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS ANDALAS

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan atas rahmat dan karunia yang telah diberikan
oleh Allah SWT, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Makalah ini ditulis sebagai tugas pada mata kuliah Epidemiologi Kesehata
Reproduksi di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Dosen pengajar dan temanteman yang membantu dalam penyelesaian makalah ini serta semua pihak yang telah
membantu kelancaran pembuatan makalah ini.
Penulis telah menyelesaikan makalah ini dengan segenap kemampuan dan
pikiran, namun penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun dari pembaca agar makalah ini dapat mencapai kesempurnaan dan dapat
bermanfaat bagi pembaca.

Padang, Februari 2016

Tim Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR....................................................................................................i
DAFTAR ISI.................................................................................................................ii
BAB 1 : PENDAHULUAN..........................................................................................1
1.1 Latar Belakang....................................................................................................1
1.2 Perumusan Masalah............................................................................................2
1.3 Tujuan Penulisan.................................................................................................2
BAB 2 : PEMBAHASAN............................................................................................3
2.1 Ketidaksuburan pria dan wanita.........................................................................3
2.1.1 Definisi Infertilitas.......................................................................................3
2.1.2 Klasifikasi Infertilitas..................................................................................3
2.1.3 Epidemiologi Infertilitas..............................................................................4
2.1.4 Faktor-Faktor yang Menyebabkan Infertilitas.............................................4
2.1.4.1 Infertilitas pada Pria..............................................................................4
2.1.4.2 Infertilitas pada wanita.........................................................................5
2.1.4.3 Penyebab Infertilitas Sekunder Pria dan Wanita...................................7
2.1.5 Pencegahan Infertilitas.................................................................................8
2.1.6 Pengobatan Infertilitas.................................................................................8
2.2 Evaluasi Kontrasepsi..........................................................................................9
2.2.1 Pengertian Kontrasepsi................................................................................9
2.2.2 Macam Macam Metode Kontrasepsi......................................................10
2.2.3 Contoh Evaluasi Penggunaan Kontrasepsi................................................13
2.3 Dampak Buruk dari Kontrasepsi Hormonal dan Suplementasi Hormone........14
BAB 3 : PENUTUP....................................................................................................19

3.1 Kesimpulan.......................................................................................................19
3.2 Saran.................................................................................................................19
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................20
BAB 1 : PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Infertilitas adalah suatu kondisi tidak terjadinya kehamilan pada pasangan
yang telah berhubungan seksual tanpa menggunakan kontrasepsi secara teratur dalam
waktu satu tahun. Infertilitas terjadi lebih dari 20% pada populasi di indonesia, dan
dari kasus tersebut terdapat 40% pada wanita, 40% pada pria dan 20% pada
keduanya dan ini yang menyebabkan pasangan suami istri tidak mendapat keturunan.
Diperkirakan 85-90% pasangan yang sehat akan mendapat pembuahan dalam 1
tahun. (DepKes, 2006).
Menurut penelitian Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) di
Jakarta, 36% infertilas terjadi pada pria dan 64% terjadi pada wanita. Penelitian lain
menunjukan di angka kejadian infertilitas wanita terjadi sekitar 15% pada usia
produktif (30-34 tahun), meningkat sampai dengan 30% pada usia 35-39 tahun dan
64% pada usia 40-44 tahun. (PERSI, 2001).
World Health Organization (WHO) mengatakan bahwa jumlah pasangan
infertil sebanyak 36% diakibatkan adanya kelainan pada pria, sedangkan 64% berada
pada wanita. Hal ini di alami oleh 17% pasangan yang sudah menikah lebih dari 2
tahun yang belum mengalami tanda-tanda kehamilan bahkan sama sekali belum
pernah hamil. WHO juga memperkirakan sekitar 50-80 juta pasutri (1 dari 7
pasangan) memiliki masalah infertilitas, dan setiap tahun muncul sekitar 2 juta
pasangan infertil. (WHO, 2011)
Kontrasepsi hormonal merupakan kontrasepsi yang paling banyak digunakan
wanita di negara-negara maju. Para wanita menggunakannya untuk mencegah
kehamilan.Kecenderungan peningkatan pasangan menikah usia subur akan
berdampak pada peningkatan angka kelahiran dan kepadatan penduduk yang
nantinya bila tida diatur akan mempengaruhi tingkat kesejahteraan dan kualitas hidup
suatu keluarga, sehingga akan bertolak belakang dengan program pemerintah yaitu
mewujudkankeluarga kecil yang bahagia dan sejahtera. Tata laksana untuk mengatasi

permasalahan tersebut sangat diperlukan, termasuk dalam penggunaan kontrasepsi


hormonal baik berupa estrogen saja maupun kombinasi estrogen dan progesteron
(Hartanto, 2004).

Akhir-akhir ini banyak wanita menggunakan kontrasepsi hormonal kombinasi


estrogen dan progesteron karena pemberian estrogen saja dapat meningkatkan resiko
terjadinya hyperplasia bahkan karsinoma endometrium, sedangkan progesterone
digunakan

sebagai

tambahan

untuk

mengurangi

resiko

tersebut

(Siswosudarmo,2001).
1.2 Perumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini yaitu :
1. Bagaimanakah infertilitas pada pria dan wanita?
2. Bagaimanakah evaluasi tentang kontrasepsi ?
3. Bagaimanakah dampak buruk dari kontrasepsi hormonal dan suplementasi
hormone ?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari makalah ini yaitu memenuhi tugas mata kuliah
Epidemiologi Kesehatan Reproduksi. Selain itu, juga memberikan pengetahuan dan
wawasana mengenai infertilitas pada pria dan wanita, evaluasi tentang kontrasepsi
,serta dampak buruk dari kontrasepsi hormonal dan suplementasi hormone.

