Anda di halaman 1dari 44

LAPORAN KASUS

APPENDISITIS AKUT

Oleh
Nama : Jamia Werfete
Nim

: 06 703 267

PEMBIMBING : dr. Trajanus L. jembise, Sp.B

BAGIAN/SMF BEDAH RSUD DOK II


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS CENDERAWASIH
2016

LEMBAR PENGESAHAN

Telah disetujui dan dipresentasikan di hadapan pembimbing Laporan Kasus Appendisitis


Akut, sebagai syarat untuk mengikuti Ujian Akhir Kepaniteraan Klinik Madya pada SMF Ilmu
Bedah RSU Jayapura.

Pada
Hari

: Rabu

Tanggal

: 03 Februari 2016

Tempat

: Aula Kampus FK Uncen

MENGESAHKAN
Pembimbing

dr. Trajanus L. Jembise, Sp.B

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ..
LEMBAR PENGESAHAN
DAFTAR ISI ..
BAB I. PENDAHULUAN .
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA..
BAB III.LAPORAN KASUS

I
Ii
Iii
1
2
32

BAB IV. PEMBAHASAN ...


38
BAB V. KESIMPULAN ..
DAFTAR PUSTAKA ..

40
41

BAB I
PENDAHULUAN
I Latar Belakang

Appendisitis adalah peradangan yang terjadi pada appendisks vermikularis. Appendiks


merupakan organ berbentuk tabung, panjangnya kira-kira 10 cm dan berpangkal di sekum.
Lumennya sempit di bagian proksimal dan melebar di distal.
Insiden appendisitis akut di negara maju lebih tinggi daripada di Negara berkembang.
Namun dalam tiga-empat dasawarsa terakhir kejadiannya menurun secara bermakna. Hal ini
diduga disebabkan oleh meningkatnya penggunaan makanan berserat dalam menu sehari-hari.
Insiden appendisitis akut di Indonesia dilaporkan menempati urutan tertinggi diantara
kasus-kasus gawat darurat, seperti halnya di negara barat. Appendisitis dapat ditemukan pada
semua umur, Hanya pada anak kurang dari satu tahun jarang dilaporkan. Insiden tertinggi pada
kelompok umur 20-30 tahun, setelah itu menurun. Insiden pada lelaki dan perempuan umumnya
sebanding, kecuali pada umur 20-30 tahun, ketika insiden lelaki lebih tinggi.

Walaupun demikian, diagnosa serta keputusan bedah masih cukup sulit ditegakkan. Pada
beberapa keadaan appendisitis akut agak sulit didiagnosis, misalnya pada fase awal dari gejala
appendisitis akut dan tandannya masih agak samar apalagi sudah diberikan terapi antibiotik.
Pemeriksaan yang cermat dan teliti resiko kesalahan diagnostik sebesar 15-20%. Bahkan pada
wanita sering timbul gangguan organ lain dengan gejala yang serupa dengan appendisitis akut.
Semua kasus appendisitis memerlukan tindakan pengangkatan dari appendiks yang
terinflamasi, baik dengan laparatomi maupun dengan laparoskopi. Apabila tidak dilakukan
tindakan pengobatan, maka angka kematian akan tinggi, terutama disebabkan karena
peritonitis dan syok.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1

Definisi Apendisitis
4

Appendisitis adalah peradangan pada appendiks vermiformis atau peradangan infeksi pada
usus buntu (Appendiks) yang terletak di perut kuadran kanan bawah (Smelzer, 2002). Walaupun
apendisitis dapat terjadi pada setiap usia, namun paling sering terjadi pada remaja dan dewasa
muda. Pada bayi, apendiks berbentuk kerucut, lebar pada pangkalnya dan menyempit ke arah
ujungnya. Keadaan ini mungkin menjadi sebab rendahnya insiden apendisitis pada usia itu.2,3
2

Anatomi
Appendiks merupakan organ berbentuk tabung, panjangnya kira-kira 10 cm dan berpangkal

di sekum. Lumennya sempit di bagian proksimal dan melebar di distal. Namun demikian, pada
bayi, appendiks berbentuk kerucut, lebar pada bagian pangkalnya dan menyempit kearah
ujungnya. Keadaan ini mungkin menjadi sebab rendahnya insidens appendisitis pada usia itu.
Pada 65% kasus, appendiks terletak intraperitoneal, keadaan ini memungkinkan appendiks
bergerak, dan ruang geraknya tergantung pada panjang mesoappendiks penggantungnya,
pada kasus selebihnya, appendiks terletak retroperitoneal, yaitu dibelakang sekum,
dibelakang colon asendens, atau ditepi lateral colon asendens. Gejala klinis appendicitis
ditentukan oleh letak appendiks.
Persarafan parasimpatis berasal dari cabang nervus vagus yang mengikuti arteri mesenterika
superior dan arteri apendukularis, sedangkan persarafan simpatis berasal dari nervus thorakalis X
.oleh karena itu nyeri visceral pada appendisitis bermula disekitar umbilikus.
Perdarahan appendiks berasal dari arteri apendikularis yang merupakan arteri tanpa kolateral.
Jika arteri ini tersumbat, karena thrombosis pada infeksi appendiks akan mengalami gangrene.

Gambar 1. Anatomi appendiks normal dan appendisitis

Fisiologi
Appendiks menghasilkan lendir sebanyak 1-2 ml perhari. Lendir itu normalnya dicurahkan

ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. Hambatan aliran lender di muara appendiks
tampaknya berperan pada patogenesis apendisitis.
Immunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT(gut associated lymphoid tissue) yang
terdapat disepanjang saluran cerna , termasuk appendiks, ialah IgA. Immunoglobulin ini sangat
efektif sebagai pelindung terhadap infeksi.Namun demikian, pengangkatan appendiks tidak
mempengaruhi system imun tubuh karena jumlah jaringan limf di sini kecil sekali jika
dibandingkan dengan jumlahnya di saluran cerna dan di seluruh tubuh.

Etiologi dan Faktor Risiko


Appendisitis merupakan infeksi bakteri. Berbagai hal berperan sebagai factor

pencetusnya. Apendisitis disebabkan karena adanya obstruksi pada lumen apendik sehingga
terjadi kongesti vaskuler, iskemik nekrosis dan akibat terjadinya infeksi. Apendisitis akut dapat
disebabkan oleh proses radang bakteri yang dicetuskan oleh beberapa faktor pencetus
diantaranya hiperplasia jaringan limfa, fekalit, tumor appendik dan cacing askaris yang
6

menyumbat. Beberapa faktor yang mempermudah terjadinya apendisitis, diantaranya :


a

Faktor sumbatan
Obstruksi merupakan faktor terpenting terjadinya apendisitis (90%) yang diikuti oleh

infeksi. Sekitar 60% obstruksi disebabkan oleh hyperplasia jaringan limfoid submukosa, 35%
karena stasis fekal, 4% karena benda asing dan sebab lainnya 1% diantaranya sumbatan oleh
parasit dan cacing. Obstruksi yang disebabkan oleh fekalit dapat ditemui pada bermacammacam appendisitis akut diantaranya : 40% pada kasus apendisitis kasus sederhana, 65% pada
kasus apendisitis akut gangrenosa tanpa ruptur dan 90% pada kasus apendisitis akut dengan
ruptur. 6,7
b Faktor bakteri
Penyebab lain yang diduga menimbulkan apendisitis adalah ulserasi mukosa apendiks
oleh parasit E. Histolitika. Adanya obstruksi mengakibatkan musin atau cairan mukosa yang
diproduksi tidak dapat keluar dari apendiks, hal ini akan semakin meningkatkan tekanan
intraluminal sehingga menyebabkan tekanan intra mukosa juga semakin tinggi. Tekanan yang
tinggi akan menyebabkan infiltrasi kuman ke dinding apendiks sehingga terjadi peradangan
supuratif yang menghasilkan pus atau nanah pada dinding apendiks. Infeksi enterogen
merupakan faktor primer pada apendisitis akut. Adanya fekalit dalam lumen apendiks yang telah
terinfeksi dapat memperburuk dan meperberat infeksi karena terjadi peningkatan stagnasi feses
dalam lumen apendiks. Pada kultur dapat ditemukan kombinasi antara Bacteriodes splanicus dan
E.coli, kemudian Splanchicus, Lacto-bacilus, Pseudomonas, Bacteriodes splanicus. Sedangkan
kuman yang menyebabkan perforasi adalah kuman anaerob sebesar 96% dan aerob <10%. 6,7
c

