Anda di halaman 1dari 16

Perencanaan Kebutuhan BMN, Tantangan

Baru DJKN
|

27 Februari 2015 |

30 Maret 2015, pukul 09:56 |

3541 kali

Proses penyusunan Rencana Kerja Anggaran Kementerian-Lembaga (RKA-KL) 2017 akan


berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, baik bagi K/L selaku pengguna barang maupun bagi
DJKN selaku pengelola barang. Pada RKA-KL 2017, sebanyak 20 kementerian/lembaga akan
menjadipilot project penyusunan Rencana Kebutuhan Barang Milik Negara (RKBMN). Untuk
mendukung pencapaian target ini, pada 2014 lalu Menteri Keuangan menerbitkan 4 rangkaian
peraturan sebagai dasar penyusunan RKBMN, yaitu:
1.

Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 150/PMK.06/2014 tentang Perencanaan


Kebutuhan Barang Milik Negara

2.

Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 450/KM.6/2014 tentang Modul Perencanaan


Kebutuhan Barang Milik Negara untuk Penyusunan Rencana Kebutuhan Barang Milik
Negara

3.

Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 451/KM.6/2014 tentang Pelimpahan Sebagian


Wewenang Menteri Keuangan Kepada Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kepada
Direktur Barang Milik Negara Direktur Jenderal Kekayaan Negara untuk dan atas nama
Menteri Keuangan Menandatangani Dokumen Perencanaan Kebutuhan Barang Milik
Negara

4.

Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 452/KM.6/2014 tentang Modul Perencanaan


Kebutuhan Barang Milik Negara untuk Penelaahan Rencana Kebutuhan Barang Milik
Negara

Perencanaan kebutuhan BMN bukanlah hal baru dalam pengelolaan BMN. Kewajiban
menyusun perencanaan kebutuhan BMN dalam RKA-KL telah muncul sejak era PP Nomor 6
Tahun 2006. Ketentuan-ketentuan mengenai perencanaan BMN tersebut disempurnakan lagi
pada PP Nomor 27 Tahun 2014. Sesuai ketentuan PP Nomor 27 Tahun 2014, penyusunan
RKBMN harus memperhatikan ketersediaan BMN yang ada, standar barang dan standar
kebutuhan yang telah ditentukan, serta harus sesuai dengan rencana strategis dan rencana
kerja K/L. Idealnya, penyusunan rencana kebutuhan BMN meliputi perencanaan pengadaan,
pemeliharaan, pemanfaatan, pemindahtanganan, dan penghapusan BMN. Namun untuk
tahap awal, PMK Nomor 150/PMK.06/2014 mengatur mengenai perencanaan pengadaan dan
pemeliharaan BMN saja. Ke depannya, akan ada penyempurnaan prosedur, sehingga
diharapkan perencanaan kebutuhan dapat disusun lebih detail sampai ke rencana
penghapusan dan pemanfaatan BMN.
Perencanaan kebutuhan BMN disusun dan disampaikan secara berjenjang mulai dari kuasa
pengguna barang sampai ke pengguna barang. Sebelum dihimpun menjadi RKBMN pengguna
barang, seluruh RKBMN yang disampaikan kuasa pengguna barang terlebih dahulu diteliti
oleh pengguna barang dengan melibatkan aparat pengawasan intern pemerintahan (APIP)
pada K/L. Hal ini dimaksudkan untuk memastikan kebenaran data yang akan menjadi
masukan RKBMN tingkat pengguna barang. Selanjutnya, setelah disahkan, RKBMN Pengguna
barang diserahkan ke pengelola barang untuk ditelaah dalam forum penelaahan yang

hasilnya akan ditandatangani oleh pengguna barang dan pengelola barang. Hasil penelaahan
itulah yang akan dijadikan dasar pengusulan penyediaan anggaran K/L.
Meskipun penelaahan RKBMN hanya akan dilakukan di kantor pusat DJKN, bukan berarti
Kantor Wilayah DJKN dan Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) tidak
memiliki peran yang penting. Kanwil dan KPKNL justru memegang peran strategis dalam
menyukseskan penyusunan perencanaan kebutuhan BMN yaitu dengan melakukan asistensi
bagi satker-satker binaannya. Selain itu data BMN yang ada di kanwil dan KPKNL juga akan
digunakan sebagai sumber cross check data saat penelaahan RKBMN. Oleh karena itu,
pegawai di tingkat kanwil dan KPKNL juga dituntut paham akan prinsip dan prosedur
perencanaan kebutuhan BMN.
Penentuan target implementasi perencanaan kebutuhan BMN dalam RKA-KL 2017
memerlukan persiapan yang matang dan terintegrasi. DJKN telah meluncurkan fasilitas
penyusunan RKBMN dalam aplikasi SIMAN yang digunakan oleh satker. Dengan bantuan
aplikasi ini, diharapkan RKBMN pengguna barang dapat disusun sesuai dengan jadwal yaitu
paling lambat minggu pertama Januari 2016. Guna mendukung pencapaian target tersebut,
Kanwil dan KPKNL dijadwalkan untuk melakukan asistensi mulai semester kedua 2015.
Sebagai salah satu fungsi manajer aset yang sangat penting, perencanaan kebutuhan BMN
diharapkan mampu menjawab berbagai permasalahan antara lain inefisiensi anggaran,
pengadaan yang tidak efektif, serta kurangnya optimalisasi BMN. (melli/Humas DJKN)

