Anda di halaman 1dari 19

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur pada Tuhan yang Maha Esa kami panjatkan atas semua berkat dan
penyertaanNya dalam pembuatan referat Moluskum Kontagiosum ini sehingga kami dapat
menyelesaikannya tepat waktu.
Terima kasih kami ucapkan kepada dr. Mahdar Johan. Sp.KK selaku pembimbing referat ini
karena atas bimbingannya, kami dapat menyelesaikan dan referat ini dengan lebih baik.
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang turut berperan baik
langsung maupun tidak langsung selama proses pembuatan dan penyusunan referat ini.
Kami menyadari pembuatan referat ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu, kami
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari semua pihak untuk perbaikan di masa
mendatang.
Semoga referat ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Selamat membaca dan terima kasih.

Jakarta, 24 Agustus 2013

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ...........1
DAFTAR ISI ............2
DAFTAR TABEL ..............................................................................................................,.......3
DAFTAR GAMBAR ...............4
BAB I. PENDAHULUAN ............,,.....5
BAB II. PEMBAHASAN ..........................................................................................................6
2.1 Definisi.......................6
2.2 Epidemiologi .........................................6
2.3 Etiologi dan Patogenesis.........................7
2.4 Gejala Klinis......................................8
2.5 Diagnosis..9
2.6 Tatalaksana..................................................................10
2.7 Edukasi ..15
2.8 Pencegahan ....16
BAB III. KESIMPULAN DAN SARAN...17
DAFTAR PUSTAKA ........................18

DAFTAR TABEL
Tabel 1. Pengobatan Moluskum Kontagiosum....14

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Ukuran Lesi Moluskum Kontagiosum.8
Gambar 2. Lesi Moluskum Kontagiosum...9
Gambar 3. Gambaran Lesi Dibawah Mikroskop Elektron...10
Gambar 4. Cara Penutupan Lesi....16

BAB I
PENDAHULUAN
Moluskum kontagiosum merupakan penyakit yang ringan namun dapat berkembang
menjadi penyakit infeksi virus yang menjadi masalah pada anak-anak maupun orang dewasa.
Karakteristik penyakit ini yaitu permukaan yang halus, papul berbentuk kubah dengan eritem di
sekitar lesi yang disebut dengan dermatitis moluskum. Penyakit ini dapat bertahan berbulanbulan hingga bertahun-tahun. Faktor yang penting dalam menangani moluskum kontagiosum
adalah pasien-pasien dengan imunokompromais dan dermatitis atopik, karena pada pasien ini
infeksi virus bisa menjadi sangat ekstrem dan progresif.1
Moluskum kontagiosum adalah penyakit yang disebabkan oleh poxvirus dari genus
Molluscipox virus. Virus ini merupakan virus double stranded DNA, berbentuk lonjong dengan
ukuran 230x330 nm. Terdapat subtipe utama virus Moluskum Kontagiosum yaitu MCV I, MCV
II, MCV III, dan MCV IV.1,2
Insidens di dunia berkisar antara 2-8%, di Amerika Serikat kurang dari 5% anak
terinfeksi virus ini. Peningkatan 11 kali lipat ditemukan di Amerika Serikat diduga berhubungan
dengan peningkatan infeksi menular seksual dan hasil dari peningkatan infeksi human
immunodeficiency virus (HIV). Pada pasien dengan HIV dilaporkan kejadian infeksi moluskum
kontagiosum sebanyak 5-18% dan pada pasien dengan CD4+ kurang dari 100 sel/ uL
prevalensinya meningkat menjadi 33%. Transmisi dapat terjadi dari kontak membran mukosa,
handuk, kolam renang. Autoinokulasi dan koebnerisasi juga memiliki peran dalam penyebaran
lesi ini.1
Diagnosis dari moluskum kontagiosum seringkali menimbulkan kerancuan dengan
penyakit infeksi virus lainnya seperti varisela. Oleh sebab itu penting diketahui mengenai gejala
klinis, diagnosa dan juga pengobatan pada moluskum kontagiosum untuk mencegah terjadinya
salah diagnose dan juga pengobatan yang adekuat.