Kecenderungan familial
Hal ini dihubungkan dengan terdapatnya malformasi yang herediter dari organ, apendiks

yang terlalu panjang, vaskularisasi yang tidak baik dan letaknya yang mudah terjadi apendisitis.
Hal ini juga dihubungkan dengan kebiasaan makanan dalam keluarga terutama dengan diet
rendah serat dapat memudahkan terjadinya fekalit dan mengakibatkan obstruksi lumen. 6,7
d Faktor ras dan diet
Faktor ras berhubungan dengan kebiasaan dan pola makan sehari-hari. Bangsa kulit putih
yang dulunya pola makan rendah serat memiliki resiko lebih tinggi dari Negara yang pola
makannya banyak serat. Namun saat sekarang, kejadiannya terbalik. Bangsa kulit putih telah
merubah pola makan mereka ke pola makan tinggi serat. Justru Negara berkembang yang
dulunya memiliki pola makan tinggi serat beralih ke pola makan rendah serat, sehingga memiliki
resiko appendisitis yang lebih tingi. 6,7
7

Penyebab lain yang diduga dapat menimbulkan apendisitis ialah erosi mukosa appendiks
karena parasit seperti E. Histolitika. Ulserasi mukosa merupakan tahap awal dari kebanyakan
penyakit ini. Berbagai spesies bakteri yang dapat diisolasi pada pasien apendisitis yaitu :6,7
Tabel 1. Spesies bakteri yang dapat diisolasi
Bakteri aerob fakultatif

Escherichia coli
Viridans streptococci
Pesudomonas aeruginosa
Enterococcus

Bakteri anaerob

Bacteroides fragilis
Peptostreptococcus micros
Bilophila species
Lactobacillus species

Patofisiologi 6,7
Sebagian besar appendiks disebabkan oleh sumbatan yang kemudian diikuti oleh infeksi.

Beberapa hal ini dpat menyebabkan sumbatan, yaitu hiperplasia jaringan limfoid, fekalit, benda
asing, striktur, kingking, perlengketan.
Bila bagian proksimal appendiks tersumbat, terjadi sekresi mukus yang tertimbun dalam
lumen appendiks, sehingga tekanan intra luminer tinggi. Tekanan ini akan mengganggu aliran
limfe sehingga terjadi edema dan terdapat luka pada mukosa, stadium ini disebut Appendisitis
Akut fokal. Tekanan yang meninggi, edema dan disertai inflamasi menyebabkan obstruksi aliran
vena sehingga menyebabkan trombosis yang memperberat iskemi dan edema. Pada lumen
appendiks juga terdapat bakteri, sehingga dalam keadaan tersebut suasana lumen appendiks
cocok buat bakteri untuk diapedesis dan invasi ke dinding dan membelah diri sehingga
menimbulkan infeksi dan menghasilkan pus. Stadium ini disebut Appendisitis Akut Purulenta.
Proses tersebut berlangsung terus sehingga pada suatu saat aliran darah arteri juga terganggu,
terutama bagian ante mesenterial yang mempunyai vaskularisasi minimal, sehingga terjadi infark
dan gangren, stadium ini disebut Appendisitis Gangrenosa. Pada stadium ini sudah terjadi
mikroperforasi, karena tekanan intraluminal yang tinggi ditambah adanya bakteri dan
mikroperforasi, mendorong pus serta produk infeksi mengalir ke rongga abdomen. Stadium ini
disebut Appendisitis Akut Perforasi, dimana menimbulkan peritonitis umum dan abses sekunder.
Tapi proses perjalanan appendisitis tidak mulus seperti tersebut di atas, karena ada usaha tubuh
8

untuk melokalisir tempat infeksi dengan cara Walling Off oleh omentum, lengkung usus halus,
caecum, colon, dan peritoneum sehingga terjadi gumpalan massa plekmon yang melekat erat.
Keadaan ini disebut Appendisitis Infiltrate.
Appendisitis infiltrate adalah suatu plekmon yang berupa massa yang membengkak dan
terdiri dari appendiks, usus, omentum, dan peritoneum dengan sedikit atau tanpa pengumpulan
pus. Usaha tubuh untuk melokalisir infeksi bisa sempurna atau tidak sempurna, baik karena
infeksi yang berjalan terlalu cepat atau kondisi penderita yang kurang baik, sehingga
appendikular infiltrate dibagi menjadi dua :
a
b

Appendikuler infiltrate mobile


Appendikuler infiltrate fixed

Perforasi mungkin masih terjadi pada walling off yang sempurna sehingga akan terbentuk
abses primer. Sedangkan pada walling off yang belum sempurna akan terbentuk abses sekunder
yang bisa menyebabkan peritonitis umum.
Appendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna, tetapi akan membentuk
jaringan parut yang menyebabkan perlengketan dengan jaringan sekitarnya dan menimbulkan
obstruksi. Perlengketan ini dapat menimbulkan keluhan berulang di perut kanan bawah. Pada
suatu ketika organ ini dapat meradang akut lagi dan dinyatakan sebagai mengalami eksaserbasi
akut. Appendisitis terjadi dari proses inflamasi ringan hingga perforasi, khas dalam 24-36 jam
setelah munculnya gejala, kemudian diikuti dengan pembentukan abses setelah 2-3 hari.

Gambar 4. Patofisiologi Appendisitis


Pada anak-anak, karena omentum lebih pendek dan apendiks lebih panjang,
dinding apendiks lebih tipis, Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang
masih kurang memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orangtua perforasi
mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah.
10

Klasifikasi1

Apendisiti terbagi menjadi dua yaitu,Appendisitis akut dan kronis.


a

Appendisitis akut
Sering tampil dengan gejala khas yang didasari oleh radang mendadak appendiks yang
memberikan tanda setempat, disertai maupun tidak disertai rangsang peritonieum lokal.
Gajala apendisitis akut adalah nyeri samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri viseral
didaerah epigastrium disekitar umbilikus. Keluhan ini sering disertai mual dan kadang
muntah.Umumnya nafsu makan menurun. Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah ke titik
mcBurney. Disini nyeri dirasakan lebih tajam dan lebih jelas letaknya sehingga merupakan
nyeri somatik setempat.
b

Appendisitis kronik.

Diagnosis apendisitis kronis baru dapat ditegakkan jika ditemukan adanya riwayat nyeri
perut kanan bawah lebih dari 2 minggu, radang kronik Appendiks secara makroskopik dan
mikroskopik. Kriteria mikroskopik apendisitis kronik adalah fibrosis menyeluruh dinding
Appendiks,sumbatan parsial atau total lumen Appendiks, adanya jaringan parut dan ulkus
lama dimukosa, dan adanya sel inflamasi kronik. Insiden apendisitis kronik antara 1-5%.

Klasifikasi apendisitis menurut klinik patologi :


a Appendisitis akut
Appendisitis akut adalah keadaan akut abdomen yang memerlukan pembedahan
segera untuk mencegah komplikasi yang lebih buruk jika telah terjadi perforasi,
maka komplikasi dapat terjadi seperti peritonitis umum, terjadinya abses, dan
komplikasi pasca operasi seperti fistula dan infeksi luka operasi.
Appendisitis akut sering tampil dengan gejala khas yang didasari oleh radang
mendadak umbai cacing yang memberikan tanda setempat, disertai maupun tidak
disertai rangsangan peritoneum lokal. Gejala klasik apendisitis ialah nyeri samarsamar dan tumpul yang merupakan nyeri viceral di daerah epigastrium di sekitar
umblikus. Keluhan ini sering disertai mual dan kadang ada muntah. Umumnya nafsu
makan menurun. Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah ke kanan bawah ke titik
McBurney. Disini nyeri dirasakan lebih tajam dan lebih jelas letaknya sehingga

11

merupakan nyeri somatic setempat. Kadang tidak ada nyeri epigastrium, tetapi
terdapat konstipasi sehingga penderita seperti memerlukan obat pencahar.
Bila dilakukan penekanan kemudian dilepaskan pada titik McBurney maka pasien
apendisitis akut akan merasa sangat nyeri. Penekanan juga dapat dilakukan di
abdomen kiri bawah, dikatakan apendisitis bila merasa nyeri pada abdomen kanan
bawah.
b

Appendisitis infiltrate/supuratif
Appendicitis Infiltrate adalah proses radang appendiks yang penyebarannya
dapat dibatasi oleh omentum, usus halus, sekum, kolon dan peritoneum sehingga
membentuk gumpalan massa flegmon yang melekat erat satu dengan yang lainnya.

Appendisitis Abses
Appendisitis abses terjadi bila massa lokal yang terbentuk berisi nanah.

Appendisitis Perforasi
Appendisitis perforasi adalah pecahnya appendiks yang sudah gangren yang
menyebabkan pus masuk ke dalam rongga perut sehingga terjadi peritonitis umum.

