Anda di halaman 1dari 29

MODUL 7

STATISTIK NON PARAMETRIK


Pendahuluan
Kebanyakan pengujian hipotesis dengan menggunakan pendekatan statistika,
mengemukakan bahwa nilai-nilai parameter yang tidak diketahui dapat ditaksir
berdasarkan nilai-nilai statistika yang dihitung dari sampel random yang diambil dari
populasi tertentu. Dengan demikian hipotesa-hipotesa yang akan diuji bersangkut-paut
dengan nilai-nilai parameter populasinya. Pada kenyataannya banyak anggapananggapan seperti itu tidak dijumpai, artinya variabel randomnya tidak menyebar secara
normal atau bahkan sama sekali diketahui distribusinya. Untuk variabel random yang
demikian dikembangkan sejumlah uji statistika yang tidak memerlukan anggapananggapan tertentu perihal distribusi populasinya dan juga tidak bersangkut-paut
dengan nilai-nilai parameter tertentu. Uji statistika demikian dinamakan Uji Non
Parametrik.
Dalam modul ini akan dibahas secara garis besar mengenai pengertian dan
kegunaan serta metoda-metoda statistika non parametrik antara lain yaitu :
1; Pengertian dan kegunaan statistika non parametrik
2; Uji jenjang bertanda Wilcoxon
3; Uji jumlah jenjang bertanda Wilcoxon
4; Uji jumlah jenjang berstrata Wilcoxon
5; Uji Mann-Whitney (U-Test)
6; Uji Kruskal Wallis (Uji H).
Setelah mempelajari modul ini mahasiswa diharapkan dapat :
1; Memahami dan mengerti tentang statistika non parametrik dan mampu
menerapkannya dalam berbagai pengujian hipotesis-hipotesis dengan pendekatan
statistika non parametrik

2; Memahami dan mengerti serta mampu menerapkan pengujian statistika non


parametrik dengan menggunakan uji jenjang bertanda Wilcoxon, uji jumlah jenjang
bertanda Wilcoxon dan uji jumlah jenjang berstrada Wilcoxon.
3; Memahami dan mengerti serta mampu menerapkan pengujian statistika dengan
metoda statistika non parametrik menggunakan uji Kruskal Wallis.
Pembahasan materi dalam modul ini, secara rinci akan disajikan menjadi
beberapa unit belajar dan akan diuraikan secara rinci pada setiap unit belajar yang
tercakup dalam modul ini.

Unit Belajar 1
Pengertian dari Beberapa Metoda
Statistika Non Parametrik

Kebanyakan pengujian statistika mengemukakan bahwa nilai-nilai parameter


yang tidak diketahui dapat ditaksir berdasarkan nilai statistika yang dihitung dari
sampel random yang diambil dari populasi tertentu. Dengan demikian hipotesahipotesa yang akan diuji bersangkut-paut dengan nilai tertentu atau nilai-nilai
parameter populasinya.
Andaikata variabel randomnya tidak menyebar secara normal atau bahkan sama
sekali tidak diketahui distribusinya, maka digunakanlah uji statistika non parametrik.
Uji non parametrik dapat pula disebut uji bebas sebaran. Uji bebas sebaran adalah
metode pengujian hipotesa yang tidak didasarkan pada bentuk tertentu dari distribusi
populasinya. Uji non parametrik pada dasarnya dapat digunakan dalam hal tidak
diperlukan hipotesa-hipotesa yang didasarkan atas nilai-nilai parameter tertentu. Pada
akhirnya orang lebih cenderung menggunakan istilah-istilah tersebut dengan sebutan
uji non parametrik. Uji non parametrik digunakan bila :
a; Bentuk distribusi populasinya, darimana sampel diambil, tidak diketahui menyebar
secara normal
b; Variabel dinyatakan dalam bentuk nominal (diklasifikasikan dalam kategori dan
dihitung frekuensinya)
c; Variabel dinyatakan dalam bentuk ordinal (disusun dalam urutan, dinyatakan dalam
jenjang 1, 2, 3, dan seterusnya.

Keuntungan non parametrik diantaranya:


1; Dapat digunakan untuk variabel yang tidak berdistribusi
normal
2; Dapat digunakan untuk jenis data nominal dan ordinal
3; Dapat digunakan untuk uji hipotesis tidak meliputi
parameter populasi
4; Dalam banyak kasus perhitungannya lebih mudah
5; Lebih mudah dipahami
K erugian non parametrik: 1.Kurang sensitif , 2. Kurang informatif, 3. Kurang efisien

Adapun metoda-metoda statistika non parametrik diantaranya adalah :


