Anda di halaman 1dari 2

Selamat datang - HIMAFARIN online

pukat hela
Contributed by erul
Tuesday, 24 March 2009

PUKAT HELA ANTARA PRO DAN KONTRA Keluarnya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) No.
06 Tahun 2008 menyisakan masalah; karena berkembang perbedaan wacana yang tentu saja didasari argumentasinya
masing-masing. Apakah aturan tersebut perlu ditunda karena mengundang ”pro-kontra” keberadaannya
jika dikaitkan dengan Keppres No.39 Tahun 1980 ?
Trawl si pukat harimau dilarang. Mengapa trawl (pukat harimau) dilarang sejak tahun 1980 ?; pertama; berkaitan
pembinaan sumber daya ikan (SDI); penggunaan yang tidak terkendali berdampak negatip pada kelestarian. Dengan
mesh size (mata jaring) kecil maka ikan/udang berbagai ukuran tertangkap tanpa batasan. Diharapkan dengan kebijakan
hapusnya trawl maka hasil tangkapan nelayan tradisional meningkat. Kedua, menghindarkan ketegangan sosial antara
nelayan tradisional dan pengguna kapal trawl; karena alat tangkap (statis) milik nelayan di fishing ground nya rusak
terseret trawl; ditambah kesenjangan perolehan hasil. Dua hal mendasar inilah yang digunakan bahan pertimbangan
Keppres No.39 Tahun 1980 tentang Penghapusan Jaring Trawl; yang ditanda tangani tanggal 1 Juli 1980. Negara
tetangga heran atas kebijakan tersebut; karena dengan alat produktif seperti trawl ini akan menunjang kebutuhan
pangan ikani maupun devisa negara utamanya berasal dari komoditas udang. Keputusan presiden ini sebenarnya
menguntungkan karena peluang memanfaatkan SDI lebih besar; sebab kebijakan itu dibarengi dengan mengucurnya
Kredit Keppres No.39 Tahun 1980 dalam rangka peningkatan produksi dan produktivitas usaha nelayan tradisional;
namun buntutnya justru menimbulkan masalah karena tidak tepat mutu dan sasarannya. Membuka klipping media cetak
sejak larangan trawl dikeluarkan, ternyata pelanggaran penangkapan ikan; khusus yang menggunakan trawl mencapai
puncak tahun 2001- 2002 seiring berkembangnya modifikasi alat tangkap jaring kantong mirip trawl atau trawl mini inilah
penyebab utama keresahan dan konflik nelayan. Keresahan meluas dengan beroperasinya trawl mini di beberapa
daerah, penggunaan bahan peledak, serta adanya rasa memiliki perairan laut dampak pemahaman makna otonomi
daerah yang berbeda. Modifikasi jaring berkantong hasil kreasi nelayan, membuat semakin rancu keadaan; walaupun
sebenarnya sudah ada Kepmentan No.503/Kpts/ Um/7/1980 memberi pengertian spesifikasi jaring trawl, yang kemudian
secara rinci dijabarkan lebih lanjut dengan Keputusan Direktur Jenderal Perikanan Nomor: IK.340/DJ.10106/97 sebagai
petunjuk pelaksanaan. Dengan adanya batasan jaring berkantong yang boleh beroperasi; menimbulkan akal-akalan
guna menghindari pelanggaran atas persyaratan yang ditetapkan; alhasil konflik tak pernah henti. Apakah masalah ini
salah satu pemicu wacana menghalalkan trawl beroperasi kembali.........?? Wacana meninjau penghapusan trawl
mengemuka tahun 1999, di saat Menteri Pertanian selaku penanggung jawab sektor perikanan waktu itu berjanji akan
meninjau Keppres No. 39 Tahun 1980 dalam rapat kerja Komisi III DPR RI; pernyataan yang cukup menarik, dan
memberi harapan berkembangnya usaha penangkapan ikan nelayan tradisional (Tribawono,1999). Ternyata apa yang
dijanjikan tidak gampang pelaksanaannya, karena banyak pihak menyatakan ”tidak setuju” membuka kran
beroperasinya trawl di republik ini. Perlu pertimbangan matang dari para stakeholders sehingga hasil analisis kebijakan
publik yang akan diwujudkan legalitas berdampak positif bagi nelayan tradisional; bukannya malah memberi peluang
lebih besar kepada mereka yang bermodal kuat. Antara Pro dan Kontra Permen Kelautan dan Perikanan Nomor :
PER.06/MEN/2008 tentang Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Pukat Hela di Perairan Kalimantan Timur Bagian Utara;
ditanda tangani Menteri Freddy Numberi 28 Pebruari 2008. Pukat hela kata lain trawl adalah semua jenis alat
penangkapan ikan berbentuk jaring berkantong, berbadan dan bersayap yang dilengkapi pembuka jaring yang
dioperasikan dengan cara ditarik/dihela menggunakan satu kapal yang bergerak. (SNI 01-7232-2006 dan SNI
7277.5:2008). Dalam ketentuannya pukat hela hanya boleh beroperasi pada perairan yang membentang dari perairan
Kodya Tarakan dengan koordinat 30010’ LU hingga perairan terluar Pulau Sebatik, meliputi Kab. Nunukan, Kab.
Bulungan, Kab. Tana Tidung dan Kodya Tarakan. Daerah Operasi. Jalur I ( antara 1 – 4 mil laut ), untuk kapal
ukuran sampai dengan 5 GT yang menjadi kewenangan kabupaten/kota. Sedang pada Jalur II yaitu lebih dari 4 sampai
12 mil laut untuk kapal ukuran sampai dengan 30 GT menjadi kewenangan propinsi. Hasil tangkapan wajib didaratkan di
PPI Sebatik, PPI Pulau Bunyu, PPP Tarakan, atau di Pelabuhan Perikanan Mansapa Nunukan. Ini dimaksudkan agar
berdampak positip terhadap perkembangan perekonomian daerah. Selain itu, akan memudahkan
pemantauan/pengumpulan data yang dapat digunakan sebagai.bahan acuan menentukan kebijakan selanjutnya.
Rupanya Permen KP banyak dikritisi sesuai argumentasi masing-masing sehingga timbul kelompok pro-kontra
pelaksanaannya. Ada yang menolak mentah-mentah karena masih banyak kebijakan-kebijakan formal lain atas dasar
kelestarian SDI dan lingkungan hidup; serta terkait konflik sosial dan ekonomi. Argumen ini ada yang menganggap
sebagai alasan kurang tepat dan sangat mengada-ada sehingga tidak tepat jika Permen KP ditentang keberadaannya.
Secara kesejarahan keluarnya Permen KP dilatar belakangi usulan Bupati Bulungan, Berau, Malinau, Nunukan dan
Walikota Tarakan; Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur pernah mengusulkan agar secepatnya merealisasikan
peraturan khusus dalam rangka mengoptimalkan pengelolaan perikanan di perbatasan. HNSI Kalimantan Timur
menyampaikan aspirasinya langsung ke DPR RI agar pemerintah melegalkan pukat hela khusus di wilayah perairan
Kalimantan Timur bagian Utara. Artinya kebijakan pukat hela ini juga merupakan kehendak masyarakat lokal dalam
memanfaatkan SDI untuk kesejahteraan. Alih alih mengumpulkan argumentasil tentu saja menjadi setumpuk dokumen
yang semua berada pada kisi-kisi pembenaran dalam mengkritisi Permen KP. Kalau posisi seperti ini terus berlanjut,
kapan lagi republik ini mengoptimalkan pemanfaatan dan pengelolaan SDI perbatasan yang dirampok nelayan asing.
Kiranya tidak perlu lah adu argumentasi berkepanjangan; supaya tidak menebar konflik antara yang mengusulkan
legalitas pukat hela dengan kelompok yang tidak menghendakinya. Seyogyanya kita perlu positive thinking bahwasanya
kebijakan publik tersebut keluar demi kebaikan; apabila ada yang berpendapat lain itu hal yang lumrah terjadi dan
http://student.ipb.ac.id/~himafarin

