Anda di halaman 1dari 10

Mengobarkan Karunia Allah yang ada padamu

Oleh penumpangan tanganku atasmu (2 Tim 1:6)

Kursus Spiritualitas Imam Diosesan Unio Indonesia yang


ke 2
KOMITMEN: BERTUMBUH MENUJU KEPENUHAN

1. Pengantar
Kursus Spiritualitas Imam Diosesan diselenggarakan oleh Pengurus Unio
Indonesia di Rumah Retret Girisonta Semarang Jawa Tengah, diikuti oleh 26
imam Diosesan wakil dari 25 keuskupan yang ada di Indonesia. Kursus
diselenggarakan mulai tanggal 24 Januaru hingga 31 Januari 2014. Selama
enam hari kursus, para imam berdinamika dalam acara rohani, mulai dengan
meditasi pribadi, Ibadat pagi bersama dilanjutkan Ekaristi. Pelbagai materi
kursus dilaksanakan dalam pembelajaran klasikal hingga tengah hari dan
diakhiri dengan ibadat siang. Sore hari digunakan untuk pembelajaran
bersama secara klasikal dilanjutkan dengan aneka ibadat atau devosi,
misalnya ibadat sore atau adorasi juga pengakuan dosa diantara para
imam. Sedangkan malam hari digunakan untuk pembicaraan kelompok atau
pendalaman pribadi.
Satu sessi kesempatan menjelang penutupan, selama siang hingga
malam digunakan untuk menciptakan keakraban dan kebersamaan dengan
acara di luar yakni berkunjung ke Rumah Retret dan Pembinaan di Roncalli
Salatiga, ziarah ke Gua Maria Pereng Getasan Salatiga dan berkunjung ke
tempat pendidikan para calon imam di Seminari Menengah St. Petrus
Canisius Mertoyudan Magelang.
Mgr. Blasius Pujaraharja Uskup Emeritus Ketapang yang menjadi
Penasihat Unio Indonesia bersedia mendampingi selama acara berlangsung
dan menjadi pembicara untuk bahan Persahabatan para Imam. Staf
pendamping dan narasumber lainnya: Rm. M. Kristiyanta, Pr (Spiritualitas
Imam Diosesan), Rm. Zahnweh SJ (Bimbingan Rohani) dan Bp. Vincent
Tjahjana Santosa (awam aktifis dan Kepala Sekolah Evangelisasi Pribadi dan
Kursus Evangelisasi Pribadi Shekinah Semarang).
Dari pengalaman kursus dan kebersamaan para imam diosesan selama
satu minggu dan mendengar sharing kegembiraan dan pergulatan batin
pribadi maupun dalam kebersamaan di masing-maisng Unio Keuskupan,
kami sampaikan permenungan dan rekomendasi yang perlu dibuat untuk
pengembangan imam diosesan di Indonesia.

2. Spiritualitas Imam Diosesan


Pemahamanan dan penghayatan SPIRITUALITAS IMAM DIOSESAN bertitik
tolak pada Panggilan Umum untuk kesucian dalam Gereja (PDV. 19-20).
Spiritualitas dari Imam Diosesan tidak lain ialah Tinggallah di dalam Aku.
Seorang imam diosesan pertama-tama harus TINGGAL DI DALAM KRISTUS
dengan mengutip sabda Yesus kepada para muridNya: Tinggallah di dalam
Aku (Yoh 15:4). Setelah tinggal di dalam Yesus, seorang imam Diosesan
wajib tinggal di dalam keuskupan dengan tujuan Membangun Gereja
Keuskupan. Di sini seorang Imam Diosesan harus hidup dari Ekaristi, tinggal

