Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang Masalah


Dalam Al-Quranul Karim Surat Al-Ashr (103): 1-3, Allah berfirman yang
artinya sebagai berikut. 1.) Demi masa. 2.) Sesungguhnya manusia itu benar-benar
dalam kerugian. 3.) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal
shalih dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati
supaya menetapi kesabaran.
Ayat di atas menjelaskan bahwa manusia memang benar-benar berada
dalam kerugian apabila tidak memanfaatkan waktu yang telah diberikan oleh Allah
secara optimal untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan baik. Hanya individuindividu yang beriman dan kemudian mengamalkannyalah yang tidak termasuk
orang yang merugi, serta mereka bermanfaat bagi orang banyak dengan melakukan
aktivitas dakwah dalam banyak tingkatan.
Namun, kenyatan pada zaman sekarang banyak manusia yang menyia
nyiakan waktu hidupnya hanya untuk mencari kenikmatan hidup dengan cara hurahura. Hal ini tentu saja bertentangan dengan prinsip islam yang mengakibatkan
makin lunturnya akhlak, moral, dan ilmu pengetahuan.
Manajemen waktu merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi
kebiasaan hidup manusia, memanajemen waktu dengan baik maka manusia akan
mendapatkan manfaat yang didapat bukan kerugian. Sayangnya, mayoritas pemuda
sekarang, kurang mementingkan manajemen waktu. Mereka hanya mengikuti
waktu yang berlalu dengan aktivitasnya. Hal inilah yang kemudian menjadi
kebiasaan buruk dalam hidup manusia.
Sebagai pemuda islam, kita harus bisa merubah kebiasaan buruk dalam
mengatur waktu. Apalagi kita merupakan generasi penerus bangsa yang akan
menjalani estafet kepemimpinan yang harus memiliki rasa tanggung jawab tinggi.
Berdasarkan, kebiasaan buruk manajemen waktu yang menjamur di
masyarakat, maka penulis tertarik untuk membahas tentang Prinsip Pendidikan

Waktu dalam Al-Quran.


B. Perumusan Masalah
Dengan latar belakang masalah tersebut dapat didefinisikan masalahmasalah yang berupa pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :
1

1. Apa yang dimaksud dengan Waktu?


2. Apa yang dimaksud prinsip pendidikan waktu?
3. Bagaimana dalil prinsip pendidikan waktu?
4. Bagaimana cara mengaplikasikan prinsip pendidikan waktu dalam al quran?
C.

Tujuan Penulisan
Sesuai dengan permasalahan yang ada maka penulisan ini dilakukan
dengan tujuan sebagai berikut :

1. Untuk mendeskripsikan pengertian dari Waktu


2. Untuk mengetahui prinsip pendidikan waktu
3. Untuk mengetahui dalil prinsip pendidikan waktu.
4. Untuk mengetahui cara mengaplikasikan .prinsip pendidikan waktu dalam al
quran
D.

Metode Penulisan
Penelitian dilakukan dengan metode literatur dan analisis isi, yakni
mengkaji berbagai literatur yang dibahas dalam penelitian ini serta dimaknakan
secara deskritif isi yang dikandungnya dengan dilengkapi pemaknaan logis atas
data yang ada.
Data dikumpulkan dengan cara-cara sebagai berikut :
1. Mengumpulkan bahan-bahan yang berkaitan dengan pembahasan
2. Mengklarifikasikan data atau bahan
3. Membaca semua bahan-bahan yang telah terkumpul
4. Menyeleksi dan menuliskannya dalam bentuk laporan penulisan karya
tulis.

E.

Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah pembaca memahami makalah ini, penulis membuat
sistematika penulisan sebagai berikut
Bab 1 Pendahuluan
Bab ini berisi tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan
penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.
Bab II Esensi Waktu
Bab ini memaparkan uraian esensi waktu
Bab III Prinsip Pendidikan Waktu dalam Al-Quran

Bab ini memaparkan uraian keutamaaan Prinsip Pendidikan Waktu dalam AlQuran
Bab IV Penutup
Bab ini menguraikan simpulan dan saran yang telah dibahas dalam makalah
ini.

BAB II
Esensi Waktu

A.

Esensi waktu
Waktu adalah esensi kehidupan manusia. Dengan waktu manusia mengukur
aktivitasnya sehari-sehari. Dalam Islam, waktu adalah sangat penting. Shalat lima
waktu, misalnya, sah atau tidaknya shalat sangat tergantung pada waktu
pelaksanaannya. Sehingga Nabi SAW ketika ditanya seorang sahabat tentang

perbuatan apakah yang paling utama? Beliau menjawab: Mengerjakan salat pada
waktunya!
Secara tidak langsung pengaturan shalat lima waktu dalam sehari semalam,
mengajarkan dan mengingatkan umat Islam akan esensi waktu. Begitu pula ibadah
puasa, haji dan lainnya, memerlukan ketepatan waktu dalam pelaksanaannya.
Melakukan ibadah-ibadah tersebut di luar waktunya menyalahi aturan agama dan
hukumnya tidak sah.
Dari sini dapat dilihat betapa waktu menjadi sangat berarti dalam kehidupam alam
semesta. Dalam Al-Quran, Allah berkali-kali bersumpah dengan waktu, seperti
dalam surah Al-`Ashr, Adh-Dhuha, Al-Fajr dan lainnya. Bahkan proses penciptaan
alam semesta yang disebutkan dalam Al-Quran dikaitkan dengan waktu (Al-Araf:
54, Yunus: 3, Hud: 7, dan Al-Furqan: 59).
Begitu pula dalam hadis Nabi, seperti yang diriwayatkan dari Abu Hurairah,
tentang penjelasan proses penciptaan bumi, Rasulullah memegang kedua tanganku
dan berkata: Sesungguhnya Allah menciptakan tanah pada hari sabtu, menciptakan
gunung-gunung pada hari ahad, menciptakan pohon pada hari senin, menciptakan
kegelapan pada hari selasa, menciptakan cahaya pada hari rabu, dan menyebarkan
binatang pada hari kamis, menciptakan penciptaan lain pada hari jumat waktu ashar
sampai waktu malam. (HR MuslimdanIbnu Khuzaimahdengan sanad shahih)
Waktu yang dalam kehidupan manusia merupakan pergerakan bumi pada
porosnya (rotasi) dan pergerakannya mengelilingi terhadap matahari (evolusi). Begitu
pentingya waktu, Allah SWT menetapkan jumlah bulan dalam setahun adalah 12
bulan seperti termaktub dalam Surah At-Taubah ayat 36. Kemudian Rasullah SAW
menjelaskan dengan isyarat jari tangan tentang jumlah hari dalam setiap bulan dalam
sabdanya bahwa satu bulan itu terdiri 29 atau 30 hari (HR. Bukhari-Muslim). Beliau
menjelaskan pula cara menetapkan awal bulan dan akhir bulan, seperti dalam hadis
ruyat hilal (melihat bulan sabit) yang sangat masyhur, dan lain

sebagainya

menunjukkan bahwa waktu bagian dari kegiatan ibadah umat Islam. Sehingga dalam

kalender Islam (hijriyah), selama setahun telah ditetapkan kegiatan ibadah harian,
mingguan, bulanan dan tahunan.
B.