1. Uji jenjang bertanda Wilcoxon (Wilcoxon Signed Rank Test)
Uji tanda ini didasarkan atas tanda-tanda positif dan negatif yang besarnya
beda juga diperhatikan. Langkah-langkah yang diperlukan dalam pengujian ini ialah :
a. Berikan jenjang (rank) untuk tiap-tiap beda dari pasangan pengamatan (Y 1-X1)
sesuai

dengan

besarnya,

dari

yang

terkecil

sampai

terbesar

tanpa

memperhatikan tanda dari beda itu (nilai beda absolut). Bila ada dua atau lebih
beda yang sama, maka jenjang untuk tiap-tiap beda itu adalah jenjang rata-rata.
Contoh pemberian jenjang :
Hasil pengukuran dari variabel X dan Y diperoleh data sebagai berikut :
Subyek
A
B
C
D
E

X
50
56
49
45
48

Y
55
55
52
44
52

Beda
+5
-1
+3
-1
+4

Jenjang
5
1,5
3
1,5
4

Dalam pemberian jenjang dari hasil beda diurutkan dari beda yang terkecil
kepada beda yang terbesar tanpa melihat tanda positif (+) atau negatif (-)
dari setiap beda. Dan data tersebut di atas, diperoleh urutan beda sebagai
berikut : 1, 1, 3, 4 dan 5. Dari urutan nilai beda ini buat jenjang sebagai berikut:

Subyek
B
D
C
E
A

Beda
1
1
3
4
5

Jenjang
1,5
1,5
3
4
5

Karena ada dua skor yang sama, maka jenjang rata-ratanya yaitu jenjang
1 + 2 = 3 dibagi dua menjadi 1,5.
b. Bubuhkan tanda positif atau negatif pada jenjang untuk tiap-tiap beda sesuai
dengan tanda dari beda itu, beda 0 tidak diperhatikan. Contoh :
Subyek

Beda

Jenjang

B
D
C
E
A

1
1
3
4
5

1,5
1,5
3
4
5

Jumlah

Tanda Jenjang
+
1,5
1,5
3
4
5
12
3

Dari jumlah tanda jenjang positif (+) den negatif (-) , notasikan jumlah tanda
jenjang yang lebih kecil ini dengan nilai T.
c. Bandingkan nilai T yang diperoleh dengan nilai T untuk uji jenjang bertanda
Wilcoxon. Dengan menotasikan m sebagai median dari variabel random (Y-X),
maka kriteria pengambilan keputusan untuk menguji :
Ho diterima apabila T T
Ho ditolak apabila T < T

Lebih lanjut akan diberikan contoh dari hasil penelitian dengan sampel 15
orang, terhadap suatu program pelatihan, mengenai produktivitas kerja adalah
sebagai berikut :
Contoh :

Produktivitas kerja dari 15 pekerja sebelum dan sesudah Program


Latihan Hasrat berprestasi.
Pekerja
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
K
L
M
N
O

Xi

Yi

85
91
75
83
85
78
80
78
81
80
80
78
82
77
70
Jumlah

87
93
75
82
88
75
85
78
84
81
87
80
85
75
75

Beda YiTanda Jenjang


Jenjang
Xi
+
+2
4,5
+4,5
+2
4,5
+4,5
0
-1
1,5
-1,5
3
8,5
+8,5
-3
8,5
-8,5
+5
11,5
+11,5
0
+3
8,5
+8,5
+1
1,5
+1,5
+7
13
+13
+2
4,5
+4,5
+3
8,5
+8,5
-2
4,5
-4,5
+5
11,5
+11,5
T=
76,5
14,5

Dari tabel tersebut di peroleh jumlah jenjang yang bertanda (positif) + = 76,5
dan bertanda negatif (-) = 14,5. Jadi nilai T = 14,5, yaitu nilai yang lebih kecil,
tanpa memperhatikan tanda + dan - dari jumlah tersebut. Dari tabel nilai kritis T
untuk Wilcoxon Signed Rank Test untuk n = 13 (karena ada 2 orang yang
mempunyai nilai bedanya = 0 , jadi N 2 = 13), = 0,05 dengan pengujian dua
arah nilai T = 17.
Oleh karena T (14,5) < T0,05 (17) maka Ho ditolak. Artinya ada perbedaan yang
nyata atau pelatihan tersebut memberikan pengaruh terhadap produktivitas kerja.
Bila n > 25, maka perhitungan dilanjutkan dengan pendekatan Uji Z, dengan
langkah sebagai berikut :
n(n 1)
4
1. Mencari nilai E(T) =