Powered by Joomla!

Generated: 25 April, 2009, 05:48

Selamat datang - HIMAFARIN online

merupakan pernik-pernik dampak yang harus diterima oleh pembuat kebijakan; siapa tahu perkembangannya kemudian
adalah benar bahwa kebijakan legalisasi pukat hela kurang tepat dikeluarkan sekarang. Launcing dulu baru operasi
Ibaratnya Permen KP ini baru di launching sudah dibombardir bermacam kehendak yang satu sama lain berbeda dasar
pemikiran. Apakah harus “dibunuh” sebelum tumbuh dan berkembang ? Karena Pasal 15 menyatakan
bahwa “Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan” dan disisi lain Keppres No.39/1980
pun belum dicabut. Senyampang pukat hela hanya boleh di perairan Kalimantan Timur bagian utara berarti ada
“keistimewaan”; jadi terus akan bukan berlaku secara nasional; andaikan khalayak berpikiran pukat hela
dilegalisasi secara nasional maka kita tunggu saja pasti akan muncul Keppres No.39/1980 jilid dua. Selanjutnya jika
dicermati; Pasal 14 menyebutkan “Penggunaan kapal pukat hela di Kalimantan Timur bagian utara sebagaimana
diatur dalam Peraturan Menteri ini dievaluasi setgiap tahun oleh Direktur Jenderal dan hasilnya dilaporkan secara tertulis
kepada Menteri”; pasal ini memberi isyarat jika Permen KP 06/2008 menjadi tidak bermanfaat bagi bangsa dan
negara niscaya bukannya tidak mungkin kebijakan iini akan ditinjau dikemudian hari. Semua pihak perlu saling menahan
diri dan harus “mengawal” implementasinya berkaitan dengan pengawasan dan pengendalian SDI Para
stakeholders sesuai peran, fungsi dan kepentingan masing-masing harus mentaati apa yang sudah ditetapkan dalam
Permen KP; perizinan harus sesuai persyaratan dan alokasi yang ditetapkan, jangan sampai terjadi over dosis izin yang
dikeluarkan ; demikian pula halnya pengguna pukat hela harus taat hukum dalam pelaksanaannya;. Diharapkan Permen
KP No.06/2008 merupakan roh nya masyarakat perikanan mulai sadar hukum demi usaha perikanan bertanggung jawab
dan berkelanjutan. Mari lah kita menunggu hasil evaluasi pelaksanaannya sehingga peraturan ini benar-benar menjadi
titik balik meningkatkan produksi sekaligus mengamankan illegal fishing di perbatasan. Dalam hal ini tingkatkan peran
serta nelayan dalam kelompok SISWASMAS (sistem pengawasan masyarakat) membantu aparat berwenang karena
menjadi faktor kunci mengawal kebijakan pemerintah demi kesejahteraan Penulis :
Djoko Tribawono
Alumnus Perikanan UGM
Dosen (LB) Fak. Perikanan dan Kelautan UNAIR
Pengirim :
Ir.Djoko Tribawono,M.Si
Jl. Tenggilis Mejoyo Selatan IV/4 Surabaya 60292
Tilp : 031-8414841 – HP. 0811319272
Catatan : Dimuat Harian Bhirawa- Surabaya
Selasa Kliwon 27 Januari 2009

http://student.ipb.ac.id/~himafarin

Powered by Joomla!

Generated: 25 April, 2009, 05:48