Anda di halaman 1dari 28

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan wilayah
yang luas dan heterogen, secara geografis maupun sosiokultural, memerlukan upaya yang tepat untuk mengatasi
berbagai permasalahan, di antaranya permasalahan
pendidikan di daerah 3T. Permasalahan tersebut antara lain
yang terkait dengan tenaga pendidik, seperti kekurangan
jumlah guru (shortage), distribusi guru yang tidak seimbang
(unbalanced distribution), kualifikasi guru di bawah standar
(under qualification), kurang kompeten (low competencies),
dan ketidaksesuaian antara kualifikasi pendidikan dengan
bidang yang diampu (mismatched). Permasalahan lain dalam
penyelenggaraan pendidikan di daerah 3T adalah angka putus
sekolah yang masih relatif tinggi, angka partisipasi sekolah
yang masih rendah, sarana prasarana yang belum memadai,
dan infrastruktur untuk kemudahan akses dalam mengikuti
pendidikan yang masih sangat kurang.
Sebagai bagian dari NKRI, daerah 3T memerlukan upaya
peningkatan mutu pendidikan yang dikelola secara khusus
dan sungguh-sungguh dalam mengatasi permasalahanpermasalahan tersebut di atas, agar daerah 3T dapat segera
maju bersama sejajar dengan daerah lain. Hal ini menjadi
perhatian khusus Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,
mengingat daerah 3T memiliki peran
strategis dalam
memperkokoh ketahanan nasional dan keutuhan NKRI.
Pedoman | Program SM-3T Tahun 2015

Salah satu kebijakan Kementerian Riset, Teknologi, dan


Pendidikan Tinggi dalam rangka percepatan pembangunan
pendidikan di daerah 3T, adalah Program Maju Bersama
Mencerdaskan Indonesia (MBMI). Program ini meliputi (1)
Program Sarjana Mendidik di daerah 3T (SM-3T), (2) Program
PPG Terintegrasi dan Kewenangan Tambahan (PPGT), dan (3)
Program PPG Kolaboratif (PPG Kolaboratif). Programprogram tersebut merupakan sebagian jawaban untuk
mengatasi berbagai permasalahan pendidikan di daerah 3T.
Program SM-3T sebagai salah satu Program MBMI ditujukan
kepada para Sarjana Pendidikan yang belum bertugas sebagai
guru, baik sebagai pegawai negeri sipil (PNS) maupun guru
tetap yayasan (GTY), untuk ditugaskan selama satu tahun di
daerah 3T. Program SM-3T dimaksudkan untuk membantu
mengatasi kekurangan guru, sekaligus mempersiapkan calon
guru profesional yang tangguh, mandiri, dan memiliki sikap
peduli terhadap sesama, serta memiliki jiwa pendidik untuk
mencerdaskan anak bangsa, agar dapat maju bersama
mencapai cita-cita luhur seperti yang diamanatkan oleh para
pendiri bangsa Indonesia.
B. Pengertian
Program SM-3T adalah program pengabdian sarjana
pendidikan untuk berpartisipasi dalam mengatasi permasalahan pendidikan, percepatan pembangunan pendidikan di
daerah 3T, dan merupakan bagian integral dari program PPG.

Pedoman | Program SM-3T Tahun 2015

C. Tujuan
Program SM-3T dilakukan dengan tujuan:
1. membantu daerah 3T dalam mengatasi permasalahan
pendidikan terutama kekurangan tenaga pendidik;
2. memberikan pengalaman pengabdian kepada sarjana
pendidikan sehingga terbentuk sikap profesional dan
terampil dalam memecahkan masalah pendidikan;
3. menumbuhkan sikap cinta tanah air, bela negara, peduli,
empati, terampil memecahkan masalah kependidikan, dan
bertanggung jawab terhadap kemajuan bangsa;
4. membangun daya juang dan ketahanmalangan dalam
mengembangkan pendidikan di daerah-daerah yang
tergolong 3T;
5. meningkatkan kecintaan terhadap profesi sebagai guru
yang bertugas di daerah 3T; dan
6. mempersiapkan calon pendidik profesional sebelum
mengikuti Program PPG.
D. Ruang Lingkup
Program SM-3T dilakukan dengan cakupan:
1. melaksanakan tugas pembelajaran pada satuan pendidikan
sesuai dengan bidang keahlian dan tuntutan kondisi
setempat;
2. mendorong kegiatan inovasi pembelajaran di sekolah;
3. melakukan kegiatan ekstrakurikuler;
Pedoman | Program SM-3T Tahun 2015

