Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Predicable adalah salah satu jenis dari empat jenis term yaitu, pembagian term menurut
komprehensi, pembagian term menurut ekstensi, pembagian term menurut predicabilia, dan
pembagian term menurut kategori1. Predikat, seperti yang telah kita ketahui, adalah bagian
dari proposisi yang menyatakan bahwa ia mempunyai hubungan dengan subyek atau tidak.
Ada berbagai hubungan antara subyek dan predikat. Hubungan-hubungan inilah yang
dinamai predicable.
Aristoteles mengatakan bahwa ada empat jenis predicable, yaitu Proprium, Definisi,
Genus, dan Accident. Prophyrry, seorang ahli filsafat penganut Neo-Platonisme
mengemukakan lima jenis predicable, yaitu Genus, Species, Differentia, Proprium, dan
Accident. Menurut prophyrry hubungan antara subyek dan predikat haruslah merupakan
salah satu dari lima jenis predicable tersebut. Dengan kata lain, predikat itu bisa merupakan
genus, species, differentia, proprium, atau accident dari subyek. Harus diingat bahwa di
dalam klasifikasi predicable diatas tidak termasuk term-term khusus karena ahli-ahli logika
tradisional berpendapat bahwa term-term khusus tidak bisa menjadi predikat2.

1 Surajiyo, Sugeng Astanto dan Sri Andiani, Dasar-dasar logika (Cet. 5; Jakarta: PT Bumi Aksara, 2010), hal.
22.

2 Partap Sing Mehra dan Jazir Burhan, Pengantar logika tradisional (Cet. 1; Bandung: Bina Cipta,
1964), hal. 24.
1

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penyusunan merumuskan masalah yang akan dibahas
dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Apa pengertian masing-masing jenis Predicable?
2. Apa saja contoh-contoh dari masing-masing jenis Predicable?
3. kesimpulan apa yang bisa didapat dari topik Predicable ini?

BAB II
PEMBAHASAN
2

JENIS-JENIS PREDICABLE
A. Genus (jenis, jins)
Genus adalah himpunan golongan yang menunjukan hakikat berbeda bentuk, tetapi
terpadu oleh persamaan sifat3. Klas yang lebih luas denotasinya disebut genus terhadap klas
yang lebih rendah denotasinya yang disebut species. Klas yang luas sekali denotasinya
sehingga tak mungkin merupakan species disebut SUMMUM GENUS atau GENUS
TERTINGGI. Klas yang sangat kecil denotasinya sehingga tak mungkin ia menjadi genus
disebut INFIMA SPECIES4. Contohnya seperti golongan manusia, kerbau, kambing, dan
kucing adalah berbeda, tetapi kesemuanya mempunyai sifat yang sama yaitu sifat
kebinatangan dan menjadikan kesemuanya dalam satu genus. Dalam contoh lain seperti,
golongan pulpen, penggaris, dan penghapus genusnya adalah alat-alat tulis.
B. Species (kelas/golongan, nau)
Species adalah term yang menunjukan hakikat yang berlainan tetapi sama-sama terikat
dalam satu jenis5. Denotasi species merupakan bagian dari denotasi genus. Oleh karena genus
dan species adalah term-term yang sifatnya relatif, maka suatu term dapat juga menjadi genus
dalam hubungannya dengan klas yang lebih kecil denotasinya, disamping ia menjadi species
dalam hubungannya dengan klas yang lebih luas denotasinya 6. Pada contohnya term manusia
dan term hewan maka, manusia merupakan species dari genus hewan7. Contoh lain seperti
kuda, sapi, kera, gajah adalah speciesnya sedangkan jenisnya sama yaitu binatang. Genus
ilmu speciesnya bisa berupa politik, sosial, matematika, logika, dan lainnya.
3 Surajiyo, Sugeng Astanto dan Sri Andiani, op.cit., hal.24
4 Partap Sing Mehra dan Jazir Burhan, loc. cit.
5 Khalimi, LOGIKA: Teori dan Aplikasi (Jakarta: Gaung Persada(GP) press, 2011), hal. 61.
6 Partap Sing Mehra dan Jazir Burhan, ibid.
7 Surajiyo, Sugeng Astanto dan Sri Andiani, ibid.
3

C. Differentia (sifat pembeda, fasl)


Suatu atribut atau kumpulan atribut-atribut yang membedakan suatu species dengan
species lainnya dalam genus yang sama disebut diferentia. Differentia merupakan atribut
tambahan pada proximate genus. Jadi konotasi proximate genus ditambah differentia sama
dengan species. Proximate genus adalah genus yang terdekat dari suatu klas8. Term api
differentianya adalah panas. Term kursi, differentianya digunakan untuk duduk9. Contoh
umumnya, manusia differentianya adalah berakal sedangkan species seperti kerbau, kuda,
kambing dan lainnya tidak berakal. Maka itulah sifat pembeda antara term manusia dengan
species lainnya yang masih dalam satu genus.
D. Proprium (sifat khusus, al-khassah)
Proprium adalah term yang menyatakan sifat hakikat dari suatu species sebagai akibat
dari sifat pembeda yang dimilikinya10. Proprium, meskipun tidak merupakan bagian dari
konotasi suatu term, tetapi merupakan kelanjutan yang penting dari konotasi. Hubungan
antara proprium dengan konotasi ada dua macam: proprium sebagai hasil deduksi atau
proprium sebagai akibat dari suatu sebab. Proprium dapat dibedakan atas property generic
dan property specific. Property generic mengikuti konotasi genus dan property specific
mengikuti konotasi species11. Contoh: manusia mempunyai sifat pembeda dari species lain
yaitu dapat berfikir, maka sifat berfikir yg dimiliki manusia menghasilkan sifat khusus
seperti, berpakaian, bersifat sosial, membentuk lembaga, belajar, dan lain-lain.
E. Accident (sifat umum, al-arad)