BAB II
PEMBAHASAN
Moluskum kontagiosum adalah penyakit yang disebabkan oleh poxvirus dari genus
Molluscipox virus yang dapat menyebabkan erupsi papular berbentuk tumor umbilikasi kutaneus
benigna yang dapat sembuh sendiri. Penyakit virus ini terbentuk di bagian kulit dan mukosa
membran. Transmisinya memerlukan kontak langsung terhadap penderita atau dari serangga
yang terkontaminasi. Karakteristik lesi moluskum kontagiosum adalah papul yang diskret
berbentuk kubah dan dikelilingi oleh area eritem dan skuama (dermatitis moluskum).1,3
Virus ini secara umumnya hanya menginfeksi manusia, namun ada beberapa kasus yang
dilaporkan terjadi pada ayam, unggas serta anjing dan kanguru. Di dunia, mayoritas mengenai
anak-anak, orang dewasa yang aktif secara seksual dan pada pasien imunodefisiensi. Moluskum
kontagiosum perlu lebih diperhatikan pada pasien imunodefisiensi dan pasien yang memiliki
dermatitis atopik karena durasi dan derajat keparahan penyakitnya dapat lebih berat. Transmisi
seksual hanya terjadi pada pasien dewasa.3
2.1 Definisi
Moluskum kontagiosum adalah erupsi dari bagian kutaneus dan mukosa yang
dikarenakan oleh virus Moluskum Kontagiosum, kelompok Poxvirus dari genus Molluscipox
virus (MCV). Virus ini merupakan virus double stranded DNA, berbentuk lonjong dengan
ukuran 230x330 nm. Terdapat subtipe utama virus Moluskum Kontagiosum yaitu MCV I, MCV
II, MCV III, dan MCV IV. Keempat subtipe tersebut menimbulkan gejala klinis serupa berupa
lesi papul miliar yang terbatas pada kulit dan membran mukosa.1,2,4
2.2 Epidemiologi
Virus Moluskum Kontagiosum dapat ditemukan diseluruh dunia dengan distribusi
terbesar pada area tropis. Kejadian lebih sering ditemukan pada anak-anak dengan predileksi di
bagian wajah, badan, dan ekstremitas. Sedangkan pada pasien dewasa, lesi paing sering
ditemukan di daerah genital. Insidens tertinggi terjadi pada pasien di daerah endemik dengan
6

higenitas rendah, padat penduduk dan dimana banyak kemiskinan. Sedangkan di negara maju,
peningkatan 11 kali lipat ditemukan di Amerika Serikat diduga berhubungan dengan peningkatan
infeksi menular seksual dan hasil dari peningkatan infeksi human immunodeficiency virus (HIV).
Transmisi dapat terjadi dari kontak membran mukosa, serangga, handuk, kolam renang.
Autoinokulasi dan koebnerisasi juga memiliki peran dalam penyebaran lesi ini.1,3
Insidens di dunia berkisar antara 2%-8%, di Amerika Serikat kurang dari 5% anak
terinfeksi virus ini. Sedangkan, sekitar 5%-20% pasien dengan HIV menujukan gejala yang
simptomatis. MCV I diketahui memiliki prevalensi terbesar dibandingkan ketiga subtipe lain.
Sekitar 96,6% infeksi moluskum kontagiosum disebabkan oleh MCV I. Akan tetapi pada pasien
dengan penurunan status imun didapatkan prevalensi MCV II sebesar 60%. Virus ini merupakan
imunogen yang lemah. Sekitar sepertiga pasien tidak memproduksi antibodi terhadap virus ini
sehingga seringkali didapatkan serangan berulang.3
2.3 Etiologi dan Patogenesis
Virus Moluskum Kontagiosum adalah poxvirus dengan bentuk lonjong atau berbentuk
bata yang melakukan replikasi di dalam sitoplasma sel. Memiliki kesamaan genomik dengan
virus pox lainnya dan sekitar 2/3 dari gen virus sama dengan virus variola dan vaccinia. Ada 4
subtipe dari virus ini, namun mereka memiliki kesamaan secara klinis. Yang paling sering
menginfeksi adalah MCV I, sedangkan pada pasien dengan HIV paling sering diinfeksi oleh
MCV II. Masa inkubasi sekitar 2-7 minggu dengan variasi sampai dengan 6 bulan.
Virus mengadakan replikasi di bagian sitoplasma sel epitel dan sel yang terinfeksi akan
bereplikasi 2 kali lebih besar dari batas rata-rata. Infeksi virus ini akan menyebabkan hyperplasia
dan hipertrofi dari epidermis. Di bagian tengah dari lesi terdapat molluscum bodies yang
memiliki isi virion matur yang banyak. Virus ini akan menginduksi terbentuknya tumor jinak,
berbeda dengan infeksi virus pox lainnya yang beraosiasi dengan lesi nektrotik.1
Virus ini menyebabkan 3 pola penyakit berbeda dalam 3 populasi pasien yang berbeda
yaitu anak-anak, orang dewasa yang imunokempeten dan pasien dengan imunokompromais
(anak-anak maupun dewasa). Anak-anak tertular dapat melalui kontak langsung kulit dengan
kulit atau tidak langsung dengan benda yang terkontaminasi. Lesi biasa di dada, lengan, badan,
7

