Anda di halaman 1dari 16

EPIDEMIOLOGI PTM

EPIDEMIOLOGI KECELAKAAN LALIN


Adalah suatu masalah yang luas dan
kompleks. 90% disebabkan oleh factor
manusia (human factor). Dapat terjadi di
udara, laut, dan darat.
Di asia tenggara, Penyebab kematian
terbesar disebabkan oleh PTM (55%) disusul
Penyakit
Menular
(35%).
Berdasar
RISKESDAS tahun 2013, Di Indonesia
pervalensi Kecelakaan Lalin menduduki
peringkat 1, disusul dengan Hipertensi dan
radang sendi.
Menurut data dinkes Prov. Bali, terjadi
penurunan kasus kecelakaan lalin dari 3435
kasus pada 2011 menjadi 22247 pada 2013.
Kejadian di kota Denpasar paling tinggi, 13%.
32.8% berusia 16-24 tahun ; 72.2% Lakilaki ; 53.9% Karyawan ; 53.6% Pendidikan
SLTA.
Faktor Risikonya:
Faktor
Manusia
:
Pejalan
kaki,
penumpang samping pengemudi
- Pengemudi
:
Keterampilan
mengemudi, Gangguan kesehatan
(Mabuk, Ngantuk, Letih), Tidak punya
SIM
- Penumpang : Jumlah muatan berlebih
- Pemakai jalan
Faktor Kendaraan :
Jenis Kendaraan :
- Bermotor : Motor, Mobil, Truk, Bus,
Bemo
- Tidak Bermotorr : Sepeda, Gerobak,
Delman, Becak
Faktor Jalanan (KEadaan fisik jalanan,
rambu-rambu jalanan)
- Kebaikan Jalan
- Sarana Jalanan
Faktor Lingkungan
Bentuk Kecelakaan di jalanan
1. Manusia Pegemudi, Penumpang,
Pemakai jalanan lain
2. Kendaraan Sepeda sampai truk
3. Binatang
4. Tumbuhan
5. Bangunan
Kecelakaan Lalin dapat dicegah. 3 Target dari
road safety actions : Pengguna jalanan,
Kendaraan, Infrastruktur yang baik dengan
manajemen lalulintas yang baik. Kuncinya :

Tindakan mencegah :
Strategi pencegahan dibuat dari intervensi
yang tujuannya:
Mengurangi risiko eksposur
Menghindari kecelakaan/tabrakan
dijalan, pemberian paparan tertentu
Mengurangi keparahan luka yang
disebabkan kecelakaan
Meningkatkan perawatan medis bagi
korban
Langkah mrnghindari kecelakaan, diberi
pemaparan :
Membatasi kecepatan
Tindakan melawan alcohol dan
mengemudi
Tindakan menghindari pengendara
kelelahan
Memastikan pejalan kaki dan
pengendara sepeda selamat
Pencegahan kecelakaan lalin
disiratkan pada pengendara yang
masih muda
Larangan penggunaan ponsel saat
mengemudi
Visibilitas jalan yg lebih
Langkah mengurangi keparahan cidera
akibat kecelakaan
Penggunaan sabuk pengaman
Ketika digunakan, sabuk pengaman
mengurangi risiko kecelakaan
fatal/parah (40-65%)
Penggunaan helm
Ketersediaan kantong udara
Helm adalah salah satu alat proteksi cidera
kepala yang memungkinkan besar terjadi pd
pengemudi kendaraan beroda 2. Ditetapkan
pada SK MEnteri Perhubungan No.
188/Aj.403/PHB/86
Masalah:
Tidak semua pengendara memakai
helm
Ketaatan semu (takut polisi, asal
pakai)
Alasan tidak pakai helm : tidak
nyaman, malas, tidak enak)
EPIDEMIOLOGI CANCER

Adalah pertumbuhan sel tanpa control dan


tidak punya tujuan jelas.

Faktor Risiko :
1. Genetik
2. Karsinogen Virus, Zat Kimia, Radiasi,
Hormon, Iritasi kronis
3. Gaya Hidup Merokok, Diet tidak sehat,
Konsumsi alcohol, Kurang aktivitas fisik
Contoh kanker akibat Zat kimia
Industri
:Asbestosis,
kromat, anilin,
nikel
Obat
Reserpin : Ca
Payudara
Hormon Estrogen
Ca Payudara, Ca
Tunggal
Ovarium
Phenacetin
Ca Ginjal
Bahan Makanan
Pengawet, Penyedap,
pewarna : Ca Colon
Timah Hitam
Ca Ginjal
(Peroral/parenteral)
Nikel, Uranium,
Ca Paru
Asbes (inhale)

Radiasi : Kanker Kulit, Leukimia Sinar RO ;


Sinar UV,Ledakan bom Atom
Faktor Risiko Kanker dan besar Kontribusi :

Peranan Faktor makanan


Jenis Ca Perana
Jenis makanan
n
Esophag Risiko
Alkohol, Pickles, Pedas,
us
Protekti Minyak
f
Buah dan Sayuran segar
Lambun Risiko
Smoked, Salt-canned,
g
Protekti Nitrat/trit
f
Susu, Sayur hijau/kuning,
Vit. C
Colon
Risiko
Lemak, Alkohol
Protekti Makanan berserat
f
Liver
Risiko
Aflatoksin, Alkohol
Pancrea Risiko
Alkohol, Kopi, Daging
s
V.
Risiko
Lemak tinggi
Urenaria
Prostat
Risiko
Tinggi lemak dan Protein
Protekti Vitamin A
f
PENCEGAHAN:
1. Primer
Penyuluhan cara mencegah dan risk
factors
Menghindari faktor risiko
Vaksin Ca Serviks
2. Sekunder
Deteksi dini (screening) Tidak semua
Ca
Pengobatan tepat
3. Tersier
Pembatasan kecacatan
Rehab (Pemulihan percaya diri ; Perbaiki
kualitas hidup)
CERDIK :
Cek kesehatan secara berkala
Enyahkan asap rokok
Rajin aktivitas fisik
Diet sehat dengan kalori seimbang
Istirahat yang cukup
Kelola stress

KANKER PAYUDARA
Di Indonesia jumlah penderita kanker
payudara menduduki tingkat kedua setelah
kanker mulut rahim

27% dari kanker pada wanita

Penelitian di Jakarta Breast Center


menunjukkan 78,6% merupakan tumor
jinak, 13% terdiagnosa kanker payudara

Kebanyakan menyerang kelompok


usia 40-70 tahun

Pria : wanita = 1 : 100

Kebanyakan terdiagnosis pada fase


lanjut
Beberapa Risk Factors :

Usia. Kebanyakan menyerang


kelompok usia 40-70 tahun, 60% kanker
payudara terjadi pada usia diatas 60
tahun.

Riwayat payudara pernah operasi


tumor jinak atau ganas

Riwayat keluarga yang menderita


kanker payudara.

Faktor genetik

Faktor hormonal

Pernah menderita penyakit payudara


non-kanker. infeksi, trauma.

Menarhe (menstruasi pertama)


sebelum usia 11 tahun,

menopause setelah usia 50 tahun,

G1 setelah usia 30 tahun atau


nulipara,

pemakaian pil KB atau terapi estrogen.

Obesitas pasca menopause.