BAB 2 : PEMBAHASAN
2.1 Ketidaksuburan pria dan wanita
2.1.1 Definisi Infertilitas
Infertilitas adalah ketidakmampuan untuk hamil setelah sekurang-kurangnya
satu tahun berhubungan seksual sedikitnya empat kali seminggu tanpa kontrasepsi
( Strigh B, 2005 : 5 ).
Infertilitas adalah bila pasangan suami istri, setelah bersanggama secara
teratur 2-3 kali seminggu, tanpa memakai metode pencegahan belum mengalami
kehamilan selama satu tahun (Mansjoer, 2004 : 389).
Menurut the Practice Committee of the American Society for Reproductive
Medicine (ASRM), infertilitas didefinisikan sebagai suatu kegagalan untuk mencapai
kehamilan setelah satu tahun melakukan hubungan seksual secara regular tanpa
menggunakan alat kontrasepsi (Wein et al., 2012). Sedangkan menurut The
International Committee for Monitoring Assisted Reproductive Technology
(ICMART) dan World Health Organization (WHO) tahun 2009 menyebutkan definisi
infertilitas secara klinis bahwa infertilitas merupakan suatu penyakit sistem
reproduksi yang ditetapkan dengan adanya kegagalan mencapai kehamilan klinis
setelah 12 bulan atau lebih melakukan hubungan seksual secara regular tanpa
menggunakan alat kontrasepsi (Zegers et al., 2009).
2.1.2 Klasifikasi Infertilitas
Menurut pembagiannya, infertilitas dapat diklasifikasikan sebagai infertilitas
primer dan infertilitas sekunder.
1. Infertilitas primer adalah pasangan suami-istri belum mampu dan belum
pernah memiliki anak setelah 1 tahun berhubungan seksual sebanyak 2-3 kali
per minggu tanpa menggunakan alat kontrasepsi dalam bentuk apapun.
2. Infertilitas sekunder adalah pasangan suami istri telah atau pernah memiliki
anak sebelumnya, tetapi saat ini belum mampu memiliki anak lagi setelah 1

tahun berhubungan seksual sebanyak 2-3 kali per minggu tanpa


menggunakan alat atau metode kontrasepsi dalam bentuk apapun.

2.1.3 Epidemiologi Infertilitas


Diperkirakan 85-90% pasangan yang menikah dalam satu tahun
pernikahannya akan menjadi hamil, dimana 10-15 % pasangan tersebut akan
mengalami kesulitan untuk menjadi hamil dan mereka ini lah yang disebut sebagai
pasangan infertil. Prevalensi infertilitas yang tepat tidak diketahui dengan pasti,
sangat bervariasi tergantung keadaan geografis, budaya dan status sosial negara
tersebut.
Di Amerika serikat persentase wanita infertil meningkat dari 8,4 % pada
tahun 1982 dan 1988 menurut National Survey of Family Growth (NSFG) menjadi
10,2 % (6,2 juta) pada tahun 1995. Menurut penelitian Stephen dan Chandra
diperkirakan 6,3 juta wanita di Amerika menjadi infertil dan diperkirakan akan
meningkat menjadi 5,4-7,7 juta pada tahun 2025. Dalam suatu studi populasi dari
tahun 2009-2012 diperkirakan akan terdapat 12-24 % wanita infertil. 27
Al Akour dkk 28 melaporkan 155 (46,3%) wanita dengan infertilitas primer
dan 180 (53,7%) wanita dengan infertilitas sekunder. Di Kuwait, Ommu dan Omu 29
melaporkan data infertiltas primer 65,7% dan 34,3 % wanita dengan infertilitas
sekunder. Di Banglades, Akhter dkk30 dari 3184 wanita infertil, 61,9 % wanita
dengan infertilitas primer dan 38 % wanita dengan infertilitas sekunder. Di Jerman,
Wischmann dkk31 dilaporkan 67,6 % wanita dengan infertilitas primer dan 32,4 %
dengan infertilitas sekunder.

2.1.4 Faktor-Faktor yang Menyebabkan Infertilitas


2.1.4.1 Infertilitas pada Pria
1. Gangguan Spermatogenesis
Analisis sperma dapat mengungkapkan jumlah spermatozoa normal atau tidak.
Pengambilan spesimen segar dengan cara masturbasi di laboratorium. Standar

untuk spesimen semen normal telah ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia
(WHO).

