Anda di halaman 1dari 19

HASIL DISKUSI SGD 6

PANCASILA SEBAGAI DASAR PENGEMBANGAN ILMU

OLEH :
NI KADEK PRITAYANI

(1402105005)

NI MADE DIAN DARMALINI

(1402105011)

A.A AYU INTAN MURTI N.

(1402105015)

NI PUTU DIAH SUKAYANTI

(1402105017)

NI PUTU IRA FENARANI

(1402105021)

NI WAAN IKA PUSPITASARI

(1402105029)

NI PUTU ANGGI DEWI P.

(1402105031)

I MADE KANTA KARUNA

(1402105034)

LUH GEDE MAS KURNIA W.

(1402105044)

PEITER GIDEON

(1402105061)

NI PUTU PANDE RIRIN ADNYAWATI

(1402105062)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
TAHUN 2015/ 2016

PEMBAHASAN
1.

Penelusuran Pengaruh Pengembangan Iptek yang Tidak Sesuai dengan Nilai-Nilai


Pancasila serta Tawaran Solusi Bagi Pengembangan Iptek yang Sesuai Dengan
Nilai-Nilai Pancasila
a.
Sila Ketuhanan yang Maha Esa, berkaitan dengan segala sesuatu yang berkaitan
dengan pelaksanaan dan penyelenggaraan negara yang menyangkut moral negara,
moral penyelenggara negara, politik negara, pemerintahan negara, hukum dan
peraturan perundang-undangan negara, serta kebebasan hak asasi warga negara
harus dijiwai nilai-nilai Ketuhanan yang Maha Esa. Namun, masih ada
pengembangan iptek yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Ketuhanan yang Maha Esa,
yaitu penggunaan teknologi untuk aksi pengeboman tempat ibadah umat beragama
Kristen di Kepunton, Solo, Jawa Tengah 25 September 2011 dengan motif fanatisme
agama. Sikap fanatisme berlebihan bertentangan dengan sila pertama dan di dukung
b.

pula dengan sikap menganggap agama yang dianutnya adalah yang paling benar.
Pemaknaan dari sila kedua adalah kehidupan bernegara terutama dalam peraturan
perundang-undangan negara harus mewujudkan tercapainya tujuan menjunjung
tinggi harkat dan martabat manusia, terutama hak-hak kodrat manusia sebagai hak
dasar. Contoh perkembangan iptek yang cenderung mengakibatkan terciptanya sikap
saling tidak menghargai antar sesama manusia adalah pada kasus pencemaran nama
baik melalui sosial media yang dilakukan Florence Sihombing terhadap warga
Yogyakarta dengan ungkapan "Jogja Miskin Tolol dan Tak Berbudaya" pada tanggal

c.

15 Januari 2015 lalu.


Sila ketiga memaknai bahwa perbedaan bukanlah untuk diruncingkan menjadi
konflik dan permusuhan melainkan diarahkan pada suatu sintesa yang saling
menguntungkan yaitu persatuan dalam kehidupan bersama untuk mewujudkan
tujuan bersama. Negara mengatasi segala paham golongan, etnis, suku, ras, individu,
maupun golongan agama. Mengatasi berarti bahwa negara memberikan kebebasan
terhadap individu, golongan, suku, maupun golongan agama untuk merealisasikan
seluruh potensinya dalam kehidupan bersama yang bersifat integral. Contoh
penyelewengan penggunaan pemanfaatan iptek di bidang persenjataan adalah pada
kasus konflik TNI dan Polri pada tanggal 30 Agustus 2015 lalu di Sulawesi Barat.

Tindakan ini menyimpang dari pengamalan sila ketiga, karena dapat memicu
d.

maupun melemahkan kesatuan dan persatuan di bidang pertahanan dan keamanan.


Sila keempat mengedepankan masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi azas
musyawarah untuk mencapai mufakat. Dalam sila kempat ini mengandung makna
bahwa suatu pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat dengan cara
musyawarah mufakat melalui lembaga-lembaga perwakilan. Contohnya anggota
DPR dan MPR dalam hal ini adalah wakil rakyat dalam rapat tahunan atau dalam
rapat di senanyan dalam pembentukan undang-undang

selalu ada yang tidak

mendengarkan karena fokus terhadap alat teknologi informasi yang dimiliki seperti
e.

handphone.
Sila kelima memaknai adanya keadilan sosial yang harus menjadi pedoman hidup
masyarakat dalam berperilaku . Contoh kasus yang berhubungan dengan IPTEK dan
menyeleweng dari pengamalan sila ini adalah kasus ditemukan kecurangan pada
pengisian bahan bakar umum oleh Tim Terpadu BBM Kantor Menteri Koordinator
Politik Hukum dan Keamanan pada 228 dari 348 tempat pompa bensin di wilayah
Jakarta. Perilaku kurang bertanggung jawab ini mendukung ketidakadilan secara
sosial di Indonesia karena bukan hanya merugikan pendapatan negara hingga
miliaran rupiah dan penipuan yang merugikan masyarakat. Penggunaan teknologi
dalam pemrosesan BBM ini seharusnya digunakan secara bertanggung jawabb oleh
oknum yang terlibat di dalamnya.
Solusi bagi pengembangan Iptek agar sesuai dengan nilai-nilai Pancasila yaitu
dengan :
Lebih

mendalami

nilai-nilai

Pancasila

dan

melakukan

filter

terhadap

perkembangan IPTEK yang masuk ke negara dan kehidupan masyarakat.


