Anda di halaman 1dari 28

IDENTIFIKASI RESIKO KESELAMATAN PASIEN (PATIENT SAFETY) DI RUMAH SAKIT

UMUM DAERAH HAJI MAKASSAR


1.

PENDAHULUAN
Saat ini isu penting dan global dalam Pelayanan Kesehatan adalah Keselamatan Pasien
(Patient Safety). Isu ini praktis mulai dibicarakan kembali pada tahun 2000-an, sejak laporan
dan Institute of Medicine (IOM) yang menerbitkan laporan: to err is human, building a safer
health system. Keselamatan pasien adalah suatu disiplin baru dalam pelayanan kesehatan
yang mengutamakan pelaporan, analisis, dan pencegahan medical error yang sering
menimbulkan Kejadian Tak Diharapkan (KTD) dalam pelayanan kesehatan.
Frekuensi dan besarnya KTD tak diketahui secara pasti sampai era 1990-an, ketika
berbagai Negara melaporkan dalam jumlah yang mengejutkan pasien cedera dan meninggal
dunia akibat medical error. Menyadari akan dampak error pelayanan kesehatan terhadap 1 dari
10 pasien di seluruh dunia maka World Health Organization(WHO) menyatakan bahwa
perhatian terhadap Keselamatan Pasien sebagai suatu endemis.Organisasi kesehatan dunia
WHO juga telah menegaskan pentingnya keselamatan dalam pelayanan kepada
pasien: Safety is a fundamental principle of patient care and a critical component of quality
management. (World Alliance for Patient Safety, Forward Programme WHO, 2004),
sehubungan dengan data KTD di Rumah Sakit di berbagai negara menunjukan angka 3 16%
yang tidak kecil.
Sejak berlakunya UU No. 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen dan UU No. 29
tentang Praktik Kedokteran, muncullah berbagai tuntutan hukum kepada Dokter dan Rumah
Sakit. Hal ini hanya dapat ditangkal apabila Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar
menerapkan Sistem Keselamatan Pasien. Sehingga Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh
Indonesia (PERSI) membentuk Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKP-RS) pada
tanggal 1 Juni 2005. Selanjutnya Gerakan Keselamatan Pasien Rumah Sakit ini kemudian
dicanangkan oleh Menteri Kesehatan RI pada Seminar Nasional PERSI pada tanggal 21
Agustus 2005, di Jakarta Convention Center Jakarta.
KKP-RS telah menyusun Panduan Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien bagi staf
RS untuk mengimplementasikan Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Di samping itu pula
KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar) Depkes telah menyusun
Standar Keselamatan Pasien Rumah Sakit yang akan menjadi salah satu Standar Akreditasi
Rumah Sakit.
Pada tahun 2011 Kementerian Kesehatan RI mengeluarkan Permenkes 1691 tahun
2011 tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit sebagai pedoman bagi penerapan
Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar. Dalam permenkes 1691

tahun 2011 dinyatakan bahwa Rumah Sakit dan tenaga kesehatan yang bekerja di Rumah Sakit
wajib melaksanakan program dengan mengacu pada kebijakan nasional Komite Nasional
Keselamatan Pasien Rumah sakit.
(1) Setiap Rumah Sakit wajib membentuk Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit (TKPRS)
yang ditetapkan oleh kepala Rumah Sakit sebagai pelaksana kegiatan keselamatan pasien.
(2) TKPRS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertanggung jawab kepada kepala Rumah
Sakit.
(3) Keanggotaan TKPRS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari manajemen
Rumah Sakit dan unsur dari profesi kesehatan di Rumah Sakit.
(4)
1.

TKPRS melaksanakan tugas:

Mengembangkan program keselamatan pasien di Rumah Sakit sesuai dengan


kekhususan Rumah Sakit tersebut.
2.
Menyusun kebijakan dan prosedur terkait dengan program keselamatan pasien Rumah
Sakit;
3.
Menjalankan peran untuk melakukan motivasi, edukasi, konsultasi, pemantauan
(monitoring) dan penilaian (evaluasi) tentang terapan (implementasi) program keselamatan
pasien Rumah Sakit;
4.
Bekerja sama dengan bagian pendidikan dan pelatihan Rumah Sakit untuk melakukan
pelatihan internal keselamatan pasien Rumah Sakit;
5.
Melakukan pencatatan, pelaporan insiden, analisa insiden serta mengembangkan solusi
untuk pembelajaran;
6.
Memberikan masukan dan pertimbangan kepada kepala Rumah Sakit dalam rangka
pengambilan kebijakan keselamatan pasien Rumah Sakit; dan
7.
Membuat laporan kegiatan kepada kepala Rumah Sakit Umum.
Dalam pelaksanaannya, Keselamatan Pasien akan banyak menggunakan prinsip dan
metode manajemen risiko mulai dan identifikasi, asesmen dan pengolahan risiko. Diharapkan,
pelaporan & analisis insiden keselamatan pasien akan meningkatkan kemampuan belajar dan
insiden yang terjadi untuk mencegah terulangnya kejadian yang sama di kemudian hari.
2. Keselamatan pasien dan manajemen risiko klinis
Keselamatan pasien Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar adalah suatu sistem
dimana Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar membuat asuhan pasien lebih aman yang
meliputi asesmen risiko, identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko
pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya
serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan mencegah terjadinya

cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak
mengambil tindakan yang seharusnya diambil (Kemenkes RI, 2011).
Risiko adalah peristiwa atau keadaan yang mungkin terjadi yang dapat berpengaruh negatif
terhadap perusahaan. perusahaan. (ERM) Pengaruhnya dapat berdampak terhadap kondisi :

Sumber Daya (human and capital)


Produk dan jasa , atau
Pelanggan,
Dapat juga berdampak eksternal terhadap masyarakat,pasar atau lingkungan.

Risiko adalah fungsi dari probabilitas (chance, likelihood) dari suatu kejadian yang tidak
diinginkan, dan tingkat keparahan atau besarnya dampak dari kejadian tersebut.
Risk = Probability (of the event) X Consequence
Risiko di Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar:

Risiko klinis adalah semua isu yang dapat berdampak terhadap pencapaian pelayanan
pasien yang bermutu tinggi, aman dan efektif.
Risiko non klinis/corporate risk adalah semua issu yang dapat berdampak terhadap

tercapainya tugas pokok dan kewajiban hukum dari Rumah Sakit Umum Daerah Haji
Makassar sebagai korporasi.
Kategori risiko di Rumah Sakit ( Categories of Risk ) :

Patient care care-related risks


Medical staff staff-related risks
Employee Employee-related risks
Property Property-related risks
Financial risks
Other risks

Manajemen risiko adalah pendekatan proaktif untuk mengidentifikasi, menilai dan


menyusun prioritas risiko, dengan tujuan untuk menghilangkan atau meminimalkan dampaknya.
Manajemen risiko Rumah Sakit adalah kegiatan berupa identifikasi dan evaluasi untuk
mengurangi risiko cedera dan kerugian pada pasien, karyawan Rumah Sakit Umum Daerah
Haji Makassar, pengunjung dan organisasinya sendiri (The Joint Commission on Accreditation
of Healthcare Organizations/JCAHO).
Manajemen Risiko Terintegrasi adalah proses identifikasi, penilaian, analisis dan
pengelolaan semua risiko yang potensial dan kejadian keselamatan pasien. Manajemen risiko

terintegrasi diterapkan terhadap semua jenis pelayanan diRumah Sakit Umum Daerah Haji
Makassar pada setiap level.Jika risiko sudah dinilai dengan tepat, maka proses ini akan
membantu Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar, pemilik dan para praktisi untuk
menentukan prioritas dan perbaikan dalam pengambilan keputusan untuk mencapai
keseimbangan optimal antara risiko, keuntungan dan biaya.
Dalam praktek, manajemen risiko terintegrasi berarti:

Menjamin bahwa Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar menerapkan system yang

sama untuk mengelola semua fungsi-fungsi manajemen risikonya, sepertipatient safety,


kesehatan dan keselamatan kerja, keluhan, tuntutan (litigasi) klinik, litigasi karyawan, serta
risiko keuangan dan lingkungan.
Jika dipertimbangkan untuk melakukan perbaikan, modernisasi dan clinical governance,

manajemen risiko menjadi komponen kunci untuk setiap desain proyek tersebut.
Menyatukan semua sumber informasi yang berkaitan dengan risiko dan keselamatan,

contoh: data reaktif seperti insiden patient safety, tuntutan litigasi klinis, keluhan, dan
insiden kesehatan dan keselamatan kerja, data proaktif seperti hasil dari penilaian risiko;
menggunakan pendekatan yang konsisten untuk pelatihan, manajemen, analysis dan
investigasi dari semua risiko yang potensial dan kejadian aktual.
Menggunakan pendekatan yang konsisten dan menyatukan semua penilaian risiko dari

semua jenis risiko di Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar pada setiap level.
Memadukan semua risiko ke dalam program penilaian risiko dan risk register
Menggunakan informasi yang diperoleh melalui penilaian risiko dan insiden untuk
menyusun kegiatan mendatang dan perencanaan strategis.

