Anda di halaman 1dari 5

Hendaknya Imam Shalat Membaca Basmalah

Category: Ubudiyah
Published Date
Hits: 1609

Seperti yang masyhur kita ketahui, membaca Surat Al Fatihah merupakan salah satu rukun dalam
shalat. Surat Al Fatihah adalah surat yang agung sehingga diwajibkan untuk dibaca pada tiap rakaat shalat.
Demikian menurut para Imam Mazhab, kecuali Mazhab Imam Abu Hanifah sebagaimana disebutkan dalam
kitab Fiqh Islami wa Adilatuhu karya Syekh Wahbah Az Zuhaily, bahwa dalam Mazhab Imam Abu Hanifah
hukumnya makruh tahrim jika tidak membaca Al Fatihah namun tidak sampai membatalkan shalat.




"Tidak diperbolehkan menambah dengan hadits ahad secara dzonni (prasangka) atas apa-apa yang telah
disebutkan kefardhuannya dengan dalil yang qothi (pasti) di dalam Al Quran. Akan tetapi hadits ahad wajib
diamalkan, bukan fardhu. Para ulama Mazhab Hanafi berkata atas kewajiban membaca Al Fatihah saja,
maksudnya hukum shalat adalah sah dengan meninggalkan (membaca) Al Fatihah secara makruh tahrim
(makruh yang mendekati haram). (Fiqh Islami wa Adillatuhu II/32).
Saya tidak akan membahas secara panjang lebar perihal khilaf ulama mengenai hukum membaca Al Fatihah
dalam shalat karena saya rasa hampir tidak ada orang shalat tanpa membaca Al Fatihah. Di sini saya akan
berfokus pada bacaan Basmalah karena hal ini sering membingungkan teman-teman saya yang belum
mengetahui status dan hukum Basmalah.
Beberapa minggu yang lalu saya menerima sms dari teman saya, sebut saja namanya Beni Setyawan (bukan
nama samaran) yang isinya menanyakan apakah Basmalah merupakan bagian dari Al Fatihah atau bukan.
Kemudian saya membalasnya bahwa Basmalah merupakan bagian dari Al Fatihah. Karena pada waktu itu
sedang sibuk, maka saya tidak sempat menjelaskan secara lebih detil. Mungkin teman-teman saya yang lain juga
banyak yang bertanya-tanya tentang hal ini, karena ketika berjamaah sebagian Imam membaca Basmalah
secara jahr (keras), ada yang membaca secara sirr (samar), dan ada juga yang tidak membacanya.
Baiklah, agar menjadi netral, di sini saya akan mencoba memaparkan status Basmalah dan hukum membacanya
ketika shalat menurut para Imam empat mazhab sejauh pengetahuan dan kapasitas saya yang masih belajar fiqh
kelas ibtida (dasar) dan Al Quran yang masih Turutan. Jika Pembaca bertanya menurut saya yang benar yang
mana, saya hanya bisa menjawab kesemuanya benar berdasarkan metode istinbath (penggalian hukum) masingmasing, akan tetapi saya pribadi mengamalkan pendapat Imam Syafii.

Basmalah menurut Mazhab Hanafi (Imam Abu Hanifah)


Mazhab Hanafi berpendapat bahwa Basmalah bukan merupakan bagian dari Al Fatihah. Adapun membaca
Basmalah pada Al Fatihah ketika shalat hukumnya sunnah dan dibaca secara sirr (samar).


:
.

: .
:
"Basmalah bukanlah ayat dari Al Fatihah dan bukan pula ayat dari surat-surat yang lain kecuali di tengah-tengah
surat An-Naml. Berdasarkan hadits dari Sayyidina Anas -radhiyAllahu anhu-: Saya shalat bersama Rasulullah
-shallAllahu alayh wa aalih wa sallam-, Abu Bakar, Umar, dan Utsman -radhiyAllahu anhum-, maka aku tidak
mendengar satu pun dari mereka membaca Bismillahirrahmanirrahim (HR Muslim dan Ahmad). Akan tetapi
orang yang shalat munfarid (sendiri) membaca Bismillahirrahmanirrahim pada Al Fatihah di setiap rakaat secara
samar, sebagaimana menyamarkan pula pada Tamin (membaca aaamiiin), maka pembaca membaca Basmalah
dan Tamin secara samar. Adapun Imam maka tidak membaca Basmalah dan tidak menyamarkan bacaannya
supaya tidak menyamarkan di antara dua jahr. Ibnu Masud berkata: Empat hal yang Imam meringankan
bacaannya: taawudz, tasmiyah (Basmalah), tamin, dan tahmid (bacaan: Robbana lakal hamdu) (Fiqh Islami
wa Adillatuhu II/22).