bersama Uskup dan bersama imam-imam lain dan bersama umat beriman
di dalam keuskupan tempat imam berinkardinasi atau ditugaskan. Melalui
dan bersama mereka, seorang imam diosesan membangun kesucian hidup.
Tak boleh diabaikan bahwa seorang imam diosesan hendaknya Tinggal di
dalam Dunia dengan tujuan menghadirkan Gereja di tengah dunia. Dunia
yang dimaksud ialah umat beriman lain, budaya setempat, dunia sosial
ekonomi, dunia politik, dan situasi perkembangan zaman hingga merambah
dunia digital. Seorang imam diosesan wajib menaruh perhatian besar pada
masalah lingkungan hidup sebagai tempat yang diciptakan oleh Tuhan
dalam keadaan baik (bdk. Kej. 1). Para imam berada di garis depan dalam
menghayati dan mewujudkan kepedulian pada keutuhan alam ciptaan
bekerjasama dengan masyarakat sipil serta siapapun yang berkehendak
baik dalam mengelola alam semesta sercara bertanggungjawab.
Agar kuat bertahan dalam karya pastoral dan semakin mencintai
panggilan hidupnya, maka seorang Imam Diosesan perlu memiliki
kebiasaan-kebiasaan rohani
sebagaimana sudah digulati selama
pendidikan, khususnya dalam hal:
a. Merayakan Ekaristi dan Merenungkan Sabda Allah,
b. Merayakan Ibadat Harian - Latihan Rohani Meditasi,
c. Merayakan Sakramen Tobat,
d. Pemeriksaan Batin Harian,
e. Doa devosi kepada Bunda Maria dan santo santa lainnya,
f. Visitasi dan Adorasi Sakramen Mahakudus,
g. Rekoleksi,
h. Retret,
i. Bimbingan Rohani,
j. Bacaan Rohani.
Semua kegiatan rohani ini haruslah dilakukannya secara konsisten. Selain itu
perlu juga seorang imam diosesan belajar dari beberapa tokoh, antara lain
Charles de Foucould dan Paus Fransiskus. Charles de Foucould
menghidupi spiritualitas Nazareth. Baginya, Nazareth adalah tempat hidup
yang tersembunyi,
tempat hidup keseharian, tempat hidup sebuah
keluarga,
tempat doa, kerja dan matiraga, tempat hidup dalam
keheningan, tempat berbuat baik tanpa diketahui siapapun, selain oleh Allah
dan oleh keluarga atau teman-taman dekat, tempat untuk hidup kudus,
murah hati, tersembunyi, hidup yang dihayati oleh sebagian besar umat
manusia. Cara hidup Charles de Foucould ini memberi inspirasi bagi setiap
imam diosesan agar mengusahakan kesempurnaan dengan mengeluti tugas
sehari-hari dengan penuh tanggung jawab dan sederhana. Kelebihan Charles
de Foucould ialah hadir secara intensif di tengah masyarkat. Ia menyatu
dengan masyarakat lewat kehadirannya di tengah-tengah mereka. Pastoral
kehadiran, itulah titik berat dan contoh nyata dari pastor Charles bagi setiap
imam diosesan. Walaupun ia ada di tengah masyarakat, setiap karya
pelayanannya ia jalankan selalu dalam kesatuan dengan hirarki (uskupnya)
dan rekan-rekan imam (pembimbing rohani).
Bapa Paus Fransisikus dalam masa pontifikatnya yang belum genap
satu tahun telah mengadakan pembaruan dalam Gereja melalui teladan
hidupnya yang sederhana dan memiliki integritas diri yang tinggi. Paus asal
Amrika Latin ini menunjukkan sikap bertanggung jawab dalam perkara
sehari-hari, tampil sebagai pelayan yang berbelarasa, berbelas kasih. Dalam
bidang liturgi Paus Fransiskus bersemangat liturgi sejati dengan menghayati
bahwa Kristuslah yang menjadi pusat liturgi bukan imam, serta mengajak

para imam menjadi gembala baik yang mengenali perjuangan hidup umat
serta mencari domba-domba yang hilang bukan hanya terjebak oleh tugastugas administratif.