2. Obstruksi
Obstruksi atau sumbatan merupakan salah satu penyebab infertil pada pria.
Obstruksi dapat terjadi pada duktus atau tubulus yang di sebabkan karena
konginetal dan penyakit peradangan (inflamasi) akut atau kronis yang mengenai
membran basalais atau dinding otot tubulus seminiferus misalnya orkitis, infeksi
prostat, infeksi gonokokus. Obstruksi juga dapat terjadi pada vas deferens.
3. Ketidak mampuan koitus atau ejakulasi
Faktor-faktor fisik yang menyebabkan ketidak mampuan koitus dan ejakulasi,
misalnya hipospadia, epispadia, deviasi penis seperti priapismus atau penyakit
peyronie.Faktor-faktor psikologis yang menyebabkan ketidakmampuan untuk
mencapai atau mempertahankan ereksi dan kebiasaan pria alkoholisme kronik.
4. Faktor Sederhana
Faktor sederhana seperti memakai celana jeans ketat, mandi dengan air terlalu
panas, atau berganti lingkungan ke iklim tropis dapat menyebabkan keadaan luar
panas yang tidak menguntungkan untuk produksi sperma sehat.
2.1.4.2 Infertilitas pada wanita
1. Gangguan ovulasi
Gangguan yang paling sering dialami perempuan infertil adalah gangguan ovulasi.
Bila ovulasi tidak terjadi maka tidak akan ada sel telur yang bisa dibuahi. Salah

satu tanda wanita yang mengalami gangguan ovulasi adalah haid yang tidak
teratur dan haid yang tidak ada sama sekali.

2. Sindrom Ovarium Polikistik


Sindroma ovarium polikistik merupakan suatu kumpulan gejala yang diakibatkan
oleh gangguan sistem endokrin. Kelainan ini banyak ditemukan pada wanita usia
reproduksi. Gejala tersering yang ditimbulkannya antara lain infertilitas karena
siklus yang anovulatoar, oligo sampai amenore, obesitas dan hirsutisme.
Sindrom ovarium polikistik ini menimbulkan perubahan hormonal-biokimia
seperti peningkatan luteinising hormone (LH) serum, rasio LH/FSH (follicle
stimulating hormone) yang meningkat, adanya resistensi insulin dan peningkatan
androgen plasma.17 Sindrom ovarium polikistik menyebabkan 5-10% wanita usia
reproduksi menjadi infertil.
3. Masalah Tuba
Peranan faktor tuba paling sering ditemukan dalam infertilitas pada wanita yaitu
sekitar 25-50%. Oleh karena itu, penilaian potensi tuba dianggap sebagai salah
satu pemeriksaan terpenting dalam pengelolaan infertilitas.
4. Masalah Uterus
Spermatozoa dapat ditemukan dalam tuba falopii sekitar 5 menit setelah
inseminasi. Gerakan spermatozoa untuk masuk ke dalam uterus tidak hanya di
lakukan sendiri. Kontraksi vagina dan uterus mempengaruhi dalam transportasi
spermatozoa. Kontraksi yang terjadi karena pengaruh prostaglandin dalam air
mani dapat membuat uterus berkontraksi secara ritmik. Prostaglandin berpengaruh
dalam transport spermatozoa ke dalam uterus dan melewati penyempitan batas
uterus dengan tuba. Uterus sangat sensitif terhadap prostaglandin pada akhir fase
proliferasi dan permulaan fase sekresi, sehingga apabila prostaglandin kurang
dalam mani dapat menyebabkan masalah infertilitas.
Kelainan pada uterus bisa disebabkan oleh malformasi uterus yang menggangu
pertumbuhan fetus (janin). Mioma uteri dan adhesi uterus menyebabkan
terjadinya gangguan suplai darah untuk perkembangan fetus sehingga akhirnya
terjadi abortus berulang.

2.1.4.3 Penyebab Infertilitas Sekunder Pria dan Wanita


Masalah pada infertilitas sekunder sangat berhubungan dengan masalah pada
pasangan dengan infertilitas primer. Sebagian besar pasangan dengan infertilitas
sekunder menemukan penyebab masalah kemandulan sekunder tersebut, dari
kombinasi berbagai faktor meliputi :
1. Usia
Faktor usia sangat berpengaruh pada kesuburan seorang wanita. Selama wanita
tersebut masih dalam masa reproduksi yang berarti mengalami haid yang teratur,
kemungkinan masih bisa hamil. Akan tetapi seiring dengan bertambahnya usia
maka kemampuan indung telur untuk menghasilkan sel telur akan mengalami
penurunan. Penelitian menunjukkan bahwa potensi wanita untuk hamil akan
menurun setelah usia 25 tahun dan menurun drastis setelah usia diatas 38 tahun.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh National Center for Health Statistics
menunjukkan bahwa wanita subur berusia dibawah 25 tahun memiliki
kemungkinan hamil 96% dalam setahun, usia 25 34 tahun menurun menjadi
86% dan 78% pada usia 35 44 tahun.
Pada pria dengan bertambahnya usia juga menyebabkan penurunan kesuburan.
Meskipun pria terus menerus memproduksi sperma sepanjang hidupnya, akan
tetapi morfologi sperma mereka mulai menurun. Penelitian mengungkapkan
hanya sepertiga pria yang berusia diatas 40 tahun mampu menghamili isterinya
dalam waktu 6 bulan dibanding pria yang berusia dibawah 25 tahun. Selain itu
usia yang semakin tua juga mempengaruhi kualitas sperma ( Kasdu, 2001:63 ).
2. Masalah Reproduksi
Masalah pada system reproduksi dapat berkembang setelah kehamilan awal
bahkan, kehamilan sebelumnya kadang-kadang menyebabkan masalah reproduksi
yang benar-benar mengarah pada infertilitas sekunder, misalnya perempuan yang
melahirkan dengan operasi caesar, dapat menyebabkan jaringan parut yang
mengarah pada penyumbatan tuba. Masalah lain yang juga berperan dalam
reproduksi yaitu ovulasi tidak teratur, gangguan pada kelenjar pituitary dan
penyumbatan saluran sperma.