Proses manajemen risiko


Diagram: Proses Manajemen Risiko diadaptasi dari (AS/NZS 4360:1999Risk Management)
RISK MANAGEMENT AS A WAY OF WORKINGSETTING

Identifikasi risiko adalah usaha mengidentifikasi situasi yang dapat menyebabkan cedera,
tuntutan atau kerugian secara finansial. Identifikasi akan membantu langkah-langkah yang akan
diambil manajemen terhadap risiko tersebut.
Instrument:

1.
2.

Laporan KejadianKejadian(KTD+KNC+Kejadian Sentinel+dan lain-lain)


Review Rekam Medik (Penyaringan Kejadian untuk memeriksa dan mencari
penyimpangan-penyimpangan pada praktik dan prosedur)
3.
Pengaduan (Complaint) pelanggan
4.
Survey/Self Assesment, dan lain-lain

Pendekatan terhadap identifikasi risiko meliputi:

Brainstorming
Mapping out proses dan prosedur perawatan atau jalan keliling dan menanyakan
kepada petugas tentang identifikasi risiko pada setiap lokasi.
Membuat checklist risiko dan menanyakan kembali sebagai umpan balik

Penilaian risiko (Risk Assesment) merupakan proses untuk membantu organisasi menilai
tentang luasnya risiko yg dihadapi, kemampuan mengontrol frekuensi dan dampak risiko risiko.
RS harus punya Standard yang berisi Program Risk Assessment tahunan, yakni Risk Register:
1.
2.

Risiko yg teridentifikasi dalam 1 tahun


Informasi Insiden keselamatan Pasien, klaim litigasi dan komplain, investigasi eksternal
& internal, external assessments dan Akreditasi
3.
Informasi potensial risiko maupun risiko actual (menggunakan RCA&FMEA)
Penilaian risiko Harus dilakukan oleh seluruh staf dan semua pihak yang terlibat termasuk
Pasien dan publik dapat terlibat bila memungkinkan. Area yang dinilai:

Operasional
Finansial
Sumber daya manusia
Strategik
Hukum/Regulasi
Teknologi

Manfaat manajemen risiko terintegrasi untuk Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar
1.

Informasi yang lebih baik sekitar risiko sehingga tingkat dan sifat risiko terhadap pasien
dapat dinilai dengan tepat.
2.
Pembelajaran dari area risiko yang satu, dapat disebarkan di area risiko yang lain.
3.
Pendekatan yang konsisten untuk identifikasi, analisis dan investigasi untuk semua
risiko, yaitu menggunakan RCA.
4.
Membantu RS dalam memenuhi standar-standar terkait, serta kebutuhan clinical
governance.

5.

Membantu perencanaan RS menghadapi ketidakpastian, penanganan dampak dari


kejadian yang tidak diharapkan, dan meningkatkan keyakinan pasien dan masyarakat.
Risk Assessment Tools

3.

Risk Matrix Grading


Root Cause Analysis
Failure Mode and Effect Analysis
Standar Keselamatan Pasien Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar

Standar I. Hak pasien


Standar:
Pasien dan keluarganya mempunyai hak untuk mendapatkan informasi tentang rencana dan
hasil pelayanan termasuk kemungkinan terjadinya insiden.
Kriteria:
1.1.

Harus ada dokter penanggung jawab pelayanan.

1.2.

Dokter penanggung jawab pelayanan wajib membuat rencana pelayanan.

1.3.
Dokter penanggung jawab pelayanan wajib memberikan penjelasan secara jelas
dan benar kepada pasien dan keluarganya tentang rencana dan hasil pelayanan, pengobatan
atau prosedur untuk pasien termasuk kemungkinan terjadinya insiden.
Standar II. Mendidik pasien dan keluarga
Standar:
Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar harus mendidik pasien dan keluarganya tentang
kewajiban dan tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien.
Kriteria:
Keselamatan dalam pemberian pelayanan dapat ditingkatkan dengan keterlibatan pasien yang
merupakan partner dalam proses pelayanan. Karena itu, di Rumah Sakit Umum Daerah Haji
Makassar harus ada sistem dan mekanisme mendidik pasien dan keluarganya tentang

kewajiban dan tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien. Dengan pendidikan tersebut
diharapkan pasien dan keluarga dapat:
1.
2.
3.
4.
5.

Memberikan informasi yang benar, jelas, lengkap dan jujur.


Mengetahui kewajiban dan tanggung jawab pasien dan keluarga.
Mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk hal yang tidak dimengerti.
Memahami dan menerima konsekuensi pelayanan.
Mematuhi instruksi dan menghormati peraturan Rumah Sakit Umum Daerah Haji
Makassar.
6.
Memperlihatkan sikap menghormati dan tenggang rasa.
7.
Memenuhi kewajiban finansial yang disepakati.
Standar III. Keselamatan pasien dalam kesinambungan pelayanan
Standar:
Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar menjamin keselamatan pasien dalam
kesinambungan pelayanan dan menjamin koordinasi antar tenaga dan antar unit pelayanan.
Kriteria:
3.1. Terdapat koordinasi pelayanan secara menyeluruh mulai dari saat pasien masuk,
pemeriksaan, diagnosis, perencanaan pelayanan, tindakan pengobatan, rujukan dan saat
pasien keluar dari Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar
3.2. Terdapat koordinasi pelayanan yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien dan kelayakan
sumber daya secara berkesinambungan sehingga pada seluruh tahap pelayanan transisi
antar unit pelayanan dapat berjalan baik dan lancar.
3.3.Terdapat koordinasi pelayanan yang mencakup peningkatan komunikasi untuk memfasilitasi
dukungan keluarga, pelayanan keperawatan, pelayanan sosial, konsultasi dan rujukan,
pelayanan kesehatan primer dan tindak lanjut lainnya.
3.4.Terdapat komunikasi dan transfer informasi antar profesi kesehatan sehingga dapat
tercapainya proses koordinasi tanpa hambatan, aman dan efektif.
Standar IV. Penggunaan metode-metode peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi
dan program peningkatan keselamatan pasien

Standar:
Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar harus mendesain proses baru atau memperbaiki
proses yang ada, memonitor dan mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data,
menganalisis secara intensif insiden, dan melakukan perubahan untuk meningkatkan kinerja
serta keselamatan pasien.
Kriteria:
4.1. Setiap Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar harus melakukan proses perancangan
(desain) yang baik, mengacu pada visi, misi, dan tujuan Rumah Sakit Umum Daerah Haji
Makassar, kebutuhan pasien, petugas pelayanan kesehatan, kaidah klinis terkini, praktik
bisnis yang sehat, dan faktor-faktor lain yang berpotensi risiko bagi pasien sesuai dengan
Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar.
4.2. Setiap Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar harus melakukan pengumpulan data
kinerja yang antara lain terkait dengan: pelaporan insiden, akreditasi, manajemen risiko,
utilisasi, mutu pelayanan, keuangan.
4.3. Setiap Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar harus melakukan evaluasi intensif terkait
dengan semua insiden, dan secara proaktif melakukan evaluasi satu proses kasus risiko
tinggi.
4.4. Setiap Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar harus menggunakan semua data dan
informasi hasil analisis untuk menentukan perubahan sistem yang diperlukan, agar kinerja
dan keselamatan pasien terjamin.
Standar V.

Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien

Standar:
1.

Pimpinan mendorong dan menjamin implementasi program keselamatan pasien secara


terintegrasi dalam organisasi melalui penerapan Tujuh Langkah Menuju Keselamatan
Pasien Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar .
2.
Pimpinan menjamin berlangsungnya program proaktif untuk identifikasi risiko
keselamatan pasien dan program menekan atau mengurangi insiden.
3.
Pimpinan mendorong dan menumbuhkan komunikasi dan koordinasi antar unit dan
individu berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang keselamatan pasien.

4.

Pimpinan mengalokasikan sumber daya yang adekuat untuk mengukur, mengkaji, dan
meningkatkan kinerja Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar serta meningkatkan
keselamatan pasien.
5.
Pimpinan mengukur dan mengkaji efektifitas kontribusinya dalam meningkatkan kinerja
Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar dan keselamatan pasien.
Kriteria:
5.1. Terdapat tim antar disiplin untuk mengelola program keselamatan pasien.
5.2.Tersedia program proaktif untuk identifikasi risiko keselamatan dan program meminimalkan
insiden.
5.3.Tersedia mekanisme kerja untuk menjamin bahwa semua komponen dari Rumah Sakit
Umum Daerah Haji Makassar terintegrasi dan berpartisipasi dalam program keselamatan
pasien.
5.4. Tersedia prosedur cepat-tanggap terhadap insiden, termasuk asuhan kepada pasien yang
terkena musibah, membatasi risiko pada orang lain dan penyampaian informasi yang benar
dan jelas untuk keperluan analisis.
5.5. Tersedia mekanisme pelaporan internal dan eksternal berkaitan dengan insiden termasuk
penyediaan informasi yang benar dan jelas tentang Analisis Akar Masalah Kejadian Nyaris
Cedera (Near miss) dan Kejadian Sentinel pada saat program keselamatan pasien mulai
dilaksanakan.
5.6. Tersedia mekanisme untuk menangani berbagai jenis insiden, misalnya menangani
Kejadian Sentinel (Sentinel Event) atau kegiatan proaktif untuk memperkecil risiko,
termasuk mekanisme untuk mendukung staf dalam kaitan dengan Kejadian Sentinel.
5.7. Terdapat kolaboratoriumorasi dan komunikasi terbuka secara sukarela antar unit dan antar
pengelola pelayanan di dalam Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar dengan
pendekatan antar disiplin.
5.8.Tersedia sumber daya dan sistem informasi yang dibutuhkan dalam kegiatan perbaikan
kinerja Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar dan perbaikan keselamatan pasien,
termasuk evaluasi berkala terhadap kecukupan sumber daya tersebut.

5.9.Tersedia sasaran terukur, dan pengumpulan informasi menggunakan kriteria objektif untuk
mengevaluasi efektivitas perbaikan kinerja Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar dan
keselamatan pasien, termasuk rencana tindak lanjut dan implementasinya.

Standar VI. Mendidik staf tentang keselamatan pasien


Standar:
1.

Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar memiliki proses pendidikan, pelatihan dan
orientasi untuk setiap jabatan mencakup keterkaitan jabatan dengan keselamatan pasien
secara jelas.
2.
Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar menyelenggarakan pendidikan dan
pelatihan yang berkelanjutan untuk meningkatkan dan memelihara kompetensi staf serta
mendukung pendekatan interdisipliner dalam pelayanan pasien.
Kriteria:
6.1.

Setiap Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar harus memiliki program pendidikan,
pelatihan dan orientasi bagi staf baru yang memuat topik keselamatan pasien sesuai
dengan tugasnya masing-masing.

6.2.

Setiap Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar harus mengintegrasikan topik
keselamatan pasien dalam setiap kegiatan in-service training dan memberi pedoman yang
jelas tentang pelaporan insiden.

6.3. Setiap Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar harus menyelenggarakan pelatihan
tentang kerjasama kelompok (teamwork) guna mendukung pendekatan interdisipliner dan
kolaboratoriumoratif dalam rangka melayani pasien.
Standar VII. Komunikasi merupakan kunci bagi staff untuk mencapai keselamatan pasien
Standar:
1.

Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar merencanakan dan mendesain proses
manajemen informasi keselamatan pasien untuk memenuhi kebutuhan informasi internal dan
eksternal.
2.
Transmisi data dan informasi harus tepat waktu dan akurat.
Kriteria:

7.1. Perlu disediakan anggaran untuk merencanakan dan mendesain proses manajemen untuk
memperoleh data dan informasi tentang hal-hal terkait dengan keselamatan pasien.
7.2.Tersedia mekanisme identifikasi masalah dan kendala komunikasi untuk merevisi
manajemen informasi yang ada.
4.

Sasaran Keselamatan Pasien

Sasaran Keselamatan Pasien merupakan syarat untuk diterapkan di semua Rumah


Sakit Umum Daerah Haji Makassar yang diakreditasi oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit
Umum Daerah Haji Makassar. Penyusunan sasaran ini mengacu kepada Nine Life-Saving
Patient Safety Solutions dari WHO Patient Safety (2007) yang digunakan juga oleh Komite
Keselamatan Pasien Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar PERSI (KKPRS PERSI), dan
dari Joint Commission International (JCI).
Maksud dari Sasaran Keselamatan Pasien adalah mendorong perbaikan spesifik dalam
keselamatan pasien. Sasaran menyoroti bagian-bagian yang bermasalah dalam pelayanan
kesehatan dan menjelaskan bukti serta solusi dari konsensus berbasis bukti dan keahlian atas
permasalahan ini. Diakui bahwa desain sistem yang baik secara intrinsik adalah untuk
memberikan pelayanan kesehatan yang aman dan bermutu tinggi, sedapat mungkin sasaran
secara umum difokuskan pada solusi-solusi yang menyeluruh.
Enam sasaran keselamatan pasien adalah tercapainya hal-hal sebagai berikut:
Sasaran I.: Ketepatan Identifikasi Pasien
Kesalahan karena keliru pasien terjadi di hampir semua aspek/tahapan diagnosis dan
pengobatan. Kesalahan identifikasi pasien bisa terjadi pada pasien yang dalam keadaan
terbius/tersedasi, mengalami disorientasi, tidak sadar; bertukar tempat tidur/kamar/lokasi di
Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar, adanya kelainan sensori; atau akibat situasi lain.
Maksud sasaran ini adalah untuk melakukan dua kali pengecekan: pertama untuk identifikasi
pasien sebagai individu yang akan menerima pelayanan atau pengobatan; dan kedua, untuk
kesesuaian pelayanan atau pengobatan terhadap individu tersebut.
Kebijakan dan/atau prosedur yang secara kolaboratoriumoratif dikembangkan untuk
memperbaiki proses identifikasi, khususnya pada proses untuk mengidentifikasi pasien ketika
pemberian obat, darah/produk darah; pengambilan darah dan spesimen lain untuk pemeriksaan
klinis; memberikan pengobatan atau tindakan lain. Kebijakan dan/atau prosedur memerlukan