4. membantu tugas-tugas yang terkait dengan manajemen


pendidikan di sekolah; dan
5. melakukan tugas sosial dan pemberdayaan masyarakat
untuk mendukung program pembangunan pendidikan dan
kebudayaan di daerah 3T.
E. Landasan Yuridis
1.

UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan


Nasional.

2. UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.


3. PP Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru.
4. PP Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan atas PP
Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan.
5. Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar
Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.
6. Permendiknas Nomor 27 Tahun 2008 tentang Standar
Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor.
7. Permendikbud Nomor 87 Tahun 2013 tentang Program
Pendidikan Profesi Guru Prajabatan.
8. Kepmendiknas Nomor 126/P/2010 tentang Penetapan
LPTK Penyelenggara PPG bagi Guru Dalam Jabatan.
9. Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor
64/DIKTI/Kep/2011
tentang
Penetapan
Lembaga
Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) Penyelenggara
Pedoman | Program SM-3T Tahun 2015

Rintisan Program Pendidikan Profesi Guru Terintegrasi


(Berkewenangan Tambahan).
10. Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor
17g/DIKTI/Kep/2013 tentang Penetapan Perguruan Tiggi
Penyelenggara Rintisan Program Pendidikan Profesi Guru
Prajabatan.

Pedoman | Program SM-3T Tahun 2015

Pedoman | Program SM-3T Tahun 2015

BAB II REKRUTMEN DAN SELEKSI PESERTA PROGRAM


SM-3T

A. Sasaran
Peserta adalah lulusan program studi kependidikan S-1 tiga
tahun terakhir (2013, 2014, 2015) dari program studi
terakreditasi minimal B sesuai dengan mata pelajaran
dan/atau bidang keahlian yang dibutuhkan. Kuota secara
nasional untuk angkatan ke-5 (tahun 2015) sebanyak 3.000
orang.
B. Rekrutmen
Rekrutmen calon peserta merupakan salah satu kunci
keberhasilan program SM-3T. Rekrutmen calon peserta harus
memenuhi ketentuan sebagai berikut.
a. Proses penerimaan dilakukan secara transparan, dan
bertanggung jawab agar mendapatkan calon peserta
yang berkualitas tinggi.
b. Kelulusan calon peserta dalam seleksi ditentukan secara
nasional.
c. Untuk tahun 2015, calon peserta berasal dari prodi
PGPAUD, PGSD, PLB, Bimbingan Konseling, Pendidikan
Bahasa Indonesia, Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan
Seni Budaya (Drama, Tari, Musik), Pendidikan Seni Rupa,
Pendidikan Matematika, Pendidikan Fisika, Pendidikan
Kimia, Pendidikan Biologi, Pendidikan IPA, PPKn,
Pendidikan IPS, Pendidikan Sejarah, Pendidikan Geografi,
Pendidikan Ekonomi, Pendidikan Sosiologi/Antropologi,
Pedoman | Program SM-3T Tahun 2015

Pendidikan Teknik Elektro/Ketenagalistrikan, Pendidikan


Teknik Elektronika, Pendidikan Teknik Mesin, Pendidikan
Teknik Otomotif, Pendidikan Teknik Bangunan,
Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Tata Boga, Pendidikan
Kesejahteraan Keluarga
Tata Busana, Pendidikan
Kesejahteraan Keluarga Tata Rias, dan Pendidikan
Jasmani.
Dalam upaya memperoleh calon peserta yang berkualitas, maka
persyaratan dan sistem rekrutmen ditentukan sebagai berikut.
1.

