Anda di halaman 1dari 19

Adat Istiadat tentang Malam Menjelang Hari Tahun Baru

Imlek
Malam tanggal 30 bulan ke-12 penanggalan Imlek, atau chuxi dalam bahasa Tionghoa
adalah malam terakhir menjelang hari Tahun Baru Imlek. Chuxi dalam bahasa Tionghoa
berarti mencabut malam terakhir supaya menyongsong kedatangan tahun yang baru.
Di antara rakyat Tiongkok, adat istiadat mengenai chuxi banyak sekali. Pada beberapa
hari menjelang chuxi, rakyat Tiongkok mempunyai tradisi untuk melakukan pembersihan
besar-besaran di rumah. Pada hari terakhir bulan ke-12, baju yang sobek dan lauk-pauk
yang belum habis dimakan akan dibuang menjelang datangnya hari Tahun Baru Imlek,
dengan maksud agar kemiskinan tidak menjumpai rumah itu.
Setelah pembersihan, seisi keluarga akan mulai memasang kuplet dan lampion
perayaan Tahun Baru Imlek, dalam rangka menciptakan suasana riang gembira. Pada
malam tanggal 30 bulan ke-12 menjelang hari Tahun Baru Imlek, yaitu chuxiye, seisi
keluarga akan berkumpul untuk makan bersama-sama.
Adat istiadat tentang makan malam pada hari chuxi berbeda dari tempat ke tempat di
Tiongkok. Di bagian selatan, lauk-pauk yang disajikan pada malam itu harus meliputi
tahu dan ikan, yang dalam bahasa Tionghoa lafalnya sama dengan kaya dan
kemakmuran. Di bagian utara, jiaozi adalah makanan yang tak boleh kurang pada
malam chuxi. Jiaozi dalam bahasa Tionghoa melambangkan reuni keluarga.
Pada malam menjelang hari Tahun Baru Imlek, biasanya orang tua akan membawa
anaknya ke sanak saudara dan handai taulannya untuk mengucapkan Selamat Tahun
Baru Imlek. Sedang di rumah, generasi muda juga harus mengucapkan Selamat Tahun
Baru kepada generasi tua, dan generasi tua harus memberikan hadiah kepada bocah
yang belum dewasa.
Shoushui atau tidak tidur pada malam menjelang hari Tahun Baru Imlek adalah
kegiatan yang umumnya dilakukran rakyat Tiongkok. Anak-anak kecil paling gembira
melakukan kegiatan shoushui karena bisa merayakan hari raya bersama dengan orang
dewasa semalam suntuk, yang penuh dengan suasana riang gembira.

ADAT PERNIKAHAN ALA TIONGHUA


Upacara pernikahan merupakan adat perkawinan yang didasarkan atas dan
bersumber kepada kekerabatan, keleluhuran dan kemanusiaan serta
berfungsi melindungi keluarga. Upacara pernikahan tidaklah dilakukan
secara seragam di semua tempat, tetapi terdapat berbagai variasi menurut
tempat diadakannya; yaitu disesuaikan dengan pandangan mereka pada adat
tersebut dan pengaruh adat lainnya pada masa lampau.
Umumnya orang-orang Tionghoa yang bermigrasi ke Indonesia membawa adat
istiadat dan kebiasaan-kebiasaan mereka. Salah satu adat yang seharusnya
mereka taati adalah keluarga yang satu marga (shee ) dilarang menikah,
karena mereka dianggap masih mempunyai hubungan suku. Misalnya : marga
Lie dilarang menikah dengan marga Lie dari keluarga lain, sekalipun
tidak saling kenal. Akan tetapi pernikahan dalam satu keluarga sangat
diharapkan agar supaya harta tidak jatuh ke orang lain. Misalnya :
pernikahan dengan anak bibi (tidak satu marga, tapi masih satu nenek
moyang).
Ada beberapa yang sekalipun telah memeluk agama lain, seperti ka****k
namun masih menjalankan adat istiadat ini. Sehingga terdapat perbedaan
di dalam melihat adat istiadat pernikahan yaitu terutama dipengaruhi
oleh adat lain, adat setempat, agama, pengetahuan dan pengalaman mereka
masing-masing.
UPACARA-UPACARA YANG DILAKSANAKAN DALAM PERNIKAHAN
Pesta dan upacara pernikahan merupakan saat peralihan sepanjang
kehidupan manusia yang sifatnya universal. Oleh karena itu, upacara
perkawinan selalu ada pada hampir setiap kebudayaan. Demikian pula
halnya dengan adat pernikahan orang Tionghoa yang mempunyai
upacara-upacara antara lain :
A. Upacara menjelang pernikahan :
Upacara ini terdiri atas 5 tahapan yaitu :
Melamar : Yang memegang peranan penting pada acara ini adalah mak
comblang. Mak comblang biasanya dari pihak pria.
Penentuan : Bila keahlian mak comblang berhasil, maka diadakan penentuan
bilamana antaran/mas kawin boleh dilaksanakan.
Prosesi Seserahan Adat Tionghoa atau Sangjit