3. Merawat Imamat
Sadar bahwa kita para imam menerima anugerah imamat sebagai
karunia yang tak ternilai, namun kita semua ini seperti bejana tanah liat
yang rapuh dan mudah pecah, maka diperlukan usaha nyata untuk merawat
anugerah imamat dalam hidup sehari-hari maupun secara terencana.
Persaudaraan imamat di masing-masing keuskupan melalui UNIO ataupun
persaudaraan imamat bersama Bapa Uskup dan para imam religius se
keuskupan, menjadi anugerah yang tak ternilai. Tiga sakramen yang khas
dan hanya dapat dilayani oleh imam berdasarkan kuasa tahbisan (Ekaristi,
Pengampunan Dosa dan Perminyakan Suci) membuat imam dapat melayani
umat Allah dan menjadi kekuatan bagi bekal perjalanan hidup umat dalam
menapaki tugas hidup harian. Dalam batas daya kemampuan karena dosa
atau menghadapi sakit, kehadiran imam menjadi peneguh sebagai tanda
kemurahan dan pemeliharaan Tuhan bagi umatNya. Para imam mempunyai
kesempatan merawat anugerah imamat ini dalam hidup sehari-hari melalui
aneka kegiatan kerohanian secara pribadi maupun dalam pelayanan ekaristi
harian.
Anugerah sakramen imamat ini dapat menjadi mandul dan bahkan batu
sandungan bagi umat serta rekan imam lainnya, manakala para imam tidak
hidup pantas sebagaimana nilai hakiki imamat. Kesembronoan dalam
membangun relasi dengan umat, sikap pilih kasih dalam pelayanan atau
ketidak tertiban dalam pelayanan administratif (keteledoran dalam
pencatatan baptisan, komuni pertama, penguatan atau perkawinan) dan
kesembronoan dalam pengelolaan keuangan, menyakiti hati umat dan
membuat gereja tidak dipercaya.
Diperlukan usaha-usaha nyata dalam merawat dan menghidupi imamat
supaya menghasilkan buah yang sedap bagi para imam sendiri serta korps
para imam dan seluruh Gereja. Kebiasaan untuk duduk bersama membuat
discretio (pembedaan Roh) diantara para imam dan pengurus Dewan
(Pastoral) Paroki dalam menentukan kebijakan pastoral paroki, kebiasaan
baik untuk mengadakan acara rohani diantara para imam se pastoran atau
se rayon yang berdekatan, menjadi sarana mengamankan dan
melanggengkan imamat. Perasaan sakit hati pada pimpinan (Uskup) atau
rekan imam lain yang tidak diselesaikan dengan baik, akan menghambat
hidup dan penghayatan imamat. Seolah imam ini terus menerus
menggendong beban hidup (thuyul) yang membebani seluruh perjalanan
hidupnya.
Sebagai imam kita sadar apa yang menjadi kerinduan terdalam hati kita
dan bagaimana mewujudkannya dengan setia. Sebagai imam kita perlu juga
punya waktu pribadi yang teratur untuk berdoa. Perlu membuat refleksi
pribadi berdasarkan sabda Yesus Dimana hartamu di situ hatimu: Apakah
hartaku ada pada hp gadget kekayaan hidup yang konsumtif atau
pada relasi pribadi dan mendalam kepada Tuhan dan sesama? Satu
ungkapan yang menunjukkan kesatuan hidup: be here now; Tuhan ini
saya, hidup dan mati saya. Hidup kita beralih dan berjuang From Passion to
compassion. Menjadi penyembuh yang sendiri terluka, sebagai ungkapan

rohani dalam usaha penyembuhan diri dan menjadi pendamping bagi yang
lain. Inilah uaha-usaha untuk merawat anugerah imamat yang bermeterai
kekal.