Konsep Waktu Dalam Al-Quran


Waktu dalam Al-Quran, memiliki pengertian yang terbagi dalam empat
kategori, waqt, ajal, dahr, dan ashr.Waqt digunakan dalam konteks yang berbedabeda, dan diartikan sebagai batas akhir suatu kesempatan untuk menyelesaikan
pekerjaan. Arti ini tercermin dari waktu-waktu shalat yang memberi kesan tentang
memberi kesan mengenai masa yang dialami (seperti detik, menit, jam, hari,
minggu, bulan, tahun dan seterusnya), dan sekaligus keharusan untuk
menyelesaikan

pekerjaan

dalam

waktu

waktu

tersebut,

dan

bukannya

membiarkannya berlalu hampa. Ajal memberi kesan bahwa segala sesuatu ada batas
waktu berakhirnya, sehingga tidak ada yang langgeng dan abadi kecuali Allah
SWT. Dahr memberi kesan bahwa segala sesuatu pernah tiada, dan bahwa
keberadaannya menjadikan ia terikat oleh waktu (dahr). Ashr memberi kesan bahwa
saat-saat yang dialami oleh manusia harus diisi dengan kerja memeras keringat dan
pikiran. Dari keempat kesan pandangan Al-Quran tentang waktu menunjukkan
bahwa hidup mengarah kepada ajal (batas akhir) yaitu kematian. Hidup merupakan
rangkaian dari penggalan waktu yang terus mengalir menjadi ukuran umur yang
akan mempunyai makna apabila diisi dengan kerja keras, memeras keringat dan
tenaga (ashr). Dan Dalam Al-Quran cara memanfaatkan waktu yaitu dengan diisi
aktivitas-aktivitas yang positif yaitu dengan iman, amal shaleh, saling menasehati
dalam kebenaran dan kesabaran. Penggambaran nilai-nilai Islami yang hendak
diwujudkan dalam pribadi manusia didik yaitu mencapai pertumbuhan kepribadian
manusia yang menyeluruh secara seimbang melalui latihan jiwa, intelek, perasa dan
indra yang mampu memadukan fungsi iman, ilmu, dan amal secara integral bagi
terbinanya kehidupan yang harmonis, baik dunia maupun akhirat.
Waktu dalam Al-Quran akan bermakna apabila dipandang dan disikapi
dengan tepat dan hal itu berimplikasi terhadap pembentukan manusia yang
berprestasi, produktif, disiplin, kreatif, berkualitas, serta pencapaian tertinggi
berupa kebahagiaan, kesejahteraan, dan keselamatan di dunia dan akhirat. Hal ini
berarti juga berimplikasi terhadap pencapaian tujuan Pendidikan Islam baik tujuan

khusus, umum maupun tujuan tertinggi/terakhir Pendidikan Islam. Dari sinilah


implikasi waktu terlihat setelah manusia mampu menghargai waktu
C. Investasi waktu
Waktu sangat berharga bagi kehidupan manusia. Dalam dunia modern
efesiensi waktu dalam produksi menjadi acuan. Bagi Barat yang materialis, waktu
adalah uang (time is money). Namun dalam Islam waktu tidak semata-mata bernilai
materi tapi mempunyai nilai ibadah dan amal shaleh. Sehingga waktu bukan sematamata bernilai uang, melainkan juga tugas dan tanggung jawab.
Ketika Nabi SAW mengajak umatnya menggunakan waktu sebaik-baiknya, hal ini
sebagai cerminan bahwa orang yang terbaik adalah yang dapat meninvestasikan
umurnya dalam kebaikan. Dalam hadis dijelaskan: Sebaik-baik manusia adalah
yang panjang umurnya dan baik perbuatannya, dan seburuk-buruk manusia adalah
yang panjang umurnya dan buruk kelakuannya. (HR Tirmidzi. Sanadnya hasan
shahih).
Itulah perbedaannya prinsip waktu antara Islam dengan Materialisme Barat. Islam
mengukur kesuksesan seseorang bila dapat menginvestasikan waktu hidupnya untuk
berbuat baik. Sedangkan Barat memandang kesuksesan seseorang bila dapat
mengivestasikannya menjadi materi yang diraih.
Investasi waktu pada saat ini sangat berperan dalalm kemajuan suatu bangsa. Bila
suatu masyarakat menghargai waktu dan dapat menginvestasikannya dalam hal-hal
produktif dan bermanfaat, dapat dipastikan kehidupan mereka sejahtera dan maju.
Pada masa keemasan Islam telah terbukti betapa produktif hidup generasi-genarasi
Muslim di masa tersebut.
Sebagai contoh, bila melihat karya-karya yang dihasilkan Ibnu Hajar Asqalany
saja, maka akan terlihat investasi waktu yang luar biasa dengan lahirnya sekian
banyak karya berbanding umurnya. Tokoh-tokoh penemu dalam Islam semisal Ibnu
Sina, Ibnu Haitsam, Ibnu Nafis dan lain-lain sangat menghargai waktu. Hidup mereka

diisi dengan hal-hal yang bermanfaat dari belajar hingga penelitian. Sehingga pernah
diriwayatkan bahwa Ibnu Rusyd dalam hidupnya hanya dua malam meninggalkan
aktivitas membaca dan menulis yaitu

pada hari pernikahannya dan kelahiran

putranya.
Dalam konteks fikih, para fuqaha membedakan pembayaran tunai (naqd) dengan
pembayaran cicilan (taqshth / bay bil ajal). Pembayaran kredit terhadap suatu
barang dilebihkan dari pembayaran secara tunai. Seperti dikutip dalam Al-Mausu`ah
Al-Fiqhiyyah, para fuqaha itu berargumentasi bahwa kelebihan dalam pembayaran
cicilan sebagai bentuk penghargaan terhadap waktu, ziyadat ats-tsaman muqabil
ziyadat al-ajal. Lihat uraiannya dalam Disertasi Sulaiman bin Turki dengan judul
Bayu Taqsith wa ahkamuhu (Penjualan Kredit dan Hukum-hukumnya), 2003.

