Anda di halaman 1dari 12

Kelompok

Kelas
Nama Anggota

:3
:B
:Atik Kurniawati
Hana Arifiana
Intan Yunanda
Lia Kusuma Wardani

MENGANALISIS DATA FAKTOR LINGKUNGAN


A. Faktor Lingkungan Yang Menentukan Sebaran Dan Kelimpahan
Organisme
Lingkungan adalah suatu sistem kompleks yang yang berada di luar
individu yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan organisme.
Lingkungan tidak sam dengan habitat. Habitat adalah tempat di mana organisme
atau komunitas organisme hidup. Jadi habitat secara garis besar dapat dibagi
menjadi habitat darat dan habitat air. Semua atau setiap faktor yang
mempengaruhi terhadap kehidupan dari suatu organisme dalam proses
perkembangannya disebut faktor lingkungan (Utoyo, 2014).
Faktor faktor yang ada dalam lingkungan secara garis besar di
golongkan menjadi 2 yaitu,
1. Lingkungan Abiotik, seperti suhu, udara, cahaya atmosfer, hara mineral, air,
tanah api.
2. Lingkungan Biotik, yaitu makhluk makhluk hidup di luar lingkungan abiotik.
Beberapa faktor yang memengaruhi persebaran ora dan fauna di muka bumi
antara lain faktor klimatik, edak, siogra, dan biotik
a. Faktor Klimatik
Kondisi iklim merupakan salah satu faktor dominan yang
mempengaruhi pola persebaran ora dan fauna. Wilayah-wilayah dengan
pola iklim yang ekstrim, seperti daerah kutub yang senantiasa tertutup
salju dan lapisan es abadi, atau gurun yang gersang, sudah tentu sangat
menyulitkan bagi kehidupan suatu organisme. Oleh karena itu, persebaran
ora dan fauna pada kedua wilayah ini sangat minim baik dari jumlah
maupun jenisnya. Sebaliknya, daerah tropis merupakan wilayah yang
optimal bagi kehidupan ora dan fauna. Faktor-faktor iklim yang
berpengaruh terhadap persebaran makhluk hidup di permukaan bumi ini,
antara lain suhu, kelembapan udara, angin, dan tingkat curah hujan(Utoyo,
2014).
1) Suhu
Permukaan bumi mendapatkan energi panas dari radiasi matahari
dengan intensitas penyinaran yang berbeda-beda di setiap wilayah.
Daerah-daerah yang berada pada zona lintang iklim tropis, menerima
penyinaran matahari setiap tahunnya relatif lebih banyak jika
dibandingkan dengan wilayah-wilayah lainnya. Selain posisi lintang,
faktor kondisi geografis lainnya yang mempengaruhi tingkat intensitas
penyinaran matahari antara lain kemiringan sudut datang sinar
matahari, ketinggian tempat, jarak suatu wilayah dari permukaan laut,
kerapatan penutupan lahan dengan tumbuhan, dan kedalaman laut.