4. Menjadi Pembimbing Rohani


Bimbingan rohani adalah salah satu kebutuhan pastoral dari umat
beriman yang ingin dibantu secara pribadi menemukan jati dirinya dalam
terang iman. Kebutuhan ini disadari karena selain banyak hal tidak dapat
diungkapkan oleh umat beriman kecuali dalam forum pribadi, juga karena
untuk berkembang dalam iman dibutuhkan bantuan dari orang yang
berpengalaman. Di samping itu, sebagai imam diosesan, bimbingan rohani
merupakan salah satu sarana pembinaan iman yang pernah dialami dan
amat disyukuri karena berguna bagi pertumbuhan iman para imam itu
sendiri. Kebanyakan imam pernah mengalami perjumpaan secara pribadi
dengan Allah yang menyelamatkan, menyembuhkan dan mengampuni lewat
bimbingan rohani. Kendati dalam pengalaman sebagai terbimbing ada halhal negatif yang pernah dialami, seperti kurang dihargai, materi bimbingan
kurang dirahasiakan, dan lain-lain, para imam diosesan sadar betul bahwa
bimbingan rohani adalah sebuah pelayanan pastoral yang perlu
dikembangan sehingga semakin banyak umat dan boleh jadi rekan imam
terbantu dalam pertumbuhan iman mereka. Mereka dapat berjumpa dengan
Allah, yang turut mengalami penderitaan mereka, menguatkan,
meyembuhkan dan mengampuni mereka.
Bimbingan rohani merupakan sebuah proses pendampingan berkala dan
berkesinambungan bagi seseorang untuk menemukan jati dirinya dengan
menyadari kehadiran Allah dalam seluruh peristiwa hidupnya. Bimbingan
rohani bukan proses instan, tapi proses panjang. Proses pendampingan itu
dilakukan dalam wawancara pribadi antara si pembimbing dan si terbimbing,
di mana si pembimbing menyadari kehadiran Roh Allah yang sedang bekerja
dalam dirinya, membantu dia dan si terbimbing untuk berjumpa dengan
Allah. Oleh karena itu, bimbingan rohani bukanlah upaya untuk
memecahkan persoalan atau masalah yang dialami si terbimbing, tapi
terutama upaya yang diresapi oleh Roh Allah untuk menemukan Allah yang
mengasihi, Allah yang mengampuni dan Allah yang menyembuhkan.
Untuk mencapai tujuan bimbingan rohani ini ada syarat-syarat yang
harus dipenuhi oleh si pembimbing:
a. Menciptakan suasana aman dan dapat dipercaya dengan komitmen untuk
tetap menjaga rahasia si terbimbing.
b. Mau mendengarkan dengan penuh kesabaran.
c. Memfokuskan diri secara penuh kepada si terbimbing sebagai tanda
menghormati dan menghargai si terbimbing.
d. Membantu si terbimbing mengungkapkan secara penuh perasaannya,
mengeluarkan segala unek-uneknya, atau terpuaskan sehingga
mengalami
kebebasan
dari
beban-beban
yang
selama
ini
membebaninya.
e. Membantu si terbimbing menyadari kehadiran Tuhan dalam seluruh
peristiwa hidupnya.
f. Membantu si terbimbing supaya dalam penderitaan dan salibnya mampu
mengenal kehadiran Allah.
g. Si pemimbing harus menyiapkan diri, karena sadar akan kelemahannya,
memohon bantuan Roh Tuhan, hidup akrab dengan Tuhan.

5. Suka-duka Hidup Imam Diosesan Masa Kini, Sebagai


Sebuah UNIO di Pelbagai Keuskupan: sebuah kumpulan
sharing kegembiraan, keprihatinan dan harapan
Persaudaraan Unio di masing-masing keuskupan berjalan sesuai dengan
situasi masing-masing tempat secara khas. Relasi para imam dioesesan
dengan Bapa Uskup menunjukkan relasi yang menggembiarakan, karena
para imam merasa direngkuh dan didampingi oleh gembala utama di
masing-masing keuskupannya. Perkembangan jumlah imam diosesan di
masing-maisng keuskupan juga menggembirakan, dapat bersaudara serta
bekerjasama dengan imam-imam tarekat yang pada umumnya mengawali
dan menjadi peletak dasar bagi perkembangan kehidupan gereja lokal
keuskupan.
Hal-hal yang khusus dan menggembirakan dari para imam diosesan
antara lain pertambahan imam diosesan yang signifikan, relasi harmonis
dengan imam-imam tarekat, kepercayaan untuk karya-karya khusus dan
terbuka untuk pengembangan karya di keuskupan. Uskup Diosesan (yang
dari Tarekat) memberi kesempatan luas bagi perkembangan para imam
diosesan serta memberi kepercayaan bagi kiprah dan karya imam diosesan.
Sedangkan hal-hal yang dirasa menjadi ganjalan serta tantangan untuk
perkembangan kiprah para imam diosesan antara lain kegiatan rutin Unio
yang belum ditanggapi antusias oleh para anggota, belum mempunyai
rumah bersama yang dapat menampung para imam untuk transit atau
berkegiatan bersama, Tarekat yang berkarya di keuskupan namun hanya
memberi perhatian untuk tarekatnya dan kurang memberi perhatian untuk
perkembangan tenaga atau calon imam keuskupan, hidup rohani yang
dangkal dan sikap imam diosesan yang menghayati hidup harian secara
dobel standar (gaya hidup mewah, relasi yang terlalu dekat dengan
keluarga/ komunitas atau pribadi-pribadi tertentu) hingga mengganggu
pelayanan umum.
Perlu pertobatan terus menerus untuk menghayati dan memaknai cara
hidup imami yang dapat dipandang serta menjadi kesaksian yang tulus
diantara umat beriman. Hal-hal khusus yang dapat dibuat, misalnya menata
hidup bersama diantara para imam dan sungguh menjadi sahabat imam
satu sama lain, membangun relasi harmonis antara uskup - dengan tarekat
yang berkarya di keuskupan juga dalam persaudaraan Unio, para imam
perlu memupuk kesetiaan dalam pelayanan dan karya, para imam
memberikan keteladanan hidup yang pantas, dan mengembangkan motivasi
rendah hati dan mengalahkan kepentingan diri sendiri. Perlu dirumuskan
ulang makna Imamat dalam hidup sehari-hari sebagaimana jawaban ketika
menerima sakramen tahbisan Saya hadir. Hadir untuk apa? Hadir untuk
seluruh Gereja, hadir dan siap untuk membela keutuhan dan perwujudan
wajah sosial Gereja, hadir dan siap menjadi alter Christus bahkan
bertindak sebagai pelayan-pelayan Kristus di dalam Gereja.