kaki dan wajah. Bila terdapat lesi pada bagian genital, perlu dicurigai adanya sexual abuse pada
anak. Pada orang dewasa penyakit ini dianggap sebagai penyakit menular seksual. Pada hampir
semua kasus yang mengenai orang dewasa sehat, pasien menunjukkan beberapa lesi, yang
terbatas pada perineum, genital, perut bagian bawah, atau bokong. Umumnya, pada populasi
imunikompeten, moluskum kontagiosum adalah penyakit yang dapat sembuh sendiri.2
2.4 Gejala Klinis
Secara umum, moluskum kontagiosum biasanya asimptomatik, namun pada beberapa
kasus dapat meradang dan juga gatal. Gejala yang dapat dilihat adalah erupsi papular berbentuk
lesi umbilikasi yang multipel. Lesi tersebut diskret, halus dan berbentuk kubah. Warna dari lesi
biasanya sama dengan warna kulit, berwarna merah muda, seperti mutiara dan berwarna seperti
daging yang akhirnya dapat membesar sampai 3 cm yang disebut dengan giant molluscum.
Ditengah lesi terdapat delle atau umbilikasi yang bila ditekan akan mengeluarkan substansi
berwarna keputihan. Ukuran papul sangat bervariasi, sesuai dengan perjalanan penyakitnya,
biasanya didapatkan sebesar 2-6 mm, dengan lesi yang biasanya tidak lebih dari 30, namun pada
pasien dengan imunosupresi, biasanya didapatkan papul yang lebih besar dengan jumlah yang
lebih banyak. Papul ini dapat meradang secara spontan atau akibat trauma sehingga terlihat
dalam bentuk, ukuran, dan warna yang berbeda-beda.1,3,4

Gambar 1. Ukuran Lesi Moluskum Kontagiosum4


Gambaran lesi seringkali muncul setelah lesi yang lama hilang, hal ini dikarenakan
penyebaran virus ke daerah lain disekitar kulit yang terinfeksi karena autoinokulasi. Lesi dapat
berkelompok ataupun berbentuk linear, hal ini mungkin disebabkan oleh adanya koebnerisasi.
Biasanya lesi ini akan hilang timbul selama beberapa bulan dan sembuh dengan sendirinya
8

dalam 6-9 bulan, namun beberapa kasus menetap hingga 3-4 tahun. Studi lainnya di Jepang
menyimpulkan bahwa resolusi spontan kan terjadi dalam 6,5 bulan pada 94,5% anak-anak yang
mengikuti penelitian tesebut. Pada pasien dengan atopi seperti asma, hay fever atau eczema,
seringkali muncul lesi eczema sekitar satu bulan setelah onset infeksi virus ini, lesi ini disebut
dengan dermatitis moluskum. Selain itu juga dilaporkan adanya eritema anularis. Pada lesi yang
di sekitar mata ditemukan adanya konjungtivitis dan keratitis superfisialis. Eczema dan
konjungtivitis yang terjadi akan hilang secara spontan setelah lesi moluskum kontagiosum
dibuang. Selain lesi diatas, seringkali didapatkan infeksi sekunder.1,5