Konsumsi alkohol lebih dari 1-2


gelas/hari

Bahan kimia (pestisida, merkuri,


pewarna dan pengawet makan)

DES (dietilstilbestrol)

Penyinaran terutama pada masa


kanak-kanak

Adanya riwayat kanker rahim, ovarium


dan kanker usus besar
Perjalanan Alamiah
Prepatogenesis Mengalami salah satu
atau lebih dari faktor risiko tetapi belum
ada perubahan anatomi
Patogenesis
- Subklinis
Inisiasi Pada tahap inisiasi terjadi
suatu perubahan dalam bahan genetic
sel yang memancing sel mjd ganas.
Perubahan dalam bahan genetik sel ini
disebabkan oleh suatu agen yang disebut
karsinogen, yang bisa berupa bahan
kimia, virus, radiasi (penyinaran) atau
sinar matahari. tetapi tidak semua sel

memiliki kepekaan yang sama terhadap


suatu karsinogen.
Promosi Pada tahap promosi, suatu
sel yang telah mengalami inisiasi akan
berubah menjadi ganas. Sel yang belum
melewati tahap inisiasi tidak akan
terpengaruh oleh promosi. karena itu
diperlukan
beberapa
faktor
untuk
terjadinya keganasan (gabungan dari sel
yang peka dan suatu karsinogen)
- Klinis Terdapat benjolan keras yang
lebih melekat atau terfiksir ; Tarikan pada
kulit di atas tumor ; Ulserasi atau koreng ;
Edema ; Peaud orange ; Discharge dari
puting susu ; Asimetri payudara ; Retraksi
puting susu ; Elovasi dari puting susu ;
Pembesaran kelenjar getah bening ketiak ;
Satelit tumor di kulit ; Eksim pada putting
susu
- Lanjut
Stadium hanya dikenal pada tumor ganas
atau kanker dan tidak ada pada tumor jinak.
Untuk menentukan suatu stadium, harus
dilakukan pemeriksaan klinis dan ditunjang
dengan pemeriksaan penunjang lainnya
yaitu histopatologi atau PA, rontgen, USG,
dan bila memungkinkan dengan CT Scan,
scintigrafi dll.
Pencegahan :
1. Primer
Pemberian ASI selama mungkin pada
anak
Konsumsi buah dan sayuran segar,
susu kedelai, tahu, tempe, (genistein)
Hindari makanan berkadar lemak
tinggi
Pemakaian obat hormonal sesuai
dengan anjuran dokter
Riwayat keluarga menderita kanker
pilih KB metode barier dan hindari
menggunakan KB PIL, suntikan dan
susuk KB
Hindari :
karsinogen

Pewarna/pengawet,
mercuri, DES, asbes, asap rokok,
radiasi
Penyedap dan pemanis buatan
Air minum diolah dari sungai kotor dan
tercemar limbah
Sayuran berpestisida
2. Sekunder
Pada usia muda (<40tahun) lakukan
SADARI setiap bulan

Risiko tinggi, periksa mamografi


secara berkala, terutama pada usia
lebih dari 40 tahun
Bila ada tanda-tanda tumor lanjutkan
ke prosedur diagnosis dan tindakan
yang tepat
Mamografi :
Pemeriksaan
sinar-x
terhadap
jaringan lunak payudara
Mendeteksi keberadaan massa yang
terlalu kecil untuk diraba, dan
Memberikan dugaan ada tidaknya
sifat keganasan dari massa yang
teraba
Sebagai pemeriksaan penyaring pada
wanita-wanita
sehat
yang
asimtomatik
Skrining kanker payudara dengan
mamografi
dianjurkan
untuk
perempuan berusia lebih dari 40
tahun dengan risiko standar.
3. Tersier
Pembatasan kecacatan termasuk
pencegahan metastase
Rehab
- Rehabilitasi sosial agar tidak
rendah diri
- Memperbaiki kualitas hidup
- mengurangi penderitaan
- Memperpanjang hidup
Perjalanan alamiah Ca Payudara :
1. Bervariabel dalam pasien berbeda
2. Tingkat pertumbuhan relative lambat
3. Kelangsungan
hidup
tanpa
pengobatan : 2.8 th
4. Muncul
beberapa
tahun
setelah
diagnosis
DIABETES MELITUS
Adalah penyakit metabolik yang ditandai
dengan meningkatnya kadar gula darah yang
disebabkan
oleh
kelainan
pengeluaran
hormon insulin, kelainan fungsi hormon
insulin atau kedua-duanya.
o

DM Tipe 1 kerusakan sel beta


pankreas

Tidak
mampu
mengeluarkan insulin
DM Tipe 2 kerusakan sel beta
pankreas Kelainan fungsi insulin
Faktor yang tidak dapat di modif:
Umur > 40 Thn.
Riwayat Keluarga DM
Riwayat Melahirkan Bayi > 4 Kg

Riwayat DM Pada Saat Hamil


Faktor yang dapat dimodif :
Berat Badan Lebih (IMT>23kg/m2
atau BB>120%BBI)
Pola makan yang tidak sehat
Kurang Aktivitas Fisik
Merokok
Dislipidemia (HDL<35mg% dan
atau trigliserida 250mg%
Hipertensi (TD 140/90mmHg
Menderita penyakit kardiovaskular
Faktor utama : Tekanan darah tinggi ,
Rokok, Gaya hidup , Obesitas ,
Kolesterol tinggi
Cara mencegah :
1. Penyuluhan Pengertian, penyebab,
risk factors, gejala, pencegahan,
komplikasi
2. Pola makan sehat :
a. komposisi karbohidrat, protein
dan lemak yang seimbang (4565%:10-15%:20-25%),
b. menu boleh sama dengan menu
keluarga,
c. teratur dalam jadwal, jumlah
dan jenis makanan.
3. Aktivitas fisik (Olahraga)
a. Jenis :
i. Continue
(berkesinambungan)
ii. Ritmis (teratur)
iii. Interval (selang-seling)
iv. Progresive (peningkatan
intensitas
sesuai
kemampuan)
v. Endurance
(meningkatkan kapasitas
kardiorespirasi)
b. Dosis :
i. Intensitas
(beratringannya
latihan,
dikontrol dengan nadi)
ii. Lama (20-30 menit)
iii. Frekuensi (jumlah dalam
seminggu, 3xseminggu)
Gejala klasik DM :
Poliuri (sering kencing)
Polidipsi (sering minum)
Polifagi (sering makan)
Berat
badan
menurun/kurus
tanpa sebab yg jelas
Gejala lain :
Mudah lelah dan mudah mengantuk
Kesemutan
Keputihan
Gatal-gatal pada alat kelamin

Luka dan infeksi yang sulit sembuh


Bisul yang hilang timbul
Penglihatan kabur
o DM Gestasional Masa Kehamilan
Orang dikatakan apabila :
Gula darah sewaktu
200 mg/dl
Gula darah puasa
126 mg/dl

Komplikasi Akut:
Hiperglikemia
Glukosuria
Peningkatan ion hidrogen asidosis
metabolik
Dehidrasi dan kehilangan elektrolit
Penurunan oksigen otak koma
Komplikasi Kronis :

Melibatkan pembuluh darah kecil


(mikroangiopati) :

Retinopati diabetika

Nefropati diabetika

Neuropati diabetika

Pembuluh darah besar


(makroangiopati)