6. Menjadi Sahabat Imam atau Imam Sahabat


Karya pastoral di dalam Gereja dilayani oleh imam-imam sesuai dengan
keperluan karya pastoral keuskupan dan lembaga-lembaga Gereja yang ada.
Jumlah tenaga imam di keuskupan ada yang sangat terbatas, namun ada
juga yang dapat memenuhi keperluan dasar dari karya-karya utama. Lepas

dari beberapa kasus pengalaman beberapa imam yang memang merasa


nyaman menyendiri di dalam karya pastoral dan sulit disatukan dengan
teman-teman imam lainnya, beberapa hal berikut perlu diwaspadai dalam
kesendirian hidup imamat:
a. Frustasi, depresi karena tidak ada tempat berbagi
b. Tidak ada yang mengingatkan atau menegur kesalahan
c. Rapuh serta tidak ada yang mengontrol ketika dalam bahaya
d. Secara energy lebih terkuras karena semua pekerjaan/tugas dipikir
sendiri
Dasar-dasar Menjadi Sahabat Imam: Teks Kitab Suci yang dapat
member inspirasi, antara lain:
a. Yoh 15:15 Yesus menjadikan kita sahabat
b. Ams17:17 Seorang sahabat menjadi saudara dalam kesukaran
c. Amz18:24 Ada sahabat yang lebih karib dari seorang saudara
d. Yoh13:14-15 Wasiat Tuhan : perjamuan terakhir mengajak para murid
untuk saling mengasihi dan cinta persaudaraan
e. Yoh:17 Doa Yesus bagi para murid yang menghargai kebaikan para
murid
f. Mrk9:34 Yesus selalu terus-terang dengan para murid yang adalah
sahabatnya
g. Mat5:22 Membangun sikap pengertian dengan sahabat
Alasan/Urgensi Persahabatan:
a. Bisa saling berbagi dan menguhkan
b. Saling menopang dalam kesulitan
c. Menghayati kesatuan presbyter
d. Menjauhkan dari godaan /bahaya
Kemungkinan-kemungkinan pengembangan
Membangun persabahatan yang mendalam diantara sesama tidak
selalu mudah; banyak yang selama ini masih tataran luar serta hanya
dipermukaan saja bahkan persahabatan yang semu karena tidak berani
berterus terang atau saling menegur dalam kasih. Maka perlu dilakukan
upaya-upaya nyata, misalnya
a. Berkunjung ke teman-teman imam di tempat karyanya
b. Rekreasi/refresing bersama
c. Sapaan dan kebersamaan sewaktu ulang tahun
d. Kegiatan-kegiatan bersama retret, rekoleksi, studi
e. Kunjungan keluarga rekan imam
f. Saling menyapa via sms/bbm dan sarana komunikasi lainnya.
Buah-buah persahabatan Imam, antara lain:
a. Mampu memelihara/mempertahankan imamat
b. Bersemangat dan bergembira dalam pelayanan
c. Bisa saling membantu dalam kesulitan di tempat karya masing-masing

7. Menjadi Imam yang Tetap on fire


Para imam perlu menyadari bahwa kehidupan bersama di Gereja dihayati
dalam suasana Gereja Umat Allah, antar anggota saling melengkapi dan
menjadi tanda berkat. Para imam bekerjasama dengan kaum awam sesuai
dengan keahlian dan kekhasan pelayanan mereka. Para imam menghayati
diri dan profesional sebagai pemuka jemaat khususnya dalam bidang
pemeliharaan iman dan susila serta menjaga keutuhan sebagai Gereja