Menurut Helmut (1988) posisi Appendiks sangat bervariasi, sehingga kemungkinan sulit
untuk menentukan posisi normal appendiks.
1 Posisi retrocecal, kira-kira 65% (psoas dan obturator iritasi M.iliopsoas).
2 Posisi pelvik / appendiks tergantung menyilang linea terminal masuk ke pelvis minor,
3
4

tipe desenden 31 %.
Posisi paracolica / appendiks terletak horizontal di belakang sekum 2 %.
Posisi preileal / appendiks di depan ujung ileum 1 %

12

Gambar 5. Variasi Letak Appendiks


7

Gambaran Klinis
a Nyeri abdominal
Karena adanya kontraksi appendiks, distensi dari lumen appendiks ataupun karena
tarikan dinding appendiks yang mengalami peradangan. Mula-mula nyeri dirasakan
samar-samar, tumpul dan hilang timbul yang merupakan nyeri visceral di daerah
epigastrium atau sekitar umbilikus karena appendiks dan usus halus mempunyai
persarafan yang sama. Setelah beberapa jam (4-6 jam) nyeri berpindah dan menetap di
abdomen kanan bawah (titik MC Burney). Apabila terjadi inflamasi (>6 jam) akan terjadi
nyeri somatik setempat yang berarti sudah terjadi rangsangan pada peritoneum parietal
dengan sifat nyeri yang lebih tajam, terlokalisir serta nyeri akan lebih hebat bila batuk
ataupun berjalan kaki. 1,8
Selain gejala klasik, ada beberapa gejala lain yang dapat timbul sebagai akibat
dari appendisitis. Timbulnya gejala ini bergantung pada letak appendiks ketika meradang.
Berikut gejala yang timbul 1
o Bila letak appendik retrosekal retroperitoneal, yaitu dibelakang sekum ( terlindung
oleh sekum), tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan tidak ada tanda
rangsangan peritoneal. Rasa nyeri lebih ke perut kanan atau nyeri timbul pada saat
melakukan gerakan seperti berjalan, bernafas dalam, batuk, dan mengedan. Nyeri ini
timbul karena adanya kontraksi M.Psoas mayor yang menegang dari dorsal.
o Bila appendiks terletak di dekat atau menempel pada rektum, akan timbul gejala dan
13

rangsangan sigmoid atau rektum, sehingga peristaltik meningkat, pengosongan


rektum akan menjadi lebih cepat dan berulang-ulang (diare)
o Bila appendiks terletak di dekat, atau menempel pada kandung kemih dapat terjadi
b

peningkatan frekuensi kemih karena rangsangan dindingnya.


Mual-muntah
Disebabkan karena rangsangan visceral akibat aktivasi nervus vagus. Timbul
beberapa jam sesudah rasa nyeri yang timbul saat permulaan. Hampir 75% penderita
disertai dengan vomitus, namun jarang berlanjut menjadi berat dan kebanyakan vomitus
hanya sekali atau dua kali. 1

Nafsu makan menurun (anoreksia)


Timbul beberapa jam sesudah rasa nyeri yang timbul saat permulaan. Keadaan anoreksia
hampir selalu ada pada setiap penderita appendisitis akut, bila hal ini tidak ada maka
diagnosis appendisitis akut perlu dipertanyakan. 1,8

Obstipasi dan diare pada anak-anak


Penderita appendisitis akut juga mengeluh obstipasi sebelum datangnya rasa nyeri dan
beberapa penderita mengalami diare. Hal tersebut timbul biasanya pada letak appendiks
pelvikal yang merangsang daerah rektum. 1

Demam
Demam yang tidak terlalu tinggi, yaitu suhu antara 37,5-38,5 tetapi bila suhu lebih tinggi
diduga terjadi perforasi. 1

Diagnosis
A Anamnesa1,6
Variasi pada posisi appendiks usia, dan derajat inflamasi menjadikan presentase klinis
dari appendisitis menjadi tidak konsisten. Gejala utama appendisitis akut adalah nyeri
abdomen. Pada mulanya terjadi nyeri viseral, yaitu nyeri yang sifatnya hilang timbul
tumpul dengan sifat nyeri ringan sampai berat, kadang-kadang disertai dengan kram
intermiten. Hal tersebut timbul oleh karena apendiks dan usus halus mempunyai
persarafan yang sama, maka nyeri viseral itu akan dirasakan mula-mula didaerah
epigastrium dan periumbilikal.
Nyeri abdomen yang ditimbulkan oleh karena adanya hiperperistaltik untuk
mengatasi obstruksi, distensi dari lumen apendiks ataupun karena tarikan dinding
14

appendiks yang mengalami peradangan. Apabila telah terjadi inflamasi (>6jam), nyeri
akan beralih dan menetap di kuadran kanan bawah. Pada keadaan tersebut sudah
terjadi nyeri somatik yang berarti sudah terjadi rangsangan pada peritonium parietal
dengan sifat nyeri yang lebih tajam, terlokalisir, serta nyeri akan lebih hebat bila
batuk ataupun berjalan.
Pasien biasanya lebih menyukai posisi supine dengan paha kanan ditarik lebih keatas,
karena suatu gerakan akan meningkatkan nyeri. Muntah merupakan rangsangan
viseral akibat aktivasi n.vagus. Anoreksia , nausea dan vomitus yang timbul beberapa
jam sesudahnya, merupakan kelanjutan dari rasa nyeri yang timbul saat permulaan,
keadaan anoreksia hampir selalu ada pada setiap penderira apandisitis akut, bila hal
ini tidak ada maka diagnosis apendisitis akut perlu dipertanyakan. Hampir 75%
penderita disertai dengan vomitus, namun jarang berlanjut menjadi berat dan vomitus
hanya sekali atau dua kali. Gejala disuria juga timbul apabila peradang Appendiks
dekat dengan vesika urinaria. Penderita appendisitis akut juga mengeluh Obstipasi
sebelum datangnya rasa nyeri dan beberapa penderita mengalami diare, hal tersebut
timbul biasanya pada letak appendiks pelvika yang merangsang daerah rektum.
Obstipasi dapat juga terjadi karena penderita takut mengejan.
Selain gejala klasik, ada beberapa gejala lain yang dapat timbul sebagai akibat dari
appendisitis. Timbulnya gejala ini bergantung pada letak appendiks ketika meradang.
Berikut gejala yang timbul:
1

Bila letak appendiks retrosekal retroperitoteal, yaitu dibelakang sekum


( terlindungi oleh sekum), tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas
dan tidak ada rangsangan peritoneal. Rasa nyeri lebih ke perut kanan atau
nyeri timbul pada saat bergerak seperti berjalan, bernafas dalam, batuk dan
mengedan. Nyeri ini timbul karena ada kontraksi M.Psoas mayor yang

menegang dari dorsal (nyeri flank area atau punggung).


Bila appendiks terletak didekat, atau menempel pada kandung kemih dapat

terjadi peningkatan fekuensi kemih karena rangsangan dindingnya.


Bila appendiks terletak dekat, atau menempel pada rektum, akan timbul gejala
atau rangsangan sigmoid atau rektum, sehingga peristaltik meningkat,
15

pengosongan rektum akan menjadi lebih cepat dan berulang-ulang ( diare).


Tanda vital tidak berubah banyak, peninggian temperatur jarang lebih dari 37,5 -38,5
tetapi

bila suhu lebih tinggi, diduga telah terjadi komplikasi seperti perforasi atau

diagnosis lain yang perlu diperhatikan.


B Pemeriksaan fisis 1,9
Kesalahan membuat diagnostik dapat terjadi kalau apendiks terletak pada tempat
yang bukan tempat biasa yaitu kuadran kanan bawah.

Inspeksi
perut kanan bawah terlihat Apakah ada tanda-tanda peradangan.

Palpasi
Palpasi dinding abdomen apakah terdapat penonjolan perut kanan bawah terlihat
pada appendikuler abses Status lokalis abdomen kuadran kanan bawah antara
lain:
Nyeri tekan Mc Burney
Pada palpasi didapatkan titik nyeri tekan maksimal pada kuadran kanan
bawah atau titik Mc.Burney dan ini merupakan tanda kunci diagnosis.
Mc. Burney terletak antara 1,5-2 inchi dari spina illiaca anterior superior
(SIAS) pada garis lurus yang ditarik dari SIAS ke umbilikus.
Rebound tenderness
Nyeri lepas adalah rasa nyeri yang hebat di abdomen kanan bawah saat
dilakukan penekanan yang perlahan dan dalam sampai pasien tidak
merasa nyeri pada daerah titik Mc. Burney dan dilepaskan secara tibatiba. Hal ini karena rangsangan atau iritasi peritoneum.

16

Defans muskuler
Defans muskuler adalah nyeri tekan seluruh lapangan abdomen yang
menunjukkan adanya rangsangan peritoneum parietale pada m.rectus
abdominalis. Tahanan muskuler terhadap palpasi abdomen sejajar
dengan derajat proses peradangan, yang pada awalnya terjadi secara
volunter

seiring

dengan

peningkatan

iritasi

peritoneal

terjadi

peningkatan spamus otot, sehingga kemudian terjadi secara involunter


Rovsing sign
Rovsing sign adalah nyeri abdomen di kuadran kanan bawah apabila
dilakukan penekanan pada abdomen bagian kiri bawah. Hal ini
dikarenakan tekanan merangsang peristaltik dan udara usus, sehingga
menggerakan peritoneum sekitar appendiks yang meradang ( iritasi
peritoneal).