Perlu disadari bahwa nilai-nilai Pancasila menghendaki agar manusia berbuat
yang baik, bukan merusak. Tuntunan sikap terhadap kode etik dan ilmiah saat
menggunakan teknologi seperti mengtutamakan keselamatan dan memanfaatkan
profesionalitas secara bertanggung jawab.
Berpikir positif dan lebih produktif sehingga menghindarkan diri dari pemikiran
untuk memecah belah persatuan.
Ilmuwan, teknisi atau masyarakat yang sedang menggunakan teknologi informasi
harus menjunjung tinggi asas persatuan dalam tugas-tugas profesionalnya.
Kerjasama yang sinergis akan menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi dan
semngat nasionalisme.
Memanfaatkan kemampuan dalam menggunakan teknologi untuk memajukan
negara

Imuwan, teknisi atau masyarakat yang mahir menggunakan teknologi informasi


sebaiknya menggunakan ilmu untuk membangun negara. Seperti menciptakan
sistem informasi manajemen di lembaga pemerintahan untuk menciptakan
keputusan manajemen yang baik dan terstruktur.
2.

Faktor-Faktor Penyebab Memudarnya Nilai-Nilai Pancasila, Seperti Gotong


Royong, Solidaritas, Kinerja dan Produktivitas yang Ditimbulkan oleh Kemajuan
Iptek
Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dewasa ini
mencapai kemajuan pesat sehingga peradaban manusia mengalami perubahan yang
luar biasa. Pengembangan iptek tidak dapat terlepas dari situasi yang melingkupinya,
artinya IPTEK selalu berkembang dalam suatu ruang budaya. .
Di era globalisasi sekarang ini, seluruh aspek kehidupan yang serba terbuka
tanpa terkendali dan kurangnya filterisasi serta kondisi masyarakat yang belum siap
mengakibatkan masyarakat Indonesia terbawa arus kebebasan yang lebih berorientasi
pada individualisme dan materialisme serta mulai melupakan kegiatan-kegiatan
gotong royong yang terdapat dalam budaya lokal. Oleh karena itu, perlu
mentransformasi nilai-nilai kearifan lokal untuk pembangunan karakter bangsa agar
bangsa

Indonesia

mampu

mempertahankan

budaya

bangsa,

serta

mampu

melaksanakan musyawarah mufakat, kerja sama atau gotong royong sebagai upaya
mempertahankan warisan budaya tersebut.
Namun seiring berjalannya iptek yang semakin mengglobalisasi ini rasa
gotong royong dan solidaritas khususnya Warga Negara Indonesia ini sudah semakin
memudar dan perlahan-lahan semakin hilang dikarenakan masyarakatnya sendiri lebih
memilih dan memikirkan ego dan kepentingan dirinya masing-masing tanpa
memikirkan kepentingan bersama, contoh yang ada saat ini yaitu masih banyaknya
masyarakat yang lebih mementingkan kepentingan pribadinya daripada kepentingan
bersama dan juga dapat dilihat di golongan generasi muda saat ini masih bergantung
dengan alat elektronik yang sangat canggih yang di kenal dengan gadget yang seakanakan selalu menghipnotis kalangan remaja sehingga mereka tak terlalu ambil pusing
mengenai pentingnya nilai-nilai budaya dan mengenai apa yang akan terjadi di
lingkungan sekitarnya. Itu merupakan hal yang terpenting yang membuat perpecahan
antar Bangsa dan Negara yang disebabkan oleh warga negaranya sendiri. Sehingga
iptek yang berkembang saat ini mampu membuat seluruh warga negaranya menjadi
tidak mengenal akan budaya aslinya.

3.

Nilai-Nilai Kearifan Lokal yang Masih Bertahan dalam Kehidupan Masyarakat di


Sekitar dalam Perkembangan Iptek
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, keafiran lokal terdiri dari dua kata, yaitu
kearifan dan lokal. Kearifan artinya bijaksana, sedangkan lokal artinya setempat. Dengan
demikian pengertian kearifan lokal menurut tinjauan Kamus Besar Bahasa Indonesia
merupakan gagasan-gagasan atau nilai-nilai setempat yang bersifat bijaksana, penuh
kearifan, bernilai baik yang tertanam, dan diikuti oleh anggota masyarakatnya di tempat
tersebut. Kearifan lokal terbentuk sebagai keunggulan budaya masyarakat setempat
maupun kondisi geografis dalam arti luas. Kearifan lokal merupakan produk budaya
masa lalu yang patut secara terus-menerus dijadikan pegangan hidup. Meskipun bernilai
lokal tetapi nilai yang terkandung di dalamnya dianggap sangat universal.
Kearifan lokal yang masih bertahan di era perkembangan IPTEK saat ini contohnya :
Wayang kulit yang dapat bertahan hidup sampai sekarang bahkan diakui sebagai
kekayaan budaya dunia karena paling tidak memiliki nilai edipeni (estetis) adiluhung
(etis) yang melahirkan kearifan masyarakat. Bahkan cerita wayang merupakan
pencerminan kehidupan masyarakat sehari-hari. Dalam pertunjukan wayang bergabung
keindahan seni sastra, seni musik, seni suara, seni sungging dan ajaran mistik yang
bersumber dari agama-agama
Budaya Sangkep di Bali
Meskipun kemajuan IPTEK saat ini telah menciptakan alat komunikasi yang dapat
berkomunikasi tanpa tatap muka, namun budaya sangkep atau paruman di Bali masih
tetap bertahan sebagai kegiatan berkumpul untuk bermusyawarah untuk mengambil
keputusan yang mufakat.
Kearifan lokal ngayah di Pura dan tempat upacara
Perkembangan iptek saat ini telah banyak mempengaruhi masyarakat untuk hidup secara
instan dan mendapatkan segala sesuatu dengan membeli. Namun, hal itu tidak
memudarkan tradisi ngayah di Pura bagi masyarakat Bali. Untuk menjaga solidaritas dan
rasa menyama braya masyarakat Bali tetap menyempatkan waktu untuk berkumpul
membantu sesama disaat ada upacara atau kegiatan-kegiatan keagamaan.
Walaupun masih ada nilai-nilai kearifan lokal yang masih bertahan, tetap dibutuhkan
suatu usaha untuk menjaganya agar tetap berkembang dalam masyarakat. Usaha tersebut
harus disertai dengan kesadaran akan peranan kearifan lokal yang sangat penting di
dalam menghadapi permasalahan. Pendidikan dan media elektronik merupakan sarana
dalam proses pembelajaran ditanamkan nilai-nilai. Dalam memberdayakan kearifan
lokal. Oka Sudana di dalam penelitiannya mengungkap beberapa penerapan teknologi
dalam kearifan lokal budaya Bali, antara lain :