Kristus. Kaum awam berdasarkan baptisan yang sudah diterima, mengambil


bagian dalam tri tugas Kristus untuk memimpin, mengudukan dan
mewartakan. Para awam dengan pelbagai macam cara dan sesuai dengan
cita-cita Konsili Vatikan II menunjukkan kepedulian dalam membangun
Gereja.
Banyak hal sesuai dengan keahlian kaum awam, telah mengembangkan
Gereja dan berperan untuk menyucikan dunia dengan ilmu-ilmu positif yang
dikuasai. Gereja belajar dan menggunakan ilmu-ilmu positif agar semakin
layak dipercaya (credibel) dengan akuntabel dan transparan. Bahkan Kaum
awam telah mengembangkan kesungguhannya untuk mendalami pokokpokok iman dan dokumen ajaran resmi Gereja melalui Sekolah Iman,
Pembelajaran iman Katoli, Sekolah Evangelisasi Pribadi dan Kursus
Evangelisasi Pribadi. Kaum awam sedemikian tersemangati oleh ajaranajaran resmi Gereja yang telah mereka dalami hingga menggerakkan hati
untuk melayani Gereja dengan sekuat tenaga bahkan dengan harta milik
mereka. Kaum awam juga mendalami spiritualitas santo-santa juga aneka
gerakan spiritualitas berdasarkan spiritualitas tarekat serta menjadi mitra
dalam tarekat. Selain itu Kaum awam juga mendalami pengolahan hidup
rohani melalui retret, rekoleksi serta kaderisasi khusus yang diselenggarakan
sesuai dengan jiwa dan kekhususan kelompok. Sangat maju kiprah dan
gerak kaum awam yang dilandasi oleh iman kepercayaan Katolik dan berada
di dalam reksa pastoral Gereja Katolik. Kaum awam sedemikian hormat
kepada kewibawaan rasuli para imam sebagai pembantu-pembantu Uskup,
kaum awam juga menaruh harapan besar pada pelayanan yang tulus dan
sepenuh hati dari para imam. Maka selayaknya kita membangun kesatuan
hati sebagai pelayan-pelayan Gereja sesuai dengan tugas dan panggilannya
yang khas, saling melengkapi sebagai anggota Tubuh Mistik Yesus Kristus di
dalam Gereja yang berada di tengah-tengah dunia.

8. Komitmen
Berdasarkan pendalaman dan pemahaman selama kursus spiritualitas,
serta digerakkan oleh kesadaran untuk menjadi garda depan dalam hidup
menggereja di masing-masing keuskupan dalam wadah persaudaraan UNIO,
maka kami membangun komitmen sebagai berikut:
a. Imam Diosesan ialah imamnya Uskup, karena itu menjalin hubungan
yang baik dengan uskup dan mencintai keuskupanya.
b. Selalu hadir di tengah umat dan masyarakat
c. Mengembangkan sikap positif thinking
d. Membangun komunikasi yang intens dengan rekan-rekan imam
e. Terbuka dan mau kerjasama dengan umat di tempat tugas dengan
cara memandang seksualitas dan spiritualitas sebagai keutuhan yang
mendorong pada kesucian serta menyehatkan >>> membawa kepada
kebahagiaan.
f. Mengembangkan relasi sehat (cara berteman) dengan wanita,
membatasi waktu dalam perjumpaan
g. Menyediakan diri sepenuhnya bagi umat dan masyarakat dimana
Imam bertugas, kembangkan kerjasama dengan awam
h. Menjadi sahabat imam dan menyapa imam lain setiap hari
i. Simpatik dan punya kegembiraan hidup
j. Menyapa lebih intensif teman yang berkarya sendiri

k. Berusaha hadir dalam pertemuan UNIO yang diselenggarakan, terlibat


aktif dalam kegiatan UNIO
l. Selalu berani meluangkan waktu untuk hening dan tekun dalam doa
harian
m. Mempunyai pembimbing rohani dan terbuka dengannya juga dengan
Uskup
n. Hidup rohani sebagai kebutuhan dasar seorang imam maka setia
membina diri dalam olah rohani dan mempunyai pembimbing rohani
untuk pertumbuhan iman.
o. Peka akan daya Roh Kudus yang memimpin serta mengikutiNya dan
cermat.
p. Membagikan pengetahuan dan pengalaman kursus kepada Uskup dan
rekan imam

Semarang, 28 Februari 2014


Atas nama para peserta kursus spiritualitas Imam Diosesan UNIO INDONESIA
di Rumah Retret Girisonta Ungaran Jawa Tengah.

