Anda di halaman 1dari 7

Seri Khutbah Jumat Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Wilayah DIY

Edisi 8, Jumat 19 Pebruari 2016

MENGHADAPIAJAKANALIRANSESAT
Ust. Endri Nugraha Laksana, S.Pd.I
(Ketua IKADI DIY)

Khutbah Pertama:



.

Hadirin sidang shalat Jumat yang dirahmati Allah subhanahu wataala,
Akhir-akhir ini kaum Muslimin diresahkan dengan maraknya aliran menyimpang,
mulai dari gerakan teroris, ISIS, Gafatar, Syiah dan aliran-aliran lain. Tidak hanya mereka
yang memiliki strata pendidikan rendah yang bisa terbujuk ikut dalam aliran sesat,
bahkan mereka yang memiliki strata pendidikan tinggipun ternyata juga bisa terbawa
mengikuti aliran-aliran tersebut. Lalu, sebagai seorang Muslim, bagaimanakah sikap
terbaik yang bisa kita lakukan dalam menghadapi berbagai macam ajakan yang tidak kita
ketahui apakah ajaran itu benar atau menyimpang?

Hadirin sidang shalat Jumat yang dirahmati Allah subhanahu wataala,


Ada beberapa langkah yang bisa ambil dalam menghadapi berbagai macam ajakan
supaya bisa membedakan, mana yang benar dan mana yang salah, yaitu:

Pertama, memberi kesempatan kepada akal untuk memahami.


Jika datang sebuah ajakan, janganlah tergesa-gesa menerima atau menolaknya,
meskipun ajakan itu dibarengi dengan sikap memaksa, menyudutkan dan memaparkan
pandangannya dengan bertaburan dalil-dalil. Berilah kesempatan dan waktu kepada akal
untuk memikirkan kebenarannya. Jangan sampai kita menerima sesuatu sementara akal
kita tidak memahaminya dengan baik, sehingga akhirnya kita hanya ikut-ikutan belaka.
Allah subhanahu wataala telah memberikan peringatan :


Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai
pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan
hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya (Q.S. Al Isra:
36).

Imam al-Qurthubi di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa maksud ayat tersebut


adalah jangan mengikuti apa yang tidak kamu ketahui dan tidak penting bagimu.
Manusia bisa menetapkan suatu hukum jika ia memiliki pengetahuan mengenai hal itu,
sehingga ia menetapkan hukum berdasarkan pengetahuannya.

Kedua, memberi kesempatan kepada hati untuk merasakan.


Hati juga menjadi salah satu alat yang bisa memberikan pertimbangan kepada kita.
Jika datang sebuah ajakan, sudah semestinya kita berikan kesempatan kepada hati untuk
merenungkan dan merasakannya. Jangan kita mengabaikan perasaan kita dan dengan
tiba-tiba menolak atau menerima ajakan tersebut. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
menjelaskan bahwa hati mampu memberikan pertimbangan kepada kita tentang hal yang
baik dan hal yang buruk.
Suatu saat, seorang shahabat Nabi bernama Wabishah Bin Mabad radhiyallahu anhu
datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Kemudian Rasulullah bersabda:


. :
. :


.



Apakah kamu datang untuk bertanya tentang kebaikan? Aku menjawab:
Benar. Kemudian beliau bersabda: Mintalah fatwa kepada hatimu.
Kebaikan adalah apa saja yang menenangkan hati dan jiwamu. Sedangkan
dosa adalah apa yang menyebabkan hati bimbang dan cemas meski banyak
orang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kebaikan. (H.R.
Ahmad)

Ketiga, menumbuahkan kesadaran bahwa kita akan mempertanggungjawabkan


semua perbuatan yang kita lakukan.
Sesungguhnya semua perbuatan kita akan dipertanggungjawabkan di akhirat
kelak. Kita tidak bisa berlepas diri dengan segala apa yang kita perbuat dengan alasan
sudah ada yang menanggung dosa-dosa kita. Dosa tidak dapat dititipkan atau ditanggung
orang lain. Maka rugilah seseorang yang hanya ikut-ikutan, padahal orang yang
diikutinya akan berlepas diri dan tidak mau menanggung dosa orang tersebut di akhirat.
Firman Allah taala:

Bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,

dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah
diusahakannya. (Q.S. An-Najm: 38-39)

Juga firman-Nya:





Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang
tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak
diterima syafa'at dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka akan
ditolong (Q.S. Al Baqarah :123)
3

Keempat, bertanya kepada orang yang ahli dalam bidang tersebut.


