Anda di halaman 1dari 4

Wiseman (1981) mengemukakan bahwa ilmu kimia merupakan salah satu pelajaran tersulit bagi

kebanyakan siswa menengah. Kesulitan mempelajari ilmu kimia ini terkait dengan ciri-ciri ilmu
kimia itu sendiri yang disebutkan oleh Kean dan Middlecamp (1985) sebagai berikut:
1.
Sebagian
besar
ilmu
kimia
bersifat
abstrak
Atom, molekul, dan ion merupakan materi dasar kimia yang tidak nampak, yang menurut siswa
membayangkan keberadaan materi tersebut tanpa mengalaminya secara langsung. Karena atom
merupakan pusat kegiatan kimia, maka walaupun kita tidak dapat melihat atom secara langsung,
tetapi dalam angan-angan kita dapat membentuk suatu gambar untuk mewakili sebuah atom
oksigen
kita
gambarkan
secara
bulatan.
2.
Ilmu
kimia
merupakan
penyederhanaan
dari
yang
sebenarnya
Kebanyakan obyek yang ada di dunia ini merupakan campuran zat-zat kimia yang kompleks dan
rumit. Agar segala sesuatunya mudah dipelajari, maka pelajaran kimia dimulai dari gambaran
yang disederhanakan, di mana zat-zat dianggap murni atau hanya mengandung dua atau tiga zat
saja. Dalam penyederhanaanya diperlukan pemikiran dan pendekatan tertentu agar siswa tidak
mengalami
salah
konsep
dalam
menerima
materi
yang
diajarkan
tersebut.
3.
Sifat
ilmu
kimia
berurutan
dan
berkembang
dengan
cepat
Seringkali topik-topik kimia harus dipelajari dengan urutan tertentu. Misalnya, kita tidak dapat
menggabungkan atom-atom untuk membentuk molekul, jika atom dan karakteristiknya tidak
dipelajari terlebih dahulu. Disamping itu, perkembangan ilmu kimia sangat cepat, seperti pada
bidang biokimia yang menyelidiki tentang rekayasa genetika, kloning, dan sebagainya. Hal ini
menuntut kita semua untuk lebih cepat tanggap dan selektif dalam menerima semua kunjungan
tersebut.
style="font-weight: bold;">4. Ilmu kimia tidak hanya sekedar memecahkan soal-soal
Memecahkan soal-soal yang terdiri dari angka-angka (soal numerik) merupakan bagian yang
penting dalam mempelajari kimia. Namun, kita juga harus mempelajari deskripsi seperti faktafakta kimia, aturan-aturan kimia, peristilahan kimia, dan lain-lain.
5. Bahan/materi yang dipelajari dalam ilmu kimia sangat banyak
Dengan banyaknya bahan yang harus dipelajari, siswa dituntut untuk dapat merencanakan
belajarnya dengan baik, sehingga waktu yang tersedia dapat digunakan seefisien mungkin.
(Rusmansyah dan Irhasyuarna,Y , 2002)
Menurut Arifin (1995), kesulitan dalam mempelajari ilmu kimia dapat bersumber pada:
1. Kesulitan dalam memahami istilah
Kesulitan ini timbul karena kebanyakan siswa hanya hafal akan istilah dan tidak memahami
dengan benar istilah yang sering digunakan dalam pengajaran kimia.
2. Kesulitan dalam memahami konsep kimia
Kebanyakan konsep-konsep dalam ilmu kimia maupun materi kimia secara keseluruhan
merupakan konsep atau materi yang bersifat abstrak dan kompleks, sehingga siswa dituntut untuk
memahami konsep-konsep tersebut dengan benar dan mendalam.
3. Kesulitan angka
Dalam pengajaran kimia kita tidak terlepas dari perhitungan secara matematis, di mana siswa
dituntut untuk terampil dalam rumusan matematis. Namun, sering dijumpai siswa yang kurang
memahami rumusan tersebut.
REFERENSI

Arifin, M. 1995. Pengembangan Program Pengajaran Bidang Studi Kimia. Surabaya : Airlangga
University Press.
Rusmansyah dan Irhasyuarna. 2001. Implementasi Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM)
dalam Pembelajaran Kimia di SMU Negeri 1 Kota Banjarmasin.
http://www.depdiknas.go.id/jurnal/40/Implementasi%20Pendekatan%20Sains-TeknologiMasyarakat.htm.

http://berbagireferensi.blogspot.co.id/2010/02/karakteristik-ilmu-kimia.html
http://dokumen.tips/documents/karakteristik-ilmu-kimia.html