2. Mencari nilai r =

n(n 1) (2n 1)
24

T E (T )
T
3. Mencari nilai Z =
Kriteria :
Terima Ho :- Z ( 0,5 ) <Z < Z ( 0,5 ) untuk kondisi
lainnya ditolak
Contoh perhitungan uji jenjang bertanda Wilcoxon, bila jumlah n-nya lebih dari 25
Beda YiTanda Jenjang
Jenjang
Xi
+
25
27
2
10
10
24
28
4
20,5
20,5
28
24
-4
20,5
-20,5
24
26
2
10
10
23
27
4
20,5
20,5
18
24
6
23,5
23,5
19
12
-7
5,5
-25
20
22
2
10
10
22
25
3
14,5
14,5
25
28
3
14,5
14,5
20
23
3
14,5
14,5
22
27
5
22
22
19
26
7
25,5
25,5
17
18
1
1,5
1,5
22
20
-2
10
10
24
27
3
14,5
14,5
23
29
6
23,5
23,5
25
28
3
14,5
14,5
24
26
2
10
10
25
27
2
10
10
18
20
2
10
10
20
23
3
24,5
14,5
19
18
-1
-1,5
-1,5
21
17
-4
-20,5
-20,5
24
26
2
10
10
26
28
2
10
10
Jumlah
T=
319,5
67,5
jumlah tanda jenjang yang terkecil adalah 67,5. Nilai inilah

Pekerja
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
K
L
M
N
O
P
Q
R
S
T
U
V
W
X
Y
Z
Dari tabel tersebut,

Xi

Yi

yang disebut nilai T = 67,5 (T hitung). Langkah selanjutnya dilakukan pengujian


melalui pendekatan Uji-Z, dengan langkah-langkah sebagai berikut :

n(n 1)
26 (26 1) 650

162,5
4
4
4
1. Mencari nilai E(T) =
=

2. Mencari nilai r =

n(n 1) (2n 1)
24
=

26 (26 1) (2x26 1)
24
= 38,24

T E (T )
67,5 - 162,5
T
38,24
3. Mencari nilai Z =
=
= -2,48
Hasil Z-hitung sebesar -2,48 lebih kecil dari -Z-tabel ( 0,5 ) yaitu -1,96
dan berada di luar batas penerimaan hipotesis, maka Hipotesis Ho ditolak.
Kesimpulan :

Ada peningkatan yang berarti dari pelatihan yang diberikan


terhadap 26 orang pekerja.

2. Uji Jumlah Jenjang Wilcoxon (Wilcoxons Rank Sum Test)


Uji ini dipergunakan untuk membandingkan dua sampel yang anggotaanggotanya tidak berpasangan dan berasal dari dua populasi yang tidak diketahui
distribusinya. Hipotesa nihil yang akan diuji mengatakan bahwa mean dari dua
populasi sama.
H0

H1

Bila besar sampel pertama dan kedua dinyatakan dengan n 1 dan n2 maka langkahlangkah pengujiannya adalah sebagai berikut :
1. Gabungkan kedua sampel dan beri jenjang pada tiap-tiap anggotanya mulai dari
pengamatan terkecil ke yang terbesar. Apabila ada dua atau lebih nilai
pengamatan yang sama, maka jenjang diberikan pada tiap-tiap anggota adalah
jenjang rata-rata.
Contoh : pemberian jenjang untuk uji jumlah jenjang bertanda Wilcoxon.

Data Hasil Tes Cara Lama dan Cara Baru


No Subyek
1
2
3

Cara Lama
16
12
18

No. Subyek
1
2
3

Cara Baru
16
15
19

4
5
6
7
8
9
10

19
14
13
18
19
15
10

4
5
6
7
8
9
10

23
25
21
26
20
18
19

Menggabungkan hasil tes metoda lama dengan mtoda baru dari skor
terkecil ke skor terbesar dan pemberian jenjangnya.
No. Subyek
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Skor
Gabungan
10
12
13
14
15
15
16
16
18
18
18
19
19
19
19
20
21
23
25
26

Rank
1
2
3
4
5,5
5,5
7,5
7,5
10
10
10
13,5
13,5
13,5
12,5
16
17
18
19
20

2. Hitunglah jumlah jenjang masing3. Ambillah jumlah yang lebih kecil antara R1 dan R2 dan notasikan dengan R.
4. Bandingkan nilai R yang diperoleh dari hasil pengamatan R dari tabel pada .
5. Kriteria pengambilan keputusan adalah :
H0 diterima apabila R > R
H0 ditolak apabila R < R
Contoh : Penelitian Metode Tradisional dan metoda Baru dalam pembelajaran
lompat jauh yang diterapkan pada 10 orang siswa.

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Metoda Tradisional
Hasil
16
12
18
19
14
13
18
19
15
10

Jenjang
7,5
2
10
13,5
4
3
10
13,5
5,5
1
R1 = 70

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Metode Baru
Hasil
Jenjang
16
7,5
15
5,5
19
13,5
23
18
25
19
21
17
26
20
20
16
18
10
19
13,5
R2 = 140

Dari tabel tersebut jumlah yang lebih kecil adalah R 1 = 70 dan nilai ini disebut
dengan nilai R. Untuk n1 = n2 = 10 dari tabel nilai R diperoleh R 0,05 = 78 dan

R0,01

= 71. Pada = 0,01 ternyata R = 70 lebih kecil dari 71, maka diputuskan bahwa H 0
ditolak.
Kesimpulan : Efisiensi pembelajaran cara baru berbeda dengan efisiensi
pembelajaran lama artinya metode pembelajaran cara baru lebih efektif dalam
meningkatkan hasil belajar siswa.
Untuk sampel yang tidak berukuran sama (n 1 n2 ), maka pemberian jenjang
dilakukan dua kali yaitu jenjang dari pengamatan terkecil ke yang terbesar (1) dan
dari pengamatan yang terbesar ke yang kecil (II).
Hasil uji coba metoda lama dan baru dan jenjangnya dari metode lama dan
metoda baru.