Gambar 2. Lesi Moluskum Kontagiosum1


2.5 Diagnosis
Diagnosis moluskum kontagiosum dilihat dari lesi kulitnya. Selain itu diagnosis dapat
ditegakkan dengan bantuan pewarnaan. Bagian tengah dari lesi dapat diperiksa dengan
menggunakan pewarnaan Giemsa, Gram, dan Wright atau Papanicolaou. Moluskum tidak dapat
dikultur di laboratorium, pemeriksaan histologik dari sediaan kuret dan biopsi dapat membantu
mendiagnosa bila gejala klinis tidak jelas. Mikroskop elektron dapat digunakan untuk membantu
melihat struktur poxvirus.
9

Gambar 3. Gambaran Lesi Dibawah Mikroskop Elektron1


Diagnosis dari moluskum kontagiosum harus dibedakan dengan veruka vulgaris,
kondiloma akuminata, varisela, herpes simpleks, papiloma, lichen planus, epitelioma, pioderma,
karsinoma sel basal, atau tumor adneksal lainnya.1,3
2.6 Tatalaksana
Pada umumnya, penyakit ini dapat sembuh sendiri tanpa komplikasi pada pasien
imunokempeten. Alasan pengobatan dari moluskum kontagiosum adalah untuk menghilangkan
gejala tidak nyaman seperti gatal, untuk alasan kosmetik, stigma sosial karena lesi yang
menonjol, mencegah penyebaran ke daerah tubuh lainnya serta ke orang lain, mencegah infeksi
sekunder dan terbentuknya jaringan parut, mencegah trauma dan perdarahan dari lesi.
Pengobatannya secara umum dibagi menjadi tiga, yaitu destruksi dari lesi, agen topikal
dan pengobatan sistemik pada yang mengenai seluruh tubuh.5
2.6.1 Cryosurgery
Pengobatan yang cepat, paling sering dan efisien adalah cryotherapy. Nitrogen cair, dry
ice atau Frigiderm diaplikasikan pada setiap lesi individual untuk 10 detik dengan menggunakan
cotton wool bud atau spray. Luka lecet akan terbentuk dalam 24 jam. Pengobatan secara teratur
dalam 2-3 minggu diperlukan untuk menghilangkan lesi ini. Hiperpigmentasi atau
10

hipopigmentasi dapat terjadi setelah pengobatan ini, selain itu juga dapat meninggalkan ulkus
terutama pada orang tua.3,6
2.6.2 Eviserasi
Eviserasi bagian tengah dari lesi dengan menggunakan instrumen seperti skapel, tusuk
gigi yang tajam atau ujung dari gelas objek atau instrumen yang dapat membuang bagian
umbilikasi pada lesi. Karena cukup mudah dilakukan, pasien ataupun orang tua dapat melakukan
hal ini di rumah. Cara ini cukup sederhana dan dapat ditoleransi oleh anak kecil.
2.6.3 Kuretase

Kuretase adalah cara lain untuk mengeluarkan lesi moluskum kontagiosum. Cara ini lebih
sakit dan dianjurkan untuk digunakan krim anestesi sebelum melakukan prosedur untuk
mengurangi rasa sakit. Dengan cara ini, sampel jaringan akan dapat diambil untuk
mengkonfirmasi diagnosis. Pengobatan menggunakan kuretase terbukti efektif, resolusi komplit
dapat terjadi dengan sekali pengobatan pada 80,6%.3,7

2.6.4 Tape stripping


Cara lainnya adalah dengan menggunakan adhesive tape. Dilakukan dengan
menempelkannya pada lesi dan mencabut lesi sebanyak 10-20 siklus. Penggunaan adhesive tape
ini efektif untuk membuang bagian epidermis superfisial dari atas lesi. Namun, penggunaan yang
berulang kali dapat menyebabkan menyebarnya lesi ke tempat yang sehat.

2.6.5 Pulsed dye laser


Penggunaan laser untuk pengobatan moluskum kontagiosum memiliki hasil yang baik
dan terbukti efektif. Terapi ini dapat ditoleransi dengan baik tanpa adanya jaringan parut ataupun
kelainan pigmen. Lesi menghilang tanpa bekas setelah 2 minggu. 96-99% kasus sembuh dengan

11

sekali pengobatan. Pengobatan ini ini memang cukup efisien dan cepat namun tergolong mahal
dibandingkan pengobatan lainnya.

