Anda di halaman 1dari 11

Rumah Sehat

Definisi Rumah
Dalam Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman,
perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau
lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan.
Definisi Rumah Sehat
Rumah sehat dapat diartikan sebagai tempat berlindung, bernaung, dan tempat untuk
beristirahat, sehingga menumbuhkan kehidupan yang sempurna baik fisik, rohani, maupun sosial
(Sanropie dkk., 1989).
Kriteria Rumah Sehat
Kriteria rumah sehat menurut American Public Health Asociation (APHA), yaitu:
1. Memenuhi kebutuhan dasar fisik
Sebuah rumah harus dapat memenuhi kebutuhan dasar fisik, seperti:
a. Rumah yang dibangun harus dapat dipelihara atau dipertahankan temperatur
lingkungannya. Sebaiknya temperatur udara dalam ruangan harus lebih rendah
paling sedikit 4C dari temperatur udara luar untuk daerah tropis. Umumnya
temperatur kamar 22C - 30C sudah cukup segar.
b. Rumah tersebut harus terjamin pencahayaannya yang dibedakan atas cahaya
matahari (penerangan alamiah) serta penerangan dari nyala api lainnya
(penerangan buatan).
c. Rumah tersebut harus mempunyai ventilasi yang sempurna sehingga aliran udara
segar dapat terpelihara. Luas lubang ventilasi tetap, minimum 5% dari luas lantai
ruangan, sedangkan luas lubang ventilasi insidentil (dapat dibuka dan ditutup)
minimum 5% luas lantai sehingga jumlah keduanya menjadi 10% dari luas lantai
ruangan.

d. Rumah tersebut harus dapat melindungi penghuni dari gangguan bising yang
berlebihan karena dapat menyebabkan gangguan kesehatan baik langsung maupun
dalam jangka waktu yang relatif lama.
e. Rumah tersebut harus memiliki luas yang cukup untuk aktivitas dan untuk
anakanak dapat bermain.
2. Memenuhi kebutuhan dasar psikologis
Rumah harus dibangun sedemikian rupa sehingga dapat terpenuhi kebutuhan dasar
psikologis penghuninya, seperti:
a. Cukup aman dan nyaman bagi masing-masing penghuni
Adanya ruangan khusus untuk istirahat bagi masing-masing penghuni, seperti
kamar tidur untuk orang tua. Anak-anak berumur di bawah 2 tahun masih
diperbolehkan satu kamar tidur dengan orang tua. Anak-anak di atas 10 tahun
laki-laki dan perempuan tidak boleh dalam satu kamar tidur. Anak-anak di atas 17
tahun mempunyai kamar tidur sendiri.
b. Ruang duduk dapat dipakai sekaligus sebagai ruang makan keluarga, dimana
anak-anak sambil makan dapat berdialog langsung dengan orang tuanya.
c. Dalam memilih letak tempat tinggal, sebaiknya di sekitar tetangga yang memiliki
tingkat ekonomi yang relatif sama,
d. Dalam meletakkan kursi dan meja di ruangan jangan sampai menghalangi lalu
lintas dalam ruangan
e. W.C. (Water Closet) dan kamar mandi harus ada dalam suatu rumah dan
terpelihara kebersihannya
f. Untuk memperindah pemandangan, perlu ditanami tanaman hias, tanaman bunga
yang kesemuanya diatur, ditata, dan dipelihara secara rapi dan bersih, sehingga
menyenangkan bila dipandang.
3. Melindungi dari penyakit
Rumah tersebut harus dibangun sedemikian rupa sehingga dapat melindungi penghuninya
dari kemungkinan penularan penyakit atau zat-zat yang membahayakan kesehatan. Dari
segi ini, maka rumah yang sehat adalah rumah yang di dalamnya tersedia air bersih yang

