Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN KASUS

PENYAKIT TRIGEMINAL NEURALGIA


Disusun untuk Mengikuti Ujian Stase Ilmu Kesehatan Saraf
di RSUD Tidar Magelang

Diajukan Kepada :
dr. TH Suryono, Sp.S

Disusun Oleh :
Lilik Eko Pranantyo 20080310020

SMF BAGIAN ILMU KESEHATAN SARAF RSUD TIDAR MAGELANG


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2012

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA

LAPORAN KASUS ILMU PENYAKIT SARAF

Ruang : Poly penyakit saraf

NO.RM: xxxxx

Dokter yang merawat : dr.TH Suryono,Sp.S

I.

IDENTITAS
Nama

: Ibu Marisah

Umur

: 52 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Pekerjaan

: Buruh tani

Alamat

: Jambu, Tempuran, Magelang

1. Tanggal 13 Juli 2011 ( Rabu )


II.
ANAMNESA
a.
Keluhan Utama
Pasien dating ke Poliklinik Syaraf RSU Tidar Magelang mengeluhkan rahang bawah kanan
terasa panas cekot cekot menjalar hingga ke dalam dan gigi bagian kanan terasa nglemeng
b.
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien merasakan nyeri panas menjalar di rahang sebelah kanan mulai 6 bulan yang lalu. .
Awalnya nyeri terasa pada seluruh muka sebelah kanan khususnya sebelah mata, rahang atas
dan rahang bawah, yang kemudian membaik setelah melakukan pengobatan selama 6 bulan
terakhir. Nyeri semakin terasa ketika terkena air dan digunakan untuk mengunyah makanan.
c.
Riwayat penyakit dahulu
Belum pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya, tidak ada riwayat hipertensi dan
diabetes. Pernah control ke dokter gigi di PUSKESMAS sekitar tempat tinggal dan
disarankan untuk mencabut giginya karena dugaan abses di ginggiva. Kontrol ke RSU Tidar
setiap bulan
d.
Riwayat penyakit keluarga
Tidak ada anggota keluarga dengan keluhan yang sama

Anamnesis Sistem

Neurologi

: Kejang (-), Panas (-), Pusing (-), penurunan Kesadaran (-)


Kelemahan anggota Gerak (-),Pada Pemeriksaan Nervus Trigeminus

: peningkatan sensibilitas n. V cabang III facialis dextra Refleks corneal (+), Mengunyah (+)
nyeri, Refleks bersin (tidak dilakukan). Pada pemeriksaan kekuatan otot, reflek fisiologis dan
patologis tidak terdapat kelainan..

Respirasi
: Sesak Nafas (-), Batuk (-), Pilek (-)

Kardiovaskuler
: Debar-debar (-)

Gastrointestinal
: Muntah (-), Mual (-)

Urogenital
: BAK (N), Nyeri BAK (-)

Muskuloskeletal
: Kelemahan Anggota Gerak (-), nyeri panas menjalar pada
rahang bawah sebelah kanan
III.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
-

PEMERIKSAAN FISIK
Kesadaran
: Compos Mentis.
Keadaan Umum : Baik.
Vital Sign
: Tensi 130/80, nadi: 60x/menit
Pasien memiliki postur tegak normal.
GCS
: EVM (4/5/6)
Ekstremitas
: Akral Hangat, Nadi Reguler.
Neurologi
:

Chaddock:-/-

Hoffmen-Tromner:-/-

Openheim:-/-

Gordon:-/-

Bing:-/-

Rosolimo:-/-

h.

Babinski(gores plantar):-/-

Kekuatan Otot
Dextra
Sinistra

IV.

5/5/5

5/5/5

5/5/5

5/5/5

PEMERIKSAAN NEUROLOGI

Pemeriksaan Nervus Kranial


No
1

Nama Nervus
I : Olfaktorius

Komponen Yg diperiksa
Kanan
Secara subyektif : membau Tidak

Kiri
Tidak

sesuatu secara bergantian hidung dilakukan dilakukan


2
3

ditutup
Tajam Penglihatan

II: Optikus

Dbn

Dbn

Lapang penglihatan
Bentuk dan ukuran pupil

dbn
Dbn

Dbn
Dbn

Refleks terhadap sinar

dbn

dbn

Gerak mata: atas, bawah, dbn

dbn

IV : Trokhlearis

medial
Gerak mata ke lateral Dbn

Dbn

V : Trigeminus

bawah
Membuka mulut

nyeri

Dbn

Tidak

Tidak

III

: -

Occulomotorius

4
5

Refleks kornea

dilakukan dilakukan
-

Refleks bersin

Tidak

Tidak

dilakukan dilakukan
6
7

VI : Abducens
VII : Fasialis

VIII: Akustikus

IX

X : Vagus

11

XI: Accesorius

12

XII
Hipoglosus

V.