1.

Games terkait Budaya Bali dan Agama Hindu. Beberapa topik games yang telah
dikerjakan di antaranya :
a. Game Edukasi Lawar Bali pada Platform Android.
b. Game Edukasi Nanding Canang pada Platform Android.
c. Game Edukasi Nanding Pejati pada Platform Android.
d. Game Edukasi Ngulat Tipat pada Platform Android.
e. Game Petualangan dan Pertarungan berbasis Wira Carita Mahabarata dan
Ramayana.

2.

Aplikasi pembelajaran berbasis video dan animasi 3 dimensi terkait Budaya Bali dan
Agama Hindu.
a.

Aplikasi pembelajaran pembuatan Banten Pejati berbasis Animasi 3 Dimensi.

b.

Aplikasi pembelajaran pembuatan Banten Otonan berbasis Animasi 3 Dimensi.

c.

Aplikasi pembelajaran pembuatan Eteh-eteh Nyiramin Layon berbasis Animasi


3 Dimensi.

3.

d.

Aplikasi pembelajaran Prosesi Nyiraman Layon berbasis Animasi 3 Dimensi.

e.

Aplikasi pembelajaran pembuatan Lawar berbasis Animasi 3 Dimensi.

f.

Virtual Reality Pembelajaran Pembuatan Babi Guling.

Sistem-sistem terkait pengenalan Aksara Bali, Converter Aksara Bali, penterjemah


Bahasa Bali, Text Mining dan Text to Speech Bahasa Bali.

4.

Sistem-sistem berbasis komputer terkait dengan Bangunan Tradisional Bali,


ornamen ukiran, dan model seni rupa.

5.

Sistem-sistem yang didukung konsep Geografic Information System (GIS) baik


yang personal maupun WebGIS juga dikembangkan terutama terkait dengan Pura
(beserta detail Purananya) dan obyek pariwisata.

4.

Informasi Tentang Peran Pancasila Sebagai Paradigma Ilmu Bagi Disiplin Ilmu
Dengan Merinci Setiap Sila Ke dalam Kebijakan Ilmu dan Landasan Etika Bagi
Pengembangan Ilmu, serta Menggali Informasi yang Terkait dengan Dampak
Negatif Pengembangan Iptek yang Merugikan Masyarakat, dan Hal Positif serta
Negatif dalam Pengembangan Iptek
Berbagai fungsi Pancasila dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan
bernegara, maka saat ini akan diuraikan bagaimana fungsi Pancasila secara khusus
dalam profesi keperawatan. Profesi keperawatan Indonesia dibangun berdasarkan
pada suatu landasan atau pijakan yaitu Pancasila. Pancasila, dalam fungsinya sebagai
dasar negara, merupakan sumber kaidah hukum yang mengatur negara Republik
Indonesia, termasuk di dalamnya adalah profesi keperawatan.

Pancasila dalam kedudukannya merupakan dasar pijakan penyelenggaraan


profesi keperawatan dan seluruh kehidupan perawat sebagai warga profesi
keperawatan Indonesia. Pancasila sebagai dasar profesi keperawatan mempunyai arti
menjadikan Pancasila sebagai dasar untuk mengatur penyelenggaraan profesi
keperawatan. Konsekuensinya adalah Pancasila merupakan sumber dari segala
sumber hukum profesi keperawatan. Pancasila sebagai dasar profesi keperawatan
Indonesia mempunyai implikasi bahwa Pancasila terikat oleh suatu kekuatan secara
hukum, terikat oleh struktur kekuasaan secara formal, dan meliputi suasana kebatinan
atau cita-cita profesi yang men-guasai seluruh warga profesi keperawatan.
Selanjutnya dalam melaksanakan peran dan fungsinya, perawat sebagai profesi
senantiasa berusaha memujudkan nilai-nilai Pancasila dalam setiap asuhan
keperawatan yang dilakukannya.
1. Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung arti adanya pengakuan dan
keyakinan profesi keperawatan terhadap adanya Tuhan sebagai pencipta alam
semesta. Dengan nilai ini menyatakan profesi keperawatan merupakan
profesi yang religi-us bukan profesi yang ateis. Nilai Ketuhanan juga
memiliki arti adanya pengakuan akan kebebasan untuk memeluk agama,
menghormati kemerdekaan beragama, tidak ada paksaan serta tidak berlaku
diskriminatif antar umat beragama. Dalam melakukan asuhan keperawatan,
perawat mengakui keyakinan dan kepercayaan klien, dan perawat
berkewajiban membantu klien dalam memenuhi kebutuhan spiritualnya tanpa
melakukan diskriminatif terhadap klien yang berbeda agama. Hal ini
dilakukan perawat baik terhadap klien yang masih memerlukan perawatan
maupun klien yang menjelang ajal, maupun perawatan jenasah.
2. Nilai kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung arti kesadaran, sikap
dan perilaku perawat harus sesuai dengan nilai-nilai moral dalam hidup
bersama atas dasar tuntutan hati nurani dengan memperlakukan sesuatu hal
sebagaimana mestinya. Dalam menjalankan perannya perawat akan
berhadapan dengan klien yang berasal dari berbagai budaya, social ekonomi,
dan pen-didikan. Dalam hal ini perawat harus berusaha memperlakukan
siapapun klien yang dihadapi dengan professional tanpa mengurangi kualitas
sedikitpun.
3. Nilai persatuan Indonesia mengandung makna usaha kearah bersatu da-lam
profesionalisasi keperawatan untuk membina rasa nasionalisme dalam
profesi keperawatan Indonesia. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