Psoas sign
Psoas sign terjadi karena adanya rangsangan muskulus psoas oleh
peradangan yang terjadi pada apendiks letak retrocaecal.

Ada 2 cara pemeriksaan:


o Aktif : pasien posisi supine. Tungkai kanan lurus ditangan pemeriksa,
17

pasien diminta memfleksikan articulatio coxae kanan, dikatakan


positif jika menimbulkan nyeri perut kanan bawah.

o Pasif; pasien miring kekiri, paha kanan dihiper-ekstensikan oleh


pemeriksa, dikatakan positif bila jika menimbulkan nyeri perut kanan
bawah.

Obturator sign

Adalah rasa nyeri yang terjadi jika panggul dan lutut di fleksikan
kemudian dirotasikan kearah dalam dan luar secara pasif, hal tersebut

18

menunjukan peradangan apendiks terletak pada daerah hipogastrium.

Perkusi
Nyeri ketok abdomen positif dan suara redup pada daerah yang terdapat massa

Auskultasi :
Peristaltik normal, negative pada illeus paralitik karena peritonitis generalisata
akibat appendisitis perforate. Auskultasi tidak banyak membantu dalam
menegakkan diangnosis appendisitis, tetapi kalau sudah terjadi peritonitis
maka tidak terdengar bunyi peristaltik usus.

Rectal Toucher
19

Biasanya didapatkan nyeri tekan pada jam 9-12 . Rektal toucher juga di
gunakan untuk mengetahui adanya tumor atau massa direktum serta menilaia
danya pembesaran prostat pada laki-laki yang berusia > 50 tahun.
C Pemeriksaan Penunjang
1 Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium masih merupakan bagian penting untuk menilai
awal keluhan nyeri kuadran kanan bawah dalam menegakkan diagnosis
apendisitis akut. Penyakit infeksi pada pelvis terutama pada wanita akan
memberikan gambaran laboratorium yang terkadang sulit dibedakan dengan
apendisitis akut. Pemeriksaan laboratorium merupakan alat bantu diagnosis.
Pada pasien dengan apendisitis akut, 70-90% hasil laboratorium nilai leukosit
dan neutrofil akan meningkat, walupun hal ini bukan hasil yang karakteristik.
a

Hitung Leukosit
Hitung leukosit adalah menghitung jumlah leukosit per milimeterkubik atau
mikroliter darah. Leukosit merupakan bagian penting dari sitem pertahanan tubuh
terhadap benda asing, mikroorganisme atau jaringan asing, sehingga hitung
jumlah leukosit merupakan indikator yang baik untuk mengetahui respon tubuh
terhadap infeksi.
Jumlah leukosit dipengaruhi oleh umur, penyimpangan dari keadaan basal dan
lain-lain. Pada bayi baru lahir jumlah leukosit tinggi, sekitar 10.000-30.000/l.
setelah itu jumlah leukosit turun secara bertahap dan pada umur 21 tahun jumlah
leukosit berkisar antara 4500-11.000/l. pada keadaan basal jumlah leukosit pada
orang dewasa berkisar antar 5000-10.000/L. Jumlah leukosit meningkat setelah
melakukan aktifitas fisik yang sedang, tetapi jarang lebih dari 11.000/l.
Peningkatan jumlah leukosit diatas normal disebut leukositosis, sedangkan
penurunan jumlah leukosit di bawah normal disebut leukopenia.
Leukositosis dapat terjadi secara fisiologik maupun patologik. Leukosistosis yang
fisiologik dijumpai pada kerja fisik yang berat, gangguan emosi, kejang,
takhikardi paroksimal, partus dan haid.

20

Peningkatan leukosit juga dapat menunjukkan adanya proses infeksi atau radang
akut. Leukopenia adalah keadaan dimana jumlah leukosit kurang dari 5000/L
darah. Karena pada hitung jenis leukosit, netrofil adalah sel yang paling tinggi
presentasinya hampir selalu leukopenia disebabkan netropenia.
Penurunan jumlah leukosit dapat terjadi pada penderita infeksi tertentu, terutama
virus, malaria, alkoholik, rematoid arthritis, dan penyakit hemopoetik (anemia
aplastik). Leukopenia juga dapat disebabkan penggunaan obat terutama
asetaminofen, sulfonamid, barbiturat, kemoterapi kanker, diazepam, diuretika,
antidiabetika oral, indometasin, metildopa, rifampisin, fenotiazin dan antibiotika
(penisilin, cefalosporin, dan kloramfenikol).
Pada penderita dengan keluhan dan pemeriksaan fisik yang karakteristik
apendisitis akut, akan ditemukan pada pemeriksaan darah adanya leukositosis
11.000-14.000/mm3, dengan pemeriksaan hitung jenis menunjukkan pergeseran
ke kiri hampir 75%. Jika jumlah lekosit lebih dari 18.000/mm 3 maka umumnya
sudah terjadi perforasi dan peritonitis. Kombinasi antara kenaikan angka leukosit
dan granulosit adalah yang dipakai untuk pedoman menentukan diagnosa
apendisitis akut. Tes laboraorium untuk apendisitis bersifat kurang spesifik,
sehingga hasilnya juga kurang dapat dipakai sebagai konfirmasi penekanan
diagnosa. Jumlah leukosit untuk apendisitis akut adalah >10.000/mm, sehingga
gambaran leukositosis dengan peningkatan granulosit dipakai sebagai pedoman
untuk apendisitis akut. Kontroversi adalah beberapa penderita dengan apendisitis
akut memiliki jumlah leukosit dan granulosit tetap normal.
b

Foto polos Abdomen


Pada apendisitis, pemeriksaan foto polos abdomen tidak banyak membantu.

Mungkin terlihat adanya fekalit pada abdomen sebelah kanan bawah yang sesuai
dengan lokasi Appendiks, gambaran ini ditemukan pada 20% kasus.
Pemeriksaan radiologi dengan kontras barium enema hanya digunakan pada
kasus-kasus menahun, pada apendisitis kronik. Pemeriksaan radiologi dengan barium
enema dapat menentukan penyakit lain yang menyertai apendisitis.
21

Barium enema adalah suatu pemeriksaan x-ray dimana barium cair dimasukkan
ke kolon dari anus untuk memenuhi kolon. Tes ini dapat sekaligus menggambarkan
keadaan kolon di sekitar appendiks dimana peradangan yang terjadi juga didapatkan
pada kolon. Barium enema juga dapat menyingkirkan masalah-masalah intestinal
lainnya yang menyerupai appendiks, misalnya penyakit Chrons inveted appendicel
stump, intususepsi, neoplasma benigna/maligna.
c

Ultrasonografi
Ultrasonografi telah banyak digunakan untuk diagnosis apendisitis akut maupun

Appendisitis dengan abses. Appendisitis yang normal jarang tampak sebagai lumen
tubuler, diameter lebih dari 6 mm, tidak ada peristaltik pada penampakan
longitudinal, dan gambaran target pada penampakan transversal. Keadaan awal
Appendiks akut ditandai dengan perbedaan densitas pada lapisan Appendiks, lumen
yang utuh, dan diameter 9-11 mm. keadaaan appediks supurasi atau gangren ditandai
dengan distensi lumen oleh cairan, penebalan dinding Appendiks dengan atau tanpa
apendikolit. Keadaan Appendiks perforasi ditandai dengan tebal dinding Appendiks
yang asimetris, cairan bebas intraperitonial, dan abses tunggal atau multiple.
Ultrasound dapat mengidentifikasi appendiks yang membesar atau abses.
Walaupun begitu, appendiks hanya dapat dilihat pada 50% pasien selama terjadinya
Appendicitis. Oleh karena itu, dengan tidak terlihatnya appendiks selama ultrasound
tidak menyingkirkan adanya Appendisitis. Hasil USG dapat dikategorikan menjadi
normal non spesifik, kemungkinan penyakit kelainan lain, atau kemungkinan
appendik. Hasil USG yang tidak spesifik meliputi adanya dilatasi usus, udara bebas,
atau ileus.
d

Computed Tomography Scanning (CT-Scan)


Pada keadaan normal Appendiks jarang tervisualisasi dengan pemeriksaan

skening ini. Gambaran penebalan dinding Appendiks dengan jaringan lunak sekitar
yang melekat, mendukung keadaan Appendiks yang meradang. CT-Scan sangat baik
untuk mendeteksi Appendiks dengan abses atau flegmon.
e

