Anda di halaman 1dari 4

HIPOGLIKEMIA

I.

Pengertian

Hipoglikemia adalah keadaan hasil pengukuran kadar glukosa darah kurang dari
45 mg/dl.
II.

Etiologi/Penyebab
Masukan gula dari makanan yang kurang (starvasi)
Keadaan ini dapat timbul akibat keterlambatan pemberian makanan pada bayi
baru lahir (pemberian ASI pertama meningkatkan kadar gula darah sebesar
18-27 mg/dL); pemberian makanan yang tidak adekuat, misalnya diberikan
30 mL dekstrose 5% (yang hanya mengandung 6 Kal) sebagai pengganti susu,
sedangkan 30 mL susu mengandung 24 kal; dan muntah berulang.

Penurunan masukan gula dari simpanan glikogen


Keadaan ini dapat terjadi pada IUGR, starvasi pada ibu hamil, prematuruitas,
salah satu bayi kembar (yang kecil) pada periode neonatal. Anak yang lebih
besar usianya dengan cadangan glikogen yang jelek akan mengalami
hipoglikemia karena starvasi terutama bila disertai gangguan glukoneogenesis
(pembentukan glukosa dari sumber nonkarbohidarat).

Penurunan masukan
glikogenolisis

gula

karena

gangguan

glukoneogenesis

dan

Keadaan ini dapat terjadi pada Glycogen Storage Disease, galaktosemia,


intoleransi fructose, defisiensi GH (hipopituitarisme) dan insufisiensi
adrenokortikal (primer atau sekunder)

Pengeluaran berlebihan ke dalam simpanan


Pada keadaan ini terjadi pengeluaran glukosa yang berlebihan dari cairan
ekstraseluler karena insulin mengubah glukosa ke dalam bentuk simpanannya
yaitu lemak dan glikogen. Hiperinsulinisme juga menurunkan masukan gula
ke dalam cairan ekstraseluler dengan menghambat glikogenolisis dan
glukoneogenesis.

Pengeluaran yang meningkat karena kebutuhan energy meningkat

Penyebab pengeluaran gula yang meningkat antara lain sepsis, syok, asfiksia,
hipotermia, respiratory distress syndrome, polisitemia/hiperviskositas dan
panas.

III.

Faktor-Faktor
Hipoglikemia bisa disebabkan karena banyak faktor, antara lain adalah :
1. kelebihan suntikan insulin yang diberikan
2. kurangnya pasokan glukosa
3. efek dari obat yang diberikan pada pengguna diabetes
4. minum alkohol
5. pola hidup yang tidak baik

IV.

Patofisiologi
1. Hipoglikemi sering terjadi pada BBLR, karena cadangan glukosa rendah
2. Pada ibu DM terjadi transfer glukosa yang berlebihan pada janin
sehingga respon insulin juga meningkat pada janin. Saat lahir dimana
jalur plasenta terputus maka transfer glukosa berhenti sedangkan respon
insulin masih tinggi sehingga terjadi hipoglikemi.
3. Hipoglikemi adalah masalah serius pada bayi baru lahir karena dapat
menimbulkan kejang yang berakibat terjadinya hipoksi otak. Bila tidak
dikelola dengan baik akan menimbulkan kerusakan pada susunan saraf
pusat bahkan kematian.
4. Kejadian hipoglikemia lebih sering didapat pada bayi dari ibu dengan
diabetes mellitus.
5. Glukosa merupakan sumber kalori yang penting untuk ketahanan hidup
selama proses persalinan dan hari-hari pertama pasca lahir.
6. Setiap stress yang terjadi mengurangi cadangan glukosa yang ada karena
meningkatkan penggunaan cadangan glukosa, misalnya pada asfiksia,
hipotermi, hipertermi, gangguan pernapasan.

V.