Persyaratan Peserta
Peserta adalah lulusan program studi kependidikan yang pada
saat menjadi mahasiswa datanya tercatat di Pangkalan Data
Pendidikan Tinggi (PDDIKTI). Selain itu peserta harus
memenuhi persyaratan sebagai berikut.
a. Warga Negara Indonesia, dibuktikan dengan identitas diri
berupa KTP yang masih berlaku
b. Lulusan program studi kependidikan S-1 (bukan transfer)
tiga tahun terakhir (2013, 2014, 2015) dari program studi
terakreditasi yang sesuai dengan matapelajaran dan/atau
bidang keahlian yang dibutuhkan, dibuktikan dengan
fotokopi ijazah yang telah disahkan (legalisasi)
c. Berusia maksimum 27 tahun per 31 Desember 2015
d. IPK minimal 3,0 dibuktikan dengan fotokopi transkrip nilai
yang telah disahkan (legalisasi)
e. Berbadan sehat yang dibuktikan dengan surat keterangan
dokter dari rumah sakit pemerintah.
Pedoman | Program SM-3T Tahun 2015

f. Bebas narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (napza)


yang dibuktikan dengan Surat Keterangan Bebas Narkoba
(SKBN) dari pejabat yang berwenang.
g. Berkelakuan baik yang
keterangan dari kepolisian.

dibuktikan

dengan

surat

h. Belum menikah dan bersedia tidak menikah selama


mengikuti Program SM-3T dan PPG, yang dibuktikan
dengan surat pernyataan bermeterai.
i.

Belum pernah mengikuti program SM-3T pada tahun


sebelumnya dan sanggup mengikuti program PPG yang
dibuktikan dengan surat pernyataan bermeterai.

Bukti persyaratan huruf a) s.d. huruf i) dibawa pada saat tes


wawancara. Bagi peserta yang memiliki keahlian atau prestasi
minimal juara III tingkat kabupaten/kota, termasuk di bidang
olahraga dan seni, dihargai sebagai nilai tambah. Peserta yang
mempunyai pengalaman menjadi pengurus Unit Kegiatan
Mahasiswa (UKM), atau pengalaman organisasi lain, juga
dapat dihargai sebagai nilai tambah. Keahlian atau prestasi
tersebut dibuktikan dengan menunjukkan sertifikat asli dan
fotokopi, sedangkan untuk pengalaman menjadi pengurus
UKM atau organisasi lainnya dengan menunjukkan surat
keputusan (SK) asli dan fotokopi, pada saat wawancara.
Setelah wawancara, peserta diberi kesempatan untuk
melakukan unjuk kemampuan (perform) sesuai bakat dan
keterampilan yang mereka miliki.

Pedoman | Program SM-3T Tahun 2015

2. Seleksi Calon Peserta


Rekrutmen calon peserta Program SM-3T tahun 2015
dilakukan melalui seleksi di tingkat nasional dan di LPTK.
a. Seleksi Tingkat Nasional
Seleksi nasional dilakukan secara online dalam bentuk
seleksi administrasi dan seleksi akademik.
1) Seleksi Administrasi
Seleksi administrasi dilaksanakan secara nasional,
khususnya untuk memverifikasi relevansi program
studi yang dibutuhkan, IPK, tahun lulus, dan peringkat
akreditasi. Jika salah satu persyaratan administrasi
yang ditentukan tidak dipenuhi, peserta dinyatakan
gugur dan tidak dapat melanjutkan ke seleksi
berikutnya. Bukti fisik selengkapnya akan diverifikasi
oleh LPTK penyelenggara SM-3T.
2) SeleksiAkademik
Seleksi akademik nasional meliputi empat aspek, yaitu
tes potensi akademik, tes kemampuan dasar, dan tes
penguasaan kompetensi akademik bidang studi/bidang
keahlian.
a) Tes Potensi Akademik (TPA)
TPA bertujuan untuk mengetahui bakat dan
kemampuan seseorang di bidang akademik atau
keilmuan. TPA terdiri atas tes kemampuan berpikir:
analogi, logis, analisis, deret numerik, dan