mengakui dan menghargai sepenuhnya terhadap keanekaragaman yang dimiliki oleh warga perawat Indonesia baik dalam tingkat pendidikan maupun
kedudukan.
4. Nilai kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan mengandung makna bahwa dalam melakukan
asuhan keperawatan, perawat harus berkolaborasi dengan sejawat, profesi
lain, maupun dengan klien dan keluarganya. Dalam mengambil suatu
keputusan un-tuk melakukan tindakan perawat akan senantiasa menghormati
keputusan klien. Hal ini telah ditulis dan diucapkan dalam sumpah Profesi
Perawat.
5. Nilai keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia mengandung makna
sebagai dasar sekaligus tujuan,yaitu tercapainya kesehatan untuk seluruh
masyarakat Indonesia (health for all)yang meliputi kesehatan bio psiko social
maupun spiritual. Selain hal tersebut salah satu ciri profesi keperawatan
adalah motivasi yang bersifat altruistik, yaitu bahwa dalam melaksanakan
peran dan fungsinya perawat selalu mementingkan kepentingan masyarakat
secara umum.
Dewasa ini IPTEK telah berkembang pesat dalam lapisan masyarakat. Hal
tersebut mendukung berbagai peranan serta dampak IPTEK dalam berbagai bidang,
seperti Bidang Ekonomi, Sosial, dan Budaya.
1. Bidang Ekonomi
Pada bidang ekonomi, kemajuan IPTEK dapat dirasakan, hal ini terbukti
karena saat ini banyak orang-orang yang kehidupannya makin sejahtera berkat
usahanya dalam bidang IPTEK.
Dampak positif dari IPTEK dalam bidang Ekonomi :

Pertumbuhan Ekonomi yang Semakin Tinggi

Terjadinya Industrialisasi

Produktifitas dunia industri semakin meningkat. Kemajuan teknologi, akan


meningkatkan baik dari teknologi industri maupun pada aspek jenis produksi.
investasi dan reinvestasi berlangsung secara besar-besaran, sehingga
produktivitas dunia ekonomi semakin meningkat. Di masa depan, akan segera
muncul teknologi bisnisyang memungkinkan konsumen melakukan kontak

langsung dengan pabrik. Jadi, kita tidak perlu lagi pergi ke toko untuk
membeli barang tersebut.

Persaingan dalam dunia kerja, akan menuntut pekerja untuk selalu menambah
skill dan pengetahuan yang dimiliki. Kualifikasi tenaga kerja dan jumlah
tenaga kerja yang dibutuhkan akan mengalami perubahan yang cepat.
akibatnya, pendidikan yang diperlukan adalah pendidikan yang menghasilkan
tenaga kerja yang mampu mentransformasikan pengetahuan dan skill sesuai
dengan tuntutan tenaga kerja.

Mampu menjadikan produk kedokteran menjadi komoditri

Dan, dampak negatifnya, antara lain :

Terbukanya pasar bebas, memungkinkan produk luar negeri masuk dengan


mudahnya. Dengan banyaknya produk luar negeri yang masuk dan dengan
harga yang lebih murah, dapat mengurangi rasa kecintaan kita terhadap produk
dalam negeri.

Terjadinya pengangguran bagi individu yang tidak memiliki skill dan


kualifikasi sesuai dengan yang dibutuhkan

Sifat konsumtif sebagai akibat kompetisi yang ketat pada era globalisasi akan
melahirkan generasi yang secara moral mengalami kemerosotan. Misalnya :
konsumtif, boros dan memiliki jalan pintas yang bermental instant.

Apabila tidak update dengan IPTEK yang semakin maju, kita akan
dipermainkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang sangat
ahli dibidangnya (misalnya : hacker)

2. Bidang Sosial
Kehidupan sosial dipengaruhi oleh kemajuan teknologi. Kebutuhan manusia
akan pangan sangat dipengaruhi oleh kemajuan teknologi dalam bidang pertanian.
Sedangkan kebutuhan akan komunikasi dipengaruhi oleh teknologinya, seperti
media cetak, media elektronik selain untuk berkomunikasi, juga dapat
memperluas wawasan.
Makin berkembangnya teknologi menyebabkan industri memproduksi barang
secara massal juga meningkat. Tetapi sering kali juga dimanfaatkan untuk

kepentingan yang negatif seperti peniruan atau pemalsusan merek dagang dan
sebagainnya. Kian majunya masyarakat yang dibarengi dengan peningkatan
jumlah penduduk, menyebabkan manusia sering kehilangan nilai etisnya dan
mudah melakukan tindakan yang tercela dan melanggar hukum.
Dampak Positif :

Meningkatkan rasa percaya diri kemajuan ekonomi di negara-negara Asia


melahirkan fenomena yang menarik. Perkembangan dan kemajuan ekonomi
telah meningkatkan rasa percaya diri dan ketahanan diri sebagai suatu bangsa
akan semakin kokoh. Bangsa-bangsa Barat tidak lagi melecehkan bangsabangsa di Asia.