cukup dengan sistem perpipaan seperti sambungan atau pipa dijaga jangan sampai sampai
bocor sehingga tidak tercemar oleh air dari tempat lain.
Rumah juga harus terbebas dari kehidupan serangga dan tikus, memiliki tempat
pembuangan sampah, pembuangan air limbah serta pembuangan tinja yang memenuhi
syarat kesehatan.
4. Melindungi dari kemungkinan kecelakaan
Rumah harus dibangun sedemikian rupa sehingga dapat melindungi penghuni dari
kemungkinan terjadinya bahaya atau kecelakaan. Termasuk dalam persyaratan ini antara
lain bangunan yang kokoh, tangga yang tidak terlalu curam dan licin, terhindar dari
bahaya kebakaran, alat-alat listrik yang terlindung, tidak menyebabkan keracunan gas
bagi penghuni, terlindung dari kecelakaan lalu lintas, dan lain sebagainya
Parameter dan Indikator Penilaian Rumah Sehat
Parameter yang dipergunakan untuk menentukan rumah sehat adalah sebagaimana yang
tercantum dalam Kepmenkes Nomor 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang Persyaratan Kesehatan \
Perumahan.
1. Bahan bangunan
Syarat bahan bangunan yang diperbolehkan antara lain:
a. Tidak terbuat dari bahan yang dapat melepas zat-zat yang dapat membahayakan
kesehatan, seperti debu total tidak lebih dari 150 g/m3 asbes bebas tidak melebihi
0,5 fiber/m3/4 jam, dan timah hitam tidak melebihi 300 mg/kg.
b. Tidak terbuat dari bahan yang dapat memungkinkan tumbuh dan berkembangnya
mikroorganisme patogen.

2. Komponen dan penataan ruang rumah


Komponen rumah harus memenuhi persyaratan fisik dan biologis seperti berikut:
a. Lantai yang kedap air dan mudah dibersihkan.
Menurut Sanropie (1989), lantai dari tanah lebih baik tidak digunakan lagi, sebab
bila musim hujan akan lembab sehingga dapat menimbulkan gangguan/penyakit
terhadap penghuninya. Oleh karena itu perlu dilapisi dengan lapisan yang kedap air
seperti disemen, dipasang tegel, keramik, teraso dan lain-lain. Untuk mencegah
masuknya air ke dalam rumah, sebaiknya lantai dinaikkan kira-kira 20 cm dari
permukaan tanah.

b. Dinding, dengan pembagian:


(i)
Untuk di ruang tidur dan ruang keluarga dilengkapi dengan sarana
(ii)

ventilasi untuk pengaturan sirkulasi udara;


Untuk di kamar mandi dan tempat cuci harus kedap air dan mudah
dibersihkan.

Berdasarkan Sanropie (1989), fungsi dinding selain sebagai pendukung atau


penyangga atap, dinding juga berfungsi untuk melindungi ruangan rumah dari
gangguan, serangga, hujan dan angin, juga melindungi dari pengaruh panas dan
angin dari luar. Bahan dinding yang paling baik adalah bahan yang tahan api, yaitu
dinding dari batu.
c. Langit-langit
Langit-langit harus mudah dibersihkan dan tidak rawan kecelakaan. Karena itu perlu
dilapisi dengan lapisan yang kedap air seperti disemen, dipasang tegel, keramik.
Untuk mencegah masuknya air ke dalam rumah,sebaiknya lantai ditinggikan 20cm
dari permukaan tanah.
d. Bubungan rumah yang memiliki tinggi 10 m atau lebih harus dilengkapi dengan
penangkal petir
e. Pembagian ruangan / tata ruang
Setiap rumah harus mempunyai bagian ruangan yang sesuai dengan fungsinya.
Adapun syarat pembagian ruangan yang baik adalah :
1. Ruang untuk istirahat/tidur
Adanya pemisah yang baik antara ruangan kamar tidur orang tua dengan
kamar tidur anak, terutama anak usia dewasa. Tersedianya jumlah kamar
yang cukup dengan luas ruangan sekurangnya 8 m2 dan dianjurkan tidak
untuk lebih dari 2 orang agar dapat memenuhi kebutuhan penghuninya
untuk melakukan kegiatan.
2. Ruang dapur
Dapur harus mempunyai ruangan tersendiri, karena asap dari hasil
pembakaran dapat membawa dampak negatif terhadap kesehatan. Ruang
dapur harus memiliki ventilasi yang baik agar udara/asap dari dapur dapat
teralirkan keluar.