Pedoman | Program SM-3T Tahun 2015

10

komparasi. TPA dilaksanakan dengan durasi waktu


45 menit.
b) Tes Kemampuan Dasar
Tes kemampuan dasar bertujuan untuk mengukur
kemampuan dalam bidang Bahasa Indonesia,
Bahasa Inggris, dan Matematika Dasar. Tes
kemampuan dasar dilaksanakan dengan durasi
waktu 60 menit.
c) Tes Penguasaan Kompetensi Akademik Bidang
Studi/Bidang Keahlian
Tes penguasaan kompetensi akademik bidang studi
level S1, dimaksudkan untuk mengukur penguasaan
bidang keahlian calon peserta sesuai dengan latar
belakang program studi kesarjanaannya. Tes
penguasaan kompetensi bidang studi dilaksanakan
dengan durasi waktu 90 menit.
3) Psikotes
Psikotes dimaksudkan untuk memperoleh informasi
mengenai kecendurungan psikis calon peserta.
Psikotes meliputi kepercayaan diri, tanggungjawab,
kestabilan emosi, hubungan sosial, intelegensi,
dorongan berprestasi, dorongan bekerja dengan
teratur, dorongan bekerjasama, dorongan menolong,
bekerja dengan tekun, dorongan menyelesaikan tugas,
kematangan emosi.Psikotes dilakukan dengan durasi
waktu 120 menit.
Peserta yang lulus seleksi nasional selanjutnya dapat
Pedoman | Program SM-3T Tahun 2015

11

mengikuti seleksi di tingkat LPTK.


b. Seleksi di Tingkat LPTK
Seleksi di tingkat LPTK meliputi verifikasi dokumen,
wawancara, dan tes khusus (untuk bidang seni budaya dan
penjaskes). Wawancara bertujuan untuk menemukenali
potensi minat dan bakat sebagai pendidik. Strategi
penelusuran minat dan bakat ini dapat dilakukan secara
individual atau Focus Group Discussion (FGD).

Pedoman | Program SM-3T Tahun 2015

12

BAB III PENYELENGGARAAN PROGRAM SM-3T

A. LPTK Penyelenggara
Pada tahun 2015 Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
menetapkan 17 LPTK sebagai penyelenggara Program SM-3T.
Ketujuhbelas LPTK beserta kuota disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. LPTK Penyelenggara Program SM-3T dan Kuota
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

LPTK Penyelenggara
Kuota*)
Universitas Negeri Medan (UNIMED)
200
Universitas Negeri Padang (UNP)
200
Universitas Negeri Jakarta (UNJ)
200
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
200
Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)
200
Universitas Negeri Semarang (UNNES)
200
Universitas Negeri Surabaya (UNESA)
200
Universitas Negeri Malang (UM)
200
Universitas Pendidikan Ganesha (UNDIKSHA)
200
Universitas Negeri Makasar (UNM)
200
Universitas Negeri Menado (UNIMA)
200
Universitas Negeri Gorontalo (UNG)
200
FKIP Universitas Syiah Kuala (UNSYIAH)
200
FKIP Universitas Riau (UNRI)
100
FKIP Universitas Nusa Cendana (UNDANA)
100
FKIP Universitas Mulawarman (UNMUL)
100
FKIP Universitas Tanjungpura (UNTAN)
100
Jumlah
3.000
*) Masih bersifat tentatif, kuota riil didasarkan pada hasil seleksi .
Pedoman | Program SM-3T Tahun 2015

13

B. Daerah Sasaran
Daerah sasaran program SM-3T ini adalah kabupaten yang
termasuk kategori daerah 3T berdasarkan kriteria dari
Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal di delapan
provinsi, yaitu Provinsi Aceh, Kepulauan Riau, NTT,
Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Maluku,
Papua, dan Papua Barat.
1.