BAB III
Prinsip Pendidikan Waktu Dalam Al-Quran
Dalam suatu aktivitas yang berkesinambungan sebagai tranformasi ilmu
pengetahuan, sebagai pewarisan (tranmisi) budaya, dan sebagai agent perubahan
sosial, pendidikan waktu memerlukan suatu landasan islam. Suatu totalitas
pendidikan waktu harus bersandar pada landasan dasar. Pendidikan islam baik
sebagai konsep maupun sebagai aktivitas yang bergerak dalam rangka pembinaan
kepribadian yang utuh, paripurna/syumul, memerlukan suatu dasar yang kokoh,
kajian pendidikan islam tidak boleh lepas dari dasar-dasar. Islam memandang
bahwa setiap fenomena alam adalah adalah hasil ciptaan Allah dan tunduk pada
hukum-hukum Mekanismenya sebagai Sunatulloh, oleh karena itu manusia harus
dididik agar mampu menghayati dan mengamalkan nilai-nilai dalam hukum Allah.

Tak terkecualikan pendidikan waktu, sebelum menerapkan pendidikan waktu dalam


kehidupan hendaknya kita menegtahui prinsip prinsip pendidikan waktu dalam Al
quran. Karena Al quran inilah merupakan suatu pedoman hidup. Dalam sub bab
ini, penulis akan menjelaskan tentang prinsip pendidikan waktu dalam Al quran.
A. Waktu Dalam Al Quran dan Sunnah
Dalam banyak ayat Allah bersumpah dengan waktu, seperti dalam firman-Nya :



Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian ( Qs Al Ashr :
1-2 )

Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang apabila terang
benderang, ( Qs Al Lail : 1-2 )


Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi
(gelap ( Qs Ad Duha : 1-2 )
Ayat-ayat di atas menunjukkan betapa pentingnya waktu dalam kehidupan
manusia ini, karena Allah tidak bersumpah terhadap sesuatu di dalam Al Quran
kecuali untuk menunjukkan kelebihan yang dimilikinya.
Bahkan dalam ayat lain Allah menegaskan bahwa dengan menggunakan
waktu tersebut seorang hamba bisa mengambil pelajaran dan bersyukur,
sebagaiman yang tersebut dalam firman Allah swt :

Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang
ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur. ( Al Furqan : 62 )
Tadzakkur berarti mengingat Allah, mengingat nikmat-nikmat Allah yang
diberikan kepada kita, mengingat bahwa seorang muslim dalam hidupnya ini
mempunyai tujuan yaitu beribadat kepada Allah swt dan memakmurkan dunia ini
dengan nilai-nilai yang diletakkan oleh Allah swt, mengingat bahwa kematian
adalah sesuatu yang benar-benar akan terjadi pada diri setiap manusia, sehingga
dia harus mempersiapkan segalanya untuk menyambutnya. Dengan demikian
tadzakkur berarti juga kesempatan untuk mengembangkan diri di dalam
kehidupan ini untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi manusia, negara, bangsa
dan ummat, serta di akherat nanti menjadi pendamping para nabi , syhuhada
siddiqun serta sholihun di syurga .
Syukur berarti mensyukuri nikmat Allah yang diberikan kepada kita, mensyukuri
kesempatan yang diberikan Allah kepada kita, mensyukuri potensi yang
diletakkan Allah dalam diri kita , untuk kemudian kita gali, kita kembangkan dan
kita aktualisasikan untuk kepentingan masyarakat dan umat.
Bahkan Allah telah menyatakan bahwa Ulul Albab adalah orang orang yang
mampu memanfaatkan waktunya untuk ketaatan. Allah berfirman :




Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam
dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (Qs Ali Imran :
190)
Ayat di atas menunjukkan bahwa Ulul Albab ( para cerdik cendikia ) bukanlah
orang yang mampu menghafal kata-kata maupun sususan huruf yang tertulis di
dalam buku atau mampu menjawab soal-soal ujian di suatu sekolah, akan tetapi
Ulul Albab adalah orang yang mampu melihat kejadian yang ada disekitarnya dan
memanfaatkan waktu yang ada, selanjutnya diramu menjadi bekal di dalam

10

kehidupan ini, untuk kemudian diteruskan dengan mengerjakan hal-hal yang


bermanfaat bagi kepentingan manusia.
Karena

pentingnya

waktu

yang

ada,

sehingga

Allah

akan

meminta

pertanggungjawaban dari setiap manusia untuk apa saja waktu yang diberikan
Allah selama hidup ini. Dalam suatu hadist disebutkan :
:

Tidak tergelincir dua kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga Allah
menanyakan empat hal :
1. Umurnya, untuk apa selama hidupnya dihabiskan
2. Waktu mudanya, digunakan untuk apa saja
3. Hartanya, darimana dia mendapatkan dan untuk apa saja dihabiskannya
4. Ilmunya, apakah diamalkan atau tidak ( Hadist Hasan, HR. Tirmidzi )
Kalau kita perhatikan hadist di atas, kita dapatkan bahwa 4 unsur kekuatan yang
ada dalam diri manusia, jika ia mau memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya,
niscaya akan berhasil di dunia dan akherat. ( kesempatan + kesehatan + harta +
ilmu ) .
Hal ini dikuatkan dengan hadist lain yang menyatakan :
:
Dua nikmat yang kebanyakan manusia rugi di dalamnya : Kesehatan +
Kesempatan ( HR Bukhari ).
B.

Relativitas Waktu

11

Manusia tidak dapat melepaskan diri dari waktu dan tempat.Mereka


mengenal masa lalu, kini, dan masa depan. Pengenalan manusia tentang waktu
berkaitan dengan pengalaman empiris dan lingkungan. Kesadaran kita tentang
waktu berhubungan dengan bulan dan matahari, baik dari segi perjalanannya
(malam saat terbenam dan siang saat terbitnya) maupun kenyataan bahwa
sehari sama dengan sekali terbit sampai terbenamnya matahari, atau sejak tengah
malam hingga tengah malam berikutnya. Perhitungan

semacam

ini

telah

menjadi kesepakatan bersama. Namun harus digarisbawahi bahwa walaupun hal


itu diperkenalkan dan diakui oleh Al-Quran (seperti setahun sama dengan dua
belas bulan pada surat At-Taubah ayat 36), Al-Quran juga memperkenalkan
adanya relativitas waktu, baik yang berkaitan dengan dimensi ruang, keadaan,
maupun pelaku. Waktu yang dialami manusia di dunia berbeda dengan waktu
yang dialaminya kelak di hari kemudian. Ini disebabkan dimensi kehidupan
akhirat berbeda dengan dimensi kehidupan duniawi. Di dalam surat Al-Kahfi [18]:
19 dinyatakan: Dan berkata salah seorang dan mereka, "Berapa tahunkah lamanya
kamu tinggal di bumi?" Mereka menjawab, "Kami tinggal (di bumi) sehari atau
setengah hari ..."
Ashhabul-Kahfi yang ditidurkan Allah selama tiga ratus tahun lebih,
menduga bahwa mereka hanya berada di dalam gua selama sehari atau kurang.
Mereka berkata, "Kami berada (di sini) sehari atau setengah hari." (QS Al-Kahf
[18]: 19). Ini karena mereka ketika itu sedang ditidurkan oleh Allah, sehingga
walaupun mereka berada dalam ruang yang sama dan dalam rentang waktu
yang panjang, mereka hanya merasakan beberapa saat saja. Allah Swt berada di
luar batas-batas waktu. Karena itu, dalam Al-Quran
bentuk masa lampau