Rencanakan
Kebutuhan
Optimalisasi Pengelolaan

BMN

untuk

Singaraja - Pada Selasa (24/11/2015) Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang
(KPKNL) Singaraja kembali mengadakan sosialisasi pengelolaan BMN terhadap 60 (enam
puluh) perwakilan Satker. Satker berasal dari 4(empat) kabupaten meliputi Kabupaten
Buleleng, Jembrana, Bangli dan Karangasem. Sosialisasi ini diadakan di Aula Gedung
Keuangan Negara Singaraja. Adapun tujuan kegiatan ini adalah untuk memberikan
bimbingan teknis terkait Penyusunan Rencana Kebutuhan BMN. Agus Prasetyo, Kepala Seksi
Pengelolaan Kekayaan Negara I Kantor Wilayah DJKN Bali dan Nusa Tenggara hadir sebagai
narasumber.
Kepala KPKNL Singaraja Indera Widajanto membuka acara dan menegaskan bahwa dalam
rangka mengoptimalkan data BMN maka penyusunan RKBMN mempertimbangkan
ketersediaan BMN pada Satker, Standar Barang dan Standar Kebutuhan serta Rencana
Strategis dan Rencana Kerja Kementerian Lembaga. Rencanakan kebutuhan BMN yang benar
sesuai aturan agar optimalisasi pengelolaan BMN dapat dilaksanakan, tegas Indera. Di akhir
sambutannya Indera berpesan agar yang diberikan tanggung jawab untuk menangani
pengelolaan BMN di satuan kerjanya selalu update dengan peraturan dan jangan segan-segan
untuk konsultasi ke KPKNL Singaraja sehingga segala hambatan dan kendala di dalam
pengelolaan BMN dapat terselesaikan.
Tentunya harapan Kepala KPKNL Singaraja, Indera Widajanto menjadi harapan seluruh
Satker, ungkap Agus Dwi Martono, Kepala Seksi PKN KPKNL Singaraja selaku moderator
kemudian me-refresh ingatan para peserta yang hadir . Agus DM, begitu panggilan akrabnya
memaparkan Tugas dan fungsi KPKNL Singaraja sebagai pengguna dan pengelola barang.
Yang hadir memenuhi undangan adalah Kasubbag Umum dan Operator SIMAN pada satker
masing-masing.
Selanjutnya Agus Prasetyo memandu acara sosialisasi. Agus memberikan apresiasi kepada
satker yang hadir sebab satker dari Kementerian/Lembaga yang diundang merupakan pilot
project penyusunan Rencana Kebutuhan Barang Milik Negara (RKBMN). Selain itu terdapat
beberapa satker dari kementerian yang akan menjadi pilot project (RKA-KL) di Tahun 2018.
Proses penyusunan Rencana Kerja Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-KL) 2017 berbeda
dari tahun-tahun sebelumnya, baik bagi K/L selaku pengguna barang maupun bagi DJKN
selaku pengelola barang, ungkap Agus. Disampaikan pula bahwa pada RKA-KL 2017,
sebanyak 20 kementerian/lembaga akan menjadi pilot project penyusunan Rencana
Kebutuhan Barang Milik Negara (RKBMN).
Kemudian Agus Prasetyo memaparkan Siklus pengelolaan Aset meliputi perencanaan,
pengadaan, pemeliharaan, pemanfaatan, pemindahtanganan, dan penghapusan BMN. Pada
kesempatan itu Agus juga menekankan mengenai Penetapan Status Penggunaan (PSP) ,
BMN tanpa PSP Ibarat seorang anak tanpa akte lahir, sehingga dapat menghambat
pengelolaan BMN itu sendiri, paparnya. Agus juga menyampaikan beberapa peraturan yang
menjadi payung hukum di dalam pengelolaan BMN, mulai dari perencanaan sampai dengan
penghapusan.

Sebelumnya telah terbit Peraturan Pemerintah Nomor 90 tahun 2010 tentang Penyusunan
Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga serta Perpres Nomor 73 Tahun
2011 tentang Pembangunan Bangunan Gedung Negara, peraturan tersebut sebagai amanat
Integrasi Sistem Pengelolaan Aset dan Sistem Penganggaran. Selanjutnya terbit ketentuan
lanjutan meliputi PMK 150/PMK.06/2014 tentang Perencanaan kebutuhan Barang Milik
Negara, PMK 248/PMK.06/2011 tentang Standar Barang dan Standar Kebutuhan BMN berupa
Tanah dan atau Bangunan serta PMK 250/PMK.06/2011 tentang Tata Cara Pengelolaan BMN
yang tidak digunakan untuk menunjang Tusi Kementerian/Lembaga.
Agus memaparkan secara singkat bahwa RKBMN disusun secara berjenjang mulai dari kuasa
pengguna barang sampai ke pengguna barang. Seluruh RKBMN yang disampaikan kuasa
pengguna barang diteliti oleh pengguna barang dan melibatkan Aparat Pengawasan Intern
Pemerintahan (APIP) pada K/L, lalu dihimpun menjadi RKBMN pengguna barang. Kemudian
disahkan, selanjutnya RKBMN Pengguna barang diserahkan ke pengelola barang untuk
ditelaah dalam forum penelaahan yang hasilnya akan ditandatangani oleh pengguna barang
dan pengelola barang. Hasil penelaahan itulah yang akan dijadikan dasar pengusulan
penyediaan anggaran K/L.Para peserta mengikuti sosialisasi ini penuh antusias dan
bersemangat, tergambar saat mendapat tutorial penginputan RKBMN melalui Sistem
Informasi Mananjemen Aset Negara(SIMAN) yang dipandu oleh Iwang Wahyu Prasetyo staf
Bidang Pengelolaan Keayaan Negara Kanwil DJKN Bali Nusa Tenggara.
Di akhir kegiatan Agus Dwi Martono, mewakili Kepala KPKNL Singaraja menutup acara dengan
resmi. Agus menyampaikan harapan kepada seluruh satker agar RKBMN Pengguna Barang
dapat disusun sesuai dengan jadwal dan menyiapkan segala sesuatu untuk menghadapi
rekonsiliasi BMN semester II mendatang. Dengan perencanaan kebutuhan BMN yang baik
maka efektifitas, efisiensi serta optimalisasi APBN melalui pengelolaan BMN dapat tercapai,
mari benahi aset negara! tegas Agus DM menutup acara. (Teks/foto : Eca/Seksi HI KPKNL
Singaraja)