sedikitnya dua cara untuk mengidentifikasi seorang pasien, seperti nama pasien, nomor rekam
medis, tanggal lahir, gelang identitas pasien dengan bar-code, dan lain-lain.
Nomor kamar pasien atau lokasi tidak bisa digunakan untuk identifikasi. Kebijakan
dan/atau prosedur juga menjelaskan penggunaan dua identitas yang berbeda pada lokasi yang
berbeda di Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar, seperti di pelayanan rawat jalan, unit
gawat darurat, atau kamar operasi, termasuk identifikasi pada pasien koma tanpa identitas.
Suatu proses kolaboratoriumoratif digunakan untuk mengembangkan kebijakan dan/atau
prosedur agar dapat memastikan semua kemungkinan situasi dapat diidentifikasi.
Sasaran II.: Peningkatan Komunikasi yang Efektif
Komunikasi efektif, yang tepat waktu, akurat, lengkap, jelas, dan yang dipahami oleh pasien,
akan mengurangi kesalahan, dan menghasilkan peningkatan keselamatan pasien. Komunikasi
dapat berbentuk elektronik, lisan, atau tertulis. Komunikasi yang mudah terjadi kesalahan
kebanyakan terjadi pada saat perintah diberikan secara lisan atau melalui telpon. Komunikasi
yang mudah terjadi kesalahan yang lain adalah pelaporan kembali hasil pemeriksaan kritis,
seperti melaporkan hasil laboratorium klinik cito melalui telpon ke unit pelayanan.
Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar secara kolaboratoriumoratif mengembangkan suatu
kebijakan dan/atau prosedur untuk perintah lisan dan telepon termasuk: mencatat/
(memasukkan ke komputer) perintah secara lengkap atau hasil pemeriksaan oleh penerima
perintah; kemudian penerima perintah membacakan kembali (read back) perintah atau hasil
pemeriksaan; dan mengkonfirmasi bahwa apa yang sudah dituliskan dan dibaca ulang adalah
akurat. Kebijakan dan/atau prosedur pengidentifikasian juga menjelaskan bahwa
diperbolehkan tidak melakukan pembacaan kembali (read back) bila tidak memungkinkan
seperti di kamar operasi dan situasi gawat darurat di IGD atau ICU.
Sasaran III.: Peningkatan Keamanan Obat yang Perlu Diwaspadai (High-Alert)
Bila obat-obatan menjadi bagian dari rencana pengobatan pasien, manajemen harus berperan
secara kritis untuk memastikan keselamatan pasien. Obat-obatan yang perlu diwaspadai (highalert medications) adalah obat yang sering menyebabkan terjadi kesalahan/kesalahan serius
(sentinel event), obat yang berisiko tinggi menyebabkan dampak yang tidak diinginkan (adverse
outcome) seperti obat-obat yang terlihat mirip dan kedengarannya mirip (Nama Obat Rupa dan
Ucapan Mirip/NORUM, atau Look Alike Sound Alike/LASA).
Obat-obatan yang sering disebutkan dalam issue keselamatan pasien adalah pemberian
elektrolit konsentrat secara tidak sengaja (misalnya, kalium klorida 2meq/ml atau yang lebih

pekat, kalium fosfat, natrium klorida lebih pekat dari 0.9%, dan magnesium sulfat =50% atau
lebih pekat-). Kesalahan ini bisa terjadi bila perawat tidak mendapatkan orientasi dengan baik di
unit pelayanan pasien, atau bila perawat kontrak tidak diorientasikan terlebih dahulu sebelum
ditugaskan, atau pada keadaan gawat darurat. Cara yang paling efektif untuk mengurangi atau
mengeliminasi kejadian tsb adalah dengan meningkatkan proses pengelolaan obat-obat yang
perlu diwaspadai termasuk memindahkan elektrolit konsentrat dari unit pelayanan pasien ke
farmasi.
Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar secara kolaboratoriumoratif mengembangkan suatu
kebijakan dan/atau prosedur untuk membuat daftar obat-obat yang perlu diwaspadai
berdasarkan data yang ada di Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar. Kebijakan dan/atau
prosedur juga mengidentifikasi area mana saja yang membutuhkan elektrolit konsentrat,
seperti di IGD atau kamar operasi serta pemberian laboratoriumel secara benar pada elektrolit
dan bagaimana penyimpanannya di area tersebut, sehingga membatasi akses untuk mencegah
pemberian yang tidak disengaja/kurang hati-hati.
Sasaran IV.: Kepastian Tepat-Lokasi, Tepat-Prosedur, Tepat-Pasien Operasi
Salah-lokasi, salah-prosedur, salah pasien pada operasi, adalah sesuatu yang
mengkhawatirkan dan tidak jarang terjadi di Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar.
Kesalahan ini adalah akibat dari komunikasi yang tidak efektif atau tidak adekuat antara
anggota tim bedah, kurang/tidak melibatkan pasien di dalam penandaan lokasi (site marking),
dan tidak ada prosedur untuk verifikasi lokasi operasi. Di samping itu pula asesmen pasien
yang tidak adekuat, penelaahan ulang catatan medis tidak adekuat, budaya yang tidak
mendukung komunikasi terbuka antar anggota tim bedah, permasalahan yang berhubungan
dengan resep yang tidak terbaca (illegible handwriting) dan pemakaian singkatan adalah
merupakan faktor-faktor kontribusi yang sering terjadi.
Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar perlu untuk secara kolaboratoriumoratif
mengembangkan suatu kebijakan dan/atau prosedur yang efektif di dalam mengeliminasi
masalah yang mengkhawatirkan ini. Digunakan juga praktek berbasis bukti, seperti yang
digambarkan di Surgical Safety Checklist dari WHO Patient Safety (2009), juga di The Joint
Commissions Universal Protocol for Preventing Wrong Site, Wrong Procedure, Wrong Person
Surgery.
Penandaan lokasi operasi perlu melibatkan pasien dan dilakukan atas satu pada tanda yang
dapat dikenali. Tanda itu harus digunakan secara konsisten di Rumah Sakit Umum Daerah Haji
Makassar dan harus dibuat oleh operator /orang yang akan melakukan tindakan, dilaksanakan
saat pasien terjaga dan sadar jika memungkinkan, dan harus terlihat sampai saat akan disayat.

Penandaan lokasi operasi ditandai dilakukan pada semua kasus termasuk sisi (laterality),
multipel struktur (jari tangan, jari kaki, lesi), atau multipel level (tulang belakang).
Maksud proses verifikasi praoperatif adalah untuk:

Memverifikasi lokasi, prosedur, dan pasien yang benar;


Memastikan bahwa semua dokumen, foto (imaging), hasil pemeriksaan yang relevan
tersedia, diberi laboratoriumel dengan baik, dan dipampang;
Lakukan verifikasi ketersediaan setiap peralatan khusus dan/atau implant-implant yang

dibutuhkan.
Tahap Sebelum insisi (Time out) memungkinkan semua pertanyaan atau kekeliruan
diselesaikan. Time out dilakukan di tempat, dimana tindakan akan dilakukan, tepat sebelum
tindakan dimulai, dan melibatkan seluruh tim operasi. Rumah Sakit Umum Daerah Haji
Makassar menetapkan bagaimana proses itu didokumentasikan secara ringkas, misalnya
menggunakan ceklist.
Sasaran V.: Pengurangan Risiko Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan
Pencegahan dan pengendalian infeksi merupakan tantangan terbesar dalam tatanan pelayanan
kesehatan, dan peningkatan biaya untuk mengatasi infeksi yang berhubungan dengan
pelayanan kesehatan merupakan keprihatinan besar bagi pasien maupun para profesional
pelayanan kesehatan. Infeksi biasanya dijumpai dalam semua bentuk pelayanan kesehatan
termasuk infeksi saluran kemih, infeksi pada aliran darah (blood stream infections) dan
pneumonia (sering kali dihubungkan dengan ventilasi mekanis).
Pokok eliminasi infeksi ini maupun infeksi-infeksi lain adalah cuci tangan (hand hygiene) yang
tepat. Pedoman hand hygiene bisa di baca di kepustakaan WHO, dan berbagai organisasi
nasional dan intemasional.
Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar mempunyai proses kolaboratoriumoratif untuk
mengembangkan kebijakan dan/atau prosedur yang menyesuaikan atau mengadopsi petunjuk
hand hygiene yang sudah diterima secara umum untuk implementasi petunjuk itu di Rumah
Sakit Umum Daerah Haji Makassar.
Sasaran VI.: Pengurangan Risiko Pasien Jatuh
Jumlah kasus jatuh cukup bermakna sebagai penyebab cedera pasien rawat inap. Dalam
konteks populasi/masyarakat yang dilayani, pelayanan yang diberikan, dan fasilitasnya, Rumah
Sakit Umum Daerah Haji Makassar perlu mengevaluasi risiko pasien jatuh dan mengambil