Provinsi Aceh
a. Kabupaten Simeulue
b. Kabupaten Aceh Singkil
c. Kabupaten Aceh Selatan
d. Kabupaten Aceh Timur
e. Kabupaten Aceh Besar
f. Kabupaten Gayo Lues
g. Kabupaten Pidie Jaya

2. Provinsi Nusa Tenggara Timur


a. Kabupaten Sumba Timur
b. Kabupaten Kupang
c. Kabupaten Flores Timur
d. Kabupaten Ende
e. Kabupaten Ngada
f. Kabupaten Alor
g. Kabupaten Manggarai
h. Kabupaten Belu
3. Provinsi Sulawesi Utara
a. Kabupaten Talaud
b. Kabupaten Siau Tagulandang Biaro

Pedoman | Program SM-3T Tahun 2015

14

4. Provinsi Papua
a. Kabupaten Biak Numfor
b. Kabupaten Waropen
c. Kabupaten Jayawijaya
d. Kabupaten Lani Jaya
e. Kabupaten Pegunungan Bintang
f. Kabupaten Mamberamo Tengah
g. Kabupaten Mamberamo Raya
h. Kabupaten Yahukimo
i. Kabupaten Asmat
j. Kabupaten Mappi
k. Kabupaten Deiyai
5. Provinsi Papua Barat
a. Kabupaten Manokwari Selatan
b. Kabupaten Raja Ampat
c. Kabupaten Teluk Bintuni
d. Kabupaten Sorong
e. Kabupaten Sorong Selatan
f. Kabupaten Tambraw
6. Provinsi Kepulauan Riau
a. Kabupaten Kepulauan Anambas
7. Provinsi Kalimantan Barat
a. Kabupaten Sanggau
b. Kabupaten Landak
8. Kalimantan Utara
a. Kabupaten Malinau
b. Kabupaten Nunukan

Pedoman | Program SM-3T Tahun 2015

15

9. Provinsi Kalimantan Timur


a. Kabupaten Berau
b. Kabupaten Kutai Barat
10. Provinsi Maluku
a. Kabupaten Maluku Barat Daya
b. Kabupaten Kepulauan Aru
Berikut dipaparkan peta sebaran penempatan Program SM-3T
di seluruh wilayah Indonesia.

Gambar 2. Peta Sebaran Penempatan Program SM-3T


Di luar daerah tersebut di atas dimungkinkan untuk menjadi
daerah sasaran program ini sepanjang memenuhi
persyaratan sebagai daerah 3T.
C.

Jadwal Persiapan dan Pelaksanaan Program SM-3T 2015


Berikut disajikan rencana jadwal persiapan dan pelaksanaan
Program SM-3T tahun 2015.
Pedoman | Program SM-3T Tahun 2015

16

No

Kegiatan

Waktu

Pengumuman program SM-3T


Tahun 2015

2 Maret s.d 7 Juni 2015

Pendaftaranonline(mengisi
form, upload ijazah, dan foto)

9 Maret 7 Juni 2015

TOT operator IT LPTK untuk


Program SM-3T

3 5 April 2015

Seleksi administrasi (form


isian, ijazah, dan foto)

2 8 Juni 2015

Koordinasi denganKoordinator
Program SM-3T LPTK dan ToT
operator IT untuk persiapan
seleksi