3.Faktor gaya hidup


Perubahan pada faktor gaya hidup juga dapat berdampak pada kemampuan setiap
pasangan untuk dapat menghamili atau hamil lagi. Wanita dengan berat badan
yang berlebihan sering mengalami gangguan ovulasi, karena kelebihan berat
badan dapat mempengaruhi estrogen dalam tubuh dan mengurangi kemampuan
untuk hamil. Pria yang berolah raga secara berlebihan juga dapat meningkatkan
suhu tubuh mereka,yang mempengaruhi perkembangan sperma dan penggunaan
celana dalam yang ketat juga mempengaruhi motilitas sperma ( Kasdu, 2001:66 ).
2.1.5 Pencegahan Infertilitas
Secara umum, pencegahan infertilitas adalah :
a. Hentikan kebiasaan merokok, mengkonsumsi obat-obatan terlarang atau
minum-minuman beralkohol.
b. Mengurangi mengkonsumsi minuman berkafein, karena dapat mengganggu
kesuburan
c. Jaga keseimbangan berat badan, jangan terlalu gemuk dan jangan terlalu
kurus.
d. Jangan stress berlebihan
e. Periode bulanan tidak teratur, segerahlah konsultasikan dengan dokter ahli. f.
f. Jika merasa ada yang tidak beres dengan tubuh atau bagian vital, langsung
periksakan ke dokter.
2.1.6 Pengobatan Infertilitas
Adapun pengobatan infertilitas adalah :
1. Pemberian antibiotic
Pemberian antibiotik diberikan pada pria yang memiliki gangguan infeksi
traktus genitalis yang menyumbat vas deferens atau merusak jaringan testis.
2. Pembedahan
Tindakan pembedahan dapat dilakukan pada pasien mioma dan tuba yang
tersumbat.Tindakan pembedahan ini akan meninggalkan parut yang dapat
meyumbat atau menekuk tuba sehingga akhirnya memerlukan pembedahan
untuk mengatasinya.
3. Terapi

Terapi dapat dilakukan pada penderita endometriosis. Terapi endometriosis


terdiri dari menunggu sampai terjadi kehamila sendiri, pengobatan
hormonal,atau pembedahan konservatif.
4. Tindakan pembedahan/operasi Varikokel.
Tindakan yang saat ini dianggap paling tepat adalah dengan operasi berupa
pengikatan pembuluh darah yang melebar (varikokel) tersebut. Suatu
penelitian dengan pembanding menunjukkan keberhasilan tindakan pada 66
% penderita berupa peningkatan jumlah sperma dan kehamilan, dibandingkan
dengan hanya 10 % pada kelompok yang tidak dioperasi.
5. Memberikan

suplemen vitamin

Infertilitas yang tidak diketahui penyebabnya merupakan masalah bermakna


karena meliputi 20 % penderita. Penanggulangannya berupa pemberian
beberapa macam obat, yang dari pengalaman berhasil menaikkan jumlah dan
kualitas sperma. Usaha menemukan penyebab di tingkat kromosom dan
keberhasilan manipulasi genetik tampaknya menjadi titik harapan di masa
datang.
6. Tindakan operasi pada penyumbatan di saluran sperma
Bila sumbatan tidak begitu parah, dengan bantuan mikroskop dapat
diusahakan koreksinya. Pada operasi yang sama, dapat juga dipastikan ada
atau tidaknya produksi sperma di buah zakar.
7. Menghentikan obat-obatan yang diduga menyebabkan gangguan sperma.
8. Menjalani teknik reproduksi bantuan
Dalam hal ini adalah inseminasi intra uterin dan program bayi tabung.
Tindakan inseminasi dilakukan apabila ada masalah jumlah sperma yang
sangat sedikit atau akibat masalah antobodi di mulut rahim. Pria dengan
jumlah sperma hanya 5-10 juta/cc (dari normal 20 juta) dapat mencoba
inseminasi buatan.
2.2 Evaluasi Kontrasepsi
2.2.1 Pengertian Kontrasepsi
Kontrasepsi berasal dari kata kontra berarti mencegah atau melawan dan
konsepsi yang berarti pertemuan antara sel telur yang matang dan sel sperma
yang mengakibatkankehamilan. Maksud dari kontrasepsi adalah menghindari
atau mencegah terjadinya kehamilansebagai akibat pertemuan antara sel telur