Mengunyah
nyeri
Gerak mata superior obliq Dbn
Mengerutkan dahi
Dbn

Dbn
Dbn
Dbn

Menutup mata

Dbn

Dbn

Memperlihatkan gigi
Test rhinne,weber

Dbn
Tidak

Dbn
Tidak

: -

Glossofaringeus

10

Perasaan

lidah

dilakukan dilakukan
bagian Tidak
Tidak

belakang (tidak dilakukan)

dilakukan dilakukan

Refleks muntah

Bicara

Dbn

Menelan

Dbn

Nadi
Memalingkan kepala

Dbn
Dbn

Sikap bahu
Menjulurkan lidah

Dbn
Dbn

Artikulasio

Dbn

: -

DIAGNOSIS KERJA :
Diagnosis kerja : Trigeminal Neuralgia
Diagnosis topik : Trigeminal neuralgia nervus mandibularis
Diagnosis klinis : neurotic pain di mandibula dextra.
Diagnosis etiologi : terganggunya nervus Trigeminus pars mandibularis
4

VI.
TERAPI :
- Clobazam 0-0-1 perhari
- THP 3x1 perhari
- Leparson 3x1 perhari

BAB I
PENDAHULUAN
Trigeminal Neuralgia merupakan suatu keluhan serangan nyeri wajah satu sisi yang
berulang. Disebut Trigeminal neuralgia, karena nyeri di wajah ini terjadi pada satu atau lebih
saraf dari tiga cabang saraf Trigeminal. Saraf yang cukup besar ini terletak di otak dan
membawa sensasi dari wajah ke otak. Rasa nyeri disebabkan oleh terganggunya fungsi saraf
Trigeminal sesuai dengan daerah distribusi persarafan salah satu cabang saraf Trigeminal
yang diakibatkan oleh berbagai penyebab.
Serangan neuralgia Trigeminal dapat berlangsung dalam beberapa detik sampai
semenit. Beberapa orang merasakan sakit ringan, kadang terasa seperti ditusuk. Sementara
yang lain merasakan nyeri yang cukup kerap, berat, seperti nyeri saat kena setrum listrik.
Prevalensi penyakit ini diperkirakan sekitar 107.5 pada pria dan 200.2 pada wanita per
satu juta populasi. Penyakit ini lebih sering terjadi pada sisi kanan wajah dibandingkan
dengan sisi kiri (rasio 3:2), dan merupakan penyakit pada kelompok usia dewasa (dekade
enam sampai tujuh). Hanya 10 % kasus yang terjadi sebelum usia empat puluh tahun.
Sumber lain menyebutkan, penyakit ini lebih umum dijumpai pada mereka yang
berusia di atas 50 tahun, meskipun terdapat pula penderita berusia muda dan anak-anak.
Trigeminal Neuralgia merupakan penyakit yang relatif jarang, tetapi sangat
mengganggu kenyamanan hidup penderita, namun sebenarnya pemberian obat untuk
5

mengatasi Trigeminal neuralgia biasanya cukup efektif. Obat ini akan memblokade sinyal
nyeri yang dikirim ke otak, sehingga nyeri berkurang, hanya saja banyak orang yang tidak
mengetahui dan menyalahartikan Neuralgia Trigeminal sebagai nyeri yang ditimbulkan
karena kelainan pada gigi, sehingga pengobatan yang dilakukan tidaklah tuntas.

BAB II
TRIGEMINAL NEURALGIA
A. Defenisi
Trigeminal neuralgia adalah sindrom nyeri pada wajah pada area persarafan Nervus
Trigeminus pada satu cabang atau lebih, secara paroksismal berupa nyeri tajam yang tidak
diketahui penyebabnya dan biasanya terjadi pada umur 40 tahun keatas.
B. Anatomi Fisiologis Nervus Trigeminus
Nervus Trigeminus merupakan saraf cranial terbesar yang memiliki 3 percabangan
yaitu :
1. Nervus Opthalmicus bersifat sensoris murni. Berjalan ke depan pada dinding lateral
sinus cavernosus dalam fossa crania media dan bercabang tiga; n. lacrimalis, frontalis,
dan nasociliaris, yang masuk ke orbita melalui fissure orbitalis superior. Saraf ini
disebarkan ke kornea mata, kulit dahi dan kepala, kelopak mata, mukosa sinus
paranasales, dan cavum nasi.
2. Nervus maxillaries bersifat sensoris murni. Meninggalkan cranium melalui foramen
rotumdum dan kemudian disebarkan ke kulit muka di atas maxilla, gigi rahang atas,
mukosa hidung, sinus maxillaries dan palatum.