No
1
2
3
4
5

Metoda Lama
Hasil
Jenjang I
16
9
12
2
18
13
19
16,5
14
4

Jenjang II
17
24
13
9,5
22

No
1
2
3
4
5

Hasil
16
15
19
23
25

Metode Baru
Jenjang I
9
6
16,5
23
24

Jenjang II
17
20
9,5
3
2

6
7
8
9
10

13
18
19
15
10

3
13
16,5
6
1

23
13
9,5
20
5

R1 = 84

R11 = 176

6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

21
26
20
18
19
22
17
15
21
16

20,5
25
19
13
16,5
22
22
6
20,5
9
R2 = 241

5,5
1
7
13
9,5
4
15
20
5,5
17
1
R2 = 149

Dari tabel tersebut jumlah jenjang yang lebih kecil adalah R1 = 84 ini merupakan
nilai R. Untuk n1 = 10 dan n2 = 15 dari tabel nilai R diperoleh R0,05 = 94 dan

R0,01

= 84. Pada = 0,05 ternyata R = 84 lebih kecil R 0,05 = 94, maka diputuskan H0
ditolak.
Kesimpulan : Efisiensi pada cara baru berbeda dengan efisiensi pada cara lama
Apabila n1 dan n2 atau kedua-duanya lebih dari 20, pengujian hipotesa
dilakukan dengan memperhitungkan nilai Z dengan rumus:
n1 (n1 n2 1) 2 R 1
n1 n 2 (n1 n 2 1)
Z=

R1 = Jumlah jenjang yang lebih kecil antara R1, R2, R11, R21.
n1 = Besar sampel dengan jumlah R1 tersebut.
Kriteria pengambilan keputusannya adalah :
Za
Ho diterima apabila Z

Za
Ho ditolak apabila Z >

3. Uji Jumlah Jenjang Berstrata Wilcoxon (Stratified Test)


Uji ini digunakan untuk membandingkan perlakuan yang diterapkan kepada
beberapa Strata, dengan ketentuan bahwa ukuran sampel bagi setiap perlakuan dari

berbagai strata itu sama. Pemberian jenjang dilakukan pada setiap strata secara
terpisah. Kemudian jenjang pada setiap strata dijumlahkan. Jumlah jenjang yang
lebih kecil, dintonasikan dengan simbol R. Selanjutnya R ini akan dibandingkan
dengan nilai R pada Tabel Uji Berstrata Wilcoxon.
Rumusan hipotesis (H) :
H0

: U1 = U2

H0

: U1 U2

Kriteria pengujian :
H0 diterima apabila R > R
H0 ditolak apabila R < R
Contoh :
Dalam jurusan Penjas terdapat dua jenjang studi yaitu D3 dan S1. Dari setiap strata
pendidikan jasmani diambil 5 orang mahasiswa yang melakukan uji coba dengan
metoda baru dan metoda lama. Hasil penerapan metoda tersebut pada setiap strata
jenjang pendidikan, diperoleh data sebagai berikut:

Strata Pendidikan

Program D3

Program S1
Jumlah

Metoda Lama
Hasil
Jenjang
14
1
19
5,5
18
3,5
19
5,5
15
2
18
7
12
2
10
1
13
3
16
5,5
R1 = 36

Metoda Baru
Hasil
Jenjang
26
10
25
9
21
8
20
7
18
3,5
19
8,5
16
5,5
15
4
23
10
19
8,5
R2 = 74

Jumlah jenjang yang lebih kecil R = R 1 = 36. Untuk anggota sampel yang
beranggotakan n = 5 orang, setiap perlakuan dalam setiap strata. Dari contoh
tersebut banyaknya strata (g) = 2, diperoleh R-Tabel yaitu :
R (g ; n) = R0,01 (2 ; 5) = 38

Karena R-hitung = 36 lebih kecil dari R0,01 (2 ; 5) = 38, maka H0 ditolak. Artinya
ada perbedaan yang signifikan antara Metoda Lama dan Metoda Baru. Dengan
demikian dapat dikemukakan bahwa metoda Baru lebih efektif dalam
meningkatkan hasil belajar siswa.
TUGAS DAN LATIHAN
Kerjakanlah dan diskusikan dengan teman-teman Anda, soal tugas-tugas latihan
berikut ini :
1. Buatlah rangking dari skor-skor berikut ini :
a. Hasil tes : 18 19 21 17 15 23 22
29 30 40 38 28 35 36 31
b. Hasil tes : 24 19 18 21 27 25 2
19 21 24 25 28 29 30
31 19 18 27 35 28 21
2. Hasil uji coba latihan kelenturan dengan sistem dinamis adalah sebagai berikut :
No
1
2
3
4
5
6
7

Sebelum
26
24
23
25
26
17
19

Sesudah
28
26
27
28
24
20
23

No
Sebelum
8
24
9
33
10
27
11
24
12
25
13
30
14
31
15
32
a. Buatlah beda dari pasangan skor tersebut di atas !