Daftar Nama Peserta Kursus Spiritualitas Imam Diosesan


24-31 Januari 2014 di Rumah Retret Girisonta Karangjati Ungaran Jawa
Tengah
Diselengarakan oleh Tim OGF UNIO INDONESIA

No
01

Keuskupan
(Agung)
Agats

02

Atambua

03

Atambua

04

Banjarmasin

05

Denpasar

06

Ende

07

Jakarta

08

Jayapura

09

Ketapang

10

Larantuka

11

Malang

Nama lengkap
dan waktu tahbisan
Rm. Linus Dumatubun, Pr
18 November 2012
Rm. Vinsen Manek Mau, Pr
7 Oktober 2002
Rm. Fidelis Sanbein, Pr
1 Oktober 2009
Rm. Johan Susilohadi, Pr
13 Oktober 2010
Rm. Agustinus Sugiyato,
Pr
2 Oktober 1996
Rm. Siprianus Wona, Pr
8 September 1995
Rm. Michael Wisnu Agung,
Pr
18 Agustus 2009
Rm. Andreas Trismadi, Pr
28 April 1996
Rm. Agustinus Sumaryo
4 Agustus 1988
Rm. Antonius Kia Uba, Pr
8 September 1995
Rm. Blasius Tira, Pr

Email/No Hp
081344977845
insanasmkstpiusx@yahoo.c
o.id
081337810522
fidelsanbein@yahoo.com
085360081457
susilohadijohan@yahoo.co.i
d
081392878147
agussugipr@yahoo.com
081339881696
081236577156
rd.michael_amdss@yahoo.c
om
081283813813
081344185922
085250186818
081339335093
08123384235

12

Manado

13

Maumere

14

Manokwari
Sorong

15

Medan

16

Merauke

17

Padang

18

Palangka
Raya

19

Palembang

20

Pangkalpinan
g

21

Purwokerto

22

Semarang

23

Sibolga

24

Sintang

25

Surabaya

26

Tanjungkaran
g

5 Oktober 1989
Rm. Marcel Lintong, Pr
15 Mei 2003
Rm. Efrem Dida, Pr
22 Juli 2001
Rm. Alexius Ate, Pr
4 Agustus 1989

marcel_lintong@yahoo.co.i
d
081340206666
082342737499
081344081501

Rm. Moses Tampubolon, Pr mtampubolon79@gmail.co


19 Januari 2008
m
081362641079
Rm. Sonny Malewawan, Pr 081248640304
2 Mei 2004
Rm. FX. Hardiono, Pr
romofxhardi@gmail.com
4 Januari 1981
081387535123
Rm. Aloysius Gonzaga
gonzaarjon@ymail.com
Arjon, Pr
081349247608
8 Januari 2006
Rm. Dominggus Koro, Pr
dominggusk@gmail.com
14 Januari 2004
081373374620
Rm. Marcel Gabriel, Pr
marcelgpr@yahoo.com
30 Juli 1989
085264560979
Rm. M. Ngarlan, Pr
18 Juli 2001
Rm. Petrus Tri Margana, Pr
11 Juli 2001
Rm. Samuel Gulo, Pr
21 Januari 1998
Rm. Andreas Puan, Pr
22 Oktober 2006
Rm. Y. Eko Budi Susilo, Pr
12 Juli 1990
Rm. Agustinus Sunarto,
YP, Pr
29 Juni1997

mngarlan@gmail.com
085290660243
m3_agape@yahoo.co.id
0817461683
samuel-gulo@yahoo.co.id
081361785359
081345927426
susilo_hky@yahoo.com
0811326383
poenthoek_asyp@yahoo.co
m
081226880044

Pendamping/Pengur
us Unio Indonesia
1

Semarang

Semarang

Semarang

Semarang

Denpasar

Mgr. Blasius Pujaraharjo


8 September 1961
Bp. Vincent Tjahyono
Santosa
Rm. M. Kristiyanto, Pr
5 Juli 1999
Rm. Zahnweh, SJ

uskupktp@yahoo.com
08128786684
0816665827
081213388081
085290562855

Rm. D. G.B. Kusumawanta, dwanta61@gmail.com


Pr
081337033636
Ketua Unio Indonesia

Semarang

Manado

Rm. FX. Sukendar Wignyo,


Pr
12 Agustus 1992
Rm. Terry Ponomban, Pr
16 Januari 1987

kendar64@gmail.com
08122732159
komkatmanado@yahoo.co.i
d
08159396771