Dalam rangkaian adat Tionghoa, Sangjit dilakukan setelah acara lamaran. Hari dan
waktu yang baik untuk melakukan Sangjit ini ditetapkan pada saat proses lamaran
tersebut. Dalam prakteknya, Sangjit sering ditiadakan atau digabung dengan lamaran.
Namun sayang rasanya meniadakan prosesi yang satu ini, karena makna yang
terkandung di dalamnya sebenarnya sangat indah.
Secara harfiah, Sangjit dalam bahasa Indonesia berarti proses seserahan. Atau proses
kelanjutan lamaran dari pihak mempelai pria dengan membawa persembahan ke pihak
mempelai wanita, jelas Anthony S. dari Anthony S. Musical Connections.
Prosesi ini biasanya dihadiri rombongan pria yang terdiri dari keluarga inti dan keluarga
besar (saudara dari orang tua, sepupu) atau teman-teman dekat jika dibutuhkan,
ungkap Henry dari Wine Wedding Planner. Sangjit biasanya diadakan antara 1 bulan
sampai 1 minggu sebelum acara resepsi pernikahan dan berlangsung siang hari antara
jam 11.00 sampai dengan 13.00 WIB dilanjutkan dengan makan siang.
Tata Caranya
Wakil keluarga wanita beserta para penerima seserahan (biasanya anggota keluarga
yang telah menikah) menunggu di depan pintu rumah.
Dipimpin oleh anggota keluarga yang dituakan, rombongan pria pun datang membawa
seserahan ke rumah si wanita. Rombongan ini terdiri dari: wakil keluarga serta para
gadis/pemuda yang belum menikah pembawa nampan seserahan. Oh iya, di beberapa
adat orang tua pria tidak ikut dalam prosesi ini. Seserahan diberikan 1 per 1 secara
berurutan, mulai dari seserahan untuk ke-2 orang tua mempelai wanita, lalu untuk
mempelai wanita, dan seterusnya.
Barang seserahan yang sudah diterima oleh pihak mempelai wanita dibawa ke dalam
kamar untuk diambil sebagian. (lihat paragraf berikut)
Dilanjutkan dengan ramah tamah.
Pada akhir kunjungan, barang-barang seserahan yang telah diambil sebagian
diserahkan kembali pada para pembawa seserahan. Dan sebagai balasannya, keluarga
wanita pun memberikan seserahan pada keluarga pria berupa manisan (seperti
permen/coklat) dan berbagai keperluan pria (baju, baju dalam, sapu tangan. Wakil
keluarga wanita juga memberikan ang pao ke tiap-tiap pembawa seserahan yang
biasanya terdiri dari para gadis/pemuda yang belum menikah tersebut (ang pao
diberikan dengan harapan agar enteng jodoh). Jumlahnya variatif, biasanya sekitar Rp.
20.000 Rp. 50.000.
Barang-barang seserahan Sangjit
Sebelum keluarga calon pengantin pria memutuskan barang apa yang akan dibawa,
sebaiknya didiskusikan bersama keluarga si wanita terlebih dahulu. Barang-barang ini
tentu saja memiliki makna simbolis yang juga disesuaikan dengan kondisi ekonomi

mempelai pria. Setelah ditentukan, barang-barang tersebut diletakkan dalam nampannampan yang berjumlah genap, biasanya maksimal berjumlah 12 nampan.
Hal yang menarik saat acara ini adalah bahwa sebagian besar barang-barang
seserahan ini sebaiknya sebagian dikembalikan lagi pada keluarga pengantin pria.
Karena, bila keluarga wanita mengambil seluruh barang yang ada, artinya mereka
menyerahkan pengantin wanita sepenuhnya pada keluarga pria dan tak akan ada
hubungan lagi antara si pengantin wanita dan keluarganya. Namun bila keluarga wanita
mengembalikan separuh dari barang-barang tersebut ke pihak pria artinya keluarga
wanita masih bisa turut campur dalam keluarga pengantin.
Barang-barang seserahan biasanya terdiri dari :
Alat-alat kecantikan dan perhiasan untuk mempelai wanita (kadang-kadang juga sepatu
untuk hari H)
Pakaian/kain untuk mempelai wanita. Maksudnya adalah segala keperluan sandang si
gadis akan dipenuhi oleh si pria.
Uang susu (ang pao) dan uang pesta (masing-masing di amplop merah). Pihak
mempelai wanita biasanya hanya mengambil uang susu, sedangkan untuk uang pesta
hanya diambil jumlah belakangnya saja, sisanya dikembalikan. Contoh uang pesta
sebesar: Rp. 1.680.000,- namun yang diambil hanya Rp. 80.000,- Apabila keluarga
wanita mengambil seluruh uang pesta, artinya pesta pernikahan tersebut dibiayai
keluarga wanita.
Tiga nampan masing-masing berisikan 18 buah (apel, jeruk, pear atau buah yang manis
lainnya sebagai lambang kedamaian, kesejahteraan dan rejeki). Pihak mempelai wanita
mengambil separuhnya, sisanya dikembalikan.
2 pasang lilin merah yang cukup besar diikat dengan pita merah, sebagai simbol
perlindungan untuk menghalau pengaruh negatif. Lilin motif naga dan burung hong lebih
disukai. Pihak mempelai wanita mengambil 1 pasang saja.
Sepasang kaki babi (jika tidak ada dapat digantikan dengan makanan kaleng) beserta 6
kaleng kacang polong. Pihak mempelai wanita mengambil separuhnya.
Satu nampan berisikan kue mangkok berwarna merah sebanyak 18 potong, sebagai
lambang kelimpahan dan keberuntungan. Pihak mempelai wanita mengambil
separuhnyan.
Satu nampan berisikan dua botol arak atau sampanye. Pihak mempelai wanita
mengambil semuanya, dan ditukar dengan dua botol sirup merah dan dikembalikan ke
pihak mempelai pria.
Seniman kain dan pakar batik Obin ternyata juga seorang tokoh yang sangat concern
dan mendalami adat istiadat Tionghoa. Selain barang-barang di atas, menurutnya
proses Sangjit ini bisa juga ditambah dengan :
Kue satu, terbuat dari kacang hijau yang dijual satu-satu, artinya dua kebahagiaan
menjadi satu.