ditemukan

kata

kerja

(past tense/ madhi) yang digunakan-Nya untuk suatu

peristiwa mengenai masa depan. Allah Swt. berfirman: Telah datang ketetapan
Allah (hari kiamat), maka janganlah kamu meminta agar disegerakan datangnya ...
(QS Al-Nahl [16]: 1). Bentuk kalimat semacam ini dapat membingungkan para
pembaca mengenai makna yang dikandungnya, karena bagi kita, kiamat belum
datang. Tetapi di sisi lain jika memang telah datang seperti bunyi ayat,
mengapa pada ayat tersebut dilarang meminta disegerakan kedatangannya?

12

Kebingungan itu insya Allah akan sirna, jika disadari bahwa Allah berada di luar
dimensi waktu. Sehingga bagi-Nya, masa lalu, kini, dan masa yang akan datang
sama

saja. Dari

sini dan dari sekian ayat yang lain sebagian pakar tafsir

menetapkan adanya relativitas waktu.


Ketika Al-Quran berbicara tentang
malaikat

menuju

hadirat-Nya,

waktu

yang

ditempuh

oleh

salah satu ayat Al-Quran menyatakan

perbandingan waktu dalam sehari kadarnya sama dengan lima puluh ribu tahun
bagi makhluk lain (manusia).
Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang
kadarnya lima puluh ribu tahun. (QS Al-Ma'arij [70]: 4). Sedangkan dalam ayat
lain disebutkan bahwa masa yang ditempuh oleh para malaikat tertentu untuk
naik ke sisi-Nya adalah seribu tahun menurut perhitungan manusia:
Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya
dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu (QS
Al-Sajdah [32]: 5). Ini berarti bahwa perbedaan sistem gerak yang dilakukan
oleh satu pelaku mengakibatkan perbedaan waktu yang dibutuhkan untuk
mencapai

suatu

membutuhkan

sasaran.

waktu

Batu,

suara,

dan

cahaya masing-masing

yang berbeda untuk mencapai sasaran yang sama.

Kenyataan ini pada akhirnya mengantarkan kita kepada keyakinan bahwa ada
sesuatu yang tidak membutuhkan waktu demi

mencapai

hal

yang

dikehendakinya. Sesuatu itu adalah Allah Swt.


Dan perintah Kami hanyalah satu (perkataan) seperti kejapan mata (QS Al-Qamar
[54] 50). "Kejapan mata" dalam firman di atas tidak boleh dipahami dalam
pengertian dimensi manusia, karena Allah berada di luar dimensi tersebut, dan
karena Dia juga telah menegaskan bahwa: Sesungguhnya keadaan-Nya apabila
Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, "Jadilah!", maka
terjadilah ia (QS Ya Sin [36]: 82)
Ini pun bukan berarti bahwa untuk mewujudkan sesuatu, Allah
membutuhkan kata kun, sebagaimana tidak berarti bahwa ciptaan Allah terjadi
seketika tanpa suatu proses. Ayat-ayat di atas hanya ingin menyebutkan bahwa
Allah Swt. berada di luar dimensi ruang dan waktu. Dari sini, kata hari, bulan,

13

atau tahun tidak boleh dipahami secara mutlak seperti pemahaman populer
dewasa ini. "Allah menciptakan alam raya selama enam hari", tidak harus
dipahami sebagai enam kali dua puluh empat jam. Bahkan boleh jadi kata "tahun"
dalam Al-Quran tidak berarti 365 hari walaupun kata yaum dalam Al-Quran
yang berarti hari hanya terulang 365 kali karena umat manusia berbeda dalam
menetapkan

jumlah hari dalam setahun. Perbedaan ini bukan saja karena

penggunaan perhitungan perjalanan bulan atau matahari, tetapi karena umat


manusia mengenal pula perhitungan yang lain. Sebagian ulama menyatakan
bahwa firman Allah yang menerangkan bahwa Nabi Nuh a.s. hidup di tengahtengah kaumnya selama 950 tahun (QS 29:14), tidak harus dipahami dalam
konteks perhitungan Syamsiah atau Qamariah. Karena umat manusia pernah
mengenal perhitungan tahun berdasarkan musim (panas, dingin, gugur, dan
semi) sehingga setahun perhitungan kita yang menggunakan ukuran perjalanan
matahari, sama dengan empat tahun dalam perhitungan musim. Kalau pendapat
ini dapat diterima, maka keberadaan Nabi Nuh a.s. di tengah-tengah kaumnya
boleh jadi hanya sekitar 230 tahun.
Al-Quran

mengisyaratkan

perbedaan

perhitungan

Syamsiah dan

Qamariah melalui ayat yang membicarakan lamanya penghuni gua (AshhabulKahfi) tertidur. Sesungguhnya mereka telah tinggal di dalam gua selama tiga ratus
tahun dan ditambah sembilan tahun (QS Al-Kahf [18]: 25).
Tiga ratus tahun di tempat itu menurut
penambahan

sembilan

perhitungan

Syamsiah, sedangkan

tahun adalah berdasarkan perhitungan Qamariah.

Seperti diketahui, terdapat selisih sekitar sebelas hari setiap tahun antara
perhitungan Qamariah dan Syamsiah. Jadi selisih sembilan tahun itu

adalah

sekitar 300 x 11 hari = 3.300 hari, atau sama dengan sembilan tahun.
C.