Sesudah
20
35
25
27
20
26
32
28

b. Buatlah rangking dari hasil beda tersebut tanpa memperhatikan tanda positif (+)
atau negatif (-) !
c. Hitung jumlah jenjang positif dan jumlah jenjang negatif !
d. Gunakan pendekatan uji jenjang bertanda wilcoxon dengan = 0,05, bagaimana
kesimpulan Anda dari data tersebut di atas ?
3. Dari hasil uji coba lompat jauh dari metoda jongkok dan metoda sailing in the air
(sikap layar di udara) terhadap 12 orang siswa adalah sebagai berikut :
No

Metode Jongkok

No

Metode Sailing In The Air

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

28
26
27
25
22
24
26
25
22
30
25
24

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

24
25
30
27
26
29
31
33
29
28
26
29

Analisislah data tersebut di atas dengan pendekatan uji jumlah jenjang Wilcoxon
dengan peluang = 0,05 !

Unit Belajar 2
Uji Mann Whitney dan Uji Kruskal Wallis
I. Uji Mann-Whitney (U Test)
Uji Mann-Whitney adalah semacam uji jumlah jenjang Wilcoxon untuk dua
sampel yang berukuran tidak sama. Uji ini seperti uji non parametrik yang lain, tidak
memerlukan anggapan tertentu mengenai populasi darimana sampel diambil. Asumsi

yang diperlukan hanyalah bahwa nilai dari variabel random dari dua grup yang
diperbandingkan adalah berdistribusi kontinyu.
Uji Mann-Whitney ini dinamakan juga U Test, digunakan sebagai alternatif lain
dari tes parametrik bila anggapan yang diperlukan bagi t test tidak dijumpai. Bila besar
sampel pertama dan kedua dinyatakan dengan n 1 dan n2 maka langkah-langkah
pengujiannya adalah sebagai berikut :
1. Gabungkan kedua sampel independen dan beri jenjang pada tiap-tiap anggotanya
mulai dari nilai pengamatan terkecil sampai nilai pengamatan terbesar. Untuk
memudahkannya dapat disusun bentuk array lebih dahulu.
Contoh : Penggabungan kedua sampel independen dan pemberian jenjang angka
-

Data hasil uji coba dari kelompok A terdiri dari 10 orang dan B terdiri dari
18 orang adalah sebagai berikut :
Pekerja
Kelompok A
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Skor
13
12
12
10
10
10
10
9
8
8

Pekerja
Kelompok B
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Skor
17
16
15
15
15
14
14
14
13
13
13
12
12
12
12
11
10
8

Cara pemberian jenjang


Pemberian jenjang dilakukan dengan cara penggabungan dari kedua
kelompok yaitu kelompok A dan kelompok B, dari data tersebut di atas
sebagai berikut :
No. Subjek Gabungan
1
2

Skor Urut
8
8

Jenjang
2
2

3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28

8
9
10
10
10
10
10
11
12
12
12
12
12
12
13
13
13
13
14
14
14
15
15
15
16
17

2
4
7
7
7
7
7
10
13,5
13,5
13,5
13,5
13,5
13,5
18,5
18,5
18,5
18,5
22
22
22
25
25
25
27
28

2. Hitunglah jumlah jenjang masing-masing bagi sampel pertama dan kedua dan
notasikan dengan R1 dan R2.
3. Untuk uji statistik U, kemudian dihitung :
Dari sampel pertama dengan n1 pengamatan :
n1 (n1 1)
R1
2
U = n1n2 +
atau dari sampel kedua dengan n2 pengamatan :
n2 (n2 1)
R 2
2
U = n1n2 +
4. Dari dua nilai U tersebut digunakan adalah nilai U yang lebih kecil. Nilai yang
lebih besar ditandai dengan U1. Sebelum pengujian dilakukan perlu diperiksa
apakah telah didapatkan U atau U1, dengan cara membandingkannya dengan

n1.n2/2. Bila nilainya lebih besar daripada n 1.n2/2, nilai tersebut adalah U1 dapat
dihitung : U = n1. n2 U1
5. Bandingkan nilai U dengan nilai U dalam tabel (untuk n1 dan n2 yang lebih besar
dari 20). Kriteria pengambilan keputusannya adalah :
H0 diterima apabila U > U
H0 ditolak apabila U < U
Contoh : Perhitungan Uji Mann-Whitney (U - Test).
Hasil uji coba pekerja berupa output perjam dari pekerja yang tidak diiringi
musik (A) dan pekerja yang diiringi musik (B) beserta jenjangnya.
Pekerja Kelompok A
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Output
Perjam
13
12
12
10
10
10
10
9
8
8