.
"Adapun Imam Abu Hanifah dan para ulama mazhabnya berkata tentang membaca Basmalah di dalam shalat
secara samar. Mereka tidak meriwayatkan membaca Basmalah secara keras bagi Imam maupun bagi orang yang
shalat sendirian. (Basmalah dibaca) setelah istifadah dan sebelum Al Fatihah untuk mencari berkah dengannya
di dalam rakaat pertama seperti halnya taawudz menurut kesepakatan riwayat-riwayat dari Imam Abu Hanifah.
Membaca Basmalah disunnahkan menurut pendapat yang masyhur di kalangan ulama mazhab Hanafi. (AlMausuah Al-Fiqh Al-Islami I/17).

Basmalah menurut Mazhab Maliki (Imam Malik bin Anas)


Menurut Mazhab Maliki, Basmalah bukan ayat dari Al Fatihah dan tidak disunnahkan membacanya di dalam
shalat baik keras maupun samar. Adapun membacanya maka hukumnya makruh.


.
"Dan menurut Mazhab Maliki, Basmalah bukan ayat dari Al Fatihah. Maka tidak dibaca pada shalat maktubah
(shalat lima waktu) baik keras maupun samar, tidak pula dibaca pada Al Fatihah dan pada surat-surat lain".
(Fiqh Islami wa Adillatuhu II/30).

:


"Ulama Mazhab Maliki berkata: Makruh hukumnya membaca Basmalah di dalam shalat fardhu baik dibaca
secara keras maupun samar, kecuali jika si mushalli (orang yang shalat) berniat untuk keluar dari khilaf
(perbedaan pendapat) ulama, maka dia membaca Basmalah di awal surat Al Fatihah secara samar yang
hukumnya sunnah, atau dibaca keras yang hukumnya makruh pada tingkah ini. Adapun pada shalat sunnah
maka boleh bagi mushalli untuk membaca Basmalah ketika membaca Al Fatihah". (Fiqh ala Madzahib Arbaah
I/301).

Basmalah menurut Mazhab Syafii (Imam Muhammad bin Idris As-Syafii)

Menurut Mazhab Syafii, Basmalah merupakan bagian dari ayat surat Al Fatihah sehingga wajib dibaca ketika
shalat. Dan dibaca dengan keras ketika menjadi Imam shalat berjamaah.


. :
:
(1 )
.
"Adapun menurut Mazhab Syafii, Basmalah merupakan ayat dari Al Fatihah. Sebagaimana diriwayatkan oleh
Imam Bukhori dalam kitab Tarikh-nya bahwa sesungguhnya Rasulullah -shallAllahu alaih wa aalih wa sallammenghitung Al Fatihah sebanyak tujuh ayat dan menghitung Bismillahirrahmanirrahim sebagai salah satu ayat
daripadanya. Dan diriwayatkan oleh Imam Ad-Daruquthni dari Abi Hurairah bahwa sesungguhnya Rasulullah
-shallAllahu alaih wa aalih wa sallam- bersabda: Jika kalian membaca Alhamdulillah, maka bacalah
Bismillahirrahmanirrahim. Sesungghnya itu adalah Ummul Quran, Ummul Kitab, dan Sabul Matsani (tujuh
ayat yang diulang-ulang). Dan Bismillahirrahmanirrahim salah satu ayat daripadanya. (1) Dan karena
sesungguhnya para sahabat -radhiyAllahu anhum- menetapkan Bismillahirrahmanirrahim ke dalam
pengumpulan Al Quran, maka hal itu menunjukkan bahwa sesungguhnya Bismillahirrahmanirrahim adalah
ayat daripadanya.

( 1)
(173/1: ) .
(1) Dan terdapat hadits lain yang membahas Basmalah. Di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Imam
Bukhori, Imam Muslim, dan Imam Ibnu Khuzaimah dengan sanad yang shahih dari Ummi Salamah. Adapun
hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ad-Daruquthni (Subulus Salam 1/173). (Fiqh Islami wa Adillatuhu II/26).

"Menceritakan kepadaku Abu Thahir, menceritakan kepadaku Abu Bakar, menceritakan kepadaku Muhammad
bin Ishaq As-Shanani, menceritakan kepadaku Khalid bin Khadasy, menceritakan kepadaku Amr bin Harun,
dari Ibnu Juraij, dari Ibnu Abi Mulikah, dari Ummi Salamah: Sesungguhnya Nabi -shallAllahu alaih wa aalih
wa sallam- membaca Bismillahirrahmanirrahim di dalam shalatnya, maka beliau menghitungnya sebagai satu
ayat, dan Alhamdulillahirabbilalamin dua ayat, dan Iyyakanastain beliau mengumpulkan lima jarinya.
(Shahih Ibnu Khuzaimah, hadits nomor 493, I/248).