2.6.6 Podofilin dan podofilox


Suspensi benzoin 25% atau alkohol dapat diaplikasikan sekali seminggu. Namun,
penggunaannnya memerlukan perhatian khusus. Terdapat 2 mutagen yaitu quercetin dan
kaempherol yang memiliki efek samping seperti keruskan erosif pada bagian kulit yang normal
yang dapat menimbulkan jaringan parut dan efek sistemik seperti neuropati perifer, kerusakan
ginjal, leukopenia dan trombositopenia terutama bila digunakana di bagian permukaan mukosa.
Podofilox lebih aman dibandingkan podofilin dan dapat digunakan oleh pasien di rumah.
Biasanya digunakan 0,005 ml podofilox 5% dalam etanol yang di buffer oleh laktat dua kali
sehari untuk 3 hari. Agen ini merupakan kontraindikasi pada kehamilan.

2.6.7 Cantharidin
Pengobatan yang sering digunakan adalah cantharidin 0,7 atau 0,9 %. Obat ini
meruupakan

ekstrak

dari

Cantharis

vesicatoria

yang

menginduksi

vesikulasi

pada

dermoepidermal junction ketika dioleskan secara topikal pada kulit. Pemakaian harus dengan
hati-hati dan dilakukan pencucian setelah 2-6 jam setelah penggunaan. Penggunaan obat ini tidak
dianjurkan di bagian kelamin dan juga wajah. Selain itu, pasien juga harus diberitahukan adanya
resiko reaksi yang ekstrem dan juga pembentukan bekas luka atau jaringan parut. Pengobatan
dengan cantharidin biasanya digunakan pada anak-anak yang tidak tahan dengan prosedur yang
menyakitkan.

2.6.8 Larutan iodine dan plester asam salisilat


Larutan iodine 10% diletakan diatas papul moluskum lalu dikeringkan, setelah itu bagian
lesi ditutup dengan plester kecil berisi 50% asam salisilat. Proses ini diulang setiap hari setiap
habis mandi. Lesi akan berubah menjadi eritem dalam 3-7 hari, pada saat lesi berubah eritem
12

hanya digunakan larutan iodine saja. Efek samping dari pengobatan ini adalah maserasi dan erosi
kulit.

2.6.9 Tretinoin
Tretinoin 0,1% juga digunakan untuk pengobatan moluskum kontagiosum. Dilakukan
pengolesan 2 kali sehari pada lesi. Resolusi muncul pada hari ke 11. Efek sampingnya adalah
terlihatnya eritema pada bagian bekas lesi. Tretinoin 0,05% juga telah berhasil digunakan dan
mengurangi iritasi

2.6.10 Kalium Hidroxida

Pengobatan lainnya adalah dengan menggunakan kalium hidroksida (KOH). Dalam


sebuah studi, larutan KOH 10% digunakan dengan dioleskan dua kali sehari pada semua lesi.
KOH dapat berfungsi sebagai alkali yang melarutkan keratin. Penggunaannya dihentikan apabila
terdapat respon inflamasi atau ulkus superfisial. Resoulusi dapat dicapai dalam 30 hari.
Pengobatan ini memiliki beberpa komplikasi seperti jaringan parut hipertrofik dan
hipopigmentasi atau hiperpigmentasi permanen maupun sementara. Pada beberapa penelitian
dianjurkan menggunakan KOH 5%, untuk menurunkan efek samping dengan efektivitas yang
sama.

2.6.11 Imiquimod

Pengobatan lainnya mengginakan krim imiquimod 5%. Obat ini menginduksi IFN-
dalam umlah besar dan sitokin lainnya secara lokal. Imunomodulator ini dapat ditoleransi dengan
baik walaupun iritasi pada tempat aplikasi sering terajdi. Tidak terbukti adanya efek toksik
sistemik pada anak-anak. Krim dioleskan selama 4 minggu setiap malam. Resolusi tercapai
dalam waktu 30 hari.