Kaca, artinya berkaca pada diri sendiri, self conscious-morality.


Uang-uangan dari emas yang di-emboss kata fuk, yang dalam bahasa Indonesia berarti
hoki/untung.
Dua bundel pita berupa huruf Cina yang berarti double happiness, artinya agar happy
sampai tua nanti.
Buah-buahan
Buah atep yang disepuh merah, artinya agar tetap langgeng sampai kapan pun.
Buah ceremai, artinya agar rumah tangganya rame, happy, banyak sahabat dan
keturunan.
Buah leket, artinya agar nempel dan lengket sampai kapan pun.
Buah atapson dari Kalimantan yang tumbuh di atas atap. Kalau sudah mulai muntah,
mual-mual dikasih buah ini untuk memancing kehamilan.
Buah pala, tumbuh tegak lurus dimana pun dia ditanam, artinya kalau lurus, baik-baik
saja maka dimana pun dia berada tetap tidak berubah.
Tunangan : Pada saat pertunangan ini, kedua keluarga saling
memperkenalkan diri dengan panggilan masing-masing, seperti yang telah
diuraikan pada Jelajah No. 3.
Penentuan Hari Baik, Bulan Baik : Suku Tionghoa percaya bahwa dalam
setiap melaksanakan suatu upacara, harus dilihat hari dan bulannya.
Apabila jam, hari dan bulan pernikahan kurang tepat akan dapat
mencelakakan kelanggengan pernikahan mereka. Oleh karena itu harus
dipilih jam, hari dan bulan yang baik. Biasanya semuanya serba muda
yaitu : jam sebelum matahari tegak lurus; hari tergantung perhitungan
bulan Tionghoa, dan bulan yang baik adalah bulan naik / menjelang
purnama.
B. Upacara pernikahan :
3 - 7 hari menjelang hari pernikahan diadakan "memajang" keluarga
mempelai pria dan famili dekat, mereka berkunjung ke keluarga mempelai
wanita. Mereka membawa beberapa perangkat untuk meng-hias kamar
pengantin. Hamparan sprei harus dilakukan oleh keluarga pria yang masih
lengkap (hidup) dan bahagia. Di atas tempat tidur diletakkan mas kawin.
Ada upacara makan-makan. Calon mempelai pria dilarang menemui calon
mempelai wanita sampai hari H.
Malam dimana esok akan diadakan upacara pernikahan, ada upacara "Liauw
Tiaa". Upacara ini biasanya dilakukan hanya untuk mengundang teman-teman
calon kedua mempelai. Tetapi adakalanya diadakan pesta besar-besaran
sampai jauh malam. Pesta ini diadakan di rumah mempelai wanita. Pada
malam ini, calon mempelai boleh digoda sepuas-puasnya oleh teman-teman

putrinya. Malam ini juga sering dipergunakan untuk kaum muda pria
melihat-lihat calonnya (mencari pacar).
C. Upacara Sembahyang Tuhan ("Cio Tao")
Di pagi hari pada upacara hari pernikahan, diadakan Cio Tao. Namun,
adakalanya upacara Sembahyang Tuhan ini diadakan pada tengah malam
menjelang pernikahan.
Upacara Cio Tao ini terdiri dari :
. Penghormatan kepada Tuhan
. Penghormatan kepada Alam
. Penghormatan kepada Leluhur
. Penghormatan kepada Orang tua
. Penghormatan kepada kedua mempelai.
Meja sembahyang berwarna merah 3 tingkat. Di bawahnya diberi 7 macam
buah, a.l. Srikaya, lambang kekayaan.
Di bawah meja harus ada jambangan berisi air, rumput berwarna hijau yang
melambangkan alam nan makmur. Di belakang meja ada tampah dengan garis
tengah ?2 meter dan di atasnya ada tong kayu berisi sisir, timbangan,
sumpit, dll. yang semuanya itu melambangkan kebaikan, kejujuran, panjang
umur dan setia.
Kedua mempelai memakai pakaian upacara kebesaran Cina yang disebut baju
"Pao". Mereka menuangkan teh sebagai tanda penghormatan dan memberikan
kepada yang dihormati, sambil mengelilingi tampah dan berlutut serta
bersujud. Upacara ini sangat sakral dan memberikan arti secara simbolik.

D. Ke Kelenteng
Sesudah upacara di rumah, dilanjutkan ke Klenteng. Di sini upacara
penghormatan kepada Tuhan Allah dan para leluhur.
E. Penghormatan Orang tua dan Keluarga
Kembali ke rumah diadakan penghormatan kepada kedua orang tua, keluarga,
kerabat dekat. Setiap penghormatan harus dibalas dengan "ang pauw" baik
berupa uang maupun emas, permata. Penghormatan dapat lama, bersujud dan
bangun. Dapat juga sebentar, dengan disambut oleh yang dihormati.
F. Upacara Pesta Pernikahan