Tujuan Kehadiran Waktu


Ketika beberapa orang sahabat Nabi Saw. mengamati keadaan bulan
yang sedikit demi sedikit berubah dari sabit ke purnama, kemudian kembali
menjadi sabit dan kemudian menghilang, mereka bertanya

kepada

Nabi,

"Mengapa demikian?" Al-Quran pun menjawab,Yang demikian itu adalah waktu-

14

waktu untuk manusia dan untuk menetapkan waktu ibadah haji (QS Al-Baqarah
[2]:189). Ayat ini antara lain mengisyaratkan bahwa
bulan
sabit

yang
ke

menghasilkan
purnama),

peredaran

matahari dan

pembagian rinci (seperti perjalanan dari bulan

harus

dapat dimanfaatkan

oleh

manusia

untuk

menyelesaikan suatu tugas. Salah satu tugas yang harus diselesaikan itu adalah
ibadah, yang dalam hal ini dicontohkan dengan ibadah haji, karena ibadah
tersebut mencerminkan seluruh rukun islam. Keadaan

bulan seperti itu juga

untuk menyadarkan bahwa keberadaan manusia di pentas bumi ini, tidak ubahnya
seperti bulan. Awalnya, sebagaimana halnya bulan, pernah tidak tampak di pentas
bumi, kemudian ia lahir, kecil mungil

bagai

sabit, dan sedikit demi sedikit

membesar sampai dewasa, sempurna umur bagai purnama. Lalu kembali sedikit
demi sedikit menua, sampai akhirnya hilang dari pentas bumi ini. Dalam ayat lain
dijelaskan bahwa: Dia (Allah) menjadikan malam dan siang silih berganti untuk
memberi waktu (kesempatan) kepada orang yang ingin mengingat (mengambil
pelajaran) atau orang yang ingin bersyukur (QS Al-Furqan [25]: 62). Mengingat
berkaitan dengan masa lampau, dan ini menuntut introspeksi dan kesadaran
menyangkut semua hal yang telah terjadi, sehingga mengantarkan
untuk

manusia

melakukan perbaikan dan peningkatan. Sedangkan bersyukur, dalam

definisi agama, adalah "menggunakan segala potensi yang dianugerahkan Allah


sesuai

dengan tujuan penganugerahannya," dan ini menuntut upaya dan kerja

keras. Banyak

ayat

Al-Quran

yang

berbicara

tentang peristiwa-peristiwa

masa lampau, kemudian diakhiri dengan pernyataan. "Maka ambillah pelajaran


dan peristiwa itu." Demikian pula ayat-ayat yang menyuruh manusia bekerja
untuk menghadapi masa depan, atau berpikir, dan

menilai

hal

yang telah

dipersiapkannya demi masa depan.Salah satu ayat yang paling populer mengenai
tema ini adalah: Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan
hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok
(QS Al-Hasyr [59]:18).
Menarik untuk diamati bahwa ayat di atas dimulai dengan perintah
bertakwa dan diakhiri dengan perintah yang sama. Ini mengisyaratkan bahwa
landasan berpikir serta tempat bertolak untuk mempersiapkan hari esok haruslah

15

ketakwaan, dan hasil akhir yang diperoleh pun adalah ketakwaan. Hari esok yang
dimaksud oleh ayat ini tidak hanya terbatas pengertiannya pada hari esok di
akhirat kelak, melainkan termasuk juga hari esok menurut pengertian dimensi
waktu yang kita alami. Kata ghad dalam ayat di atas yang diterjemahkan dengan
esok, ditemukan dalam Al-Quran sebanyak lima kali, tiga di antaranya secara
jelas digunakan dalam konteks hari esok duniawi, dan dua sisanya dapat mencakup
esok (masa depan) baik yang dekat maupun yang jauh.
D.

Manajemen Waktu
Al-Quran memerintahkan umatnya untuk

memanfaatkan

waktu

semaksimal mungkin, bahkan dituntunnya umat manusia untuk mengisi seluruh


'ashr (waktu)-nya dengan berbagai amal dengan mempergunakan semua daya yang
dimilikinya. Sebelum menguraikan lebih jauh tentang hal ini, perlu

digaris

bawahi bahwa sementara kita ada yang memahami bahwa waktu hendaknya diisi
dengan beribadah (dalam pengertian sempit). Mereka merujuk kepada firman
Allah dalam surat Adz-Dzariyat ayat 56 yang menyatakan, dan memahaminya
dalam arti Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah
kepada-Ku.
Banyak diantara kita yang mempunyai keinginan yang kuat untuk
memanfaat waktunya dengan sebaik-baiknya dalam hal-hal yang positif, akan tetapi
tidak sedikit dari mereka yang belum mempunyai gambaran utuh tentang langkah
-langkah yang harus ditempuh untuk mencapai cita-citanya. Berikut ini beberapa
tawaran singkat tentang langkah-langkah pengaturan waktu :
Langkah Pertama : Isi waku kosong dengan kegiatan yang bermanfaat .
Ada sebuah hikmah mengatakan :

Kekosongan jika melanda para pemuda yang mempunyai uang , maka akan
mengakibatkan kerusakan yang lur biasa .
Ini dikuatkan dengan hikmah lainnya :

16

Pengangguran bagi laki-laki adalah sebuah kelalaian dan bagi perempuan akan
menjerumus kepada hal-hal yang negatife ( syahwat ).
Bukankah Istri pejabat yang merayu nabi Yusuf as. disebabkan karena kekosongan
dan kesepian yang menyelimutinya. Para dokter menyatakan bahwa 50%
kebahagian hidup bisa di dapat dengan mengisi waktu kosong dengan kegiatan
yang bermanfaat. Betapa kita lihat para pekerja kasar di jalan-jalan, para kuli
bangunan, para petani di sawah-sawah , para pedagang asongan di terminalterminal, merasa lebih tenang dan bahagia dibanding dengan anda yang melamun
dan tergeletak di atas kasur akibat pengangguran. Beberapa penelitian
menyebutkan bahwa sebagian orang yang sudah lanjut usia didapatkan masih
kelihatan energik dan jarang merasa lesu atau malas, hal itu dikarenakan mereka
selalu menyibukkan diri mereka dengan pekerjaan-pekerjaan yang bisa
mengembangkan syaraf mereka. Hal ini tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan
mereka saja, akan tetapi lebih dari itu, menjaga kesehatan otak mereka juga.
Langkah Kedua : Menggunakan satu waktu untuk banyak kegiatan.
Sebuah pepatah mengatakan : Sambil menyelam minum air . Sekali dayung
dua atau tiga pulau terlampaui. Para ulama dahulu telah memberikan contoh
kepada kita bagaimana memanfaatkan waktu yang terbatas untuk mengerjakan
lebih dari satu kegiatan :
1. Diriwayatkan bahwa Khatib Al Baghdadi salah seorang ulama hadist yang
sangat terkenal, jika ia berjalan mesti ditangannya ada sebuah buku yang
dibacanya
2. Imam Sulaim Ar Razi , salah seorang ulama Syafiah yang meninggal
tahun 447 H, selalu mengisi waktu-waktunya dengan pekerjaan yang
bermanfaat. Berkata Ibnu Asakir : Saya pernah diceritakan oleh guruku :
Abu Farj Al Isfirayini bahwa beliau pada suatu saat keluar dari rumahnya
untuk suatu keperluan, kemudian tidak berapa lama datang lagi sambil
berkata : Saya telah membaca satu juz dari al Quran selama saya di

