Anda di halaman 1dari 39

LAPORAN PRAKTIKUM

STRUKTUR DAN SIFAT KAYU


(IDENTIFIKASI KAYU DAN SIFAT FISIK KAYU)

Di Susun Oleh :
Nama : Rio Rusandi
Nim : 1106121095

JURUSAN KEHUTANAN
FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2012

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya
maka penulis dapat menyelesaikan Laporan akhir Praktikum mata kuliah Struktur
dan Sifat Kayu, Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Riau.
Dalam Penulisan laporan ini penulis menyadari masih banyak kekurangankekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan
kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak
sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan laporan ini.
Dalam penulisan laporan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih
kepada Pihak-pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan Laporan Akhir
Praktikum Sturuktur dan Sifat Kayu ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat dan
menjadi sumbangan pemikiran bagi yang membutuhkan, khususnya bagi penulis
sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai, Amin.

Pekanbaru, Desember 2012

Penulis

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Kayu

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ....................................................................................................i


Daftar Isi..............................................................................................................ii
Daftar Tabel ........................................................................................................iii
Daftar Gambar .....................................................................................................iv
Daftar Lampiran ..................................................................................................v
BAB I. PENDAHULUAN .................................................................................1
1.1. Latar Belakang .......................................................................................1
1.2. Tujuan ....................................................................................................4
BAB II. METODE PRAKTIKUM .....................................................................5
2.1. Waktu dan Tempat Praktikum ...............................................................5
2.2. Bahan dan Alat .......................................................................................5
2.3. Metode Praktikum ..................................................................................7
BAB III. HASIL DAN PEMBAHASAN............................................................10
3.1. Hasil Praktikum......................................................................................10
3.2. Pembahasan ............................................................................................21
BAB IV. PENUTUP ...........................................................................................31
4.1. Kesimpulan ............................................................................................31
4.2. Saran .......................................................................................................31
DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................32
LAMPIRAN ........................................................................................................33

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Kayu

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kayu merupakan bahan yang porus dimana struktur anatominya sangat
mempengaruhi aliran cairan dan gas di dalamnya. Hubungan antara struktur
anatomi kayu dengan kemampuan mengalirkan cairan telah dipelajari oleh
beberapa peneliti, baik pada kayu daun lebar maupun kayu daun jarum (Bamber
dan Burley 1983.
Pada arah longitudinal, aliran cairan dalam kayu daun jarum adalah
melalui jaringan trakeida (Booker 1990, Booker dan Evans 1994, Siau 1983).
Kayu daun jarum yang tidak memiliki pembuluh mengandalkan transportasi
longitudinalnya melalui jaringan trakeida. Sel trakeida mempunyai arah sejajar
sumbu batang, berdimensi ramping dan panjang, dengan lubang ditengahnya
(rongga sel) dan tertutup di kedua ujungnya. Sambungan antar trakeida
dihubungkan dengan noktah yang berjumlah antara 50 - 300 noktah dalam setiap
trakeidanya. Dengan kata lain, aliran cairan pada arah longitudinal tergantung dari
keberadaan noktah dalam trakeida.
Pada kayu daun lebar, aliran cairan dan gas sebagian besar melalui
pembuluh. Pembuluh adalah sel berbentuk tabung yang tersusun bersambungan
dari ujung ke ujung yang terbuka, sehingga membentuk jaringan yang menyerupai
pipa. Diameter pembuluh relatif lebih besar dari komponen struktur anatomi
lainnya, sehingga laju cairan dalam kayu pada arah longitudinal terutama adalah
melalui pembuluh. Pada arah radial, aliran cairan dan gas pada kayu daun jarum
dan kayu daun lebar adalah melalui jaringan sel jari-jari (Ct 1963, Nicholas dan
Siau 1973). Pada dasarnya, jaringan jari-jari merupakan sel parenkima yang
bersusun memanjang pada arah radial dari empulur ke arah kulit kayu. Jari-jari
bersusun secara horizontal dengan lebar satu sel (uniseriate) atau lebih dari satu
sel (biseriate dan multiseriate) bergantung dari jenis kayunya (Jane 1970).
Pada arah tangensial, aliran cairan dalam kayu adalah melalui noktah antar
serat dan difusi antar seratnya. Kondisi ini menyebabkan aliran cairan pada arah

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Kayu

tangensial cenderung lebih lambat daripada kedua arah lainnya. Pada beberapa
jenis kayu daun jarum dapat disimpulkan bahwa aliran cairan dan gas pada arah
tangensial sangat lambat, sehingga urutan kecepatan aliran cairan dan gas dalam
kayu daun jarum yang terbesar adalah aliran longitudinal, diikuti aliran radial dan
yang paling lambat adalah aliran tangensial (Booker 1977, Booker dan Evans
1994). Perbedaan kecepatan aliran cairan pada ketiga arah utama kayu daun lebar
pada dasarnya sama dengan kayu daun jarum (Siau 1983). Tetapi variasi struktur
anatomi dari berbagai jenis kayu daun lebar mengakibatkan kecepatan aliran
cairan arah tangensial pada beberapa jenis kayu lebih besar daripada aliran cairan
arah radialnya. Pada jenis kayu Hevea brasiliensis Muell. Arg. misalnya, aliran
cairan arah tangensial lebih besar dari arah radialnya. Hal ini disebabkan susunan
parenkima