tindakan untuk mengurangi risiko cedera bila sampai jatuh. Evaluasi bisa termasuk riwayat
jatuh, obat dan telaah terhadap konsumsi alkohol, gaya jalan dan keseimbangan, serta alat
bantu berjalan yang digunakan oleh pasien. Program tersebut harus diterapkan di Rumah Sakit
Umum Daerah Haji Makassar.
5. Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit Umum Daerah Haji
Makassar
Mengacu kepada standar keselamatan pasien, maka Rumah Sakit Umum Daerah Haji
Makassar harus merancang proses baru atau memperbaiki proses yang ada, memonitor dan
mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data, menganalisis secara intensif insiden, dan
melakukan perubahan untuk meningkatkan kinerja serta keselamatan pasien.
Proses perancangan tersebut harus mengacu pada visi, misi, dan tujuan Rumah Sakit Umum
Daerah Haji Makassar, kebutuhan pasien, petugas pelayanan kesehatan, kaidah klinis terkini,
praktik bisnis yang sehat, dan faktor-faktor lain yang berpotensi risiko bagi pasien sesuai
dengan Tujuh Langkah Keselamatan Pasien Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar.
Tujuh langkah keselamatan pasien Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar merupakan
panduan yang komprehensif untuk menuju keselamatan pasien, sehingga tujuh langkah
tersebut secara menyeluruh harus dilaksanakan oleh setiap Rumah Sakit Umum Daerah Haji
Makassar. Dalam pelaksanaan, tujuh langkah tersebut tidak harus berurutan dan tidak harus
serentak. Pilih langkah-langkah yang paling strategis dan paling mudah dilaksanakan di Rumah
Sakit Umum Daerah Haji Makassar. Bila langkah-langkah ini berhasil maka kembangkan
langkah-langkah yang belum dilaksanakan. Bila tujuh langkah ini telah dilaksanakan dengan
baik Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar dapat menambah penggunaan metoda-metoda
lainnya.
Uraian Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar
adalah sebagai berikut:
A.

Membangun Kesadaran Akan Nilai Keselamatan Pasien

Menciptakan kepemimpinan dan budaya yang terbuka dan adil.


1.
Bagi Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar:
Pastikan Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar memiliki kebijakan yang menjabarkan apa
yang harus dilakukan staf segera setelah terjadi insiden, bagaimana langkah-langkah

pengumpulan fakta harus dilakukan dan dukungan apa yang harus diberikan kepada staf,
pasien dan keluarga.
1)
Pastikan Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar memiliki kebijakan yang
menjabarkan peran dan akuntabilitas individual bilamana ada insiden.
2)
Tumbuhkan budaya pelaporan dan belajar dari insiden yang terjadi di Rumah Sakit
Umum Daerah Haji Makassar.
3)
1.
1)
2)

Lakukan asesmen dengan menggunakan survei penilaian keselamatan pasien.


Bagi Unit/Tim:
Pastikan rekan sekerja anda merasa mampu untuk berbicara
mengenai kepedulian mereka dan berani melaporkan bilamana ada insiden.

3)
Demonstrasikan kepada tim anda ukuran-ukuran yang dipakai di Rumah Sakit Umum
Daerah Haji Makassar anda untuk memastikan semua laporan dibuat secara terbuka dan terjadi
proses pembelajaran serta pelaksanaan tindakan/solusi yang tepat.
B.

Memimpin Dan Mendukung Staf

Pimpinan melakukan pencanangan/deklarasi program keselamatan pasien RS RS membentuk


komite/tim/panitia keselamatan pasien yang bertugas mengkoordinasikan dan melaksanakan
program keselamatan pasien di RS. Pimpinan melakukan rapat koordinasi multi disiplin secara
berkala untuk menilai perkembangan program keselamatan pasien.
Pimpinan melakukan ronde keselamatan pasien (patient safety walk around) secara rutin, diikuti
berbagai unsure terkait. Setiap timbang terima antar shift dilakukan briefing untuk
mengidentifikasi risiko keselamatan pasien dan debriefing untuk meminitor risiko tersebut.
Membangun komitmen dan fokus yang kuat dan jelas tentang Keselamatan Pasien di Rumah
Sakit Umum Daerah Haji Makassar. Pimpinan memilih dan menetapkan champion disetiap
unit/bagian sebagai motor penggerak pelaksanaan program keselamatan pasien di RS.
1.
Untuk Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar:
1)
Pastikan ada anggota Direksi atau Pimpinan yang bertanggung jawab atas Keselamatan
Pasien

2)
Identifikasi di tiap bagian Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar, orang-orang yang
dapat diandalkan untuk menjadi penggerak dalam gerakan Keselamatan Pasien
3)
Prioritaskan Keselamatan Pasien dalam agenda rapat Direksi/Pimpinan maupun rapatrapat manajemen Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar
4)
Masukkan Keselamatan Pasien dalam semua program latihan staf Rumah Sakit Umum
Daerah Haji Makassar anda dan pastikan pelatihan ini diikuti dan diukur efektivitasnya.
1.
Untuk Unit/Tim:
1)
Nominasikan penggerak dalam tim anda sendiri untuk memimpin Gerakan Keselamatan
Pasien
2)
Jelaskan kepada tim anda relevansi dan pentingnya serta manfaat bagi mereka dengan
menjalankan gerakan Keselamatan Pasien
3)

Tumbuhkan sikap ksatria yang menghargai pelaporan insiden.

C.

Mengintegrasikan aktivitas pengelolaan risiko

Mengembangkan sistem dan proses pengelolaan risiko, serta lakukan identifikas dan asesmen
hal yang potensial bermasalah.
1.
Untuk Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar:
1)
Telaah kembali struktur dan proses yang ada dalam manajemen risiko klinis dan nonklinis,
serta pastikan hal tersebut mencakup dan terintegrasi dengan Keselamatan Pasien dan staf;
2)
Kembangkan indikator-indikator kinerja bagi sistem pengelolaan risiko yang dapat
dimonitor oleh direksi/pimpinan Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar;
3)
Gunakan informasi yang benar dan jelas yang diperoleh dari sistem pelaporan insiden
dan asesmen risiko untuk dapat secara proaktif meningkatkan kepedulian terhadap pasien.
1.
Untuk Unit/Tim:
1)
Bentuk forum-forum dalam Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar untuk
mendiskusikan isu-isu Keselamatan Pasien guna memberikan umpan balik kepada manajemen
yang terkait;

2)
Pastikan ada penilaian risiko pada individu pasien dalam proses asesmen risiko Rumah
Sakit Umum Daerah Haji Makassar;
3)
Lakukan proses asesmen risiko secara teratur, untuk menentukan akseptabilitas setiap
risiko, dan ambillah langkah-langkah yang tepat untuk memperkecil risiko tersebut;
4)
Pastikan penilaian risiko tersebut disampaikan sebagai masukan ke proses asesmen dan
pencatatan risiko Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar.
D.

Mengembangkan Sistem Pelaporan

Memastikan staf dapat melaporkan kejadian/ insiden, serta Rumah Sakit Umum Daerah Haji
Makassar mengatur pelaporan kepada Komite Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit
Umum Daerah Haji Makassar.
1.
Untuk Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar:
Lengkapi rencana implementasi sistem pelaporan insiden ke dalam maupun ke luar, yang harus
dilaporkan ke Komite Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit Umum Daerah Haji
Makassar.
1.
Untuk Unit/Tim:
Berikan semangat kepada rekan sekerja anda untuk secara aktif melaporkan setiap insiden
yang terjadi dan insiden yang telah dicegah tetapi tetap terjadi juga, karena mengandung bahan
pelajaran yang penting.
E.