Tekanan, kompetisi yang tajam, di pelbagai aspek kehidupan sebagai


konsekuensi globalisasi, akan melahirkan generasi yang disiplin, tekun, dan
pekerja keras.

keefektifan biaya dan waktu. Misalnya saat mengajar, kini telah ada teknologi
pembelajaran secara online, jadi guru atau dosen tidak perlu repot untuk
datang ke sekolah atau kampus, cukup menerangkan pelajaran lewat media
internet kepada anak muridnya.

Masyarakat tidak perlu lagi membeli koran untuk mengetahui informasi


mengenai berita, cukup dengan membuka internet, kita sudah dapat membaca
berita melalui media online, dan tidak mengeluarkan biaya.

Dampak Negatifnya :

Kenakalan dan tindak penyimpangan dikalangan remaja dengan mengakses


situs porno, dan oknum-oknum yang menggunakan media facebook, twitter,
dll sebagai media porstitusi yang sudah jelas dapat merusak moral para
generasi muda.

Melemahkan rasa gotong-royong dan saling tolong-menolong yang menjadi


ciri khas masyarakat Indonesia.

Manusia menjadi malas. Karena telah dimanjakan oleh teknologi, sehingga


kita tidak perlu repot bertemu dengan seseorang. Dengan teknologi, kita tetap
dapat bertatap muka meskipun tidak bertemu dengan orang tersebut.

3. Bidang Budaya
Budaya atau kebudayaan adalah kerangka acuan bagi perilaku masyarakat
pendukungnya

yang

berupa nilai-nilai

(kebenaran,

keindahan, keadilan,

kemanusiaan, dll) yang berpengaruh sebagai kerangka untuk membentuk


pandangan hidup manusia yang relatif menetap dan dapat dilihat dari warga
budaya itu untuk menentukan sikapnya terhadap berbagai gejala dan peristiwa
kehidupan.
Jadi, bagaimana IPTEK mempengaruhi masyarakat dalam kebudayaan, itu
semua tergantung pada diri masyarakatnya sendiri. Masyarakat harus selektif dan
dapat bersifat kritis terhadap perkembangan IPTEK yang semakin pesat.
Hendaknya kita menggunakan teknologi tersebut seperlu dan sepentingnya kita
saja, jangan karena teknologi, semua menjadi terlupakan, baik itu waktu,
kewajiban beribadah, sosialisasi di masyarakat sekitar, dll.
Dampak Positif :

Semakin berkembangnya daya pikir individu dalam suatu bidang, baik dari
segi ekonomi, politik, pendidikan, dan lain sebagainya.

Kemampuan individu dalam mencari dan mengumpulkan data untuk bahan


diskusi dapat mereka dapatkan dengan cepat dan akurat melalui media
berbasis teknologi.

Dampak Negatif :

Penyalahgunaan media teknologi sebagai sarana pencarian yang tidak ada


hubungannya dengan ilmu pengetahuan. Haltersebut dapat membentuk
kebudayaan yang rendah akan moral dan sumber daya manusia yang bobrok
dan tak berkualitas sedikitpun.

5.

Membandingkan Pandangan Kepala Negara Sejak Soekarno, Soeharto, Habibie


Hingga Susilo Bambang Yudhoyono Tentang Peran Nilai Budaya dan Kemanusiaan
dalam Pengembangan Iptek
Sumber politis Pancasila sebagai dasar nilai pengembangan ilmu di Indonesia
dapat dirunut ke dalam berbagai kebijakan yang dilakukan oleh para penyelenggara
negara. Dokumen pada masa Orde Lama yang meletakkan Pancasila sebagai dasar
nilai pengembangan atau orientasi ilmu, antara lain dapat dilihat dari pidato Soekarno