yang

membentuk

garis

tangensial

secara

berkesinambungan

(Pendlebury dan Petty 1993). Beberapa hal lain yang mempengaruhi laju aliran
cairan dalam kayu adalah adanya noktah yang beraspirasi pada kayu daun jarum
(Erickson dan Crawford 1959) dan tilosis yang menutup pembuluh kayu daun
lebar.
Struktur noktah pada sebagian besar kayu daun jarum mempunyai selaput
dengan torus yang menebal di bagian tengahnya (Haygreen dan Bowyer 1982).
Karena sifatnya yang lentur, selaput ini dapat bergeser ke salah satu sisi rongga
noktah sehingga mengakibatkan tersumbatnya mulut noktah oleh torus. Kondisi
yang demikian disebut noktah dalam keadaan ter-aspirasi. Penyumbatan mulut
noktah menyebabkan terhambatnya aliran cairan dan gas. Tilosis adalah sel-sel
parenkim yang masuk ke dalam rongga pembuluh melalui noktah dinding
pembuluh (Wilson dan White 1986). Tilosis terbentuk selama proses transisi dari
kayu gubal ke kayu teras,dan dapat pula sebagai akibat luka, infeksi cendawan
atau bakteri dan kekeringan. Tilosis yang berbentuk tonjolan dalam dinding sel
pembuluh pada mulanya mempunyai dinding yang tipis, tetapi dalam
perkembangannya dindingnya menjadi tebal. Selain itu, pembentukannya dalam
pembuluh dapat lebih dari satu, sehingga tilosis saling menekan satu dengan yang
lain sehingga bentuknya menyerupai prisma.
Beberapa perlakuan pendahuluan sebelum proses pengawetan meliputi
proses pengeringan, perebusan, penguapan, penggunaan bakteri atau pembentukan

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Kayu

lubang-lubang kecil pada kayu dengan sinar laser (laser incising) (McQuire 1962
dan 1974). Setiap perlakuan pendahuluan memiliki kelebihan dan kekurangan
dalam penerapannya. Namun, secara garis besar seluruh proses pendahuluan
tersebut memerlukan waktu yang lama. Teknologi pemanasan dengan microwave
telah dikembangkan aplikasinya untuk proses pengeringan dan perlakuan
pendahuluan kayu sebelum proses pengawetan dan impregnasi bahan kimia
(Barnes et al. 1976, Vinden et al. 2000). Teknologi ini memanfaatkan gelombang
microelektromagnetik yang dapat diserap oleh kayu. Pada saat gelombang
microwave melewati bahan kayu, molekul-molekul di dalam kayu bergetar karena
susunan positif dan negatif dipolar molekul kayu bergerak ke arah sumbu
elektromagnetik secara bergantian. Gerakan memutar ke arah positif dan negative
secara bergantian tersebut mengakibatkan perubahan energi kinetik menjadi
energi panas.
Penguapan air yang terjadi di dalam kayu menimbulkan terjadinya tekanan
uap yang mendesak keluar dari bahan kayu. Tekanan uap ini mampu
memodifikasi struktur sel kayu, terutama sel-sel kayu yang menjadi penghambat
laju aliran cairan di dalam kayu, sehingga permeabilitas kayu meningkat setelah
proses pemanasan dengan microwave. (Vinden dan Torgovnikov 1996, Love et al.
2001). Tulisan ini menguraikan perubahan struktur anatomi yang terjadi akibat
pemanasan dengan microwave, secara mikroskopik dan makroskopik.
Dibidang ilmu kehutanan khususnya ilmu yang mempelajari sifat-sifat
kayu, dikenal dua kelompok besar golongan kayu, yaitu kayu daun jarum dan
kayu daun lebar. Istilah ini sering bersamaan artinya dengan softwood dan
hardwood yang sesungguhnya kurang kaitannya dengan sifat kelunakan dan
kekerasan kayunya.
Selain perlunya memahami perbedaan kedua golongan kayu diatas, setiap
pengguna kayu harus memahami sifat-sifat dari kayu tersebut. Sifat-sifat kayu erat
kaitannya dengan pemanfaatan kayu itu sendiri sebagai bahan baku bangunan
maupun industri. Dengan mengenal sifat kayu dengan tepat,maka kemungkinan
mendapatkan masalah dari penggunaan kayu yang tidak cocok untuk
peruntukannya dapat ditekan. Dalam buku praktikum ini ditekan pada anatomi
kayu dan sifat fisik kayu.

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Kayu

Dalam kegiatan perkuliahan, mahasiswa telah memperoleh mata kuliah


pertumbuhan dan sifat kayu dengan bobot SKS 3 (2 1), yang diharapkan
mahasiswa dapat memahami secara teori tentang sifat-sifat kayu yang dikaitkan
dengan penggunaannya. Untuk lebih menigkatkan kemampuan mahasiswa dalam
mata kuliah tersebut, perlu ditunjang dengan kegiatan praktikum terutama untuk
lebih meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap sifat-sifat kayu.

1.2. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah :
1. Untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap teori yang telah
diperoleh dari mata kuliah Struktur dan Sifat Kayu
2. Untuk mengenalkan dan dapat menggunakan berbagai jenis peralatan yang
diperlukan dalam menentukan sifat-sifat kayu.