5 7 Juni 2015

Pengumuman hasil seleksi


administrasi dan pengumuman
jadwal tes online

10 Juni 2015

Tes online

20- 21 Juni 2015

Rapat Koordinasi Penetapan


Kelulusan tes online

25 27 Juni 2015

Pengumuman hasil tes online

27 Juni 2015

10

Wawancara dan input nilai


hasil seleksi di LPTK

3 5 juli 2015

11

Koordinasi dengan LPTK


terkait penetapan hasil seleksi
dan pemetaan penempatan

9 10 Juli 2015

12

Pengumuman hasil seleksi dan


pengumuman pemanggilan

13 Juli 2015

Hari Raya Idul Fitri

17-18 Juli 2015

13

Koordinasi dengan dinas


pendidikan daerah sasaran

27 28 Juli 2015

14

Pemanggilan

29 31 juli 2015

Pedoman | Program SM-3T Tahun 2015

17

No

Kegiatan

Waktu

15

Prakondisi

1-17 Agustus 2015

16

Pemberangkatan

Minggu III Agustus 2015

17

Penarikan SM-3T 2014

Agustus 2015

18

Pelaksanaan di daerah sasaran

Agustus 2015-Juli 2016

19

Monitoring dan evaluasi oleh


LPTK dan tim PPG pusat

3 kali kegiatan

D. Kegiatan Prakondisi
Sebelum peserta diberangkatkan ke daerah sasaran untuk
melaksanakan program SM-3T, dilakukan program prakondisi
yang dilaksanakan oleh LPTK penyelenggara. Prakondisi
dimaksudkan untuk membekali kesiapan peserta sekaligus
sebagai seleksi kesiapan fisik dan mental.
Program prakondisi diawali dengan pemberian orientasi
umum tentang pendidikan di daerah 3T, dengan materi: (1)
membawa peserta ke alam psikologis dan sosiologis daerah
sasaran melalui pemutaran film dokumenter program SM-3T
angkatan sebelumnya, Laskar Pelangi, atau film sejenis; (2)
pemberian informasi tentang kondisi pendidikan di daerah 3T
yang antara lain tentang kekurangan tenaga guru, disparitas
kualitas, mismatched, tingginya angka putus sekolah, dan
rendahnya angka partisipasi sekolah; dan (3) orientasi
tentang sosial, budaya, dan kondisi infrastruktur daerah
sasaran.
Prakondisi meliputi kegiatan akademik dan non-akademik.
Prakondisi akademik meliputi: (1) pelatihan melaksanakan
tugas kependidikan pada kondisi khusus/tertentu (jumlah
Pedoman | Program SM-3T Tahun 2015

18

guru sangat kurang, kemampuan siswa rendah, dan saranaprasarana terbatas) (2) kepemimpinan dan manajemen
pendidikan di sekolah.
Prakondisi nonakademik meliputi: (1) pembinaan mental dan
survival (ketahanmalangan); (2) pelatihan keterampilan
sosial kemasyarakatan, (3) wawasan kebangsaan dan bela
negara serta (4) kepramukaan dan P3K.
2. Prakondisi Akademik
a. Pembekalan Kurikulum 2013
Untuk SM-3T angkatan V tahun 2015, peserta dituntut
sudah memiliki kesiapanuntuk mengimplementasikan
Kurikulum 2013 di daerah pengabdiannya. Oleh karena
itu, dalam prakondisi SM-3T mereka perludiberi
pembekalan mengenai konsep dasar dan implementasi
Kurikulum 2013. Alokasi waktu untuk pembekalan
Kurikulum 2013 adalah 10 JP.
b. Pelatihan Melaksanakan Tugas Kependidikan pada
Kondisi Khusus/Tertentu
Kegiatan pelatihan ini dimaksudkan untuk membekali
peserta Program SM-3T agar memiliki kemampuan
mengajar pada kondisi khusus. Sebagai contoh pada
kondisi sekolah kekurangan guru, peserta dibekali
kemampuan mengajar pada kelas rangkap dan
mengajar multi-subjek. Contoh lain, untuk kondisi
kekurangan sarana untuk pembelajaran, peserta
dibekali kemampuan berkreasi membuat media
pembelajaran berbasis lingkungan, LKS, dan bahan ajar
lainnya. Pelatihan melaksanakan tugas kependidikan
Pedoman | Program SM-3T Tahun 2015

19

pada kondisi khusus difasilitasi oleh dua orang


instruktur untuk setiap rombongan belajar dengan
alokasi waktu 40 JP. Untuk pelatihan ini juga dilibatkan
peserta PPG SM-3T terbaik,yang saat ini sedang
mengikuti program pendidikan profesi.Jumlah peserta
PPG SM-3T terbaik yang dilibatkan, sesuai kebutuhan.
c. Kepemimpinan dan Manajemen Pendidikan di Sekolah
Materi ini dimaksudkan untuk membekali peserta
Program SM-3T agar memiliki wawasan tentang
kepemimpinan dan manajemen pendidikan di sekolah.
Materi kepemimpinan pendidikan difokuskan pada
fungsi kepala sekolah sebagai leader, manager, dan
supervisor. Materi manajemen pendidikan di sekolah
difokuskan pada pengelolaan kurikulum, sarana
prasarana, dan kesiswaan. Alokasi waktu untuk materi
ini selama 10 JP.
3. Prakondisi Nonakademik
a. Pelatihan Keterampilan Sosial Kemasyarakatan
Pelatihan keterampilan sosial kemasyarakatan ini
dimaksudkan untuk membekali kompetensi sosial dan
kemasyarakatan kepada peserta agar mampu
melaksanakan tugasnya dalam berkomunikasi secara
aktif dengan pihak sekolah dan masyarakat. Materi
kegiatan ini terdiri atas tiga pokok bahasan, yaitu: (a)
kecepatan
beradaptasi
(sosioantropologi
dan
kemampuan komunikasi sosial), (b) pember-dayaan
masyarakat dan keluarga (berbasis budaya, ekonomi,