Perencanaan Berdasarkan Kebutuhan, Bukan


Keinginan
|

11 Desember 2014 |

15 Desember 2014, pukul 10:50 |

1048 kali

Jakarta Upaya peningkatan tata kelola Barang Milik Negara (BMN) telah menunjukkan hasil,
yang terlihat dari perbaikan Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) dan Laporan
Keuangan Kementerian/Lembaga (LK K/L) dari waktu ke waktu. Hal tersebut tentu tidaklah
cukup, menjawab visi dan misi Presiden Joko Widodo yang menginginkan peningkatan
pelayanan publik, efisiensi dan efektivitas anggaran, Direktorat Jenderal Kekayaan Negara
(DJKN) meresponnya dengan melaksanakan tahapan pengelolaan BMN yaitu perencanaan
kebutuhan BMN. Demikian disampaikan Direktur Jenderal Kekayaan Negara Hadiyanto saat
membukaworkshop Perencanaan Kebutuhan BMN di Gedung Pendopo, (11/12).
Di hadapan perwakilan 30 K/L, Hadiyanto mengatakan, perencanaan kebutuhan BMN ini
sangat penting untuk meningkatkan kualitas belanja anggaran. Jadi jangan menganggap ini
satu tambahan pekerjaan atau bisnis proses yang mempersulit, tetapi harus kita lihat ini
merupakan upaya yang sejalan dengan visi dan misi Presiden untuk semakin meningkatkan
kualitas belanja anggaran, tegasnya.
Lebih lanjut, Ia menjelaskan perencanaan harus didasarkan kebutuhan nyata, bukan
keinginan. usulkan kebutuhan sesuai dengan kebutuhan, lanjutnya. Kualitas perencanaan
juga harus diperhatikan. Apabila kualitas perencanaan anggaran khususnya dalam belanja
barang tidak baik, maka akan kena potong. Daripada dipotong yang menunjukkan persepsi
ketidakmampuan kita merencanakan dengan baik, perencanaan harus dilakukan dengan
sedemikian rupa sehingga akan dicapai penganggaran perencanaan barang yang efesien dan
efektif dengan output dan outcome yang lebih terukur, jelasnya.
Dari sisi pengelola, Hadiyanto juga menerangkan bahwa saat ini DJKN terus melakukan
pengembangan sistem aplikasi untuk menunjang pelaksanaan kebijakan ini.
Ia
menginstruksikan agar sistem dibuat sesuai dengan bisnis proses dan terintegrasi dengan
aplikasi lain. Sistem harus bisa mendeteksi upaya-upaya me-mark up kebutuhan itu menjadi
sesuatu yang realistis bisa dieksekusi dan dianggarkan dengan baik, katanya.
Komitmen dari K/L mengimplementasikan bisnis proses perencanaan kebutuhan BMN ini
betul-betul sangat diperlukan dan tidak hanya komitmen, sinergi serta kerjasama seluruh K/L
juga diperlukan agar program ini dalam pelaksanaan bisa berjalan, ujar Pria lulusan Harward
University saat menutup sambutannya.
KEBIJAKAN dan PROSEDUR PERENCANAAN KEBUTUHAN BMN
Sebenarnya perencanaan BMN ini telah ada pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 6 Tahun
2006 tentang Pengelolaan BMN/D, namun melihat kesiapan Kementerian Keuangan dan K/L
serta kondisi keuangan implementasinya ditunda. Konsepnya sudah lama, tetapi baru akan
diimplementasikan, ujar Direktur BMN Chalimah Pujiastuti saat menjelaskan konsep dasar
perencanaan kebutuhan BMN di waktu dan tempat yang sama.
Dengan berlakunya PP Nomor 27 tahun 2014 tentang Pengelolaan BMN/D maka pelaksanaan
perencanaan kebutuhan BMN dirasa perlu dilaksanakan. Peraturan Menteri Keuangan Nomor
150 tahun 2014 tentang perencanaan kebutuhan Barang Milik Negara ditetapkan sebagai
petunjuk pelaksanaannya. Untuk menunjang pelaksanaan perencanaan BMN ditetapkan juga

Keputusan Menteri Keuangan (KMK) Nomor 450/KM.6/2014 tentang Modul Perencanaan


Kebutuhan Barang Milik Negara untuk Penyusunan Rencana Kebutuhan Barang Milik Negara,
KMK Nomor 451/KM.6/2014 tentang Pelimpahan Sebagian Wewenang Menteri Keuangan Yang
Telah Dilimpahkan Kepada Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kepada Direktur Barang Milik
Negara Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Untuk Dan Atas Nama Menteri Keuangan
Menandatangani Dokumen Perencanaan Kebutuhan Barang Milik Negara, dan KMK Nomor
452/KM.6/2014 tentang Modul Perencanaan Kebutuhan Barang Milik Negara untuk Penelaahan
Rencana Kebutuhan Barang Milik Negara
Iim, sapaan akrab Direktur BMN, mengatakan kebijakan ini akan dilaksanakan saat menyusun
Rencana Kerja & Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKAKL) 2016 untuk
diimplementasikan pada 2017 dan dilakukan bertahap. Jadi masih ada banyak waktu beresberes
data
sebelum
pelaksanaan
program
ini,
jelasnya
saat
mengingatkan
pentingnya updating database BMN. Rencana Kebutuhan BMN akan menjadi dasar
penyusunan RKAKL. RK BMN disetujui, baru menyusun RKAKL, imbuhnya.
Terkait dengan perencanaan kebutuhan BMN, Iim menjelaskan saat menyusun kebutuhan
BMN, K/L harus merencanakan BMN tersebut akan digunakan untuk apa dan siapa. Selain itu,
data BMN existing, rencana strategis dan perkembangan proses bisnis juga harus
dipertimbangkan dalam perencanaan BMN. Usulan perencanaan kebutuhan BMN nantinya
akan dilakukan assesment oleh DJKN untuk mengukur kualitas dari perencanaan tersebut.
Iim juga menjelaskan, ruang lingkup perencanaan BMN meliputi perencanaan pengadaan dan
pemeliharaan yang dalam proses penyusunan harus memperhatikan perencanaan
pemanfaatan, pemindahtanganan dan penghapusan. Secara teknis, perencanaan BMN
menggunakan satuan per barang, yang diusulkan adalah jumlah sedangkan untuk nilai
rupiahnya akan ditetapkan oleh Direktur Jenderal Anggaran. Perencanaan pengadaan BMN
untuk tanah dan atau bangunan, serta selain tanah dan atau bangunan yang Standar
Kebutuhan dan Standar Barang (SBSK) telah ditetapkan. Sedangkan untuk perencaaan
pemeliharaan meliputi tanah dan/bangunan, alat angkutan bermotor dan BMN selain tersebut
dengan nilai perolehan per satuan paling sedikit Rp100.000.000.
Kepala Subdit BMN II Asep Suryadi merinci lebih detail mengenai teknis perencanaan
pengadaan BMN. Pengadaan yang dapat dilakukan meliputi tanah dan/atau bangunan/gedung
untuk kantor pemerintah dan tanah dan/atau bangunan untuk rumah negara.
Sementara itu, dalam perencanaan kebutuhan BMN untuk pemeliharaan merupakan kegiatan
merumuskan rincian kebutuhan pemeliharaan atas BMN yang dikuasai, berdasarkan pada
informasi keberadaan, kondisi, dan status penggunaan BMN.
Untuk lebih mengenal tentang perencanaan kebutuhan BMN, peserta workshop juga
diperkenalkan dengan Sistem Informasi Manajemen Aset Negara (SIMAN) dan melakukan
ujicoba penyusunan RK BMN. Kepala Subdirektorat perencanaan dan pengembangan sistem
aplikasi Direktorat Pengelolaan Kekayaan Negara dan Sistem Informasi (PKNSI) Acep Irawan
menjadi narasumber. Acep menjelaskan mengenai konsep, fitur, keunggulan dan cara
penggunaan SIMAN secara ringkas. Sedangkan simulasi perencanaan BMN dibimbing oleh
Iling Saidah dari Direktorat PKNSI. (Teks:Johan/Foto:Niko)