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Kayu

BAB II
METODE PRAKTIKUM

2.1. Waktu dan Tempat Praktikum


Tanggal / Waktu : Rabu 10 Desember 2012, Pukul 15.00
Tempat

: Laboratorium Kehutanan UR

2.2. Bahan dan Alat


Bahan
a. Identifikasi Jenis Kayu
Contoh Uji
1. Untuk keperluan latihan identifikasi jenis kayu diperlukan bahan
berupa contoh kayu yang sudah diketahui jenisnya/ idenstitasnya
1) Diketahui nama ilmiah, dagang dan nama daerah
2) Diketahui asal contoh uji
2. Contoh uji dibuat dengan ukuran tebal x lebar x tinggi 5 x 5 x 10
cm.
5 cm

5 cm

10 cm

3. Setiap mahasiswa diwajibkan membawa 2 jenis kayu, disarankan


kayu yang keras (pertumbuhan lambat) dan lunak (pertumbuhan
cepat)
Alat-alat
1. Lup dengan pembesaran 10 x dan ada skalanya
2. Pisau tajam / cutter, dengan mata pisau yang dapat diganti-ganti

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Kayu

3. Bila diperlukan mikroskop sederhana.


b. Sifat Fisik Kayu
Contoh Uji
1. Untuk keperluan latihan memahami sifat-sifat kayu diperlukan
bahan berupa contoh kayu

yang sudah diketahui jenisnya/

idenstitasnya
1) Diketahui nama ilmiah, dagang dan nama daerah
2) Diketahui asal contoh uji
2.

a. Contoh uji Kadar Air, Kerapatan dan Berat Jenis Kayu


dibuat dengan ukuran tebal x lebar x tinggi 5 x 5 x 5 cm.

5 cm

5 cm

5 cm

b. Contoh Uji Stabilisasi Dimensi / Kembang Susut Kayu dibuat


dengan menggunakan contoh uji pada identifikasi jenis kayu
3. Setiap mahasiswa diwajibkan membawa 2 jenis kayu, disarankan
kayu yang keras (pertumbuhan lambat) dan lunak (pertumbuhan
cepat)
4. Parafin/ Lilin

Alat-alat
1. Timbangan Analitik
2. Oven
3. Kalifer
4. Gelas Ukur
5. Penitik besar
6. Wood Moisture Meter

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Kayu

2.3. Metode Praktikum

a. Identifikasi kayu
Cara Pengamatan Identifikasi kayu
1.

Catat Nomor Koleksi kayu dan Nama Jenis Kayu yang akan
diamati pada daftar isian yang tersedia

2.

Amatilah ciri-ciri yang perlu diamati, dimulai yang paling mudah.


Lakukan secara sistematik misalnya bila mengamati pembuluh,
selesaikan dahulu pengamatan ciri-ciri yang berkaitan dengan
pembuluh

3.

Amati ciri umum dari kayu seperti, warna dan corak, tekstur dan
arah serat, kilap, kesan raba dan bau. Masukan kedalam tabel
pengamatan (Tabel pengamatan terlampir).

b. Sifat Fisik Kayu


Kadar Air Kayu
Kadar air didalam kayu dinyatakan dalam persentase dari berat kering
tanur kayu. Berat kering tanur digunakan sebagai dasar, karena berat ini
merupakan petunjuk banyaknya zat pada kayu. Rumus untuk menentukan kadar
air kayu adalah :
Kayu ditimbang berat awalnya (BA = Berat kayu + air), kemudian kayu
dikeringkan dalam tanur dengan suhu 103 + 2 oC selama 48 jam, selanjutnya
dinginkan dalam eksikator dan timbang sampai beratnya konstan (BKT = berat
kayu kering tanur). Selisih antara keduanya adalah jumlah air, dimana kadar air
dinyatakan dalam % terhadap BKT.
BA - BKT
KA (%) =

X 100%
BKT

Ket. : BA

= Berat Awal

BKT = Berat kering Tanur

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Kayu

Berat Jenis dan Kerapatan Kayu


Nilai berat jenis diukur dengan cara menimbang berat dan mengukur Berat
volume contoh uji. Untuk mengetahui volume contoh uji digunakan metode
gravimetri dengan cara mencelupkan contoh uji yang telah dilapisi parafin ke
dalam air, dimana sejumlah air yang dipindahkan merupakan Berat volume kayu
itu sendiri.
Setelah diukur volumenya, contoh uji di oven dengan suhu 103 + 2C
sampai berat konstan kemudian ditimbang (BKT). Berat jenis ditentukan melalui
persamaan:
BKT
Berat Jenis Kayu =
Berat Volume Contoh Uji
Sedangkan nilai kerapatan kayu diperoleh dengan menimbang berat kayu
dan mengukur volume kayu dengan kalifer. Kerapatan Kayu dapat dihitung
dengan rumus :
Kerapatan kayu (g/cm3)= Berat /Volume
Untuk kadar air, berat jenis dan kerapatan dapat dilakukan sekaligus dengan
contoh uji yang sama. Data hasil pengukuran dimasukan kedalam tabel
terlampir.
c. Penyusutan Kayu
Dalam menentukan besarnya penyusutan, langkah-langkahnya sebagai
berikut:
a. Siapkan contoh uji yang akan dihitung persen penyusutannya
b. Timbang berat awalnya untuk mengetahui kondsi kadar air pada saat
berat basah
c. Tentukan arah budang tangensial, radial dan longitudina dan diukur
lebarnya searah bidang masing-asing
d. Contoh uji dikering tanurkan kemudian ditimbang dan diukur sesuai
langkah C.

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Kayu

Nilai penyusutan kayu diukur pada sisi radial dan tangensial. Penyusutan
diukur dengan rumus sebagai berikut :
Da Db
% Susut =
Da

Dimana,

Da = dimensi awal/segar (cm)


Db = dimensi KT (cm)

Nilai penyusutan kayu, dibandingkan antara penyusutan tangensial dan radial.

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Kayu

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil Praktikum

Tabel 1. Daftar Isian Pengamatan Warna dan Corak


WARNA

1.
2.