Jenjang
18,5
13,5
13,5
7
7
7
7
4
2
2

Pekerja
Kelompok B
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

R1 = 81,5

Dari tabel tersebut di atas diperoleh R1 = 81,5 dan R2 = 324,5


Nilai U diperoleh dengan perhitungan :
10 (10 1)
81,5 153,5
2
U = 10 (18) +

Output
Perjam
17
16
15
15
15
14
14
14
13
13
13
12
12
12
12
11
10
8
R2 = 324,5

Jenjang
28
27
25
25
25
22
22
22
18,5
18,5
18,5
13,5
13,5
13,5
13,5
10
7
2

n1 n2 10 (18)

90
2
Jumlah ini lebih besar dari pada 2
Nilai U yang digunakan adalah
U = 10 (18) 153,5 = 26,5
Jumlah ini dapat dicocokan dengan
18 (18 1)
324,5 26,5
2
U = 10 (18) +
Berdasarkan tabel di atas dengan =0,025 (satu arah) atau =0,05 (dua arah) pada n 1=10
dan n2=18 serta nilai U = 48. Ternyata nilai U sampel lebih kecil daripada

U tabel

= 48, maka Hipotesa nihil (Ho) ditolak.


Bila n1 dan n2 kedua-duanya sama atau lebih besar dari 20, digunakan
pendekatan kurva normal dengan mean :
n1 n2
E(U) = 2
-

Standar deviasi :
n1 n2 (n1 n2 1)
U

12

Nilai standar dihitung dengan :


U E (U )
U
Z=

Kriteria pengambilan keputusannya adalah :


Za
Ho diterima apabila -

Za
Z

Za
Ho ditolak apabila Z >

Za
atau Z < -

Contoh :
Hasil dari peserta yang mengikuti latihan aerobik yang dibimbing oleh instruktur yang
tidak berpendidikan akademis (A) dan yang berpendidikan akademis (B) beserta
jenjangnya.

Instruktur
A

Hasil Tes

Jenjang

Instruktur
B

Hasil
Tes

Jenjang

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

82
75
70
65
60
58
50
50
46
42

24
19
15
11
8
7
4,5
4,5
3
2

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21

R1 = 98

92
90
90
89
86
85
83
81
81
78
76
73
72
71
68
67
66
64
63
40
41
R2 = 398

31
29,5
29,5
28
27
26
25
22,5
22,5
21
20
18
17
16
14
13
12
10
9
6
1

Dari contoh tersebut di atas diperoleh R1 = 98 dan R2 = 398


-

Nilai U diperoleh dengan perhitungan :


10 (10 1)
2

U = 10 (21)
-

98

= 167

10 (21)
n1 n 2
2
Jumlah ini lebih dari pada 2 =
= 105,
Untuk menentukan nilai U yang sesungguhnya digunakan rumus :
n2 (n2 1)
R2
2
U = n1n2 +

Hasil perhitungan nilai U yang sesungguhnya yaitu :


21 (21 1)
U = 10 (21)

398

= 43

Dalam contoh tersebut oleh karena n2 = 21, maka digunakan pendekatan kurva normal:
20 (21)
-

Mean :

E(U) =

= 105

Standar deviasi :
n1 n2 (n1 n2 1)
U

12

6720
560
12
= 23,66

43 105
Z = 23,66 = 2,62
Bila digunakan =0,01, nilai Z = 2,58. Dengan demikian Ho ditolak karena beada di
luar daerah penerimaan hipotesis. Dan dapat disimpulkan bahwa hasil tes dari peserta
yang dibimbing oleh instruktur yang tidak berpendidikan akademis tidak sama dengan
hasil tes dari peserta yang dibimbing oleh instruktur yang berpendidikan akademis.

TUGAS DAN LATIHAN

Kerjakan dan diskusikan bersama dengan teman-teman Anda tugas-tugas berikut ini:
1. Dari hasil pengukuran derajat kesegaran jasmani antara kelas A dan kelas B, SMA
Negeri 8 Bandung adalah sebagai berikut :
Kelas A : 63 60 58 72 63 58 55 65 60 70

54 61 63 67 68 70 72 69 70 72
Kelas B : 60 62 70 65 71 72 75 69 68 78
63 70 72 68 72 78 65 58 62 72
Lakukan analisis data tersebut, dengan uji U (U test), dengan rincian :
a. Buatlah jenjang penggabungan data dari kelompok A dan kelompok B, dan tentukan
berapa jumlah jenjang R1 (kelompok A) dan jumlah jenjang R2 (kelompok B)!
b. Tentukan nilai U, yang sesungguhnya dari data tersebut di atas !
c. Lakukanlah analisis selanjutnya dari langkah a dan b tersebut di atas, dan berikan
kesimpulan dari hasil uji coba tersebut dengan peluang = 0,01 !