Perbedaan intensitas penyinaran matahari menyebabkan variasi suhu


udara di muka bumi.
Kondisi suhu udara sangat berpengaruh terhadap kehidupan hewan dan
tumbuhan, karena berbagai jenis spesies memiliki persyaratan suhu
lingkungan hidup ideal atau optimal, serta tingkat toleransi yang
berbeda-beda di antara satu dan lainnya. Misalnya, ora dan fauna
yang hidup di kawasan kutub memiliki tingkat ketahanan dan toleransi
yang lebih tinggi terhadap perbedaan suhu yang tajam antara siang dan
malam jika dibandingkan dengan ora dan fauna tropis.
Pada wilayah-wilayah yang memiliki suhu udara tidak terlalu dingin
atau panas merupakan habitat yang sangat baik atau optimal bagi
sebagian besar kehidupan organisme, baik manusia, hewan, maupun
tumbuhan. Hal ini disebabkan suhu yang terlalu panas atau dingin
merupakan
salah
satu
kendala
bagi
makhluk
hidup.
Khusus dalam dunia tumbuhan, kondisi suhu udara adalah salah satu
faktor pengontrol persebaran vegetasi sesuai dengan posisi lintang,
ketinggian tempat, dan kondisi topogranya. Oleh karena itu, sistem
penamaan habitat ora seringkali sama dengan kondisi iklimnya,
seperti vegetasi hutan tropis, vegetasi lintang sedang, vegetasi gurun,
dan vegetasi pegunungan tinggi.
2) Kelembapan Udara
Selain suhu, faktor lain yang berpengaruh terhadap persebaran
makhluk hidup di muka bumi adalah kelembapan. Kelembapan udara
yaitu banyaknya uap air yang terkandung dalam massa udara. Tingkat
kelembapan udara berpengaruh langsung terhadap pola persebaran
tumbuhan di muka bumi. Beberapa jenis tumbuhan sangat cocok hidup
di wilayah yang kering, sebaliknya terdapat jenis tumbuhan yang
hanya dapat bertahan hidup di atas lahan dengan kadar air yang tinggi.
Berdasarkan tingkat kelembapannya, berbagai jenis tumbuhan
dapat diklasifikasikan ke dalam empat kelompok utama, yaitu sebagai
berikut.
a) Xerophyta,
yaitu jenis tumbuhan yang sangat tahan terhadap lingkungan
hidup yang kering atau gersang (kelembapan udara sangat
rendah), seperti kaktus dan beberapa jenis rumput gurun.
b) Mesophyta,
yaitu jenis tumbuhan yang sangat cocok hidup di lingkungan
yang lembap, seperti anggrek dan jamur (cendawan).
c) Hygrophyta,
yaitu jenis tumbuhan yang sangat cocok hidup di lingkungan
yang basah, seperti eceng gondok, selada air, dan teratai.
d) Tropophyta,
yaitu jenis tumbuhan yang mampu beradaptasi terhadap
perubahan musim kemarau dan penghujan. Tropophyta
merupakan ora khas di daerah iklim muson tropis, seperti
pohon jati

3) Angin
Di dalam siklus hidrologi, angin berfungsi sebagai alat transportasi
yang dapat memindahkan uap air atau awan dari suatu tempat ke
tempat lain. Gejala alam ini menguntungkan bagi kehidupan makhluk
di bumi, karena terjadi distribusi uap air di atmosfer ke berbagai
wilayah. Akibatnya, secara alamiah kebutuhan organisme akan air
dapat terpenuhi. Gerakan angin juga membantu memindahkan benih
dan membantu proses penyerbukan beberapa jenis tanaman tertentu.
4) Curah Hujan
Air merupakan salah satu kebutuhan vital bagi makhluk hidup.
Tanpa sumber daya air, tidak mungkin akan terdapat bentuk-bentuk
kehidupan di muka bumi.
Bagi makhluk hidup yang menempati biocycle daratan, sumber air
utama untuk memenuhi kebutuhan hidup berasal dari curah hujan.
Melalui curah hujan, proses pendistribusian air di muka bumi akan
berlangsung secara berkelanjutan. Titik-titik air hujan yang jatuh ke
bumi dapat meresap pada lapisan- lapisan tanah dan menjadi
persediaan air tanah, atau bergerak sebagai air larian permukaan,
kemudian mengisi badan-badan air, seperti danau atau sungai. Begitu
pentingnya air bagi kehidupan mengakibatkan pola penyebaran dan
kerapatan makhluk hidup antarwilayah pada umumnya bergantung
dari tinggi-rendahnya curah hujan.
Wilayah-wilayah yang memiliki curah hujan tinggi pada umumnya
merupakan kawasan yang dihuni oleh aneka spesies dengan jumlah
dan jenis jauh lebih banyak dibandingkan dengan wilayah yang relatif
lebih kering. Sebagai contoh daerah tropis ekuatorial dengan curah
hujan tinggi merupakan wilayah yang secara alamiah tertutup oleh
kawasan hutan hujan tropis (belantara tropis) dengan aneka jenis ora
dan fauna dan tingkat kerapatan yang tinggi. Tingkat intensitas curah
hujan pada suatu wilayah akan membentuk karakteristik yang khas
bagi formasi-formasi vegetasi (tumbuhan) di muka bumi. Karakter
vegetasi yang menutupi hutan hujan tropis sangat jauh berbeda dengan
vegetasi yang menutupi kawasan muson, stepa, atau gurun.
Karakter vegetasi di wilayah muson didominasi oleh tumbuhan
gugur daun untuk menjaga kelembapan saat musim kemarau. Wilayah
gurun didominasi oleh jenis tumbuhan yang sangat tahan terhadap
kekeringan. Kekhasan pola dan karakteristik vegetasi ini tentunya
mengakibatkan adanya hewan-hewan yang khas pada lingkungan
vegetasi tertentu. Pada dasarnya tumbuhan merupakan salah satu
sumber bahan makanan (produsen) bagi hewan.
b. Faktor Edafik
Faktor kedua yang memengaruhi persebaran bentuk-bentuk
kehidupan di muka bumi terutama tumbuhan adalah kondisi tanah atau
faktor edak. Tanah merupakan media tumbuh dan berkembangnya
tanaman. Kondisi tanah yang secara langsung berpengaruh terhadap
tanaman adalah kesuburan. Adapun yang menjadi parameter kesuburan
tanah antara lain kandungan humus atau bahan organik, unsur hara, tekstur
dan struktur tanah, serta ketersediaan air dalam pori-pori tanah. Tanah-