Merah

Ungu

Hitam

Kelabu

Polos

Bercorak

Kulim

Meranti

Meranti

4.

Mahang

5.

Mempisang

kunyit

3.

6.

Coklat

KAYU

Kuning

JENIS
Putih

NO.

CORAK

x
X
x

Sendok-

sendok

Tabel 2. Daftar Isian Pengamatan Tekstur dan Arah Serat

1.
2.
3.

Kulim

Kasar

Sangat kasar

Lurus

Agak Berpadu

Berpadu

Bergelombang

KAYU

Agak kasar

Agak halus

JENIS

halus

NO

ARAH SERAT

Sangat Halus

TEKSTUR

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

Meranti
kunyit
Meranti

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Kayu

x
x

4.

Mahang

5.

Mempisang

6.

x
x

Sendok-

sendok

Kilap
20
1.
2.

Kulim
Meranti
kunyit

3.

Meranti

4.

Mahang

5.

6.

21

Mempisa
ng
Sendoksendok

22

Kesan Raba
23

24

25

26

Bau
27

28

29

30

x
x

Lainnya

Damar

Bahan Penyamak

Harum

Licin

Agak Licin

Kesat

KAYU

Sangat Mengkilap

Mengkilap

JENIS

Agak Mengkilap

NO

Kusam

Tabel 3. Daftar Isian Pengamatan Kilap, Kesan Raba dan Bau

1.

Kulim

2.

Meranti kunyit

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Kayu

Agak Lunak

Agak keras

Keras

Sangat Keras

31

Lunak

JENIS KAYU

Lunak

NO.

Sangat

Tabel 4. Daftar Isian Pengamatan Kekerasan Kayu

32

33

34

35

36

X
x

3.

Meranti

4.

Mahang

5.

Mempisang

6.

Sendok-sendok

Tabel 5. Daftar Isian Pengamatan Lingkar Tumbuh serta Sebaran, Susunan dan Isi
Pembuluh

LINGKA
R
TUMBU

SUSUNAN DAN ISI PEMBULUH

1.

Kulim

2.

Meranti kunyit

3.

Meranti

4.

Mahang

5.

Mempisang

6.

Sendok-sendok

Soliter berganda

Berganda

Tilosis

Endapan

Soliter

Berkelompok

38

Tata Lingkar

37

Baur

JENIS KAYU
Tidak Jelas

Jelas

NO

40

41

42

43

44

45

46

x
x

x
x

x
x

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Kayu

x
x

Tabel 6. Daftar Isian Pengamatan Diameter dan Frekuensi Pembuluh


SUSUNAN DAN ISI

LINGKAR TUMBUH

1.
2.

Kecil

Agak Kecil

Agak Besar

Besar

Sangat Besar

Sangat Jarang

Jarang

Agak Jarang

Banyak

Sangat Banyak

48

49

50

51

52

53

54

55

56

57

KAYU

Kulim

Meranti

kunyit
Meranti

4.

Mahang

6.

47

JENIS

3.

5.

Sangat Kecil

No

PEMBULUH

Mempis
ang

X
x

Sendok-

sendok

1.
2.

Kulim
Meranti
kunyit

akhir

Berat Volume

Awal

Berat Volume

Akhir

Volume

Volume Awal

KAYU

Tanur

JENIS

Berat Kering

NO.

Berat Awal

Tabel 7. Daftar Isian Sifat Kadar Air, Berat Jenis Dan Kerapatan

gr

Gr

Cm3

Cm3

58

59

60

61

62

63

133

100

119.57

117.88

110

101

93

76

143.02

140.03

130

118

3.

Meranti

75

64

117.33

114.97

102

97

4.

Mahang

89

75

142.93

139.68

109

96

5.

Mempisang

107

96

123.72

117.59

108

104

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Kayu

6.

Sendok-

111

sendok

92

133.58

131.51

129

125

Tabel 8. Daftar Isian Penyusutan Kayu

Nnn

Bidang

JENIS KAYU

Bidang Radial

Tangensial

Longitudinal

cm

Cm

cm

cm

cm

cm

cm

cm

64

65

66

67

68

69

70

71

1.

Kulim

4.90 4.82 4.85 4.93 4.92 4.91 4.88

4.83

2.

Meranti kunyit

5.17 5.16 5.15 5.13 5.11 5.11 5.28

5.16

3.

Meranti

4.18 4.81 4.84 4.98 4.98 4.98 4.80

4.82

4.

Mahang

5.10 5.13 5.15 5.36 5.31 5.31 5.11

5.10

5.

Mempisang

4.84 4.87 4.85 5.02 5.02 5.02 4.84

4.85

6.

Sendok-sendok

4.81 4.81 4.80 5.75 5.75 5.75 4.78

4.72

Volume
Akhir

gr
58
113

gr
59
100

Cm
60
118.12

Cm
61
115.26

gr
62
110

gr
63
99

93

76

141.13

136.58

130

121

89
75
107

75
64
96

142.96
118.80
121.96

131.01
113.32
113.11

109
102
108

87
76
96

111

92

131.96

124.70

129

111

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Kayu

Volume
Awal

Berat
Volume
Akhir

2
3
4
5

Kulim
Meranti
Kunyit
Mahang
Meranti
Mempisang
Sendoksendok

Berat
Volume
Awal

Berat Kering
Tanur

No

Berat Awal

Jenis Kayu

Tabel 7.1 Daftar Isian Berat dan Volume Kayu

Tabel 7.2 Daftar Isian Kadar Air, Berat Jenis, % Susut, % Pengembangan dan

1
2
3
4
5
6

%
Pengambangan

% Susut

Kerapatan

Berat Jenis

No

Kadar Air

Jenis Kayu

Kerapatan

Kulim
Meranti
Kunyit
Mahang
Meranti
Mempisang
Sendoksendok

KA : Berat Awal - Berat Kering Tanur x 100 % ( Berat awal : Sebelum dioven )
Berat Kering Tanur
BJ Kayu : Berat Kering Tanur
Berat Volume Awal
Kerapatan : Berat Awal
Volume Awal
% Susut