Melibatkan dan Berkomunikasi dengan Pasien

Mengembangkan cara-cara komunikasi yang terbuka dengan pasien.


1.
Untuk Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar:
1)
Pastikan Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar memiliki kebijakan yang secara jelas
menjabarkan cara-cara komunikasi terbuka selama proses asuhan tentang insiden dengan para
pasien dan keluarganya.
2)
Pastikan pasien dan keluarga mereka mendapat informasi yang benar dan jelas bilamana
terjadi insiden.
3)
Berikan dukungan, pelatihan dan dorongan semangat kepada staf agar selalu terbuka
kepada pasien dan keluarganya.

1.
Untuk Unit/Tim:
1)
Pastikan tim anda menghargai dan mendukung keterlibatan pasien dan keluarganya bila
telah terjadi insiden
2)
Prioritaskan pemberitahuan kepada pasien dan keluarga bilamana terjadi insiden, dan
segera berikan kepada mereka informasi yang jelas dan benar secara tepat
3)
Pastikan, segera setelah kejadian, tim menunjukkan empati kepada pasien dan
keluarganya.
F.

Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan Pasien

Mendorong staf untuk melakukan analisis akar masalah untuk belajar bagaimana dan mengapa
kejadian itu timbul.
1.
Untuk Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar:
1)
Pastikan staf yang terkait telah terlatih untuk melakukan kajian insiden secara tepat, yang
dapat digunakan untuk mengidentifikasi penyebab.
2)
Kembangkan kebijakan yang menjabarkan dengan jelas criteria pelaksanaan Analisis
Akar Masalah (root cause analysis/RCA) yang mencakup insiden yang terjadi dan minimum
satu kali per tahun melakukan Failure Modes and Effects Analysis (FMEA) untuk proses risiko
tinggi.
1.
1)

Untuk Unit/Tim:
Diskusikan dalam tim anda pengalaman dari hasil analisis insiden.

2)
Identifikasi unit atau bagian lain yang mungkin terkena dampak di masa depan dan
bagilah pengalaman tersebut secara lebih luas.
G.

Mencegah Cedera Melalui Implementasi Sistem Keselamatan Pasien

Menggunakan informasi yang ada tentang kejadian/masalah untuk melakukan perubahan pada
sistem pelayanan.
1.
Untuk Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar:
1)
Gunakan informasi yang benar dan jelas yang diperoleh dari sistem pelaporan, asesmen
risiko, kajian insiden, dan audit serta analisis, untuk menentukan solusi setempat.

2)
Solusi tersebut dapat mencakup penjabaran ulang system (struktur dan proses),
penyesuaian pelatihan staf dan/atau kegiatan klinis, termasuk penggunaan instrumen yang
menjamin keselamatan pasien.
3)

Lakukan asesmen risiko untuk setiap perubahan yang direncanakan.

4)
Sosialisasikan solusi yang dikembangkan oleh Komite Nasional Keselamatan Pasien
Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar.
5)
Beri umpan balik kepada staf tentang setiap tindakan yang diambil atas insiden yang
dilaporkan.
Untuk Unit/Tim:
1)
Libatkan tim anda dalam mengembangkan berbagai cara untuk membuat asuhan pasien
menjadi lebih baik dan lebih aman.
2)
Telaah kembali perubahan-perubahan yang dibuat tim anda dan pastikan
pelaksanaannya.
3)
Pastikan tim anda menerima umpan balik atas setiap tindak lanjut tentang insiden yang
dilaporkan.
6.

Insiden keselamatan pasien

Insiden keselamatan pasien adalah setiap kejadian yang tidak disengaja dan kondisi yang
mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera yang dapat dicegah pada pasien, terdiri
dari:
1.
2.
3.
4.
5.

Kejadian Tidak Diharapkan, selanjutnya disingkat KTD adalah insiden yang


mengakibatkan cedera pada pasien.
Kejadian Nyaris Cedera, selanjutnya disingkat KNC adalah terjadinya insiden yang
belum sampai terpapar ke pasien.
Kejadian Tidak Cedera, selanjutnya disingkat KTC adalah insiden yang sudah terpapar
ke pasien, tetapi tidak timbul cedera.
Kondisi Potensial Cedera, selanjutnya disingkat KPC adalah kondisi yang sangat
berpotensi untuk menimbulkan cedera, tetapi belum terjadi insiden.
Kejadian sentinel adalah suatu KTD yang mengakibatkan kematian atau cedera yang
serius.

7.

Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien, Analisis dan Solusi

Pelaporan insiden adalah suatu sistem untuk mendokumentasikan laporan insiden keselamatan
pasien, analisis dan solusi untuk pembelajaran. Sistem pelaporan insiden dilakukan secara
internal di Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar dan eksternal kepada Komite
Keselamatan Pasien Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar (KKPRS) Perhimpunan
Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar Seluruh Indonesia (PERSI) sampai terbentuknya
Komite Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar. Dalam Pasal
17 permenkes no 1691 tahun 2011 ayat (1) menyatakan Komite Keselamatan Pasien Rumah
Sakit Umum Daerah Haji Makassar yang telah ada dan dibentuk oleh Perhimpunan Rumah
Sakit Umum Daerah Haji Makassar Seluruh Indonesia (PERSI) masih tetap melaksanakan
tugas sepanjang Komite Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit Umum Daerah Haji
Makassar belum terbentuk
Laporan Insiden keselamatan pasien Internal adalah pelaporan secara tertulis setiap kondisi
potensial cedera dan insiden yang menimpa pasien, keluarga pengunjung, maupun karyawan
yang terjadi di Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar. Laporan insiden keselamatan pasien
eksternal KKP-RS. Pelaporan secara anonim dan tertulis ke KKP-RS setiap Kondisi Potensial
cedera dan Insiden Keselamatan Pasien yang terjadi pada pasien, dan telah dilakukan analisa
penyebab, rekomendasi dan solusinya.
Pelaporan insiden bertujuan untuk menurunkan insiden dan mengoreksi sistem dalam rangka
meningkatkan keselamatan pasien dan tidak untuk menyalahkan orang (non blaming). Setiap
insiden harus dilaporkan secara internal kepada TKPRS dalam waktu paling lambat 224 jam
sesuai format laporan.
TKPRS melakukan analisis dan memberikan rekomendasi serta solusi atas insiden yang
dilaporkan dan melaporkan hasil kegiatannya kepada kepala Rumah Sakit Umum Daerah Haji
Makassar. Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar harus melaporkan insiden, analisis,
rekomendasi dan solusi Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) secara tertulis kepada Komite
Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar sesuai format
laporan:

Akses Website KKP-RS: http://www.inapatsafety-persi.or.id

Klik Banner Laporan Insiden Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar di sebelah
kanan atas.

Setelah tampil terdapat 2 isian yang perlu diperhatikan yaitu :


Bagi Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar yang telah mempunyai kode Rumah
Sakit Umum Daerah Haji Makassaruntuk melanjutkan ke form laporan Insiden keselamatan
pasien KKP-RS

Bagi Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar yang belum mempunyai kode Rumah
Sakit Umum Daerah Haji Makassardiharapkan mengisi Form data isian RS untuk
mendapatkan kode Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar yang dapat digunakan untuk
melanjutkan ke form Laporan Insiden, KKP-RS.

Apabila masih kurang jelas silahkan hubungi :

SekretariaT KKPRS PERSI d/a Kantor PERSI : Jl. Boulevard Artha Gading Blok A-7 A No. 28,
Kelapa Gading Jakarta Utara 14240 Telp : (021) 45845303/304 Jakarta.
Sistem pelaporan insiden kepada Komite Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit Umum
Daerah Haji Makassar harus dijamin keamanannya, bersifat rahasia, anonym (tanpa identitas),
tidak mudah diakses oleh yang tidak berhak. Pelaporan insiden kepada Komite Nasional
Keselamatan Pasien Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar mencakup KTD, KNC, dan
KTC, dilakukan setelah analisis dan mendapatkan rekomendasi dan solusi dari TKPRS.
Komite Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar melakukan
pengkajian dan memberikan umpan balik (feedback) dan solusi atas laporan yang sampaikan
oleh Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar.
Empat Prinsip Penting Pelaporan Insiden:
1.