2. Uji Kruskal Wallis (Uji H)


Dalam uji kruskal Wallis (uji H) ini digunakan bila ingin membandingkan
tiga sampel atau lebih. Uji ini diperkenalkan oleh William H.Kruskal dan W Allen
Wallis. Oleh karena itu uji ini disebut uji Kriskal Wallis (uji H). Uji ini tidak
memerlukan asumsi bahwa distribusi populasi normal dan mempunyai variasi yang
sama. Anggapan dalam uji ini yaitu bahwa variabel random dalam berbagai sampel
dibandingkan berdistribusi kontinyu.
Hipotesis nol (H0) yang akan diuji merumuskan bahwa K populasi, dari
berbagai sampel diambil mempunyai mean yang sama. Sebagai hipotesis kerja (H 1),
yaitu K populasi yang tidak sama (paling sedikit ada satu mean yang tidak sama
dengan yang lainnya). Rumusan pasangan hipotesisnya adalah :
H0 :

H0 :

=
2

= ....K

....K

Pendekatan statistika yang digunakan menggunakan rumus sebagai berikut :


K
R2K

12
H
x
3 ( N 1)
N ( N 1) K 1 N K

dengan kriteris pengambilan keputusan sebagai berikut :

Terima H0 bila H
Tolak

H0 bila H >

;K1
2

;K1

Adapun langkah-langkah yang harus ditempuh untuk uji Kruskal Wallis


(Uji H) ini adalah sebagai berikut :
1. Menggabungkan skor-skor dari semua sampel (K-sampel), kemudian semua nilai
(skor) pengamatan diberi jenjang dari nilai (skor) yang terkecil sampai dengan nilai
(skor) terbesar dengan terlebih dahulu dibuat array-nya (urutan-urutan skor) dari
semua sampel tersebut.
Contoh : Hasil uji coba dari 3 jenis metoda mengajar yaitu Metoda A, B dan C
adalah sebagai berikut :
No
1
2
3
4
5
6
7

Metoda A
25
26
28
29
30
32
33

No
1
2
3
4
5
6

Metoda B
29
26
27
28
31
27

No
1
2
3
4
5
6
7

Metoda C
25
28
30
29
32
33
34

Dari data tersebut kemudian dibuat array dari jenjang dari skor-skor tersebut
sebagai berikut :
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Skor urut
25
25
26
26
27
27
28
28
28
29
29
29
30
30
31
32
32
33

Jenjang
1,5
1,5
3,5
3,5
5,5
5,5
8
8
8
11
11
11
13,5
13,5
15
16,5
16,5
18,5

19
20

33
34

18,5
20

2. Memberi jenjang pada setiap kelompok dari setiap kelompok dari setiap nilai (skor)
yang terdapat pada setiap kelompok. Hasil pemberian jenjang pada setiap
kelompok dan jumlah jenjangnya adalah sebagai berikut :
Kelompok A
No
Skor
Jenjang
1
25
1,5
2
26
1,5
3
28
8
4
29
11
5
30
13,5
6
32
16,5
7
33
18,5
Jumlah
72,5

Kelompok B
No
Skor
Jenjang
1
29
11
2
26
3,5
3
27
5,5
4
28
8
5
31
15
6
27
5,5
7
Jumlah
48,5

Kelompok C
No
Skor
Jenjang
1
25
1,5
2
28
8
3
30
13,5
4
29
11
5
32
16,5
6
33
18,5
7
34
20
Jumlah
89

Kemudian notasikan jumlah jenjang kelompok dengan R 1 = jumlah jenjang


kelompok B, dengan R2 jumlah jenjang kelompok A dan R 3 = jumlah jenjang
kelompok C.
3. Dari contoh tersebut diperoleh N = n1 + n2 + n3 = 7 + 6 + 7 = 20
4. Mencari nilai H, dengan rumus :
K
R2K

12
H
x
3 ( N 1)
N ( N 1) K 1 N K

12
20 (20 1)

(72,5) 2 (48,5) 2 (89) 2


x

7
6
7

12
= 420 x ( 2274,51 63 )
= 0,028 x 2211,51
= 61,92

3 (20 1)

5. Membandingkan nilai H-hitung dengan nilai 2 (0,01 ; 3-1) = 9,210.


Nilai H-hitung = 61,92 lebih besar dari nilai 2 tabel (0,01 ; 3-1) = 9,210,
maka H0 ditolak.
6. Kesimpulan : Ada perbedaan yang signifikan mengenai hasil belajar dari ketiga
metode mengajar ( A, B, dan C ).