: Da - Db ( Antara Tangensial dan Radial )


Da
% Pengembangan : Db Da
Da

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Kayu

1
2
3
4
5
6

Kulim
Meranti Kunyit
Mahang
Meranti
Mempisang
Sendok-sendok

1
Cm
4.81
5.16
4.99
4.76
4.79
4.76

2
Cm
4.84
5.16
5.02
4.77
4.80
4.76

Gambar 1. Jenis Kayu : Kulim


Bidang

Gambar

Tangensial

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Kayu

3
Cm
4.83
5.11
5.01
4.80
4.75
4.73

4
Cm
4.83
5.14
5.01
4.78
4.78
4.75

1
Cm
4.92
5.10
5.23
4.95
4.94
5.66

2
Cm
4.92
5.12
5.22
4.98
4.96
5.67

Bidang Longitudinal

Rata2 Dimensi

Bidang Radial

Rata2 Dimensi

Bidang Tangensial

Jenis Kayu

No

3
Cm
4.87
5.11
5.25
4.97
4.93
5.68

4
Cm
4.90
5.11
5.23
4.97
4.94
5.67

1
Cm
4.86
5.24
5.00
4.74
4.78
4.70

2
Cm
4.87
5.15
4.99
4.79
4.80
4.55

Radial

Longitudinal

Gambar 2. Jenis Kayu : Meranti Kuning


Bidang

Gambar

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Kayu

Tangensial

Radial

Longitudinal

Gambar 3. Jenis Kayu : Meranti

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Kayu

Bidang

Gambar

Tangensial

Radial

Longitudinal

Gambar 4. Jenis Kayu : Mahang

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Kayu

Bidang

Gambar

Tangensial

Radial

Longitudinal

Gambar 5. Jenis Kayu : Mempisang

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Kayu

Bidang

Gambar

Tangensial

Radial

Longitudinal

Gambar 6. Jenis Kayu : Sendok-sendok

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Kayu

Bidang

Gambar

Tangensial

Radial

Longitudinal

3.2. Pembahasan

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Kayu

Pada pratikum yang dilakukan terdapat 6 jenis kayu yang di gunakan


untuk praktikum adapun jenis tersebut adalah :

1. Kulim
Klasifikasi Kulim
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Super divisi : Spermathophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub kelas : Rosidae
Ordo : Santales
Famili : Olaceae
Genus : Scorodocarpus
Spesies : Scorodocarpus Borneensis Becc.

Daerah penyebaran kulim banyak terdapat di Pulau Sumatera dan


Kalimantan. Pohon kulim memiliki arsitektur tinggi pohon sampai 30 meter
dengan panjang batang bebas cabang sampai 20 meter, diameter batang sampai 60
cm, kulit luar berwarna kelabu coklat atau merah-coklat, beralur dangkal dan kulit
mengelupas. Kyu teras berwarna merah tua atau coklat kelabu semu lembayung.
Kayu gubal berwarna kekuningan atau kemerahan agak jelas dibedakan dengan
kayu teras, tekstur kayu agak halus, arah serat bergelombang, kesan raba
permukaan kayu licin. Tempat tumbuh, kulim dapat tumbuh didalam hutan hujan
tropis primer, pada tanah kering liat atau berpasir sampai ketinggian 300 m dari
permukaan laut.

2. Meranti Kuning
Klasifikasi Meranti Kuning
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Kayu

Super divisi : Spermathophyta


Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub kelas : Dilleniidae
Ordo : Theales
Famili : Dipterocarpaceae
Genus : Shorea
Spesies : Shorea acuminatissima Sym.

Pohon Meranti banyak tumbuh pada dataran rendah lahan datar ataupun
bergelombang. Kayu meranti memiliki tekstur cukup kasar, sifat fisik kepadatan
kayu 575-753 kg/m3 ( susut : Radial 0.9-1.2 %, Tangensial 3.1-3.8 %, Modulus
elastisitas 10.200-12.100 N/mm2 , Modulus pecah 67-88 N/mm2. Kayu meranti
cocok untuk konstruksi ringan, tujuan utilitas umum, papan, paneling dan partisi
furniture, lantai, palet dan pembuatan kayu lapis. Dalam praktikum struktur dan
sifat kayu terdapat dua jenis meranti.

3. Meranti
Klasifikasi Meranti
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Super divisi : Spermathophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub kelas : Dilleniidae
Ordo : Theales
Famili : Dipterocarpaceae
Genus : Shorea
Spesies : Shorea sp.

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Kayu

4. Mahang
Klasifikasi Mahang
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Super divisi : Spermathophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub kelas : Rosidae
Ordo : Euphorbiales
Famili : Euphorbiaceae
Genus : Macaranga
Spesies : Macaranga sp.