yang matang dengan sperma. Pelayanan kontrasepsi(PK) merupakan salah satu


komponen dalam pelayanan kependudukan/KB.
Evaluasi kontrasepsi bertujuan :
a. mengetahui ketepatan penggunaan kontrasepsi,
b. mengidentifikasi efek samping yang timbul
c. faktor yang mempengaruhi penggunaan kontrasepsi
2.2.2 Macam Macam Metode Kontrasepsi
1) Metode Alamiah
a. Coitus Interruptus (Sanggama Terputus)
Aksi ini dapat mencegah terjadinya pembuahan yang berujung pada
kehamilan.Coitus Interruptus dapat diartikan sebagai senggama terputus atau
dalam artian penis dikeluarkan dari vagina sesaat seblum ejakulasi terjadi.
Dengan cara ini diharapkan cairan sperma tidak akan masuk kedalam rahim
serta mengecilkan kemungkinan bertemunyasperma dengan sel telur yang
dapat mengakibatkan terjadinya pembuahan.Teknik ini membutuhkan
pastisipasi yang besar dari pasangan Anda . Selain itu juga menuntut jiwa
yang besar dari Anda dan pasangan alias siap mental jika ternyata metode
tersebut gagal. Faktor kegagalan dari metode ini memang cukup tinggi karena
bisa saja sperma telah keluar sebelum orgasme. Dengan kata lain sperma
sudah terlepas dan berenang cepat menuju sel telur sesaat sebelum penis
ditarik keluar.
EFEKTIF : Bagi wanita yang suami atau pasangannya mampu mengontrol
waktu ejakulasi
b. Sistem Kelender (Pantang Berkala)
Metode ini disebut juga dengan The Rhythm Method. Jika cara ini jadi
pilihan makapengetahuan Anda tentang masa subur atau fertility awareness
harus tinggi. Anda harusmengetahui dengan tepat masa subur atau saat yang
paling memungkinkan Anda mengalamikehamilan. Bila Anda memang ingin
menunda kehamilan, maka pada saat tubuh memasukimasa subur tundalah
keinginan berhubungan intim dengan pasangan. Atau Anda danpasangan tetap
melakukan hubungan seksual tapi menggunakan kondom. "Perhatikan
terlebihdahulu siklus mentruasi Anda selama 3 bulan kalau perlu 6 bulan
guna mendapatkanperhitungan waktu siklus mentruasi yang tepat, menurut

Dr. Prima masa "aman" seorangwanita adalah 2 hari setelah mentruasi hingga
14 hari menjelang mentruasi berikutnya buatyang memiliki siklus haid
pendek.Jika siklus menstruasi Anda panjang, maka masa "aman" 2 hari
setelah haid hingga 16hari menjelang menstruasi yang akan datang. Namun
perlu di ingat sebenarnya masa subursangat sulit ditebak dengan pasti jadi
masih ada kemungkinan Anda mengalami "kebobolan".
EFEKTIF: Bagi wanita dengan siklus mentruasi teratur. Buat mereka yang
siklushaidnya tidak teratur akan sulit untuk menggunakan metode ini, karena
kesulitan menentukanmasa subur.
2) Metode Perlindungan (Barrier)
a. Kondom
Penggunaan kondom cukup efektif selama digunakan secara tepat dan
benar.Kegagalan kondom dapat diperkecil dengan menggunakan kondom
secara tepat, yaitugunakan pada saat penis sedang ereksi dan dilepaskan
sesudah ejakulasi. Alat kontrasepsi inipaling mudah didapat serta tidak
merepotkan.Kegagalan biasanya terjadi bila kondom robek karena kurang
hati-hati atau karena tekanan pada saat ejakulasi sehingga terjadi perembesan.
b. Spermatisida
Ini bahan sejenis bahan kimia aktif yang berfungsi "membunuh" sperma.
Dapatberwujud cairan, krim atau tisu vagina yang harus dimasukkan ke
dalam vagina 5 menitsebelum senggama. Ketika memasukkan spermatisida
kedalam vagina harus menggunakanalat yang telah disediakan dalam
kemasan. sangat tidak diperbolehkan menggunakan tangan!.Kegagalan sering
terjadi karena waktu larut belum yang cukup, jumlah spermatisida
yangdigunakan terlalu sedikit atau vagina sudah dibilas dalam waktu kurang
dari 6 jam usai senggama
c. Vagina Diafragma
Lingkaran cincin dilapisi karet fleksibel ini akan menutup mulut rahim bila
dipasangdalam liang vagina 6 jam sebelum senggama. Efektifitasnya alat
kontrasepsi ini bisa menurunbila terlalu cepat dilepas kurang dari 8 jam
setelah senggama."Permasalahanya, banyak wanita harus belajar dulu cara

memasukkan kedalamvagina. Dan kebanyakan wanita Indonesia tidak


terbiasa atau sungkan memasukkan jari kedalam lubang vagina.
d. Pil KB
Keuntungan pil ini adalah tetap membuat menstruasi teratur, mengurangi
kram atausakit saat menstruasi. Kesuburan Anda juga dapat kembali pulih
dengan cara cukuomenghentikan pemakaian pil ini. Pil KB termasuk metode
yang efektif saat ini. Cara kerja pil KB adalah dengan mencegah pelepasan
sel telut. Pil ini mempunyai tingkat keberhasilanyang tinggi (99%) bila
digunakan dengan tepat dan secara teratur. Ada dua jenis pil KB
yangsekarang beredar di pasaran, yaitu kombinasi antara estrogen dan
progesteron atau hanyamengandung progestoren saja. "Pil KB generasi kedua
tidak mempunyai efek seperti pilgenerasi pertama atau kita kenal dengan
lingkaran biru. Pil KB saat ini tidak membuat tubuhgemuk, jerawatan serta
pusing.
e. Suntik KB
Jenis kontrasepsi ini pada dasarnya mempunyai cara kerja seperti pil. Untuk
suntikan yang diberikan 3 bulan sekali, memiliki keuntungan mengurangi
resiko lupa minumpil dan dapat bekerja efektif selama 3 bulan. Efek samping
biasanya terjadi pada wanita yangmenderita diabetes atau hipertensi.
f. Susuk KB
Implant/susuk KB adalah kontrasepsi dengan cara memasukkan tabung kecil
di bawahkulit pada bagian tangan yang dilakukan olej dokter Anda. Tabung
kecil berisi hormontersebut akan terlepas sedikit-sedikit, sehingga mencegah
kehamilan. Keuntungan memakaikontrasepsi ini, Anda tidak harus minum pil
atau suntik KB berkala. Proses pemasangansusuk KB ini cukup 1 kali untuk
masa pakai 2-5 tahun. Dan bilamana Anda berenca hamil,cukup melepas
implant ini kembali, efek samping yang ditimbulkan, antara lain
menstruasitidak teratur.