3. Nervus mandibularis bersifat motoris dan sensoris. Radiks sensoris meninggalkan


ganglion trigeminal dan berjalan keluar cranium melalui foramen ovale. Radiks
motoris n.trigeminus juga keluar dari cranium melalui foramen yang sama dan
bergabung dengan akar sensoris membentuk truncus n.mandibularis. Serabut sensoris
n.mandibularis mensarafi kulit pipi dan kulit atas mandibula dan sisi kepala. Juga
mensarafi articulation temporomandibularis dan gigi rahang bawah, mukosa pipi,
dasar mulut, dan bagian depan lidah. Serabut motoris n.mandibularis mensarafi otototot pengunyah.
Nervus Trigeminus merupakan saraf sensoris utama kepala dan saraf otot-otot
pengunyah. Dan juga menegangkan palatum molle dan membrane tympani.
Fungsi nervus Trigeminus dapat dinilai melalui pemeriksaan rasa suhu, nyeri dan raba
pada daerah inervasi N. V (daerah muka dan bagian ventral calvaria), pemeriksaan refleks
kornea, dan pemeriksaan fungsi otot-otot pengunyah. Fungsi otot pengunyah dapat diperiksa,
misalnya dengan menyuruh penderita menutup kedua rahangnya dengan rapat, sehingga gigigigi pada rahang bawah menekan pada gigi-gigi rahang atas, sementara m. Masseter dan m.
Temporalis dapat dipalpasi dengan mudah.
C. Etiologi
Mekanisme patofisiologis yang mendasari trigeminal neuralgia belum begitu pasti,
walau sudah sangat banyak penelitian dilakukan. Kesimpulan Wilkins, semua teori tentang
mekanisme harus konsisten dengan:
1.Sifat nyeri yang paroksismal, dengan interval bebas nyeri yang lama.
2. Umumnya ada stimulus 'trigger' yang dibawa melalui aferen berdiameter besar (bukan
serabut nyeri) dan sering melalui divisi saraf kelima diluar divisi untuk nyeri.
3. Kenyataan bahwa suatu lesi kecil atau parsial pada ganglion gasserian dan/ atau akar-akar
saraf sering menghilangkan nyeri.
4. Terjadinya trigeminal neuralgia pada pasien yang mempunyai kelainan demielinasi sentral
(terjadi pada 1% pasien dengan sklerosis multipel)

Kenyataan ini tampaknya memastikan bahwa etiologinya adalah sentral dibanding


saraf tepi. Paroksisme nyeri analog dengan bangkitan dan yang menarik adalah sering dapat
dikontrol dengan obat-obatan anti kejang (karbamazepin dan fenitoin).
Tampaknya sangat mungkin bahwa serangan nyeri mungkin menunjukkan suatu
cetusan 'aberrant' dari aktivitas neuronal yang mungkin dimulai dengan memasukkan input
melalui saraf kelima, berasal dari sepanjang traktus sentral saraf kelima, atau pada tingkat
sinaps sentralnya.
Berbagai keadaan patologis menunjukkan penyebab yang mungkin pada kelainan ini.
Pada kebanyakan pasien yang dioperasi untuk trigeminal neuralgia ditemukan adanya
kompresi atas nerve root entry zone' saraf kelima pada batang otak oleh pembuluh darah
(45-95% pasien). Hal ini meningkat sesuai usia karena sekunder terhadap elongasi arteria
karena penuaan dan arteriosklerosis dan mungkin sebagai penyebab pada kebanyakan pasien.
Otopsi menunjukkan banyak kasus dengan keadaan penekanan vaskuler serupa tidak
menunjukkan gejala saat hidupnya. Kompresi nonvaskuler saraf kelima terjadi pada beberapa
pasien. 1-8% pasien menunjukkan adanya tumor jinak sudut serebelopontin (meningioma,
sista epidermoid, neuroma akustik, AVM) dan kompresi oleh tulang (misal sekunder terhadap
penyakit Paget). Tidak seperti kebanyakan pasien dengan NT, pasien ini sering mempunyai
gejala dan/atau tanda defisit saraf kranial.
Penyebab lain yang mungkin, termasuk cedera perifer saraf kelima (misal karena
tindakan dental) atau sklerosis multipel, dan beberapa tanpa patologi yang jelas.
D. Gambaran Klinik
Serangan trigeminal neuralgia dapat berlangsung dalam beberapa detik sampai
semenit, unilateral (97%), Paling sering pada cabang ke 2 dan 3 Beberapa orang merasakan
sakit ringan, kadang terasa seperti ditusuk. Sementara yang lain merasakan nyeri yang cukup
berat, seperti nyeri saat kena setrum listrik, kena pukulan jab, atau ada kawat di sepanjang
wajahnya. nyeri yang muncul mendadak, berat, seperti sengatan listrik, biasanya pada satu
sisi rahang atau pipi. Pada beberapa penderita, mata, telinga atau langit-langit mulut dapat
pula terserang. Pada kebanyakan penderita, nyeri berkurang saat malam hari, atau pada saat
penderita berbaring.