Daerah penyebaran kayu mahang adalah Burma, Thailand, Malaysia,


Sumatera dan wilayah lainnya. Pohon Mahang memiliki tinggi hingga mencapai
25 m dan diameter batang 55 cm. Batang lurus bulat, tidak berbanir, berkulit
halus dengan warna coklat muda abu-abu. Tajuk agak melebar dan tidak seberapa
lebat. Daun tunggal berbentuk bulat telur yang melebar dan bercangap tiga. Kayu
mahang berwarna putih kecoklatan batas antara kayu gubal dan kayu teras tidak
jelas, lingkaran tumbuh tidak jelas dan kesan raba agak licin serta dengan susunan
pori tata baur.
Kayu mahang memiliki kadar air basah 57.77 % dengan berat jenis 0.33.
Kestabilan dimensi meningkat dengan (Tangensial/ Radial 1.70 dan T/R = 1.57
konsentrasi 5 0%. Kayu mahang merupakan jenis kayu lunak dan kekerasan
ringan sampai sedang, pada umumnya spesies ini kerapatan berkisar dari 270-495
kg/m3 kering udara.

5. Mempisang
Klasifikasi Mempisang
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Super divisi : Spermathophyta

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Kayu

Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub kelas :
Ordo :
Famili : Annonaceae
Genus : Alphoase
Spesies : Alphoase jaranice

Daerah penyebaran mempisang (Alphoase jaranice) terdapat pada hutan


dataran rendah semi-rawa dan perbukitan. Kayu gubal tidak terlihat dengan jelas,
warna batang kuning-putih atau coklat-kuningsering kali dengan semburat hijau.
Tekstur kayu mempisang memiliki kepadatan 370-960 kg/m3 (susut, Radial 1.54.0 %, Tangensial 2.7-4.5 %). Static bending ( Modulus elastisitas 13.400-14.800
N/mm2) Modulus pecah 80-85 N/mm2 . Kayu mempisang dapat digunakan
sebagai peralatan seperti furniture, kemasan dan peti, spesies yang lebih berat
dapat digunakan untuk lantai parquest dan strip, gagang pekakas dan kayu
instrument matematika.

6. Sendok-sendok
Klasifikasi Sendok-sendok
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Super divisi : Spermathophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub kelas :
Ordo :
Famili : Euphorbiaceae
Genus : Endospermum
Spesies : Endospermum spp.

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Kayu

Daerah penyebaran kayu sendok-sendok terdapat pada dataran rendah dan


hutan pegunungan rendah. Penampakan kayu gubal tidak dapat dibedakan dengan
kayu teras yang berwarna kuning cerah jika dalam keadaan segar sering dengan
semburat hijau dan gelap sampai coklat muda pada paparan kayu. Kayu ini
memiliki tekstur yang kasar, kepadatan kayu 305-655 kg/m3 (susut Radial 1.2 %,
Tangensial 1.3 % ). Static bending Modulus elastisitas 8.500 N/mm2, Modulus
pecah 39 perpendicular 8.500 N/mm2 . Kayu sendok dapat digunakan sebagai
Papan gambar, furniture, kayu lapis, mainan, nampan dan furniture lainnya.

Kayu merupakan hasil hutan yang mudah diproses untuk dijadikan barang
sesuai dengan kemajuan teknologi. Kayu memiliki beberapa sifat yang tidak
dapat ditiru oleh bahan-bahan lain. Pemilihan dan penggunaan kayu untuk suatu
tujuan pemakaian, memerlukan pengetahuan tentang sifat-sifat kayu. Sifat fisik
kayu berbeda dengan sifat fisika kayu. Sifat kayu lebih berhubungan dengan
kesan yang diperoleh oleh panca indra kita saat melihat, meraba, membaui, dan
lain sebagainya terhadap kayu. Sifat fisik yang penting untuk pengenalan kayu
secara makroskopis, yaitu:

1. Warna kayu
Warna kayu adalah warna asli dari kayu (kayu teras), dan dapat dilihat
pada goresan/bidang baru yang belum terkena pengaruh air, sinar matahari dan
pengaruh luar lainnya dalam waktu yang lama. Warna asli kayu dapat berubah
oleh pengaruh tersebut. Selain kekuatan kayu, keawetannya, gambaran seratnya,
warna teras juga merupakan salah satu syarat dalam memilih kayu. Kayu Gubal
umumnya berwarna muda, seperti: putih, kuning, coklat muda; sedangkan kayu
Teras umumnya berwarna tua seperti: coklat, coklat kemerahan, hitam, kuning
tua dan lain sebagainya. Berikut gambar letak penampang kayu gubal dan kayu
teras :

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Kayu

Gambar 7. Letak penampang kayu gubal dan kayu teras

2. Kesan raba
Kesan raba adalah kesan perasaan keadaan permukaan kayu apabila kita
lakukan perabaan pada permukannnya. Kesan raba kayu dipengaruhi oleh struktur
sel, kadar ekstraktif dan kadar air pada kayu. Kesan raba pada kayu bisa halus,
sedang atau kasar/kasar sekali. Kadang juga didapat kayu yang memiliki kesan
raba licin atau berminyak.

3. Kilap kayu
Kilap kayu adalah sifat kayu apabila terkena sinar/cahaya dan kemudian
mata kita menerima kesan tertentu, misalnya: mengkilap, agak mengkilap dan
suram. Adanya ekstraktif pada kayu dapat menimbulkan kesan mengkilap pada
kayu.

4. Tekstur
Tekstur adalah ukuran relatif sel-sel kayu. Berdasarkan teksturnya, kayu
digolongkan kedalam kayu bertekstur halus (contoh: giam, kulim dll), kayu
bertekstur sedang (contoh: jati, sonokeling dll) dan kayu bertekstur kasar (contoh:
kempas, meranti dll).