17

jalan . Berkata Abu Faraj : Saya pernah diceritakan oleh Muammil bin
Hasan bahwa pada suatu hari ia melihat pena Sulaim Ar Razi rusak dan
tumpul, ketika ia memperbaiki penanya tersebut terlihat ia menggerakgerakkan mulutnya , setelah diselidiki ternyata di membaca Al Quran di
sela-sela memperbaiki penanya, dengan tujuan agar tidak terbuang begitu
saja waktunya dengan sia-sia.
3. Abu Al Wafa Ibnu Uqail, salah satu tokoh dalam Madzhab Hambali
mampu menyingkat waktu makan dengan memilih makan yang praktis,
beliau bisa memanfaat perbedaan waktu makan roti kering dengan roti
yang diberi air , untuk membaca 50 ayat Al Quran.
4. Abu Al Barakat, kakek Ibnu Taimiyah, jika ia masuk kamar mandi atau
WC , ia menyuruh saudaranya untuk membacakan sebuah buku dengan
suara keras agar dia bisa mendengarnya.
Untuk saat ini, apa yang dikerjakan oleh para ulama tersebut bisa kita tiru
dengan sarana yang lebih mudah, seperti tape, komputer, bahkan Mp3 jauh lebih
praktis untuk bisa mendengar ceramah ataupun bacaan Al Quran sambil berjalan.
Jepang berhasil menjadi sejajar dengan negara-negara maju lainnya dalam
kurun waktu yang relatif singkat, setelah kejatuhan bom atom di Hiroshima dan
Nagasaki pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945, hal itu disebabkan oleh beberapa hal
diantaranya adalah hobi membaca yang sudah membudaya di negara tersebut, hal
ini di dukung dengan menyebarnya jalur kereta listrik ke berbagai pelosok sejak
1950-an yang secara tidak langsung ikut juga memperkuat kecenderungan
masyarakat untuk membaca. Orang dapat menghabiskan waktu beberapa jam
setiap hari dalam perjalanan dengan kereta.
Kita sebagai mahasiswa dan pelajar Indonesia bisa membudayakan hobi membaca
dalam waktu luang, seperti saat menunggu.

18

Langkah Ketiga : Memilih waktu-waktu yang mempunyai keutamaan .


Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa di dalam ajaran Islam terdapat waktuwaktu tertentu yang mempunyai keutamaan-keutamaan yang tidak dimiliki oleh
waktu-waktu lainnya, seperti :
1. Keutamaan bulan Ramadlan, di dalamnya terdapat 10 malam terakhir yang
di dalamnya ada satu malam, yaitu lailat qadr yang mempunyai kadar
ibadah 1000 bulan pada malam-malam lainnya.
2. Keutamaan 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah, puncaknya ada pada
tanggal 10 Dzulhijjah.
3. Hari Jumat, merupakan sebaik-bak hari dalam seminggu, di dalamnya
banyak keutamaan, yang jika seorang muslim mampu memanfaatkan
dengan sebaik-baiknya, niscaya akan mendapatkan pahala yang sangat
banyak sekali. Di dalamnya ada satu jam yang jika seorang muslim
berdoa, niscaya Allah akan mengabulkannya.
( )
( )
4. Waktu sahur, tepatnya pada sepertiga terakhir malam hari.
:
( )
Oleh karena itu para salaf sholeh mengibaratkan sholat 5 waktu sebagai
timbangan harian, hari Jumat sebagai timbangan mingguan, bulan Ramadlan
sebagai timbangan tahunan, sedangkan haji sebagai timbangan seumur hidup.
Mereka sangat memperhatikan bagaimana hariannya bisa terjaga dengan baik,
setelah berhasil, mereka berusaha menjaga mingguannya, setelah berhasil, mereka
berusaha untuk menjaga tahunannya , setelah berhasil mereka menjaga umurnya,
dan itulah misk khitam ( penutup yang baik ).

19

Masalah ini, kalau kita kembangkan dalam kehidupan sehari-hari kita,


maka kita sholat lima waktu terbukti kegiatan kita sangat efektif, karena seorang
muslim tentunya tidak pernah meninggalkan sholat lima waktu. Agar terasa lebih
ringan, hendaknya setiap sholat dibagi menjadi dua bagian, sebelum sholat dan
sesudahnya. Sebelum sholat , yaitu : sebelum adzan, dan waktu antara adzan dan
iqamah . Apabila dia termasuk orang yang rajin ke masjid, sebaiknya pergi ke
masjid sebelum adzan agar waktu untuk mengulangi hafalannya lebih panjang.
Kemudian setelah sholat, yaitu setelah membaca dzikir bada sholat atau dzikir
pagi pada sholat shubuh dan setelah dzikir sore setelah sholat Ashar. Seandainya
saja, ia mampu mengulangi hafalannya sebelum sholat sebanyak seperempat juz
dan sesudah sholat seperempat juz juga, maka dalam satu hari dia bisa mengulangi
hafalannya sebanyak dua juz setengah. Kalau bisa istiqamah seperti ini, maka dia
bisa menghatamkan hafalannya setiap dua belas hari, tanpa menyita waktunya
sama sekali. Kalau dia bisa menyempurnakan setengah juz sisanya pada pada
sholat malam atau sholat-sholat sunnah lainnya, berarti dia bisa menyelesaikan
setiap harinya tiga juz, dan dengan demikian dia bisa menghatamkan Al Quran
pada setiap sepuluh hari sekali. Banyak para ulama dahulu yang menghatamkan
hafalannya setiap sepuluh hari sekali.
Waktu sebagai barometer kegiatan kita sehari-hari, sebagai contoh :
kegiatan menghafal atau mengulangi hafalan Al Quran. Ternyata dengan
mengikuti jadwal sholat
Langkah Ke-Empat : Membagi waktunya dalam berbagai kegiatan .
Sebagai seorang muslim, seyogyanya dia tidak hanya beramal dan bekerja pada
satu bidang saja, akan tetapi hendaknya membagi waktu-waktunya untuk
mengerjakan kewajibannya terhadap Allah swt dengan beribadat kepada-Nya,
juga kewajibannya terhadap orang tua, saudara, anak dan istri, tetangga dan
masyarakat sekitarnya. Di dalam Lembaran Ibrahim as, disebutkan bahwa :
Seyogyanya bagi orang yang berakal hendaknya mempunyai 4 waktu : waktu
untuk bermunajat kepada Allah swt, waktu untuk intropeksi terhadap diri sendiri,