g. IUD (Spiral)
Intrauterine Device atau biasa juga disebut spiral karena bentuknya memang
sepertispiral. Teknik kontrasepsi ini adalah dengan cara memasukkan alat
yang terbuat dari tembagakedalam rahim, seperti yang dikatakan Dr. Prima
"sekarang ini, IUD generasi baru bisadikombinasikan dengan hormon
progesteron,

agar

efektifitasnya

meningkat.

Spiral

ini

jugabekerja

menghalangi pertemuan sperma dan sel telur serta berdaya pakai hingga 5
tahunlamanya. Tingkat efektivitasnya bisa mencapai 98%, layaknya seperti
pil, IUD juga mudahmengembalikan kesuburan Anda.
h. Sterilisasi
Cara kontrasepsi ini bersifat permanent. Konsepnya saluran telur pada
wanita,disumbat dengan cara diikat, dipotong atau dibakar. Sterilisasi pada
wanita ini juga bisadilakukan dengan pengangkatan rahim. Sedangkan pada
kaum pria, sterilisasi dilakukandengan cara memotong saluran sperma. Tetapi
ada persyaratan khusus bagi wanita yang inginmelakukan kontrasepsi jenis
ini. "Amanya jumlah umur dikali jumlah anak harus minimalseratus.
Misalnya, Anda telah berusia 35 tahun dan telah memiliki tiga anak. Lalu
kalikan 35x 3 = 105. Hasil ini dapat diartikan sebagai kondisi aman. Untuk
itu jika Anda ingin jalanikontrasepsi, sebaiknya usia anak bungsu Anda telah
melewati masa balita. hal ini sekedarberjaga-jaga jika suatu saat Anda masih
berniat untuk hamil kembali.
EFEKTIF: Pilihan kontrasepsi ini paling cocok bagi wanita yang memang
bertekadbulat tak ingin punya anak lagi.
2.2.3 Contoh Evaluasi Penggunaan Kontrasepsi
Evaluasi Penggunaa Kontrasepsi Suntik Pada Pasangan Usia Subur (PUS) Di
Kelurahan Walian I Tomohon :
a. Jenis kontrasepsi yang digunakan oleh

Ibu-ibu Pasangan Usia Subur di

Kelurahan Walian I Tomohon yaitu suntikan 3 bulan sebanyak 50 responden


dari 62 responden dengan persentase 80,65% dan suntikan 1 bulan 12
responden dari 62 responden dengan persentase 19,35%. Dari hasil yang
diperoleh penggunaan kontrasepsi suntik pada Pasangan Usia Subur di
Kelurahan Walian I Tomohon belum tepat. Terdapat 7 responden dari 62

responden dengan persentase 11,29% mempunyai riwayat penyakit tekanan


darah tinggi 2 responden diantaranya pengguna suntik kombinasi, pada
pengguna ini diperlukan pengawasan. Sebanyak 2 responden dari 62
responden dengan persentase 3,23% mempunyai riwayat kencing manis
(Diabetes melitus) pada responden ini diperlukan pengawasan.
b. Efek samping yang paling banyak dialami yaitu perubahan berat badan
sebanyak 50 responden dari 62 responden dengan persentase 80,65% dan
Amenorea (tidak haid) 45 responden dari 62 responden dengan persentase
72,58%
c. Faktor yang mempengaruhi penggunaan dan pemilihan kontrasepsi suntik
yaitu efek samping yang timbul, umur pengguna suntik (yaitu pengguna
terbanyak berusia 20 - 35 tahun dengan frekuensi 35 responden dari 62
responden dengan persentase 56,45%, pada rentang umur ini diperlukan jenis
kontrasepsi yang mempunyai efektivitas cukup tinggi),dan keterjangkauan
biaya (sebanyak 4 respondendari 62 responden dengan persentase6,45%
menganggap bahwa biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh alat
kontrasepsi tersebut mahal).
2.3 Dampak Buruk dari Kontrasepsi Hormonal dan Suplementasi Hormone
Kontrasepsi hormonal berisi 2 hormon steroid yaitu hormon estrogen dan
progesteron. Estrogen sintetik adalah etinil estradiol, mestranol dan progesteron
sintetik adalah progestin, norethindron, noretinodrel, etinodiol, norgestre. Alasan
utama untuk menggunakan estrogen dan progesteron sintetik adalah bahwa
hormone alami hampir seluruhnya akan dirusak oleh hati dalam waktu singkat
setelah diabsorbsi dari saluran cernake dalam sirkulasi porta (Guyton, 2008).
Mekanisme kontrasepsi hormonal antara lain dengan penggunaan estrogen dan
progestin terus menerus terjadi penghambatan sekresi GnRH dan gonadotropin
sedemikian rupa hingga tidak terjadi perkembangan folikel dan tidak terjadi
ovulasi. Progestin akan menyebabkan bertambah kentalnya mukus serviks
sehingga penetrasi sperma terhambat, terjadi gangguan keseimbangan hormonal
dan hambatan progesteron menyebabkan hambatan gangguan pergerakan tuba
(Anonim, 2007).