tanah yang subur, seperti jenis tanah vulkanis dan andosol merupakan
media optimal bagi pertumbuhan tanaman (Utoyo, 2014).
c. Faktor Fisiografi
Faktor siogra yang berkaitan dengan persebaran makhluk hidup
adalah ketinggian tempat dan bentuk wilayah. Anda tentu masih ingat
gejala gradien thermometrik, di mana suhu udara akan mengalami
penurunan sekitar 0,5o C0,6o C setiap wilayah naik 100 meter dari
permukaan laut. Adanya penurunan suhu ini sangat berpengaruh terhadap
pola persebaran jenis tumbuhan dan hewan, sebab organisme memiliki
keterbatasan daya adaptasi terhadap suhu lingkungan di sekitarnya. Oleh
karena itu, jenis tumbuhan yang hidup di wilayah pantai akan berbeda
dengan yang hidup pada wilayah dataran tinggi atau pegunungan (Utoyo,
2014).
d. Faktor Biotik
Manusia adalah komponen biotik yang berperan sentral terhadap
keberadaan ora dan fauna di suatu wilayah, baik yang sifatnya menjaga
kelestarian maupun mengubah tatanan kehidupan ora dan fauna. Dalam
rangka memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, manusia berusaha
mengolah dan memanfaatkan lingkungan hidup di sekitarnya semaksimal
mungkin, walaupun terkadang dapat merusak kelestarian alam. Misalnya,
dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dalam waktu yang
relatif singkat manusia mampu mengubah kawasan hutan menjadi daerah
permukiman dan areal pertanian. Perubahan fungsi lahan tersebut
berakibat terhadap kestabilan ekosistem yang secara alamiah telah terjalin
dalam periode jangka waktu yang lama (Utoyo, 2014).
B. Perilaku Habitat
Kelangsungan hidup organisme dipengaruhi oleh kemampuan adaptasi
terhadap lingkungan, seleksi alam, dan perkembangbiakan. Adaptasi adalah
kemampuan makhluk hidup untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan
hidupnya. Perilaku organize pada suatu habitat dapat dilihat dengan perilaku
adaptasi organism tersebut pada habitatnya. Ada beberapa cara penyesuaian diri
yang dapat dilakukan, yaitu dengan cara penyesuaian bentuk organ tubuh,
penyesuaian kerja organ tubuh, dan tingkah laku dalam menanggapi perubahan
lingkungan. Dari pengertian adaptasi tersebut, ada tiga macam bentuk adaptasi,
yaitu (Dewi, 2008) :
a. Adaptasi fisiologi
Adaptasi fisiologi adalah penyesuaian diri makhluk hidup melalui fungsi
kerja organ-organ tubuh supaya bisa bertahan hidup. Adaptasi ini
berlangsung di dalam tubuh sehingga sulit untuk diamati.
b. Adaptasi tingkah laku
Adaptasi tingkah laku adalah penyesuaian diri terhadap lingkungan dengan
mengubah tingkah laku supaya dapat mempertahankan kelangsungan
hidupnya. Adaptasi tingkah laku dapat berupa hasil belajar maupun
insting/naluri sejak lahir. Terdapat dua macam tingkah laku, yaitu sebagai
berikut :
1. Tingkah laku sosial, untuk hewan yang hidup berkelompok.
2. Tingkah laku untuk perlindungan.