Serangan ini hilang timbul. Bisa jadi dalam sehari tidak ada rasa sakit. Namun, bisa
juga sakit menyerang setiap hari atau sepanjang Minggu. Lalu, tidak sakit lagi selama
beberapa waktu. Trigeminal neuralgia biasanya hanya terasa di satu sisi wajah, tetapi bisa
juga menyebar dengan pola yang lebih luas. Jarang sekali terasa di kedua sisi wajah dalam
waktu bersamaan.
Insiden 4,3 per 100.000 populasi/tahun, perempuan > laki-laki, sering pada usia
dewasa setelah 40 tahun, ditemukan juga pada anak usia 12 tahun.
E. Klasifikasi
Neuralgia Trigeminal (NT) dapat dibedakan menjadi:
1. NT Tipikal, 2. NT Atipikal, 3. NT karena Sklerosis Multipel,
4. NT Sekunder, 5. NT Paska Trauma, dan 6. Failed Neuralgia Trigeminal.
Bentuk-bentuk neuralgia ini harus dibedakan dari nyeri wajah idiopatik (atipikal) serta
kelainan lain yang menyebabkan nyeri kranio-fasial.

F. Diagnosa
Cara menegakkan diagnosa Trigeminal Neuralgia hanya berdasarkan anamnesa pasien
secara teliti dan cermat.
3 Karakter umum terhadap nyeri kraniofasial :

Kunci diagnosis adalah riwayat. Umumnya, pemeriksaan dan test neurologis


(misalnya CT scan) tak begitu jelas. Faktor riwayat paling penting adalah distribusi nyeri dan
9

terjadinya 'serangan' nyeri dengan interval bebas nyeri relatif lama. Nyeri mulai pada
distribusi divisi 2 atau 3 saraf kelima, akhirnya sering menyerang keduanya. Beberapa kasus
mulai pada divisi 1.
Biasanya, serangan nyeri timbul mendadak, sangat hebat, durasinya pendek (kurang
dari satu menit), dan dirasakan pada satu bagian dari saraf Trigeminal, misalnya bagian
rahang atau sekitar pipi. Nyeri seringkali terpancing bila suatu daerah tertentu dirangsang
(trigger area atau trigger zone).
Trigger zones sering dijumpai di sekitar cuping hidung atau sudut mulut. Yang unik
dari trigger zone ini adalah rangsangannya harus berupa sentuhan atau tekanan pada kulit
atau rambut di daerah tersebut. Rangsang dengan cara lain, misalnya dengan menggunakan
panas, walaupun menyebabkan nyeri pada tempat itu, tidak dapat memancing terjadinya
serangan neuralgi. Pemeriksaan neurologik pada neuralgi Trigeminal hampir selalu normal.
Tidak terdapat gangguan sensorik pada neuralgi Trigeminal murni.
Suatu varian neuralgia Trigeminal yang dinamakan tic convulsive ditandai dengan
kontraksi sesisih dari otot muka yang disertai nyeri yang hebat. Keadaan ini perlu dibedakan
dengan gerak otot muka yang bisa menyertai neuralgi biasa, yang dinamakan tic douloureux.
Tic convulsive yang disertai nyeri hebat lebih sering dijumpai di daerah sekitar mata dan lebih
sering dijumpai pada wanita.
Secara sistematis, anamnesis dan pemeriksaan fisik dilakukan sebagai berikut:
Anamnesis

Lokalisasi nyeri, untuk menentukan cabang nervus trigeminus yang terkena.