Obat bagi orang yang tidak tahu adalah bertanya kepada yang lebih tahu. Oleh
karena itu, apabila datang suatu ajakan dan kita tidak terlalu memahami duduk
persoalannya, maka kita harus mencari orang yang kita anggap ahli dalam bidang
tersebut dan bertanya kepadanya. Bahkan jika perlu, kita juga bisa mencari nara sumber
lain sebagai pembanding, agar kita betul-betul mengerti dan memahaminya dengan baik.
Allah subhanahu wataala berfirman:




...

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika


kamu tidak mengetahui. (Q.S.An Nahl: 43).

Seseorang dikatakan sebagai ahli apabila memiliki dua sifat: pertama, orang tersebut
mempunyai kapasitas yang memadai dibidangnya, dan kedua, orang tersebut mempunyai
keshalihan yang terpancar dari akhlak dan perilakunya. Kepada mereka itulah kita
bertanya. Jika bertanya kepada sembarang orang, bisa jadi kita semakin tersesat dan tidak
menemukan kebenaran. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

Apabila suatu perkara diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka


tunggulah kehancurannya (HR. Bukhari).

Kelima, mengikuti kebenaran yang mayoritas.


Di zaman ini, insya Allah masih banyak orang shalih yang hidup di sekeliling kita.
Mereka adalah orang-orang yang senantiasa berpegang teguh kepada kebenaran. Jika ada
suatu ajakan tertentu kepada kita, ikutilah pendapat mayoritas orang shalih seperti
mereka. Hati-hati dengan pendapat dan dalil aneh yang dikeluarkan oleh segelintir orang
dalam beragama. Insya Allah, orang shalih yang banyak itu akan menunjukkan kita
kepada kebenaran. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sudah mengingatkan:



Sesungguhnya umatku tidak akan bersatu dalam kesesatan. Maka jika
kalian melihat perselisihan, berpeganglah pada as-sawaadul-azham yaitu al
haq dan ahlul haq (HR. Ibnu Majah).

Imam Asy-Syathibi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan as-sawaadul-azham


dalam hadits tersebut adalah jamaah kaum Muslimin, dan termasuk dalam makna ini
para imam mujtahid, para ulama, serta ahli syariah yang mengamalkan ilmunya . Maka
ikutilah mereka jika melihat perselisihan atau perbedaan pendapat dalam agama.

Keenam, bergaul dengan masyarakat.


Betapa sering aliran sesat menjadikan orang yang terasing dari masyarakat dan
menyendiri dari kaum Muslimin sebagai sasaran mereka. Bahkan, beberapa pihak yang
mengatasnamakan anti terorisme juga seringkali menjadikan orang yang terasing seperti
ini sebagai korban. Sehingga diantara langkah yang harus diambil untuk menghindarkan
diri dari jebakan aliran sesat adalah dengan bergaul bersama masyarakat dan berjamaah
dengan kaum Muslimin. Lebih ideal lagi jika kita mengikuti orgnisasi resmi yang
disahkan pemerintah. Semua itu bisa menghindarkan diri kita dari jebakan aliran sesat.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah mengingatkan :




Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar
terhadap gangguan mereka, itu lebih baik dari pada seorang mukmin yang
tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan
mereka (HR. At Tirmidzi).

Rasulullah juga mengingatkan seorang Muslim yang menyendiri dan tidak mau
bergabung dengan jamaah kaum Musimin dalam sabdanya:

Hendaklah kalian berjamaah, karena sesungguhnya serigala itu hanya memakan


kambing yang terpisah dari kawanannya. (HR. Abu Daud).

Ketujuh, senantiasa berdoa agar dikaruniakan hidayah.


Doa adalah senjata seorang mukmin, sekaligus cahaya langit dan bumi. Dengan
doa yang khusyu dan ikhlas, insya Allah, Allah subhanahu wataala akan menuntun
langkah kita menuju jalan yang benar dan menjauhkan kita dari kesesatan.
Diantara doa yang diajarkan adalah :

Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami yang benar itu benar dan berikan
kami kekuatan untuk mengikutinya, dan tunjukkanlah kami yang batil itu
batil dan berikan kami kekuatan untuk menjauhinya".

Hadirin sidang shalat Jumat yang dirahmati Allah,


Marilah kita berupaya mewujudkan sikap tersebut dalam diri kita. Dan dengan
demikian, semoga Allah subhanahu wataala melindungi kita dari segala macam ajakan
yang menyesatkan, serta menuntun kita menuju jalan-Nya yang benar, Amiin

Khutbah Kedua:


* *