ketika menerima gelar Doctor Honoris Causa di UGM pada 19 September 1951,
mengungkapkan hal sebagai berikut.
Bagi saya, ilmu pengetahuan hanyalah berharga penuh jika ia dipergunakan untuk
mengabdi kepada praktik hidup manusia, atau praktiknya bangsa, atau praktiknya
hidup dunia kemanusiaan. Memang sejak muda, saya ingin mengabdi kepada praktik
hidup manusia, bangsa, dan dunia kemanusiaan itu. Itulah sebabnya saya selalu
mencoba menghubungkan ilmu dengan amal, menghubungkan pengetahuan dengan
perbuatan sehingga pengetahuan ialah untuk perbuatan, dan perbuatan dipimpin oleh
pengetahuan. Ilmu dan amal harus wahyu-mewahyui satu sama lain. Buatlah ilmu
berdwitunggal dengan amal. Malahan, angkatlah derajat kemahasiswaanmu itu
kepada derajat mahasiswa patriot yang sekarang mencari ilmu, untuk kemudian
beramal terus menerus di wajah ibu pertiwi (Ketut, 2011).
Dengan demikian, Pancasila sebagai dasar nilai pengembangan ilmu pada
zaman Orde Lama belum secara eksplisit dikemukakan, tetapi oleh Soekarno
dikaitkan langsung dengan dimensi kemanusiaan dan hubungan antara ilmu dan amal.
Selanjutnya, pidato Soekarno pada Akademi Pembangunan Nasional di Yogyakarta,
18 Maret 1962, mengatakan hal sebagai berikut.
Ilmu pengetahuan itu adalah malahan suatu syarat mutlak pula, tetapi kataku tadi,
lebih daripada itu, dus lebih mutlak daripada itu adalah suatuhal lain, satu dasar. Dan
yang dimaksud dengan perkataan dasar, yaitu karakter. Karakter adalah lebih penting
daripada ilmu pengetahuan.Ilmu pengetahuan tetap adalah suatu syarat mutlak. Tanpa
karakter yang gilang gemilang, orang tidak dapat membantu kepada pembangunan
nasional, oleh karena itu pembangunan nasional itu sebenranya adalah suatu hal yang
berlangit sangat tinggi, dan berakar amat dalam sekali. Berakar amat dalam sekali,
oleh karena akarnya itu harus sampai kepada inti-inti daripada segenap cita-cita dan
perasaan-perasaan dan gandrungangandrungan rakyat (Soekarno, 1962).
Pidato Soekarno di atas juga tidak mengaitkan dengan Pancasila, tetapi lebih
mengaitkan dengan karakter, yakni kepercayaan yang sesuai dengan nilai-nilai
Pancasila.

Pada zaman Orde Baru, presiden Soeharto menyinggung masalah Pancasila


sebagai dasar nilai pengembangan ilmu ketika memberikan sambutan pada Kongres
Pengetahuan Nasional IV, 18 September 1986 di Jakarta sebagai berikut.
Ilmu pengetahuan dan teknologi harus diabdikan kepada manusia dan kemanusiaan,
harus dapat memberi jalan bagi peningkatan martabat manusia dan kemanusiaan.
Dalam ruang lingkup nasional, ilmu pengetahuan dan teknologi yang ingin kita kuasai
dan perlu kita kembangkan haruslah ilmu pengetahuan dan teknologi yang bisa
memberi dukungan kepada kemajuan pembangunan nasional kita. Betapapun
besarnya kemampuan ilmiah dan teknologi kita dan betapapun suatu karya ilmiah kita
mendapat tempat terhormat pada tingkat dunia, tetapi apabila kemampuan ilmu
pengetahuan dan teknologi itu tidak dapat membantu memecahkan masalah-masalah
pembangunan kita, maka jelas hal itu merupakan kepincangan, bahkan suatu
kekurangan dalam penyelenggaraan ilmu pengetahuan dan teknologi (Soeharto,
1986: 4).
Demikian pula halnya dengan zaman Orde Baru, meskipun Pancasila
diterapkan sebagai satu-satunya asas organisasi politik dan kemasyarakatan, tetapi
penegasan tentang Pancasila sebagai dasar nilai pengembangan ilmu di Indonesia
belum diungkapkan secara tegas. Penekanannya hanya pada iptek harus diabdikan
kepada manusia dan kemanusiaan sehingga dapat memberi jalan bagi peningkatan
martabat manusia dan kemanusiaan.
Pada era Reformasi, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutan
pada acara silaturrahim dengan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dan
masyarakat ilmiah, 20 Januari 2010 di Serpong. SBY menegaskan sebagai berikut.
Setiap negara mempunyai sistem inovasi nasional dengan corak yang berbeda dan
khas, yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisinya masingmasing. Saya
berpendapat, di Indonesia, kita juga harus mengembangkan sistem inovasi nasional,
yang didasarkan pada suatu kemitraan antara pemerintah, komunitas ilmuwan dan
swasta, dan dengan berkolaborasi dengan dunia internasional. Oleh karena itu,
berkaitan dengan pandangan ini dalam waktu dekat saya akan membentuk komite
inovasi nasional, yang langsung bertanggungjawab kepada presiden, untuk ikut
memastikan bahwa sistem inovasi nasional dapat berkembang dan berjalan dengan
baik. Semua ini penting kalau kita sungguh ingin Indonesia menjadi knowledge

society.strategi yang kita tempuh untuk menjadi negara maju, developed country,
adalah dengan memadukan pendekatan sumber daya alam, iptek, dan budaya atau
knowledge based, Resource based and culture based development (Yudhoyono,
2010).
Habibie dalam pidato 1 Juni 2011 menegaskan bahwa penjabaran Pancasila
sebagai dasar nilai dalam berbagai kebijakan penyelenggaraan Negara merupakan
suatu upaya untuk mengaktualisasikan Pancasila dalam kehidupan (Habibie, 2011: 6).
Berdasarkan pemaparan isi pidato para penyelenggara negara tersebut, maka
dapat disimpulkan bahwa sumber politis dari Pancasila sebagai dasar nilai
pengembangan iptek lebih bersifat apologis karena hanya memberikan dorongan
kepada kaum intelektual untuk menjabarkan nilai-nilai Pancasila lebih lanjut.
Dapat dibandingkan bahwa pandangan Soekarno dan Soeharto lebih
menekankan dalam bidang kemanusiaan. Dilihat dari pidato beliau lebih mengangkat
derajat mahasiswa untuk mencari ilmu agar dapat mendukung kemajuan
pembangunan pengembangan ilmu. Pandangan Susilo Bambang Yudhoyono
menekankan dalam bidang budaya sedangkan BJ.Habibie menekankan bidang
keduanya yaitu bidang kemanusian dan bidang budaya.

6.