Laparoskopi
22

Dibidang bedah, laparoskopi dapat berfungsi sebagai alat diagnostik dan terapi.
Disamping dapat mendiagnosisi apendisitis secara langsung, laparoskopi juga dapat
digunakan untuk melihat keadaan organ intrabdomen lainnya. Hal ini sangat
bermanfaat terutama pada pasien wanita. Pada apendisitis akut laparoskopi diagnostik
biasanya dilanjutkan dengan apendiktomi laparoskopi.
f

Sistem Skor Alvarado

Alfredo Alvaro tahun 1986 membuat sistem skor yang didasarkan pada tiga gejala,
tiga tanda dan dua temuan laboratorium. Klasifikasi ini berdasarkan pada temuan pra
operasi dan untuk menilai derajat keparahan appendisitis.
Berdasarkan skoring terhadap faktor risiko yang digunakan dalam sistem skor
Alvarado maka dapat di asumsikan bahwa semakin lengkap gejala, tanda dan
pemeriksaan laboratorium yang muncul atau keberadaanya positif maka skor
Alvarado akan semakin mendekati 10, dan ini mengarahkan kepada appendisitis akut
atau appendisitis perforasi. Demikian pula sebaliknya jika semakin tidak lengkap
maka skor Alvarado semakin mendekati 1, ini mengarahkan kepada appendisitis
kronis atau bukan appendisitis. Alvarado merekommendasikan untuk melakukan
operasi pada semua pasien dengan skor 7dan melakukan observasi untuk pasien
dengan skor 5 atau 6.

Tabel 3. Skor Alvarado untuk diagnosis apendisitis akut :


Gejala dan tanda
Appendisitis pain (Nyeri fossa iliaka kanan)
Leukositosis > 10.000 sel/mm3

Skor
2
2

Vomitus (Mual-muntah)
Anoreksia
Rebound tendenees fenomen
Abdominal migrate pain (nyeri berpindah)
Degre of celsius ( > 37oc) ( peningkatan suhu tubuh)

1
1
1
1

23

Observation of hemogram( segmen > 72% ( persentase 1


neutrofil > 75%)

Total

10 point

1.4 : Observasi
4.6 : Antibiotik
6-10 :Operasi
1

Kalesaran score
Ramirez dan Deus (1994) telah mengemukakan sistem skor untuk diagnosis
appendisitis akut yang terbukti dapat menekan appendektomi negatif. Beberapa
hal yang menjadi kritik pada penelitian tersebut, sebagai berikut :
1

Salah satu parameter yang dipakai adalah foto polos abdomen, yang
sebenarnya

bukan merupakan pemeriksaan

utama

dan rutin

untuk

menegakkan diagnosa appendisitis akut, selain bahwa pemeriksaan ini tidak


mungkin dijadikan pemeriksaan rutin di rumah sakit di Indonesia bagi
2

penderita dengan keluhan nyeri perut kanan bawah akut.


Masih ada parameter klinik lainya yang perlu diperhitungkan, khusunya pada
wanita tentang adanya kelainan atau infeksi organ genital dalam, seperti
riwayat keputihan, perdarahan pervaginam di luar haid, riwayat nyeri hebat
saat haid.
Di Indonesia untuk penggunaan sarana diagnostik seperti laparoskopi dan

Ultrasonografi masih banyak kendala, yaitu pengadaan alat yang tergolong mahal
dan membutuhkan keahlian untuk menginterprestasikan hasil pemeriksaan,
sehingga belum dijadikan pemeriksaan rutin dirumah sakit tingkat kabupaten.
Pertimbangan lainya bahwa dengan melakukan pemeriksaan tersebut akan
berakibat dengan perpanjangan waktu dalam pengelolaan penderita.
Oleh karena itu dr.laurens B Kalesaran seorang peneliti dari Undip semarang
melakukan penelitian dimana parameter klinik yang sederhana dan murah untuk
bisa dipakai dengan mudah dan akurasi tinggi dalam mendiagnosis appendisitis
24

akut, sehingga dapat menekan angka appendektomi negatif, menurunkan angka


kesakitan karena pembedahan yang sebenarnya tidak perlu, menekan biaya
penderita

Tabel 4. Kalesaran Skore


No

Pemeriksaan

Riwayat demam

-7

Riwayat anoreksia

26

-20

Cough sign

27

-19

Demam (37,3)

19

18

Tanda rebound tenderness

18

-3

Tanda rovsing

16

-9

Tanda psoas

20

-6

19

-24

20

-24

Leukositosi

9000/mm3

Neutrofil 70 %

Nilai (+)

Nilai (-)

Skor

Jika jumlah skore;

Lebih dari 10

harus dilakukan tindakan operasi


Antara -7 sampai 10 : tindakan observasi
Kurang dari 7
: bukan Appendisitis akut
Kasus dengan skor -7 sampai 10, penderita harus rawat inap untuk di

: diagnosis Appendicitis akut dan segera

evaluasi lebih lanjut, yaitu dengan penghitungan skor berulang sampai


ditegakan dengan diagnosis appendisitis akut atau bukan appendisitis akut.
9

Diagnosis Banding

Diagnosis banding appendisitis dapat bervariasi tergantung dari usia dan jenis kelamin
-

Pada anak anak dan balita : intususepsi, diverkulitis dan gastroenteritis akut
25

Intususepsi paling sering didapatkan pada anak anak berusia dibawah 3 tahun.
Divertikulitis jarang terjadi jika dibandingkan appendisitis. Nyeri divertikulitis
hampir sama dengan appendisitis, tetapi lokasinya berbeda, yaitu pada daerah
periumbilikal. Pada pencitraan dapat diketahui adanya inflammatory mass di daerah
abdomen tengah. Diagnosis banding yang agak sulit ditegakkan adalah gatroenteritis
akut, karena memiliki gejala-gejala yang mirip dengan appendisitis, yakni diare,
mual, muntah, dan ditemukan leukosit pada feses.
-

Pada anak anak usia sekolah : gastroenteritis, konstipasi, infark omentum


Pada gastroenteritis, didapatkan gejala-gejala yang mirip dengan appendisitis, tetapi
tidak dijumpai adanya leukositosis. Konstipasi, merupakan salah satu penyebab nyeri
abdomen pada anak-anak, tetapi tidak ditemukan adanya demam. Infark omentum
jugadapat dijumpai pada anak-anak dan gejala-gejalanya dapat menyerupai
appendisitis. Pada infark omentum, dpaat teraba massa apada abdomen dan nyerinya
tidak berpindah.

Pada pria dewasa muda : crohns disease, kolik traktur urogenitalis dan epididimitis.
Pemeriksaan fisik pada skrotum dapat membantu menyingkirkan diagnosis
epididimitis. Pada epididimitis, pasien merasa sakit pada skrotum. Pada crohns
disease terdapat gejala kram dan diare yang lebih menyolok, sedangkan anoreksia
tidak terdapat. Pada kolik traktus urogenital didapatkan gejala yang menjalar dari
pinggang ke genitalia, pada pemeriksaan urin terdapat kelainan sedimen misalnya
eritrosit meningkat dan biasanya tidak disertai leukositosis.

Pada wanita usia muda : pelvic onflammatory disease (PID), kista ovarium, infeksi
saluran kencing
Pada PID, nyerinya bilateral dan dirasakan pada abdomen bawah. Pada kista ovarium,
nyeri dapat dirasakan bila terjadi ruptur ataupun torsi.

Pada uasia lanjut : keganasan dari traktus gastrointestinal dan saluran reproduksi,
diverkulitis, perforasi ulkus, dan kolesistitis.
Appendisitis pada usia lanjut sering sukar untuk didiagnosis. Keganasan dapat terlihat
di CT-Scan dam gejalanya muncul lebih lambat daripada appendisitis. Pada orang tua,
26

divertikulitis sering sukar untuk dibedakan dengan appendisitis, karena lokasinya


yang berada pada abdomen kanan. Perforasi ulkus dapat diketahui dari onset yang
akut dan nyerinya tidak berpindah. Pada orang tua, pemeriksaan dengan CT-Scan
lebih berarti dibandingkan dengan pemeriksaan laboratorium.
Tanda tanda yang membedakan apendisitis dengan penyakit lain adalah :
a

Gastroenteritis
Pada gastroenteritis, mual-muntah dan diare mendahului rasa sakit. Sakit perut lebih
ringan dan tidak berbatas tegas. Hiperperistaltik sering ditemukan. Panas dan
leukositosis kurang menonjol dibandingkan dengan appendisitis.

Limfadenitis mesenterica
Biasanya didahului oleh enteritis atau gastroenteritis. Ditandai dengan nyeri perut
yang samar-samar terutama disebelah kanan, dan disertai dengan perasaan mualmuntah.

Peradangan pelvis
Tuba Fallopi kanan dan ovarium terletak dekat appendiks. Radang kedua organ ini
sering bersamaan sehingga disebut salpingo-ooforitis atau adnesitis. Untuk
menegakkan diagnosis penyakit ini didapatkan riwayat kontak seksual. Suhu biasanya
lebih tinggi daripada appendisitis dan nyeri perut bagian bawah lebih difus. Biasanya
disertai dengan keputihan. Pada colok vaginal jika uterus diayunkan maka akan terasa
nyeri.