Selesai upacara penghormatan, pakaian kebesaran ditukar dengan pakaian


"ala barat". Pesta pernikahan di hotel atau tempat lain.
Usai pesta, ada upacara pengenalan mempelai pria ( Kiangsay ).
Mengundang kiangsay untuk makan malam, karena saat itu mempelai pria
masih belum boleh menginap di rumah mempelai wanita.
G. Upacara sesudah pernikahan
Tiga hari sesudah menikah diadakan upacara yang terdiri dari :
Teh Pai
teh pai adalah setelah acara pernikahan dimana seluruh sanak
keluarga dari keluarga suami maupun istri memberikan hadiah sebagai
dasar pembangunan keluarga yang menikah, dimana dalam Teh pai ini
pihak tertua biasanya memberikan petuah kepada orang akan menikah, dalam membina
rumah tangga mereka.
Selesai memberi petuah mereka memberikan hadiah biasanya berbentuk
perhiasan, uang, alat kebutuhan rumah tangga sebagai tanda membantu perekonomian
keluarga mereka.
iga hari sesudah menikah diadakan upacara yang terdiri dari :
1. Cia Kiangsay
2. Cia Ce'em
Pada upacara menjamu mempelai pria ("Cia Kiangsay") intinya adalah
memperkenalkan keluarga besar mempelai pria di rumah mempelai wanita.
Mempelai pria sudah boleh tinggal bersama.
Sedangkan "Cia Ce'em" di rumah mempelai pria, memperkenalkan seluruh
keluarga besar mempelai wanita.
Tujuh hari sesudah menikah diadakan upacara kunjungan ke rumah-rumah
famili yang ada orang tuanya. Mempelai wanita memakai pakaian adat Cina
yang lebih sederhana.
PERUBAHAN YANG BIASA TERJADI PADA ADAT UPACARA PERNIKAHAN
Ada beberapa pengaruh dari adat lain atau setempat, seperti :
Mengusir setan atau mahkluk jahat dengan memakai beras kunyit yang
ditabur menjelang mempelai pria memasuki rumah mempelai wanita. Demikian
juga dengan pemakaian sekapur sirih, dan lain-lain.

Pengaruh agama, jelas terlihat perkembangannya :


Sekalipun upacara Sembahyang Tuhan / Cio Tao telah diadakan di rumah,
tetapi untuk yang beragama kr****n tetap ke Gereja dan upacara di
Gereja. Perubahan makin tampak jelas, upacara di Kelenteng diganti
dengan di gereja.

Pengaruh pengetahuan dan teknologi, dapat dilihat dari kepraktisan


upacara.
Dewasa ini orang-orang lebih mementingkan kepraktisan ketimbang upacara
yang berbelit-belit. Apalagi kehidupan di kota-kota besar yang telah
dipengaruhi oleh teknologi canggih.
Sebagai suatu pranata adat yang tumbuh dan mempengaruhi tingkah laku
masyarakat yang terlibat di dalamnya, sasaran pelaksanaan adat
pernikahan Tionghoa mengalami masa transisi. Hal ini ditandai dengan
terpisahnya masyarakat dari adat pernikahan tersebut melalui pergeseran
motif baik ke arah positif maupun negatif dan konflik dalam keluarga.
Dewasa ini masyarakat Tionghoa lebih mementingkan kepraktisan ketimbang
upacara adat. Hampir semua peraturan yang diadatkan telah dilanggar.
Kebanyakan upacara pernikahan berdasarkan dari agama yang dianut.
PERUBAHAN YANG BIASA TERJADI PADA ADAT UPACARA PERNIKAHAN
Ada beberapa pengaruh dari adat lain atau setempat, seperti :
Mengusir setan atau mahkluk jahat dengan memakai beras kunyit yang
ditabur menjelang mempelai pria memasuki rumah mempelai wanita. Demikian
juga dengan pemakaian sekapur sirih, dan lain-lain.
Pengaruh agama, jelas terlihat perkembangannya :
Sekalipun upacara Sembahyang Tuhan / Cio Tao telah diadakan di rumah,
tetapi untuk yang beragama kristen tetap ke Gereja dan upacara di
Gereja. Perubahan makin tampak jelas, upacara di Kelenteng diganti
dengan di gereja.

ADAT KEMATIAN ALA TIONGHUA


Kita sering melihat upacara kematian Suku Tionghoa di tempat-tempat/ruang duka di
rumah-rumah sakit. Kelihatannya begitu ramai oleh aneka perhiasan rumah-rumahan
dengan perlengkapannya dan upacara yang bising serta pakaian duka cita yang dipakai
oleh anak, menantu dan cucu-cucunya. Tetapi sebagian besar dari kita bertanya-tanya
dan belum tahu apa arti semua itu? Adat upacara kematian suku Tionghoa
dilatarbelakangi oleh kepercayaan mereka. Mereka mempercayai bahwa dalam relasi
seseorang dengan Tuhan atau kekuatan-kekuatan lain yang mengatur kehidupan baik
langsung maupun tidak langsung, berlaku hal-hal sebagai berikut : Adanya reinkarnasi
bagi semua manusia yang telah meninggal (cut sie) Adanya hukum karma bagi semua
perbuatan manusia, antara lain tidak mendapat keturunan (ko kut) Leluhur yang telah
meninggal (arwah leluhur) pada waktu-waktu tertentu dapat diminta datang untuk dijamu
(Ceng beng) Menghormati para leluhur dan orang pandai (tuapekong) Kutukan para
leluhur, melalui kuburan dan batu nisan yang dirusak (bompay) Apa yang dilakukan
semasa hidup (di dunia) juga akan dialami di alam akhirat. Kehidupan sesudah mati
akan berlaku sama seperti kehidupan di dunia ini namun dalam kualitas yang lebih baik.
UPACARA-UPACARA YANG DILAKSANAKAN DALAM KEMATIAN Upacara kematian
terdiri atas empat tahap yaitu : A. Belum masuk peti
Semenjak terjadinya kematian, anak-cucu sudah harus membakar kertas perak
(uang di akhirat ) merupakan lambang biaya perjalanan ke akhirat yang dilakukan
sambil mendoakan yang meninggal.
Mayat dimandikan dan dibersihkan, lalu diberi pakaian tujuh lapis. Lapisan
pertama adalah pakaian putih sewaktu almarhum/almarhumah menikah.
Selanjutnya pakaian yang lain sebanyak enam lapis.
Sesudah dibaringkan; kedua mata, lubang hidung, mulut, telinga, diberi mutiara
sebagai lambang penerangan untuk berjalan ke alam lain.
Di sisi kiri dan kanan diisi dengan pakaian yang meninggal. Sepatu yang dipakai
harus dari kain. Apabila yang meninggal pakai kacamata maka kedua kaca harus
dipecah yang melambangkan bahwa dia telah berada di alam lain.
B. Upacara masuk peti dan penutupan peti
Seluruh keluarga harus menggunakan pakaian tertentu. Anak laki-laki harus
memakai pakaian dari blacu yang dibalik dan diberi karung goni. Kepala diikat
dengan sehelai kain blacu yang diberi potongan goni. Demikian pula pakaian
yang dipakai oleh anak perempuan namun ditambah dengan kekojong yang
berbentuk kerucut untuk menutupi kepala. Cucu hanya memakai blacu,
sedangkan keturunan ke empat memakai pakaian berwarna biru. Keturunan ke