13

2.6.12 Zink Oksida


Penelitian terbaru menyatakan efektivitas penggunaan zink oksida pada pasien dengan
moluskum kontagiosum. Penggunggunaan zink oksida dapat memberikan efek antiinflamatori
yang dapat menekan inflamasi yang dikarenakan reaksi imunologis terhadap virus. Namun,
penggunaan ini masih harus diteliti kembali dengan penelitian lanjut untuk mengetahui
efektivitas serta efek sampingnya.8

2.6.13 Cimetdine
Cimetidine oral telah sukses digunakan untuk infeksi yang ekstensif. Cimetidine
merupakan golongan antagonis reseptor histamine 2 yang dapat menstimulasi hipersensitivitas
tipe lambat. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui efek cimetidine dalam
mengobati moluskum kontagiosum, dikarenakan banyaknya interaksi dengan obat-obatan
sistemik.3,7

2.6.14 Cidofovir
Cidofovir adalah analog nukleosida yang merupakan antiviral poten. Beberapa penelitian
kecil dan laporan kasus menyebutkan bahwa penggunaan cidofovir secara topikal maupun
injeksi intralesi terbukti efektif dalam pengobatan penyakit kulit yang disebabkan oleh virus.
Krim Cidofovir 3% telah terbutkti sukses dalam mengobati moluskum kontagiosum dalam 2-6
minggu. Namun karena harganya yang mahal dan efek karsinogenik maka studi efektivitas
cidofovir masih terbatas.1,3
Untuk pemilihan pengobatan bisa dilihat pada tabel dibawah ini :
Observasi

Resolusi spontan setelah


beberapa bulan dan tahun
pada pasien imunokompeten

Terapi topikal

Cantharidin (0.7 % atau 0,9%)


Podofilin (10%-25%)

Resiko autoinokulasi,
berhubungan dengan
dermatitis, dan infeksi
sekunder oleh bakteri
Resiko jaringan parut
Resiko jaringan parut
14

Cryotherapy/kuretase dengan
nitrogen cair
Kuretase

Terapi sistemik

Krim Imiquimod (5%)


Retinoid topikal
Silver nitrat
Asam Trikloroasetat (25%35%)
Cidofovir topikal (1%, 3%,
gel ; 1%, krim)
Cimetidine oral (40
mg/kg/hari)
Cidofovir oral
Interferon alfa subkutan

Sakit
Sakit dan terbentuk jaringan
parut
Sering menyebabkan iritasi
Sering menyebabkan iritasi
Jarang menyebabkan iritasi
hebat, terbentuk jaringan parut
Mahal
Hanya direkomendasikan
untuk pasien
imunokompromis, mahal
Hanya direkomendasikan
untuk pasien
imunokompromis

Tabel 1. Pengobatan Moluskum Kontagiosum1

2.7 Edukasi
Edukasi yang perlu disampaikan kepada pasien dengan moluskum kontagiosum meliputi
cara transmisi, sehingga pasien dapat mencegah terjadinya transmisi kepada orang lain yang
sehat. Selain itu juga perlu diberitahukan bahwa lesi akan sembuh sendiri secara spontan dalam 6
sampai 9 bulan. Perlu juga ditanyakan status dari pasangan, apakah terkena infeksi yang sama
atau tidak karena penularannya yang mudah melalui kontak sekual, sehingga bisa dianjurkan
penggunaan kondom untuk menurunkan resikonya. Perlu juga diberitahukan bahwa apabila lesi
menjadi parah atau progresif pasien dianjurkan untuk kontrol dan mencari pengobatan. Selain itu
diberitahukan cara membersihkan luka dan diberitahukan bahwa penyakit ini dapat menyebar
secara autoinokulasi.9

15

2.8 Pencegahan

Cara terbaik untuk mencegah infeksi moluskum kontagiosum adalah dengan memelihara
kebersihan tubuh yang baik. Dianjurkan untuk tidak menyentuh dan menggaruk kulit yang
terinfeksi. Selain itu perlu diketahui cara mencuci tangan yang baik, dan sering sehingga
mencegah penularan dari kontak bagian yang terkontaminasi.
Cara yang baik untuk mencuci tangan adalah dengan menggunakan sabun, menggosok
seluruh bagian tangan dengan adekuat selama 10-15 detik. Penggunaan sabun yang memiliki
scrub juga baik untuk membersihkan kuman. Setelah itu dilakukan pembilasan yang bersih.
Pasien yang terkena moluskum kontagiosum dianjurkan untuk mencegah penularan
dengan menutup bagian yang terinfeksi dengan plester untuk menghindari kontak ke bagian lain
dari tubuh maupun ke orang lain. Namun, pada saat tidur atau malam hari dimana kontak dengan
lingkungan minimal, plester dibuka untuk mempertahankan kesehatan kulit disekitarnya.
Sebelum ikut serta dalam olahraga yang menimbulkan kontak tubuh dengan orang lain,
atau penggunaan alat olahraga yang bergantian, perlu dilakukan penutupan seluruh lesi dengan
baju atau plester tahan air. Selain itu juga dilarang menggunakan handuk, baju dan barang
personal lainnya sepertu alat cukur secara bergantian. Bila terdapat lesi di bagian genital,
pencegahan dapat dilakukan dengan tidak melakukan hubungan seksual sementara.10