Aterosklerosis

Hiperlipoproteinemia

Kelainan pembekuan darah


EPIDEMIOLOGI HEPATOCELLULAR
CARCINOMA
Sebuah tumor ganas yang berasal dari
hepatosit. Kebanyakan faktor etiologi umum
adalah infeksi virus (HBV, HCV), diet
aflatoksin B1, penyalahgunaan konsumsi
alkohol.
Faktor Risiko :
Sirosis
Minor Kontrasepsi oral, merokok,
sejumlah
penyakit
metabolik
yang
diwariskan,
resistensi
insulin,
dan
obstruksi membran dari vena cava
inferior
Pencegahan :
1. Primer
Promkes
Proteksi spesifik dr risk factors
Praktek injeksi aman
Skrining darah hasil transfusi

Vaksinasi HBV dan HCV


Pengawasan, substitusi, pestisida
untuk bahan makanan pokok yang
berpotensi terkontaminasi AFB1
2. Sekunder
Deketsi dini
Tes laboratorium dengan kadar fetoprotein(AFP)
Tes laboratorium dengan
carcinoembryonic antigen (CEA)
Pemeriksaan Multidetector CT
scan atau MRI
Biopsi
Prompt Treatment
Kemoprevensi
(memerlukan
penggunaan bahan kimia alami atau
sintetis
untuk
memblokir,
menghambat,
atau
membalikkan
proses karsinogenik)
3. Tersier Terapi
KANKER SERVIKS
Kanker serviks adalah kanker primer dari
serviks yang berasal dari metaplasia epitel di
daerah sambungan skuamo kolumnar (SSK)
yaitu daerah peralihan mukosa vagina dan
mukosa kanalis servikalis. Kanker serviks
adalah
keganasan
leher
rahim
yang
disebabkan oleh infeksi Human Papilloma
Virus (HPV).
Kanker serviks merupakan kanker tersering
kedua di dunia pada perempuan, namun
merupakan kanker tersering di negara
berkembang. Pada tahun 2002 prevalensi
kasus kanker serviks didunia mencapai 1,4
juta dengan 493.000 kasus baru dan 273.000
kematian. Menurut data tahun 2000 kanker
serviks merupakan 28% dari seluruh kanker
perempuan dan 18% dari seluruh kanker di
Indonesia.
RISK FACTORS :
1. Merokok
2. Berganti-ganti pasangan seks
3. Menggunakan pil KB > 5 tahun
4. Diestilstilbestrol (DES)
5. Jumlah paritas
6. Usia
7. Hubungan seks/Pernikahan pada usia
muda
8. Penggunaan antisptik

Pencegahan :
1. Primer

Melalui promosi dan penyuluhan


mengenai pola hidup sehat,
menunda aktivitas seksual sampai
usia 20 tahun dan berhubungan
dengan satu pasangan.
Memberikan vaksin HPV, pemberian
vaksin HPV akan mengeliminasi
infeksi HPV.
2. Sekunder
Diagnosis dini displansia dengan
berbagai cara baik klinis maupun
laboratorium
Tes pap smear dan IVA merupakan
langkah screening, bukan
pengobatan
3. Tersier
Operasi
Kemoterapi
Melakukan gerakan gerakan untuk
membantu mengembalikan fungsi
gerak dan untuk mengurangi
pembengkakan
Pemeliharaan kesehatan secara
maksimal
CA NASOFARING
Merupakan jenis kanker yang tumbuh di
rongga belakang hidung dan belakang langitlangit rongga mulut.
Kanker nasofaring adalah tumor ganas yang
berasal dari sel epitel nasofaring. Tumor ini
bermula dari dinding lateral nasofaring
(fossa Rosenmuller) dan dapat menyebar ke
dalam atau keluar nasofaring menuju dinding
lateral, posterosuperior, dasar tengkorak,
palatum, kavum nasi, dan orofaring serta
metastasis ke kelenjar limfe leher.
KNF diklasifikasikan oleh World Health
Organization (WHO) menjadi 3 tipe histologi,
yaitu:

Tipe 1 : Karsinoma sel skuamosa


berkeratinisasi (keratinizing squamous
cell carcinoma)

Tipe 2 : Karsinoma sel skuamosa tidak


berkeratinisasi (non keratinizing
squamous cell carcinoma)

Tipe 3 : Karsinoma tidak


berdiferensiasi (undifferentiated
carcinoma)
Faktor Risiko :
1. Genetik
Perubahan genetik mengakibatkan
proliferasi sel-sel kanker secara tidak

terkontrol. Kanker nasofaring banyak


ditemukan
pada
masyarakat
keturunan Tionghoa.
2. Infeksi virus Eipstein-Barr
Virus ini merupakan virus DNA yang
diklasifikasi sebagai anggota famili
virus Herpes yang saat ini telah
diyakini sebagai agen penyebab
beberapa
penyakit
yaitu,
mononucleosis infeksiosa, penyakit
Hodgkin, limfoma-Burkitt dan kanker
nasofaring.
3. Lingkungan
Ikan yang diasinkan kemungkinan
sebagai salah satu faktor etiologi
terjadinya kanker nasofaring. Teori ini
didasarkan
atas
insiden
kanker
nasofaring yang tinggi pada nelayan
tradisionil
di
Hongkong
yang
mengkonsumsi ikan kanton yang
diasinkan dalam jumlah yang besar
dan kurang mengkonsumsi vitamin,
sayur, dan buah segar.
Pencegahan
1. Primer
Promosi Kesehatan Masyarakat
Melakukan kampanye kesadaran
masyarakat akan pentingnya
mengendalikan faktor risiko CA
Nasofaring, melakukan
sosialisasi/penyuluhan mengenai
bahaya CA Nasofaring
Proteksi Spesifik
1. Proteksi spesifik yang dapat
dilakukan adalah penggunaan vaksin
EBV pada penduduk yang tinggal di
daerah risiko tinggi
2. Penerangan kebiasaan hidup sehat,
mengubah cara memasak makanan
untuk mencegah akibat yang
ditimbulkan dari bahan bahan yang
berbahaya
2. Sekunder
a. Deteksi dini Serologi, Antibodi Ig
G dan Ig A terhadap Viral Capsid
Antigen (VCA), Radiologi,
Pemeriksaan neurooptalmonologi
b. Pengobatan Bedah, Sitostatika,
Radiotherapy
3. Tersier
Pelayanan di rumah sakit serta
pelayanan
paliatif
untuk
meningkatkan kualitas hidup pasien
agar siap secara psikologis dan

spiritual serta tidak stres menghadapi


penyakit yang dideritanya

ERGONOMI
A.

B.

C.

D.

E.

F.

G.

H.