Kehamilan Ektopik
Adanaya riwayat terhambat menstruasi denga keluhan yang tidak menentu. Jika
terjadi ruptur tuba atau abortus diluar rahim dengan perdarahan akan timbul nyeri
yang mendadak difus di daerah pelvis dan mungkin akan terjadi syok hipovolemik.
Pada pemeriksaan colok vaginal didapatkan nyeri dan penonjolan kavum douglas,

dan pada kuldosentesis akan di dapatkan darah.


Diverticulitis
27

Meskipun diverculitis biasanya terletak di perut bagian kiri, tetapi kadang-kadang


dapat juga terjadi di sebelah kanan. Jika terjadi peradangan dan ruptur pada
diverticulum gejala klinis akan sukar dibedakan dengan gejala-gejala appendisitis.

Batu ureter atau batu ginjal


Adanya riwayat kolik dari pinggang ke perut menjalar ke inguinal kanan merupakan
gambaran yang khas. Hematuria sering ditemukan. Foto polos abdomen atau urografi
intravena dapat memastikan penyakit tersebut.

10 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan

yang

dapat

dilakukan

pada

penderita

appendisitis

meliputi

penanggulangan konservatif dan operasi.


a

Konservatif
Penanggulangan konservatif terutama diberikan pada penderita yang tidak
mempunyai akses ke pelayanan bedah berupa pemberian antibiotik. Pemberian
antibiotik berguna untuk mencegah infeksi. Pada penderita appendisitis perforasi,
sebelum operasi dilakukan penggantian cairan dan elektrolit, serta pemberian
antibiotik sistemik.

Tindakan umum
Pada appendisitis akut dengan komplikasi berupa peritonitis karena perforasi
menuntut tindakan yang lebih intensif, karena biasanya keadaan pasien sudah
sakit berat. Timbul dehidrasi yang terjadi karena muntah, sekuestrasi cairan
dalam rongga abdomen dan febris. Pasien memerlukan perawatan intensif
sekurang-kurangnya 4-6 jam sebelum dilakukan pembedahan. Pipa nasogastrik
dipasang untuk mengosongkan lambung agar mengurangi distensi abdomen dan
mencegah muntah dan pasien dipuasakan.
Jika pasien dalam keadaan syok hipovolemik akibat dehidrasi ataupun
sepsis maka diberikan cairan ringer laktat 20 mg/kgBB secara intravena,
28

kemudian diliputi oleh pemberian plasma atau darah sesuai indikasi. Setelah
pemberian cairan intravena sebaiknya dievaluasi kembali kebutuhan dan
kekurangan cairan, serta pantau output urin.
Masa apendiks terjadi bila terjadi apendisitis ganggrenosa atau
mikroperforasi ditutupi atau dibungkus oleh omentum dan atau pleksus usus
halus. Pada massa periappendikular yang pendidingannya belum sempurna,
dapat terjadi penyabaran pus keseluruh rongga peritoneum jika perforasi diikuti
peritonitis purulenta generalisata. Oleh karena itu, massa periapendikuler yang
masih bebas disarankan segera dioperasi untuk mencegah penyulit tersebut.
Selain itu operasi lebih mudah. Pada anak dipersiapkan untuk operasi dalam
waktu 2-3 hari saja. Pasien dewasa dengan periapendikular yang terpancang
dengan pendindingan sempurna dianjurkan untuk dirawat dahulu dan diberi
antibiotik sambil diawasi suhu tubuh, ukuran massa serta luasnya peritonitis.
Bila sudah tidak ada demam, massa periapendikular hilang dan leukosit normal,
penderita diperboleh pulang dan appendiktomi elektif dapat dikerjakan 2-3
bulan kemudian agar perdarahan akibat perlengketan dapat ditekan sekecil
mungkin. Bila terjadi perforasi, akan terbentuk abses apendiks. Hal ini ditandai
dengan kenaikan suhu dan frekuensi nadi, bertambahnya nyeri, dan teraba
pembengkakan massa, serta bertambahnya angka leukosit.
Massa apendiks dengan proses radang yang masih aktif sebaiknya
dilakukan tindakan pembedahan segera setelah pasien dipersiapkan, karena
dikuatirkan akan terjadi abses apendiks dan peritonitis umum. Persipan dan
pembedahan harus dilakukan sebaik-baiknya mengingat penyulit luka lebih
tinggi dari pada pembedahan pada apendisitis sederhana tanpa perforasi.
Pada periapendikular infiltrat, dilarang keras membuka perut, tindakan
bedah apabila dilakukan akan lebih sulit dan perdarahan lebih banyak, lebihlebih bila massa apendiks telah terbentuk lebih dari satu minggu sejak serangan
sakit perut. Pembedahan dilakukan segera bila dalam perawatan terjadi abses
dengan atau pun tanpa peritonitis umum.

29

Terapi sementara untuk 8-12 minggu adalah konservatif saja. Pada anak
kecil, ibu hamil, dan penderita usia lanjut, jika secara konservatif tidak
membaik atau berkembang menjadi abses, dianjurkan operasi secepat.
Bila pada waktu membuka perut terdapat periapendikular infiltrat maka luka
operasi ditutup lagi, apendiks dibiarkan saja, terapi konservatif

pada

periapendikular infiltrat:
Total bed rest posisi fawler agar pus terkumpul di cavum douglassi
Diet lunak bubur saring
Antibiotik parenteral dalam dosis tinggi, antibiotik kombinasi yang
aktif terhadap kuman anaerob dan aerob.
Baru setelah keadaan tenang, yaitu sekitar 6-8 minggu kemudian,
dilakukan apendiktomi. Jika ternyata tidak ada keluhan atau gejala apapun, dan
pemeriksaan jasmani dan laboratorium tidak menunjukan tanda radang atau
abses,

dapat

dipertimbangkan

membatalkan

tindakan

operasi.

Untuk

menurunkan demam diberikan antipiretik. Tidak dianjurkan pemberian


analgetik pada pasien

dengan akut abdomen yang penyebabnya belum

diketahui karena dapat mengaburkan penegakkan diagnosis. Berikan pula


antibiotik intravena pada pasien yang menunjukan tanda- tanda sepsis dan pada
pasien yang menjalani prosedur pembedahan laparotomi.
b

Operatif
Antibiotika preoperatif (persiapan preoperatif)

Pemberian antibiotika preoperatif efektif untuk menurunkan terjadinya infeksi

post operasi.
Diberikan antibiotika spektrum luas dan juga untuk gram negatif dan anaerob.
Antibiotika preoperatif diberikan oleh ahli bedah.
Antibiotika profilaksis harus diberikan sebelum operasi dimulai. Biasanya
digunakan antibiotik kombinasi, seperti Cefotaxime dan Clindamycin, atau
Cefepime dan Metronidazole. Kombinasi ini dipilih karena frekuensi bakteri yang
terlibat, termasuk Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Enterococcus,
Streptococcus viridans, Klebsiella, dan Bacteroides.

30

Bila diagosis klinis sudah jelas maka tindakan paling tepat adalah apendektomi dan
merupakan satu-satunya pilihan terbaik.
Indikasi dari apendektomi antara lain:
1
2
3
4
5

Appendisitis akut (apendiktomi chaud)


Appendisitis kronis (apendiktomi froid)
Peri appendikular infiltrat dalam stadium tenang ( a-froid)
Appendiks terbawa pada laparotomi operasi kandung empedu
Appendiks perforasi.
Penundaan appendiktomi dengan pemberian antibiotik dapat mengakibatkan
abses dan perforasi. Pada abses Appendiks dilakukan drainage (mengeluarkan
nanah).

Teknik operasi Apendiktomi :


1

Open Appendectomy
- Dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik
- Dibuat sayatan kulit : Peritoneum
Lapisan kulit yang dibuka pada Appendektomi:

1 Kutis
2 Subkutis
3 Fascia scarfa
4 Fascia camfer
5 Aponeurosis M.obliqus ekstesnus
6 M.obliqus internus
7 M.transversus
8 Fascia transversalis
9 Pre-peritoneum
Laparoscopic Appendectomy
Pertama kali dilakukan pada tahun 1983. Laparoscopi adalah teknik bedah invasive
minimal menggunakan gas untuk insulfasi melalui peritoneum dan alat-alat lain melalui
insisi minimal dengan acuan kamera video. Laparoscopic dapat dipakai sarana diagnosis
dan terapeutik untuk pasien dengan nyeri akut abdomen dan suspek appendisitis akut.
Laparoscopic kemungkinan sangat berguna untuk pemeriksaan wanita dengan keluhan
abdomen bagian bawah. Membedakan penyakit akut ginekologi dari appendisitis akut
sangat mudah dengan menggunakan laparoscopi.