3. Kamar mandi dan jamban keluarga


Setiap kamar mandi dan jamban paling sedikit memiliki satu lubang
ventilasi untuk berhubungan dengan udara luar.
f. Ventilasi
Ventilasi ialah proses penyediaan udara segar ke dalam suatu ruangan dan
pengeluaran udara kotor suatu ruangan baik alamiah maupun secara buatan.
Ventilasi harus lancar diperlukan untuk menghindari pengaruh buruk yang dapat
merugikan kesehatan. Ventilasi yang baik dalam ruangan harus mempunyai
syarat-syarat, diantaranya :
a) Luas lubang ventilasi tetap, minimum 5% dari luas lantai ruangan.
Sedangkan luas lubang ventilasi insidentil (dapat dibuka dan ditutup)
minimum 5%. Jumlah keduanya menjadi 10% kali luas lantai ruangan.
b) Udara yang masuk harus udara bersih, tidak dicemari oleh asap
kendaraan, dari pabrik, sampah, debu dan lainnya.
c) Aliran udara diusahakan Cross Ventilation dengan menempatkan dua
lubang jendela berhadapan antara dua dinding ruangan sehingga proses
aliran udara lebih lancar.
g. Luas Bangunan Rumah
Luas bangunan rumah sehat harus cukup untuk penghuni di dalamnya, artinya
luas bangunan harus disesuaikan dengan jumlah penghuninya. Luas bangunan
yang tidak sebanding dengan jumlah penghuninya akan menyebabkan kepadatan
penghuni (overcrowded). Sesuai kriteria Permenkes tentang rumah sehat,
dikatakan memenuhi syarat jika 8 m2/ orang.

Dilihat dari aspek sarana sanitasi, maka beberapa sarana lingkungan yang berkaitan dengan
perumahan sehat adalah sebagai berikut :
1. Sarana Air Bersih
Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya
memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. Di Indonesia
standar untuk air bersih diatur dalam Permenkes RI No. 01/Birhubmas/1/1975 (Chandra,
2009). Dikatakan air bersih jika memenuhi 3 syarat utama, antara lain :

a) Syarat fisik
Air tidak berwarna, tidak berbau, jernih dengan suhu di bawah suhu udara sehingga
menimbulkan rasa nyaman.
b) Syarat kimia
Air yang tidak tercemar secara berlebihan oleh zat kimia, terutama yang berbahaya
bagi kesehatan.
c) Syarat bakteriologis
Air tidak boleh mengandung suatu mikroorganisme. Misal sebagai petunjuk bahwa
air telah dicemari oleh faces manusia adalah adanya E. coli karena bakteri ini selalu
terdapat dalam faces manusia baik yang sakit, maupun orang sehat serta relatif lebih
sukar dimatikan dengan pemanasan air.
2. Jamban (sarana pembuangan kotoran)
Pembuangan kotoran yaitu suatu pembuangan yang digunakan oleh keluarga atau
sejumlah keluarga untuk buang air besar. Cara pembuangan tinja, prinsipnya yaitu :
a)
b)
c)
d)
e)

Kotoran manusia tidak mencemari permukaan tanah.


Kotoran manusia tidak mencemari air permukaan / air tanah.
Kotoran manusia tidak dijamah lalat.
Jamban tidak menimbulkan bau yang mengganggu.
Konstruksi jamban tidak menimbulkan kecelakaan.