Ergonomi Diberbagai Sektor


Ergonomi RT
Beban Kerjanya rendah, waktu kerja 8
jam dan lingkungan kerjanya 24 jam.
Pengaruh
atau
dampaknya
jangka
panjang.
Ergonomi Industri Kecil
Jam kerja panjang, Resiko pekerja cukup
tinggi. Tidak terdapat niat memperbaiki
kondisi
dan
Lingkungan
Kerja.
Pengupahan system borongan.
Ergonomi Penerbangan
Teknologi canggih
Kemampuan
manusia
untuk
melakukan
kegiatan
penerbangan
serasikan alat,cara thd kebol, kemamp
& batasan sbg pelaku utama
Lingkungan cukup memadai
Shift, jam, lembur terorganisasi
Manajemen baik
Ergonomi Kelautan
Memahami betul prosedur
Memperhitungan kedalaman
Patuhi teknik penyelaman
Pemeliharaan peralatan scr rutin
Ergonomi Perkantoran
Task meliputi: ruangan, perlengkapan,
hand tool, orang
Organisasi: manajemen, jadwal kerja,
shift kerja, rotasi kerja
Lingk : nyaman, aman, & sehat baik
fisik mental ex. Suhu, kelembab, cross
vent, kebising, penerangan
Ergonomi Pertanian
Cara kerja tradisional
Peralatan sederhana
Pendidikan rendah
Upah rendah
K3 blm diperhatikan
Sifatnya turun temurun
Produktivitas rendah
Ergonomi Perkebunan
Jauh dr pemukiman
Fasilitas kurang
Transpotasi & komunikasi kurang
Beban kerja berat
Peralatan tradisional
Lingk kerja kurang
Celaka kerja
Sering sakit akibat kerja dll
Ergonomi Transportasi

Tempat duduk & peralatan lain untuk


operasi sopir tdk sesuai antropo
Tempat duduk penumpang kurang
Prilaku pemakai jln tdk desiplin
Desain jln berpengaruh besar
Kondisi terminal ?
Rambu lalulintas ?
I. Ergonomi Industri Manufac
Perpindahan diantar operator
Pekerja sering mengeluh
Keluaran produksi rendah
Absen tinggi
Kecelakaan kerja
Pekerja sering berhenti
J. Ergonomi Hotel
Wisatawan aman, nyaman & sehat
Sarana penunjang : post, telp,
transportasi dll
Memeiliki ciri khas khusus
Pelayanan baik selama 24 jam
Pelayanan tepat waktu
K. Ergonomi Terminal
Letak diluar kota
Mudah dijangkau
Memperlancar transp antar kota
Nyaman, aman dan sehat

Kesehatan, Keselamatan, Kenyamanan,


Efisiensi Dan Produktivitas
Ergonomi Berasal Dari Kata Yunani Yaitu
Ergon = Kerja Dan Nomos = Norma /Aturan
Ergonomi Adalah Ilmu, Teknologi Dan Seni
Atau Pendekatan Multidisiplener Untuk
Menserasikan Alat, Cara, Dan Lingkungan
Kerja Terhadap Kemampuan, kebolehan, dan
Batasan Manusia, Sehingga Tercapai Kondisi
Kerja Dan Lingkungan Yang Sehat, aman,
nyaman Dan Efisien, Demi Tercapainya Juga
Produktivitas Yang Setinggi-tingginya.
Cognitive Ergonomi : Suatu penerapan
ergonomi yang berhub dengan keadaan
mengetahui
atau
memahami
kondisi
manusia yang memiliki kemampuan dan
kebolehan terbatas.
Dalam hal ini memahami kemapuan,
kebolehan dan batasan manusia sebagai titik
pusat (center). Agar sesuai/serasi dengan
alat cara dan lingkungan kerjanya untuk
tercapainya efisiensi.
ORGANIZATION
DEVELOPMENT
AND
MANAGEMENT (ODAM) : Suatu Metode /
Cara
Penyelenggaraan
Pengembangan
Organisasi Dan Manajemen Usaha Yang

Efektif. Contoh : Dalam Suatu Perusahaan,


Seorang Pemimpin Dengan Tidak Bosanbosannya Selalu Meyakinkan Bawahannya
Tentang
Orientasi
Perusahaan
Ke
Depan,strategic Plan Manajer Tsb Selalu
Melibatkan
Bawahannya
Dalam
Setiap
Pengambilan Keputusan.

Penyebab Kurang berfungsinya Organisasi :


1. Kurang Pengarahan
2. Kepemimpinan
Berada
Dalam
Pertentangan Pendapat
3. Tergantungnya Pada Produk/Pelayanan
Yang Usang
4. Hubungan
Renggang
Manajemen
Dengan Buruh
5. Krisis
Ketidakmampuan
Manajer
Mengatasi
Tahap
Kacau
Dengan
Meluasnya Pasar.
6. Krisis Akibat Pemimpin Organisasi
Tidak Memiliki Orientasi Ke Depan,
sedikit Memikirkan Strategi, arah /
Proses Perencanaan, mereka Hidup
Dalam Kegiatan Rutin Belaka
7. Krisis Berupa Buruknya Iklim Sosial
Dlm Organisasi Yg Menurunkan Moral
Dan
Rasa
Partisipasiketerlibatan
Pegawai (Manajer Cenderung Suka
Menindas, perbudakan, tidak Adil)
8. Ketatnya Peraturan-peraturan Yang
Dibuat Dari Pusat
User Oriented
Merupakan suatu pendekatan ergonomi
yang menitikberatkan kepada sudut
kepentingan
pemakai
alat/peralatan
(dalam hal ini manusia) agar tercapainya
keamanan, kenyamanan dan efisiensi
Dapat dicapai dengan cara selalu
berdialog dengan karyawan sehingga
mengetahui
keadaan
dan
kebutuhan/keperluan mereka
Dalam memproduksi sebuah produk
harus berorientasi kepada pemakainya
atau kalau dalam pemilihan peralatan
kerja harus berorientasi kepada pemakai
dan cara penggunaan dari alat tersebut.
Man Oriented

Merupakan
suatu
pendekatan
ergonomi yang bertumpu pada manusia,
dimana manusia mendapatkan perhatian
khusus untuk mendapatkan tugas, oleh
karena sifatnya, karakteristiknya maupun
prilakunya yang kompleks (ergonomi ;
yang merupakan ilmu tersendiri yang

mempelajari karakteristik dan tingkah


laku manusia)

Berorientasi kepada faktor utama


yaitu manusianya merupakan faktor
yang lebih penting dari faktor lainnya.
Kaitan Ergonomi dengan Disiplin Lain
Ergonomi
merupakan
pertemuan
dari
lapangan
berbagai
ilmu
yang
saling
berinteraksi
seperti:
anthropometri,
biometrik, faal kerja, hiperkes, perencanaan
kerja, psikologi, sosiologi, fisika, kimia, teknik
dll)
Masing-masing disiplin tersebut berfungsi
sebagai pemberi informasi
Para perancang bertugas untuk meramu
masing-masing
informasi
dan
menggunakanya sebagai pengetahuanuntuk
merancang
fasilitas
sedemikian
rupa
sehingga mencapai kegunaan yang optimal.
Dengan demikian kekhususan utamanya
adalah perencanaan dan cara bekerja yang
lebih baik meliputi : tata kerja/organisasi,
peralatan dan lingkungan kerja.
Diperlukan kerjasama diantara peneliti dan
teknisi serta ahli dalam pemakaian alat-alat
dengan
pengukuran,
pencatatan,
dan
pengujiannya.
Perbaikan kondisi-kondisi kerja buruk dan
tanpa perencanaan biasanya mahal maka
usaha sebaiknya dimulai dari perencanaan
oleh
suatu
team
ergonomi
yang
memungkinkan proses, mesin-mesin hasil
produksi yang memenuhi persyaratan.
Ergonomi adalah asset Persaingan, karena :

Dalam
era
globalisasi
manusia
merupakan satu faktor yang sangat
menentuka di dalam memenangkan
persaingan.