20 K/L Akan Laksanakan Perencanaan


Kebutuhan BMN 2017
|

3 Maret 2015 |

5 Maret 2015, pukul 08:16 |

313 kali

Bandung - Seperti yang telah diungkapkan Direktur Jenderal Kekayaan Negara dalam
sambutan Rapat Koordinasi (rakor) Barang Milik Negara Internal Direktorat Jenderal
Kekayaan Negara (DJKN) mengenai Rencana Kebutuhan Barang Milik Negara
(RKBMN)
yang akan terintegrasi dengan Rencana Kegiatan Anggaran
Kementerian/Lembaga (RKAKL) tahun 2017 pada (23/2), di Gedung Keuangan Negara
Bandung Jawa Barat, Chalimah Pujihastuti Direktur Barang Milik Negara menjelaskan
RKBMN tersebut secara detail dalam road map kebutuhan BMN pada hari berikutnya
(24/2). Ia menjelaskan road mapkebutuhan BMN tahun 2014 s.d. 2018. Dalam kurun
waktu dua tahun hingga tahun 2016, DJKN melakukan langkah-langkah strategis guna
mengaplikasikan target RKBMN dalam RKAKL tahun 2017. Langkah strategis menurut
Chalimah antara lain, melakukan quality assurance aplikasi RKBMN, pilot project,
peningkatan skill melalui workshop maupun
diklat
RKBMN,
dan
pembuatan
kebijakan/peraturan terkait RKBMN. Dengan lugas chalimah mengungkapkan
sesuai road map kebutuhan BMN, tahap awal diterapkan bagi 20 kementerian /lembaga
(K/L) untuk RKAKL tahun 2017. Sedangkan tahap berikutnya, yaitu tahun 2018 akan
diterapkan 50 K/L.
Dalam sesi berikutnya Asep Suryadi Kepala Subdirektorat Barang Milik Negara II
berkesempatan memaparkan modul perencanaan kebutuhan BMN. Ia memaparkan
dua jenis modul perencanaan kebutuhan BMN, yaitu modul perencanaan kebutuhan
BMN untuk penyusunan RKBMN dan modul perencanaan kebutuhan BMN untuk
penelaahan RKBMN. Menurut Asep, modul perencanaan kebutuhan RKBMN meliputi
penjabaran integrasi sistem pengelolaan aset dan sistem penganggaran, sistem dan
prosedur perencanaan kebutuhan BMN untuk pengadaan, sistem dan prosedur
perencanaan kebutuhan BMN untuk pemeliharaan, dan ilustrasi penyusunan rencana
kebutuhan BMN. Sedangkan modul perencanaan kebutuhan BMN untuk penalaahan
RKBMN meliputi tahap persiapan penelahaan, tahap pelaksanaan penelaahan, dan
tahap tindak lanjut hasil penelaahan RKBMN dan perubahan hasil penelaahan RKBMN.
Pada kesempatan lain, masih dalam rangkaian rakor BMN, Acep Irawan Kepala
Subdirektorat Perencanaan Pengembangan Sistem Aplikasi Direktorat Pengelolaan
Kekayaan Negara dan Sistem Informasi menjelaskan materi Sistem Informasi
Manajemen Aset Negara (SIMAN). Aplikasi SIMAN merupakan aplikasi yang digunakan
untuk mulai dari perencanaan, penggunaan, pemeliharaan, penatausahaan,
pemanfaatan, pemindahtanganan, pemusnahan, penghapusan, sampai dengan

pengawasan dan pengendalian BMN, dengan database terpusat dan komunikasi data
berbasis internet yang dapat diakses oleh Pengelola Barang dan Pengguna Barang.
Acep mengungkapkan fitur dalam SIMAN sudah mengakomodir perencanaan kebutuhan
BMN.
Acara rakor yang dilaksanakan selama 3 hari itu, juga membahas mengenai
penyusunan dan penyampaian Laporan BMN (LBMN) Kantor Wilayah (KW) dan LBMN
Kantor Daerah (KD) yang disampaikan oleh Aloysius Yanis Dhaniarto Kepala
Subdirektorat Barang Milik Negara I. Yanis Dhaniarto membahas urgensi permasalahan
terkait penyusunan, pelaporan dan penghimpunan LBMN-KD/KW. Harapnya, kedepan
LBMN KD/KW lebih andal dan tidak ada selisih antara LBMN Pusat dan LBMN KD/KW
sesuai road map LBMN KD/KW hingga tahun 2017.
Di hari terakhir rakor (25/2), monitoring dan evaluasi sertifikasi BMN tanah tahun 2014
dipaparkan Surya Hadi Kepala Subdirektorat Barang Milik Negara III. Menurutnya,
verifikasi hasil identifikasi dan pendataan pendataan BMN berupa tanah dilakukan untuk
meneliti dan meningkatkan validitas data pada Sistem informasi Manajemen Tanah
Pemerintah (SIMANTAP). Sedangkan detail aplikasi SIMANTAP disampaikan pada akhir
acara rakor oleh Purwito Kepala Seksi BMN IIIB sebelum ditutup secara resmi oleh Plt.
Kepala Kantor Wilayah DJKN Jawa Barat Cecep Saefulloh

Pandangan Terhadap Perencanaan dan


Penganggaran
Barang
Milik
Negara/Daerah
POSTED BY DAMAR W POSTED ON 6:40 PM WITH NO COMMENTS