Fungsi utama pelaporan Insiden adalah untuk meningkatkan Keselamatan Pasien


melalui pembelajaran dari kegagalan/ kesalahan.
2.
Pelaporan Insiden harus aman. Staf tidak boleh dihukum karena melapor
3.
Pelaporan Insiden hanya akan bermanfaat kalau menghasilkan respons yang
konstruktif. Minimal memberi umpan balik ttg data KTD & analisisnya. Idealnya, juga
menghasilkan rekomendasi utk perubahan proses/SOP dan sistem.
Analisis yang baik & proses pembelajaran yang berharga memerlukan keahlian/keterampilan.
Tim KPRS perlu menyebarkan informasi, rekomendasi perubahan, pengembangan solusi.
Karakteristik laporan:
1.

Bersifat tidak menghukum: Pelapor bebas dari rasa takut dan pembalasan dendam atau
hukuman sebagai akibat laporannya

2.
3.

Rahasia: Identitas pasien, pelapor dan institusi disembunyikan


Independen: sistem pelaporan yang independen bagi pelapor dan organisasi dari
hukuman.
4.
Expert analysis: laporan di evaluasi oleh ahli yang menguasai masalah klinis dan telah
terlatih untuk mengenal penyebab system yang utama.
5.
Tepat waktu: Laporan dianalisa segera dan rekomendasinya didesiminasikan
secepatnya, khususnya bila terjadi bahaya serius.
6.
Orientasi sistem: Rekomendasi lebih berfokus kepada perbaikan dalam system, proses,
atau produk daripada terhadap individu
7.
Responsif: Lembaga yang menerima laporan merupakan lembaga yang punya
kapasitas memberikan rekomendasi.
8. Pendekatan Komprehensif dalam Pengkajian Keselamatan Pasien
Pengkajian pada keselamatan pasien secara garis besar dibagi kepada struktur, lingkungan,
peralatan dan teknologi, proses, orang dan budaya.
1. Struktur
Kebijakan dan prosedur organisasi: Cek telah terdapat kebijakan dan prosedur tetap yang
telah dibuat dengan mempertimbangkan keselamatan pasien.
Fasilitas: Apakah fasilitas dibangun untuk meningkatkan keamanan ?
Persediaan: Apakah hal-hal yang dibutuhkan sudah tersedia seperti persediaan di ruang
emergency, ruang ICU
2. Lingkungan
Pencahayaan dan permukaan: berkontribusi terhadap pasien jatuh atau cedera
Temperature: pengkondisian temperature dibutuhkan dibeberapa ruangan seperti ruang
operasi, hal ini diperlukan misalnya pada saat operasi bedah tulang suhu ruangan akan
berpengaruh terhadap cepatnya pengerasan dari semen
Kebisingan: lingkungan yang bising dapat menjadi distraksi saat perawat sedang memberikan
pengobatan dan tidak terdengarnya sinyal alarm dari perubahan kondisi pasien
Ergonomic dan fungsional: ergonomic berpengaruh terhadap penampilan seperti teknik
memindahkan pasien, jika terjadi kesalahan dapat menimbulkan pasien jatuh atau cedera.
Selain itu penempatan material di ruangan apakah sudah disesuaikan dengan fungsinya seperti
pengaturan tempat tidur, jenis, penempatan alat sudah mencerminkan keselamatan pasien.
3. Peralatan dan teknologi
Fungsional: perawat harus mengidentifikasi penggunaan alat dan desain dari alat.
Perkembangan kecanggihan alat sangat cepat sehingga diperlukan pelatihan untuk
mengoperasikan alat secara tepat dan benar.
Keamanan: Alat-alat yang digunakan juga harus didesain penggunaannya dapat
meningkatkan keselamatan pasien.
4. Proses

Desain kerja: Desain proses yang tidak dilandasi riset yang adekuat dan kurangnya
penjelasan dapat berdampak terhadap tidak konsisten perlakuan pada setiap orang hal ini akan
berdampak terhadap kesalahan. Untuk mencegah hal tersebut harus dilakukan research based
practice yang diimplementasikan.
Karakteristik risiko tinggi: melakukan tindakan keperawatan yang terus-menerus saat praktek
akan menimbulkan kelemahan, dan penurunan daya ingat hal ini dapat menjadi risiko tinggi
terjadinya kesalahan atau lupa oleh karena itu perlu dibuat suatu system pengingat untuk
mengurangi kesalahan
Waktu: waktu sangat berdampak pada keselamatan pasien hal ini lebih mudah tergambar ada
pasien yang memerlukan resusitasi, yang dilanjutkan oleh beberapa tindakan seperti pemberian
obat dan cairan, intubasi dan defibrilasi dan pada pasien-pasien emergency oleh karena itu
pada saat-saat tertentu waktu dapat menentukan apakah pasien selamat atau tidak.
Perubahan jadual dinas perawat juga berdampak terhadap keselamatan pasien karena
perawat sering tidak siap untuk melakukan aktivitas secara baik dan menyeluruh.
Waktu juga sangat berpengaruh pada saat pasien harus dilakukan tindakan diagnostic atau
ketepatan pengaturan pemberian obat seperti pada pemberian antibiotic atau tromblolitik,
keterlambatan akan mempengaruhi terhadapap diagnosis dan pengobatan.
Efisiensi: keterlambatan diagnosis atau pengobatan akan memperpanjang waktu perawatan
tentunya akan meningkatkan pembiayaan yang harus di tanggung oleh pasien.
5. Orang
Sikap dan motivasi: sikap dan motivasi sangat berdampak kepada kinerja seseorang. Sikap
dan motivasi yang negative akan menimbulkan kesalahan-kesalahan.
Kesehatan fisik: kelelahan, sakit dan kurang tidur akan berdampak kepada kinerja dengan
menurunnya kewaspadaan dan waktu bereaksi seseorang.
Kesehatan mental dan emosional: hal ini berpengaruh terhadap perhatian akan kebutuhan
dan masalah pasien. tanpa perhatian yang penuh akan terjadi kesalahan kesalahan dalam
bertindak.
Faktor interaksi manusia dengan teknologi dan lingkungan: perawat memerlukan pendidikan
atau pelatihan saat dihadapkan kepada penggunaan alat-alat kesehatan dengan teknologi baru
dan perawatan penyakit-penyakit yang sebelumnya belum tren seperti perawatan flu babi
(swine flu).
Faktor kognitif, komunikasi dan interpretasi: kognitif sangat berpengaruh terhadap
pemahaman kenapa terjadinya kesalahan (error). Kognitif seseorang sangat berpengaruh
terhadap bagaimana cara membuat keputusan, pemecahan masalah baru mengkomunikasikan
hal-hal yang baru.
6. Budaya
Faktor budaya sangat bepengaruh besar terhadap pemahaman kesalahan dan keselamatan
pasien.
Pilosofi tentang keamanan: keselamatan pasien tergantung kepada pilosofi dan nilai yang

dibuat oleh para pimpinanan pelayanan kesehatan


Jalur komunikasi: jalur komunikasi perlu dibuat sehingga ketika terjadi kesalahan dapat segera
terlaporkan kepada pimpinan (siapa yang berhak melapor dan siapa yang menerima laporan).
Budaya melaporkan, terkadang untuk melaporkan suatu kesalahan mendapat hambatan
karena terbentuknya budaya blaming. Budaya menyalahkan (Blaming) merupakan phenomena
yang universal. Budaya tersebut harus dikikis dengan membuat protap jalur komunikasi yang
jelas.
Staff-kelebihan beban kerja, jam dan kebijakan personal. Faktor lainnya yang penting adalah
system kepemimpinan dan budaya dalam merencanakan staf, membuat kebijakan dan
mengantur personal termasuk jam kerja, beban kerja, manajemen kelelahan, stress dan sakit
9.