Gambar 4. Cara Penutupan Lesi10


16

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
Moluskum kontagiosum merupakan penyakit kulit yang ditandai dengan lesi papul milier
kadang-kadang lentikular dan berwarna putih dengan bentuk kubah dengan umbilikasi di tengah
yang jika dipijat akan mengeluarkan massa berwarna putih. Masa inkubasi penyakit ini 2-7
minggu. Seringkali ditemukan penyakit ini tidak menimbulkan gejala, namun beberapa
mengeluhkan garal dan sakit. Umumnya terjadi pada anak-anak, bila pada dewasa seringkali
ditemukan di daerah pubis. Penyakit ini ditularkan melalui kontak langsung, autoinokulasi dan
kontak membran mukosa.
Untuk mendiagnosa ditemukan dari gejala klinis, dengan bantuan pemeriksaan penunjang
histopatologik dan pewarnaan bila perlu. Pengobatannya secara umum dibagi menjadi tiga, yaitu
destruksi dari lesi, agen topikal dan pengobatan sistemik pada yang mengenai seluruh tubuh.
Terapi yang digunakkan bergantung dari status imunitas pasien, usia sehingga sesuai dengan
pengobatan yang paling efektif dan paling tepat untuk menangani kasus moluskum kontagiosum.
Prognosis dari penyakit ini umumnya baik pada pasien imunokompeten, penyakit ini
dapat sembuh sendiri walaupun membutuhkan waktu yang relatif lama berkisar antara beberapa
bulan hingga beberapa tahun namun pada pasien dengan imunokompromis dan dengan
predisposisi dermatitis atopik biasanya lebih parah dan progresif.1,2,5

17

DAFTAR PUSTAKA

1.

Tom W., Friedlander SF., In : Wolff L., Goldsmith LA., Katz SI., Gilchrest BA.,
Paller AS., Leffell DJ. Fitzpatricks Dermatology in General Medicine. Poxvirus
infections. 7th edition. New York : McGraw-Hill Medicine 2008; 1899-1913

2.

James DW., Berger TG., Elston DM., Andrews Disease of The Skin : Clinical
Dermatology. Viral disease. 10th edition. Britishl Saunders Elsevier 2006; 367-420

3.

Handson D., Diven DG., Molluscum Contagiosum. Dermatology Online Journal


2003; 9 : 2. Boise, Idaho USA. Primary Health

4. Van derWouden JC, van der Sande R, van Suijlekom-Smit LWA, Berger M, Butler
CC, Koning. Interventions for Cutaneous Molluscum Contagiosum. The Cochrane
Library 2010, Issue 2
5. Stulberg, DL., Huctchinson, AG. Molluscum Contagiosum and Warts. American
Academy of Family Physicians 2003; 67: 1233-40.
6. Gawkrodger, DJ. Dermatology : An Illustrated Color Text. Basic Dermatological
Surgery. 2nd edition. Elsevier Science 2011; 105
7. Hsu, J., Tom, W. Seperating Fact From Fiction in Molluscum Contagiosum. Practical
Dermatology for Pediatrics 2010; 34-37
8. Safa, G., Darrieux, L. Succesful Treatment of Molluscum Contagiosum. Indian
Journal of Dermatology 2010; 55(3): 295-296
9. Centre Of Disease Control and Prevention. Frequently Asked Question : Molluscum
Contagiosum. 2011

18

10. Centre Of Disease Control. Sexually Transmitted Decision Support Tools Molluscum
Contagiosum. 2012

19