20

waktu untuk bertafakkur serta merenungi ciptaan Allah, dan waktu untuk
mengurusi kebutuhan hidupnya seperti makan dan minum
Dalam suatu hadits, Rosulullah saw pernah bersabda :
, , ,
.
Sesungguhnya pada Rabb-mu ada hak yang harus anda tunaikan, dan pada
dirimu ada hak yang harus anda tunaikan, dan pada diri keluargamu ada hak yang
harus anda tunaikan, dan pada orang yang datang kepadamu ada hak yang harus
anda tunaikan ,maka berilah setiap bagian akan haknya ( HR Bukhari dan
Muslim )
, , ,

Sesungguhnya saya adalah orang yang paling takut dan paling bertaqwa kepada
Allah swt, walaupun begitu, saya bangun malam dan kadang tidur juga, berpuasa
dan berbuka, serta menikahi para wanita, dan barang siapa yang tidak mau
mengikuti sunnahku, maka bukanlah ia dari golongan-ku ( HR Bukhari )
Para ulama dahulupun telah memberikan suri tauladan yang baik kepada generasi
sesudahnya. Adalah Ibnu Jarir At Thobari, telah membagi satu harinya menjadi
beberapa bagian, sebagaimana yang dikisahkan oleh Qadhi Abu Bakar Ahmad
Kamil Al-Syajari, salah satu murid dekatnya : Setelah Ibnu Jarir makan dan
tidur, kemudian beliau bangun untuk sholat dhuhur di rumahnya, setelah itu,
beliau menulis untuk sebuh buku sampai datang waktu ashar, beliau kemudian
keluar untuk melakukan sholat ashar dan mengajar para murid-muridnya sampai
maghrib, kemudian setelah maghrib beliau mengajar fikih dan beberapa pelajaran
lainnya hingga datang sholat Isya, kemudian beliau pulang ke rumahnya. Beliau
benar-benar telah membagi waktu seharinya untuk : maslahat dirinya, agama dan
masyarakat sekitarnya .

21

Langkah Ke-Lima : Ambillah waktu istirahat untuk mengumpulkan


tenaga. Waktu istirahat mutlak diperlukan oleh semua makhluq yang hidup di
dunia ini, bahkan benda matipun memerlukan waktu istirahat, seperti hal-nya
mesin-mesin pembantu manusia, seperti mesin cuci, kipas angin, computer, radio,
tape, mobil dan lain-lainnya. Istirahat bukan berarti berhenti kerja atu
menganggur, akan tetapi berhenti untuk mengumpulkan kekuatan, mengisi bensin
untuk meneruskan perjuangan, mengasah kapak agar lebih tajam atau mengambil
strategis supaya pekerjaan yang dihadapinya bisa diselesaikan dengan lebih cepat
dan baik.
Konon ada kisah seorang penebang kayu, karena dijanjikan oleh
majikannya dengan gaji yang menggiurkan , maka ia bekerja mati-matian, siang
malam tanpa berhenti untuk menebang banyak pohon akan tetapi ternyata
semakin lama, tenaga semakin lemah dan semangat untuk menebang mulai luntur
dan hasil yang di dapat mulai seikit dan tidak maksimal. Maunya memeluk
gunung tapi apa daya tangan tak sampai, bukannya menyelsaikan pekerjaan
akanteapi justru keletihan dan keputus asaan yang di dapat, kenapa ? Karena ada
satu hal kecil yang tidak diperhatikan oleh si penebang kayu itu, yaitu istirahat
untuk mengasah gergaji, agar bisa digunakan semaksimal mungkin. Maka,
sesibuk apa pun an serajin apapun, kita harus meluangkan waktu untuk mengasah
kapak kita, mengasah otak dan pikiran kita dan mengisi hal-hal baru untuk
menambah pengetahuan, wawasan dan spiritual agar kehidupan kita akan menjadi
dinamis, berwawasan dan selalu baru agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang
sama dan hasil yang maksimal. Meminjam istilah orang cina : Xiu Xi Bu Shi
Zou Deng Yu Chang De Lu ( Istirahat bukan berarti berhenti.) Akan tetapi : Er
Shi Yao Zou Geng Chang De Lu ( Tetapi untuk menempuh perjalanan yang lebih
jauh lagi ). Islam sendiri telah memberi ruang istirahat bagi seorang muslim,
untuk mengendorkan urat dan meluruskan punggung, menambah perbekalan agar
bisa melanjutkan perjalanan yang akan ditempuhnya lagi.
Dalam suatu hadist disebutkan :

22

)
(
Begitu juga apa yang dipesankan Rosulullah saw kepada salah seorang sahabatnya Handaklah yang mengeluh karena semangatnya turun ketika berkumpul
dengan keluarganya :

( ) .
Berkata Imam Ali : hiburlah hati anda sesaat-saat, karena hati ini jika telah capai ,
tidak bisa memandang sesuatu dengan baik .
Sebelum menemui ajalnya, khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq RA. pernah
memanggil Umar ibn al-Khaththab RA lalu menyampaikan wasiat kepadanya.
Wahai Umar, Allah itu mempunyai hak (diibadahi) pada siang hari yang Dia
tidak menerimanya di malam hari. Sebaliknya, Allah Swt juga mempunyai hak
(diibadahi) pada malam hari yang Dia tidak mau menerima di siang hari. Ibadah
sunnah itu tidak diterima sebelum ibadah wajib itu dilaksanakan.

Wasiat Abu Bakar tersebut menyadarkan Umar bahwa rotasi waktu itu
penuh nilai dan harus dimaknai sedemikian rupa, sehingga manusia tidak merugi
dalam hidupnya. Umar melihat pesan Abu Bakar tersebut sebagai isyarat
pentingnya manajemen waktu dalam memimpin umat. Menurut Yusuf alQaradhawi, pesan Abu Bakar tersebut mengandung arti bahwa sebagai calon
khalifah, Umar harus bisa membagi waktu: kapan harus menunaikan
kewajibannya kepada Allah SWT, kewajiban kepada rakyatnya, dan kewajiban
kepada dirinya sendiri. Sedemikian pentingnya waktu itu, Ibn al-Qayyim alJauziyah menegaskan menyia-nyiakan waktu (idhaatul waqti) itu lebih berbahaya
daripada sebuah kematian, karena menyia - nyiakan waktu itu dapat memutus
hubungan engkau dengan Allah dan akhirat. Sedangkan kematian hanya