Alur Sirkulasi Pasien di Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar

Alur Sirkulasi Pasien dalam Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar adalah sebagai berikut:
1.

Pasien masuk Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar melakukan pendaftaran/
admisi pada instalasi rawat jalan (poliklinik) atau pada instalasi gawat darurat apabila pasien
dalam kondisi gawat darurat yang membutuhkan pertolongan medis segera/ cito.
2.
Pasien yang mendaftar pada instalasi rawat jalan akan diberikan pelayanan medis pada
klinik-klinik tertentu sesuai dengan penyakit/ kondisi pasien.

Pasien dengan diagnosa penyakit ringan setelah diberikan pelayanan medis selanjutnya

dapat langsung pulang.


Pasien dengan kondisi harus didiagnosa lebih mendetail akan dirujuk ke instalasi

radiologi dan atau laboratorium. Setelah mendapatkan hasil foto radiologi dan atau
laboratorium, pasien mendaftar kembali ke instalasi rawat jalan sebagai pasien lama.
Selanjutnya apabila harus dirawat inap akan dikirim ke ruang rawat inap. Selanjutnya

akan didiagnosa lebih mendetail ke instalasi radiologi dan atau laboratorium. Kemudian jika
pasien harus ditindak bedah, maka pasien akan dijadwalkan ke ruang bedah. Pasca bedah,
untuk pasien yang kondisinya belum stabil akan dikirim ke ruang Perawatan Intensif, pasien
yang kondisinya stabil akan dikirim ke ruang rawat inap. Selanjutnya pasien meninggal akan
dikirim ke instalasi pemulasaraan jenazah. Setelah pasien sehat dapat pulang
Pasien kebidanan dan penyakit kandungan tingkat lanjut akan dirujuk ke instalasi

kebidanan dan penyakit kandungan. Apabila harus ditindak bedah, maka pasien akan dikirim
ke ruang bedah. Pasca bedah, untuk pasien yang kondisinya belum stabil akan dikirim ke
ruang Perawatan Intensif, pasien yang kondisinya stabil akan dikirim ke ruang rawat inap
kebidanan. Selanjutnya pasien meninggal akan dikirim ke instalasi pemulasaraan jenazah.
Setelah pasien sehat dapat pulang.
1.
Pasien melalui instalasi gawat darurat akan diberikan pelayanan medis sesuai dengan
kondisi kegawat daruratan pasien.

Pasien dengan tingkat kegawatdaruratan ringan setelah diberikan pelayanan medis


dapat langsung pulang.
Pasien dengan kondisi harus didiagnosa lebih mendetail akan dirujuk ke instalasi
radiologi dan atau laboratorium. Selanjutnya apabila harus ditindak bedah, maka pasien akan
dikirim ke ruang bedah. Pasca bedah, untuk pasien yang kondisinya belum stabil akan
dikirim ke ruang Perawatan Intensif, pasien yang kondisinya stabil akan dikirim ke ruang
rawat inap. Selanjutnya pasien meninggal akan dikirim ke instalasi pemulasaraan jenazah,
pasien sehat dapat pulang.

10.

Pendidikan dan Pelatihan

RS menyelenggarakan pendidikan & pelatihan yang berkelanjutan untuk meningkatkan dan


memelihara kompetensi staf serta mendukung pendekatan interdisiplin dalam pelayanan
pasien. RS mengintegrasikan topik keselamatan pasien dalam setiap kegiatan in-service
training.
RS melaksanakan program pengembangan dan pelatihan staf secara konsisten. RS melakukan
workshop keselamatan pasien secara in-house training dan melibatkan Tim KKPRS atau
mengirim 2-3 orang staf untuk mengikuti workshop keselamatan pasien yang diselenggarakan
KKPRS-PERSI.
RS mempunyai program orientasi yang memuat topik keselamatan pasien bagi staf yang baru
masuk/pindahan/mahasiswa. Staf yang bertugas di unit khusus (ICU, ICCU, IGD, HD, NICU,
PICU, OK) harusmendapat pelatihan keselamatan pasien.
11. Penutup
Keamanan adalah prinsip yang paling fundamental dalam pemberian pelayanan kesehatan
maupun keperawatan, dan sekaligus aspek yang paling kritis dari manajemen kualitas.
Keselamatan pasien (patient safety) adalah suatu sistem dimana Rumah Sakit Umum Daerah
Haji Makassar membuat asuhan pasien lebih aman, mencegah terjadinya cidera yang
disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan
yang seharusnya diambil. Sistem tersebut meliputi pengenalan risiko, identifikasi dan
pengelolaan hal yang berhubungan dengan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden,
kemampuan belajar dari insiden, tindak lanjut dan implementasi solusi untuk meminimalkan
risiko.
Sebenarnya petugas kesehatan tidak bermaksud menyebabkan cedera pasien, tetapi fakta
tampak bahwa di bumi ini setiap hari ada pasien yang mengalami KTD (Kejadian Tidak

Diharapkan). KTD, baik yang tidak dapat dicegah (non error) maupun yang dapat dicegah
(error), berasal dari berbagai proses asuhan pasien.
Mengingat masalah keselamatan pasien merupakan masalah yang penting dalam sebuah
Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar, maka diperlukan standar keselamatan pasien
Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar yang dapat digunakan sebagai acuan bagi Rumah
Sakit Umum Daerah Haji Makassar di Indonesia. Standar keselamatan pasien Rumah Sakit
Umum Daerah Haji Makassar yang saat ini digunakan mengacu pada Hospital Patient Safety
Standards yang dikeluarkan oleh Join Commision on Accreditation of Health Organization di
Illinois pada tahun 2002 yang kemudian disesuaikan dengan situasi dan kondisi di Indonesia.
Pada akhirnya untuk mewujudkan keselamatan pasien butuh upaya dan kerjasama berbagai
pihak dari seluruh komponen pelayanan kesehatan.
DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. 2008, Panduan Nasional Keselamatan Pasien Rumah Sakit Umum Daerah Haji
Makassar (Patient Safety), 2 edn, Bakti Husada, Jakarta.
_____. 2008, Pedoman Pelaporan Insiden Keselamatan Pasien (IKP) (Patient Safety Incident
Report), 2 edn, Bakti Husada, Jakarta.
IOM, 2000. To Err Is Human: Building a Safer Health
Systemhttp://www.nap.edu/catalog/9728.html
___, 2004. Patient Safety: Achieving a New Standard for
Carehttp://www.nap.edu/catalog/10863.html
Kemkes RI. 2010. Pedoman Teknis Fasilitas Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar Kelas
B. Pusat Sarana, Prasarana dan Peralatan Kesehatan, Sekretariat Jenderal, KEMKES-RI
Manojlovich, M, et al 2007, Healthy Work Environment, Nurse-Phycisian Communication, and
Patients Outcomes, American Journal of Critical Care vol. 16, pp. 536-43.
Millar, J, et al 2004, Selecting Indicators for Patient Safety at the Health Systems Level in
OECD Countries. DELSA/ELSA/WD/HTP, Paris, OECD Health Technical Paper.
Pallas, LOB, et al 2005, Nurse-Physician Relationship Solutions and Recomendation for
Change, Nursing Health Services Research Unit, Ontario. database.
Parwijanto, H 2008, Kajian Komunikasi Dalam Organisasi, in Perilaku Organisasi. uns.ac.id,
Jakarta, 10 Desember 2009.
Robbins, SP 2003, Perilaku Organisasi, 10 edn, PT. Indeks Gramedia, Jakarta.

Vazirani, S, et al 2005, Effect of A Multidicpinary Intervention on Communication and


Collaboratoriumoration, American Journal of Critical Care, Proquest Science Journal, vol. 14, p.
71.
Wakefield, JG & Jorm, CM 2009, Patient Safety a balanced measurements framework,
Australian Health Review, vol. 33, no. 3.
Yahya, A. 2009 Integrasikan Kegiatan Manajemen Risiko. Workshop Keselamatan
Pasien&Manajemen Risiko Klinis. PERSI: KKP-RS