TUGAS DAN LATIHAN

Untuk lebih memahami tentang penggunaan Uji Kruskal-Wallis (Uji-H), Anda harus
mencoba mengerjakan soal-soal latihan di bawah ini :
1. Buatlah array (urutan skor) dari skor yang paling kecil ke skor terbesar dan buatlah
jenjang dari setiap skornya, dari data berikut ini :
18

26

22

24

30

17

16

18

20

21

25

21

18

16

17

22

25

28

30

32

29

31

27

26

23

20

19

18

27

34

2. Dari hasil uji coba metoda mengajar lompat jauh yaitu metoda jongkok, straddle,
dan walking in the air (melangkah di udara), dengan hasil sebagai berikut :

- Metoda jongkok

: 28 26 22 29 30 31 34

- Metoda staddle

: 25 28 30 33 25 30 34

- Metoda Walking in the air

: 23 27 32 31 28 31 29

Metoda manakah yang lebih efektif dalam meningkatkan hasil lompat jauh
berdasarkan data tersebut dengan = 0,05 ?

TES FORMATIF 7
Petunjuk :

1. Kerjakanlah semua soal tersebut di bawah ini dengan teliti


2. Gunakanlah pendekatan statstika yang sesuai atau yang cocok.

1. Sebanyak 19 orang coba telah melakukan pelatihan penurunan berat badan selama
2 bulan. Data dari hasil uji coba adalah sebagai berikut :
Subjek

A
B
C
D
E
F

Berat Sebelum Berat Sesudah


Pelatihan
Pelatihan

76
63
72
52
49
75

72
59
70
50
46
70

Subjek

Berat Sebelum
Pelatihan

Berat Sesudah
Pelatihan

K
L
M
N
O
P

68
70
65
58
63
68

62
63
62
55
60
62

G
H
I
J
a.

74
68
70
68

71
62
65
62

Q
R
S

67
63
62

66
60
59

Apakah metoda pelatihan penurunan berat badan tersebut efektif dalam


menurunkan berat badan pada peluang

= 0,05 ?

Gunakan pendekatan

statistika uji jenjang bertanda Wilcoxon !


b.
2.

Apakah data tersebut tersebar secara normal, pada peluang = 0,05 ?

Sekelompok orang coba sebanyak 10 orang telah melakukan uji coba latihan
Weight Training untuk peningkatan otot tungkainya selama 3 bulan. Data dan hasil
uji coba diperoleh sebagai berikut :
Orang coba

Sebelum

Sesudah

A
85
87
B
95
97
C
105
110
D
98
105
E
97
105
F
85
95
G
98
102
H
93
100
I
99
102
J
97
100
Analisislah data tersebut dengan pendekatan uji jumlah jenjang bertanda Wilcoxon
pada peluang = 0,05 !

3. Pak Achmad melakukan pelatihan peregangan terhadap dua kelompok, masingmasing-masing berjumlah 15 orang dan 22 orang. Metoda pelatihan peregangan
yang dicobakan yaitu Metoda Statis dan Metoda Dinamis. Dari hasil uji coba
diperoleh data sebagai berikut :

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

Metoda Statis
16
12
18
17
20
18
16
15
18
20
16
17
18
17
20

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22

Metoda Dinamis
18
14
18
17
22
21
18
17
18
20
23
18
17
18
20
18
16
19
21
22
20
21

Analisislah data tersebut dengan pendekatan Statistika U-Tes pada peluang


= 0,05 !
4. Seorang mahasiswa FPOK-UPI, bermaksud ingin mengadakan uji coba tiga jenis
metoda pembelajaran terhadap para siswa Sekolah Dasar, masing-masing
berjumlah 8 orang, 10 orang dan 7 orang. Dari hasil pengukuran setelah diadakan
uji coba diperoleh data sebagai berikut :

Metoda A
A
B
C
D
E
F
G

28
22
27
25
22
23
20

Metoda B
I
29
J
31
K
24
L
30
M
28
N
29
O
26

S
T
U
V
W
X
Y

Metoda C
28
29
30
27
25
26
24

24

P
Q
R

27
22
21

Analisislah data tersebut dengan pendekatan Uji Kruskall-Wallis pada peluang


= 0,01. Manakah diantara ketiga jenis metoda tersebut yang lebih efektif dlam
meningkatkan hasil belajar siswa Sekolah Dasar tersebut !
5. Ada lima klub olahraga A, B, C, D dan E, diteliti mengenai rata-rata umurnya.
Umur setiap klub diambil secara random dengan data sebagai berikut :
A
B
C
D
E

20
21
18
19
18

18
16
17
18
19

17
15
16
16
17

19
14
13
15
16

16
20
14
18
16

18
16
17
15

16
14

Apakah benar bahwa umur rata-rata pemain dari 5 klub tersebut sama, pada
peluang = 0,05 ?. Lakukanlah pendekatan statistika dengan Uji Kruskal-Wallis!