lima dan seterusnya memakai pakaian merah sebagai tanda sudah boleh lepas
dari berkabung.
Mayat harus diangkat oleh anak-anak lelaki almarhum. Sementara itu
anakperempuan, cucu dan seterusnya harus terus menangis dan membakar
kertas perak, di bawah peti mati. Mereka harus memperlihatkan rasa duka cita
yang amat dalam sebagai tanda bakti (uhaouw). Bila kurang banyak (tidak ada)
yang meratap, maka dapat menggaji seseorang untuk meratapi dengan
bersuara, khususnya pada saat tiba waktunya untuk memanggil makan siang dan
makan malam.>
Sesudah masuk peti, ada upacara penutupan peti yang dipimpin oleh hweeshio
atau cayma. Bagi yang beragama Budha dipimpin oleh Biksu atauBiksuni,
sedangkan penganut Konfusius melakukan upacara Liam keng.Upacara ini
cukup lama, dilaksanakan di sekeliling peti mati dengan satusyarat bahwa air
mata peserta pada upacara penutupan peti tidak boleh mengenai mayat. Dalam
upacara ini juga dilakukan pemecahan sebuah kaca/cermin yang kemudian
dimasukkan ke dalam peti mati. Menurut kepercayaan mereka, pada hari ke tujuh
almarhum bangun dan akan melihat kaca sehingga menyadarkan dia bahwa
dirinya sudah meninggal.
Bagi anak cucu yang berada (kaya), mulai menyiapkan rumah-rumahan yang
diisi dengan segala perabotan rumah tangga yang dipakai semasa hidup
almarhum. Semuanya harus dibuat dari kertas. Bahkan diperbolehkan diisi
secara berlebih-lebihan, termasuk adanya para pembantu rumahtangga. Semua
perlengkapan ini dapat dibeli pada toko tertentu.
Setiap tamu-tamu yang datang harus di sungkem (di soja) oleh
anak-anaknya, khusus anak laki-laki.
Di atas meja kecil yang terletak di depan peti mati, selalu disediakan makanan
yang menjadi kesukaan semasa almarhum masih hidup.
Upacara ini berlangsung berhari-hari. Paling cepat 3 atau 4 hari. Makin lama
biasanya makin baik. Dilihat juga hari baik untuk pemakaman.
Selama peti mati masih di dalam rumah, harus ada sepasang lampion putih yang
selalu menyala di depan rumah. Hal ini menandakan bahwa ada orang yang
meninggal di rumah tersebut.
C. Upacara pemakaman Menjelang peti akan diangkat, diadakan penghormatan
terakhir. Dengan dipimpin oleh hwee shio atau cayma, kembali mereka melakukan