c. Adaptasi morfologi
Adaptasi morfologi adalah penyesuaian makhluk hidup melalui perubahan
bentuk organ tubuh yang berlangsung sangat lama untuk kelangsungan
hidupnya. Adaptasi ini sangat mudah dikenali dan mudah diamati karena
tampak dari luar.
Adaptasi terlihat dari adanya perubahan bentuk luar atau dalam suatu
makhluk hidup sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan tempat hidupnya.
Perubahan ini bersifat tetap dan khas untuk setiap jenis sehingga bisa diwariskan
kepada keturunannya. Selain hewan, tumbuhan juga beradaptasi dengan
lingkungannya melalui bentuk tubuhnya, yaitu (Dewi, 2008) :
1. Tumbuhan Xerofit
Tumbuhan xerofit memiliki struktur fisik yang sesuai untuk bertahan
hidup pada suhu yang ekstrim panas dan kekurangan air. Contohnya
adalah kaktus dan sukulen. Kaktus dapat bertahan hidup dalam kondisi
kering. Bentuk adaptasinya yaitu daun tidak berbentuk lembaran
sebagaimana tumbuhan lainnya, tetapi mengalami modifikasi menjadi duri
atau sisik. Kaktus mampu menyimpan air pada batangnya. Seluruh
permukaannya dilapisi oleh lilin untuk mengurangi penguapan. Sistem
perakarannya panjang untuk mencapai tempat yang jauh yang
mengandung air.
2. Tumbuhan Hidrofit
Tumbuhan hidrofit adalah tumbuhan yang hidup di air. Adaptasi morfologi
yang dilakukan antara lain memiliki rongga udara di antara sel-sel
tubuhnya sehingga dapat mengapung. Daunnya lebar dan stomata terletak
di permukaan atas. Contoh tumbuhan hidrofit adalah kangkung, eceng
gondok, dan teratai.
3. Tumbuhan Higrofit
Tumbuhan higrofit adalah tumbuhan yang hidup di lingkungan lembab
dan basah. Adaptasinya yaitu mempunyai daun yang tipis dan lebar.
Pengertian Habitat
Habitat suatu organisme adalah tempat organisme itu hidup. Contohnya
habitat Notonecta (sejenis binatang air) adalah daerah-daerah kolam, danau dan
perairan yang dangkal yang penuh ditumbuhi vegetasi. Habitat ikan mas
(Cyprinus carpio) adalah di perairan tawar, habitat pohon durian (Durio
zibhetinus) adalah di tanah darat dataran rendah. Pohon enau tumbuh di tanah
darat dataran rendah sampai pegunungan, dan habitat eceng gondok di perairan
terbuka.
Habitat adalah toleransi dalam orbit dimana suatu spesies hidup termasuk
faktor lingkungan yang cocok dengan syarat hidupnya. Orbit adalah ruang
kehidupan spesies lingkungan geografi yang luas, sedangkan habitat menyatakan
ruang kehidupan lingkungan lokasinya.
(Kendeigh, 1980) mendefinisikan habitat sebagai sumberdaya dan kondisi
yang ada di suatu kawasan yang berdampak ditempati oleh suatu spesies. Habitat
merupakan organism-specific: ini menghubungkan kehadiran spesies, populasi,
atau idndividu (satwa atau tumbuhan) dengan sebuah kawasan fisik dan
karakteristik biologi. Habitat terdiri lebih dari sekedar vegatasi atau struktur
vegetasi; merupakan jumlah kebutuhan sumberdaya khusus suatu species.