Siapa yang memiliki manusia tangguh


dalam
arti
memiliki
kemampuan,
kebolehan dan batasan yang mampu
dimanfaatkan seoptimal dan maksimal
mungkin
sudah
pasti
akan
memenangkan persaingan.

Dalam
era
globalisasi
manusia
merupakan satu faktor yang sangat
menentuka di dalam memenangkan
persaingan.

Siapa yang memiliki manusia tangguh


dalam
arti
memiliki
kemampuan,
kebolehan dan batasan yang mampu
dimanfaatkan seoptimal dan maksimal
mungkin
sudah
pasti
akan
memenangkan persaingan.
Contoh
bagaimana
Ergonomi
mampu
bersaing

Mengurangi cost
Meningkatkan produktivitas
Mengurangi kehilangan man hours /
man days
o Meningkatkan efisiensi
o Mempersingkat waktu produksi
o Mengurangi resiko
o Mengurangi kecelakaan
Tujuan Ergonomi : Tercapainya kondisi
kerja
ddan
lingkungan
yang
sehat,aman,nyaman dan efisiensi demi
tercapainya produktivitas yang setinggitingginya
Sasaran Ergonomi :
1.Kesejahteraan fisik dan mental dengan
mencegah
cedera
dan
munculnya
penyakit akibat kerja, menurunkan
beban
fisik
dan
mental,
serta
mempromosikan kerja dan kepuasan
kerja.
2.Kesejahteraan sosial dalam bentuk
meningkatkan kualitas kontak sosial,
pengelolaan/ organisasi kerja.
3.Keseimbangan rasional antar aspek
teknis, ekonomis, anthropologis dan
budaya dari sistem manusia -mesin,
serta efisiensi sistem.
Manfaat Ergonomi :
1.
Pekerjaan bisa lebih cepat selesai
2.
Resiko kecelakaan lebih kecil
3.
Man-days/hours tidak banyak hilang
4.
Resiko penyakit akibat kerja kecil
5.
Gairah / kepuasan kerja lebih tinggi
Keselamatan kerja adalah sarana utama
untuk pencegahan kecelakaan, cacat dan
kematian sebagai akibat kecelakaan kerja ini
merupakan pintu gerbang bagi keamanan
tenaga kerja
Kesehatan kerja adalah spesialisasi dalam
ilmukesehatan/kedokteran
beserta
prakteknya
yang
bertujuan
agar
pekerja/masyarakat pekerja memperoleh
derajat kesehatan setinggi-tingginya, baik
fisik, atau material maupun sosial dengan
usaha-usaha preventif dan kuratif, terhadap
penyakit-penyakit/gangguan-gangguan
kesehatan yang diakibatkan oleh faktorfaktor pekerjaannya dan lingkungan kerja
serta terhadap penyakit-penyakit umum
Pendekatan Ergonomi :

Pendekatan conceptual (pada saat


perencanaan) ergonomi sangat tepat
untuk diterapkan sebagai bagian dari
perencanaan menyeluruh.

To fit the job to the man maksudnya


upaya yang pertama kali harus dilakukan
o
o
o

adalah
menyesuaikan
pekerjaan
(alat/mesin, cara kerja/isi kerja/organisasi
kerja dan lingkungan kerja) terhadap
manusia
pekerja
(kemampuan,
kebolehan dan batasan).
Hal yg perlu dipertimbangkan dalam
pendekatan Conceptual :
1.
Faktor alam/nature
2.
Faktor pendukung yang merupakan
buatan manusia
3.
Lingkungan/belief yang baik
4.
Pengalaman individu/kelompok
5.
Dan
pendidikan
sehingga
dapat
menuju pada decision yang baik
Pendekatan Kuratif :

(Perbaikan/modifikasi di tempat kerja)

Usaha memanfaatkan ergonomi untuk


memperbaiki the job, dimana upaya pada
akhirnya diarahkan pada penyesuaian
orang terhadap pekerjaannya melalui
proses seleksi, latihan dan adaptasi.
Dalam penerapan Teknologi, perlu dilakukan
beberapa pertimbangan
1.
Perbaikan
sistem,
organisasi,
penerapan teknologi dan tata kerja yang
efektif dan efisien sehingga tercapainya
produktivitas yang setingi-tingginya.
2.
Perlu mengikutsertakan si pemakai
yang
bertugas
sebagai
operator
peralatan yang akan digunakan.
Participatory
Ergonomics

Suatu
pendekatan ergonomi yang mengkaji segi
teknis, ekonomis, kesehatan dan ergonomis,
socio-cultural, hemat energi dan lingkungan
lestari
dengan
melibatkan
partisipasi
masyarakat/pekerja/karyawan
dalam
pelaksanaannya.
Suatu
pendekatan
ergonomi
untuk
penerapan
teknologi
dalam
sistem
organisasi yang membutuhkan keterlibatan
pemakai
dalam
pengembangan
dan
mengimplementasikan teknologi.
Total
Ergonomics
Approach:
Suatu
Pendekatan Ergonomi Yang Titik Fokusnya
Memecahkan Masalah Dengan Melihat
Aspek Manusia, Lingkungan, Serta Pengaruh
Tugas Terhadap Tubuh, Pengaruh Lingkungan
Dan Kondisi Terhadap Tubuh Pekerja Secara
Serentak.
Yang Dikaji:

Eksternal
load
(pengukuran stressor, task, organisasi,
lingkungan

Internal
load
(sebagai strain fisiologis; penilaian
subjektif/beban kerja)

Economical
Ergonomics:
Penerapan
ergonomi yang diintegrasikan di dalam
proses
manajemen
sejak
perencanaan
sampai evaluasi, khususnya dalam bentuk
manajemen partisipasi. Tujuan:
1.
Menekan biaya produksi
2.
Memperpendek
waktu
produksi
3.
Memperpendek
rantai
produksi
4.
Mengurangi
beban
tambahan
Benefit Ergonomic:
1. Waktu untuk menyelesaikan suatu
pekerjaan menjadi lebih pendek
2. Kehilangan
man/days-hours
bisa
ditekan
3. Inspeksi bisa dilakukan lebih cepat
4. Rasa lelah dan rasa sakit akibat kerja
dapat
dikurangi
atau
bahkan
dihilangkan
tidak
mengganggu
pekerjaan dan pemunculannya tidak
cepat
5. Pekerjaan dapat dilakukan dalam
situasi dan kondisi yang nyaman
6. Terjadi
pengurangan
biaya
pengobatan
7. Waktu
produksi
dapat
lebih
diefektifkan
Masalah pada ergonomic:
1. Gizi dan kalori
2. Sikap kerja-anthropometri
3. Tenaga otot-biomekanik
4. Kondisi lingkungan
5. Kondisi waktu
6. Kondisi sosial
7. Kondisi informasi
8. Interface manusia-mesin
Faktor yang perlu dipertimbangkan dalam
transfer teknologi :

Secara teknis lebih efisien (mudah


dioperasikan,
dapat
meningkatkan
produktivitas, tidak menjadi beban dalam
proses produksi)

Secara
ekonomis
lebih
menguntungkan (dapat menekan biaya)

Secara kesehatan dan ergonomi tidak


menimbulkan penyakit baru (kecelakaan
kerja, sakit akibat kerja)

Secara
socio-budaya
tidak
menimbulkan
gejolak
baru
(dapat
diterima)
Globalisasi : lebih luas
Kompetisi : setiap orang harus
mempunyai nilai tambah
Wawasan : kemampuan

1.
2.
3.
4.