3. Pembuangan Air Limbah (SPAL)


Air limbah adalah cairan buangan yang berasal dari rumah tangga, industri, dan tempat
umum lainnya dan biasanya mengandung bahan atau zat yang membahayakan kehidupan
manusia serta mengganggu kelestarian lingkungan (Chandra, 2007).Air limbah adalah air
tidak bersih mengandung berbagai zat yang bersifat membahayakan kehidupan manusia
ataupun hewan, dan lazimnya karena hasil perbuatan manusia.
Berbagai macam limbah :
Limbah rumah tangga, misalnya air dari kamar mandi dan dapur.
Limbah perusahaan, misalnya dari hotel, restoran, kolam renang.
Limbah industry
4. Sampah
Sampah adalah semua produk sisa dalam bentuk padat, sebagai akibat aktifitas manusia,
yang dianggap sudah tidak bermanfaat. Syarat tempat sampah adalah :
a) Terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan, kuat sehingga tidak
mudah bocor, kedap air.

b) Harus ditutup rapat sehinga tidak menarik serangga atau binatang binatang
lainnya seperti tikus, kucing dan sebagainya.

Karakteristik Keluarga
a. Tingkat Pendidikan Orangtua
Pendidikan sebagai suatu proses atau kegiatan untuk mengembangkan kepribadian dan
kemampuan individu atau masyarakat. Ini berarti bahwa pendidikan adalah suatu
pembentukan watak yaitu sikap disertai kemampuan dalam bentuk kecerdasan,
pengetahuan, dan keterampilan.
b. Pengetahuan (Knowledge)
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu yang terjadi setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek. Pengetahuan seseorang terhadap obyek mempunyai
intensitas dan tingkat yang berbeda-beda, yang secara garis besar dapat dibagi dalam 6
tingkat pengetahuan, yaitu :
1) Tahu (know)
2) Memahami (comprehension)
3) Aplikasi (application)
4) Analisis (analysis)
5) Sintesis (synthetis)
6) Evaluasi (evaluation)
7)
c. Jenis Pekerjaan Orang Tua
Pekerjaan juga mempunyai hubungan yang erat dengan status sosial ekonomi, sedangkan
berbagai jenis penyakit yang timbul dalam keluarga sering berkaitan dengan jenis
pekerjaan yang mempengaruhi pendapatan keluarga (Noor, 2008).

d. Pendapatan Keluarga
Tingkat pendapatan yang baik memungkinkan anggota keluarga untuk memperoleh yang
lebih baik, misalnya di bidang pendidikan, kesehatan, pengembangan karir dan
sebagainya. Demikian pula sebaliknya jika pendapatan lemah akan maka hambatan

dalam pemenuhan kebutuhan tersebut. Keadaan ekonomi atau penghasilan memegang


peranan penting dalam meningkatkan status kesehatan keluarga.

Letak Rumah
Letak rumah adalah salah satu faktor yang penting artinya bagi kesehatan penghuni.
Sebagai contoh adalah, sebuah rumah seharusnya tidak didirikan di dekat tempat dimana
sampah dikumpulkan atau dibuang, dengan pertimbangan karena di tempat pembuangan
sampah tersebut akan banyak lalat, serangga maupun tikus yang akan membawa kuman
penyakit kedalam lingkungan rumah (WHO, 1995).
Di bangun dengan lubang bukaan maksimal pada arah utara, arah selatan, dan arah timur,
serta seminimal mungkin pada arah barat. Lubang bukaan pada arah utara-selatan
diharapkan sebanyak mungkin memasukan sinar matahari dari kubah langit.
Kurangnya cahaya matahari yang masuk ke dalam rumah. Rumah terasa sumpek, pengap,
panas, dan dapat menimbulkan ketidaknyamanan penghuni.

CHOP (salah satu rumah di pemukiman penduduk kelurahan Sukma Jaya)


Aspek Sosial Ekonomi Keluarga
1. Pekerjaan keluarga
Keluarga diisi oleh beberapa jiwa dengan jumlah sepuluh orang , untuk keluarga yang
bekerja adalah ayah dan ibu
Ayah : buruh serabutan
Ibu : rumah tangga
2. Pendapatan pekerjaan
Pendapatan tidak menentu setiap bulannya karena ayah bekerja bila ada panggilan
sebagai buruh panggul di pasar atau mendirikan bangunan (rumah). Kira kira
pendapatan yang dapat dicapai saat bekerja adalah 1 1.5 juta/ bulan
3. Lingkungan rumah