Dimanapun suatu organisme diberi sumberdaya yang berdampak pada


kemampuan untuk bertahan hidup, itulah yang disebut dengan habitat.
Penggunaan Habitat
Penggunaan habitat merupakan cara satwa menggunakan (atau
mengkonsumsi dalam suatu pandangan umum) suatu kumpulan komponen fisik
dan biologi (sumber daya) dalam suatu habitat. (Kendeigh, 1980) menyatakan
bahwa penggunaan habitat merupakan sebuah proses yang secara hierarkhi
melibatkan suatu rangkaian perilaku alami dan belajar suatu satwa dalam
membuat keputusan habitat seperti apa yang akan digunakan dalam skala
lingkungan yang berbeda.
Ketersediaan Habitat
Ketersediaan habitat menunjuk pada aksesibilitas komponen fisik dan
biologi yang dibutuhkan oleh satwa, berlawanan dengan kelimpahan sumberdaya
yang hanya menunjukkan kuantitas habitat masing-masing organisme yang ada
dalam habitat tersebut. Secara teori kita dapat menghitung jumlah dan jenis
sumberdaya yang tersedia untuk satwa; secara praktek, merupakan hal yang
hampir tidak mungkin untuk menghitung ketersediaan sumberdaya dari sudut
pandang satwa. Ketersediaan sumberdaya biasanya lebih ditekankan pada
penghitungan kelimpahan sumberdaya sebelum dan sesudah digunakan oleh satwa
dalam suatu kawasan (Kendeigh, 1980).
Kualitas Habitat
Istilah kualitas habitat menunjukkan kemampuan lingkungan untuk
memberikan kondisi khusus tepat untuk individu dan populasi secara terus
menerus. Kualitas merupakan sebuah variabel kontinyu yang berkisar dari rendah,
menengah, hingga tinggi. Kualitas habitat berdasarkan kemampuan untuk
memberikan sumberdaya untuk bertahan hidup, reproduksi, dan kelangsungan
hidup populasi secara terus menerus. (Kendeigh, 1980) menyatakan bahwa suatu
habitat dikatakan memiliki kualitas yang tinggi apabila kepadatan satwa seimbang
dengan sumberdaya yang tersedia, di lapangan pada umumnya habitat yang
memiliki kualitas ditunjukkan dengan besarnya kepadatan satwa
Seleksi Habitat
Dalam kehidupan sehari-hari, seleksi berarti pemilihan, dan alam berarti
segala sesuatu yang ada di sekitar makhluk hidup. Jadi, seleksi alam adalah
pemilihan makhluk hidup yang dapat hidup terus dan tidak dapat hidup terus yang
dilakukan oleh lingkungan sekitar dan terjadi secara alamiah. Bisa juga diartikan
sebagai musnahnya beberapa makhluk hidup karena tidak dapat menyesuaikan
diri.
1. Faktor penyeleksi alam
Seleksi alam ditentukan oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut adalah
sebagai berikut (Sukis, 2008) :
a. Suhu lingkungan
Di daerah dingin dijumpai hewan-hewan mamalia yang berbulu
tebal, sedangkan di daerah tropis hewan mamalianya berbulu tipis. Dalam
hal ini, yang menjadi faktor penyeleksi adalah suhu lingkungan. Karena
hewan mamalia yang berbulu tipis umumnya tidak akan bisa
menyesuaikan diri pada lingkungan yang bersuhu sangat rendah sehingga
hewan tersebut akan tereliminasi dan punah. Beruang kutub berbulu tebal
untuk membuatnya tetap hangat. Selain bulunya, beruang kutub juga