Pertemuan ilmiah akan mendapatkan


Wawasan : lebih luas
Penampilan : fit menyelesaikan tugas
Expertise : nilai tambah
Manajemen masa depan

Ciri keluaran berkualitas dan mampu


bersaing :
Menguasai
ilmu
pengetahuan
dan
ketranpilan berstandar international dg nilai
tambah
Memilih kemampuan human relation yang
lebih baik
- komunikasi
- motivasi
- kepemimpinan
- empati
- pemecahan masalah
- managemen konflik dan waktu
Kemampuan bahasa dan teknik komputasi
Innovator dan creator : dicapai dari
lingkungan
media
electronoc
tv,radio,video,internet dll
3C Complexity : kompleks/bermacammacam permasalahan ; Competition :
persaingan ; Change : perubahan
Microergonomic
:
hanya
sbg
ilmu
ergonomic
Macroergonomic
:
keseluruhan
ilmu
ergonomic
Tujuan
Ergonomi
dicapai
dengan
mengupayakan
agar
manusia
hanya
diberikan suatu pekerjaan (alat, cara dan
lingkungan kerja) yang sudah betul-betul
terji keserasiannya terhadap kemampuan,
kebolehan dan batasan sebagai manusia
pemakai,
dan
sebaliknya
didalam
melakukan pekerjaan manusia pemakai
tersebut harus benar-benar dimanfaatkan
kemampuan,kebolehan dan batasannya
secara benar melalui optimalisasi dari apa
yang dimiliki.
Cara capai produktivitas :
Gizi yang cukup (3xmakan,2xsnack)
Pemanfaatan
tenaga
otot
yang
optimal
Sikap tubuh alamiah
Lingkungan yang nyaman
Jam kerja yang optimal (8 jam per hari
+ 1 jam lembur)
Adanya rasa harga diri, motivasi,
kepuasan kerja.
Komunikasi dan imformasi dua arah
Interaksi manusia mesin (display dan
kontrol dikerjakan tanpa ada beban fisik
dan mental)

SHIFT KERJA
Bertujuan untuk mengatur dan mengurangi
kemacetan lalu lintas
Kerja bergilir menjadi semakin banyak
dilaksanakan di industri terutama setelah
penemuan lampu listrik oleh Thomas Alfa
Edison
Beberapa alasan ada shift kerja :

Proses produksi malam hari

Tuntutan ekonomi mahalnya harga


mesin serta mesin yang tidak dapat
diduplikasi

Tuntutan sektor jasa perawat,


dokter, polisi, pekerja di bidang
transportasi, pegawai restoran serta
hotel
Waktu kerja penting, karena berhubungan
dgn

Lamanya seseorang bekerja


secara baik

Hubungan waktu kerja dengan


waktu istirahat

Pembagian waktu kerja : pagi,


siang dan malam
Circadian Rhythms :
- Berbagai fungsi tubuh manusia
- Berfluktuasi dalam siklus 24 jam
- Irama diatur oleh beroperasinya jam
biologis dalam tubuh manusia
Fungsi tubuh yg menonjol :
Suhu tubuh
Denyut jantung
Tekanan darah
Volume respirasi
Produksi adrenalin
Eksekresi urine
Kemampuan mental
Kapasitas fisik
Keadaan tubuh siap bekerja
Tidur
Pada tubuh, Suhu terendah terjadi pada jam
4 pagi dan suhu tertinggi terjadi pada 8
malam

Terjadinya perubahan suhu tubuh


sangat terkait dengan aktivitas fisiologi
tubuh.

Dalam upaya untuk menjaga


kebugaran tubuh maka perlu
diperhatikan keberadaan dari pada jam
biologis tubuh manusia.

Dengan mengetahui jam biologis


tersebut maka akan dapat menentukan
shift kerja, pengelompokan pekerja dan
beban kerja yang diberikan pada pekerja.

Berdasar Circadian Rhythms, ada 2 tipe


individu :

INDIVIDU TIPE A (TIPE PAGI)

Individu yang mempunyai


kebiasaan bangun pagi sekali

Tidur lebih awal

Pekerja siang hari

INDIVIDU TIPE B (TIPE MALAM)

Individu lambat untuk bangun


pagi hari

Tetap fit bekerja sampai malam

Pekerja malam hari


Circadian Rhythms dipengaruhi :
Lingkungan sekitar (fisik dan sosial)
Aktivitas
Sinar dan kegelapan
Kebiasaan individu
Perubahan circadian rhythms perubahan
terhadap etos kerja dan prestasi kerja
Organisme tubuh manusia secara alami
termasuk ke dalam :
1. Fase ergotropic
Fase semua organ tubuh siap bekerja pada
siang hari
2. Fase tropotropic
Fase pemulihan energi terjadi pada malam
hari
Para pekerja malam tidak dalam keadaan
untuk berprestasi, tapi dalam fase relaksasi
dan siklus harian. Kerja malam memerlukan
kalori yang lebih tinggi.
Resiko terjadi
kecelakaan kerja lebih tinggi

Kerja bergilir :

Berbeda dengan hari kerja normal

Dibutuhkan keteraturan selama kerja


(waktu pagi sore atau sebaliknya)

Terdiri dari beberapa shift dan


beberapa group

Shift dikerjakan selama 24 jam

Waktu kerja 8 jam atau lebih / kurang


Pertimbangan :
Jumlah hari kerja dalam beberapa
minggu
Jam kerja dalam beberapa minggu
Jumlah shift team
Jumlah libur per-minggu atau perrotasi
Jumlah deretan hari dalam shift yang
sama
Jadwal berapa hari kerja atau memiliki
libur
Maka yang paling penting pengaturan jadwal
shift kerja
Apabila salah dalam pengaturan jadwal akan
timbul yang tidak diinginkan : Fatigue
(kelelahan)

Sistem 3 shift perhari (8 jam kerja)


Shift pagi (awal)
jam 06.00
14.00
Shift siang
jam 14.00
22.00
Shift malam
jam 22.00
06.00
Pengaturan shift kerja akan berpengaruh
pada psikologis dan sosial. Shift kerja dgn 2
shift(12 jam kerja) tdk dijinkan. Kalau ada
hrs ada 2 hari libur.
Rotasi kerja perlu diperhatikan krn akan
berpegaruh
pada
biological
rhythms
manusia. Harus pertimbangkan :

Kekurangan tidur hrs sekecil


mungkin utk hindari kelelahan

Hrs banyak waktu kemungkinan


utk kehidupan keluarga dan kontak sosial
Rotasi shift :

Rotasi metropolitan : 2 2 2

Rotasi continental : 2 2 3
Sistem 2-2-2 sedikit kurang baik krn libur
akhir minggu (sabtu & minggu) datang sekali
dlm 8 mgg
Sistem 2-2-3 menguntung krn libur akhir
mgg dlm 4 mingu.
Jika ada shift malam, pertingkan hal ini :