Pedoman | Program SM-3T Tahun 2015

20

dan ekologi), (c) pelatihan kepemimpinan, dan (d)


pelatihan teknologi tepat guna (TTG).
Narasumber untuk materi yang terkait dengan butir (a)
dan (b) adalah pejabat dari daerah sasaran yang
relevan dan kompeten. Sedangkan nara sumber untuk
materi butir (c) dan (d) dapat diambil dari dosen LPTK
penyelenggara yang kompeten pada bidang tersebut.
Alokasi waktu untuk kegiatan keterampilan sosial
kemasyarakatan ini sebanyak 20 JP.
b. Pembinaan Mental, Motivasi, dan Ketahan-malangan
(Survival)
Pembinaan mentaldimaksudkan untuk membangun
karakter para peserta agar memiliki karakter tangguh
dan peduli terhadap sesama, serta memiliki jiwa
ketahanmalangan dan tidak mudah menyerah ketika
menghadapi persoalan hidup di daerah sasaran. Materi
pembinaan ini meliputi pemberian motivasi,
penyampaian wawasan, dan contoh-contoh nyata
kelompok masyarakat dalam keadaan terbatas tetapi
mampu bertahan hidup. Dilanjutkan praktik di
lapangan yang dapat berupa outbond dan pemberian
pengalaman hidup yang penuh tantangan dan
rintangan. Nara sumber kegiatan ini adalah dosen LPTK
atau dapat berasal dari insitusi/masyarakat yang
memiliki pengalaman dan wawasan yang relevan
dengan kegiatan ini.

Pedoman | Program SM-3T Tahun 2015

21

c. Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara


Materi ini dimaksudkan untuk memperkokoh wawasan
peserta program SM-3T tentang integrasi nasional,
tujuan dan cita-cita nasional, cinta tanah air, kesadaran
bela negara, dan konstelasi geografis NKRI. Materi ini
juga diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran akan
perbedaan suku, agama, ras, dan golongan, serta
keanekaragaman budaya dan adat istiadat di
Indonesia. Peserta diharapkan mampu menyosialisasikan dan menanamkan wawasan kebangsaan dan
bela negara di daerah 3T.
Pembinaan mental dan ketahanmalangan (survival)
serta wawasan kebangsaan dan bela negara (2.b. dan
2.c.) dilaksanakan secara terintegrasi dengan alokasi
waktu 50 JP.
d. Kepramukaan, UKS, dan P3K
Materi kepramukaan dilaksanakan dengan maksud
membekali peserta SM-3T memiliki keterampilan dasar
kepramukaan. Materi UKS dan P3K dimaksudkan untuk
membekali peserta SM-3T memiliki kemampuan dasar
tentang kesehatan sekolah dan lingkungan, serta
memiliki keterampilan memberikan pertolongan
pertama pada kecelakaan.Narasumber materi ini dapat
berasal dari dosen atau unit kegiatan yang relevan di
lingkungan LPTK. Alokasi waktu untuk materi ini adalah
sebanyak 30 JP.