Untuk menunjang tugas dan fungsi unit pemerintahan perlu didukung dengan sarana
dan prasarana yang memadahi, yaitu aset pemerintah atau yang lebih dikenal Barang Milik
Negara. Pemerintah selalu berusaha menyempurnakan peraturan terkait pengelolaan Barang
Milik Negara sehingga dalam penggunaan dan pemanfaatannya dapat efektif dan efisien. Hal
ini terlihat dengan adanya penyempurnaan yang berkesinambungan terkait peraturan
pemerintah pengelolaan Barang Milik Negara, yaitu PP Nomor 6 Tahun 2006 tentang
Pengelolaan Barang Milik Negara. Peraturan pemerintah ini telah mengalami beberapa kali
perubahan. Pertama PP ini dirubah dengan PP Nomor 38 Tahun 2008 dan kemudian dirubah lagi
dengan PP Nomor 27 Tahun 2014.
Akan tetapi ketika kita melihat penerapannya di lapangan, masih banyak masalahmasalah yang muncul terkait pengelolaan Barang Milik Negara. Mulai dari tahap pertama, yaitu
tahap perencanaan dan penganggaran sampai pada proses penghapusan. Khusus pada
pembahasan ini difokuskan pada proses perencanaan kebutuhan Barang Milik Negara.
Munculnya masalah terkait pengelolaan Barang Milik Negara, pada dasarnya bersumber dari
perencanaan yang salah atau perencanaan yang disusun secara tidak tepat. Jika kita menengok
kepada peraturan lanjutan terkait dengan perencanaan Barang Milik Negara, kita melihat
bahwa peraturan ini juga mengalami beberapa penyempurnaan. Pada tahun 2011 diterbitkan
peraturan Menteri Keuangan tentang perencanaan kebutuhan Barang Milik Negara, yaitu PMK
Nomor 226/PMK.06/2011. Pada tahun 2014 peraturan ini telah mengalami perubahan, yaitu
dengan diterbitkan PMK Nomor 150/PMK.06/2014 tentang Perencanaan Kebutuhan Barang Milik
Negara. Untuk perencanaan kebutuhan yang baik dan akuntabel Barang Milik Negara berupa
tanah dan/atau bangunan diterbitkan PMK Nomor 248/PMK.06/2011 tetang Standar Barang dan
Standar Kebutuhan Barang Milik Negara berupa Tanah dan/atau Bangunan. Adanya aturan ini
diharapkan dapat efisien dan efektif dalam pengelolaannya. Untuk mengatur rencana BMN
yang terindikasi idle diterbitkan pula PMK Nomor 250/PMK.06/2011 tentang Tata Cara
Pengelolaan Barang Milik Negara Yang Tidak Digunakan Untuk Menyelenggarakan Tugas Dan
Fungsi

Kementerian/Lembaga.

Demikian

banyak

peraturan

yang

mengatur

tentang

perencanaan kebutuhan Barang Milik Negara. Namun apakah setiap peraturan tersebut
mendukung dengan baik dalam perencanaan kebutuhan BMN?
Penulis merujuk kepada beberapa jurnal yang membahas aplikasi perencanaan
kebutuhan Barang Milik Negara/Daerah sebagai dasar untuk menilai apakah peraturan yang
telah ada sudah secara maksimal mendukung dalam perencanaan kebutuhan barang milik
negara. adapun beberapa jurnal yang penulis rujuk adalah sebagai berikut:

1. Pertama, jurnal dengan judul Pengelolaan Barang Milik Daerah yang disusun oleh
Nyemas Hasfi dkk., sebuah studi pada dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset
Kabupaten Sintang pada tahun 2013. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan diketahui
bahwa dalam pelaksanaan perencanaan kebutuhan dan penganggaran masih didapat jumlah
serta kualitas barang tidak sesuai dengan standarisasi. Dari hasil penelitian menunjukkan masih
adanya kualitas barang yang tidak sesuai dengan standarisasi. Dari hasil penelitian ini
disimpulkan bahwa standar yang ada baik itu standar barang maupun standar kebutuhan tidak
mengakomodasi setiap kebutuhan aset. Peraturan seharusnya bisa mengakomodasi setiap
kebutuhan Aset untuk mendukung tugas dan fungsi organisasi. Sesuai dengan PP Nomor 27
Tahun 2014 pasal 9 ayat (5) disebutkan bahwa standar barang dan standar kebutuhan
ditetapkan oleh Pengelola Barang untuk BMN setelah berkoordinasi dengan instansi terkait atau
ditetapkan oleh Gubernur/Bupati/Walikota untuk BMD setelah berkoordinasi dengan dinas
terkait. Dalam aturan tersebut tidak mengikut sertakan unit pengawas pemerintah atau
konsultan pengadaan aset. Dengan mengikutsertakan pengawas pemerintah atau konsultan
pengadaan aset dalam menentukan standar barang dan kebutuhan, harapannya standar yang
ada bisa mengakomodasi setiap kebutuhan aset.
2. Kedua, jurnal dengan judul Kajian Mengenai Pengelolaan Barang Milik Daerah di
Pemerintah Kota Manado Menurut Permendagri No. 17 Tahun 2007 oleh Wonggow dkk., tahun
2013. Dari hasil penelitian diketahui adanya ketidaktaatan penyampaian RKBU dan RKPBU,
seperti halnya ketepatan waktu yang kurang efisien. Rencana kebutuhan barang unit dan
kebutuhan pemeliharaan barang unit yang diatur dalam Permendagri No. 17 Tahun 2007 belum
ada indikator penyampaian RKBU dan RKPBU secara efisien. Dengan adanya indikator
penyampaian RKBU dan RKPBU secara efisien akan membantu bagi unit-unit pemerintah dalam
perencanaan kebutuhan barang.
3. Ketiga, jurnal Kompasiana berjudul Proses Perencanaan Kebutuhan Mobil Dinas Milik
Negara Harus Transparan (Indira Revi, 2014). Dalam jurnal tersebut diberitakan bahwa
pengadaan mobil Menteri yang telah disiapkan anggarannya oleh Sekretariat Negara ternyata
dibatalkan pengadaannya. Dalam situs Sekretariat Negara, pemenang lelang tender tersebut
adalah PT Mercedez Benz Indonesia yang dipimpin oleh Claus Herbert Weidner dengan nilai Rp
91,9 Miliar. Bentuk pembatalan pemenang lelang sebuah tender pengadaan Barang Milik
Negara, menunjukkan bahwa perencanaan pengadaan Barang Milik Negara tidak dilakukan
dengan baik. Pemerintah baru membatalkan pengadaan mobil dinas dari program pemerintah
sebelumnya karena ada penilaian bahwa Barang Milik Negara yang sudah ada berupa mobil
dinas masih layak digunakan dan menimbang APBN tengah dalam keadaan terbatas. Melihat
kondisi ini, menunjukkan bahwa peraturan yang ada belum mampu menjadikan perencanaan
kebutuhan BMN untuk program lintas periode pemerintahan bisa berjalan selaras. Hal ini juga
menunjukkan bahwa peraturan yang ada terkait perencanaan kebutuhan Barang Milik Negara
belum mampu menyelaraskan pemahaman terhadap pengadaan aset negara antara legislatif
yang telah menyetujui anggaran dan pemerintah yang mengusulkan anggaran.
Dari beberapa jurnal dan informasi yang membahas beberapa masalah perencanaan
Barang Milik Negara/Daerah tersebut dapat disimpulkan bahwa peraturan-peraturan yang ada
terkait pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah khususnya perencanaan kebutuhan Barang
Milik Negara/Daerah belum sepenuhnya menjamin dan mendukung pelaksanaan perencanaan
kebutuhan Barang Milik Negara/Daerah dengan baik. Hal ini terlihat dengan beragam kasus dan