:
: :
: : :

"Menceritakan kepadaku Abu Thahir, menceritakan kepadaku Abu Bakar, menceritakan kepadaku Muhammad
bin Abdulloh bin Abdul Hakam, menceritakan kepadaku ayahku dan Syuaib -yaitu Ibnu Laits- mereka berdua
berkata: menceritakan kepadaku Al-Laits, menceritakan kepadaku Khalid, menceritakan kepadaku Muhammad
bin Yahya, menceritakan kepadaku Said bin Abi Maryam, menceritakan kepadaku Al-Laits, menceritakan
kepadaku Khalid bin Yazid, dari Abi Hilal, dari Nuaim Al-Majmar berkata: Aku shalat di belakang Abu
Hurairah maka beliau membaca Bismillahirrahmanirrahim kemudian membaca Ummul Kitab sampai wa
laddhoolliin, kemudian beliau berkata aamiin, dan jamaah berkata aamiin. Beliau berkata ketika hendak
sujud Allahu Akbar, dan ketika bangun dari duduk Allahu Akbar. Dan beliau berkata ketika usai salam:
Demi Dzat yang jiwaku ada di genggaman-Nya! Sesungguhnya aku telah mencontohkan kepada kalian shalat

bersama Rasulullah -shallAllahu alaih wa aalih wa sallam- secara keseluruhan dengan satu lafadz. (Shahih
Ibnu Khuzaimah, hadits nomor 499, I/251).

Basmalah menurut Mazhab Hambali (Imam Ahmad bin Hambal)


Menurut Mazhab Hambali, Basmalah merupakan ayat dari Al Fatihah. Adapun cara membacanya adalah dengan
samar.

. :
Berkata ulama Mazhab Hambali: Basmalah merupakan ayat dari Al Fatihah dan wajib membacanya di dalam
shalat, tapi dibaca secara samar, dan tidak dikeraskan atas bacaannya. (Fiqh Islami wa Adillatuhu II/30).
Jika kita melihat dari pendapat para Imam Mazhab di atas, kita dapat mengamati bahwa bagaimanapun juga,
membaca Basmalah tidak membatalkan shalat. Paling banter hukumnya adalah makruh, sebagaimana pendapat
Mazhab Maliki, namun tidak sampai membatalkan shalat. Namun di sisi lain, ada mazhab yang mewajibkan
membaca Basmalah, yaitu Mazhab Syafii dan Hambali, yang shalat tidak akan sah jika tidak membacanya.
Hal ini juga berlaku dalam shalat jamaah. Jika Imam tidak membaca Basmalah, sedangkan di antara makmumnya ada yang bermazhab Syafii atau Hambali, maka hal ini bisa membatalkan shalat si Makmum. Dengan
terpaksa dan tanpa ada pilihan lain, si Makmum mau tidak mau harus mufaroqoh (berpisah dari jamaah) agar
shalatnya bisa sah, tentunya dengan terpaksa pula kehilangan pahala shalat berjamaah. Jika shalatnya adalah
shalat maktubah, mungkin tidak terlalu menjadi masalah karena si makmum bisa mufaroqoh untuk mengerjakan
shalat sendiri. Tentunya akan sangat merepotkan jika Imam tidak membaca Basmalah ketika shalat Jumat,
karena si Makmum akan kehilangan shalat Jumat, dan terpaksa shalat Dzuhur sendirian.
Dengan menimbang kemaslahatan bersama (win-win solution), saya berpendapat dan mengusulkan bahwa si
Imam seharusnya membaca Basmalah, walaupun itu secara samar, agar semua jamaah bisa sah shalatnya dan
sama-sama mendapat pahala shalat berjamaah.
Semoga tulisan ini bermanfaat dan dapat menjadi perhatian para Imam agar bijak dalam menjadi Imam.
Oleh : Moh. Erwan Hasbulloh Bashiddiq
Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan RI

< Prev

Next >
Comments
0#2 miftakh 2013-10-07 21:18
kita kan tidak tau seandaiinya imamnya membaca basmalah secara sirr atau tidak, terus bagaimana
dengan si makmum, apakah tetap wajib mufaroqoh? atau si simakmum menyangka saja bahwa
mungkin saja si imam membaca basmalah secara sirr??
Quote

0#1 nurul 2013-01-20 21:14


Quote

Refresh comments list


RSS feed for comments to this post

Add comment
Name (required)
E-mail (required, but will not display)
Website

1000 symbols left

Notify me of follow-up comments

Refresh

Send