5. Arah Serat
Arah serat adalah arah umum sel-sel kayu terhadap sumbu batang pohon.
Arah serat dapat dibedakan menjadi serat lurus, serat berpadu, serat berombak,
serta terpilin dan serat diagonal (serat miring).

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Kayu

6. Bau dan Rasa


Bau dan rasa kayu mudah hilang bila kayu lama tersimpan di udara
terbuka. Beberapa jenis kayu mempunyai bau yang merangsang dan untuk
menyatakan bau kayu tersebut, sering digunakan bau sesuatu benda yang umum
dikenal misalnya bau bawang (kulim), bau zat penyamak (jati), bau kamper
(kapur) dan sebagainya.
Pada praktikum yang telah dilakukan ada beberapa hal yang dilakukan
antara lain :

1. Identifikasi Kayu
Pada kegiatan pratikum identifikasi kayu mengamati ciri ciri umum kayu
yaitu warna corak, tekstur, arah serat, kilap , kesan raba, bau. Dan hasil
pengamatan dari ke 6 jenis kayu Kulim, Meranti kunyit, Meranti, Mahang,
Mempisang, Sendok-sendok terlampir pada tabel hasil identifikasi tabel 1 8.

2. Sifat Fisik Kayu


a. Kadar Air Kayu
Kayu merupakan bahan yang bersifat higroskopis, artinya kayu
mempunyai kemampuan untuk mengikat dan melepaskan air, baik berupa uap
maupun cairan sehingga kayu dalam keadaan seimbang dengan kandungan air
disekitarnya. Sehingga banyaknya iar didalam kayu selalu berubah-rubah menurut
keadaan udara disekelilingnya. Oleh karena itu penggunaan kayu sebagai bahan
baku bangunan atau perabot lainnya perlu diketahui keadaan kadar airnya. Kayu
dapat menyerap air dikarenakan memiliki gugus OH- pada selulosa, hemiselulosa
dan lignin. Gugus OH mengikat air dengan ikatan hidrogen.
Dalam kegiatan kehidupan kita sehari hari kayu memiliki kegunaan yang
beragam dalam segala bidang. Air dalam kayu terdiri atas dua macam yaitu :
Air bebas yaitu ,yang terdapat dalam sel dan rongga rongga sel, air
bebas umumnya tidak mempengaruhi sifat dan bentuk kayu kecuali
beratnya.

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Kayu

Air terikat, yang berada dalam dinding dinding sel kayu dan sulit untuk
dilepaskan, air terikat ini mempengruhi sifat sifat kayu.

Hasil pengukuran berat kering tanur pada ke 6 jenis kayu didapat hasil :
1. Kulim : 100 gr
2. Meranti kuning : 76 gr
3. Meranti : 64 gr
4. Mahang : 75 gr
5. Mempisang : 96 gr
6. Sendok-sendok : 92 gr
Untuk pratikum ini terdiri dari kayu lunak dan kayu keras, jenis dari kayu
sangat menentukan kadar air yang terkandung biasanya kandungan air berkisar 40
300 %. Pada jenis kayu ini kadar air terendah terdapat pada kayu Meranti dan
kadar air yang tertinggi pada kayu Kulim.
b. Berat Jenis Dan Kerapatan Kayu
Berat jenis tidak bersatuan karena merupakan perbandingan berat dari
volume air yang sama dengan voume benda yang diukur, berat jenis memiliki
pengaruh erat dengan kekuatan kayu, berat jenis tidak memiiki satuan karena
berat jenis adalah niai relatif.
Pada sampel kayu berat jenis yang tinggi terdapat pada kayu dengan jenis
kayu keras, seperti Kulim. Ini menunjukan bahwa jenis kayu tersebut memiiki
kekuatan dan kualitas kayu yang baik sedangkan pada kayu lunak kekuatan dan
kualitas kayunya rendah.

3. Penyusutan Kayu
Penambahan air atau zat ain ke dalam kayu pada zat dinding sel akan
menyebabkan jaingan mikrofibril mengembang, penambahan air seterusnya pada
kayu tidak akan mempengaruhi perubahaan volume. pengembangan atau
penyusutan dapat didefinisikan sebagai perubahan ukuran / volume kayu yang
terjadi sebagai akibat perubahan kadar air dibawah titik jenuh serat. Pengurangan
air dibawah titik jenuh serat akan mempengaruhi dinding sel menyusut atau
dikatakan penyusutan kayu, perubahaan dimensi dinyatakan dalam % dari dimensi

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Kayu

maximum kayu. Perubahan dimensi kayu tidak sama dalam ke 3 arah


longitudinal, radial, tangensial.
Perubahan dimensi pada arah longitudinal berkisar 0,1 0,2 %, dalam
arah radial angka penyusutannya bervariasi antara 2,1 8,5 %, sedangkan pada
arah tangensial angka penyusutannya lebih kurang dua kali arah radial yaitu
berkisar 4,3 14 %. Pengaruh penyusutan pada bentuk kayu dapat dilihat pada
gambar dibawah berikut ini.

T
R
Jari-jari
Gambar 8. Pengaruh Penyusutan terhadap Bentuk Pohon.