upacara penghormatan. Sesudah menyembah (soja) dan berlutut (kui), mereka harus
mengitari peti mati beberapa kali dengan jalan jongkok sambil terus menangis; mengikuti
hwee shio yang mendoakan arwah almarhum. Untuk orang kaya, diadakan meja
persembahan yang memanjang ?2 sampai 5 meter. Di atas meja disediakan macammacam jenis makanan dan buah-buahan. Pada bagian depan meja diletakkan kepala
babi dan di depan meja berikutnya kepala kambing. Makanan yang harus ada pada
setiap upacara kematian adalah sam seng, yang terdiri dari lapisan daging dan minyak
babi (Samcan), seekor ayam yang sudah dikuliti, darah babi, telur bebek. Semuanya
direbus dan diletakkan dalam sebuah piring lonjong besar. Putra tertua memegang
photo almarhum dan sebatang bambu yang diberi sepotong kertas putih yang
bertuliskan huruf Cina, biasa disebut Hoe. Ia harus berjalan dekat peti mati, diikuti oleh
saudara-saudaranya yang lain. Begitu peti mati diangkat, sebuah semangka dibanting
hingga pecah sebagai tanda bahwa kehidupan almarhum di dunia ini sudah selesai.
Dalam perjalanan menuju tempat pemakaman, di setiap persimpangan, semua anak
harus berlutut menghadap orang-orang yang mengantar jenasah. Demikian pula setelah
selesai penguburan. Setibanya di pemakaman, kembali diadakan upacara
penguburan. Memohon kepada dewa bumi (toapekong tanah) agar mau menerima
jenasah dan arwah almarhum, sambil membakar uang akhirat. Semua anak cucu
tidak diperkenankan meninggalkan kuburan sebelum semuanya selesai, berarti peti
sudah ditutup dengan tanah dalam bentuk gundukan. Di atas gundukan diberi uang
kertas perak yang ditindih dengan batu kecil. Masing-masing dari mereka harus
mengambil sekepal /segenggam tanah kuburan dan menyimpannya di ujung kekojong.
Setibanya di rumah, mereka harus membasuh muka dengan air kembang. Sekedar
untuk melupakan wajah almarhum. D. Upacara sesudah pemakaman Semenjak ada
yang meninggal sampai saat tertentu, semua keluarga harus memakai pakaian dan
tanda berkabung terbuat dari sepotong blacu yang dilikatkan di lengan atas kiri. Tidak
boleh memakai pakaian berwarna ceria, seperti : merah, kuning, coklat, oranye. Waktu
perkabungan berlainan lamanya, tergantung siapa yang meninggal, untuk kedua
orangtua, terutama ayah dilakukan selama 2 tahun. untuk nenek dan kakek dilakukan
selama 1 tahun. untuk saudara dilakukan selama 3 atau 6 bulan. Di rumah disediakan
meja pemujaan, rumah-rumahan dan tempat tidur almarhum. Setiap hari harus dilayani
makannya seperti semasa almarhum masih hidup. Upacara sesudah pemakaman
biasanya terdiri dari : Meniga hari (3 hari sesudah meninggal) Sesudah 3 hari
meninggal seluruh keluarga melakukan upacara penghomatan dan peringatan di tempat
jenasah berada (pergi ke kuburan almarhum). Mereka membawa makanan, buahbuahan, dupa, lilin, uang akhirat. Dengan memakai pakaian berkabung/blacu mereka
melakukan upacara penghormatan (soja dan kui). Tak lupa mereka juga menangis dan
meratap sambil membakar uang akhirat. Pulang ke rumah, kembali mencuci muka
dengan air kembang. Menujuh hari (7 hari sesudah meninggal) Seperti halnya upacara
meniga hari, seluruh keluarga melakukan upacara penghomatan dan peringatan di
tempat jenasah berada (kembali ke kuburan ). Mereka membawa rumah-rumahan,
makanan dan buah-buahan serta uang akhirat. Lilin dan dupa ( hio ) dinyalakan. Seluruh
rumah-rumahan dan sisa harta yang perlu dibakar; dibakar sambil melakukan upacara

mengelilingi api pembakaran. Sesudah selesai, tanah sekepal / segenggam diambil,


diserakkan ke atasnya. 40 hari sesudah meninggal Pada hari ke 40 ini kembali anak
cucu dan keluarga melakukan upacara penghormatan di tempat jenasah berada
( kuburan). Semua baju duka dari blacu dan karung goni dibuka dan diganti baju biasa.
Mereka masih dalam keadaan berkabung, namun telah rela melepaskan arwah si
almarhum ke alam akhirat. Sebagai tanda tetap berkabung, semua anak cucu memakai
tanda di lengan kiri atas; berupa sepotong kain blacu dan goni. Tiap-tiap tahun
memperingati hari kematian Satu tahun dan tahun-tahun berikutnya, akan selalu
diperingati oleh anak cucunya dengan melakukan soja dan kui sebagai tanda berbakti
dan menghormati. Peringatan tahunan ini berupa upacara persembahan. Bagi keluarga
yang berada, di atas meja persembahan diletakkan berbagai macam makanan, buahbuahan, minuman, antara lain teh dan kopi, manisan minimum 3 macam, rokok, sirih
sekapur, sedangkan makanan yang paling utama adalah samseng 2 pasang, lilin
merah sepasang dan hio. Senja hari sebelum upacara, harus dinyalakan lilin merah
berpasang-pasang tergantung pada jumlah orang / leluhur yang akan diundang. Maksud
dari upacara ini adalah meminta kepada dewa bumi (toapekong tanah) untuk
membukakan jalan bagi para arwah yaitu dengan cara membakar uang akhirat (kertas
perak dan kertas emas ).

PERAYAAN IMLEK

Sejarah Perayaan Imlek


Sebelum Dinasti Qin, tanggal perayaan permulaan sesuatu tahun masih belum jelas.
Ada kemungkinan bahwa awal tahun bermula pada bulan 1 semasa Dinasti Xia, bulan
12 semasa Dinasti Shang, dan bulan 11 semasa Dinasti Zhou di China. Bulan kabisat
yang dipakai untuk memastikan kalendar Tionghoa sejalan dengan edaran mengelilingi
matahari, selalu ditambah setelah bulan 12 sejak Dinasti Shang (menurut catatan tulang
ramalan) dan Zhou (menurut Sima Qian). Kaisar pertama China Qin Shi Huang menukar
dan menetapkan bahwa tahun tionghoa berawal di bulan 10 pada 221 SM. Pada 104
SM, Kaisar Wu yang memerintah sewaktu Dinasti Han menetapkan bulan 1 sebagai
awal tahun sampai sekarang.
Mitos tentang Imlek.
Puisi Tahun Baru Imlek tulisan tangan ditempel pada pintu ke rumah orang, di Lijiang,
Yunnan, Cina.
Menurut legenda, dahulu kala, Nin () adalah seekor raksasa pemakan manusia dari
pegunungan (atau dalam ragam hikayat lain, dari bawah laut), yang muncul di akhir
musim dingin untuk memakan hasil panen, ternak dan bahkan penduduk desa. Untuk
melindungi diri merka, para penduduk menaruh makanan di depan pintu mereka pada
awal tahun. DIpercaya bahwa melakukan hal itu Nian akan memakan makanan yang
telah mereka siapkan dan tidak akan menyerang orang atau mencuri ternak dan hasil
Panen. Pada suatu waktu, penduduk melihat bahwa Nian lari ketakutan setelah bertemu