masalah dalam proses perencanaan kebutuhan BMN/D, diantaranya seperti yang penulis
paparkan dalam kritik diatas. Beberapa jurnal diatas adalah bukti ilmiah bahwa masih banyak
masalah dalam proses perencanaan kebutuhan BMN/D, yang mana proses ini merupakan
pondasi dari siklus pengelolaan BMN/D. Begitu pentingnya peraturan yang disusun untuk
menjadi pedoman dan standar dalam pelaksanaan pengelolaan BMN/D, diharapkan peraturanperaturan yang ada benar-benar bisa mendukung dan memberikan keyakinan yang memadai
dalam pelaksanaan pengelolaan BMN khususnya dalam proses perencanaan kebutuhan Barang
Milik Negara/Daerah.

Permasalahan Perencanaan dan


Penganggaran BMN
Tahun 2006 merupakan awal dari perubahan paradigma pengelolaan Barang Milik
Negara (BMN) karena pada tahun 2006 tersebut terbit Peraturan Pemerintah (PP)
Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah sebagai
kelanjutan dari 3 (tiga) paket undang-undang yang telah lahir sebelumnya yaitu
Undang- Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU Nomor 1
tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, dan UU Nomor 15 Tahun 2004
tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.
Pengelolaan aset negara dalam pengertian yang dimaksud dalam PP No.6 Tahun
2006 yang telah diubah beberapa kali terakhir dengan PP No.27 Tahun 2014 adalah
tidak sekedar administratif semata, tetapi lebih maju berfikir dalam menangani aset
negara, dengan bagaimana meningkatkan efisiensi, efektifitas, dan menciptakan
nilai tambah dalam mengelola aset. Oleh karena itu, lingkup pengelolaan Barang
Milik Negara/ Daerah yang disebutkan dalam Pasal 3 ayat (2) PP No.27 Tahun 2014
tersebut mencakup perencanaan kebutuhan dan penganggaran, pengadaan,
penggunaan, pemanfaatan,
pengamanan
dan
pemeliharaan,
penilaian,
pemindahtanganan, pemusnahan, penghapusan, penatausahaan; dan pembinaan,
pengawasan dan pengendalian.
Atas dasar PP No.6 Tahun 2006 yang telah diubah beberapa kali terakhir dengan PP
No.27 Tahun 2014 tersebut, maka terbitlah Peraturan Menteri Keuangan Nomor
150/PMK.06/2014 tentang Perencanaan Kebutuhan Barang Milik Negara yang
menggantikan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 226/PMK.06/2011, yang menjadi
pedoman perencanaan pengadaan dan pemeliharaan Barang Milik Negara bagi
Kementerian/ Lembaga.
Pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 150/PMK.06/2014 disebutkan bahwa
Perencanaan Kebutuhan adalah kegiatan merumuskan rincian kebutuhan
Barang Milik Negara/Daerah untuk menghubungkan pengadaan barang yang
telah lalu dengan keadaan yang sedang berjalan sebagai dasar dalam

melakukan tindakan yang akan datang. Perencanaan Kebutuhan BMN dituangkan


dalam sebuah dokumen perencanaan BMN dalam periode 1 tahun yang disebut
Rencana Kebutuhan Barang Milik Negara (RKBMN). RKBMN memuat informasi
berupa unit BMN yang direncakanan untuk dilakukan pengadaan dan/atau
pemeliharaan. Perencanaan kebutuhan BMN tersebut berpedoman pada rensta K/L,
standar barang, standar kebutuhan dengan memperhatikan ketersediaan BMN,
status barang dan kondisi barang.
Dengan terbitnya PMK Nomor 150/PMK.06/2014 tersebut, seharusnya perencanaan
BMN menjadi lebih terarah dalam rangka peningkatan efisiensi, efektifitas, dan
menciptakan nilai tambah dalam mengelola aset. Namun dalam kenyataannya,
masih terdapat permasalahan yang timbul dalam perencanaan dan penganggaran
BMN, yaitu ketidaktepatan perencanaan kebutuhan BMN. Tidak jarang kemudian
rencana kebutuhan ini dianggarkan, realisasinya menjadi sulit untuk diterapkan
sebagai akibat dari tidak direncanakan dengan matang; atau kalaupun terealisasi,
tetapi barang tersebut tidak dapat dioperasionalkan/ tidak dimanfaatkan.
Kondisi yang mungkin menjadi penyebab atas kegagalan perencanaan BMN
tersebut antara lain :
1) Pencatataan atas jumlah, nilai, status dan kondisi barang masih kurang akurat.
Pada kementerian/ Lembaga, informasi mengenai jumlah, nilai, status, dan kondisi
BMN telah dituangkan dalam sebuah sistem inormasi yang disebut Sistem Informasi
Manajemen dan Akuntansi Barang Milik Negara (SIMAK-BMN), dan
penanggungjawab pencatatan dan inventarisasi BMN tersebut adalah Kuasa
Pengguna Barang, yang dalam hai ini adalah Kepala Kantor dalam lingkungan
Kementerian/ Lembaga (Pasal 7 ayat (2)c. PMK Nomor 150/PMK.06/2014).
Dalam penyusunan RKBMN untuk pengadaan BMN, Pengguna Barang/ Kuasa
Pengguna Barang harus memperhatikan ketersediaan BMN yang ada, dan
penyusunan RKBMN untuk pemeliharaan BMN, Pengguna Barang/ Kuasa
Pengguna Barang harus memperhatikan daftar barang yang memuat informasi
mengenai status barang dan kondisi barang (Pasal 8 ayat (1) dan (2) PMK Nomor
150/PMK.06/2014). Namun pada kenyataan, masih banyak pencatatan atas jumlah,
nilai, status dan kondisi BMN yang masih kurang akurat, sehingga RKBMN yang
disusun pun belum menggambarkan kebutuhan BMN yang sesungguhnya.
2) Belum optimalnya mekanisme kontrol terhadap RKBMN yang diajukan.
Proses perencanaan kebutuhan selama ini dirumuskan sendiri oleh Pengguna
Barang (dalam hal ini adalah Kementerian/Lembaga masing-masing), sementara
persetujuan penganggaran dilakukan oleh Direktorat Jenderal Anggaran (DJA)
Kementerian Keuangan. Sebagaimana dijelaskan di atas, dalam proses
perencanaan kebutuhan, selama ini DJKN sama sekali tidak diberi kewenangan
apapun untuk menyentuhnya. Implikasinya, tidak ada mekanisme kontrol yang