Pekerja shift mlm tidak boleh


dibawah umur 25 thn dan diatas 50 thn

Pekerja yg memiliki penyakit:


gangguan pencernaan, emosi tdk stabil,
gangguan kejiwaan, sulit tidur

Pekerja dgn rumah jauh dr t4


kerja

Rotasi shift yg baik 2-2-2 atau 2-

2-3

2 atau 3kerja malam beri


istirahat 24 jam
Shift harus direncanakan dgn
baik shg paling sedikit 2 hr istirahat
Setiap shift kerja hrs ada satu
kali break dgn makanan hangat
Rotasi waktu pendek lebih baik
dr wkt panjang dan kerja mlm terus
berturut turut dihindari

KONSUMSI ENERGI & KELELAHAN KERJA


kemampuan
KEBOLEHAN
batasan
Manusia butuh energi untuk bekerja. Energi
yg dibutuhkan tergantung jenis aktivitas.
Konsumsi energi merupakan faktor utama
dan tolok ukur yang dipakai sebagai penentu
besar/ringannya kerja fisik yang dilakukan.

Denyut jantung wanita umumnya akan


berdenyut lebih tinggi dibandingkan
dengan laki2 (sekitar 10 denyut/menit
lebih tinggi).

Bila tidak ada kegiatan fisik dilakukan


(dalam kondisi istirahat) biasanya pulsa
akan sebesar 62 denyut/menit sepadan
dengan pengeluaran energi sebesar 1.25
Kkal/menit.
Untuk kegiatan yang memerlukan
gerakan fisik anggota tubuh dalam
klasifikasi
ringan
(berjalan,
duduk/berdiri,
berpakaian)
memerlukan total kebutuhan energi
sebesar 2300-2400 kcal/24 jam.
Agar penggunaan tenaga otot bisa optimal
maka pengaturan cara kerja otot harus
diperhatikan dengan benar. Kegiatan otot
dibedakan dalam 2 hal :
1. Kerja otot Dinamik (Berirama)
Otot mengencang dan mengerut
secara bergantian atau berirama.
Sirkulasi darah + O2 dan metabolis
akan berlangsung secara lancar.
2. Kerja otot Statik (Tetap)
Otot berada dalam posisi mengencang
dalam waktu yang cukup lama.
Mengencang otot dalam waktu lama
akan menyebabkan aliran darah & O2
terganggu.
Kondisi tersebut mengakibatkan rasa
sakit dan lelah pada otot.
2 hal penyebab kelelahan :
1. Fisiologis
Adanya perubahan fisologis dalam
tubuh

5 macam mekanisme dlm tubuh:


a. Sistem pencernaan
b. Sistem peredaran darah
c. Sistem otot
d. Sistem saraf
e. Sistem pernafasan
oKerja fisik kontinyu mempengaruhi
mekanisme tersebut
oKelelahan
terjadi
karena
terkumpulnya produk sisa dlm otot
dan peredaran darah.
oProduk sisa bersifat membatasi
kelangsungan kegiatan
oProduk sisa mempengaruhi seratserat saraf dan sistem saraf pusat
bekerja lambat karena lelah
2. Psikologis
Sering dikatakan kelelahan palsu.
Tergantung pada kondisi lingkungan
dan kondisi tubuhnya
Dapat disebabkan oleh:
a. Kurang minat dalam bekerja
b. Berbagai penyakit
c. Keadaan lingkungan
d. Adanya
hukum
moral
yg
mengikat
e. Merasa tidak sesuai
f. Sebab-sebab mental: tanggung
jawab, kekhawatiran dan konflik
Kelelahan dapat dikurangi dengan :
Menyediakan kalori cukup
Menggunakan metode kerja
Memperhatikan kemampuan tubuh
Pengeluaran tenaga tidak melebihi
pemasukannya
dgn
memperhatikan
batas2nya
Memperhatikan waktu kerja teratur
Pengaturan jam kerja, istirahat
Mengatur lingkungan fisik
Mengurangi ketegangan akibat kerja
Gejala kelelahan :
Dibedakan jadi :
1. Lelah otot Mudah dirasakan karena
adanya rasa sakit Otot menerima
beban yang berlebihan
2. Lelah Perasaan Sukar dirasakan
karena banyak penyebabnya
Cara ngurangi kelelahan :
A. Waktu istirahat yg cukup
B. Jaminan gizi
C. Rangsangan luar yg cukup kuat
Tipe kelelahan :

Lelah
visual

Mata
yang
berkonsentrasi terus-menerus pada suatu
obyek. Misal komputer, cahaya yg terlalu

kuat yang mengenai mata juga akan bisa


menimbulkan gejala yang sama.

Lelah fisik umum

Lelah mental Bukan aktivitas fisik,


melainkan kerja mental (berpikir) lelah
otak.

Lelah syaraf

Kerjaan yg monoton Disebabkan


oleh aktivitas kerja yang bersifat rutin,
monoton atau lingkungan kerja yang
menjemukan.

Kelelahan yg disebabkan sejumlah


faktor yg terus menerus membuat lelah.
Lelah akibat kegiatan menyebabkan :
Kepala berat
Lelah seluruh badan
Kaki terasa berat
Banyak menguap
Pikiran kacau
Mengantuk
Rasa berat pada mata
Gerakan kaku/canggung
Berdiri tidak seimbang
Ingin berbaring
Lelah motivasi menyebabkan :
Susah berpikir
Lelah berbicara
Menjadi gugup
Tidak dapat konsentrasi
Tidak mempunyai perhatian thd
suasana
Cendrung untuk lupa
Kurang kepercayaan
Tidak dapat mengontrol sikap
Tidak tekun bekerja

Lelah kronis menyebabkan :

Jengkel
meningkat
dan
mudah
tersinggung (tidak toleran, bersikap anti
sosial)

Depresi (kebingungan yg kurang jelas)

Menjadi malas dan pendiam

Sikap negatif dlm bekerja, tidak


senang thd atasan / lingkungan kerja
Ciri kelelahan secara umum :

Perhatian yg menurun

Persepsi menjadi lamban dan


menghambat

Pikiran berjalan lambat dan sukar

Kemampuan berprestasi menurun

Kegiatan mental dan fisik kurang


efisien
Mengatasi Kelelahan :

Pengaturan Jam Kerja


Istirahat Yang Cukup
Penyediaan Fasilitas Istirahat
Waktu Libur Dan Rekreasi
Organisasi & Hubungan Kerja
Memperhatikan Faktor Lingkungan
(Kebisingan, Temperatur, Sirkulasi
Udara, Penerangan, Dekorasi Dan Tata
Warna)
Menghilangkan sebab kelelahan :
Kepemimpinan
Manajemen
Perhatian thd kel. Pegawai
Pengorganisasian kerja
Meningkatkan kesejahteraan