dengan seorang anak kecil yang mengenakan pakaian berwarna merah. Penduduk
kemudian percaya bahwa Nian takut akan warna merah, sehingga setiap kali tahun baru
akan datang, para penduduk akan menggantungkan lentera dan gulungan kerta merah
di jendela dan pintu. Mereka juga menggunakan kembang api untuk menakuti Nian.
Adat-adat pengurisan Nian ini kemudian berkempang menjadi perayaan Tahun Baru.
Gu nin (Hanzi tradisional: ; bahasa Tionghoa: ), yang berarti menyambut
tahun baru, secara harafiah berarti mengusir Nian.[1][2]
Sejak saat itu, Nian tidak pernah datang kembali ke desa. Nian pada akhirnya ditangkap
oleh atau Hongjun Laozu, seorang Pendeta Tao dan Nian
kemudian menjadi kendaraan Honjun Laozu.

Ucapan salam yang biasa dipergunakan dalam Imlek.

Sekitar masa tahun baru orang-orang memberi selamat satu sama lain dengan kalimat:
Aksara Tionghoa Sederhana: Aksara Tionghoa Tradisional: =
selamat dan semoga banyak rejeki, dibaca:
o Gngx fci (bahasa Mandarin)
o Kung hei fat choi (bahasa Kantonis)
o Kiong hi huat cai (bahasa Hokkien)
o Kiong hi fat choi {bahasa Hakka)
Xnnin kuil () = Selamat Tahun Baru
Tahun Baru Imlek di Indonesia
Di Indonesia, selama tahun 1968-1999, perayaan tahun baru Imlek dilarang dirayakan di
depan umum. Dengan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, rezim Orde Baru di
bawah pemerintahan Presiden Soeharto, melarang segala hal yang berbau Tionghoa, di
antaranya Imlek.

Masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia kembali mendapatkan kebebasan


merayakan tahun baru Imlek pada tahun 2000 ketika Presiden Abdurrahman Wahid
mencabut Inpres Nomor 14/1967. Kemudian Presiden Abdurrahman Wahid
menindaklanjutinya dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19/2001
tertanggal 9 April 2001 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif (hanya
berlaku bagi mereka yang merayakannya). Baru pada tahun 2002, Imlek resmi
dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional oleh Presiden Megawati Soekarnoputri
mulai tahun 2003.

AMALAN TAHUN BARU


ANGPAO
Secara tradisi, ang pau atau sampul merah (Cina Tradisional: , Cina Ringkas:
, pinyin: hng bo, bahasa Hokkien (POJ): ng-pau; bahasa Hakka: hung bao; ,
atau , bahasa Kantonis: lai shi atau lai see) diedarkan sepanjang sambutan
Tahun Baru Cina, oleh pasangan suami isteri atau orang tua kepada muda-mudi yang
belum berkahwin. Adalah satu kebiasaan untuk orang dewasa memberi sampul merah
ini kepada kanak-kanak.
Sampul merah ini sentiasa mengandungi wang, sama ada dua ataupun seratus ringgit.
Jumlah wang dalam angpau sepatutnya bermula (bukan berakhir) dengan angka genap,
kerana angka ganjil dikaitkan dengan wang tunai yang ditukarkan dalam upacara
pengebumian (, b jn). Oleh sebab angka 4 dianggap membawa sial, kerana
perkataan untuk empat sama bunyinya dengan mati, maka wang dalam angpau tidak
boleh berjumlah 4 ringgit. Sementara itu, angka 8 dianggap bertuah (kerana sama
bunyinya dengan "kaya"), maka 8 ringgit selalu didapati dalam angpau. Kadang-kala
syiling coklat dimasukkan dalam angpau.
PASAR TAHUN BARU