Berdasarkan jenis dan cara pemakaiannya dikenal tiga macam kontrasepsi


hormonal yaitu : Kontrasepsi Suntikan, Kontrasepsi Oral (Pil) Kontrasepsi
Implant.
1. Kontrasepsi Suntikan
a. Depo provera yang mengandung medroxyprogestin acetate 50 Mg.
b. Cyclofem yang mengandung medroxyprogesteron acetate dan estrogen.
c. Norethindrone enanthate (Noresterat) 200 mg yang mengandung derivate
testosteron.
Mekanisme Kerja Kontrasepsi Suntikan
1) Menghalangi pengeluaran FSH dan LH sehingga tidak terjadi pelepasan
ovum untuk terjadinya ovulasi dengan jalan menekan pembentukan releasing
faktor dari hipotalamus.
2) Mengentalkan lender serviks sehingga sulit untuk ditembus oleh spermatozoa.
3) Merubah suasana endometrium sehingga menjadi tidak sempurna untuk
implantasi dari hasil konsepsi.
Kerugian penggunaan kontrasepsi hormonal suntik:
1) Perdarahan yang tidak menentu
2) terjadinya amenorhoe yang berkepanjangan
3) Berat badan yang bertambah
4) Sakit kepala
5) Kembalinya kesuburan agak terlambat beberapa bulan
6) Jika terdapat atau mengalami side efek dari suntikan tidak dapat ditarik lagi.
7) Masih mungkin terjadi kehamilan, karena mempunyai angka kegagalan 0.7%.
8) Pemberiannya harus dilakukan oleh orang yang profesional.
9) Menimbulkan rasa sakit akibat suntikan
Efek Samping dan Penanggulangannya:
a. Efek samping
1. Gangguan Haid :
a) Amenorhoe
menggunakan

yaitu

tidak

kontrasepsi

datang
suntikan

haid

setiap

kecuali

bulan

pada

selama

pemakaian

cyclofem.
b) Spoting yaitu bercak-bercak perdarahan diluar haid yang terjadi
selama menggunakan kontrasepsi suntikan.
c) Metrorhagia yaitu perdarahan yang berlebihan jumlahnya
Penanggulangan:
a) Konseling : Memberikan penjelasan kepada calon akseptor bahwa pada
pemakaian kontrasepsi suntikan dapat menyebabkan gejala-gejala tersebut adalah

akibat pengaruh hormonal suntikan dan biasanya gejala-gejala perdarahan tidak


berlangsung lama
b) Pengobatan : Apabila pasien ingin mendapat haid, dapat diberikan pemberian Pil
KB hari I sampai ke II masing masing 3 tablet, selanjutnya hari ke IV diberikan 1
x 1 selama 3 5 hari. Bila terjadi perdarahan, dapat pula diberikan preparat
estrogen misalnya : Lymoral 2 x 1 sehari sampai perdarahan berhenti. Setelah
perdarahan berhenti, dapat dilaksanakan tepering off ( 1 x 1 tablet ).
2. Keputihan
Adanya cairan putih yang berlebihan yang keluar dari jalan lahir dan terasa
mengganggu ( jarang terjadi)
Pencegahan:
a) Konseling : Menjelaskan kepada akseptor bahwa kontrasepsi suntikan jarang
terjadi keputihan. Bila hal ini terjadi juga, harus dicari penyebabnya dan segera
di berikan pengobatan.
b) Pengobatan : Pengobatan medis biasanya tidak diperlukan. Pada kasus dimana
cairan berlebihan dapat diberikan preparat Anti Cholinergis seperti
extrabelladona 10 mg dosis 2 x 1 tablet untuk mengurangi cairan yang
berlebihan. Perubahan warna dan bau biasanya disebabkan oleh adanya infeksi.
3. Perubahan berat badan
Berat badan bertambah beberapa kilogram dalam beberapa bulan setelah
menggunakan kontrasepsi suntikan
Penanggulangan:
a) Konseling : Menjelaskan kepada akseptor bahwa kenaikan berat badan adalah
salah satu efek samping kontrasepsi suntikan. Kenaikan berat badan dapat juga
disebabkan hal-hal lain. Hipotesa para ahli : DMPA merangsang pusat
pengendalian nafsu makan di hipotalamus yang menyebabkan akseptor makan
lebih banyak dari biasanya. Disamping itu dapat pula terjadi penurunan berat
badan.
b) Pengobatan Pengobatan diet merupakan pilihan utama. Dianjurkan untuk
melaksanakan diet rendah kalori serta olahraga yang teratur. Bila terlalu kurus,
dianjurkan untuk diet tinggi kalori, bila tidak berhasil dianjurkan untuk ganti
cara kontrasepsi non hormonal.
4. Pusing dan sakit kepala
Rasa berputar /sakit kepala, yang dapat terjadi pada satu sisi, kedua sisi atau
keseluruhan dari bagian kepala. Ini biasanya bersifat sementara.
Penanggulangan:

a) Konseling Menjelaskan kepada akseptor bahwa efek samping tersebut mungkin


ada tetapi jarang terjadi dan biasanya bersifat sementara.
b) Pengobatan Pemberian anti prostaglandin untuk mengurangi keluhan acetosal
500mg, 3 x 1 tablet/hari
4. Hematoma
Warna biru dan rasa nyeri pada daerah suntikan akibat perdarahan di bawah kulit.
Penaggulangannya:
a) Konseling Menjelaskan kepada calon akseptor mengenai kemungkinan efek
samping
b) Pengobatan Kompres dingin pada daerah yang membiru selama 2 hari. Setelah
itu diubah menjadi kompres hangat sehingga warna biru/kuning menjadi
hilang.
2. Kontrasepsi Oral ( Pil )
Kontrasepsi oral adalah kontrasepsi untuk wanita yang berbentuk tablet,
mengandung hormon estrogen dan progestrone yang digunakan untuk mencegah
hamil. Kontrasepsi oral terdiri atas lima macam yaitu :
a. Pil kombinasi, dalam satu pil terdapat estrogen dan progestrone sintetik
yang diminum 3 kali seminggu.
b. Pil sekunseal, Pil ini dibuat sedemikian rupa sehingga mirip dengan urutan
hormon yang dikeluarkan ovariun pada tiap siklus. Maka berdasarkan
urutan hormon tersebut,estrogen hanya diberikan selama 14 16 hari
pertama di ikuti oleh kombinasi progestrone dan estrogen selama 5 7
c.

hari terakhir.
Pil mini, merupakan pil hormon yang hanya mengandung progestrone
dalam dosis mini ( kurang dari 0,5 mg) yang harus diminum setiap hari

termasuk pada saat haid.


d. Once a moth pil, pil hormon yang mengandung estrogen yang Long
acting yaitu biasanya pil ini terutama diberikan untuk wanita yang
mempunyai Biological Half Life panjang 5). Morning after pil, merupakan
pil hormon yang mengandung estrogen dosis tinggi yang hanya diberikan
untuk keadan darurat saja, seperti kasus pemerkosaan dan kondom bocor.
Efek samping yang ditimbulkan kontrasepsi Oral ( Pil ).
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Nousea
Nyeri payudara
Gangguan Haid
Hipertensi
Acne
Penambahan berat badan.

3. Kontrasepsi Implant.
Kontrasepsi implant mekanisme kerjanya adalah menekan ovulasi membuat getah
serviks menjadi kental dan membuat endometrium tidak sempat menerima hasil
konsepsi. d. Efek samping Implant Pada umumnya efek samping yang
ditimbulkan implant tidak berbahaya. Yang paling sering ditemukan adalah
gangguan haid yang kejadiannya bervariasi pada setiap pemakaian, seperti
pendarahan haid yang banyak atau sedikit, bahkan ada pemakaian yang tidak haid
sama sekali. Keadaan ini biasanya terjadi 3 6 bulan pertama sesudah beberapa
bulan kemudian. Efek samping lain yang mungkin timbul, tetapi jarang adalah
sakit kepala, mual, mulut kering, jerawat, payudara tegang, perubahan selera
makan dan perubahan berat badan.
Kerugian Implant :
a. Insersi dan pengeluaran harus dikeluarkan oleh tenaga terlatih.
b. Petugas medis memerlukan latihan dan praktek untuk insersi dan
pengangkatan implant.
c. Lebih mahal 4). Sering timbul perubahan pola haid
d. Akseptor tidak dapat menghentikan implant sekehendaknya sendiri
BAB 3 : PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Infertilitas adalah ketidakmampuan untuk hamil setelah sekurang-kurangnya
satu tahun berhubungan seksual sedikitnya empat kali seminggu tanpa
kontrasepsi

Menurut pembagiannya, infertilitas dapat diklasifikasikan sebagai infertilitas


primer dan infertilitas sekunder.

Kontrasepsi berasal dari kata kontra berarti mencegah atau melawan dan
konsepsi yang berarti pertemuan antara sel telur yang matang dan sel sperma
yang mengakibatkankehamilan.
Kontrasepsi Hormonal adalah pencegah kehamilan yang mengandung
preparat estrogen dan progesteron
3.2 Saran
Diperlukan perhatian dari pemerintah melalui petugas-petugas kesehatan untuk
memberikan pelayanan yang baik, menyediakan alat kontrasepsi sesuai dengan yang
dibutuhkan, memberikan penyuluhan pada masyarakat khususnya pasangan usia
subur tentang keuntungan dan kerugian dari penggunaan suatu jenis alat kontrasepsi.

DAFTAR PUSTAKA
Bagus Gede Manuaba. 2000. Ilmu Kebidanan,Penyakit Kandungan & Keluarga
Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta:EGC
http://eprints.ums.ac.id/18564/2/BAB_1.pdf (Diakses pada tanggal 21 Februari
2016,pukul 09:00 WIB)
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/41325/4/Chapter%20II.pdf(Diakses
pada tanggal 21 Februari 2016,pukul 13:00 WIB)
https://bidansmart.files.wordpress.com/2010/03/1-pengantar-epid-kespro-6-ptm1.pdf (Diakses pada tanggal 21 Februari 2016,pukul 12:00 WIB)
http://library.upnvj.ac.id/pdf/s1keperawatan08/204312032/bab1.pdf
(Diakses pada tanggal 21 Februari 2016,pukul 09:00 WIB)