Peran Nilai-nilai Pancasila Sebagai Dasar Nilai Pengembangan Ilmu di Indonesia


Peran nilai-nilai dalam setiap Sila Pancasila sebagai dasar nilai pengembangan ilmu di
Indonesia adalah :
a) Nilai Ketuhanan dalam Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
Dalam Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, tidak memberikan ruang sedikitpun
bagi faham Ateisme, Fundamentalisme, dan Ekstrimisme Keagamaan,
Sekularisme keilmuan, Antroposentrisme dan Kosmosentrisme. Sehingga jelas
yang dimaksud dengan Ketuhanan Yang Maha Esa adalah, keyakinan dan
pengakuan yang diwujudkan dalam bentuk perbuatan terhadap suatu zat Yang
Maha Tunggal tiada duanya yang Sempurna sebagai Penyebab Pertama.
Dalam Sila Ketuhanan Yang Maha Esa ini juga menempatkan manusia dalam
alam sebagai bagiannya dan bukan sebagai pusatnya. Sila Ketuhanan Yang

Maha Esa ini juga melengkapi ilmu pengetahuan menciptakan perimbangan


antara yang rasional dan irasional, antara akal dan fikiran.
b) Nilai Kemanusiaan dalam Sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
Pengembangan Ilmu harus didasari pada tujuan awal ditemukan ilmu atau
fungsinya

semula, yaitu

untuk mencerdaskan, mensejahterakan, dan

memartabatkan manusia, ilmu tidak hanya untuk kelompok dan lapisan


tertentu. Untuk itu, maka Sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab memberi
arah dan pengendalian Ilmu Pengetahuan. Keadilan yang dimaksud adalah
keadilan yang benar bukan Keadilan yang tidak berlandaskan pada kebenaran.
c) Nilai Persatuan dalam Sila Persatuan Indonesia
Solidaritas pada Subsistem sangat penting untuk kelangsungan keseluruhan
individualitas, tetapi tidak mengganggu integrasi. Nilai Persatuan dalam Sila
Persatuan Indonesia, esensinya adalah pengakuan Kebhinekaan dalam
Persatuan: Koeksistensi, Kohesivitas, Kesetaraan, Kekeluargaan, Supremasi
Hukum.

Sila

Persatuan

Indonesia

juga

memiliki

nilai

yang

mengkomplementasikan universalisme dalam sila-sila yang lain, sehingga


supra sistem tidak mengabaikan sistem dan sub sistem.
d) Nilai Kerakyatan dalam Sila Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat
Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan / Perwakilan
Eksperimentasi penerapan dan penyebaran Ilmu

Pengehatuan

harus

demokratis dapat dimusyawarahkan secara perwakilan, sejak dari kebijakan,


penelitian, dan penerapan masal. Nilai Kerakyatan dalam Sila ke 4 ini
esensinya adalah menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi yang berkeadaban.
Tidak memberi ruang bagi egoisme keilmuan (puritanisme, otonomi
keilmuan), liberalisme dan individualism dalam konteks kehidupan. Nilai
Kerakyatan dalam Sila ke 4 (empat) ini juga mengimbangi otodinamika ilmu
pengetahuan dan teknologi berevolusi sendiri dengan leluasa.
e) Nilai Keadilan dalam Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Menekankan ketiga keadilan Aristoteles: keadilan distributif, keadilan
kontributif,

dan

keseimbangan
kepentingan

keadilan

kepentingan
individu

tidak

komulatif.
antara
boleh

Keadilan

sosial

juga

individu

dan

masyarakat,

terinjak

oleh

kepentingan

menjaga
karena
semu.

Individualitas merupakan landasan yang memungkinkan timbulnya kreativitas


dan inovasi. Dalam arti lain, keadilan bermakna melindungi dan membantu
yang tidak berdaya, tidak ada rasa cemburu sosial yang tinggi karena tidak ada

kelompok tertentu diberlakukan istimewa yang didasarkan atas norma-norma


yang berlaku dalam masyarakat.
7.

Nilai-Nilai Kapitalisme, Globalisme, dan Konsumerisme yang Tumbuh dan


Berkembang, Setujukah Anda dengan Perkembangan Nilai-Nilai Tersebut,
Dampaknya Bagi Masyarakat dan Nilai Pancasila
a. Kapitalisme sebagai nilai yang menguasai perekonomian dunia, termasuk
Indonesia. Kapitalisme cenderung memihak kepada kepentingan pemilik modal
dan dominansi investor usahanya dalam rangka meraih keuntungan sebesarbesarnya Akibatnya, ruang bagi penerapan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar
pengembangan ilmu menjadi terbatas dan menjadi ancaman bagi nilai-nilai
Pancasila karena akan menyebabkan tumbuhnya monopoli dan meletakan
kebebasan individual.
b. Globalisasi membawa dampak besar tehadap perubahan dan perkembangan
kehidupan masyarakat. Globalisasi ini berpengaruh terhadap kebudayaan daerah,
yang tentu saja tidak bersifat statis, namun kebudayaan tersebut dinamis berubah
mengikuti perkembangan zaman seiring adanya perubahan pola perilaku
masyarakat. Di kelurahan Kuta merupakan daerah tujuan wisata yang sangat
terkenal baik di dalam negeri maupun mancanegara, yang merupakan daerah
urban yang terdapat di pusat pariwisata Kabupaten Badung yang telah terbawa
arus globalisasi yang diriingi oleh pariwisata. Munculnya eksistensi komunitas
lesbian di Kelurahan Kuta sebagai bentuk perlawanan yang lahir dari masyarakat
yang terpinggirkan dengan kondisi masyarakat urban. Komunitas ini sebagai
simbol perlawanan dan eksistensi mereka dalam menunjukkan simbol kebebasan
dari segala macam aturan dan norma ke-Timuran yang serba mengikat. Mereka
mencoba melepaskan diri dari suatu bentuk kemapanan, identitas sosial. Mereka
ingin menampilkan sesuatu yang baru dan lain yang diyakini sebagai sebuah gaya
hidup. Ini membuktikan bahwa nilai-nilai globalisasi telah berkembang di
masyarakat daerah Bali.
c. Nilai-nilai budaya konsumerisme terutama muncul setelah masa industrialisme
ketika barang-barang mulai diproduksi secara massal sehingga membutuhkan
konsumen lebih luas. Masyarakat Bali dominan memiliki keinginan untuk
memiliki apa yang diinginkan atau pun mengikuti gaya yang modern sesuai