Ergonomi Diving :
Aktivitas yang dilakukan oleh pekerja dan
pengunjung selama diving akan berpengaruh
terhadap postur tubuh terutama bagi
pekerjanya. Beberapa sikap yang sering
dilakukan pada diving, yaitu :
1. Posisi Berdiri
Kerja posisi berdiri lebih melelahkan daripada
posisi duduk dan energi yang dikeluarkan
lebih banyak, yaitu 10-15% dibandingkan
posisi duduk (Napitupulu, 2009). Pada
aktivitas diving ini, posisi berdiri dilakukan
pada saat persiapan sebelum melakukan
diving seperti memakai baju dan peralatan
untuk diving.
2. Posisi Membungkuk
Posisi membungkuk merupakan gerakan
atau posisi tubuh ke arah depan sehingga
antara sumbu badan bagian atas akan
membentuk sudut > 20 dengan garis
vertikal. Posisi ini terjadi apabila benda
berada jauh di depan tubuh atau di bawah
garis horizontal tubuh sehingga pekerja
membungkuk untuk meraih benda tersebut
(Octarisya, 2009). Pada aktivitas diving ini,
posisi membungkuk sering dilakukan pada
saat mengambil tabung SCUBA yang berat
jika masih di darat, namun jika sudah berada
di dalam laut tabung ini akan terasa ringan.
3. Posisi Menunduk
Posisi menunduk termasuk salah satu postur
berisiko dalam bekerja. Postur janggal pada
leher jika leher menunduk membentuk sudut
> 20 di bawah pandangan mata, sehingga
pekerja harus menundukkan kepala untuk
melihat obyek tersebut (Octarisya, 2009).
Instruktur dan pengunjung akan lebih banyak
menunduk pada saat melakukan diving

untuk melihat terumbu karang dan ikan yang


berada dibawah.
Gangguan kesehatan yang dialami oleh
pemilik usaha PT. Pasific Bahari Bali Virgo
Dive & Water Sports adalah sebagai berikut :
1. Beban mental, beban mental yang dialami
oleh pemilik usaha disebabkan karena
frekuensi jumlah pengunjung yang tidak
menentu. Jika jumlah pengunjung sedikit
maka pemilik usaha akan merasa kesulitan
untuk memenuhi kebutuhan operasional
usaha. Namun, jika jumlah pengunjung
terlalu banyak pemilik usaha merasa
kebingungan untuk melayani pengunjung
dikarenakan fasilitas yang tidak seimbang
dengan jumlah pengunjung.
2. Kepanasan, kepanasan yang dirasakan
oleh pemilik usaha diakibatkan karena
lingkungan di dalam dan luar tempat kerja
bersuhu panas (31-320 C).
3. Kelelahan, pemilik usaha sering merasa
kelelahan yang diakibatkan oleh banyaknya
pengunjung yang datang, terutama ketika
liburan.
Gangguan yang dialami instruktur scuba :
a. Sakit pinggang, dikarenakan instruktur
harus mengangkat tabung oksigen seberat
19 Kg dari ruang tempat penyimpanan
peralatan diving ke boat sebelum melatih
maupun
memonitor
customer
yang
sedang melakukan scuba diving.
b.Batuk & Flu, ini dapat terjadi dikarenakan
cuaca yang tidak menentu.
c. Barotrauma telinga, adalah kerusakan
jaringan telinga akibat ketidak-mampuan
menyamakan tekanan ruang telinga
tengah dengan lingkungan. Perubahan
tekanan relatif terbesar selama menyelam
terdapat di dekat permukaan. Barotrauma
telinga dapat terjadi apabila penyelaman
tanpa melaksanakan ekualisasi tekanan
telinga tengah dengan cara yang benar.
d.Restriksi paru - paru, dapat disebabkan
karena frekuensi penghirupan oksigen
yang terlalu sering pada saat melakukan
scuba diving sehingga dapat mengganggu
fungsi paru.
e. Kepanasan, kepanasan yang dirasakan
oleh instruktur scuba diving akibat
melayani costumer yang terlalu banyak di
pinggir pantai.
Customer :

a. Pusing dan mual, hal ini dirasakan


langsung oleh costumer diving yang
pertama kali mencoba wahana ini.
b. Trauma dan dekompresi, ini dapat terjadi
apabila melakukan scuba diving terlalu
dalam, semakin dalam melakukan scuba
diving tekanan air yang dirasakan akan
semakin besar. Apabila tubuh tidak dapat
menyesuaikan dengan tekanan air ini
maka trauma & dekompresi dapat
terjadi. Trauma dapat terjadi pada
penyelaman 10 meter dan dekompresi
dapat terjadi pada penyelaman 12,5
meter.
c. Kepanasan, hal ini dapat dirasakan oleh
costumer akibat cuaca yang tidak
menentu.
d. Kulit kering, dapat disebabkan oleh air
laut
dan
paparan
sinar
matahari
langsung.
e. Gangguan pendengaran, dapat terjadi
dikarenakan
pada
telinga
tidak
menggunakan alat pelindung.
f. Kesemutan dan kram, hal ini dapat
terjadi apabila melakukan scuba diving
terlalu dalam, suhu air semakin dalam
semakin
dingin,
oleh
karena
itu
penyelam dapat kehilangan panas tubuh,
g. Perdarahan, perdarahan juga dapat
dipengaruhi oleh kedalaman melakukan
scuba diving.
h. Mata perih, bisa disebabkan oleh air laut
yang masuk ke bagian muka akibat
penggunaan masker yang tidak benar.
RSJ
Permasalahan ergonomi yang terdapat di
Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali dapat
dibagi menjadi permasalahan tenaga kerja
dan
permasalahan
bangunan
dan
lingkungan kerja
Permasalahan yang dialami tenaga kerja
berkaitan dengan posisi kerja dimana
banyak para pekerja yang duduk dalam
posisi yang kurang baik, shift kerja dimana
pembagian tenaga kerja kuurang merata
dan melebihi NAB, serta beban kerja fisik
yang berlebihan terutama yang dialami
oleh perawat.
Permasalahan bangunan dan lingkungan
kerja yang ada di Rumah Sakit Jiwa
Provinsi
Bali
adalah
kurangnya
pencahayaan, ruangan yang kurang luas,
ruangan yang pengap, tembok yang

penuh berisi coetan, dan tanaman yang


kurang dirawat sehingga terlihat gersang.
Penanggulangan yang dapat diberikan
mengatur shift kerja, menyusun kebijakan
tugas antar dan intern jenis pekerjaan,
menyusun kegiatan untuk meningkatkan
kebugaran jasmani, mengatur tempat
kerja,
mengatur
pencahayaan,
dan
mengatur sirkulasi udara.

Panti Jompo
o Kamar mandi yang terdapat dalam
masing-masing
wisma
sudah
cukup
memenuhi
syarat
ergonomis
yaitu
menggunakan kloset duduk. Begitu juga
dengan rancangan pada pintu dan
jendelanya karena dapat dengan mudah
dibuka oleh lansia.
o Rancangan tempat duduk, area tempat
pembuangan sampah, kamar tidur, tata
letak peralatan dapur, dan area parkir
masih tergolong belum ergonomis karena
dapat
mengganggu
aktivitas
&
kenyamanan orang tua di panti serta
dapat menyebabkan beberapa risiko
kecelakaan.
o Upaya
penanggulangannya
dapat
dilakukan
dengan
2
cara
yaitu
penanggulanggan manajemen dengan
menambah jumlah tenaga kerja dan
membuat peraturan untuk memperluas
distribusi
kerajinan
lansia.
Dan
penanggulangan
teknis
dengan
memperbaiki fasilitas dan penempatan
sarana & prasarana dengan tepat.