Angka Kejadian

Di Indonesia masih belum ada data, secara umum insidens hipoglikemia


pada bayi baru lahir berkisar antara 1-5 per 1000 kelahiran hidup. Pada bayi yang

lahir dari ibu diabetes 8%-25%, pada bayi preterm 15% ,secara umum pada bayi
risiko tinggi 30% terjadi hipoglikemia.
Frekuensi hipoglikemia pada bayi/neonates belum diketahui pasti.Namun
di amerika dilaporkan sekitar 14.000 bayi menderita hipoglikemia. Gutberlet dan
Cornblath melaporkan frekuensi hipoglikemia 4,4 per 1000 BBLR. Hanya 200240 penderita hipoglikemia persisten maupun intermitten setiap tahunnya yang
masuk rumah sakit.Angka ini berdasarkan observasi bahwa penderita
hipoglikemia berjumlah 23 per 1000 anak yang masuk rumah sakit, sedangkan
anak yang dirawat berjumlah 80.000 pertahun.
VI.

VII.
1.

Tanda/Gejala
Tremor/Gemetar
Sianosis
Apatis
Kejang
Apnea intermitten
Tangisan lemah/melengking
Letargi/Kelumpuhan
Kesulitan minum
Gerakan mata berputar/nistagmus
Keringat dingin
Pucat
Hipotermi
Refleks hisap kurang
Muntah
Penatalaksanaan

Dengan memperhatikan tanda atau gejala tersebut diatas, maka diambil


tindakan segera yaitu :
a. Beri air gula kira-kira 30 cc satu kali pemberian dan observasi
keadaannya.
b. Pertahankan suhu tubuh dengan cara membungkus bayi dengan kain
hangat, jauhkan dari hal-hal yang dapat menyerap panas bayi.
c. Segera beri ASI (Air Susu Ibu).
d. Observasi keadaan bayi, yaitu tanda-tanda vital, warna kulit, reflek dan
semua gejala yang ada diatas.
e. Bila tidak ada perubahan selama 24 jam dalam gejala-gejala tersebut
segera rujuk ke rumah sakit.
2.
Glukosa darah <25 mg/dl (1,1 mmol/l) atau terdapat tanda hipoglikemi,
maka :
a. Pasang jalur IV, berikan glukosa 10% 2 ml/kg BB secara pelan dlam 5
menit.
b. Infus glukosa 20% sesuai kebutuhan rawatan.
c. Periksa kadar glukosa darah 1 jam setelah bolus glukosa dan kemudian
3 jam sekali
Jika kadar glukosa darah masih <25 mg/dl (1,1 mmol/l) ulangi pemberian
bolus glukosa sperti tersebut diatas dan lanjutkan pemberian infus.

Jika kadar glukosa darah 24-25 mg/dl (1,1-2,6 mmol/l) lanjutkan infus dan
ulangi pemeriksaan kadar glukosa setiap 3 jam sampai kadar glukosa 45
mg/dl (2,6 mmol/l) atau lebih.
Jika kadar gluosa darah 45 mg/dl (2,6 mmol/l) atau lebih dalam dua kali
pemberian berturut-turut, ikuti petunjuk tentang frekuensi pemeriksaan
kadar glukosa darah kembali normal.
d. Anjurkan ibu menyusui, bila bayi tidak menyusu berikan ASI peras
dengan menggunakan salah satu alternatif cara pemberian minum.
e. Bila kemampuan minum bayi meningkat, turunkan pemberian cairan
infus setiap hari secara bertahap, jangan menghentikan infus glukosa
secara tiba-tiba.
3.
Glukosa darah 25-45 mg/dl (1,1- 2,6 mmol/l) tanpa tanda hipoglikemi.
a. Anjurkan ibu menyusui, bila bayi tidak menyusu berikan ASI peras
dengan menggunakan salah satu alternatif cara pemberian minum.
b. Pantau tanda hipoglikemi dan bila dijumpai tanda tersebut tangani seperti
tersebut diatas.
c. Periksa kadar glukosa darah dalam setiap 3 jam atau sebelum pemberian
minum berikutnya :
Jika kadar glukosa darah masih <25 mg/dl (1,1 mmol/l) atau terdapat
tanda hipoglikemi tangani seperti tersebut diatas.
Jika kadar glukosa darah masih antara 24-45 mg/dl (1,1-2,6 mmol/l)
naikkan frekuensi pemberian ASI atau naikkan volume pemberian
minum dengan menggunakan alternatif cara pemberian minum.
Jika kadar glukosa darah 45 mg/dl (2,6 mmol/l) atau lebih, lihat tentang
frekuensi pemeriksaan kadar glukosa darah.
VIII.

Gambar