Menentukan waktu dimulainya neuralgia Trigeminal dan mekanisme pemicunya.

Menentukan interval bebas nyeri.

Menentukan lama, efek samping, dosis, dan respons terhadap pengobatan.

Menanyakan riwayat penyakit herpes.

Pemeriksaan Fisik

10

Menilai sensasi pada ketiga cabang nervus trigeminus bilateral (termasuk refleks
kornea).

Menilai fungsi mengunyah (masseter) dan fungsi pterygoideus (membuka mulut,


deviasi dagu).

Menilai EOM.
Pemeriksaan penunjang diagnostik seperti CT-scan kepala atau MRI dilakukan untuk

mencari etiologi primer di daerah posterior atau sudut serebelo-pontin.

G. Mekanisme Nyeri
1. Nyeri Sederhana (Fisiologi) ; berlangsung singkat tidak menimbulkan kerusakan
jaringan. Berperan penting sebagai refleks menghindar, meningkatkan kewaspadaan.
2. Nyeri Nosiseptif (Inflamasi) ; Nyeri yang didahului dengan kerusakan atau
inflamasi jaringan.
3. Nyeri Neuropatik ; Nyeri yang didahului/disebabkan oleh lesi atau disfungsi primer
pada sistem saraf.
Penyebab nyeri neuropatik :

11

Lesi penyakit pada system saraf perifer; Polineuropati Diabetika.

Lesi pada sisem saraf pusat; Stroke, Multiple sclerosis, Spinal injury.

Kelainan system saraf pusat setelah kelainan perifer; Postherpetic Neuralgia.

Nyeri neuropatik & Nosiseptif timbul bersama; Low back pain.

H. Diagnosa Banding
1. Post Herpetic Neuralgia
Dengan Gejala; nyeri terbakar yang hebat dengan eksaserbasi yang tajam, berifat
unilateral, kuntinu, diprovokasi oleh raba ringan, tidak ada factor yang dapat mengurangi
gejala secara total, biasanya terdapat gangguan sensorik.
2. Cluster headache
Sakit kepala yang hebat, menusuk, nyeri terbakar, unilateral dan sering daerah
trigeminal, sering terjadi pada malam hari, diprovokasi oleh minuman alcohol, mata merah,
hidung tersumbat, muka merah, sering terjadi pada usia muda.
3. Glossopharingeal Neuralgia
Sakit yang hebat dan berlangsung cepat, unilateral pada distribusi saraf
glosopharingeal, paroksismal serangan dalam bentuk kelompok, diprovoakasi oleh raba
ringan, berkurang dengan pemberian antikonvulsan.
4. Kelainan Temporomandibuler (Contens Sindrom)
Rasa sakit tumpul, berdenyut, unilateral atau bilateral pada daerah aurikular,
intermitten bertahun-tahun, diprovokasioleh gerakan rahang, sering menetap walaupun stress
telah berkurang.
5. Sinusitis
Rasa sakit sedang, berdenyut, mengenai satu atau dua sinus, nyeri kontinu,
akut/kronik, memberat dengan gerakan, dekompresi akan mengurangi sakitnya, sering timbul
nasal discharge.
6. Migrain
12

Nyeri hebat, berdenyut, unilateral dan sering berpindah ke sisi lainnya, nyeri
berlangsung beberapa jam, pasien dapat mengidentifikasi faktor pencetus.
7. Giant Cell Arteritis
Nyeri hebat berdenyut dan menyengat, bersifat unilateral/bilateral atau temporal,
Intermitten/kontinu, Memberat bila mengunyah, membaik dengan steroid, tampak arteri yang
menebal dan berkelok-kelok.
8. Atypical Facial Pain
Nyeri yang berfariasi, lokasi bervariasi, kontinu dengan eksserbasi tajam, diprovokasi
oleh stress, disembuhkan dengan terapi yang tepat.
I. Terapi
Non Medikamentosa
1. Rhizotomi termal selektif radiofrekuensi pada ganglion atau radiks trigeminus
yang dilakukan melalui kulit dengan anastesi local sisertai barbturat kerja
singkat. Efek sampingnya ialah anesthesia dolorosa. Tindakan untuk destruksi
serabut nyeri dalam nervus trigeminus dapat dilakukan juga dengan bedah
dingin (cryosurgery) dan inflasi balon dalam rongga meckel.
2. Injeksi gliserol ke dalam sisterna trigeminus (rongga Meckel) dapat dilakukan
perkutan. Tindakan ini dapat menyembuhkan nyeri dengan gangguan sensorik
pada wajah yang minimal.
3. Bagi kebanyakan pasien terutama yang lebih muda, kraniektomi suboksipital
dengan bedah mikro untuk memperbaiki posisi pembuluh darah yang menekan
radiks saraf trigeminus pada tempat masuknya pons, lebih dapat diterima
karena tidak menyebabkan defisit sensorik.
Medikamentosa
1. Karbamazepin; 400-1200 mg/hari, 80% memberikan respon baik terhadap
pengobatan