Saat melakukan penilaian, lingkungan di luar rumah terlihat tidak begitu bersih dan
rumah terletak berdempetan dengan rumah di sekitarnya sehingga cahaya dan tempat
penghijauan sangat minim sekali
4. Kebersihan rumah
Lingkungan diluar rumah terlihat cukup bersih namun berbeda ketika di dalam rumah, di
dalam rumah terlihat cukup kotor karena penataan barang yang masih belum baik
sehingga mudah menimbulkan kotor, dan rumah disapu hanya dua hari sekali

Aspek Penilaian
Komponen Rumah
1) Langit langit
Langit langit terbuat dari bahan yang kurang aman dan terlihat banyak yang sudah
rapuh, sehingga membahayakan penghuni rumah. Kebersihan langit langit juga kurang
terpelihara dengan baik
2) Dinding
Dinding terbuat dari bahan yang permanen namun tidak dilengkapi papan kedap air, di
beberapa ruangan sudah ada yang rapih dengan di plester dan di cat
3) Jendela kamar
Ada, namun jarang dibuka dan jarang terpancar sinar matahari secara langsung , ada
beberapa ruangan yang tidak memiliki jendela
4) Lantai
Lantai belum dalam bentuk ubin dan lantai dibersihkan (disapu dan di pel) dalam jangka
waktu dua hari sekali sehingga kebersihan lantai masih kurang
5) Jendela ruang keluarga
Ada, namun jarang dibuka dan tertutup oleh gorden sehingga cahaya yang masuk ke
dalam ruangan menjadi terhambat
6) Ventilasi
Ada, namun dari luas ruangan yang ada dibandingkan dengan jumlah ventilasi dan luas
ventilasi yang terpasang menurut kami masih kurang karena luas ventilasi masih <10%
luas lantai, sehingga pertukaran udara terganggu

7) Lubang asap dapur


Tidak ada, untuk keluarnya asap dapur hanya mengandalkan pintu yang terbuka didekat
peralatan memasak.
8) Pencahayaan
Pencahayaan masih kurang karena daya yang digunakan masih kecil sehingga sulit untuk
membaca secara normal atau sulit digunakan untuk belajar, ada beberapa ruangan yang
tidak memiliki sumber pencahayaan.

Sarana Sanitasi
1) Sarana air bersih
Ada dan milik pribadi namun sayanganya tidak memenuhi syarat kesehatan karena jarak
antara sumber air dan septic thank < 10 meter

2) Jamban
Ada, namun saluran jamban bukan bentuk leher angsa, jamban tidak tertutup dan kotoran
yang dibuang langsung masuk septic thank yang berjarak kurang lebih 4 meter dari
jamban
3) Sarana pembuangan air limbah
Ada, disalurkan ke selokan tertutup dan tidak mencemari tanah sekitar atau mengotori
tempat sekitar pembuangan air limbah
4) Sarana pembuangan tempat sampah

Perilaku penghuni
1. Membuka jendela kamar
Jendela kamar tidak pernah dibuka karena model jendela hanya kaca yang tertutup oleh
gordyn
2. Membuka jendela ruang keluarga
Jendela di ruang keluarga hanya terdiri dari kaca yang tidak dapat dibuka, tertutup oleh
gordyn dan sangat jarang untuk dibuka setiap pagi atau di tutup menjelang sore hari,
cahaya yang masuk hanya melalui pintu utama yang dibuka setiap pagi

3. Membersihkan halaman
Membersihkan halaman jika kotor, tidak ada jadwal rutin untuk membersihkan halaman
yang ada di depan rumah
4. Membuat tinja bayi dan balita ke jamban
5. Membuang sampah ke tempat sampah
Setiap hari dibuang ke tempat sampah yang terletak di depan rumah, sampah yang berada
di lantai dalam rumah atau di halaman dikumpulkan di tempat sampah tersedia di depan
rumah/ dihalaman rumah