mempunyai lapisan lemak yang digunakan untuk menghangatkan


tubuhnya.
b. Makanan
Setiap makhluk hidup memerlukan makanan. Makanan adalah
kebutuhan primer makhluk hidup. Makanan akan menjadi faktor
penyeleksi jika terjadi perebutan makanan. Makhluk hidup yang kuat dan
mempertahankan makanannya akan dapat berlangsung hidup, sebaliknya
hewan yang lemah dan tidak mampu bersaing dalam perebutan makanan
akan tereliminasi dan punah.
c. Cahaya matahari
Faktor matahari berhubungan dengan penyeleksian tumbuhan
tingkat tinggi yang berklorofil. Karena tumbuhan menggunakan cahaya
matahari untuk pembentukan makanan.
2. Kepunahan makhluk hidup
Berdasarkan temuan fosil-fosil, dapat diketahui bahwa banyak jenis
makhluk hidup yang hidup pada jaman dahulu tidak ditemukan lagi sekarang.
Tetapi ada juga yang masih hidup sampai sekarang yaitu capung. Capung adalah
hewan yang hidup pada jaman karbon sampai sekarang. Hewan lain yang hampir
mirip dengan hewan yang telah punah adalah kadal dan komodo. Ketiga hewan
tersebut adalah hewan yangtergolong dalam fosil hidup.
Dinosaurus merupakan contoh hewan yang telah punah. Para ilmuan
berpendapat bahwa yang menyebabkan kepunahan hewan ini adalah perubahan
iklim. Iklim yang terganggu akan menyebabkan kematian banyak jenis tumbuhan
sehingga dinosaurus herbivor tidak bisa mendapatkan makanan. Sedangkan
Dinosaurus karnivor dapat bertahan hidup untuk sementara. Tetapi dengan
berjalannya waktu, hewan karnivorpun mati (Sukis, 2008).
Saat ini, tingkah laku manusia banyak mempengaruhi proses seleksi alam.
Perburuan liar, penangkapan, perusakan habitat, pencemaran lingkungan dapat
mempercepat laju seleksi yang tidak alami. Akibat rusaknya habitat, banyak
hewan liar yang harus bermigrasi ke daerah yang kurang sesuai dengan
lingkungan alaminya. Mereka harus berjalan berkilo-kilometer untuk memperoleh
makanan yang cukup (Sukis, 2008).
Di Indonesia, terdapat banyak tumbuhan dan hewan yang hampir punah.
Contohnya adalah harimau jawa, badak bercula satu, badak bercula dua, dan
burung jalak bali. Hewan yang hampir punah tersebut disebabkan karena
kerusakan habitat oleh manusia, perburuan liar, kemampuan adaptasinya rendah,
serta tingkat reproduksi yang rendah.
C. Faktor Abiotik
1. Suhu
Suhu merupakan faktor lingkungan yang dapat berperan langsung maupun
tidak langsung terhadap suatu organisme. Suhu berperan dalam mengontrol
proses-proses metabolisme dalam tubuh serta berpengaruh terhadap faktorfaktor lainnya terutama suplai air (Polunin, 1997). Suhu lingkungan merupakan
factor yang penting dalam distribusi organisme karena efeknya terhadap
proses-proses biologis. Sel-sel mungkin pecah jika air yang dikandung
membeku (pada suhu dibawah 0C), dan protein-protein kebanyakan
organisme terdenaturasi pada suhu diatas 45C. Selain itu, hanya sedikit