Karakteristik ilmu kimia


Ilmu kimia mempunyai kedudukan yang sangat penting dari pada
ilmu-ilmu yang lain karena ilmu kimia dapat menjelaskan secara mikro
(molekuler) terhadap fenomena makro. Disamping itu, ilmu kimia
memberikan konstribusi yang penting dan berarti bagi perkembangan
ilmu-ilmu terapan seperti pertanian, kesehatan, perikanan dan tekhnologi
(Depdiknas, 2005).
Ilmu kimia merupakan cabang ilmu IPA yang khusus mempelajari
struktur, susunan, sifat, dan perubahan materi, serta energi yang
menyertai perubahan tersebut. Pembahasan tentang struktur materi
mencakup struktur partikel yang menyusun materi sub-mikroskopis, dan
bagaimana partikel-partikel yang sangat kecil tersebut bergabung
membentuk materi yang ukuran yang lebih besar sehingga bisa diamati.
Pembahasan susunan materi mencakup komponen-komponen penyusun
materi dan perbandingan jumlah komponen penyusun materi tersebut
Sifat materi dideskripsikan sebaggai sifat fisika yang berhubungan dengan
sifat makroskopis dan sifat kimia yang berhubungan dengan jenis partikel
materi. Perubahan materi dideskripsikan sebagai perubahan fisika dan
perubahan kimia yang fenomenanya bias diamati, tetapi apa yang terjadi
ditingkat partikel materi merupakan kajian sub-mikroskopis. Pembahasan
energi yang menyertai perubahan materi mencakup jenis dan jumlah
energi, serta perubahan energi dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain
(Depdiknas, 2006).
Mata pelajaran kimia syarat dengan konsep, dari konsep yang paling sederhana
sampai konsep yang lebih kompleks dan abstrak. Untuk itu diperlukan pemahaman yang
benar terhadap konsep dasar yang membangun konsep tersebut.
Ilmu kimia menyangkut tiga level yaitu level makroskopis yang menunjukkan
fenomena-fenomena kimia yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang dapat diindera oleh
mata seperti reaksi oksidasi reduksi pada perkaratan besi. Bagaimana fenomena ini terjadi
akan dijelaskan melalui level mikroskopis yang mampu mereprentasikan tentang susunan dan
pergerakan partikel zat dalam suatu fenomena yang tidak langsung teramati oleh siswa, level
mikroskopis merupakan fenomena kimia yang nyata menunjukkan tingkat
partikulat sehingga tidak bisa dilihat tetapi bisa digunakan untuk pergerakan electron,
molekul, partikel dan atom. Level simbolik adalah representasi yang berupa gambar,
perhitungan kimia, grafik dan komputasi (Johnstone, 2000 dalam Chittleborough, 2004).
Untuk dapat memahami ilmu kimia secara konseptual, dibutuhkan kemampuan untuk
merepresentasikan dan menterjemahkan masalah dan fenomena kimia tersebut kedalam

bentuk representasi level makroskopis, mikroskopis dan simbolik secara simultan (Russel, et
al., 1997; Bowen, 1998 dalam Ikhsanuddin, 2007).
Aspek kimia bersifat kasat mata (visible), artinya dapat dibuat
fakta kongkritnya (makroskopis), dan sebagian aspek yang lain tidak
kasat mata (invisible), artinya tidak bias dibuat fakta kongkritnya (submikroskopis). Namun demikian, aspek kimia yang tidak kasat mata
masih bersifat kasat logika, artinya kebenarannya bias dibuktikan
dengan logika matematika atau kajian teoritik (depdiknas, 2006). Atas
dasar itu, pembelajaran konsep-konsep kimia memiliki cirri-ciri khusus,
terutama menekankan keterkaitan aspek makroskopis, sub-mikroskopis
dan simbolik (Chittleborough, 2004).
Gambar representasi ilmu kimia
Makroskopis
(cirinya dapat dilihat, dicium, didengar atau dirasakan)

Simbolis
(representasi menggunakan
berbagai macam bentuk)

Sub-mikroskopis
(tingkat partikel dari materi)

Johnstone dalam Chittleborough (2004) membedakan ketiga levelrepresentasi


kimia mengenai materi dengan penjelasan sebagai berikut:
1. Level makroskopis terdiri dari fenomena kimia yang nyata yang mungkin
langsung atau tidak langsung sering menjadi bagian pengalaman siswa seharihari.
2. Level sub-sub-mikroskopis terdiri dari fenomena kimia yang nyata yang
menunjukan tingkat partikulat sehingga tidak bisa dilihat bias digunakan untuk
pergerakan elektron, molekul, partikel atau atom.
3. Level simbolik terdiri dari fenomena kimia yang nyata dan direpresentasikan
kedalam bentuk-bentuk berupa gambar, hitungan, dan grafik.
Salah satu materi pada pembelajaran kimia adalah materi reaksi reduksi oksidasi yang
termasuk dalam level makroskopis adalah perkaratan pada besi, pembakaran bahan bakar
pada bensin dan minyak tanah, minyak goreng menjadi tengik. Level sub-mikroskopisnya
adalah merepresentasikan susunan dan pergerakan partikel zat pada reaksi perkaratan besi,
pembakaran bahan bakar dan minyak goreng menjadi tengik. Sedangkan level simboliknya
adalah penentuan bilangan oksidasi, menulis tata nama senyawa berdasarkan IUPAC.

- See more at: http://miy90.blogspot.co.id/2013/05/karakteristik-ilmu-kimia.html#sthash.6c9VkwVC.dpuf

http://miy90.blogspot.co.id/2013/05/karakteristik-ilmu-kimia.html