23

memutusmu dari kehidupan dunia dan keluarga saja. Orang yang menyia-nyiakan
waktu akan kehilangan kesempatan untuk berinvestasi bagi kehidupan akhiratnya.
Oleh karena itu, Ibn Masud ra pernah berkata: Aku tidak menyesali sesuatu
selain kepada hari yang mataharinya telah terbenam dan umurku berkurang, tetapi
di hari itu amalku tidak bertambah. Manajemen dan disiplin waktu menjadi
sangat penting, jika seorang Muslim berusaha menggapai kesuksesan hidup dunia
dan akhirat. Namun dalam faktanya, banyak orang terlena dan mengabaikan nilai
waktu. Waktu berlalu tanpa makna dan amal shaleh. Tidak sedikit anak-anak
muda kita banyak menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang, bermainmain, dan berleha-leha.
Kesadaran wal ashri (pentingnya nilai waktu) cenderung tergradasi karena
aneka permainan duniawi yang menghibur dan memperdayakan, seperti sinetron,
aneka games, dan sebagainya. Dalam memanajemeni waktu, Umar bin Abdul
Aziz pernah berkata: Siang dan malam itu bekerja untukmu, karena itu
beramallah dalam keduanya. Sebagai manifestasi dari aplikasi manajemen
waktu, ketika diamanahi sebagai khalifah, Umar bin al-Khaththab pernah
memberikan nasehat kepada Abu Musa al-Asyari: Pemimpin yang paling
bahagia menurut Allah SWT adalah orang yang mampu membuat rakyatnya
bahagia. Pemimpin yang paling menderita menurut Allah adalah pemimpin yang
membuat rakyatnya sengsara. Hendaklah engkau tidak melakukan penyimpangan,
sehingga engkau dapat menyimpangkan para pekerjamu, tak ubahnya engkau
seperti binantang ternak. Semua itu tidak mungkin dapat direalisasikan tanpa
manajemen waktu yang efisien dan efektif. Kata kunci manajemen waktu adalah
disiplin dan penyegeraan penyelesaian kewajiban, tugas, dan pekerjaan.

Nabi Muhammad Saw adalah figur teladan yang paling disiplin waktu,
lebih-lebih setelah ditetapkannya shalat lima waktu sebagai fardhu ain
(kewajiban personal). Melalui aneka ibadah, terutama shalat, yang dalam alQuran telah ditentukan waktu-waktunya (QS. an-Nisa [4]: 103), kita dididik
untuk disiplin waktu secara baik dan benar. Muslim yang melaksanakan shalat

24

dengan benar mestinya tidak pernah mengabaikan waktu. Penyegeraan


penyelesaian kewajiban dan tugas juga merupakan tradisi Nabi SAW yang patut
diteladani.

Beliau

bukan hanya memerintahkan umatnya untuk misalnya

menyegerakan membayar hutang, mengurus janazah, dan sebagainya, melainkan


juga memberi nilai plus kepada umatnya yang bangun tidur lebih awal. Bahkan
Nabi SAW pernah meminta kepada Allah agar umat diberkahi dalam waktu pagi
(bersegara menuntaskan persoalan. Doa beliau: Ya Allah, berkahilah umatku
pada waktu paginya. (HR. Abu Daud, at-Turmudzi, dan Ahmad). Implikasi
manajemen waktu dalam Islam sungguh sangat serius sekaligus indah, karena
salah satu karunia yang akan diaudit oleh Allah di akhirat kelak adalah
pemanfaatan umur kita, tentu termasuk waktu, selama hidup di dunia.
Dalam hal ini Nabi SAW bersabda: Tidaklah kedua kaki seorang hamba itu
melangkah sebelum ditanya tentang empat hal: tentang umur, untuk apa
dihabiskan? Tentang (kesehatan) fisik, untuk dipergunakan? Tentang harta,
darimana diperoleh? Dan Untuk apa dibelanjakan? Dan tentang ilmu, apakah
sudah diamalkan? (HR. al-Turmudzi dan al-Thabarani). Karena itu, agar
fungsional dan bermakna, manajemen waktu harus senantiasa dikawal dengan
kesadaran wal ashri, melalui reformasi iman, amal shaleh, saling berwasiat
kebenaran dan saling membelajarkan kesabaran (QS. al-Ashr [103]: 1-3). Waktu
menjadi bermakna jika dilandasi iman yang kokoh, ditindaklanjuti dengan aneka
kesalehan, dikembangkan dengan pencarian kebenaran secara akademik, dan
diperindah dengan kesabaran sebagai moralitas kehidupan.
Mudah-mudahan kita semua mampu memanejen waktu dengan optimal
dan efektif, sehingga hidup kita menjadi lebih berkah dan bermakna.

25

BAB IV
Simpulan Dan Saran
A. Simpulan
Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan
Waktu adalah esensi kehidupan manusia. Dengan waktu manusia mengukur
aktivitasnya sehari-sehari. Dalam Islam, waktu adalah sangat penting.
Islam memandang bahwa setiap fenomena alam adalah adalah hasil ciptaan
Allah dan tunduk pada hukum-hukum Mekanismenya sebagai Sunatulloh, oleh
karena itu manusia harus dididik agar mampu menghayati dan mengamalkan
nilai-nilai dalam hukum Allah. Allah Subhanahu wa Taala menyebutkan sifatsifat orang yang beruntung, yaitu mereka yang mampu menjaga waktunya
dengan beriman dan beramal shaleh. Seperti kandungan QS. Al Ashr 1-2 yang
artinya Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.
Oleh karena itu kita harus menggunakan dan memanfaatkan waktu yang
tersedia dengan sebaik mungkin yang disesuikan dengan prinsip-prinsip islam.
Menghiasi setiap waktu dengan kegiatan atau aktivitas dengan hal-hal yang
tidak sia-sia seperti mengikuti kegiatan sosial dan kajian islam daripada hanya
tiduran atau nonton film. Menggunakan waktu sebaik mungkin sama halnya
dengan istilah seperti gunakannlah waktu untuk bekerja seakan kita akan hidup

26

selamanya dan gunakannlah waktu ibadahmu seakan maut akan menjemputmu


besok.

B. Kritik dan Saran


Sesuai dengan simpulan hasil penulisan makalah yang dikemukakan di atas,
penulis dapat memberikan beberapa saran sebagai berikut:
1. Saran penulis bagi pembaca, untuk mempelajari lebih dalam prinsip
pendidikan waktu dalam Al- quran sebelum melaksanakannya.
2. Saran penulis bagi dosen, untuk lebih memberikan bimbingan
khususnya manajemen waktu dan memperhatikan kemampuan kinerja
mahasiswa.

27

Daftar Pustaka
Al-Quran
Al-Hadist
Abdul Malik Ghozali
Ketua Jurusan Akidah Filsafat Fakultas Ushuluddin IAIN Raden Intan, Lampung
Konsep Waktu dalam Al-Quran dan Implikasinya Terhadap Tujuan Pendidikan
Islam
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Muhbib Abdul Wahab Manajemen Waktu diunduh
pada Sabtu, 07 September 2013, 11:39 WIB.
Manajemen Waktu dan Kualitas Diri Rubrik: Pendidikan Keluarga | Oleh: Tim
dakwatuna - 10/12/07 | 08:08 | 01 Dhul-Hijjah 1428 H