penghasilannya tanpa harus mengorbankan kebutuhan lainnya. Ditemukan


beberapacontoh dan fakta pengamatan saat peneliti berada di lokasi yaitu mulai
dari hobby belanja di mall, jajan di Mc Donald, model pakaian, perhiasan dan
aksesoris lainnya yang mereka gunakan seakan-akan terbawa oleh pengaruh
perkembangan masyarakat kota yang sebenarnya, tak luput juga alat komunikasi
hand phone, kendaraan dan gaya rambut selalu berubah-ubah mengikuti
perkembangan yang mereka lihat dan saksikan dari berbagai media massa maupun
elektronik khususnya televisi.

DAFTAR PUSTAKA
Kaelan. 2010. Pendidikan Pancasila. Yogyakarta : Paradigma.
Liputan 6 News. 2006. Kecurangan di Pom Bensin Perlu Dicermati. Diupload pada link :
http://news.liputan6.com/read/126671/kecurangan-di-pom-bensin-perlu-dicermati pada
tanggal 23 September 2015.
Merdeka News. 2015. TNI Tewas Dibedil Polisi, Tentara Bawa Senjata Api Mau Balas
Dendam. Diupload pada link : http://www.merdeka.com/peristiwa/tni-tewas-dibedilpolisi-tentara-bawa-senjata-api-mau-balas-dendam.html pada tanggal 23 September
2015.
Sindo News. 2015. Sidang Florence, Ahli Bahasa Sebut Flo Menghina Warga Yogya. Di
upload pada link : http://daerah.sindonews.com/read/951184/22/sidang-florence-ahlibahasa-sebut-flo-menghina-warga-yogya-1421321735 pada tanggal 233 September
2015.
Sudana, Oka. 2015. Jelajah Implementasi Teknologi Informasi dalam Bidang Budaya Bali
dan Agama Hindu. Di upload pada link : https://www.unud.ac.id/in/berita91-JelajahImplemetasi-Teknologi-Informasi--dalam-Bidang-Budaya-Bali-dan-Agama-Hindu.html
pada tanggal 23 September 2015.
Tempo Nasional. 2011. Jihad, Motif Bom Bunuh Diri di Gereja Kepunton. Di upload pada
link

http://nasional.tempo.co/read/news/2011/09/27/078358483/jihad-motif-bom-

bunuh-diri-di-gereja-kepunton pada tanggal 23 September 2015.


Utami, Mei. 2014. Kearifan Lokal Yang Diterapkan Dalam Hubungan Manusia Dan
Lingkungan. Di upload pada link : http://meibxd-fst12.web.unair.ac.id/artikel_detail112618-Tugas%20Kuliah

KEARIFAN%20LOKAL%20YANG%20DITERAPKAN

%20DALAM%20HUBUNGAN%20MANUSIA%20DAN%20LINGKUNGAN.html
pada tanggal 23 September 2015.
Rosidi. 2011. NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL (LOCAL GENIUS) SEBAGAI PENGUAT
KARAKTER BANGSA. file:///C:/Users/USER/Downloads/nilai-nilai-kearifan-lokallocal-genius-sebagai-penguat-karakter-bangsa-studi-empiris-tentang-huyula
%20(2).pdf. Diakses tanggal 23 september 2015
Muladi. 2006. MENGAPA PANCASILA MENJADI DASAR NILAI PENGEMBANGAN ILMU.
file:///C:/Users/USER/Downloads/BAB%20VII%20.pdf. Diakses pada tanggal 23
september 2015

Abdurahman,

Muhamadiman.

2012.

Mata

Kuliah

Pancasila

Bab

VII.

http://kuliahdaring.dikti.go.id/materiterbuka/open/dikti/Mata%20Kuliah%20MKU/pdf
%20w%20PANCASILA/BAB%20VII.pdf diakses pada tanggal 23 September 2015
Soemowinoto, S. 2008. Pengantar Filsafat Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
Dra. Hj. Mimin Emi Suhaemi. 2004. Etika Keperawatan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran
EGC
Pitana, I Gde. 1994. Dinamika Masyarakat dan Kebudayaan Bali. Denpasar: Offset BP.
Profil Kelurahan Kuta tahun 2008.
Sarlito. 1997. Gaya Hidup Kawula Muda Masa Kini (tesis). Denpasar. Universitas Udayana
Alfathri Aldin, 2006,Resistensi Gaya Hidup: Teori dan Realitas,Yogyakarta:Jalasutra
Heryanto, Januar, 2004, Pergeseran Nilai dan Konsumerisme di Tengah Krisis Ekonomi
Indonesia,Jakarta, NIRMANA Vol. 6, No. 1, 52-62

Anda mungkin juga menyukai