memadai terhadap Kementerian/Lembaga dalam merumuskan barang apa saja


yang memang benar-benar Kementerian/Lembaga itu butuhkan. Kondisi demikian
bisa berakibat pada terjadinya ketidaktepatan perencanaan kebutuhan yang
dirumuskan sendiri oleh Kementerian/Lembaga itu. Ujung-ujungnya, jika kemudian
rencana kebutuhan ini dianggarkan, realisasinya menjadi sulit untuk
diterapkan_sebagai akibat dari tidak direncanakan dengan matang; atau kalaupun
terealisasi, akan berakibat pada terjadinya redundansi barang di kemudian hari. Hal
ini tentu saja akan berdampak pada terjadinya inefektivitas, inefisiensi, dan tidak
optimalnya pengelolaan BMN.
3) Ketentuan yang tidak konsisten antara peraturan yang satu dengan yang lain.
Dalam sebuah institusi pemerintah, peraturan menjadi dasar yang sangat penting
dalam melaksanakan sebuah tindakan atau kegiatan, sehingga aturan yang konsiten
dan stabil sangatlah diperlukan. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa aturan tersebut
dapat berubah-ubah seiring dengan perkembangan kondisi, kemajuan teknologi,
serta perkemban sistem informasi.
Permasalahan akan timbul jika ketentuan yang mengatur hal yang sama antara
peraturan yang satu dengan peraturan yang lainnya berbeda, sebagai contoh dalam
PP No.27 Tahun 2014 Pasal 9 ayat (4) disebutkan bahwa Perencanaan Kebutuhan
kecuali untuk Penghapusan, berpedoman pada standar barang, standar kebutuhan;
dan/atau standar harga. Sedangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor
150/PMK.06/2014, perencanaan kebutuhan BMN berpedoman pada rensta K/L,
standar barang, standar kebutuhan.
Atas dasar kondisi diatas, maka diperlukan langkah-langkah strategis agar rencana
kebutuhan dirumuskan dengan benar dan tepat sesuai dengan apa yang nyatanyata dibutuhkan; penganggaran dilakukan sesuai dengan rencana kebutuhan,
meningkatkan efisiensi, efektifitas, dan menciptakan nilai tambah dalam mengelola
aset, yaitu :
1. Mengoptimalkan peran APIP.
Peran APIP sangat dibutuhkan guna meningkatkan keandalan databaseBMN yang
dicatat oleh Kuasa Pengguna Barang, review terhadap kebenaran dan kelangkapan
RKBMN serta kepatuhan terhadap penerapan ketentuan perencanaan kebutuhan
BMN.
Untuk merumuskan apakah benar Kementerian/Lembaga membutuhkan atau
tidaknya suatu BMN, tentu dibutuhkan databaseBMN yang andal. Tanpa database
yang andal, pelaksanaan perencanaan kebutuhan dan penganggaran sudah pasti
tidak akan berjalan sebagaimana yang diharapkan.
2. Meningkatkan peran DJKN dalam filter RKBMN yang diajukan
DJKN dapat menjadi filter Kementerian/Lembaga dalam merumuskan kebutuhan
barangnya sebelum rencana kebutuhan barang itu diajukan untuk dianggarkan

kepada DJA. Pada tahap awal, Kementerian/Lembaga memang tetap berwenang


untuk merumuskan sendiri BMN yang mereka butuhkan. Akan tetapi, sebelum
Kementerian/Lembaga
mengajukan
Rencana
Kerja
dan
Anggaran
Kementerian/Lembaga, DJKN akan melakukan assessment terlebih dahulu pada
rencana kebutuhan BMN Kementerian/Lembaga itu. Assessment dilakukan dengan
membandingkan rencana kebutuhan BMN Kementerian/Lembaga dengan existing
assets yang selama ini telah dimiliki. Dalam hal Kementerian/Lembaga memang
benar-benar membutuhkan BMN melalui proses pengadaan, rencana kebutuhan
Kementerian/Lembaga dapat diusulkan kepada DJA dalam RKA K/L yang
bersangkutan. Dalam hal ternyata Kementerian/Lembaga memang benar-benar
membutuhkan BMN akan tetapi bisa diupayakan tanpa melalui proses pengadaan,
solusi non aset dalam bentuk hibah, sewa, alih status, dan optimalisasi
BMN idle dapat dilakukan. Dalam hal ternyata Kementerian/Lembaga tidak benarbenar membutuhkan BMN, rencana kebutuhan BMN tidak perlu diusulkan dalam
RKA-K/L yang bersangkutan.
3. Konsistensi antar peraturan.
Peraturan yang baik adalah peraturan yang tidak bertentangan dengan peraturan
yang lebih tinggi, tidak tumpang tindih dengan peraturan lain yang satu level, mampu
mengakomodasi kebutuhan akan peraturan, serta bisa teraplikasikan dalam praktik.
Selain itu, penambahan mekanisme birokrasi yang baru nanti sebisa mungkin
diharapkan tidak memperlambat proses penyusunan RKA-K/L sehingga tidak
kontraproduktif terhadap siklus APBN secara keseluruhan.
4. Kerjasama yang sinergi antara Pengguna Barang/ Kuasa Pengguna Barang,
Pengelola Barang, DJKN, dan DJA.
Pada akhirnya kesemua proses ini tidak akan berjalan jika Pengguna Barang/ Kuasa
Pengguna Barang, Pengelola Barang, DJKN, dan DJA tidak memiliki pemahaman
yang sama mengenai pentingnya perencanaan kebutuhan yang tepat dalam praktik
pengelolaan APBN pada umumnya dan pengelolaan BMN pada khususnya. Untuk
itu, setiap pihak wajib memiliki paradigma yang sama sehingga kedepannya proses
perencaan kebutuhan dan penganggaran ini dapat berjalan dengan baik
sebagaimana idealnya.