Membeli-belah di Pasar Tahun Baru Kreta Ayer, Singapura


Pasar khas didirikan menjelang Tahun Baru untuk menjual barangan Tahun Baru. Pasar
ini biasanya berbentuk pasar terbuka dan menampilkan barangan bunga, mainan,
pakaian dan sebagainya kepada para pembeli untuk membeli hadiah untuk kunjungan
tahun baru atau sebagai hiasan rumah.
KEMBANG API
Pada zaman silam, batang buluh yang berisi serbuk meriam dan dibakar untuk
menghasilkan letupan kecil pernah digunakan di China untuk mengusir puaka. Pada
zaman moden pula, kaedah ini berubah menjadi penggunaan mercun pada musim
perayaan. Mercun biasanya diikat pada tali panjang berlakur yang digantung. Setiap
batang mercun digulungkan dalam kertas merah kerana warna merah itu bertuah, dan
berisi serbuk merian dalam terasnya. Apabila dibakar, mercun melepaskan bunyi
meletup-letup yang kuat. Oleh sebab mercun biasanya berangkai dalam bilangan
ratusan, mercun menghasilkan letupan memekakkan yang dipercayai boleh mengusir
roh-roh jahat. Penyalaan mercun juga melambangkan peristiwa yang ria dan menjadi
satu aspek penting dalam sambutan Tahun Baru Cina.
LARANGAN MERCUN
Meskipun penggunaan mercun adalah sebahagian amalan tradisi dalam sambutan
tahun baru, namun selama ini telah menyaksikan kejadian yang memilukan. Setiap
tahun adanya laporan mengenai pengguna mercun hilang penglihatan, anggota badan,
atau menderita akibat kecederaan serius yang lain, terutamanya pada musim perayaan.
Maka, kerajaan-kerajaan dan pihak-pihak berkuasa akhirnya menguatkuasakan undangundang yang mengharamkan sepenuhnya penggunaan mercun untuk tujuan peribadi,
terutamanya atas sebab-sebab keselamatan.
Tanah Besar China: Mercun diharamkan di kebanyakan kawasan bandar, namun
Beijing menarik balik larangannya pada tahun 2006 setelah sedekad, dan
undang-undangnya tidak selalu dikuatukasakan. Di kawasan luar bandar pula,
mercun masih digemari ramai dan lorong-lorong selalu diliputi warna merah
bangkai mercun.
Hong Kong: Bunga api diharamkan atas sebab-sebab keselamatan. Namun
begitu, kerajaan kolonial sebelum tahun 1997 dan kerajaan SAR selepas itu juga
mengadakan pertunjukan bunga apa di Pelabuhan Victoria pada hari kedua

Tahun Baru Cina. Pertunjukan seumpamanya juga diadakan di bandarayabandaraya dalam dan luar China.
Singapura: Pengharaman separa dikenakan terhadap mercun pada Mac 1970
setelah berlakunya kebakaran yang meragut enam nyawa dan mencederakan 68
orang lain. Ini dilanjutkan menjadi larangan penuh pada tahun 1972, selepas
berlakunya letupan yang mengorbankan nyawa dua orang serta satu serangan
terhadap dua orang polis yang cuba menghalang sekumpulan orang daripada
membakar mercun pada Februari 1972. Bagaimanapun, pada tahun 2003,
kerajaan membenarkan mercun dilepaskan pada musim perayaan. Ketika
kegiatan menyala mercun di Kreta Ayer, tepat pada waktu malam hari pertama
Tahun Baru Cina, mercun dilepaskan dalam keadaan terkawal oleh Lembaga
Pelancongan Singapura. Peristiwa-peristiwa lain yang membenarkan mercun
ditentukan oleh lembaga pelancongan atau pertubuhan kerajaan lain. Namun
begitu, mercun tidak boleh dijual secara komersial.
Malaysia: Mercun juga dilarang atas sebab-sebab yang sama dengan Singapura.
Bagaimanapun, kebanyakan orang Malaysia berupaya menyeludup mercun dari
Thailand untuk memenuhi kehendak diri mereka.
Indonesia: Mercun dan bunga api dilarang penggunaanya di khalayak awam
ketika Tahun Baru Cina, terutamanya di kawasan-kawasan yang kebanyakan
penduduknya bukan kaum Cina agar menghindari apa-apa pertelingkahan antara
kaum, kecuali di beberapa kawasan metropolitan seperti Jakarta and Medan, di
mana tahap toleransi sosial antara kaum cukup memuaskan.
Amerika Syarikat: Pada tahun 2007, Bandaraya New York menarik balik larangan
mercun setelah sedekad, agar membenarkan pertunjukan 300,000 batang
mercun dibakar di Chatham Square, Chinatown.
PAKAIAN
Pemakaian yang melebihkan warna merah sering dipakai sepanjang Tahun Baru Cina
kerana dipercayai warna merah akan menakutkan roh jahat dan nasib malang.
Tambahan, orang yang memakai baju baru dari kepala hingga kaki pula melambangkan
permulaan baru pada tahun baru.
SHOU SUI
Shou Sui (Cina Tradisional: , Cina Ringkas: ) berlangsung apabila ahli
keluarga berkumpul bersama pada malam selepas makan malam bersama dan
mengenangkan tahun yang telah berlalu sementara menyambut tahun yang akan tiba.

Sesetengahnya percaya bahawa anak-anak yang Shou Sui akan memanjangkan usia
ibu bapa.
SIMBOL
Sepanjang 15 hari Tahun Baru Cina, orang akan mula melihat pantang larang atau
kepercayaan budaya tradisional dengan maksudnya yang boleh mengelirukan orang
yang tidak menyambutnya. terdapat sebab yang menerangkan semuanya, bukan
sekadar hiasan, yang berputarkan warna merah. Pada satu-satu masa, emas
merupakan warna pendamping bagi sebab yang sangat jelas. Satu sebab baik dan
biasa bagi poster merah berbentuk berlian dengan aksara (f), atau "tuah" yang
dipamerkan sekitar rumah dan pintu. Tanda ini sering kelihatan tergantung terbalik,
memandangkan perkataan Cina (do), atau "terbalik", berbunyi sama dengan
(do), atau "tiba". Maka, f do melambangkan ketibaan tuah, kegembiraan dan
kemakmuran.

MAKALAH ADAT ISTIADAT TIONGHUA


D
I
S
U
S

U
N
OLEH :
1.STENITA
2.JULPRI D.
3.ERLIN

KELAS :
XI AK(AKUNTANSI)1

SMK MANIAMAS NGABANG