organisme yang dapat mempertahankan metabolism aktif pada suhu yang


sangat rendah atau sangat tinggi. Meskipun demikian, terdapat adptasi-adaptasi
luar biasa yang memungkinkan beberapa organisme, misalnya prokariota
termofilik untuk hidup diluar kisaran suhu yang bisa dihuni organisme lain.
Kebanyakan organisme berfungsi paling baik dalam kisaran spesifik suhu
lingkungan. Suhu diluar kisaran itu dapat memaksa sebagian hewan
menghabiskan energy untuk meregulasi suhu internal, seperti yang dilakukan
mamalia dan burung (Campbell, dkk., 2010).
2. Air
Air merupakan faktor lingkungan yang sangat penting, karena semua
organisme hidup memerlukan air. Air dalam biosfer ini jumlahnya terbatas dan
dapat berubah-ubah karena proses sirkulasinya. Siklus air dibumi sangat
berpengaruh terhadap ketersediaan air tawar pada setiap ekosistem pada
akhirnya akan menentukan jumlah keragaman organisme yang dapat hidup
dalam ekosistem tersebut (Polunin,1997). Variasi drastis dalam ketersediaan air
diantara habitat-habitat yang berbeda merupakan sebuah factor penting lain
dalam distribusi spesies.Spesies yang hidup di pesisir atau di lahan basah yang
pasang dapat terdesikasi (mengering) sewaktu pasang surut. Organisme darat
menghadapi ancaman desikasi yang nyaris terus-menerus, dan distribusi
spesies darat mencerminkan kemampuan memperoleh dan mengonservasi air.
Organisme gurun, misalnya, menunjukkan berbagai adaptasi untuk
memperoleh dan mengonservasi air di lingkungan kering (Campbell, dkk.,
2010).
3. Salinitas
Salinitas (kadar garam) air di lingkungan mempengaruhi keseimbangan air
organisme melalui osmosis. Kebanyakan organisme akuatik hidup terbatas di
habitat berair tawar atau berair asin karena memiliki kemampuan terbatas untuk
berosmoregulasi. Walaupun banyak organisme darat dapat mengekskresikan
garam berlebih dari kelenjar khusus atau dalam feses, dataran garam atau
habitat berkadar garam tinggi lain umumnya hanya dihuni segelintir spesies
tumbuhan atau hewan (Campbell, dkk., 2010).
4. Sinar Matahari
Cahaya Matahari merupakan faktor lingkungan yang sangat penting,
karena sebagai sumber energi utama bagi seluruh ekosistem. Struktur dan
fungsi dari suatu ekosistem sangat ditentukan oleh radiasi matahariyang sampai
pada ekosistem tersebut. Cahaya matahari, baik dalam jumlah sedikit maupun
banyak dapat menjadi faktor pembatas bagi organisme tertentu (Polunin, 1997).
Sinar matahari yang diserap oleh organisme-organisme fotosintetik
menyediakan energy yang menjadi pendorong kebanyakan ekosistem, dan sinar
matahari yang terlalu sedikit dapat mebatasi distribusi spesies fotosintetik. Di
hutan, naungan oleh dedaunan di pucuk pohon menjadikan kompetisi
memperebutkan sinar sangat ketat, terutama untuk semaian yang tumbuh di
lantai hutan. Dalam lingkungan akuatik, setiap meter kedalam air secara
selektif menyerap sekitar 45% sinar merah dan sekitar 2% sinar biru yang
melalui air. Akibatnya, sebagian besar fotosintesis pada lingkungan akuatik
terjadi relative di dekat permukaan (Campbell, dkk., 2010).
Terlalu banyak sinar juga dapat membatasi kesintasan organisme.
Atmosfer lebih tipis di tempat yang lebih tinggi, sehingga menyerap lebih

sedikit radiasi ultraviolet, sehingga sinar matahari lebih mungkin merusak


DNA dan protein di lingkungan alpin. Di ekosistem lain, misalnya gurun, kadar
sinar yang tinggi dapat meningkatkan cekaman suhu jika hewan tidak mampu
menghindari cahaya atau mendinginkan diri melalui evaporasi (Campbell, dkk.,
2010).
5. Bebatuan dan Tanah
pH, komposisi mineral, dan struktur fisik bebatuan dan tanah membatasi
distribusi tumbuhan, dan berarti juga distribusi hewan pemakan tumbuhan.
Hal-hal tersebut turut berperan menciptakan ketidakseragaman di ekosistem
darat. pH tanah dan air dapat membatasi distribusi organisme secara langsung,
melalui kondisi asam atau basa ekstrem, atau secara tidak langsung melalui
keterlarutan nutrient dan toksin. Di anak sungai dan sungai komposisi substrat
(permukaan dasar) dapat memengaruhi kimia air. Kimia air sendiri
memengaruhi organisme yang menetap di perairan tersebut. Dalam lingkungan
perairan tawar dan laut, struktur substrat menentukan organisme yang dapat
melekat di substrat (Campbell, dkk., 2010).
6. Iklim
Komponen utama iklim adalah suhu, curah hujan, sinar matahari, dan
angina. Iklim adalah kondisi cuaca dominan yang berlangsung lama di suatu
wilayah tertentu. Faktor-faktor iklim, terutama suhu dan ketersediaan air,
memiliki pengaruh besar pada distribusi organisme darat. Pola iklim ada dua
yakni : iklim makro (macroclimate), pola pada tingkat global, regional dan
local ; dan iklim mikro (microclimate), pola yang amat halus, misalnya, yang
dijumpai oleh komunitas organisme yang hidup di bawah batang pohon
tumbang (Campbell, dkk., 2010).
D. Faktor biotik
Faktor biotik adalah faktor hidup yang meliputi semua makhluk hidup di
bumi, baik tumbuhan maupun hewan. Dalam ekosistem, tumbuhan berperan
sebagai produsen, hewan berperan sebagai konsumen, dan mikroorganisme
berperan sebagai dekomposer. Pada dasarnya makhluk hidup dapat digolongkan
berdasarkan jenis-jenis tertentu, misalnya golongan manusia, hewan dan
tumbuhan. Manusia merupakan faktor biotik yang mempunyai pengaruh terkuat di
bumi ini, baik dalam pengaruh memusnahkan dan melipatkan, atau mempercepat
penyebaran hewan dan tumbuhan. Berdasarkan peran dan fungsinya, makhluk
hidup dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
Produsen adalah makhluk hidup yang mampu mengubah zat anorganik
menjadi zat organik. Di dalam membentuk makananya sendiri, organisme
ini dibantu oleh cahaya matahari dan sering disebut organisme autotrof.
Proses tersebut hanya bisa dilakukan oleh tumbuhan yang berklorofil
dengan cara fotosintesis. Contoh produsen adalah alga, lumut dan
tumbuhan hijau