Perubahan dimensi kayu erat kaitannya dengan kadar air kayu itu sendiri.
Perubahan kadar air diatas titik jenuh serat tidak akan merubah dimensi kayu,
penyusutan baru akan terjadi apabila kadar air berkurang dibawah titik jenuh serat
kayu.
Banyak usaha yang dilakukan untuk mengatasi masalah pengembangan
dan penyusutan kayu pada penggunaannya, salah satunya ialah dengan membuat
kadar air sekecil mungkin atau pada keadaan kadar air keseimbangan, dengan cara
sebagai berikut :
a. Kayu dikeringkan sampai kadar air stabil sehingga penyusutan relatif kecil
sehingga dapat diabaikan.
b. Setelah itu kayu disimpan pada ruang yang tidak lembab dan memiliki
sirkulasi udara yang baik (sistem penimbunan yang sempurna)

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Kayu

c. Memberi lapisan pada kayu dengan bahan penutup yang tidak tembus air
untuk mempertahankan atau menghambat masuknya air selain itu bisa
menambah keindahan kayu, prosesnya disebut finishing.
Selain untuk meningkatkan kesetabilan kayu, pengeringan juga memberi
keuntungan, diantaranya :
a. dapat mengurangi berat kayu sehingga mengurangi biaya penanganan dan
biaya pengangkutan.
b. Kekuatan kayu akan meningkat dengan berkurangnya kadar air dibawah titik
jenuh serat, kecuali untuk keteguhan pukul.
c. Menghilangkan atau mengurangi cacat dan perubahan bentuk dalam
pemakaiannya seperti bungkuk, cekung, muntir, pecah ujung dan lain-lain.
d. Kayu kering tidak diserang oleh beberapa jamur dan serangga perusak kayu.
e. Dalam beberapa proses pengawetan, kayu kering lebih mudah dimasuki bahan
pengawet.
f. Daya hantar listrik dan suara sangat berkurang dengan berkurangnya kadar air
( menaikan sifat isolasi kayu ).
g. Kayu kering lebih mudah dikerjakan, seperti pemotongan, penyerutan dan
lain-lain.

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Kayu

BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan

Dari praktikum tentang identifikasi struktur dan sifat kayu ini maka
praktikan dapat menyimpulkan bahwa :
1) Kayu pada dasarnya bersifat higroskropis, kemampuan kayu menyerap
air dan mengeluarkan air tergantung pada suhu dan kelembaban udara di
sekelilingnya, Banyaknya kadar air pada kayu bervariasi tergantung pada
jenis kayunya. Berat jenis dan kerapatan saling berhubungan untuk
menentukan kekuataan dari jenis kayu, keduanya saling mendukung satu
sama lain. Dengan mengetahui sifat fisik kayu menjadi bekal untuk kami
mengenali dan mengetahui apakah kayu tersebut masuk dalam kayu
lunak atau pun kayu keras dan tahu jenis kayu tersebut.
2) Sifat fisik yang penting untuk pengenalan kayu secara makroskopis, yaitu
Warna kayu, kesan raba, kilap kayu, tekstur, arah serat, serta bau dan rasa
3) Dari hasil praktikum stuktur dan sifat kayu ini dapat disimpulkan bahwa
dari keenam kayu yang telah diidentifikasi (Kulim, Meranti kuning,
Meranti, Mahang, mempisang, dan sendok- sendok) Kayu kulim
merupakan kayu yang memiliki tingkat kekerasan kayu tertinggi dengan
tekstur halus, kadar air (berat kering tanur 100 gr) dan arah serat kayu
berpadu.

4.2. Saran
Kami mengharapkan kritikan dan saran yang membangun bila laporan ini
memiliki kekurangan dan kesalahan. Agar kedepannya lebih baik. Peralatan
praktikum hendaknya ditambah dan diperlengkap untuk memudahkan kegiatan
praktikum. Saran untuk praktikan dalam praktikum agar lebih tertib dan lebih
teliti dalam menghitung volume dan mengidentifikasi jenis - jenis kayu.

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Kayu

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Sifat - sifat Kayu Kadar Air dan Penyusutan . From :
http://msstupido.blogspot.com/2011/01/sifat-sifat-kayu-kadar-airpenyusutan.html?m=1 (Diakses Tanggal 30/12/2012)

_______.

2011.

http://diddayz.blogspot.com/2011_09_01_archieve.html?m=1

(Diakses Tanggal 30/12/2012)

_______.

2012.

http://www.plantamor.com/index.php?plant=1761

(Diakses

Tanggal 30/12/2012)

_______.

2010.

Jenis

Kayu

Komersial

Indonesia.

From

http://informasikehutanan.blogspot.com/2010/10/jenis-kayukomersial-indonesia-meranti.html?m=1 (Diakses Tanggal 30/12/2012)

_______.

2010.

http://teguhmulya.blogspot.com/2010/03/sifat-sifat-fisik

kayu.html?m=1 (Diakses Tanggal 31/12/2012)


_______.

2012.

http://endom-bayau.blogspot.com/2012/10/nama-nama-

pohon.html?m=1 (Diakses Tanggal 01/01/2013)


_______. 2013. http://www.lionex.biz/products/species?ID=31 (Diakses Tanggal
01/01/2013)
Sulaeman, Rudianda. 2012. Penuntun Praktikum Struktur dan Sifat Kayu.
Pekanbaru : Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Riau

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Kayu

LAMPIRAN
Jenis jenis kayu yang digunakan dalam praktikum (Kelompok 3)

a. Kayu Kulim

b. Kayu Meranti Kuning

c. Kayu Meranti

d. Kayu Mahang

e. Kayu Mempisang

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Kayu

f. Kayu Sendok-sendok

LAMPIRAN
Alat alat yang digunakan dalam praktikum SSK

a. Gelas Pengukur volume

c. Caliper

Laporan Praktikum Struktur dan Sifat Kayu

b. Timbangan Digital

d. Oven Electric