Pedoman | Program SM-3T Tahun 2015

22

E. Pemberangkatanke Daerah 3T
Pemberangkatan peserta ke daerah 3T dikoordinasikan oleh
LPTK penyelenggara. LPTK menugaskan dosen atau staf
untukmendampingi peserta mulai dari LPTK sampai dengan
lokasi yang dituju.
Sebelum pemberangkatan, Ditjen Dikti berkoordinasi dengan
Dinas Pendidikan daerah 3T terkait dengan:
(1) waktu penerimaan oleh bupati (kepala daerah);
(2) pengantaran peserta dari ibukota kabupaten menuju
tempat tinggal (lokasi pengabdian);
(3) sekolah tempat mengabdi;
(4) penyiapan tempat tinggal beserta orangtua asuh bagi
peserta SM-3T; dan
(5) hal-hal lain yang diperlukan, sesuai dengan kebutuhan
setempat.
F.

Pelaksanaan di Daerah 3T
Pelaksanaan program SM-3T, baik di sekolah tempat
pengabdianmaupun di lokasi tempat tinggal peserta,
dilakukan dalam kegiatan akademik dan nonakademik. Halhal yang harus dilakukan oleh peserta diantaranya: menyusun
program kerja sebagai acuan pelaksanaan tugas selama
berada di daerah sasaran; melaksanakan kegiatan dengan
penuh waktu, penuh rasa tanggung jawab, dan dedikasi yang
tinggi; membina kerjasama dengan sesama peserta,
masyarakat setempat, dan instansi terkait; berpartisipasi aktif
dalam kegiatan keagamanaan, sosial, budaya, dan
Pedoman | Program SM-3T Tahun 2015

23

kemasyarakatan; dan membuat catatan harian, laporan


tengah tahunan dan laporan akhir tahun.
G.

Pemantauan dan Pendampingan


Setelah peserta diberangkatkan ke lokasi 3T, LPTK
penyelenggara bertanggungjawab melakukan pemantauan
dan pendampingan peserta dalam rangka menjamin
keberhasilanprogram
SM-3T.
Pemantauan
dan
pendampingan ini dilakukan secara periodik dan
berkelanjutanuntuk memastikan program dapat berjalan
dengan baik dan setiap peserta melaksanakan tugas
pengabdiannya secara bertanggung jawab. Pemantauan dan
pendampingan
juga
dimaksudkan
untukmembantu
pesertamengatasi permasalahan yang dihadapi.
Dalam pemantauan dan pendampingan tersebut diperlukan
pelibatan pihak-pihak terkait, baik di tingkat sekolah, desa,
kecamatan, maupun kabupaten (guru, kepala sekolah, kepala
desa/tokoh masyarakat, UPTD dan Dinas Pendidikan).
Apabila ditemukan hal-hal yang menyimpang dari ketentuan,
maka LPTK dapat memberikan sanksi sesuai dengan
peraturan yang berlaku.

H. Penarikan Peserta
Setelah masa pengabdian di daerah 3T berakhir, LPTK
penyelenggara melakukan penarikan peserta, dengan
menugaskan dosen atau staf untuk melakukan penjemputan
ke daerah 3T. Sebelum penarikan, pengelola program SM-3T
masing-masing LPTK melakukan koordinasi dengan peserta
dan Dinas Pendidikan daerah 3T.
Pedoman | Program SM-3T Tahun 2015

24

I.

Pelaporan
Peserta diwajibkan membuat laporan pelaksanaan kegiatan
selama berada di daerah pengabdian, baik di sekolah maupun
di lokasi tempat tinggal peserta, yang terdiri atas: catatan
harian, laporan tengah tahunan, laporan akhir tahun, dan
profil sekolah. Penjelasan lebih rinci tentang masing-masing
laporan merujuk pada Buku Pegangan Peserta SM-3T. LPTK
dapat menambahkan bentuk tagihan yang lain, seperti:
membuat laporan tertulis tentang pengalaman menarik dan
testimoni.

J.

Pembiayaan Pelaksanaan Program


Pelaksanaan Program SM-3T Tahun 2015 dibiayai dengan
dana APBN (DIPA) Kementerian Riset, Teknologi dan
Pendidikan Tinggi Tahun Anggaran 2015.

Pedoman | Program SM-3T Tahun 2015

25

Pedoman | Program SM-3T Tahun 2015

26

Pedoman | Program SM-3T Tahun 2015

27

Pedoman | Program SM-3T Tahun 2015

28