Perencanaan Kebutuhan BMN Harus


Berpedoman pada SBSK
|

12 Maret 2015 |

13 Maret 2015, pukul 11:20 |

1293 kali

Jakarta - Perencanaan kebutuhan Barang Milik Negara (BMN) ke depan akan menjadi satu
siklus dengan perencanaan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKAKL).
Oleh karena itu, K/L harus memanfaatkan dan mengoptimalkan BMN yang ada. Perencanaan
kebutuhan BMN harus berpedoman pada SBSK (Standar Barang Standar Kebutuhan-red) yang
telah ditetapkan, ujar Direktur Jenderal Kekayaan Negara Hadiyanto saat membuka
Workshop Perencanaan Kebutuhan BMN untuk K/L pada Rabu, (11/3) di Jakarta.
Lebih lanjut, Hadiyanto menegaskan DJKN juga harus bisa membuktikan bahwa fungsi
perencanaan BMN jangan dianggap menambah layer birokrasi, namun hal ini mampu
menjawab berbagai permasalahan antara lain inefisiensi anggaran, inefektifitas pengadaan,
dan under utilisasi dalam pengelolaan BMN. Perencanaan kebutuhan BMN ini akan masuk
dalam RKAKL mulai efektif pada tahun 2017. Oleh karena itu, dibutuhkan kesiapan yang
matang baik dari DJKN sebagai pengelola barang maupun K/L sebagai pengguna barang. Kita
harus siap dan kesiapan itu dimulai dengan komitmen, tegasnya.
Ia juga mengapresiasi capaian pengelolaan BMN dalam satu dekade terakhir ini. Hal ini
dibuktikan dengan semakin tertibnya Laporan Keuangan Pemerintah Pusat dan opini BPK
terhadap LKPP. Hal ini semakin mendorong pengelolaan BMN sehingga terciptanya 3T (Tertib
fisik, Tertib hukum, dan Tertib administrasi). Sucess story ini jangan sampai membuat kita
lengah apalagi turun, tuturnya mengingatkan.
Pria lulusan Harvard University ini menyampaikan peran DJKN yang semakin strategis dari
administrator yang hanya mencatat, menyajikan dan melaporkan menjadi manajer aset yang
mengelola, merencanakan dan mengawasi penggunaan BMN. Terakhir, ia menyampaikan
bahwa kesuksesan perencanaan kebutuhan BMN tidak hanya di Kementerian Keuangan saja
tapi juga kesuksesan K/L.
Di tempat yang sama, Direktur BMN Chalimah Pujiastuti menyampaikan workshop ini
merupakan salah satu upaya mitigasi resiko kesiapan K/L sebagai pengguna barang dalam
perencanaan kebutuhan BMN. Perencanaan kebutuhan BMN dilakukan secara bertahap mulai
tahun 2017. Perencanaan kebutuhan BMN akan dilakukan di RKAKL 2017 pada 20 K/L, 2018
pada 50 K/L dan 2019 akan dilakukan pada seluruh K/L. Perencanaan ini juga telah
dilakukan piloting pada tiga K/L antara lain Kementerian Keuangan, Badan Meteorologi,
Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Iim, sapaan akrab Chalimah menjelaskan hal-hal yang penting dalam perencanaan BMN
antara lain, pokok-pokok perencanaan BMN, penyempurnaan siklus pengelolaan BMN/D, dan
integrasi sistem pengelolaan aset dan sistem penganggaran. Ia juga mengingatkan agar
seluruh K/L dapat memanfaatkan aset-asetnya seoptimal mungkin. Kalau belum optimal
asetnya, tolong asetnya dimanfaatkan agar lebih optimal, tuturnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan perencanaan kebutuhan BMN merupakan awal siklus dalam
pengelolaan aset yang belum dilakukan hingga saat ini. Ia juga menjelaskan bahwa RKBMN
merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari RKAKL karena kalau tidak ada RKBMN maka
tidak akan bisa menyusun RKAKL.

Kepala Subdirektorat BMN II Asep Suryadi di acara yang sama juga menjelaskan mengenai
modul perencanaan kebutuhan BMN meliputi, Penyusunan RKBMN Pengadaan dan
penyusunan RKBMN pemeliharaan. Penyusunan RKBMN pengadaan berupa tanah dan/atau
bangunan/gedung untuk kantor pemerintah dan untuk rumah negara sedangkan penyusunan
RKBMN pemeliharaan merupakan kegiatan merumuskan rincian kebutuhan pemeliharaan atas
BMN yang dikuasai, berdasarkan pada informasi keberadaan, kondisi, dan status penggunaan
BMN. Selain itu, ia juga mencontohkan beberapa SBSK bangunan gedung kantor yang ideal.
Senada dengan Asep Suryadi, Kepala Subdirektorat PPSA Direktorat Pengelolaan kekayaan
Negara dan Sistem Informasi Acep Irawan mengemukakan perencanaan kebutuhan BMN
harus didukung dengan sistem teknologi informasi yang memadai. Sistem Informasi
Manajemen Aset negara (SIMAN) merupakan aplikasi yang digunakan untuk mendukung
program ini. Aplikasi ini digunakan untuk perencanaan, penggunaan, pemeliharaan,
penatausahaan,
pemanfaatan,
pemindahtanganan,
penghapusan
sampai
dengan
pengawasan dan pengenadalian BMN. Aplikasi ini berbasis internet dengan database
terpusat serta dapat diakses oleh pengguna maupun pengelola barang, katanya.
Menurutnya, penyimpanan dokumen BMN saat ini kurang efisien dalam hal penyimpanan
maupun pencarian data. Dengan aplikasi ini diharapkan pencarian data maupun
penyimpanan data BMN dapat lebih mudah maupun lebih tertata. Acep mengemukakan salah
satu tujuan pengembangan SIMAN yaitu membangun sistem informasi manajemen aset
negara yang standar untuk pengelola dan penggunan barang dan membangun database aset
terpusat dengan memberikan otorisasi akses. Selain itu, SIMAN juga membangun sistem
otomasi proses pengajuan perencanaan, penggunaan, pemeliharaan, penatausahaan,
pemanfaatan, pemindahtanganan, penghapusan aset sehingga pengelolaan BMN menjadi
lebih akurat, cepat, efisien serta terdokumentasi secara digital. Sampai berita ini ditulis, acara
masih berlangsung dan akan berakhir pada Jumat (13/3) dengan diikuti oleh 52 K/L.