Gambar 1. Salah satu contoh produsen

Konsumer adalah organisme heterotrof yang tidak bisa membuat


makanannya sendiri dan tergantung kepada organisme lain, baik yang
bersifat heterotrof maupun yang autotrof. Komponen yang tergolong
heterotrof adalah: manusia, hewan, jamur, dan mikroba. Organisme
konsumen dibedakan berdasarkan atas jenis makanannya menjadi
golongan herbivor (pemakan tumbuhan), karnivora (pemakan daging), dan
omnivora (pemakan segala). Berdasarkan tingkatannya, konsumen dibagi
menjadi:
1. Konsumen primer, yaitu pemakan langsung produsen. Contohnya
adalah semua bangsa herbivora serta omnivora seperti: sapi,
kambing, ulat, tikus, dll.
2. Konsumen sekunder, yaitu pemakan konsumen primer. Contohnya
ialah sebagian karnivora dan omnivora seperti: ayam, katak, ular,
trenggiling, harimau, cheetah, dll.
3. Konsumen tersier, yaitu pemakan konsumen sekunder. Contohnya
ialah sebagian karnivora dan omnivora seperti: hiu, gurita, elang,
dll

Gambar 2. Contoh rantai makanan yang menunjukkan tingkatan konsumen

Dekomposer adalah organisme yang menguraikan bahan organik menjadi


anorganik untuk kemudian digunakan oleh produsen. Adanya perombak
ini memungkinkan zat-zat organik terurai dan mengalami daur ulang
kembali menjadi hara. Dekomposer dapat disebut juga sebagai organisme
detritivor atau pemakan bangkai. Contoh organisme dekomposer adalah
bakteri pembusuk dan jamur

Gambar 3. Bakteri dan jamur yang termasuk dalam decomposer atau pengurai

Daftar pustaka:
Anonim.

2013.
Kajian
factor
biotic
dan
factor
abiotik.
http://www.pusatbiologi.com/2013/01/faktor-biotik-dan-faktorabiotik-pada.html
Campbell, N. A., Reece J. B., Urry, L. A., Cain, M. L., Wasserman, S. A.,
Minorsky, P. V., & Jackson, R. B. 2010. Biologi Jilid 3 Edisi
Kedelapan. Jakarta : Erlangga.
Dewi Ganawati. 2008. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam: Terpadu dan
Kontekstual IX untuk SMP/ MTs. Jakarta: Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional
Kendeigh, S.C. 1980. Ecology with Special Reference to Animal & Man. Prentice
Hall : New Jersey
Polunin, Nicholas. 1997. Teori Ekosistem dan Penerapannya. Yogyakarta ;
Universitas Gajah Mada Press.
Sukis Wariyono. 2008. Mari Belajar Ilmu Alam Sekitar 3: Panduan Belajar IPA
Terpadu untuk Kelas IX SMP/ MTs. Jakarta: Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional
Utoyo, Bambang. 2014. Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Sebaran .(online)
http://geoenviron.blogspot.co.id/2014/07/faktor-faktor-yangmempengaruhi-sebaran.html. diakses tanggal 7 Februari 2016