8 Partap Sing Mehra dan Jazir Burhan, op.cit., hal. 25.


9 Surajiyo, Sugeng Astanto dan Sri Andiani, loc. cit.
10 Khalimi, loc. cit.
11 Partap Sing Mehra dan Jazir Burhan, ibid.
4

Accident adalah term yang menunjukkan sifat yang tidak harus dimiliki oleh satu
species12. Atribut yang tidak merupakan bagian dari konotasi dan tidak pula merupakan
kelanjutan dari konotasi itu. Berbeda dengan differentia, accident ini tidak merupakan bagian
dari konotasi term; berbeda dengan property accident tidak merupakan kelanjutan konotasi
term. Accident dibagi atas dua jenis: accident tak terpisahkan dan accident terpisahkan.
Seperti juga dengan accident, accident tak terpisahkan ini mungkin terdapat pada klas
dan mungkin pula pada individu. Accident tak terpisahkan dari suatu klas adalah atribut yang
terdapat pada semua anggota klas itu, misalnya: rambut pada manusia; meskipun kadangkadang ada manusia yang tidak mempunyai rambut dan rambut ini tidak merupakan bagian
atau kelanjutan konotasi manusia, tetapi rambut ini umumnya terdapat pada manusia dan
merupakan accident tak terpisahkan. Accident terpisahkan dari suatu klas adalah atribut yang
hanya terdapat pada beberapa anggota klas itu dan tidak pada semua anggota klasnya,
misalnya: warna putih pada anjing, accident tak terpisahkan daripada individu adalah atribut
yang selalu ada padanya, tak dapat dipisahkan, misalnya hari atau tempat kelahiran.
Sedangkan accident terpisahkan daripada individu adalah atribut yang dapat dipisahkan
daripadanya, misalnya: pakaian atau sikapnya, dan lainnya13.
Dapat disebut juga sebagai sifat kebetulan yang dimiliki oleh satu species sehingga
tidak

dimiliki

oleh

seluruh

anggota

golongan.

Contohnya

seperti

berambut

pirang,bergolongan darah O, tempat dan tanggal lahir seseorang, pandai, ceroboh untuk term
manusia.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
12 Khalimi, loc. cit.
13 Partap Sing Mehra dan Jazir Burhan, loc. cit.
5

Lima predicable di atas ditinjau dari segi lingkungan zat dan lingkungan sifat maka
yang masuk lingkungan zat adalah genus dan species, sedangkan yang masuk lingkungan
sifat adalah differentia, proprium, dan accident. Berdasarkan uraian pengertian tiap-tiap
predicable dapat ditinjau dari segi substansi dan accidentia atau sering disebut esensia dan
accidentia maka yang masuk dalam esensia adalah genus, species, dan differentia karena
ketiga hal itu menyatakan tentang hakikat sesuatu, sedangkan yang masuk dalam accidentia
adalah proprium dan accident14.
Contoh: jika manusia sebagai speciesnya, genusnya adalah makhluk, differentianya
berakal, propriumnya bisa belajar logika, dan accidentnya di UIN Jakarta. Dengan demikian,
proposisinya manusia adalah makhluk yang berakal yang bisa belajar logika di UIN
Jakarta. Jika pulpen sebagai speciesnya, alat tulis sebagai genusnya, differentianya
mempunyai tinta, propriumnya untuk menulis, dan accidentnya dibuku tulis. Maka
proposisinya pulpen adalah alat tulis yang mempunyai tinta digunakan untuk menulis di
buku tulis.
B. Saran
Saya pribadi menyarankan agar kita lebih memperdalam dan mempelajari pembahasan
Predicable dan pembahasan-pembahasan lainnya dalam Ilmu Dasar-dasar Logika agar kita
dapat mengerti apa manfaat dan fungsi dari Ilmu Dasar-dasar Logika itu.

DAFTAR PUSTAKA

Khalimi, Dr, MA, Logika (Teori dan Aplikasi), edk 1. Ciputat: Gaung Persada Press, 2011.

14 Surajiyo, Sugeng Astanto dan Sri Andiani, op.cit., hal.25.


6

Mehra Partap Sing, MA dan Burhan Jazir, DRS, Pengantar Logika Tradisional, edk 4.
Bandung: Bina Cipta, 1964.
Surajiyo, Drs, Sugeng Astanto, Drs, M.Si dan Sri Andiani, Dra, Dasar-Dasar Logika, edk 5.
Jakarta: PT Bumi Aksara, 2010.