awal.

Bila

dipakai

bersamaan

dengan

phenitoin

dapat

menimbulkan ataksia. Komplikasinya; leucopenia, trombositopenia, namun


jarang terjadi
13

2. Phenitoin; 200-450 mg/hari


3. Klonazepam 0,5-1,0 mg 3x/hari; efektif pada beberapa kasus
4. Asam Valproat
5. Baclofen 5-10 mg 3x/hari; dapat diberikan tersendiri maupun kombinasi
dengan phenitoin / karbamazepin.

Algoritme Terapi Trigeminal Neuralgia

14

BAB III
KESIMPULAN
Trigeminal neuralgia adalah sindrom nyeri pada wajah pada area persarafan Nervus
Trigeminus pada satu cabang atau lebih, secara paroksismal berupa nyeri tajam yang tidak
diketahui penyebabnya dan biasanya terjadi pada umur 40 tahun keatas. Sering pada
perempuan disbanding lakilaki dan muncul pada usia diatas 40 tahun
15

Nervus Trigeminus merupakan saraf sensoris utama kepala dan saraf otot-otot
pengunyah. Dan juga menegangkan palatum molle dan membrane tympani.
Neuralgia trigeminal kadang disebabkan oleh penekanan arteri terhadap saraf yang
terletak di dekat otak. Pada keadaan ini dilakukan pembedahan untuk memisahkan arteri dari
saraf dan untuk mengurangi nyeri.
Serangan trigeminal neuralgia dapat berlangsung dalam beberapa detik sampai
semenit, unilateral (97%), Paling sering pada cabang ke 2 dan 3 Beberapa orang merasakan
sakit ringan, kadang terasa seperti ditusuk. Sementara yang lain merasakan nyeri yang cukup
berat, seperti nyeri saat kena setrum listrik, kena pukulan jab, atau ada kawat di sepanjang
wajahnya. nyeri yang muncul mendadak, berat, seperti sengatan listrik, biasanya pada satu
sisi rahang atau pipi. Pada beberapa penderita, mata, telinga atau langit-langit mulut dapat
pula terserang. Pada kebanyakan penderita, nyeri berkurang saat malam hari, atau pada saat
penderita berbaring. Serangan ini hilang timbul. Bisa jadi dalam sehari tidak ada rasa sakit.
Namun, bisa juga sakit menyerang setiap hari atau sepanjang Minggu. Lalu, tidak sakit lagi
selama beberapa waktu.
Terapi pada trigeminal neuralgia dapat dilakukan secara pembedahan maupun
pemberian obat diantaranya; Karbamazepin; 400-1200 mg/hari, Phenitoin; 200-450 mg/hari,
Klonazepam 0,5-1,0 mg 3x/hari, Asam Valproat, Baclofen 5-10 mg 3x/hari.

DAFTAR PUSTAKA
1. David A. Greenberg, Michael J. Aminoff, Roger P.Simon: Clinical Neurology. Fifth
edition, Lange Medical Books/McGraw-Hill, The United States of America, 2002: 8485
2. Richard S. Snell: Anatomi Klinik. Bagian 3, EGC, Jakarta, 1997: 187
3. http://emedicine.medscape.com/article/1145144-overview
16

4. http://en.wikipedia.org/wiki/Trigeminal_neuralgia
5. http://medicastore.com/penyakit/331/Neuralgia_Trigeminal_tic_douloureux.html
6. Dito Anurogo. http://www.kabarindonesia.com/berita.php?
pil=3&dn=20080414210025
7. Wahyu Ika Wadhani, dkk. Kapita Selekta Kedokeran. Team Media Aesculapius,
Jakarta, 2000: 44

17

Anda mungkin juga menyukai