31

Gambar 10. Laparoscopic Incisions


Perawatan Pasca Bedah (15)
Pada hari operasi penderita diberikan infus menurut kebutuhan sehari kurang lebih 2 3 liter
cairan Ringer Laktat dan Dekstrosa. Pada appendisitis tanpa perforasi : antibiotik diberikan
hanya 1 x 24 jam. Pada appendisitis dengan perforasi : antibiotik diberikan hingga jika gejala
klinis infeksi reda dan laboratorium normal. Mobilisasi secepatnya setelah penderita sadar
dengan menggerakkan kaki miring ke kiri dan ke kanan bergantian dan duduk. Penderita boleh
berjalan pada hari pertama pasca operasi. Pemberian makan peroral di mulai dengan memberikan
minum sedikit-sedikit (50 cc) tiap jam apabila sudah ada aktifitas usus yaitu adanya flatus dan
bising usus. Bilamana dengan pemberian minum bebas penderita tidak kembung maka
pemberian makanan peroral dimulai. Jahitan diangkat pada hari kelima sampai hari ke tujuh
pasca bedah.
Komplikasi
Durante Operasi : perdarahan intraperitoneal, dinding perut, robekan pada caecum atau
usus lain.
Pasca bedah dini : perdarahan, infeksi, hematom, paralitik ileus, peritonitis, fistel usus,
abses intraperitoneal.
11 Komplikasi
Apendisitis merupakan penyakit yang jarang mereda dengan spontan, namun penyakit ini
32

tidak dapat diramalkan dan mempunyai kecenderungan menjadi progresif dan terjadi perforasi.
Perforasi jarang terjadi dalam 8 jam pertama, oleh karena itu observasi untuk penegakan
diagnosis ini aman dilakukan dalam waktu tersebut. Beberapa komplikasi yang terjadi :
1

Perforasi
Keterlambatan penanganan merupakan alasan penting terjadinya perforasi.
Perforasi appendix akan mengakibatkan peritonitis purulenta yang ditandai dengan
demam tinggi, nyeri makin hebat meliputi seluruh perut dan perut menjadi tegang dan
kembung. Nyeri tekan dan defans muskuler di seluruh perut, peristaltik usus menurun
sampai menghilang karena ileus paralitik. Komplikasi yang paling sering terjadi adalah
perforasi baik berupa perforasi bebas maupun perforasi pada bagian appendisitis yang
telah mengalami pendindingan( walling off) sehingga berupa massa yang terdiri dari
kumpulan mesoapendiks, sekum,dan lengkung usus yang disebut sebagai massa
periapendikular.

Peritonitis
Peradangan peritoneum merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam
bentuk akut maupun kronis. Keadaan ini biasanya terjadi akibat penyebaran infeksi dari
apendisitis. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum
menyebabkan timbulnya peritonitis generalisata. Dengan begitu, aktivitas peristaltik
berkurang sampai timbul ileus paralitik, usus kemudian menjadi atoni dan meregang.
Cairan dan elektrolit hilang ke dalam lumen usus menyebabkan dehidrasi, gangguan
sirkulasi, oligouria, dan mungkin syok. Gejala : demam, lekositosis, nyeri abdomen,
muntah, Abdomen tegang, kaku, nyeri tekan, dan bunyi usus menghilang.

Massa Periapendikuler
Hal ini terjadi bila apendisitis gangrenosa atau mikroperforasi ditutupi
pendindingan oleh omentum. Umumnya massa apendix terbentuk pada hari ke-4 sejak
peradangan mulai apabila tidak terjadi peritonitis generalisata. Massa apendix dengan
proses radang yang masih aktif ditandai dengan keadaan umum masih terlihat sakit, suhu
masih tinggi, terdapat tanda-tanda peritonitis, lekositosis, dan pergeseran ke kiri. Massa
apendix dengan proses meradang telah mereda ditandai dengan keadaan umum telah
membaik, suhu tidak tinggi lagi, tidak ada tanda peritonitis, teraba massa berbatas tegas
dengan nyeri tekan ringan, lekosit dan netrofil normal.
33

Komplikasi lain yang cukup berbahaya adalah pylephebitis, yaitu trombophlebitis supurativa
pada sistem vena porta akibat perluasan infeksi appendisitis. Gejala berupa mengigil, demam
tinggi, ikterik ringan, dan abses hepatik.
12 Prognosis
Mortalitas adalah 0,1% jika appendisitis akut tidak pecah, dan 15% jika pecah pada orang
tua. Kematian biasanya dari sepsis, emboli paru, atau aspirasi. Prognosis membaik dengan
diagnosis dini sebelum perforasi dan antibiotik yang adekuat. Morbiditas meningkat dengan
ruptur dan usia tua.

13 Pencegahan
Pencegahan bertujuan untuk menghilangkan faktor resiko terhadap kejadian
Appendicitis. Upaya untuk pencegahan adalah dengan mengkonsumsi serat untuk membantu
mempercepat pengeluaran sisa-sisa makanan sehingga tidak terjadi konstipasi yang
mengakibatkan penekanan pada dinding kolon. Selain itu, defekasi yang teratur akan membantu
pengurangan angka kejadian apendisitis.

34

BAB III
LAPORAN KASUS
I IDENTITAS PASIEN
Nama

Nn. A.H

Umur

18tahun

Jenis kelamin

Perempuan

Agama

Kristen Protestan

Status Perkawinan

Belum Menikah

Pekerjaan

Siswi SMA

Alamat

Dok V

No. Rekam Medik

38 27 19

Tanggal masuk RS

11 Januari 2016

II ANAMNESIS
Keluhan Utama

Riwayat penyakit sekarang

Nyeri perut kanan bawah

Pasien datang dengan keluhan nyeri pada perut kanan bawah yang sudah dirasakan
sejak 10 jam sebelum masuk rumah sakit. Awalnya pasien mengaku nyeri yang samar dan
hilang timbul pada daerah sekitar pusar kemudian menjalarserta menetap pada perut kanan
bawah. Nyeri yang dirasakan di daerah perut kanan bawah lebih tajam dan terus menerus.
Nyeri lebih terasa nyeri jika pasien berjalan. Selain itu pasien juga mengeluh tidak nafsu
makan, mual dan muntah-muntah 5 kali berisi makanan, demam, nyeri BAK tidak dirasakan,
BAB normal, keputihan disangkal, HPHT 1 januari 2016.
Riwayat penyakit dahulu :
Riwayat penyakit dengan keluhan yang sama

(-)

Riwayat alergi obat

(-)

Riwayat Sakit Gula

(-)

Riwayat darah tinggi

(-)
35

Riwayat asma

(-)

Riwayat penyakit jantung

(-)

Riwayat terpapar radiasi

(-)

Riwayat kesehatan keluarga :


Riwayat penyakit dengan keluhan yang sama

(-)

Riwayat alergi obat

(-)

Riwayat Sakit Gula

(-)

Riwayat darah tinggi

(-)

Riwayat asma

(-)

Riwayat penyakit jantung

(-)

IIIPEMERIKSAAN FISIK
A Status Generalis
Keadaan Umum
Kesadaraan
Kesan sakit
Tanda-tanda Vital

: Compos mentis
: Tampak sakit sedang
:

Tekanan darah :120/90 mmHg


Nadi

: 112x/mnt

RR

: 28x/mnt

Suhu

:37, 8 C

Kelenjar Getah Bening


Submandibula

: tidak membesar

Leher : tidak membesar

Supraklavikula

: tidak membesar

Ketiak : tidak membesar

Lipat paha

: tidak membesar

Kepala
Ekspresi wajah

: normal, biasa

Simetri muka

: simetris

Rambut

: hitam, lebat, distribusi merata

Mata
36

Exophthalmus : tidak ada

Enopthalmus : tidak ada

Kelopak

: tidak ptosis,tidak edema

Lensa

: jernih

Konjungtiva

: tidak anemis

Visus

: tidak dinilai

Sklera

: tidak ikterik

Gerakan Mata : normal ke segala arah

TIO

: normal per palpasi

Nistagmus

: tidak ada

Telinga
Tuli

: - /-

Selaput pendengaran : utuh

Lubang

: +/+ (lapang)

Penyumbatan

: - /-

Serumen

: - /-

Pendarahan

: - /-

Cairan

: - /-

Mulut
Bibir

: tidak sianosis

Tonsil

: T1-T1 tenang

Bau pernapasan

: tidak khas

Gigi geligi

: tidak caries, utuh

Trismus

: tidak ada

Faring

: normal, tidak hiperemis

Selaput lendir

: normal

Lidah

: tidak kotor

Leher
Normal, pembesaran KGB (-)
Thorax :
Paru Paru Depan Belakang
Inspeksi

: simetris

Palpasi

: Fremitus kiri dan kanan sama, benjolan (-), nyeri tekan (-)

Perkusi

: Sonor di kedua lapang paru

Auskultasi

: Suara nafas vesikuler, Ronkhi (-), Wheezing (-)

Jantung
Inspeksi

: Tidak tampak pulsasi iktus cordis.

Palpasi

: Teraba iktus cordis pada sela iga V di linea midklavikula kiri


37

Perkusi

: Pekak

Batas kanan

: sela iga V linea parasternalis kanan.

Batas kiri

: sela iga V, 1cm medial linea midklavikularis kiri.

Batas atas

: sela iga II linea parasternalis kiri.

Auskultasi

: Bunyi jantung I-II regular murni, Gallop (-), Murmur (-).

Abdomen
Inspeksi

: datar, benjolan (-), scar bekas operasi (-), jejas (-), darm contour (-)

Auskultasi

: bising usus (+) normal

Palpasi

: distens (-), nyeri tekan(+) pada titik Mc burney, hepar dan lien tidak

membesar, defans muscular (-)


Perkusi

: timpani

Extremitas
Lengan

Kanan

Kiri

Tonus otot

normotonus

normotonus

Sendi

nyeri (-)

nyeri (-)

Gerakan

aktif

aktif

Kekuatan

+5

+5

Oedem

(-)

(-)

Lain-lain

(-)

(-)

Tungkai dan Kaki

Kanan

Kiri

Luka

tidak ada

tidak ada

Varises

tidak ada

tidak ada

Tonus otot

normotonus

normotonus

Sendi

nyeri (-)

nyeri(-)

Gerakan

aktif

aktif

Kekuatan

+5

+5
38

Edema

(-)

(-)

Lain-lain

(-)

(-)

B Status Lokalis
Regio Iliaca dextra
Inspeksi : Tampak datar, benjolan tidak terlihat, jejas tidak terlihat, darm contour tidak
ditemukan
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Palpasi : supel, nyeri tekan titik Mc burney, defans muscular tidak teraba,
Rebound tendrness (+), psoas sign (+), obturator sign (+) dan Rovsing sign (+)
Perkusi : timpani

IV DIAGNOSIS
Appendisitis akut
V DIAGNOSIS BANDING

Infeksi saluran kemih

VI PEMERIKSAAN PENUNJANG

Periksa darah lengkap , Hitung jenis leukosit, urine lengkap


USG abdomen

Pemeriksaan Laboratorium (11 Januari 2016)


Darah lengkap

Leukosit
Eritrosit
Hemoglobin
Trombosit

: 13.7 /
: 5.10 juta/mm3
: 10.9 g/dl
: 339.000 ribu/mm

Urine lengkap

Warna
: Kuning
pH : 6,0
Leukosit esterase : 39

Silinder : Eptel : Kristal: -

USG Abdomen (06/01/2016) : Kesan ileus obstruksi

VII

RESUME
Pasien wanita/18 tahun datang dengan keluhan nyeri perut kanan bawah 10 jam sebelum
masuk rumah sakit, awalnya nyeri samar dan hilang timbul pada umbulikus lalu pindah pada
perut kanan bawah dengan nyeri yang jelas, muntah 5 kali, demam, anoreksia
Pada pemeriksaan fisik ditemukan nyeri tekan pada titik Mc burney, Rebound tenderness,
Rovsing sign, Psoas sign , dan Obturator sign serta demam 37,8 oC
Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan leukositosis 13, 7 /

VIII

PENATALAKSANAAN

IX

Pemberian Cairan intravena


Analgesik
Antibiotik
Pro appendektomi

PROGNOSIS
Quo ad vitam : bonam
Quo ad fungsionam : malam
Quo ad sanationam : bonam
BAB IV
PEMBAHASAN

Diagnosis appendisitis pada pasien ini ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan


fisik dan pemeriksaan penunjang.
Dari hasil anamnesis didapatkan bahwa pasien mengeluh nyeri perut kanan bawah.
Keluhan diawali dengan nyeri pada daerah sekitar pusar yang samar dan hilang timbul.
Kemudian nyeri menjalar dan menetap pada perut kanan bawah. Nyeri terasa lebih jelas pada

40

perut kuadran kanan bawah.Selain itu ada keluhan mual dan muntah 5 kali isi makanan, serta
nafsu makan menurun, dan demam.
Dari pemeriksaan fisik abdomen didapatkan suhu badan 37,8 oC, Nyeri tekan titik Mc
Burney (+), psoas sign (+), obturator sign (+), roving sign (+) dan Rebound tenderness.
Pada pemeriksaan laboratorium tanggal 12 januari 2016 didapatkan terjadi peningkatan
leukosit yaitu 15.61 /.
Dari hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik serta pemerikasaan penunjang tersebut, pasien
ini telah mengalami peradangan pada appendiks.
Nyeri yang khas pada appendisitis yaitu nyeri yang berawal pada daerah epigastrium atau
umbilikus dan berpindah serta menetap pada perut kanan bawah. Nyeri pada daerah umbulikus
yang samar dan hilang timbul merupakan nyeri visceral dari persarafan parasimpatis dari nervus
vagus. Nyeri yang lebih tajam dan menetap di abdomen kanan bawah (titik MC Burney)
merupakan nyeri somatic dari persarafan simpatis dari nerves thorakalis X.
Psoas sign dan obturator sign merupakan tanda untuk menentukan letak appendisitis.
Nyeri terjadi karena appendicitis menempel/bersentuhan dengan otot psoas atau obturator
interna. Pada pasien ini dicurigai appendiks terletak retrosekal karena tanda obturator dan psoas
sign positif.
Appendektomi dilakukan jika diagnosis appendisitis sudah ditegakkan. Tindakan pada
pasien ini adalah appendektomi karena pada pasien ini diagnosis appendisitis sudah ditegakan.
Appendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna tetapi akan membentuk
jaringan parut yang melekat dengan jaringan sekitarnya. Perlengketan ini dapat menimbulkan
keluhan berulang di perut kanan bawah sehingga suatu saat organ ini dapat meradang akut lagi
sehingga harus dilakukan appendektomi.
Prognosis pada pasien ini adalah bonam karena secara kinis pasien tidak menunjukan
tanda-tanda terjadi komplikasi seperti perforasi atau peritonitis dan jika dilihat dari pemeriksaan
fisik keadaan umum serta tanda tanda vital pasien cukup stabil, karena pada pasien ini pasien ini
direncanakan untuk melakukan appendektomi maka fungsi dari appendiks sendiri akan hilang
41

BAB V
KESIMPULAN
1

Appendicitis adalah peradangan pada appendiks vermiformis atau peradangan infeksi pada
usus buntu (Appendiks) yang terletak di perut kuadran kanan bawah .

Manifestasi klinis adalah rasa sakit di daerah epigastrium, daerah periumbilikal, dan atau di
kuadran kanan bawah

42

Kompilkasi dari appendisitis apabila tidak segera ditangani adalah perforasi, peritonitis dan
massa periappendikuler

Penatalaksanaan yaitu dengan konservatif maupun tindakan operatif.

DAFTAR PUSTAKA
1. Guyton, Arthur C. Hall, John E. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11.
Jakarta: EGC.
2. De Jong. W, Sjamsuhidajat. R. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi Revisi. EGC. Jakarta.
1998.
3. Tarigan, S., dan Oppusunggu D.P. : Pendekatan Diagnosis Kelenjar Tiroid dengan
Struma pada Anak, Majalah Medika, No 1 tahun 15. Januari, 1989, hal : 59-60.
4. Anonim, Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Penerbit Aksara Medisina, Jakarta 1987,
hal 72-78.
43

5. Sri Hartini, KS, Struma Nodosa Non Toksik, dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam, Jilid I, Penerbit FKUI, Jakarta 1996, hal 757-761.
6. Djokomoeljanto., Kelenjar Tiroid Embriologi, Anatomi dan Faalnya., Dalam :
Suyono, Slamet (Editor). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. FKUI. Jakarta. 2001.
7. Mulinda,james.Goiter.eMedicine.2005http://www.emedicine.com/MED/topic916.
htm
8. Davis,
Anu
Bhalla.
Goiter,
Toxic
Noduler.
eMedicine.
2004.http://www.emedicine.com/MED/topic920.htm.
9. Adediji.,
Aluyinka
S.
Goiter,
Diffuse
Toxic.
eMedicine.
2004.http://www.emedicine.com/MED/topic917.htm.
10. Mansjoer A et al (editor). Struma Nodusa Non Toksik. Kapita Selekta Kedokteran.
Jilid 1, Edisi III. Media Esculapius. FKUI. Jakarta. 2001.
11. Sadler GP, Clark OH, van Heerden JA, Farley DR. Thyroid and Parathyroid.
Dalam : Schwartz SI, et al. Principles of surgery. Vol 2. Edisi 7. McGraw Hill.
NY. 1999.

44